Pairing : Murasakibara Atsushi X OC
Warning(s) : Cerita aneh bin ajaib yang mungkin sulit dimengerti
Disclaimer : Kuroko no Basket sepenuhnya milik Fujimaki Tadatoshi–sensei. Saya hanya meminjam karakter miliknya untuk keberlangsungan imajinasi saya. Saya tidak mendapatkan keuntungan finansial apapun. Hanya sekedar menyalurkan hobi.
Please Enjoy!
.
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Kiseki no Sedai Koi Monogatari The Sirius of Black Daria co-with Kaito Akahime (Kazusa Kirihika)
.
.
"Aku mau kita putus," ucap seseorang memecah kesunyian memuakkan yang tumbuh di antara mereka.
"Eh? Ta–tapi kenapa?" tanya lawan bicaranya, kaget sekaligus bingung.
"Aku sudah bosan kepadamu," jawab sosok pertama, tersenyum mengejek ketika dilihatnya gadis yang pernah ia sukai menampakkan wajah sedih.
Sang gadis tertawa ironis, "Bosan? Cuma karena bosan?"
"Yup," pemuda itu menjentikkan jarinya cepat, "Untuk salam perpisahan, maukah kau melakukan sesuatu untukku?"
Mata sang gadis menyipit curiga, "Apa maumu?"
"Kenalkan aku dengan teman wanitamu dong," ucapnya nakal, "Kau tahu, gadis berambut pirang yang selalu bersamamu itu. Ah, dia manis sekali."
"Pria brengsek!" geram sang gadis sembari pergi meninggalkan tempat itu.
Air mata melesak keluar, meruntuhkan pertahanan yang sudah dibuatnya dengan keras, "Dasar pria brengsek!"
.
.
.
Revenge is Sweet, Sugar Like?
.
.
.
"Aa, mou aku tidak mau latihan lagi. Latihan itu melelahkan, Aka–chin," protes si surai soft-purple Murasakibara.
Akashi tersenyum simpul, "Jangan begitu, Atsushi. Latihan reguler itu penting untuk menjaga kualitas tubuh."
"Tapi tetap saja melelahkan," jawab Murasakibara tak acuh.
"Ya sudah, kalau kau mau berhenti latihan, berhenti saja–" Akashi menatap wajah malas rekan satu timnya itu, "–tapi itu artinya, tidak akan ada lagi maibou dariku."
Murasakibara terdiam seketika, tubuhnya serasa disambar oleh petir –terlebih saat si pemain basket berbadan bongsor itu ingat bahwa kini –setelah uang sakunya dipotong oleh kedua orangtuanya– Akashi menjadi dewa penolong dengan menjadi supplier maibou utamanya. Kalau sampai Akashi menghentikan kegiatan rutinnya itu, bisa-bisa Murasakibara… kekurangan stok maibou!
"Uso!" pekik Murasakibara jauh dalam hatinya.
Bayangan sebuah dunia tanpa ada maibou dan snack di sekelilingnya membuat Murasakibara bergidik sendiri. Dunia tanpa snack adalah kiamat baginya.
"Aka–chin," Murasakibara memegang lengan atas Akashi dan menggoyangkannya pelan, "Maaf, aku tidak akan berhenti."
Senyuman Akashi tumbuh semakin lebar, "Aku senang kau mengerti, Atsushi. Sekarang masuklah, kau perlu istirahat."
Murasakibara melihat hal yang Akashi maksud, "Aka–chin, kau tidak akan masuk dulu? Mungkin kau ingin makan sesuatu?"
"Aku bukan kau yang hanya peduli pada makanan, tapi terima kasih atas tawaranmu," jawab Akashi, sesaat kemudian dia melambaikan tangannya dan berjalan pulang.
"Aka–chin, sebaiknya kau menelepon supirmu," ucap Murasakibara, "Hari ini latihan kita berat. Apa tubuhmu tidak apa-apa?"
"Aku tidak selemah itu Atsushi," ujar Akashi dingin, "Pulang berjalan kaki tidak akan membunuhku."
Murasakibara mengangguk setuju namun tidak mengatakan hal lain. Dilihatnya surai kemerahan Akashi menjauh dari pandangannya.
"A–chan, kenapa berdiri di sana?" ujar sebuah suara, "Kau pulang dengan anak yang berambut merah itu lagi ya?"
"Ah, Nee–chan? Hm, iya, aku pulang bersama Aka–chin," Murasakibara berjalan mendekati kakak perempuannya.
"Hm, benarkah? Padahal aku berharap adikku ini akan membawa pulang seorang gadis," sang kakak tertawa renyah.
"Gadis? Ah, mendokusai," respon Murasakibara pendek, "Perempuan itu merepotkan."
"Eh? Jadi Nee–chan-mu ini juga merepotkan?" sang kakak menggoyangkan lengan adiknya keras.
Si surai soft-purple melepaskan diri dan dengan cuek melenggang masuk ke dalam rumah tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan sang kakak.
"A–chan! Tunggu aku!"
"Apa lagi Nee–chan?" surai soft-purple menjawab malas.
Dengan ragu kakak perempuan satu-satunya Murasakibara berkata, "Kau, bukan, mh, orang yang menyukai sesama jenis 'kan?"
Center utama Teiko itu menaikkan sebelah alisnya bingung, "Ha? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Perempuan yang memiliki surai yang sama dengan Murasakibara itu melanjutkan ucapannya, "Ya, kau tahu lha.. gay?"
"Guy? Aku memang guy," jawab si bungsu polos.
Murasakibara yakin seratus persen kalau dirinya adalah guy, laki-laki. Kalau begini ia jadi meragukan kecerdasan kakak perempuannya yang satu itu. Tapi si bongsor tidak menyadari bahwa yang kakaknya maksudkan itu gay, penyuka sesama jenis –ya meskipun kau mengatakannya, Murasakibara belum tentu mengerti. Guy, dan gay, dua kata yang terdengar mirip. Salahkan homophone yang tercipta di antara kedua kata itu.
"Sudah kuduga! Anak berambut merah itu pasti telah meracunimu!"
"Namanya Aka–chin, Nee–chan," center berbadan bongsor itu mengambil gelas dan mengisikan air mineral ke dalamnya, berusaha memasok cairan yang sempat terbuang hasil latihan.
"Murasakibara Atsushi, dengarkan aku dulu!" perintah sang kakak keras, ia sampai harus mengucapkan nama lengkap sang adik.
"Apa Nee–chan? Apa ini tentang Aka–chin lagi?" tanya Murasakibara bosan.
"Ya! Anak berambut merah itu!" tegas sang kakak.
"Namanya Aka–chin," Murasakibara mengulang ucapannya, "Ah, Nee–chan, sebaiknya kau jangan banyak berurusan dengan Aka–chin."
"Kenapa begitu? Kenapa tidak boleh?" sang kakak menyilangkan kedua lengannya di depan dada, siap mendengar jawaban dari adik bungsunya.
Si bongsor Murasakibara menghela napas malas mengingat Akashi dan sifatnya yang perfeksionis –juga tentang menu latihan gila yang selalu ia berikan pada anggota tim basket Teiko. Kakaknya tidak akan tahan berdebat dengan rubah cerdik seperti Akashi –karena walau bagaimanapun Akashi selalu menganggap dirinya benar dan mendapatkan apa yang sudah diharapkannya.
"Cukup aku saja yang berhubungan dengan Aka–chin," jawabnya, "Sudah ya, aku mau istirahat dulu."
Sepertinya kata 'berhubungan' menjadi ambigu di pikiran sang kakak, karena kini ia sudah berdiri di depan sang adik dan menghalanginya untuk pergi ke mana pun.
"A–chan, jangan dekat-dekat lagi dengan anak berambut merah itu–"
"Namanya Aka–chin," potong Murasakibara mengingatkan.
"–Apapun namanya," jawab sang kakak bosan, "Kalau kau tidak menurutiku, aku akan bilang pada Papa untuk memotong uang sakumu!"
"Potongan lagi?" pikir Murasakibara horror.
Surai soft-purple membela dirinya, "Tapi Nee–chan, itu tidak mungkin. Aka–chin adalah kapten basket kami."
"Kalau begitu, keluar dari tim basket!" ujar sang kakak lagi.
Keluar? Dari tim basket? Itu adalah pikiran yang sudah lama diinginkan oleh Murasakibara, karena basket itu melelahkan dan ia benci orang-orang tidak berbakat yang melakukan apapun demi basket, tapi…
…tidak akan ada lagi maibou dariku
Tiba-tiba saja ucapan Akashi terngiang-ngiang di kepala surai soft-purple, membuatnya merasa di hadapkan pada buah simalakama.
"Nee–chan, itu juga tidak mungkin," rajuk si bungsu, kalau sudah melibatkan ketiadaan maibou rasanya ia ingin menangis.
Sang kakak agak iba melihat wajah yang ditunjukkan adiknya, "Kalau begitu buat aku percaya."
"Percaya?" Murasakibara balik bertanya.
Perempuan yang terpaut enam tahun dari sang adik itu mengangguk, "Ya, percaya kalau kau itu normal."
Murasakibara lagi-lagi menaikkan alisnya, bingung di mana letak ketidak normalan yang dilihat kakaknya.
"Bagaimana caranya?" ujar Murasakibara pada akhirnya.
"Pertemukan aku dengan kekasihmu," Sang kakak tersenyum penuh kemenangan, "Kalau dalam satu musim kau tidak membawanya, aku akan menelepon Papa!"
"Pilihanmu merugikanku," protes Murasakibara.
"Merugikan? Tentu tidak!" sang kakak tersenyum menggoda, "Karena jika kau berhasil membawa kekasihmu itu dan meyakinkan aku, aku akan meminta Papa mengembalikan uang sakumu ke jumlah semula!"
Meski diberi embel-embel menghapus pemotongan uang saku yang tengah ia alami, tapi tetap saja bukan?
"Kekasih?" center Teiko itu hanya mampu memandangi kakaknya yang pergi menjauh sembari tertawa nista, berpikir betapa kakaknya tidak berprike-adikan, "Menurutmu semudah itu 'kah mencari kekasih?"
Murasakibara menggerutu, "Padahal dia sendiri belum punya."
"Kau berkata apa, A–chan? Aku akan dengan senang hati menelepon Papa sekarang juga," teriak sang kakak dari ruang sebelah.
"Tidak, lupakan," jawab Murasakibara terlanjur malas meladeni kakaknya itu, "Ha, dasar telinga iblis. Merepotkan, lagipula apa hubungannya Aka–chin dan mencari kekasih?"
.
.
.
"Pria sialan!"
Klontang!
"Nee–chan menyebalkan!"
Klontang!
"Harusnya aku menghajar pria itu!"
Klontang!
"Harusnya aku melawan Nee–chan!"
Klontang!
"Pria sialan!" / "Ah, merepotkan!"
Klontang! Klontang!
"Apa yang kau lakukan? Kenapa meniru perbuatanku?" teriak seorang gadis kepada sosok tinggi besar di dekatnya.
"Bukan urusanmu, Chibi–chan," jawabnya dingin. Percampuran antara kesal dan takut kehilangan maibou membuat sosok Murasakibara jadi teramat menakutkan.
Kerutan muncul di dahi sang gadis, "Namaku bukan chibi–chan! Amami, Shoka Amami! Dasar Titan!"
"He? Memangnya aku peduli?" cibir Murasakibara.
Merasa kalah, akhirnya sang gadis menghentakkan kakinya keras, "Ah! Semua pria memang brengsek!"
"Aku tidak brengsek," jawab Murasakibara dengan nada malas.
"Kalian brengsek!" ucap sang gadis mulai terisak, "Kalau tidak brengsek, kenapa memainkan hati perempuan sampai seperti ini?"
Awalnya Murasakibara ingin membalas ucapan sang gadis dan mengatakan kalau itu salahnya sendiri, tapi saat melihat bening-bening itu berjatuhan ia mengurungkan niatnya.
"Arara, kenapa menangis?" tanya Murasakibara polos, "Kalau kau sebegitu sakit hatinya terhadap orang itu, lawan saja. Tunjukkan kalau kau lebih baik tidak bersamanya. Kalau begini kau jadi tampak menyedihkan."
Hening minus isakan tangis mengisi ruang di antara mereka.
"Ini, aku beri maibou milikku," surai soft-purple itu menyerahkan satu bungkus maibou terakhir miliknya –akhir-akhir ini persedian maibou-nya turun drastis, "Jadi, berhentilah menangis."
.
.
.
"Hiru–chin, jadilah kekasihku," ucap Murasakibara to-the-point siang itu.
Orang yang bersangkutan hanya bisa batuk-batuk akibat tersedak minumannya sendiri, "Atsushi–kun, kenapa tiba-tiba?"
Lalu hening menghinggapi kumpulan orang yang tengah makan siang bersama.
"Murasaki–cchi, aku yakin kau sudah tahu, tapi Hiruma–san–" ucapan Kise berhenti, dan pemuda dengan surai kuning keemasan itu melirik surai baby-blue di sampingnya.
"Iya, Hiru–chin jadi kekasih Kuro–chin dan kekasihku," ucap si soft-purple polos.
"Murasaki–kun, tidak begitu caranya. Kau tidak bisa memiliki dua orang kekasih sekaligus. Pilih satu orang, lalu berkomitmenlah untuk membangun hubungan bersamanya," senyuman lembut menguar dari bibir seorang gadis dengan surai dark-lavender.
"Shunji–cchi!" Kise berteriak senang, "Baru keluar ya?"
Gadis itu mengangguk dan duduk di sebelah Murasakibara, "Tadi ada test mendadak di akhir pelajaran."
"Ne, kalau begitu Shunji–chin saja yang jadi kekasihku," usul Murasakibara.
Shunji menatap manik violet milik Murasakibara lekat, senyuman tidak lekang dari wajahnya, "Haha, sepertinya menarik."
Radar di kepala Kise menyala, menyahutkan alarm berbahaya, "Murasaki–cchi, Shunji–cchi itu kekasihku. Kau tidak boleh mengambilnya begitu saja."
"Eh, tapi sepertinya Shunji–chin tidak keberatan," bela Murasakibara.
"Iya, aku tidak keberatan," Shunji mengiyakan perkataan center klub basket Teiko itu cepat.
"Shunji–cchi!" protes Kise.
"Hehe gomen, Kise," ujar surai dark-lavender itu, lalu ia memberikan jari kelingkingnya untuk disambut oleh surai kuning keemasan.
"Jangan buat aku cemas," tegas Kise menerima jari kelingking sang kekasih, menautkan miliknya.
Center Teiko menundukkan kepalanya, lalu wajah sedih tampak di sana, "Kalau begini aku bisa mati."
Dunia tanpa maibou itu kata lain dari kematian.
"Murasaki–kun, sebenarnya apa yang terjadi?" surai baby-blue mengeluarkan suaranya.
"Mou, lupakan saja, aku malas membahasnya," si bongsor berdiri dan berniat pergi dari sana –sama sekali tidak menyentuh makan siang yang sudah dipesannya.
Bruk!
"Aw, sa–sakit," ujar seseorang yang kini jatuh di lantai.
"He? Chibi–chan?" tanya Murasakibara.
"Ah, Senpai, apa kau baik-baik saja?" si surai keemasan Hiruma keluar dari bangkunya dan membantu Amami.
"Ah, terima kasih," ucap Amami, lalu ia melirik tajam pada sosok tinggi besar yang ada di hadapannya, "Berhenti memanggilku itu, Titan! Sopan sedikit pada kakak kelas!"
"Senpai? Dengan tubuh sekecil ini dia senpai? Hee?" Murasakibara menilik sosok di depannya itu tidak percaya, "Padahal dia begitu kecil, cengeng, lemah, dan kalah oleh pri–"
Si surai soft-purple tiba-tiba teringat sesuatu dan ia jadi tenggelam dalam lamunannya sendiri, membuat semua rekannya bingung sekaligus khawatir.
"Jangan mengataiku seenaknya!" ujar Amami, berusaha untuk memukul tubuh Murasakibara. Untung saja Hiruma dengan sigap menahan aksi brutal Amami.
"Mh, ara, siapa namamu lagi? Shoka Amami?" ucap Murasakibara pelan, agak ragu tentang hal yang akan ia sampaikan, "Buatlah kontrak denganku, ne."
"Kontrak?" tanya Amami cepat, merasa janggal dengan permintaan adik kelasnya itu.
Semua anggota Kiseki no Sedai yang ada di sana terpukau melihat kesungguhan yang nampak di wajah Murasakibara, sebenarnya agak penasaran dengan kontrak yang disebutkan oleh surai soft-purplenya, tapi meski begitu mereka memutuskan untuk tidak menyanggah apapun.
"Iya," Murasakibara mengangguk yakin, "Buatlah kontrak cinta denganku!"
"Kontrak cinta? Titan, kau gila!" pekik Amami kesal.
Untung saja kantin dalam keadaan sepi, kalau tidak mereka pasti sudah menjadi tontonan masa.
"Jadilah kekasihku. Dengan begitu aku dapat apa yang aku butuhkan dan kau," Murasakibara menunjuk wajah Amami tegas, "Bisa membalas 'pria brengsek' yang kau bilang itu."
Amami terdiam dan memandang Murasakibara lekat. Wajah sang titan tampak serius dan entah mengapa hal itu membuat api terbakar di dadanya –api balas dendam.
"Memangnya kau siapa? Apa kau lebih baik dari pria brengsek itu?" tanya Amami ragu, manik velvet-nya menatap Murasakibara penuh harap.
"Senpai tidak tahu siapa Murasaki–cchi?" tanya Kise dengan nada tidak percaya, "Dia adalah anggota regular Kiseki no Sedai, center basket SMP terbaik di Jepang, meskipun tubuhnya besar, Murasaki–cchi sangat gesit dan cepat. Offensive-nya mengerikan."
"Apa kau begitu hebat?" tanya Amami, mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Murasakibara dengan lebih jelas.
"He, aku bukan tipe orang yang akan berbohong demi terlihat baik," jawab Murasakibara pendek, "Lagi pula berbohong itu merepotkan. Ne, jadi jawabanmu apa?"
Amami menimbang dengan cermat, "Setidaknya beritahu aku dulu siapa namamu."
.
.
.
Langit sudah menunjukkan sisi gelapnya saat dua anak manusia berlawanan jenis itu menaiki densha. Suasana kereta penuh dan berdesakan, karena pada dasarnya saat itu adalah jam-jamnya pekerja kantoran pulang kerja. Saking penuhnya Amami sampai merasa ia bisa mencium bau deodorant bapak-bapak di dekatnya.
"Woah!" pekik Amami saat ia merasakan tubuhnya limbung.
"Hati-hati," ujar seseorang, menangkap tubuh kecil itu dan menariknya mendekat, "Ah, merepotkan, terlalu banyak orang."
Amami memasrahkan dirinya saat Murasakibara memeluk tubuhnya erat –ia tidak ingin limbung untuk yang kedua kalinya.
"Ah, ke sana saja," Murasakibara memaksakan tubuhnya melewati orang-orang, menarik Amami yang masih ada di pelukannya, "Nah, dengan begini kau tidak akan jatuh. Memiliki tubuh kecil memang menyusahkan."
Sebenarnya surai perak ingin balas mengatai orang yang kini berstatus sebagai kekasihnya itu –kekasih, meski hanya sebatas kontrak. Tapi, menyadari posisi mereka yang begitu dekat, dengan kedua tangan sang surai soft-purple di kedua sisi tubuhnya. Tidak hanya itu, Amami sadar benar kini Murasakibara menghimpitnya lekat ke jendela densha. Membuat punggung gadis itu menempel di kaca –semata-mata untuk menjaga keseimbangan sang gadis yang tidak begitu baik.
"Katakan lagi padaku, siapa nama orang itu? Kaja?" interupsi center utama klub basket Teiko sembari menguap malas.
"Namanya Koji–kun," Amami menghela napas, "Kau tidak berbohong 'kan saat kau bilang kau akan membantuku membalaskan dendam?"
"Sebenarnya ini merepotkan, dan aku tidak menyukainya. Tapi aku perlu melakukan sesuatu mengenai uang sakuku, ya meski itu artinya aku harus membantumu dulu, malasnya," Murasakibara mengulang penjelasannya.
Amami membuang pandangannya malas, "Aku tahu. Masing-masing dari kita membutuhkan sesuatu."
"Mh, ne, yang perlu kita lakukan hanya membuat orang yang bernama Kaji itu menyesal telah memutuskanmu 'kan?" tanya Murasakibara, memastikan.
"Ya, aku akan membuatnya menyesal, membuatnya minta maaf padaku hingga ia berlutut memintaku kembali padanya! Setelah itu aku akan membuangnya seperti ia membuangku!" Amami berkata semangat, "Oh iya, namanya Koji."
Murasakibara memperhatikan gadis yang ada di dalam jarak rengkuhannya itu lekat, "Chibi–chan, aku butuh kepastian. Kau sudah tidak memiliki rasa pada pria itu 'kan? Kalau iya, semua ini tidak ada artinya."
"Apa yang kau katakan? Aku membencinya!" jawab Amami pendek, merasa teringat sesuatu sang gadis sontak meremas lengan Murasakibara, "Oh, iya, Murasaki–kun, sekarang kita harus sudah memiliki panggilan khusus masing-masing!"
"Panggilan khusus? Aku suka Chibi–chan," jawab Murasakibara tidak peduli.
Sang gadis merengut manja, "Jangan dong! Yang lebih mh… spesial, semacam panggilan sayang antar kekasih atau sejenisnya."
"Menjijikan," ujar surai soft-purple itu menjulurkan lidah.
"Aku tahu, memang menjijikan," ucap sang gadis, "Tapi, kita harus melakukannya! Agar terlihat lebih nyata!"
Murasakibara memilih tidak membalas ucapan gadis yang lebih tua setahun darinya itu.
"Hm, Murasaki–kun terlalu biasa. Hm, Mu–chan? Mu–kun? Atsushi–kun? Atsu–chan? Atsu–kun? Eto.." sang gadis terus menyebutkan nama panggilan yang cocok untuk si bongsor Murasakibara.
"Ceh, cukup Atsushi," potong Murasakibara saat didengarnya lebih dari sepuluh nama menggelikan yang sudah disiapkan sang gadis.
"Atsushi?" Amami sedikit memiringkan kepalanya. Saat dilihatnya sang pemuda hanya mengangguk, Amami tersenyum senang, "Kalau begitu panggil aku Amami!"
"Ama–chin," ucap sang surai soft-purple pelan.
"Eh, '–chin'?" tanya sang gadis.
"Aku terbiasa menggunakannya," jawab Murasakibara pendek.
"Jya, Atsushi, tolong bantuannya," Amami memberikan jari kelingkingnya untuk disambut oleh milik Murasakibara.
"Aku bukan anak-anak, Ama–chin," ujar pemuda itu, tapi tak urung ia mengikat jemarinya di jemari milik sang gadis.
.
.
.
Seringkali, sesuatu yang terasa mudah itu merupakan bagian terkecil dari jebakan teramat besar–
.
.
.
Menurut penjelasan Amami, nama lengkapnya adalah Magusa Koji. Anak kelas 3-1. Memiliki rambut berwarna raven, dan mata dengan warna senada. Karena matanya tidak begitu baik ia selalu memakai kacamata setiap akan belajar.
"Ia terdengar seperti anak sekolahan biasa," ujar Murasakibara memperhatikan foto yang ada di tangannya.
Kini ia sedang tiduran di kasurnya yang terasa amat nyaman, memperhatikan gambar yang tercetak di atas selembar kertas foto. Ada Amami yang tampak senang berdampingan dengan anak yang bernama Koji itu, kedua tangan mereka membentuk huruf 'v' dan mereka tertawa lebar ke arah kamera.
"Padahal mereka pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini," surai soft-purple bergumam pada dirinya sendiri, "Apa cinta manusia selemah itu?"
Pemuda dengan tinggi 186 centimeter itu menutup kelopaknya rapat, lalu menghela napas berat, "Kalau memang selemah itu, aku menolak untuk jatuh ke dalamnya."
.
.
.
"Ah, maaf, Ama–chin, kau tidak apa-apa?" tanya si surai soft-purple saat disadarinya ia menubruk seseorang dan membuat Amami menubruk dirinya yang berhenti tiba-tiba.
"Aku tidak apa," jawab Amami, "Kenapa berhenti tiba-tiba Atsushi?"
Gadis dengan surai keperakan itu memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang membuat Murasakibara berhenti mendadak.
"Koji?" tanya Amami spontan.
"Ah, ternyata kau, Amami," ucap pemuda dengan surai raven itu, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenalan Ama–chin ya?" tanya Murasakibara singkat.
"Um, iya, dia teman seangkatanku," jawab Amami, sedikit bingung –ia yakin sudah menjelaskan tentang Koji sebelumnya.
"Arara, teman seangkatan Ama–chin? Itu artinya senpai? Siapa namamu? Aku Murasakibara Atsushi, kekasih Ama–chin, yoroshikune," sang center mengulurkan tangannya.
"Pacar Amami?" tanya pemuda itu kaget, dengan ragu ia menjabat tangan si bongsor Murasakibara, sedikit banyak terpukau dengan tinggi orang yang berdiri di depannya, "Magusa Koji, yoroshiku."
Perlu beberapa detik agar pemuda dengan manik hitam itu sadar bahwa adik kelasnya yang bertubuh tinggi fantastik itu merupakan Murasakibara, center andalan Teiko yang sudah tercatat sebagai anggota Kiseki no Sedai, juara nasional Jepang. Bagaimana mungkin orang sehebat itu mau–
"Ama–chin, kau mau makan di mana?" surai soft-purple bertanya lugu setelah teringat tujuan awal mereka berdua.
Amami tampak berpikir sesaat, "Terserah kau saja, di manapun aku setuju, ahh asal jangan di toko kue!"
"Kenapa Ama–chin bisa membaca pikiranku?" protes Murasakibara.
"Sudah tertulis di wajahmu, Atsushi. Tidak, tidak ada makanan manis. Lama-lama kau bisa sakit," nasihat sang gadis.
"Ama–chin," surai soft-purple menggerutu pelan, dengan perlahan digenggamnya tangan sang gadis, "Ma, asal bersama Ama–chin aku setuju."
–berpacaran dengan gadis sebiasa Amami?
"Kenapa?" tanya Koji bingung.
"He? Kenapa, apa?" Murasakibara balik bertanya.
"Kenapa kau mau berpacaran dengan Amami? Bukannya dia biasa saja?" Koji berucap cepat, matanya memandang sang gadis lagi, lagi dan lagi. Mencari kekurangan yang bisa ia sebutkan.
"Biasa saja?" Murasakibara jadi ikut memperhatikan Amami, dan jujur saja hal itu membuat sang gadis risih, "Aku tidak tahu biasa apa yang Senpai maksud, karena menurutku Ama–chin begitu… biasa."
"Bukan 'kah itu artinya sama?" tanya Amami bingung.
"Hehe, maksudku, Ama–chin itu biasa… biasa membantuku, biasa menemaniku, biasa membuatku tersenyum, dan biasa membuatku jatuh cinta lagi dan lagi," wajah Murasakibara memerah, segera ia menggaruk surai soft-purplenya malu.
Aliran darah tidak terduga naik dan mewarnai pipi putih milik sang gadis, membuatnya tampak jauh lebih hidup.
"Atsushi," ucap Amami tertahan.
"Ma, begitu saja. Ayo pergi makan," ajak Murasakibara, sekali lagi mengulurkan tangannya untuk Amami genggam, "Ah, kami pergi dulu, Koji–senpai."
Koji menatap kepergian dua orang itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin, gadis yang sudah dibuangnya itu malah diliputi kebahagiaan? Membuat sesuatu yang bernama 'ego' di dalam dirinya naik.
"Amami," panggilnya pelan, cukup terdengar oleh dirinya seorang.
.
.
.
Amami memandang kosong lapangan yang ada di depannya, "Koji," ucapnya disertai desahan tertahan, tiba-tiba teringat kejadian tempo hari.
Matanya mengerjap cepat saat center utama Teiko berlari ke arahnya, "Ama–chin, minum."
"Huh? Mh, ini," sang gadis melemparkan botol minuman yang dapat ditangkap dengan mudah.
Murasakibara langsung menegak air dari botol itu cepat, lelah karena menu latihan yang Akashi berikan.
"Ama–chin, tadi kau mengucapkan nama 'Koji' lagi ya?" tanya Murasakibara dengan nada tidak suka, pemuda itu mengalihkan pandangannya ke lapangan yang masih digunakan oleh Aomine dan Kise –lagi-lagi mereka bertaruh one-on-one.
"Huh? Ti–Tidak!" ujar Amami menyangkal, lalu sang gadis memberikan handuk kecil ke arah surai soft-purple, "Ini, lap keringatmu."
"Terima kasih Ama–chin," Murasakibara tersenyum ke arah sang gadis, "Maaf, hari ini lagi-lagi kau harus menemaniku berlatih."
Amami menggeleng pelan, "Tak apa. Aku kekasihmu 'kan? Jadi wajar saja."
Kalau diperhatikan akhir-akhir ini Murasakibara jadi sering tersenyum. Membuat orang-orang yang mengenalnya bingung dan curiga –termasuk kakak perempuannya. Lagi-lagi kemarin dia membicarakan sesuatu mengenai surai kemerahan Akashi, kedekatan, dan uang saku.
"Kau tampak bahagia," ujar Amami main-main.
"Tentu, sekarang 'kan aku memiliki Ama–chin," jawab Murasakibara, ia mendudukkan dirinya di bench yang sempat Amami gunakan.
Amami berpikir sejenak, "Sikapmu ini hanya bagian dari rencana balas dendam itu 'kan?"
"Ara, memangnya ada alasan lain?" Murasakibara tersenyum simpul, "Setelah aku membantumu membalaskan dendammu itu, kau harus membantuku mendapatkan hak uang sakuku, status kenormalan yang Nee–chan katakan, juga berstok-stok maibou yang kuinginkan."
Bibir Amami melengkungkan sebuah senyuman, "Kau benar. Pada dasarnya kita hanya saling menggunakan. Ya, hanya saling memanfaatkan."
.
.
.
–meski begitu, apa kau mau menggenggam kesempatan itu?–
.
.
.
"Amami, tunggu," panggil seseorang.
"Koji?" sang gadis berucap tidak percaya.
"Apa maksudnya ini?" tanya sosok itu langsung, "Kau benar-benar mendapatkan Murasakibara?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" Amami bertanya dengan nada tidak suka, berpikir apa salahnya dengan menjadi pacar center Teiko itu.
"Karena rasanya aneh," jawab Koji jujur, "Terlalu mencurigakan."
Amami terdiam, tidak mampu mengeluarkan pembelaan apapun, "Terserah kau saja!"
"Amami–chan, kembalilah padaku sebelum orang itu mempermainkanmu lebih jauh dan mempermalukanmu," ujar pemuda tampan dengan surai kehitaman itu, ia tersenyum mengejek.
"He? Bukannya kau yang mempermainkan dan mempermalukan aku?" pikir Amami geram.
"Mau bertaruh? Atsushi tidak akan melakukannya," jawab surai keperakan itu dengan seringainya yang merendahkan.
"Ayolah, aku tahu kau masih menyimpan rasa padaku," ujar sang pemuda.
"Jangan bercanda! Untuk apa aku menyimpan rasa pada orang sepertimu?" Amami memberikan tatapan menyelidik, "Atsushi jauh lebih baik darimu, dan ia memperlakukanku dengan baik–"
"–sesuai kontrak," tambah surai keperakan itu di dalam hatinya.
Geram, Koji jadi membentak sang gadis, "Sudah aku bilang bukan, terlalu aneh jika kau bersama orang itu!"
"Aku tahu! Meski aneh, bahkan jika bersamanya merupakan sebuah dosa–" Amami mengeratkan kepalannya, "–aku tidak keberatan."
"Amami," sang pemuda berucap tertahan.
Gadis dengan surai peraknya itu berbalik dan melangkah pergi, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan melirik sekilas sosok pemuda yang sempat dicintainya, "Koji, kau sangat membosankan. Sebagai salam perpisahan maukah kau melakukan sesuatu?"
Koji merasakan dejavu yang teramat kental dan memuakkan.
"Aku menyayangi Atsushi, jangan pernah ganggu kami lagi!"
.
.
.
Drttt Drttt
Dengan gerakan teramat malas Murasakibara merogoh hp yang ada di dalam saku celananya, lalu ia melihat layar hp-nya sekilas.
Pip.
"Ah, Nee–chan? Ada apa?" suara sang center Teiko bersoar hingga ke ujung telepon.
Seseorang yang melakukan panggilan hanya bisa mendecih pelan, "Kau di mana sekarang?"
"Di atap sekolah, Ada apa?" jawab Murasakibara masih dengan suara malasnya.
"Jangan membolos pelajaran ya! Nanti aku bilang Papa!"
Sang surai soft-purple memasang wajah cemberut yang hanya bisa dilihat oleh ruang kosong di sekitarnya –ya, atau burung-burung yang kebetulan terbang di atas sana, "Nee–chan sok tahu! Sekarang sedang jam istirahat wlee. Ah, tak bisakah kau membiarkan aku beristirahat sejenak?"
Terdengar tarikan napas kaget dari ujung telepon, "Upss, maaf mengganggu waktumu, tapi aku hanya ingin mengingatkan, kalau bulan depan waktu semusim-mu sudah habis."
"Jadi?" anak bungsu itu nampak tidak tertarik.
"Jadi, segera bawa kekasihmu itu ke hadapanku!" perintah sang kakak tegas.
"Kekasih?" ucap surai soft-purple itu pelan, merasa ada getaran aneh yang menyakitkan di dadanya.
"Iya, kekasih," ucapnya pelan. Lelah menanggapi Murasakibara yang sepertinya tidak mau bekerja sama dengan baik.
"Ah, kebetulan, Nee–chan, karena kau perempuan, menurutmu apa yang paling perempuan inginkan sebagai kado di hari ulang tahunnya?" tanya Murasakibara, ia mendudukkan dirinya dan menatap kosong langit biru yang terbentang luas.
"Kado? Itu sih tergantung masing-masing individu."
Masing-masing individu? Kalimat itu nampaknya tidak bisa dimengerti secara langsung oleh si jago offensive, "Kalau Nee–chan memiliki pacar, kado apa yang Nee–chan inginkan?"
"Menurutku, yang aman itu bunga, atau boneka, atau bahkan cincin. Tapi untukku, asalkan yang memberikan hadiah itu orang yang kusuka, aku tidak masalah –apapun hadiahnya. Niat itu lebih dihargai oleh perempuan yang benar-benar mencintai kekasihnya, lho. Tapi, kalau memang benar-benar tidak tahu sih mending tanya saja, biar jelas, haha."
"Atsushi?" interupsi sebuah suara.
"Ah, Ama–chin?" Murasakibara menyapa seseorang yang baru saja masuk lewat pintu masuk atap sekolah yang sengaja tidak ia tutup –bahaya kalau sampai terkunci, pintunya 'kan sudah tua.
"A–chan, kau sedang bersama seseorang? Perempuan?" sang kakak bertanya antusias.
"Ah, kakak selalu merepotkan dalam urusan seperti ini, jya ne," ujar si center menutup percakapan.
"Hei, A–cha–"
Pip.
…tanya saja, biar jelas…
"Ama–chin, kau ingin kado apa untuk ulang tahunmu nanti?" tanya Murasakibara cepat.
Sang gadis yang masih kepikiran oleh pertemuannya dengan pria menyebalkan, Koji, sedang tidak siap ditanya, akhirnya iapun jadi gelagapan, "Eh? Huh? Kado? Kenapa bertanya tiba-tiba?"
"Bahkan Ama–chin sendiri bingung," keluh surai soft-purple, "Kalau sudah menentukan ingin apa, beritahu aku ya."
Manik velvet Amami menatap figur Murasakibara lekat, dilihatnya pemuda itu menguap lalu kembali memposisikan dirinya dalam keadaan tidur. Matanya menutup cepat, lalu tak lama kemudian hening benar-benar menyapa mereka. Wajah Murasakibara nampak sangat polos dan tenang, tarikan napas lembut membuat dadanya nampak naik-turun dengan irama yang stabil. Sang gadis berpikir betapa manisnya wajah Murasakibara ketika sedang terlelap.
Sejujurnya surai keperakan itu merasa keterlaluan, ia mengatakan hal tidak perlu di hadapan Koji –hingga akhirnya harus menumbalkan nama Murasakibara. Mengatakan hal yang tidak seluruhnya benar dan mengada-ada. Sekarang ia merasa kekanak-kanakkan. Tapi, meski mengada-ada, hatinya benar-benar berdebar saat ia mengatakan kalau dirinya menyayangi Atsushi –berdebar dan perih, dan kini ia bingung mengapa.
Perlahan Amami meletakkan tangannya di dada sang pemuda, "Aku ingin ini, bisa kau berikan?"
Kelopak Murasakibara membuka cepat, dahinya mengerut bingung, "He? Maksud Ama–chin, jantungku?"
"Hoa! Bukannya kau sedang tidur?" pekik Amami kaget, buru-buru ia menarik tangannya dan beringsut mundur dari sisi surai soft-purple, "Lagipula, Jantung? Tentu bukan, bodoh!"
Murasakibara mengangkat tubuhnya, duduk lalu menatap daerah yang sempat disentuh sang gadis, "Ara, tapi aku begitu yakin, sensei bilang di situ letak jantung berada."
Tersangka yang menyentuh dada center Teiko itu membuang pandangannya, "Mou, lupakan saja."
"Ama–chin?" Murasakibara memiringkan kepalanya bingung, lalu beberapa saat berikutnya sang pemuda tampak berpikir, "Ama–chin, kau serius mau meminta jantungku? Tapi kalau kau membawanya aku bisa mati, jadi bisakah kau memin–"
"Ah! Sudah kubilang bukan itu maksudku!" Amami menjerit tertahan, wajahnya memerah seketika.
Murasakibara memperhatikan gadis yang kini tengah bersusah payah menghirup oksigen dari udara.
"Bodoh.. berikan aku hatimu," sang gadis berucap pasrah, "–cintamu."
Surai soft-purple masih menatap Amami dan tidak mengatakan atau memberi reaksi apapun. Hal ini membuat hati sang gadis menciut dan entah mengapa rasa perih dan sesak yang sempat ia rasakan bertambah berkali lipat –kalau sudah begini, bernapas menjadi semakin sulit.
"Kenapa diam, Atsushi? Aku tahu ini permintaan yang aneh–" ucap sang gadis setelah jeda yang terlalu lama.
…kenapa mau bersama dengan Amami? Rasanya aneh, mencurigakan, dia hanya gadis biasa…
"–Maaf, kau boleh mencaciku karena berharap terlalu tinggi."
Amami menutup matanya rapat, lalu ia merasakan sebuah tangan besar nan hangat mengusap kepalanya. Takut-takut ia membuka mata, manik velvet milik sang gadis bertemu dengan iris violet yang balik menatapnya.
"Ah, aku hanya sedikit tidak mengerti," Murasakibara berkata pada akhirnya, "Mengapa Ama–chin harus meminta sesuatu yang sejak awal sudah menjadi milik Ama–chin?"
.
.
.
–bahkan jika itu artinya kau harus jatuh, tersungkur, masuk ke dalam jurang tanpa dasar.
.
.
.
To be Continued (?)
.
.
.
A/N : Meski ini fic kolaborasi dengan Kazusa Kirihika, chapter yang satu ini khusus Sirius persembahkan untuk salah satu sahabat Sirius yang lagi suka banget sama si kepala ungu Murasakibara Atsushi, dan sahabat Sirius itu tengah berulang tahun hari ini! Yeay, Otanjoubi Omedetou, Enis! Maaf fic-nya gaje bin ajaib kaya gini hehe (^ ^)
Seperti biasa, terima kasih untuk review(s) yang sudah masuk, Sirius seneng banget bacanya –ada masukan, juga pendapat-pendapat reader. Makasih buat semangatnya, Sirius akan berusaha untuk menulis dengan lebih baik lagi! Hountoni arigatou gozaimasu, minna!
Jangan lupa cek cerita abangku yaa! Pen name : Kaito Akahime (dulunya Kazusa Kirihika). Satu dan lain hal terjadi, akhirnya abang harus mengganti pen-namenya –nama barunya enggak pake bubur merah bubur putih dulu! (T_T) hiks hiks, anyway, mau ngingetin aja, kalau meski judul dan tema kami sama, ceritanya kami sengaja buat berbeda, mengikuti imajinasi liar masing-masing hihi (^ ^)v
P.S sepertinya Sirius lupa ngasih disclaimer di chapter 1, jadinya dimasukin di chapter ini. Maaf sebelumnya. Ya, meski tanpa disclaimer semua orang tahu Kuroko no Basuke bukan milik Sirius, melainkan milik Fujimaki Tadatoshi–sensei. Tapi beneran, Sirius minta maaf banget baru masukin disclaimer sekarang. Lupa mode : on.
Murasakibara : "Selamat ulang –nyam– tahun, kami ucapkan, selamat –mh, maibounya enak– panjang umur, kita 'kan doakan. Selamat panjang umur dan bahagia, Enis!" (ceritanya nyanyi)
So, mind to review?
