-Tower -
*Ch 8*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka
Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal PoV.
Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?
Len, Rinto, dan Lenka kini pulang ke rumah Lenka. Mereka sangat lelah hari itu. Bahkan Lenka terlihat beberapa kali menguap kecil.
"Tadaima…," Ucap mereka bertiga kompak saat kembali ke dalam kediaman Akita.
"Okaerinasai."
Dengan satu kata itu. Semuanya terlonjak. Perasaan heran, binggung, cemas, dan lainnya bercampur menjadi satu.
"Kaa-san/Miku-ba-san!" Jerit mereka bertiga kaget.
"Yap. Dan kalian dari mana saja? Baru jam segini pulang~?" Tanya Miku sambil menyeringai.
"Habis bermain dengan teman," Jawab Lenka sambil tersenyum. Setidaknya ia tidak berbohong kan? Rin itu kan memang teman mereka. Miku mengangguk, tanda melepaskan mereka pergi.
"Ah. Aku punya berita penting untuk kalian. Duduklah di kursi, jangan tidur dulu," Terang Miku lalu masuk ke dalam kamarnya entah untuk apa, meninggalkan Len, Rinto, dan Lenka yang saling berpandang-pandangan dengan cemas.
"Kira-kira ada apa ya?" Tanya Lenka kebinggungan. Len dan Rinto hanya menggidikan bahu mereka.
"Entahlah," Jawab mereka pendek. Lalu mereka bertiga pun segera duduk di sofa dekat sana (dengan Lenka di pojok kanan, Rinto di tengah, dan Len di pojok kiri). Tak lama kemudian, Miku keluar dari kamarnya dan duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka bertiga.
"Jadi… Apa kalian bisa menebak informasi pentingnya?" Tanya Miku sambil tersenyum. Lenka, Len, dan Rinto saling berpandang-pandangan sebentar kemudian menggidikan bahu mereka bersama-sama, membuat Miku naik pitam.
"Ayolah. Ini berita penting! Tunjukkan sedikit ke-antusiasan begitu donk!" Jerit Miku. Rinto pun menatap Miku dengan tatapan datar.
"Kaa-san, kalau mau memberitakan berita, sebaiknya cepat dan tanpa basa basi. Kami habis bermain seharian dan kami capek. Sebenarnya saat sampai disini kami ingin langsung tidur, namun apa daya Kaa-san malah mengajak kami berbicara," Terang Rinto diiringi anggukan Len dan Lenka.
Wajah Miku memerah karena malu, sepertinya, lalu mendengus kesal dan mengangguk pelan.
"Aku tidak tahu kalian akan menyukai ini atau tidak. Tapi ini mungkin saja berita buruk bagi kalian karena kalian kelihatannya sudah mempunyai teman disini," Ucap Miku lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali, "Lima hari lagi. Kita akan pergi, ke kerajaan lain, Kerajaan Leorin."
Dengan adanya informasi tersebut, mereka merasa seakan-akan ada petir yang menyambar mereka dari belakang.
"Lima hari lagi?!" Ulang mereka bertiga kompak dan sama-sama menggebrak meja di hadapan mereka. Miku terlihat agak terkejut melihat perubahan sifat mereka, namun ia hanya mengangguk. Ketiga anak itu duduk kembali dengan perasaan campur aduk.
"Apa Tou-san sudah mengetahui hal ini?" Tanya Len tiba-tiba. Miku pun menoleh kearah Len lalu mengangguk.
"Justru dialah yang pertama kali memutuskannya. Kita ini kan pengelana."
"Bagaimana dengan Lenka?" Tanya Rinto sambil menunjuk Lenka yang duduk di sebelahnya. Lenka yang ditunjuk mendelik sebentar kearah Rinto namun juga curi-curi pandang kearah Miku, ingin mengetahui jawabannya.
"Neru memintaku untuk membawanya. Jadi Lenka akan ikut bersama kita," Jelas Miku sambil tersenyum lembut kearah Lenka. Membuat perasaan mereka bertiga lebih campur aduk lagi. Saat ini, hanya ada satu pertanyaan yang terus menerus berputar di benak mereka.
"Bagaimana dengan Rin?"
.
.
.
"Nee, ada apa? Kalian bersikap benar-benar aneh hari ini," Tanya Rin kebinggungan, melihat ketiga temannya yang terlihat lebih 'kaku' dan terlihat murung terus menerus. Kini seperti biasa, Lenka, Rinto, dan Len sedang bermain di kamar milik Rin.
"Kalau ada masalah, kalian kan bisa menceritakannya padaku?" Tanya Rin lagi. Lenka menatap Rin dengan canggung.
"I-Ini berita buruk Rin…," Jelasnya tiba-tiba. Len dan Rinto mendelik kearah Lenka karena ia berusaha menceritakan hal yang sebenarnya.
Rinto yang disebelah Lenka menyikutnya, namun Lenka tidak peduli, bagaimanapun juga, ia harus memberitahukan kenyataan bahwa mereka akan pergi tiga hari lagi.
"Eh? Berita buruk?"
Lenka mengangguk pelan.
"Memangnya ada yang meninggal ya?" Tanya Rin lagi, kebinggungan. Lenka menggeleng lemah.
"Bu-Bukan begitu…"
"Lalu?"
"Be-Begini, ka-kami…," Lenka menggigit bibir bagian bawahnya, merasa takut jika ia mengatakannya. Diam-diam ia memberi sinyal kepada Len dan Rinto untuk membantunya, namun mereka hanya memberikan tatapan:
'kau yang memulai, kau juga yang selesaikan'.
Lenka diam-diam berdecak kesal, "Dasar menyebalkan!" Batinnya.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Rin lagi dengan wajah polosnya yang mencermikan rasa kebinggungan.
"K-Kami akan pi-pindah," Terang Lenka akhirnya sambil mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap Rin. Seketika itu juga, ruangan itu menjadi sunyi.
"Ke-Ke-Kemana?" Suara Rin terdengar bergetar, membuat Lenka merasa tidak tega juga.
"K-Ke kerajaan Leorin…," Jelas Lenka sambil menundukkan kepalanya, menatap lantai kamar Rin yang terbuat dari kayu. Seketika itu juga, kamar itu diliputi oleh keheningan.
"K-Kenapa?" Akhirnya Rin membuka mulut lagi. Lenka perlahan mengadahkan kepalanya, menatap Rin yang kini sedang duduk di pinggiran kasurnya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir air mata sudah jatuh bergulir di pipinya.
"Ma-Maaf Rin… Ka-Kami sendiri tidak bisa menghentikannya, ba-bagaimana pun juga, ki-kita ini dari keluarga pengelana… Karena itu, maaf…," Jelas Lenka lagi sambil menundukkan kepalanya. Rin mulai menangis pelan.
"Ta-Tapi, ka-kami akan mencoba untuk me-mengunjungimu se-sesering mungkin. Karena itu, ja-jangan menangis," Ucap Lenka lagi. Tiba-tiba saja Rinto menyikutnya.
"Kau bilang orang supaya tidak menangis tapi kau sendiri sedang menangis," Bisik Rinto pelan, membuat Lenka terlonjak kaget dan menyentuh pipinya dan merasakan pipinya kini basah, terkena air mata.
Rinto menghela nafas lalu menarik Lenka keluar sambil membisikkan beberapa kata kepada Len, "Tolong tenangkan Rin, aku urus Lenka dulu."
Len hanya terdiam, namun sebelum ia sempat membalas perkataan Rinto, ia sudah keluar bersama dengan Lenka. Len pun kebinggungan, bagaimanapun juga ia belum pernah dihadapkan ke dalam situasi seperti ini sebelumnya.
"Ke-Kenapa ka-kalian harus pe-pergi?" Tanya Rin pelan. Len terdiam, tidak menjawab atau lebih tepatnya binggung mau menjawab apa.
"Pa-Padahal kalian sahabat-sahabat pertamaku… Ta-Tapi kenapa?" Rin pun bertanya dengan suara yang sedikit lebih keras daripada yang tadi. Len masih saja terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Rin pun menghapus butir-butir air mata yang berjatuhan dari pipi mulusnya. Lalu ruangan itu menjadi sunyi senyap. Tidak ada pihak yang berbicara. Hanya ada suara deru nafas serta sedikit sesengukan Rin yang terdengar.
"Hiks, maaf, aku menangis… Ta-Tapi aku benar-benar tidak berhak melarang kalian pergi… Karenanya, kalian bo-boleh pergi, t-tapi ja-jangan me-melupakanku, ja-jangan lupa se-"
Entah apa tiba-tiba saja Len langsung memeluk Rin, membuat gadis itu terlonjak kaget dan menghentikan omongannya sejenak.
"Bodoh, bagaimanapun juga, kau itu teman kami, kami pasti akan bersamamu terus, apapun yang terjadi. Aku, Rinto, dan Lenka pasti akan mencari jalan keluar semua ini, aku janji," Ucap Len sambil memeluk Rin erat. Len dapat merasakan kalau badan Rin kini gemetaran karena menangis.
"L-Len…," Ucap Rin pelan lalu terisak keras sambil kembali memeluk Len. Len hanya tersenyum sedih, "Karena aku menyukai Rin... Jadi, jangan menangis."
Rin terkejut sesaat lalu mengangguk kecil di dalam pelukan Len dan berusaha menghentikan tangisannya walaupun masih agak sesengukan, "A-Aku juga menyukai Len…"
Mereka benar-benar ingin terus bersama…
Selamanya.
Tapi… Apa mungkin?
.
.
.
"Rinto! Kenapa kita keluar?" Tanya Lenka kebinggungan saat Rinto menutup pintu kamar Rin dan membiarkan Len tetap di dalam bersama Rin.
"Lebih baik biarkan saja Len yang mengatasi Rin. Kita tunggu saja di bawah," Jawab Rinto lalu menarik pergelangan tangan Lenka dan beranjak menuruni tangga. Lenka hanya mengangguk lalu menggunakan tangan kirinya untuk menghapus air matanya yang jatuh.
Lenka pun membiarkan dirinya ditarik Rinto ke bawah. Bagaimanapun juga ia tahu kalau ia tidak bisa mengatasi Rin, karena itu ia hanya bisa pasrah. Apapun yang terjadi, toh kemungkinan besar hasilnya akan jadi lebih baik nantinya.
Mereka berdua pun berhenti di lantai terbawah, lebih tepatnya di halaman dekat petak bunga waktu itu. Mereka pun duduk di rerumputan. Duduk bersebelahan. Lenka menghela nafas. Rinto pun melihat kearah Lenka.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Aku hanya… Sedih saja," Jawab Lenka pendek sambil mengusap matanya, "Memangnya kau tidak sedih?"
"Tentu saja sedih," Timpal Rinto. Lenka menoleh kearah Rinto binggung.
"Tapi kau tidak menangis?"
"Memangnya kalau sedih itu harus menangis?"
"Itu kan seperti bentuk apresiasi."
Rinto sweatdrop mendengar jawaban Lenka, "Terserahmu lah."
Sekitar sepuluh menit lebih mereka menunggu kabar dari Rin dan Len. Namun entah mengapa mereka belum juga datang untuk memanggil Rinto dan Lenka atau mereka hanya tidak bisa menemukan Rinto dan Lenka? Hanya Tuhan yang tahu.
"Mereka lama…," ucap Lenka, bosan menunggu.
"Iya… Lama," ucap Rinto juga sambil mencari posisi yang lebih nyaman untuk duduk.
"Nee… Apa menurutmu mereka sudah jadian?" Tanya Lenka tiba-tiba. Rinto mendelik mendapati pertanyaan aneh dari Lenka.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku… Biasanya kan kalau di manga shoujo banyak adegan begitu…," Lenka pun berusaha memberikan jawaban yang cukup logis bagi Rinto. Rinto hanya mengangguk-angguk malas. Keheningan sejenak pun terjadi.
"Nee… Lenka… Jika mereka sudah jadian… Apa kau dan aku bisa jadian juga?" Tanya Rinto sambil mengalihkan pandangan dari Lenka, sehingga Lenka tidak dapat melihat wajah Rinto.
"E-E-Eh?"
"…Aku sudah lama menyukai Lenka… Apakah Lenka juga menyukaiku?"
Lenka terdiam sejenak sebelum wajahnya menjadi sangat merah. Ia pun menundukkan kepalanya dan mengangguk kecil.
"A-Aku juga menyukai Rinto…"
Rinto terlonjak mendengar jawaban Lenka. Ia pun mencubit pipinya, memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Benar kan? Lenka menyukainya juga? Benar kan?
Hingga ia memastikan bahwa ia tidak bermimpi, ia menoleh kearah Lenka yang masih menundukkan kepalanya. Dan ia pun mengecup pipi Lenka dengan cepat, membuat gadis itu bertambah merah wajahnya.
.
Alicia: WEEEEEEE! Chap terakhir adalah chap depan~! Sebenarnya ini Chap sudah jadi agak lama cuman tinggal tulis author note, balesan rev, dan beberapa kalimat terakhir. Cuman berhubung webe mewabah, ya sudah deh… X3 *digeplak*
Kyoko: Ini balasan review~!
.
-Kagamine Kenichi
Arigatou Ken QAQ Tapi juga ngak bagus-bagus amat kok…
Iya… justru karena Alice rada nista, nama Piko dijadiin nama anak ayam, gatau kenapa ngerasa cocok banget X3 *Digeplak Piko*
Arigatou sudah me-review!
-Kei-T Masoharu
KEEEIII! #apaaninilagi
Arigatou sudah tunggu lanjutannya! Ini sudah lanjut! Arigatou sudah mereview! X3
-Tania Feron
Douita Nia X3 Arigatou sudah mendukung Alice QWQ *terharu*
Arigatou sudah mereview! XD
-Kagamine Ririka
Eh, gapapa kok X3 Alice juga kadang dilarang main leptop sama Kaa-san dan Tou-san #apaanini
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3
-Kurotori Rei
Iya… Lenka itu berubah-ubah karakternya XD
Tapi setidaknya Lenka dan Rinto sudah sama-sama ngaku kan? RinLen juga XD
Arigatou reviewnya! Ini sudah lanjut! X3
-Sae Hinata
Bukan… Mereka empat belas XD
Oke! Arigatou sudah me-review! X3
-Angelina Siswanto
ANGEELL! TEMAN SENASIB YANG TADI SIANG NYASAR DI ***! #apaanini
Waa! Arigatou! Ini sudah lanjut, arigatou reviewnya! X3
.
Bagi yang sudah fave, fol, ataupun mengikuti ceritanya sampai sini, arigatou! Tapi mungkin Alice akan lama updet chap terakhirnya, berhubung UAS yang dekat dan juga sedang dalam tahap menulis request Sae dan Mayu-chan. Jadi kemungkinan besar adalah weekend dan libur kenaikan kelas X3
Terakhir… Review please?
.
Lanjut atau delete?
