Pairing : Aomine Daiki X OC
Warning(s) : Mengungkit beberapa hal dewasa
Disclaimer : Kuroko no Basket sepenuhnya milik Fujimaki Tadatoshi–sensei. Saya hanya meminjam karakter miliknya untuk keberlangsungan imajinasi saya. Saya tidak mendapatkan keuntungan finansial apapun.
Please Enjoy!
.
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Kiseki no Sedai Koi Monogatari The Sirius of Black Daria co-with Kaito Akahime (Kazusa Kirihika)
.
.
Pagi hari adalah waktu yang teramat dibenci oleh seseorang dengan surai navy-blue juga kulit kecoklatan. Mengapa tidak? Ia adalah hewan yang baru aktif ketika matahari berada di atas kepala. Apalagi kini bulan baru menginjak februari; salju masih cukup sering turun, dan itu artinya suhu udara sedang berada di titik rendah.
Seperti biasanya, pagi itu ia menggeram kesal. Matanya yang masih tertutup rapat berkedut tak suka. Tangannya yang panjang tampak berusaha meraih sesuatu. Namun nihil, tidak ada apapun di jarak jangkauannya.
"Mh, kuso, di mana benda itu?"
Begitulah pemuda itu mengawali harinya, dengan geraman menakutkan serta umpatan dan cacimaki tak pantas. Tapi ia tidak pernah ambil pusing pada perilaku buruknya itu, bahkan setelah ia kena omel panjang lebar dari sahabat kecilnya, Momoi Satsuki.
Pip.
"Aho–mine, ohayou! Kau sudah bangun bukan? Cepat, aku sudah menunggu di depan rumahmu," ujar sebuah suara, menyapa pagi sang pemuda.
"Mh, pergi saja. Aku tidak akan berangkat," balas Aomine singkat.
Sebuah decihan khas terdengar di telinga sang pemuda, dan ia tahu segalanya tidak akan jadi lebih baik setelah ini.
"Aho–mine, aku hitung sampai tiga. Kalau kau tidak mau bangun juga, akan aku beri tahu ibumu mengenai semua majalah gravefur yang kau sembunyikan!"
Baru-baru ini rutinitas pagi Aomine selalu sama, penuh dengan ancaman.
"Kau–" ujar Aomine, perlahan bangun dan mengucek matanya –membuang semua kotoran yang ada di sana, "–harusnya kau tahu betapa picik dan menyebalkannya dirimu."
Seseorang yang berada di ujung telepon jadi ikut-ikutan menggeram, "Aku jadi picik setelah bersamamu, otak udang. Cepat turun! Aku kedinginan!"
Pemuda bermata cerulean itu jatuh pada lamunannya, berpikir mengapa ia harus kehilangan waktu tidurnya yang teramat berharga hanya untuk sekolah –di saat suhu serendah ini.
"Aho–mine, aku tahu kau masih diam, duduk manis di kasurmu," interupsi suara itu lagi.
"Ne, Karen–" Aomine berucap manja, "–beri aku ciuman selamat pagi."
Lalu hening menghampiri indera pendengaran pemuda yang mencintai basket itu.
"Dasar mesum," suara di ujung telepon terdengar mengejek dan jujur saja itu membuat Aomine tersinggung.
"Apa yang kau lakukan, Aho–mine? Masih terduduk diam?"
Aomine malas menjawab, sebutan mesum membuatnya bad-mood dan tak mau menggerakan tubuhnya ke manapun. Menjaga setiap kehangatan ekstra yang tubuhnya masih miliki.
"Kalau kau masih terduduk diam di kamar–" sang gadis berucap dengan nada kekanakkan, "–mana bisa aku menciummu?"
.
.
.
Knock, and It Shall be Opened
.
.
.
"Oi, Tetsu, bahkan di hari yang dingin seperti ini kau latihan sampai malam lagi," ujar pemuda berkulit kecoklatan, Aomine Daiki.
"Ah, Aomine–kun, kau belum pulang?" tanya sang surai baby-blue.
Aomine memperhatikan tubuh kecil milik seseorang yang kini sudah menjadi sahabatnya itu. Tubuh Kuroko dipenuhi keringat, air yang berasa asin itu mengalir menuruni dahinya. Napasnya masih sedikit memburu, dan wajahnya memerah.
"Iya. Aku sengaja ingin menemuimu dulu, eh, Tetsu?" pemuda yang tingkat kepintarannya diragukan itu memiringkan kepalanya sedikit.
"Mh, ada apa Aomine–kun?" tanya Kuroko bingung.
"Kau tampak senang hari ini–" ucap Aomine curiga, "–terlalu senang."
"Eh?!" surai baby-blue itu membuang pandangannya canggung, perlahan jarinya menggaruk dagunya kaku, "Apa yang kau katakan Aomine–kun. Kau mengada-ada saja."
Setelah memutuskan bahwa respon yang diberikan Kuroko terlampau mencurigakan, ia kembali berkata, "Apa ada sesuatu yang bagus terjadi?"
Kuroko belum menjawab, ia masih membuang pandangannya dan berusaha menghindari tatapan menyelidik surai navy-blue.
"Misalnya seperti naik string, atau–" bibir Aomine naik dan membentuk sebuah senyuman jahil, "–jadian dengan seorang perempuan."
"A–Apa–Apa yang –maksudku mana mungkin, jangan bercanda," Kuroko menggelengkan kepalanya keras dan terlalu cepat.
"Eh, jadi dengan siapa?" tanya Aomine tidak mempedulikan sangkalan yang dikeluarkan surai baby-blue.
"Kau salah sangka, Aomine–kun," Kuroko berucap tegas.
"Apa dia seangkatan dengan kita? Atau anak kelas 2? Ah, apa mungkin kelas 3?" tanya Aomine tak mengidahkan ucapan Kuroko.
Surai baby-blue mengambil bola basket yang ada di dekat kakinya dan mulai mendrible, "Aomine–kun, tolong berhenti membicarakan hal itu. Kurasa kau lebih menyukai one-on-one."
"Dengan satu syarat," surai navy-blue berjalan angkuh mendekati baby-blue yang tengah asik dengan bolanya, "Kalau kau kalah, beritahu aku siapa perempuan itu."
Aomine berasa ada di atas angin sekarang, ia berhasil membuat sahabatnya itu tersudut dan salah tingkah. Sifat jahilnya mungkin sudah mendarah daging, membuatnya sering salah bersikap dan malah menyakiti orang lain. Ada yang bilang, bahwa kata-kata tidak akan melukai siapapun –tapi di tangan seorang Aomine dan kulit kecoklatannya, hal itu sangat bisa terjadi.
"Kau hanya akan menertawakan aku, bukan?" Kuroko berucap malas.
Alis Aomine bertautan, "Mengapa harus menertawakanmu?"
Kuroko terdiam dan membiarkan bolanya direbut oleh surai navy-blue, "Slamdunk! Kau lihat Tetsu? Slamdunk-ku menawan bukan?"
Kuroko tersenyum saat Aomine melempar bola ke arahnya.
"Tetsu, bukan 'kah sekarang kita teman?" Aomine memberikan fist-nya untuk disambut, "Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal semacam 'akan ditertawakan'. Konyol."
"Mudah untukmu berbicara, Aomine–kun," jawab Kuroko, bergerak cepat menembus pertahanan sang pemuda berkulit coklat.
"Aku janji tidak akan menertawakanmu. Jadi, beritahu aku siapa perempuan itu," ucap Aomine sembari mengejar Kuroko yang sudah ada di dekat hoop.
Surai baby-blue melakukan shoot –yang lagi-lagi meleset. Menghela napas Kuroko menatap Aomine, "Sayaka Hiruma. Aomine–kun mengenalnya bukan?"
"Sayaka Hiruma? Anak yang beberapa minggu kebelakang jadi ketua osis itu?" Aomine berdiri mematung dan menatap Kuroko lekat, seolah-olah sang surai baby-blue merupakan alien aneh yang datang dari galaksi tak bernama, "Serius? Kau pasti bercanda."
"Kau tidak perlu menatapku seperti itu, Aomine–kun," jawab pemuda yang menguasai misdirection itu malu dan sedikit kesal.
"Aku tidak yakin kau sudah mengetahui ini, Tetsu," Aomine berucap hati-hati, "Tapi, si ketua osis sudah bertunangan."
Segera setelahnya, untuk seorang Kuroko Tetsuya dunia terasa berhenti dan segalanya menjadi senyap. Ia bahkan tidak bisa mendengar apa yang sahabatnya berusaha untuk sampaikan. Aomine sedikit mengguncangkan bahu kecil surai baby-blue dan menatapnya cemas.
"Aomine–kun, tunangan Sayaka–san yang kau maksud itu siapa?"
.
.
.
"Hei, Aho–mine, apa kau mendengarkan aku?" ucap seseorang sembari menyikut pinggang Aomine.
"Huh? Apa?" jawab surai navy-blue tidak siap. Pikirannya sedang menyeberangi lautan bernama rasa khawatir. Pemuda berkulit coklat itu masih memikirkan si surai baby-blue dan masalah yang dihadapinya. Ia harap sahabatnya itu baik-baik saja.
"Tuh 'kan! Kau tidak mendengarku lagi!" protes sang gadis.
"Maaf, Karen. Tadi kau bilang apa?" tanya Aomine sembari tertawa bodoh.
"Aku bilang, kau mau menonton film apa?" akhirnya sang gadis mengulang kembali ucapannya, dengan suara pelan ia mengeluh, "Padahal ini adalah valentine pertamaku, kenapa harus dengan orang sebodoh ini."
"Oi, aku mendengarnya!" urat kesal muncul di dahi Aomine, membuatnya terlihat semakin garang, "Ah, malas, kau saja yang pilih."
Dengan cuek sang gadis menunjuk sebuah cover film, "Aku ingin menonton itu, artis favorite-ku bermain di sana."
.
.
.
Aomine tidak pernah tahu, menonton bisa menjadi kegiatan yang teramat kaku, canggung dan membuatnya salah tingkah seperti saat ini. Biasanya dia yang membuat orang-orang salah tingkah dan malu –mungkin kini karma Tuhan jatuh padanya. Meski tingkat ke-mesuman Aomine sudah akut, tapi dia tetaplah seorang anak sekolah menengah pertama. Umurnya baru mencapai angka belasan, dan melihat adegan film di depannya membuat dia… kebingungan harus bersikap seperti apa.
"Karen, jangan bilang kau sengaja," ucap Aomine berbisik, ia mendekatkan kepalanya di kepala sang gadis. Samar-samar ia bisa melihat surai violet sang gadis berubah warna terkena pantulan cahaya dari layar.
"Sengaja apa?" tanya sang gadis sembari menatap pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya itu bingung lalu kembali menatap layar bioskop.
"Sengaja menonton film ini untuk melihat adegan 'itu', kau ingin aku mempraktikannya padamu, huh?" tanya Aomine seduktif –dengan niatan ingin menjahili sang gadis, ia suka melihat kekasihnya merona karena malu.
"Tidak terima kasih," jawab Karen tanpa mengalihkan pandangannya dari film, "Pria itu melakukannya dengan salah–"
Aomine tersentak lalu mengikuti arah yang ditunjukkan sang gadis.
"–lihat itu. Jika ia melakukannya seperti itu wanitanya akan merasa tidak nyaman, dan itu akan mengurangi kenikmatan seksual yang didapat. Bagaimana mungkin wanita itu bisa menikmatinya?"
Tunggu. Tunggu! Aomine masih memproses semua yang diucapkan gadis dengan surai violet itu.
"Seharusnya ia tidak menekan terlalu keras punggung wanita itu, mungkin sebaiknya ia mencoba gaya sampi– ah, adegannya berakhir, dasar lembaga sensor tak berperasaan!" protes gadis itu kesal, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Padahal aku ingin melihat tubuh Taku–chan terekspose lebih banyak –ya, meski jujur ia payah di ranjang."
Merasa ada keheningan yang ganjil Karen melirik Aomine yang menatapnya dengan pandangan kaget dan–
"Aho–mine, mengapa wajahmu memerah? Jangan bilang kau terangsang oleh adegan tak becus tadi?"
Segera pemuda berkulit kecoklatan itu menutup mulut sang gadis –yang menerima protes keras, "Karen, jangan mengatakan hal itu lagi. A–Apa kau tidak malu?"
Aomine meratapi dirinya.
"Sial! Dan orang-orang bilang aku yang mesum."
.
.
.
"Film yang tidak mengasikan sama sekali, yah tapi asalkan ada Taku–chan tak apa," Karen berucap kecewa. Ia menatap langit kamar yang terasa asing baginya, "Aho–mine, terima kasih sudah mau membelikanku tiket bioskop. Kalau aku yang beli, penjaganya tidak akan memberikan tiket itu padaku –umur dan tinggiku kurang."
"Hei, kau. Jangan tidur di kasurku seenaknya!" interupsi seseorang, "Lagipula apa hubungannya dengan tinggi?"
"Aku lelah, Aho–mine," jawab sang gadis, "Buktinya, meski umurmu masih kurang, penjaganya membiarkanmu membeli tiket –hanya karena kau tinggi, cih."
"Mau bagaimana lagi? Mereka pikir aku sudah cukup umur –apa aku terlihat seperti anak kuliahan?" Aomine berkata malas, sedetik kemudian matanya melirik licik, "Hei, masih ingat film tadi? Apa kau mau aku menyerangmu sekarang juga?"
"Memangnya kau tahu bagaimana caranya?" Karen mendecih sangsi, "Ya, kalau tidak tahu sih bisa aku arahkan."
Surai navy-blue bergidik ngeri, "Perempuan mesum!"
"Ah, sudah, sudah, sesama orang mesum dilarang menghina," jawab Karen santai, "Ngomong-ngomong, Aho–mine, aku ingin makan dan minum sesuatu."
"Ah, biar aku bawakan air, kau mau apa? jus? Ibu dan ayahku sedang pergi dan aku tidak bisa memasak –ya kalau cuma ramen instan sih masih bisa," tawar Aomine sembari berdiri dan bersiap untuk keluar kamar.
"Ramen, ok! Air atau jus apapun boleh, asal jangan cairan putih milikmu," jawab sang gadis.
Aomine menarik bantal yang ada di dekatnya dan melempar benda itu hingga mengenai kepala surai violet, "Berhenti mengatakan hal menjijikan seperti itu! Mesum! Mesum! Mesum!"
"Aw! Sakit! Lagipula, orang yang mengatakan orang lain mesum itu jauh lebih mesum!" Karen membela diri, segera didudukkan tubuhnya agar memiliki proteksi lebih kuat.
Aomine keluar dari kamar sembari bergeridik dan terus mengulang frase yang sama, "Ih, amit-amit!"
Manik keunguan Karen membuang pandangannya, sedikit kesal karena sikap berlebihan Aomine. Gadis itu memeluk erat bantal yang sempat menyerangnya, memikirkan soal hubungan mereka yang baru berumur empat bulan. Kalau dipikir-pikir, selama ini yang mereka lakukan hanya bertengkar dan bertengkar. Lucu sebenarnya, karena Aomine –yang pada awalnya tidak pernah mengajaknya berbincang sekalipun, tiba-tiba menyatakan perasaan dan memintanya untuk menjadi pacarnya.
"Apa yang si bodoh itu suka dariku?" gumam Karen, matanya menyapu ke penjuru kamar.
Tidak seperti bayangannya, kamar Aomine rapi dan tertata. Hiasannya simpel dan penuh benda bernuansa basket. Tapi Karen tahu betul, Aomine merapikan kamarnya agar ibunya tidak perlu repot-repot membereskan kamar itu –'koleksi pribadinya' bisa terancam punah.
Tiba-tiba manik violet milik sang gadis menemukan sebuah buku berwarna ungu di atas meja belajar Aomine –meski sang gadis sangsi meja itu pernah digunakan sesuai fungsinya.
Buku itu tampak berbeda dari buku lainnya. Ia turun dari ranjang Aomine yang nyaman dan bergerak untuk mengambil benda itu.
"Buku apa ini? Judulnya aneh, 'Musuh!' ?"
Penasaran Karen mulai duduk dan membuka lembar pertama buku itu. Tampak foto seseorang dengan dark-lavender-nya sedang menguap, matanya terbuka setengah dan mulutnya terbuka lebar.
"Si bodoh Haru menguap, ia terlihat jelek. Ayo berpose jelek lebih banyak. Aku akan mengumpulkannya dan membalasmu karena memberikan jawaban tugas fisika yang salah," Karen membaca kalimat yang ada di bawah foto tersebut.
"Jawaban fisika? Bukannya Aho–mine tidak sekelas dengan perempuan itu? Kami tidak sekelas. Mana bisa soalnya sama?" Karen berpikir bingung.
Jemari lentik surai violet membuka lembar selanjutnya. Tampak gadis dengan dark-lavender itu kembali, kini ia terlihat sedang merenggangkan tangannya ke udara.
"ha ha Haru berdada rata," baca Karen lagi. Kemudian matanya melihat foto yang ada di halaman sebelahnya.
"Haru memerah, bahkan bola voli membenci wajah jeleknya."
Masih penasaran Karen lagi-lagi membuka lembar selanjutnya.
"Tubuh Haru pendek, ia tidak bisa meraih buku di rak tinggi, dasar chibi."
"Bukannya ini… Iwayama Shunji dari kelas sebelah ya?" tanya Karen pada dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya dan terus melihat-lihat isi buku bercover ungu itu, "Kenapa Aho–mine memanggilnya Haru?"
"Haru cemberut, bibirnya seperti bebek wek wek."
"Pelajaran olahraga, rambut–nya diikat buntut kuda, itu artinya wajahnya bokong kuda."
"Aho–mine kejam juga," komentar Karen pendek.
"Si bodoh itu tidak bisa makan dengan benar, eskrim menempel di ujung bibirnya, dasar anak ingusan."
"Di tengah pelajaran si pendek Haru main Hp, kalau aku beritahu guru dia akan bermasalah."
Alis Karen naik, "Hee? Kau bahkan tidur secara terang-terangan, Aho-mine baka!"
"Bunkasai. Haru memakai baju maid berenda. Ia menyapaku. Ia tampak cocok dengan baju itu –cocok jadi pembantu?"
"Ah, benar juga. Kelas 1–2 'kan temanya maid dan butler café. Aku ingat kapten klub basket berambut merah itu memakai baju butler dan café itu sukses besar," ucap Karen, berusaha mengingat serpihan kecil bunkasai pertamanya di Teiko.
"Gadis bodoh itu masuk ke dalam obake-house yang dibuka oleh kelas 2–1."
"Haru menangis. Ia tampak ketakutan. Teman-temannya lari meninggalkannya."
Karen memperhatikan foto itu lebih jelas. Keadaan ruangan di foto yang remang-remang membuat gadis dengan manik violet itu tidak bisa melihat keseluruhan foto dengan jelas. Namun ia bisa langsung tahu gadis yang ada di foto itu tengah menutup kedua telingannya dan menangis.
"Kise datang dan membantu Haru keluar dari sana. Si bodoh Haru terlalu memaksakan diri."
"Haru berolahraga. Aku suka bentuk kakinya. Aku tak sadar kakinya bagus."
Karen membuka lembar itu lebih jauh –tidak peduli pada kenyataan ia belum meminta izin pada si pemilik buku. Ia membaca judul-judul foto itu dalam diam.
Haru datang ke kelas. Ia membantu Kise mengerjakan tugas rumahnya. Haru… banyak tersenyum saat bersama si rambut kuning. Mengesalkan.
"Haru mengepang samping rambutnya. Ia tampak manis."
"Kenapa memanggilnya Haru? Haru? Shun? Ah! Aho–mine salah membaca kanji!" pekik Karen yang masih setia membuka lembaran dari buku itu.
Aku bertemu Haru di taman. Kami mengambil foto bersama beberapa anak kecil yang sedang bermain.
Haru bergaya teramat manis untukku. Padahal aku hanya bercanda saat bilang ingin memfotonya. Haru memintaku untuk berhenti memanggilnya Haru. Jadi aku memanggilnya Haru–chan. Ia tampak semakin kesal.
Gadis dengan surai violet itu terdiam sesaat sebelum memberanikan diri membuka lembar selanjutnya dari buku itu.
Aku, menyukai Haru–chan!
"Karen, ramen-mu sudah jadi, makan dulu," suara berat si navy-blue menarik perhatian Karen keluar dari buku di tangannya.
"A–Ah, Aomine?" tanya Karen kaget, ia menutup cepat buku berisi kumpulan foto itu dan menyimpannya di meja.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya si surai navy-blue bingung.
"Bukan apa-apa," jawab Karen. Dengan kaku ia mendekati Aomine.
"Ini, ramenmu, ini jus jeruk," pemuda berkulit kecoklatan itu menyodorkan kedua benda yang sudah disebutnya di meja pendek. Ia ikut menyimpan makanan miliknya di sana.
"Itadakimasu!" ucap Aomine memulai ritual makannya.
Karen membalas ucapan kekasihnya, "Ah, itadakimasu."
Lalu kedua anak manusia yang sedang kelaparan itu sibuk memenuhi perut mereka.
"Ne, Aomine," panggil Karen, "Kenapa kau memilihku untuk menjadi pacarmu?"
Aomine yang tengah asik dengan makanannya berhenti dan menelan cepat, "Tumben menyebut namaku dengan benar."
"Aku bertanya, kenapa kau memilihku untuk menjadi kekasihmu, Aomine," ulang Karen ketika dirasanya sang kekasih tidak memuaskan keingin tahuannya –rasa ketidak amanannya.
"Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" pemuda dengan kulit kecoklatannya balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu. Sekarang jawab kenapa," hampir dengan nada memerintah Karen berkata.
Aomine diam sejenak untuk berpikir, "Apa kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat?"
"Memangnya sesuatu apa yang tidak boleh aku lihat? Aku sudah merusak tabu itu jauh-jauh hari," ucap surai violet itu mulai lelah.
"Pantas saja kau semesum ini," respon Aomine –respon yang tidak diharapkan sang gadis.
"Jujur saja," Karen menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya, "Apa kau menggunakan aku sebagai pelampiasaanmu terhadap Iwayama–san?"
"Iwayama?" Aomine balik bertanya.
"Iwayama Shunji!" ucap Karen sedikit berteriak.
"Kenapa kau tiba-tiba membawa Haru–chan?" tanya Aomine tidak suka.
"Jadi benar? Jadi benar kau hanya menggunakan aku untuk itu?" tanya Karen, nadanya melemah, "Karena kami berdua memiliki rambut keunguan yang mirip."
Aomine menghela napas berat, "Lupakan saja. Lanjutkan makanmu, kalau tidak aku akan menghabiskannya."
"Aomine! Ini bukan bercandaan. Kalau kau memang menyukai Iwayama–san, bilang padanya dan jadilah kekasihnya," Karen menatap heran Aomine yang masih sibuk dengan ramennya.
"Ia berpacaran dengan Kise, tidak 'kah kau tahu?" Aomine menyeruput kuah ramennya rakus.
"Maksudmu kalau Iwayama–san masih sendiri kau akan bersamanya?" tanya Karen, tidak mengacuhkan ramennya yang mulai mendingin.
"Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh," jawab Aomine dingin.
Karen menarik napas panjang, berusaha menahan air mata agar tidak mendesak keluar, "Aku merasa bodoh."
Aomine menatap kekasihnya yang nampaknya akan menangis itu lekat, "Karena kau bodoh, jadi tidak usah berpikir terlalu sulit."
Karen tersenyum, gerakan tiba-tiba di otot wajahnya membuat air mata itu turun dengan sendirinya, menetes membasahi punggung tangannya sendiri, "Ah, maaf."
Pemuda berkulit coklat itu beranjak dari tempatnya dan duduk di sebelah sang gadis. Dengan perlahan ia menarik kepala Karen untuk beristirahat di dadanya. Aomine mengusap pucuk surai violet itu lembut, "Aku yang minta maaf. Tadi kau melihat buku itu ya?"
Karen diam, tidak memberikan jawaban.
"Memang benar. Aku menyukai Haru–chan. Padahal dulu aku sangat membencinya–" Aomine tertawa mengingat hari-hari pengintaiannya untuk mencari momen jelek sang musuh, "–dan apa yang kau katakan juga benar. Aku melihat Haru–chan –yang tidak bisa kumiliki, dari sosokmu."
Karen menggigit bibirnya untuk tidak terisak. Gadis dengan surai violet itu memang baru mengenal Aomine sebentar, dan sejujurnya ia tidak bisa mengatakan kalau ia benar-benar menyukai pemuda itu. Tapi, merasa dipermainkan seperti ini membuatnya kesal dan marah, selebihnya ia kecewa.
"Tapi apapun itu alasannya, kini aku bersyukur," Aomine mengangkat wajah Karen dan menyeka air mata gadis itu, "Karena dengan cara yang salah itu aku bisa mengenal Karen lebih jauh."
Hening menyapa mereka.
"Karen, sepertinya kita harus putus. Aku tidak bisa seperti ini terus," Aomine membuka suara.
Merasa disadarkan dari sesuatu Karen segera menjauhkan diri dari si surai navy-blue, "Ya, sebaiknya kita putus."
Seperti itu, hubungan mereka berakhir. Hubungan yang baru berusia empat bulan.
"Ah, Aomine, kau salah membaca kanji nama Iwayama–san. Harusnya kau baca Shun untuk kanji Haru itu, namanya Shunji, bukan Haruji," Karen tersenyum, kepalanya masih menunduk.
"Aku tahu. Haru–chan sudah berkali-kali mengatakan hal itu," Aomine tersenyum lembut dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Lalu hening lagi-lagi menyapa mereka.
"Karen," panggil Aomine, lalu si surai navy-blue memegang tangan gadis itu erat, "Jadilah kekasihku."
"A–Apa maksudmu? Kita baru saja putus," ucap Karen sembari memandang manik sang pemuda bingung.
"Aku menyukai Kaou Karen. Aku menyukai Karen yang membangunkanku setiap paginya dengan ucapan selamat pagi, ancaman, serta ciuman mesra, aw!" omongan Aomine berhenti karena pukulan yang diberikan Karen.
"Jangan memukulku seperti itu," protes Aomine, matanya menyipit dan itu membuatnya terlihat menakutkan.
Karen membuang wajahnya lalu menghela napas lelah, "Lanjutkan."
"Mattaku mou," surai navy-blue melanjutkan ucapannya, "Aku juga menyukai Karen karena kau baik dan selalu menutupi tubuhku ketika sedang tidur di kelas, aw!"
Aomine menjengit keras dan refleks menarik tangannya, "Jangan mencubitku!"
"Lanjutkan," ucap Karen lagi, masih menolak untuk menatap pemuda berkulit kecoklatan itu secara langsung.
"Aku menyukaimu saat aku sadar, aku sudah tidak bisa melihat Haru–chan dalam dirimu lagi. Kini hanya ada Karen, dan bukan orang lain," Aomine melanjutkan ucapannya dan berhenti sejenak, memberikan jeda agar ia bisa bernapas dan mempersiapkan diri, "Karenanya aku bertanya, maukah kau jadi kekasihku?"
Manik violet sang gadis dengan cepat mencari manik cerulean. Menatapnya lekat dan meminta kejelasan. Namun manik cerulean itu memutuskan untuk tidak mengucapkan apapun lagi –membiarkan kalimat terakhir datang dari gadis dengan surai violetnya. Menjadi kalimat pemungkas untuk kehidupan asrama mereka.
"Aho–mine," Karen berucap lemah, dadanya berdenyut perih tapi bibir sang gadis melengkungkan senyuman bahagia, "Setidaknya perlakukan aku dengan baik."
Pemuda dengan surai navy-blue-nya tersenyum lega, "Ajarkan aku caranya, sedikit demi sedikit."
Ya, cinta tidak tumbuh seketika, meski orang bilang ada cinta pada pandangan pertama. Tapi cinta tetaplah kata benda yang menyiratkan aktivitas, karenanya cinta pasti memerlukan proses. Proses yang berlangsung seumur hidup –sama seperti belajar. Karena cinta membutuhkan pengalaman agar bisa memperlakukan pasangannya dengan cara sebaik mungkin. Cinta bukan berarti seberapa banyak kita memberi pada orang lain, atau seberapa banyak orang lain mau berkorban untuk kita. Tapi cinta berarti hubungan equal, atau sejajar, di mana dua individu melakukan yang terbaik untuk saling melengkapi kekurangan yang ada. Pengertian yang sulit dimengerti memang –apalagi untuk seorang Aomine Daiki. Meski demikian, pemuda dengan kulit kecoklatan itu sudah bertekad untuk bisa menggapainya. Sebagai bentuk penebusan atas kesalahan yang telah ia buat, serta agar ia bisa terus melihat senyum bahagia dari gadis yang sangat dicintainya.
.
.
.
To Be Continued (?)
.
.
.
A/N : Aomine Daiki, selesai! Yeay! Berarti tinggal satu ekor lagi nih *ketawa evil. Ah, maaf ya Reader, kali ini Sirius terpaksa masukin sesuatu yang agak berbau dewasa –tapi cuma dikit, ko. *alesan*. Maaf juga buat yang minta Akashi didahulukan eh malah dikasih Aomine, maaf.. tapi aku sama abangku (Kaito Akahime) udah sepakat buat nyimpen Aomine di chapter ini.
Baca juga ya fic abangku (pen name : Kaito Akahime), meski judul dan tema kami sama, ceritanya kami sengaja buat berbeda, lho.
Well, how's that? Did you guys enjoy this chapter? Kasih review ya, masukan, flame juga boleh asal membangun ^ ^ wah, chapter depan chapter terakhir nih *nangis bahagia* Look forward ya guys! Sirius harap enggak mengecewakan.
Kuroko : "Review-shite kudasai." (tolong reviewnya.)
So, Would You Mind to Review?
