Pairing : Akashi Seijurou X OC

Warning(s) : Ini chapter terakhir, jangan nangis #plakk

Disclaimer : Kuroko no Basket sepenuhnya milik Fujimaki Tadatoshi–sensei. Saya hanya meminjam karakter miliknya untuk keberlangsungan imajinasi saya. Saya tidak mendapatkan keuntungan finansial apapun.

Please Enjoy!

.

.

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Kiseki no Sedai Koi Monogatari The Sirius of Black Daria co-with Kaito Akahime (Kazusa Kirihika)

.

.

.


Tawa halus terdengar memenuhi ruangan kosong yang hanya diisi oleh dua anak manusia.

"Maaf, Aka–chan," ucap sosok itu setelah berhasil meredakan tawanya, "Kau bercanda 'kan?"

"Bisakah, kau memanggilku dengan normal?" tanya seorang pemuda dengan surai kemerahannya, ia terus memandang kosong ke luar jendela, "Aku serius."

Lalu kedua anak manusia itu tenggelam dalam senyap, si surai kemerahan belum melepaskan pandangannya dari pemandangan langit sore di kala itu.

"Hiruma, tidak mungkin ya?" tanya sang pemuda, secara tidak sadar mengepalkan tangannya.

Seseorang yang dipanggil Hiruma tidak menjawab apapun, gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu surai kemerahan, "Nee, Akashi, mengapa kau mengatakan hal itu?"

Menarik napas pelan Akashi menjawab, "Aku telah menemukan seseorang yang benar-benar kusukai."

Hening lagi-lagi menyapa eksistensi kedua orang itu. Sang gadis terdiam dalam kaku, ia hanya bisa memainkan ujung gaun yang dikenakannya.

Akashi menegakkan tubuhnya, membuat sang gadis harus berhenti bersender, "Katakan sesuatu. Kau membuatku terdengar seperti orang jahat."

"Aku," Hiruma berucap ragu, "Kurasa sekarang aku jadi benar-benar menyukai Tetsuya."

Akashi meraih surai keemasan milik sang gadis dan mengusapnya lembut, "Aku tahu."

"Sekarang malah kau yang membuatku terdengar jahat," protes Hiruma.

"Kurasa kita berdua memang sama-sama jahat," ucap Akashi, ia tersenyum tipis.

"Kalau kau mengatakannya seperti itu, kita jadi terlihat seperti pasangan serasi," respon Hiruma, ia menangkap tangan Akashi yang masih diam di kepalanya, menarik tangan itu ke pipinya.

Surai kemerahan Akashi tidak memberikan perlawanan berarti saat ia merasakan bibir lembut sang gadis menyapu punggung tangannya.

"Kau benar," ucap sang gadis, menutup matanya rapat, sembari masih menikmati sensasi kulit kapten basket Teiko itu, "Mari kita batalkan pertunangan ini."

.

.

.

Happiness Theory

.

.

.

Dritt.. Dritt.. Dritt..

"Mh, Ohayou," ucap seseorang dengan suara malas.

"Pagi bocah. Bangun, sudah mulai siang," balas suara di ujung telepon.

Seseorang yang mendapat panggilan bocah itu tertawa lembut, "Seijurou–senpai, padahal kau pernah bilang tidak akan membangunkan aku dengan morning-call lagi, hihi"

"Ceh," decih lawan bicaranya, "Riku, ini memang hari libur, tapi jangan bermalas-malasan dan tidur sampai siang."

"Terima kasih sudah membangunkan aku, aku senang," ucap seseorang yang dipanggil Riku itu, senyuman tidak lekang dari bibirnya, "Iya, iya, aku tidak akan tidur cantik, aku kan sudah cantik hehe."

"Hari ini senpai ada acara?" tanya Riku sejurus kemudian saat dirasanya tidak ada respon atas candaan yang dibuatnya.

"Tidak. Aku hanya akan pergi ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas," jelas sang penelepon.

"Jya, aku akan menemanimu! Sampai bertemu di sana!" Riku yang baru terbangun dari tidurnya berteriak antusias.

"Jangan! Kau tidak perlu datang, bocah!" tolak surai kemerahan sembari menggeram.

Sang gadis hanya bisa tertawa kecil, "Terima kasih, senpai. Aku sayang, senpai."

.

.

.

"Tetsuya! Hei, di sini! Di sini!" Hiruma berucap antusias.

"Ah, Hiruma," surai baby-blue Kuroko berlari kecil ke arah sang gadis, "Maaf, apa kau menunggu lama?"

Gadis dengan surai keemasan itu menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak, aku juga baru sampai, ko!"

Kuroko tersenyum lembut melihat sikap over-ceria yang dimiliki kekasihnya, "Terima kasih mau menemaniku hari ini."

Lagi-lagi Hiruma menggeleng, "Anggap saja ini kencan! Mana bisa aku menolak!"

"Tapi, ini bukan kencan," ralat Kuroko dingin.

"Ah, apapun itu, yang penting kita pergi berdua!" Hiruma menggenggam tangan surai baby-blue dan menariknya cepat, "Ayo, kita beli buku yang kau butuhkan. Setelah itu kita kencan!"

"Ah, jangan cepat-cepat," ucap Kuroko, "Lagipula ini bukan kencan."

Hiruma tersenyum senang saat ia melewati banyak orang dengan cepat. Ia sama sekali tidak mengacuhkan protes-protes kecil yang dikeluarkan surai baby-blue.

.

.

.

Surai kemerahan Akashi bersyukur perpustakaan kota di kotanya tidak memiliki hari libur, sehingga di waktu-waktu seperti ini dia tidak harus kerepotan jika diberi tugas membuat essai oleh gurunya.

"Seijurou–senpai, itu apa?" tanya sebuah suara menunjuk beberapa tumpukan buku yang ada di dekat Akashi, menarik Akashi keluar dari kegiatannya.

"Hm?" Akashi bergumam sesaat, "Ini referensi untuk tugas essai-ku."

"Wah, jadi anak kelas dua memang sulit ya?" komentar sosok itu polos.

"Kelak kau juga akan menjadi kelas dua, Riku," Akashi tidak melepaskan pandangannya dari buku yang tengah ia baca.

"Ah, kau benar!" pekik sang gadis pelan, "Sepertinya enak jika bisa menjadi anak kelas satu selamanya, tugasnya mudah-mudah, hehe."

Akashi menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap manik kehitaman milik sang gadis, "Kalau kau di kelas satu terus, itu artinya kau tidak akan lulus, dan selamanya menjadi anak SMP. Selamanya akan mendapatkan tugas anak sekolahan. Memangnya kau mau?"

"Seijurou–senpai tidak asik ah. Aku 'kan hanya mengandai-andai –tidak bermaksud serius," Riku cemberut, pipinya sedikit menggembung karena kesal.

Surai kemerahan hanya bisa menghela napasnya, "Kalau kau ada di sini hanya untuk main-main, sebaiknya kau pulang saja."

"Senpai, kau menyebalkan, padahal aku ke sini untuk menemanimu," ucap Riku pelan, "Yah, hitung-hitung ucapan terima kasihku karena sudah mau membangunkan aku setiap paginya."

"Itu salahmu sendiri karena jadi tukang tidu–" ucapan Akashi terpotong saat Riku mengambil satu buku dari tumpukan buku Akashi.

"Materi apa yang belum Senpai temukan?" tanya gadis dengan surai kehitaman sebahunya.

Kapten basket Teiko itu membaca ulang tugas yang diberikan padanya, "Mh, jenis dari pembentukan teoritis, serta kekurangan dari jenis-jenis itu."

"Baiklah, aku akan merangkumkannya untukmu," gadis yang berumur dua tahun dibawah Akashi itu berucap, dengan sigap ia membuka daftar isi dan mencari apa yang dibutuhkan sang pemuda.

"Kau tahu, kau tidak perlu melakukannya," ucap Akashi.

Riku tidak membalas ucapan Akashi, tangannya sibuk mencatat hal-hal penting, matanya membaca dengan gerakan cepat, surai kehitaman itu tampak serius dalam pekerjaannya. Membuat Akashi hanya mampu menarik napas lalu mulai menulis bagian yang belum selesai ia buat; diam-diam bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.

.

.

.

Langit masih berada di atas kepala saat itu. Manik milik Akashi melihat ke sekelilingnya, memperhatikan kegiatan yang orang-orang lakukan.

"Senpai, senpai, kau mau?" ucap Riku antusias.

Akashi melirik dan mendapati sebuah eskrim cone menghadap ke arahnya, "Tidak, Riku. Aku tidak suka makanan manis."

"Eh? Coba saja dulu, enak ko, ayo," paksa sang gadis.

Mau tidak mau Akashi mencondongkan tubuhnya dan menjilat sedikit bagian dari eskrim itu.

"Dingin," komentarnya pendek.

Riku tertawa tertahan, "Maa, kalau tidak dingin maka itu bukan es. Ngomong-ngomong Seijurou–senpai. Terima kasih telah mengajakku hari ini."

"Aku tidak mengajakmu, kau yang mengekor," bantah Akashi.

Sang gadis tertawa halus, "Hihi lucunya."

Jantung si surai kemerahan berdegup dua kali lebih keras, ia jadi salah tingkah, "A–apa maksudmu? Lucu bagaimana?"

Jemari lentik Riku menyapu sudut bibir Akashi, lalu menjilat jari itu, "Manisnya."

"Ah, di sana sepertinya ada yang menjual Tayaki! Ayo ke sana!" tunjuk Riku sembari berlari ke arah yang dimaksud.

Akashi hanya bisa terdiam di tempat sembari menyentuh bibirnya yang sudah terlebih dahulu disentuh sang gadis.

"Sial," umpatnya, saat ia merasa daerah pipinya memanas dan terasa sedikit keras.

.

.

.

"Seijurou, tumben pulang malam?" tanya sebuah suara saat Akashi menginjakkan kakinya di rumah nan megah tempat ia dibesarkan, "Apalagi ini hari libur."

"Ayah," ucap surai kemerahan itu kaget, "Aku tadi –ngomong-ngomong mengapa ayah belum tidur?"

Alih-alih menjawab pertanyaan dari putra semata wayangnya, pria berusia paruh baya itu melangkahkan kakinya dalam diam dan mendekati Akashi.

"Apanya yang belum tidur, huh?" ujarnya main-main sembari mengacak-acak rambut Akashi, "Kalau kau baru berkencan dengan kekasihmu katakan saja sejujurnya."

"Ah, apa yang ayah katakan? Aku tidak–" ucap Akashi terpotong.

"Tadi main ke mana saja dengan gadis itu? Siapa namanya?" tanya pria yang memiliki surai identik dengan kapten basket Teiko.

"Si–siapa? Sudah jelas Hiruma. Lagi pula tadi aku pergi ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas," jelas Akashi panjang.

"Eh? Tapi tadi di jalan aku melihat Hiruma bersama seorang pemuda dengan rambut biru muda," ucapnya, "Ah, dasar bocah, kemari kau!"

"A–ayah, aku– aku bisa jelaskan– ini hanya–" surai kemerahan Akashi tergagap.

"Aku tahu segalanya. Kau pikir aku baru menjadi ayahmu kemarin sore?" Akashi melihat kedipan sinyal yang diberikan ayahnya, "Ta–naka Riku, ya? Lain kali bawa ia kemari."

Sekali usapan di kepala mengakhiri pembicaraan sepasang ayah dan anak itu. Sebelum benar-benar pergi, pemimpin keluarga Akashi itu tersenyum sembari melambaikan tangannya dan berkata, "Sekarang beristirahatlah, ah jangan melupakan segala hal karena cinta. Aku akan tetap menghukummu jika nilaimu turun."

Akashi terdiam di tempat selama beberapa saat lalu ia meremas dadanya. Degup jantungnya berlarian tak karuan, ia sama sekali tidak bisa mengontrolnya. Tanpa ia sadari, sejak tadi ia menahan napas. Kondisinya kacau, dan itu hanya karena satu nama menyapa pendengarannya. Tanaka Riku.

.

.

.

Sore itu gedung olahraga SMP Teiko ramai seperti biasanya, kali ini karena klub basket SMP nomor satu di Jepang itu sedang melakukan latihan rutin mereka. Tapi pemandangan yang berbeda membuat seseorang dengan surai navy-blue-nya menaikkan sebelah alis bingung.

"Tetsu, tanganmu kenapa?" tanya sosok itu langsung.

"Ah, ini?" si surai baby-blue menunjuk lengan kirinya yang dibalut perban, "Kemarin, di perjalanan pulang, sebuah pot bunga jatuh dan menimpa pundakku."

"Ah, apa sakit–ssu?" tanya Kise sembari menyentuh perban Kuroko dengan hati-hati.

"Tidak sesakit kemarin," jawab Kuroko sembari memperhatikan perbuatan surai kuning keemasan, "Pemiliknya berkali-kali meminta maaf dan ia memberiku ini."

"Manju?" ucap si bongsor Murasakibara bingung, "Eh, jadi sebagai gantinya Kuro–chin diberi manju sebanyak ini?"

Surai baby-blue mengangguk, "Iya."

Kise menatap Kuroko khawatir, "Tapi, lukamu tidak parah 'kan–ssu?"

"Dokter bilang ini tidak terlalu parah, untung saja tidak mengenai persendian," ucap pemilik misdirection itu bersyukur.

"Ah, andai saja aku yang tertimpa," ucap surai soft-purple memecah keheningan yang sempat tercipta.

Kuroko berpikir sejenak untuk mengerti maksud yang dikatakan center Teiko itu, "Ah, kalau Murasakibara–kun mau, Murasakibara–kun boleh memakan manjunya –aku tidak bisa menghabiskannya sendiri."

"Jya, itadakimasu!" Aomine mengambil satu manju dan mulai memakannya.

"Aomine–chin, Kuro–chin memberikannya padaku!" protes Murasakibara.

Kise ikut-ikutan mengambil manju yang ia sukai bentuknya, "Ah, sepertinya enak–ssu, ittadakimasu!"

"Kise–chin!" rajuk surai soft-purple mulai kesal.

"Murasakibara–kun, berbagilah dengan semuanya," merasa center bertubuh 186 centimeter itu akan segera meledak, Kuroko memutuskan untuk melakukan sesuatu.

"Kalau Kuro–chin yang bilang," ucap Murasakibara menyerah, "Ara ini sangat enak, nyam, benar-benar enak."

"Oi! Jangan makan sebanyak itu dalam satu waktu! Nanti cepat habis!" kini malah surai navy-blue yang memprotes.

"Iya, Murasaki–cchi, jangan rakus begitu–ssu," ucap Kise mengiyakan perkataan Aomine.

"Ah, kalian sedang apa, nanodayo?" interupsi sebuah suara.

"Ah, Midorima–cchi, kemari, Kuroko–cchi sedang membagikan manju!" teriak surai kuning keemasan dengan semangat.

"Benarkah?" tanya Midorima, maniknya berusaha melihat benda yang tertutupi punggung-punggung rekan satu timnya.

"Cepat kemari Midorima! Nanti anak ini menghabiskannya!" Aomine berkata sembari menunjuk Murasakibara.

"Tidak boleh tergesa-gesa, Oha–Asa bilang itu tidak baik," si surai kehijauan tetap teguh pada pendiriannya dan berjalan dengan tempo sedang, "Terima kasih, aku minta satu manjunya."

Kuroko melihat ke arah box manju yang dibawanya sebelum menatap Midorima dengan pandangan bersalah, "Maaf Midorima–kun, manjunya sudah habis."

"Karenanya kami menyuruhmu buru-buru-ssu," ujar Kise sembari melap tangannya dengan tisu yang ada di sana.

Setelah kejadian itu gedung olahraga SMP Teiko semakin ramai dengan percekcokan yang terjadi di antara Midorima dengan tiga orang anggota reguler tim basket Teiko.

"Setidaknya sisakan satu untukku, nanodayo!"

.

.

.

"Sen–pai!" jahil, gadis dengan surai kehitaman sebahunya menepuk pundak Akashi.

"Riku," geram si surai kemerahan, "Apa yang akan kau lakukan jika aku mengalami serangan jantung?"

Gadis yang ditanyai hanya terdiam sembari berpikir, "Aku akan berkata, 'wah, senpai punya penyakit orang tua' atau hal semacamnya."

Mendapati jawaban main-main yang diberikan kekasihnya Akashi hanya bisa mendengus dan mempercepat langkah.

"Ah, tu–tunggu senpai!" pekik Riku, "Mari pulang bersama."

"Masih ada yang harus aku kerjakan," jawab Akashi dingin, "Pulang saja sendiri."

Riku ikut berbelok masuk ke dalam sebuah kelas yang dimasuki si surai kemerahan. Kelas yang sudah dalam keadaan kosong.

"Tugas OSIS lagi?" tanya Riku polos, "Padahal senpai bukan ketua, tapi mengapa jadi yang bekerja paling giat?"

Akashi hanya memberikan dehaman lalu duduk di bangkunya, "Kalau semua orang berpikiran seperti itu. Dunia tidak akan pernah maju, bocah."

"Berhenti memanggilku bocah," protes sang gadis, ia bergumam pelan, "Aku tahu aku lebih muda, tapi jangan lupa kalau tinggiku dua centi di atas senpai."

"Riku, apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Akashi, aura gelap keluar dari belakang tubuhnya.

"Tidak, aku tidak mengatakan apapun," elak Riku polos, "Aku hanya mengatakan sesuatu mengenai lebih muda dan lebih tinggi, itu saja."

Sang pemuda hanya menarik napas kesal dan tidak memberikan tanggapan apapun. Segera, tangan putih milik surai kemerahan dengan sigap memilah proposal yang ada di atas bangkunya, membaca proposal itu dengan teliti hingga ia melupakan eksistensi lain yang ada di ruangan.

Sudut terbentuk halus di dahi sang pemuda saat dirasakannya sesuatu menyentuh dahinya, "Apa yang kau lakukan Riku?"

Sang gadis tersenyum, "Menyentuhmu."

"Aku sedang sibuk, jangan ganggu konsentrasiku," ucap Akashi sembari menepis jari Riku. Setelahnya ia kembali asik dengan proposal yang ada di tangannya.

Riku hanya menghembuskan napas bosan lalu memeluk punggung kursi yang ia duduki berlawanan arah, "Sulit ya menjadi kau, senpai."

Akashi memutuskan untuk tidak berkata apapun. Ia tidak ingin terlibat pada perdebatan tidak penting yang akan menghabiskan waktunya.

"Kau selalu terlihat tertekan, entah itu saat belajar, bermain basket, atau di saat seperti ini. Selagi ada waktu, lebih cintai hidupmu, kau harus bahagia, senpai," lanjut sang gadis, mengabaikan kenyataan bahwa kini ia tampak sedang monolog. Ia tersenyum lembut lalu menyibak poni yang sedikit menutupi manik kemerahan Akashi, turun hingga membelai sisi kanan wajah sang pemuda, "Tampannya. Aku jadi semakin menyukai senpai."

Gerakan mata Akashi yang sedang membaca terhenti paksa.

"Jangan biarkan dahimu cepat berkerut ya, hihi" ujar sang gadis main-main.

"Aku–" ucap Akashi tertahan, "–aku tidak semakin menyukaimu."

"Hidoi!" pekik sang gadis dan refleks menjauhkan dirinya, "Padahal aku begitu menyukai senpai hingga rasanya dadaku sakit setiap kali aku mendengar nama senpai."

"Kau berlebihan," respon surai kemerahan itu pendek.

Riku kembali memeluk punggung kursi yang tengah ia duduki, perlahan mengistirahatkan kepalanya di atas punggung kursi itu, "Jalani hidup ini dengan perlahan. Menemukan hal-hal baru itu menyenangkan lho –setidaknya untukku. Kita tidak perlu tergesa-gesa untuk bisa bahagia, senpai."

"Ne, Riku," panggil Akashi, "Menurutmu bagaimana caranya untuk bahagia jika masa lalu merupakan penghalang terbesarnya?"

"Masa lalu? Siapa yang peduli masa lalu?" Riku menegakkan tubuhnya cepat, saat melihat ekspresi kaget Akashi sang gadis segera tersenyum lembut, "Kau harus melupakan kenangan buruk masa lalu untuk bisa bahagia, senpai. Karena, walau bagaimanapun kau hidup di masa sekarang –masa depan, dan bukannya masa lalu."

Keheningan aneh merasuki suasana yang ada di sana. Surai kehitaman Riku bergerak saat pemiliknya mendekatkan wajahnya kepada wajah sang pemuda, mengeleminasi jarak yang ada di sana selama beberapa saat.

"O–Orang bilang, hal itu bisa mengurangi kesedihan," ucap Riku gugup melihat wajah Akashi yang sulit diartikan, "Maaf, apa kau marah?"

Surai kemerahan Akashi hanya mampu terdiam mengingat sensasi sentuhan di bibirnya.

.

.

.

Gadis dengan surai keemasannya yang dikepang rapi terlihat sangat cantik dengan gaun hijau bercampur nuansa gold yang tengah ia kenakan. Takut-takut ia melirik kedua orang tua serta seseorang yang seharusnya kelak menjadi mertuanya.

"Paman, ada yang ingin kami bicarakan. Ayah, Ibu, aku ingin kalian mendengarnya juga," ucap sang gadis di tengah acara makan malam mereka.

"Ada apa Hiruma sayang? Tiba-tiba begini?" tanya sang ibu sembari tersenyum kepada putri semata wayangnya.

Hiruma menatap Akashi untuk yang terakhir kali sebelum membulatkan niatnya, ia menggenggam tangan Akashi erat, "Kami, ingin pertunangan kami dibatalkan."

Brakk!

"Apa yang kau katakan?!" ayah dari sang gadis menggebrak meja itu keras.

"Iya, Hiruma, jangan bercanda! Ini tidak lucu!" tambah sang ibu, "Sebenarnya ada apa? Kalian berdua bertengkar?"

"Kami tidak bercanda, juga tidak ada pertikaian di antara kami. Maaf, tapi kami tidak bisa meneruskan pertunangan ini," Akashi angkat bicara.

Hening yang menusuk terjadi di ruang makan keluarga Akashi itu.

"Mungkin sebagai orang tua kita terlalu memaksa," suara dehaman yang khas memecah aksi diam yang terjadi di antara mereka, "Maafkan aku Hiruma. Maafkan ayah, Seijurou."

"Ayah?" Akashi menggumam pelan.

Seseorang yang dimaksud hanya tersenyum sembari mengistirahatkan dagunya di salah satu telapak tangan, "Kalian benar, batalkan saja pertunangan ini. Seijurou sepertinya sudah menemukan orang yang benar-benar disukainya, Hiruma juga."

"Tapi Direktur Akashi!" protes kepala keluarga Sayaka.

Sebelum berucap seseorang dengan surai kemerahan yang identik dengan Akashi menegakkan tubuhnya, "Biarkan saja, toh kita tidak akan tiba-tiba berhenti bekerja sama hanya karena permasalahan sepele bukan? Atau kalian sudah berencana untuk hal itu? haha"

"Ayah?" panggil Akashi dengan nada yang tidak biasa, sedikit lebih tinggi dan tergesa.

"Jangan menatapku seperti itu Seijurou. Kau akan menghancurkan kesenangannya," lagi-lagi pemimpin keluarga Akashi itu memberikan sebuah kedipan yang hanya bisa dimengerti oleh pewaris tunggalnya seorang.

.

.

.

"Ah, mengapa harus banyak tugas?" keluh gadis dengan surai keemasannya.

"Itu lebih baik daripada tidak memiliki apapun untuk dilakukan," respon seseorang.

Merasa mengenali suara itu sang gadis tersenyum dan berbalik seketika, "Tetsuya!"

"Sstt, ini perpustakaan jangan berisik," ucap Kuroko mengingatkan.

"Tetsuya!" pekik sang gadis untuk yang kedua kalinya, "Ada apa dengan matamu?"

"Ini?" tanya Surai baby-blue menunjuk mata kanannya yang ditutupi eye-patch, "Kemarin ada bola tenis yang menyasar dan mengenai wajahku."

"Bola tenis?" tanya sang gadis tidak percaya.

Surai baby-blue hanya mengangguk pelan, "Hiruma, mau mengerjakan tugas apa?"

"Ah, Aku? Ini, tugas, maksudku," surai keemasan berhenti berkata, tangannya meraih wajah Kuroko dan menangkupnya di kedua tangan, "Kau tidak kenapa-kenapa, bukan?"

"Aku baik-baik saja," Kuroko menangkap tangan Hiruma dan menggenggamnya erat. Perlahan surai baby-blue memberikan senyuman lembut, "Tidak perlu khawatir."

.

.

.

Akashi memang sering diperhatikan orang, karenanya ia sudah terbiasa. Tapi, kini ia merasa jengah ketika semua orang yang bertemu dengannya pagi ini menatapnya seolah-olah ia adalah benda asing yang datang dari luar bumi.

"Ada apa dengan semua orang?" gerutu surai kemerahan itu pelan, perlahan ia mengeluarkan hp dari saku celananya dan mengecek jika ada sms atau telepon masuk, dan hasilnya nihil, "Mengapa anak itu tidak mengangkat teleponku pagi ini?"

Masih dengan kondisi setengah merajuk entah pada siapa Akashi duduk di bangkunya dan mulai mengeluarkan buku pelajaran. Secara tidak sengaja tangannya menyentuh sesuatu.

"Hari ini aku membeli chess-cake kesukaanmu," ucap surai kemerahan pelan, bibirnya melengkungkan senyuman tersipu, "Sebaiknya kau memakannya dengan lahap dan terlihat bahagia, bocah."

Akashi memasukkan lagi kotak berisi benda yang ia maksud ke dalam tas, lalu ia sampirkan tas itu di samping meja. Untuk terakhir kali pagi itu ia mencoba untuk menelpon adik kelas yang menjadi kekasihnya –sebuah rutinitas yang enggan surai kemerahan itu hentikan.

"Tidak diangkat lagi ya?" tanya Akashi pada diri sendiri, "Apa ia men-silent hp-nya?"

Manik Akashi yang berwarna senada dengan surainya menatap langit yang entah mengapa mendung hari ini. Gelap, ditemani dengan petir yang saling bersahutan. Seolah-olah membawa pertanda buruk, dan hati Akashi menjadi cemas karena hal itu.

.

.

.

Istirahat makan siang datang, dan hal itu menjadi hal yang teramat ditunggu bagi siswa yang kebetulan belum sempat mengisi perut mereka di pagi hari.

"Tidak diangkat–" ucap Akashi mulai kesal, "–lagi."

Dengan cekatan si surai kemerahan merapikan buku pelajarannya dan mengambil box bento, serta chess-cake yang ia beli pagi tadi. Dengan langkah sedang ia berjalan menuju lantai tiga, satu lantai di atasnya –ke kelas anak kelas satu. Lagi-lagi atmosfir yang ia rasakan tadi pagi kembali terasa. Orang-orang menatapnya lalu berbisik-bisik. Mengesalkan, apalagi jika orang yang menjadi korban tidak tahu apa kesalahannya.

"1–1, ah ini kelasnya," pikir Akashi.

Dengan gerakan pelan ia membuka pintu kelas. Akashi melihat banyak siswa yang tengah bergerombol di salah satu sudut kelas. Satu persatu dari anak yang ada di ruangan itu memperhatikan Akashi, dan hal itu membuat si surai kemerahan bingung.

"Maaf, aku mencari Tanaka Riku," ujar Akashi berusaha bersikap sopan meski kepada adik kelasnya sendiri.

Bukannya menjawab, anak perempuan yang ada di kelas itu mulai menangis.

Brakk!

Box bento dan chess-cake yang surai kemerahan itu bawa jatuh begitu saja saat ia melihat sesuatu yang tengah dikerumuni anak kelas itu. Hanya sebuah kursi dengan sebuah vas bunga di atasnya. Yang membuat Akashi merasa waktunya berhenti adalah saat ia sadar, bangku itu, bangku yang digunakan oleh gadis dengan surai kehitamannya.

"Riku," panggil Akashi pelan.

.

.

.

Sepanjang koridor menjadi senyap ketika seseorang dengan surai kemerahannya melenggang tenang.

"Apa dia baik-baik saja?" terdengar bisik-bisik sekumpulan gadis belia.

"Mana mungkin! Pacarnya baru saja mati!" balas yang lain.

Akashi mendelik malas ke arah kerumunan itu.

"Stt, jangan keras-keras, nanti dia dengar!" pekik salah satu gadis di kerumunan itu saat ia sadar kapten basket Teiko itu mendengar perbincangan mereka.

Dari sisi yang lain, pemuda dengan kulit kecoklatannya mengangkat tangan kanannya untuk menyapa si surai kemerahan, "Yo, Akashi. Sore ini kita ada latihan ya?"

Akashi hanya mengangguk, "Aku akan mengawasi latihan kalian seperti biasanya, jangan berani bolos, Daiki."

"Ah aku mengerti. Aku akan datang berlatih dan aku berjanji tidak akan bertingkah –untuk kali ini," pemuda dengan surai navy-blue itu menggaruk rambutnya kaku, "Jadi, sebaiknya nanti kau pulang dan beristirahat saja. Lagipula ada pelatih dan Satsuki, jadi latihannya akan berjalan lancar."

"Jangan khawatir. Aku akan memastikan dengan kepalaku sendiri kau akan bersikap baik saat latihan nanti, Daiki," pewaris tunggal keluarga Akashi itu tersenyum merendahkan, "Asal kau tahu, aku tidak selemah itu."

"Tapi–" ucap Aomine tertahan menatap kepergian kapten basketnya.

Secara tidak sadar pemuda yang mengidolakan Hotaru Mai itu menghela napas berat, dan sorot matanya melembut, "Kalau kau tidak lemah, mengapa harus memasang topeng seperti itu?"

.

.

.

Gadis dengan surai keemasannya tengah bersenandung riang mengikuti irama cicit burung yang hinggap di dahan-dahan pohon.

"Ah, kau sudah di sini rupanya," interupsi seseorang.

"Akashi, akhirnya kau tiba," sapa sang gadis lembut, "Hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Aku hanya akan mengatakannya sekali," ucap sang pemuda tanpa ekspresi, "Hiruma, kembali bertunanganlah denganku!"

Kaget, Hiruma terdiam selama beberapa saat, "Apa maksudmu?"

"Sudah kukatakan, aku hanya akan mengatakannya sekali," ulang surai kemerahan itu, terdengar sedikit otoriter.

"Jangan bercanda ah! Lagi pula, itu tidak mungkin," ucap Hiruma, menolak sehalus mungkin, "Kau pasti tahu kalau aku sangat menyayangi Tetsuya."

Si surai kemerahan itu membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi dari sana, "Aku tidak peduli. Kau harus kembali padaku."

"Aku tidak mau!" ucap Hiruma hampir berteriak, sang gadis sendiri bingung mengapa ia harus merespon sekalut itu.

"Hiruma, ada sesuatu yang harus kau mengerti," ucap Akashi pada akhirnya sebelum meninggalkan surai keemasan itu sendiri, "Ini bukan permintaan, tapi perintah."

.

.

.

"Woa, latihan hari ini berat, aku tidak mau latihan lagi," rajuk si bongsor Murasakibara.

"Atsushi, bersemangatlah! Bukannya sehabis ini kita akan makan bersama?" rayu Amami, ia bergelayut manja di tangan center Teiko itu.

Surai soft-purple Murasakibara hanya melirik malas pada senpai yang berstatus sebagai kekasihnya, "Asalkan Ama–chin yang mentraktir."

"Tunggu, seharusnya pria yang mentraktir–ssu," ucap Kise mengingatkan, sedetik kemudian tubuhnya jadi melemas, "Ya meskipun Shunji–cchi tidak pernah mau ditraktir."

"Shun bukan orang yang seperti itu, nanodayo," ujar Midorima menimpali, "Ngomong-ngomong kita mau makan di mana?"

"Maji–café?" tawar Kuroko.

Gerombolan anggota tim basket Teiko itu mengangguk setuju.

"Kuroko–kun benar, ayo ke sa–" ucapan gadis dengan surai keperakannya itu terhenti saat ia melihat lampu mobil menyorot ganjil ke arah mereka, "Awas!"

Ckitt! Brakk!

Semuanya berlalu dengan cepat. Masing-masing dari mereka masih mencoba untuk menyadari keadaan yang terjadi.

"Tetsu!" teriak Aomine panik.

"Kuroko–cchi?" ucap Kise pelan, pemuda dengan surai kuning keemasannya mencoba untuk mencari sosok mungil phantom sixth man mereka.

"Sial, mobilnya kabur!" geram Midorima, melupakan lucky-itemnya yang tergeletak di trotoar, "Nomor polisinya N 564. Catat itu!"

"Tetsu, kau tidak apa bukan?" Aomine mendekati tubuh mungil Kuroko yang mulai mengeluarkan darah.

"Aku akan menelepon ambulan–ssu," ucap Kise meraih hp-nya cepat.

"Tetsuya!" Hiruma menjerit setelah benar-benar mengerti apa yang terjadi, jantungnya berdegup liar, khawatir, cemas, dan rasa takut menyelimuti dirinya– "Tetsu, hiks, Tetsu, Tetsuya."

"Ah, ba –bagian kanan tubuhku sakit,"ucap Kuroko lemah.

–ia takut kehilangan pemuda yang memiliki langit di surai dan kedua maniknya.

"Aku sudah menelpon ambulan, bertahanlah Kuroko–cchi!" ucap Kise panik saat disadarinya darah terus mengalir keluar dari tubuh si surai baby-blue.

"Tetsuya," panggil Hiruma di sela tangisnya.

"Hi– ngh –ruma?" ucap pemilik misdirection itu, memaksakan tangannya untuk bergerak menyentuh tangan sang gadis, "Kau kaget ya? Hah hah Ja– jangan menangis, aku tidak apa, hah sepertinya hanya memar dan luka gores."

Semua anggota kiseki no sedai serta beberapa orang yang kebetulan ada di sana hanya bisa terdiam mendengar ucapan Kuroko yang jauh dari kenyataan.

"Aku tidak apa. Percaya padaku, ne," ucap Kuroko terakhir kalinya sebelum seluruh pandangannya menjadi gelap.

"Tetsuyaaa!"

.

.

.

Waktu dua jam berlalu dengan cepat. Pintu putih itu akhirnya terbuka, menampilkan seseorang yang memakai jas putih yang sudah ternodai oleh darah.

"Siapa keluarganya?" tanya sosok itu.

"Tetsuya bagaimana? Hiks, dia baik-baik saja bukan? Kau berhasil menyelamatkannya 'kan? Kau harus berha–" pertanyaan beruntun dari Hiruma berhasil dihentikan oleh Kise yang menarik tubuh sang gadis.

"Maaf, kami teman korban. Keluarganya sedang ada di luar kota dan sekarang dalam perjalanan ke sini–ssu," jelas Kise.

"Ia kehilangan banyak darah, terjadi pendarahan di kepalanya. Tapi jangan khawatir, untuk saat ini ia berhasil selamat. Semoga saja malam ini ia bisa melewati masa kritisnya," ucap dokter paruh baya itu dan segera pergi dari sana.

"Tetsu selamat, syukurlah," ucap Aomine, ia memukul dinding rumah sakit untuk menahan rasa senangnya.

Suara roda yang didorong memenuhi ruangan itu, tampak Kuroko yang terbaring di atas ranjang yang berselimutkan kain putih. Banyak selang tertancap di tubuhnya, terutama infusi darah. Kepalanya terbalut perban yang tampak baru dipasang. Semua orang di sana mengikuti arah ranjang itu didorong oleh perawat.

"Tetsuya–" ucapan Hiruma terhenti saat ia sadar tangannya dipegang erat oleh seseorang, "Akashi, aku– hiks aku harus menemani Tetsuya."

Akashi tidak menjawab perkataan sang gadis dan ia menolak untuk melepaskannya begitu saja.

"Kalau kau mendengarkan perkataanku," ucap Akashi pada saat hanya tersisa mereka berdua di sana, manik kemerahan Akashi menatap manik keabuan sang gadis yang dipenuhi air mata, "Kuroko tidak perlu merasakan semua ini."

"Ap–Apa yang kau katakan, Akashi?" tanya Hiruma parau.

"Kembalilah menjadi tunanganku," jawab Akashi dingin, "Maka hidup Kuroko akan aman."

Gadis dengan surai keemasannya hanya memicingkan mata penuh kebencian, "Mengapa kau melakukan ini?"

"Aku tidak suka mengulanginya," surai kemerahan itu menghembuskan napas lelah, "Kembalilah menjadi tunanganku."

"Bukannya kau bilang kalau kau menyukai Riku?" cecar Hiruma keras, untung saja mereka hanya berdua di sana, "Apa kau secepat itu melupakan Riku? Huh? Jawab Akashi!"

"Ini tidak ada hubungannya dengan itu," jawab Akashi pendek.

"Kenapa kau tidak tampak merasakan apapun atas kematian Riku?!" jerit Hiruma, "Aku merasa jantungku hampir berhenti saat melihat hiks saat melihat Tetsuya terluka!"

Akashi terdiam saat sang gadis menarik paksa tangannya, ia bahkan membiarkan Hiruma memukuli dadanya.

"Mengapa kau bersikap kalau kematian Riku bukan apa-apa?" tanya Hiruma lemas.

"Karena dunia tidak akan berhenti hanya karena ada satu orang yang mati," jawab Akashi retoris, "Karena dengan bersedih seperti apapun–"

Akashi menutup kelopaknya beberapa saat, "–tidak akan membawa orang kembali dari kematian."

Hiruma terdiam, berusaha mencerna ucapan pemuda yang pernah menjadi tunangannya.

"Hiruma," panggil Akashi, manik kemerahannya kembali bertemu dengan manik keabuan sang gadis, "Kembalilah bertunangan denganku! Ini perintah! Dan perintahku, absolut."

Hiruma menundukkan kepalanya dan meraih tangan sang pemuda. Perlahan membawa tangan itu untuk mendekati bibirnya.

"Maafkan aku," masih dengan manik yang meneteskan air mata, Hiruma pada akhirnya mengangguk, "Mari kita kembali bertunangan."

.

.

.

"Tetsuya, bagaimana keadaanmu?" sapa Hiruma di suatu siang.

Surai baby-blue yang masih mengenakan perban di kepalanya itu menoleh cepat dan tersenyum, "Kau datang mengunjungiku lagi."

Sang gadis duduk di bangku dekat ranjang Kuroko, "Tentu saja. Kau sudah merasa baikan?"

"Jauh lebih baik," jawab pemilik misdirection itu tanpa melepaskan senyumnya.

"Mau apel?" tawar sang gadis.

Kuroko mengangguk senang. Maniknya yang senada dengan langit memperhatikan sang gadis yang tengah mengupas salah satu apel dengan hati-hati.

"Selesai. Tetsuya, buka mulutmu, aa," ucap Hiruma berusaha untuk menyuapi surai baby-blue.

Kuroko mengunyah buah itu dan menelannya, "Terima kasih, Hiruma."

Tangan sang pemuda berhenti di atas kepala surai keemasan dan mengusapnya lembut, "Aku sangat bahagia."

"Bahagia? Karena apa?" tanya Hiruma tersenyum lembut.

"Karena aku memiliki kesempatan untuk bisa melihat dan menyentuh Hiruma lagi," jawab Kuroko polos.

"Eh?" respon Hiruma bingung.

"Aku ketakutan saat aku berpikir tidak akan bisa melihat wajah Hiruma selamanya," lanjut surai baby-blue.

"Tetsuya," Hiruma menarik napas dan hal itu membuat dadanya terasa perih, ia menarik tangan Kuroko yang masih berada di atas kepalanya, "Aku– Kita, maksudku, aku ingin kita putus."

Kuroko terdiam, berusaha untuk memproses kalimat yang mampir di telinganya.

"Putus? Aku tidak mengerti," surai baby-blue mengerutkan dahinya.

"Maksudku, mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan lagi," ucap Hiruma, ia menundukkan kepalanya –berusaha menghindari tatapan yang diberikan kepadanya, "Tapi, itu tidak berarti kita menjadi musuh atau tidak saling mengenal."

Kuroko mencoba untuk memproses apa yang sedang terjadi, ia bingung akan respon apa yang sebaiknya ia berikan.

"Kita akan tetap berteman," ucap Hiruma.

"Kenapa?" Kuroko menatap figur surai keemasan itu lekat.

Hiruma memejamkan matanya, "Aku, akan meneruskan pertunanganku."

"Kupikir kau berkata akan membatalkannya," ucap surai baby-blue dengan nada lemah.

"Awalnya aku berencana seperti itu," ucap Hiruma, ia menarik napas panjang.

Kuroko membeku, tubuhnya tiba-tiba menegang, dan ketakutan asing mengelubungi tubuhnya.

"Aku sudah memutuskan untuk menggantikan posisi Riku di hati Akashi. Karena itu. Tetsuya, maaf, sepertinya aku harus mengambil kembali kata-kataku," Hiruma mengangkat wajahnya, dengan gerakan lambat kedua tangannya menangkup sisi wajah Kuroko, menariknya mendekat hingga dahi mereka bersentuhan, "Aku, tidak bisa berada di sisimu –seperti yang pernah kujanjikan."

Kuroko masih terdiam, ekspresinya menunjukkan rasa sakit yang kentara, "Hiruma–"

"Haha kecuali aku bisa bermain dengan waktu dan merubah masa lalu," ucap sang gadis dengan nada satire.

.

.

.

Dua anak manusia saling terdiam, menyerap semua pemandangan yang ada di hadapan mereka. Surai mereka terus menerus tersibak angin tapi tidak ada di antara mereka yang berusaha untuk memperbaikinya.

"Maaf," ucap Akashi hampir bergumam, "Karena telah menarikmu masuk ke lubang hitam ini."

Sang gadis menggeleng, "Kurasa segala yang terjadi sudah menjadi takdir. Aku tidak bisa menyalahkanmu."

Manik keabuan sang gadis berkilauan tertimpa sinar matahari sore, "Aku yang minta maaf. Kalau aku sadar sejak awal, mungkin–"

"Tidak apa," potong surai kemerahan, "Aku yang bodoh. Meski aku tahu seberapa kuat kuasa yang Ayah miliki, aku tidak pernah berpikir ia akan pergi sejauh itu hingga mengambil nyawa orang lain."

Keheningan menyapa pendengaran kedua remaja itu.

"Seharusnya aku berpikir sejak awal bahwa bocah sepertiku belum bisa melawannya," Akashi mengepalkan tangannya keras, "Yang bisa kulakukan kini hanya bersembunyi, dan menyembunyikan orang lain dari pedang kematian yang siap Ayah ayunkan kapan saja."

"Kau menyembunyikan Tetsuya," Hiruma menambahkan.

Surai kemerahan merasakan perih yang khas di dadanya, lalu perlahan maniknya mulai dihinggapi rasa panas yang membuat pandangannya menjadi kabur.

"Seharusnya aku menyerah sejak awal, dan membiarkan Riku hidup sebagaimana mestinya," ucap Akashi, kepalanya menunduk dalam, "Sejujurnya, aku teramat menyayangi Riku, dan aku–"

Hiruma mengulurkan tangannya untuk memeluk surai kemerahan. Surai keemasan mengeratkan pelukannya pada Akashi saat dilihatnya butiran-butiran air jatuh bebas mengikuti gaya gravitasi. Meski sang gadis sadar sepenuhnya butiran itu bukan miliknya.

"–ingin memiliki kesempatan untuk bisa mengatakan hal ini secara langsung padanya."

"Akashi," bisik Hiruma.

Tubuh surai kemerahan jatuh perlahan, membuat gadis yang sedang memeluknya ikut menjatuhkan tubuh.

"Aku ingin bertemu. Meski hanya sekali," air mata turun mengaburkan keindahan manik sang pemuda, "Aku ingin bertemu dan meminta maaf. Aku– Aku ingin mengatakan bahwa aku bahagia mengenalnya."

Hiruma hanya mampu terdiam, bahkan saat Akashi melepaskan pelukannya lembut.

"Apa kau mendengarkan aku, bocah?" tanya Akashi pada ruang kosong di dekatnya, membuat gadis yang memiliki surai keemasan bingung, "Aku mencintaimu."

.

.

.

[FIN]


A/N : Yokatta, akhirnya selesai. Aduh semoga gak mengecewakan. Makasih buat semua yang udah baca, kasih komentar+saran, ngefollow, bahkan sampai memfavorite cerita ini. Makasih juga Kaito Akahime -abangku tercinta, yang udah ngasih semangat dan alasan buat aku nulis lagi di sini :')

Special Thanks buat :

Kaito Akahime

Tanaka Aira

Pitimentari

Kumada Chiyu

Kuroko Lovers

Chijou Akami

Hoshi Uzuki

WinterRabbit-chan

Kacang Goreng

Aoi Yukari

Aria-chan

Crescent Shadow

Ron Line

Senjou Ryokudai

.52

Yano Akiga

dan Semua Reader(s) yang udah baca cerita Sirius

Sampai bertemu di cerita yang lain (?) ^ ^