-Tower -

*Ch 7*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka

Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.

Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal PoV.

Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?

"Rin! Lenka!" Panggil Len dan Rinto ketika melihat kedua gadis itu di tengah-tengah kerumunan orang. Rin dan Lenka menoleh kearah Rinto dan Len lalu berlari kearah mereka.

"Ma-Maaf… Ka-Kami terlambat" Jawab Lenka terbata-bata. Sedangkan Rin hanya diam dibelakang Lenka.

"Mm…," Rin hanya menjawab dengan anggukan.

Jadi begini, Len mengenakan jaket berwarna abu-abu dan celana tiga per empat berwarna hitam. Rinto, mengenakan jaket juga, berwarna abu-abu dan celana tiga per empat berwarna hitam. Mereka berdua mengenakan sepatu kets dan tas yang sama. Yah… Namanya juga kembar.

Lenka mengenakan blouse berwarna merah dan mengenakan rok kotak-kotak berwarna merah campur hitam. Ia menguncir rambutnya seperti biasa, namun ia mengenakan sebuah pita berwarna hitam dan merah untuk menguncir ponytailnya. Ia membawa tas selempangan berwarna merah. Ia mengenakan sepatu flat berwarna hitam dengan pita diujung yang berwarna merah.

Rin mengenakan dress polos yang berwarna pink muda dengan ujung frilly yang kemarin dibelinya bersama Lenka, beserta sepatu flat berwarna pink muda dengan ujung mawar berwarna pink tua. Ia membawa tas selempangan kecil berwarna pink pucat.

Ia sama sekali tidak mengganti gaya rambutnya, ia hanya mengenakannya seperti biasa. Pita putih besar, jepit-jepit putih, serta pin mawar kepunyaannya ia gunakkan. Tapi ada sedikit masalahnya, Rin mengenakan kerudung hitamnya.

"Rin… Bisakah kaulepas kerudung hitammu itu?" Tanya Lenka sambil sweatdrop. Kenapa? Karena kini Rin terlihat seperti seorang pembunuh bayaran yang sedang berusaha menyembunyikan identitasnya.

"Ta-Tapi kan…"

"Percaya sajalah Rin, kau terlihat sangat cantik dengan pakaian itu," Ucap Lenka lagi. Rinto dan Len hanya mengangguk mengiyakan saja, karena Lenka memberi mereka deathglare.

"Be-Benarkah?" Tanya Rin pelan.

"Benar… Sudahlah Rin!" Jerit Lenka tidak sabar lalu menarik kerudung hitam milik Rin.

"LENKAAA!" Jerit Rin tidak terima dengan wajahnya yang sangat 'moe' itu. Len langsung blushing.

"Hoi… Mukamu merah," Goda Rinto.

"Urusai!" Jawab Len dengan suara agak keras, membuat Lenka dan Rin yang tadinya berdebat menoleh kearah mereka.

"Ada apa ya?" Tanya Rin dan Lenka.

Rinto hanya mengangkat bahunya, "Sudahlah! Kalau kalian begitu terus, kita tidak akan jalan jalan."

Len mengangguk mengiyakan. Lenka dan Rin hanya berpandang-pandangan sebentar, sebelum ikut mengangguk. Mereka berempat pun berjalan bersama, akan tetapi…

BRUK!

"AH!" Jerit mereka berempat, karena tiba-tiba saja, seseorang menabrak mereka sehingga mereka terpisah.

Rin bersama Len, dan Rinto bersama Lenka.

"Gawat! Kita terpisah!" Jerit Lenka khawatir. Rinto juga terlihat panik lalu menarik lengan Lenka, membuat gadis itu blushing sejenak dan pergi mencari Rin dan Len di sekitar situ.

Setelah lima belas menit Rinto dan Lenka mencari, mereka pun menyerah dan duduk di bangku terdekat.

"Kita tidak menemukan mereka…," Ucap Rinto, memulai pembicaraan dengan nada putus asa. Lenka mengangguk sambil menundukkan kepalanya.

"Lalu sekarang? Apa kita harus mencari mereka lagi?" Tanya Lenka sambil menatap Rinto.

"Entahlah… Tapi lebih baik kita bermain disini dan berkeliling sambil memperhatikan sekitar, siapa tahu Rin dan Len berada disekitar kita," Ucap Rinto. Lenka langsung berbinar-binar.

"Bermain apa?" Tanya Lenka semangat.

"Bagaimana kalau tangkap ikan dulu saja?" Usul Rinto. Lenka langsung meninju udara dan berteriak dengan semangat.

"SETUJU!"

.

.

.

"HUUH! Kenapa ikannya licin sekali sih?" Ucap Lenka kesal karena ia bahkan tidak mendapatkan ikan seekor pun walaupun sudah mencoba tiga kali.

"Le-Lenka, kalau memang tidak bisa, sebaiknya kita cari permainan yang lain saja," Usul Rinto sambil berkeringat dingin.

Langsung saja Lenka memberi Rinto deathglare gratis.

"Menyerah? Menyerah? MENYERAH MAKSUDMU? Kalau aku menyerah disini, namaku bukanlah Lenka!" Jerit Lenka kesal sembari memberikan uang lagi kepada si penjaga stan. Rinto langsung sweatdrop.

Sepuluh menit kemudian~

"A-Aku menyerah…," Ucap Lenka.

"Katanya kau tidak akan menyerah?" Tanya Rinto sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia senang, tapi juga khawatir dengan Lenka. Wajah Lenka memerah karena malu tidak dapat menepati janjinya sendiri.

"I-I-Itukan tadi!"

Rinto hanya menghela nafas pasrah.

"Biar aku yang mencoba menangkapnya. Lagian kau ingin mendapatkan ikannya kan?" Tanya Rinto. Lenka mengangguk sambil menggigit sapu tangannya dan air mata di sudut matanya.

"Kalau begitu, biar aku yang mencobanya."

Lima menit kemudian~

"Rinto jenius!" Puji Lenka ketika melihat Rinto sudah mendapatkan empat puluh ikan hanya dalam jangka waktu lima menit, membuat penjaga stan tersebut nangis di pojokan.

.

.

.

"Itu! Tembak yang itu!" Jerit Lenka sambil menunjuk sebuah boneka pisang yang memiliki tangan, mata, hidung, kaki, dan juga mulut.

Kini Rinto dan Lenka sedang bermain tembak-tembakan dengan peluru gabus. Hadiahnya adalah benda yang berhasil ditembak tersebut.

TUK!

Tembakan pertama Rinto meleset.

"Ugh… Meleset!" Batin Rinto.

"Rinto! Kau ini bagaimana sih?" Tanya Lenka.

"Sabar, sabar," Ucap Rinto, menenangkan Lenka lalu bersiap meluncurkan tembakan yang kedua.

TUK!

Tembakan kedua ternyata juga meleset!

"Rinnttooo!" Lenka mulai kesal. Rinto sendiri sudah kesal.

"Coba saja sendiri, Lenka! Ini susah tahu!" Perintah Rinto, "Coba tembak saja keranjang penuh jeruk itu!"

"Okey, fine! Kutrima tantanganmu!" Ucap Lenka, lalu mengambil pistol mainan itu dari tangan Rinto.

Lenka pun mencari posisi yang nyaman untuk menembak dan segera membidik keranjang jeruk itu. Lalu ia pun melepaskan peluru terakhirnya…

TUK!

Untuk peluru ini, pelurunya mencapai target! Hore! Rinto pun beranjak menemui penjaga stan yang kini tengah tersenyum memberikan keranjang jeruk tersebut pada Rinto.

"Arigatou, Lenka," Ucap Rinto sambil tersenyum jahil.

"Douita- Eh, tunggu…," Lenka menghentikan kalimatnya sejenak… Sebelum ia sadar kalau sebenarnya ia…

"Tunggu… AKU DITIPU!" Jerit Lenka dengan suaranya. Sedangkan Rinto hanya bisa cekikikan.

"Salahnya sendiri, mau aja menuruti perintahku," Batin Rinto.

.

.

.

Sedangkan Rin dan Len~

"Sial! Rin, kita terpencar!" Jerit Len. Rin terlihat panik juga, lalu ia mengedarkan pandangannya, berharap dapat melihat atau mendeteksi adanya Lenka dan Rinto.

"A-Aku juga tidak dapat menemukan Lenka dan Rinto," Ucap Rin panik.

"Sebaiknya kita cari mereka dulu," Usul Len. Rin mengangguk sambil gemetar karena cukup takut. Mereka berdua pun pergi mencari Rinto dan Lenka selama kira-kira sepuluh menit lalu beristirahat sejenak.

"Kita sama sekali tidak menemukan mereka!" Jerit Rin sambil berusaha mengstabilkan nafasnya. Len mengangguk.

"Kurasa kalau begini kita sebaiknya berkeliling sambil memperhatikan sekitar. Dengan begitu akan lebih mudah jadinya."

Rin menatap Len lalu mengangguk. Mereka pun beristirahan sejenak, sebelum Len melihat sebuah stan yang menjual gula-gula kapas.

"Rin! Kau mau gula-gula kapas?" Tanya Len. Rin terlihat bersemangat sekali mendengarnya.

"Mau!"

"Kalau begitu, tunggu disini ya!" Peringat Len. Rin mengangguk. Len pun berjalan pergi dan membeli gula-gula kapas atau gulali tersebut. Satu rasa pisang untuknya, dan satu lagi rasa jeruk.

Rin terlihat bosan. Sudah sekitar sepuluh menit Len pergi. Ia tidak mengenal siapapun disini. Ia bahkan tidak mengetahui banyak tentang festival-festival yang biasa diadakan. Ia jadi seperti merasa sendiri…

Ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Hingga matanya menangkap sebuah stan yang menjual anak-anak ayam. Anak ayam yang kecil dan juga lucu. Rin melihat kearah sana sejenak, sebelum pundaknya ditepuk seseorang.

Tentunya kalian tahu siapa, kan?

"Apa aku lama?" Tanya orang tersebut. Rin terlonjak kaget karena ketahuan memelototi anak-anak ayam tersebut, namun ia segera mengembalikan kesadarannya dan membalas ucapan Len.

"Sangat!" Jawab Rin kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Pemuda tersebut-Len hanya tersenyum geli, lalu mengacak-acak rambut Rin.

"Gomen, ohime-sama!"

"HUUH! Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Len! Itu memalukan!" Jerit Rin tidak terima dengan sebutan 'ohime-sama' itu. Len hanya terkekeh mendengarnya. Dan inilah yang Rin suka. Jika ia bersama dengan Len, ia tidak merasa sendirian ataupun terasingkan…

"Baiklah, ini," Jawabnya sambil menyerahkan gula-gula kapas tersebut. Rin pun menerimanya dengan wajah yang sangat bahagia.

"Arigatou!"

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lihat tadi? Kau melihatnya dengan antusias sekali. Sampai-sampai tidak menyadari kalau aku sudah datang."

"E-Eh? Bukan apa-apa kok!"

"Benarkah?"

Rin menganggk mantap. Lalu suasana disana berubah menjadi suasana hening dan canggung. Walaupun begitu, Len sangat menikmati ini. Ia menyukai Rin dan ia tidak tahu kapan ia akan bisa terus bersama dengan Rin.

Mereka berdua pun memakan gula-gula kapas mereka dalam keheningan. Diantara kedua orang itu, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara derap langkah orang-orang yang berlalu lalang yang terdengar. Namun, masing-masing hati mereka merasa sangat bahagia.

.

.

.

"I-Ini tempat apa Len?" Tanya Rin kebinggungan ketika Len membawanya ke sebuah tempat yang ia tidak tahu.

Sebuah danau yang cukup besar. Danau itu berbentuk bundar dan juga memiliki pantulan gambar bulan purnama disana. Ah, hari ini merupakan bulan purnama, karenanya terdapat pantulan gambar bulan purnama. Tidak banyak orang berada disana, hanya sekitar lima orang, dan itu termasuk Rin dan Len.

"Eh, sebenarnya aku juga kurang tahu… Tapi, katanya orang-orang, danau ini dapat mengabulkan permohonan," Jawab Len sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Rin melihat Len kebinggungan, namun seakan-akan mengerti, ia pun berjalan mendekati danau tersebut.

"Len! Sini!" Ajaknya. Len pun berjalan mendekati Rin. Lalu mereka berdua pun melihat kearah danau tersebut, yang kini memantulkan wajah mereka berdua.

"Wuaa… Ternyata aku dan Len mirip juga ya…!" Ucap Rin ketika menyadari pantulan wajah mereka.

"Coba aku jadi cowok, nanti berarti Len punya kembaran dua dong!" Jerit Rin. Len terbelalak mendengar ucapan Rin.

"Lebih baik Rin tetap perempuan…," Gumamnya.

"Eh? Kau bilang apa Len?" Tanya Rin yang mendengar sedikit gumaman Len. Len menggelengkan kepalanya panik.

"Bu-Bukan apa-apa!"

Rin menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya. Namun Len tampaknya cukup yakin dengan ucapannya.

"Ba… Iklah?"

Len menghela nafas lega ketika menyadari Rin sudah menghapus kecurigaannya.

"Nee… Len, ayo kita berharap," Ucap Rin sambil mengatupkan kedua tangannya, berdoa. Len mengangguk dan mengikuti apa yang dilakukan Rin. Tanpa menyadari bahwa mereka telah mengucapkan satu harapan serupa, bersama dengan Rinto dan Lenka.

"Semoga kami berempat dapat selalu bersama."

.

.

.

Kembali ke Rinto dan Lenka…

"Hei… Rinto! Disini! Ini danaunya!" Jerit Lenka kegirangan ketika mereka tengah menemukan danau yang katanya dapat mengabulkan permohonan tersebut. Rinto hanya pasrah dan membiarkan Lenka menariknya sepuasnya. Ah, kini ia sedang berada di sisi lain danau, jadi tidak dapat bertemu dengan Rin dan Len.

"Ayo kita buat permohonan!" Jerit Lenka gembira sambil melihat pantulan bulan purnama yang berada permukaan danau tersebut.

"Kau yakin permohonannya dapat terpenuhi? Ini kan cuman danau," Ucap Rinto. Lenka langsung mendelik mendengar ucapan Rinto.

"Kan kalau tidak dicoba, kita takkan tahu hasilnya…!"

"Tapi kan sama saja. Berharap di danau hanya karena ada pantulan bulan purnama? Jangan bercanda! itu konyol!"

"Menurutmu! Tapi kan kalau kita belum mencoba, kita takkan tahu! Siapa tahu berhasil!" Jerit Lenka dengan suara meninggi. Ia bahkan tidak sadar kalau ia hanya memutarbalikkan kata-katanya yang pertama saja.

"Terserahlah," Jawab Rinto akhirnya sambil memutar bola matanya.

Lalu kedua insan itupun segera menutup mata mereka, membuat sebuah permohonan dengan cepat.

"Semoga kami dapat selalu bersama."

.

.

.

"Kembang api~ Kembang api! Sebentar lagi akan ada kembang api, Rinto!" Jerit Lenka gembira dengan wajah berseri-seri. Rinto hanya mengangguk dengan pandangan lurus kedepan, walaupun sesekali melirik kearah Lenka.

CTARR!

Kembang api pun mulai dinyalakan, membuat langit menjadi cerah dan sangat terang. Ada berbagai macam warna, mulai dari kuning, merah, hijau, dan biru.

"Kembang apinya bagus ya?" Tanya Lenka, membuka percakapan.

"Iya…"

"Kau paling suka yang mana?"

"Kuning…"

Lenka terdiam sejenak, lalu bertanya.

"Kau kenapa?" Tanya Lenka, ketika melihat Rinto. Ia tidak biasanya seperti itu. Jika ia seperti itu, pasti ada yang mengganjal di pikirannya.

"Tidak apa-apa…"

"Pasti ada sesuatu! Kalau ada sesuatu, utarakan saja! Siapa tahu aku dapat membantu!" Ucap Lenka sambil tersenyum lembut. Rinto mengangguk lalu menundukkan kepalanya.

"Le-Lenka, sebenarnya aku…"

"E-Eh? Rinto? Ada apa?" Tanya Lenka kaget ketika Rinto menggengam kedua tangannya erat.

"Aku… Aishiteru!" Jerit Rinto dengan wajah memerah. Namun sayang, sebuah kembang api bersuara besar terjadi saat itu, membuat ucapan Rinto hanya samar-samar terdengar.

"Em… Rinto? Bisa kau ulangi? Kembang api tadi membuatku tidak dapat mendengar apa yang kau katakan…," Ucap Lenka. Rinto melepaskan genggamannya pada tangan Lenka, mengelengkan kepalanya, lalu tersenyum lembut kepada Lenka.

"Suatu saat nanti, jika waktunya sudah datang, kau juga akan tahu."

Lenka terkejut mendengar jawaban Rinto.

"Baiklah…?" Jawabnya dengan nada ragu.

.

.

.

Kembali ke Rin dan Len~

"Rin, apa kau mau melihat kembang api?" Tanya Len. Rin mengangguk sambil tersenyum senang.

"Aku mau!"

"Ohya, sebelum itu, ini…," Ucapan Len semakin mengecil, lalu ia mengeluarkan sebuah kandang ayam yang kecil dari tasnya. Mata Rin terbelalak karena terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu?!"

"Em… Aku melihat kau tadi sedang memandang stan ayam itu… Kupikir kau menginginkannya, jadi kusempatkan untuk membelinya."

"Arigatou Len!" Jerit Rin gembira sambil menerima kandang berisi seekor anak ayam tersebut.

"Nee… Menurut Len, nama yang cocok untuk anak ayam ini apa?" Tanya Rin. Len berpikir sejenak.

"Entahlah…"

Rin langsung cemberut mendengar jawaban Len.

"Ayolah, aku yakin kau pasti sudah mempunyai setidaknya stok nama atau apalah," Tuntut Rin.

"Tapi aku benar-benar tidak tahu!"

"Kalau begitu, kata apa yang terlintas sewaktu kau melihat anak ayam ini?"

"Kuning."

"Itu sama sekali tidak membantu!"

"Lalu harus bagaimana?!"

Rin mengembungkan pipinya, lalu tampak berpikir keras.

"Bagaimana kalau Piko?" Tanyanya. Len menaikkan sebelah alisnya.

"Kurasa tidak apa-apa…"

"Kalau begitu, mulai sekarang, namamu adalah Piko!" Jerit Rin semangat sambil menatap mata anak ayam itu. Anak ayam itu hanya dapat mendelik sedikit lalu berjalan mengelilingi kandang kecilnya.

"Rin! Ayo kita pergi ke tempat kembang apinya," Ucap Len seraya menggengam tangan Rin, membuat gadis itu blushing.

.

.

.

"Sebentar lagi ya…," Gumam Rin. Len hanya mengangguk. Tak lama kemudian, kembang apinya pun diluncurkan, bersamaan dengan Rin yang tengah menutup kedua kelopak matanya.

CTARR!

Kembang apinya pun menyala dengan hebat di langit yang gelap. Percikan-percikan api yang beraneka warna membuat langit tampak indah dan juga terang.

"Rin… Kembang apinya indah ya?" Tanya Len. Namun ia tidak mendapati jawaban apapun.

"Rin?" Tanya Len lagi. Namun sama hasilnya, ia tidak mendapati jawaban apapun.

Karena penasaran, akhirnya ia pun menoleh kearah Rin dan melihat Rin yang sedang tertidur di bahu kirinya.

"Pantas berat sebelah…," Batin Len dengan wajah merona sebelum tersenyum kecil.

"Benar-benar kekanakan… Kurasa ia sudah kelelahan," Batin Len lalu mengangkat kepala Rin dan mengagkat Rin sebentar, mengubah posisi duduknya sebelum menggendong Rin ala piggyback ride.

"Sekarang tinggal mencari Rinto dan Lenka," Batin Len sambil berjalan pergi dengan Rin di punggungnya yang sedang tertidur lelap.

.

Alicia: Sebenarnya pingin juga nulisnya bridal style, tapi kan disana banyak orang… Jadi mending piggyback ride =P Yey! Fict ini tinggal 1/2/3 chap lagi tamat! XD

Erika: Ini balasan reviewnya!

.

-Kei-T Masoharu

Salah semua tebakannya Kei… Tapi gapapa XD Nanti ketahuan di chap terakhir…

Arigatou Kei sudah me-review! Ini sudah lanjut X3

-Sae Hinata

Ehhhh? Kok bisa tahu? XD Bener… Tapi nanti baru masuk di chap terakhir lagi… X3

Okee Arigatou sudah me-review! X3

-Kagamine Kenichi

Arigatou Ken! Ini sudah lanjut! Arigatou sudah me-review! XD

.

Lanjut atau delete?