Minna, gomenne Bella update-nya lama banget ya. Hehehe Bella sedang sibuk ngurusin fanfic Bella di fandom lainnya. Jadi lupa deh kalau punya fanfic di fandom CCS ini. Sekali lagi Bella minta maaf.
Oke, pertama-tama Bella mau ucapin terima kasih untuk para readers yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca fanfic gajeku ini. Bella sadar diri kalau masih banyak kekurangannya. Namanya juga manusia.
Baiklah sekarang Bella bakal bacain balasan reviewchapter satu. Ini dia…
Anonymous : Tenang ini sudah dilanjutin lagi. Maaf ya kalau lama update-nya.
Guest 1 : Wah Bella bener-bener nggak nyangka ada readers yang mau nunggu chapter selanjutnya. Maaf ya kalau sudah membuat lama menunggu.
Uchiha Shesura-chan : Tanggal mereka bertemu, wah Bella sendiri nggak mikir kapan tanggalnya. Hehehe memang ide fanfic ini pasaran banget ya, tapi semoga fanfic ini ada keistimewaannya sendiri. Makasih atas dukungannya.
Guest 2 : Jujur saja Bella sendiri nggak yakin apa fanfic ini bisa bikin para readers nangis-nangis atau malah ketawa-ketiwi. Agh pokoknya cerita yang dibikin Bella gaje semua. Iya ya, ini sudah dilanjutin. Maaf kalau lama.
Bella mau ucapin terima kasih untuk para readers yang sudah mau me-reviewfanfic ini. Jangan kapok buat review lagi ya. Bella selalu siap terima segala review. Entah itu pujian, kritikan, saran atau ancaman. Duh yang terakhir nggak usah deh. Minna, langsung baca chapter ini ya. Maaf kalau masih jelek ceritanya. Have nice read!
Title : Promise
Chapter 2 : Meet You
Disclaimer : Card Captor Sakura © Clamp
~Promise~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Romance ; Hurt/Comfort
Pairing : Sakura x Syaoran
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : Ketika masih kecil, Sakura dan Syaoran membuat sebuah janji sebelum Syaoran pulang kembali ke Hongkong. Namun, apa yang terjadi ketika Syaoran kembali lagi ke Jepang. Namun, ia tidak mengenali Sakura dan lupa dengan janji yang dulu dibuatnya dengan Sakura. Bagaimana perasaan Sakura? Apa yang terjadi dengan Syaoran?
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Promise~
Normal POV
"Sepuluh tahun lagi di tanggal yang sama kita ketemuan lagi disini," jelas Syaoran.
"Janji," ucap Sakura seraya menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji," ucap Syaoran sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sakura.
10 tahun kemudian…
"Sakura-chan, kamu mau sampai kapan melamun. Ini sudah bel masuk lho," ujar seorang gadis berambut indigo yang sedang menatapnya bingung.
"Gomenne Tomoyo-chan, habis aku sedang banyak pikiran," ucap Sakura seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Gadis yang dipanggil Tomoyo itu hanya menautkan alisnya. "Jangan-jangan kau sedang memikirkan teman masa kecilmu itu ya," goda Tomoyo seraya nyengir ke arahku.
Wajah Sakura langsung memerah. Tomoyo yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. "Oh ya, kalau tidak salah hari ini hari dimana kau janjian untuk bertemu dengannya lagi kan?" tanya Tomoyo memastikan.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja kau terlihat senang sekali, Sakura-chan," ucap Tomoyo seraya menunjukkan senyum manisnya.
Sakura hanya membalas senyumannya yang tak kalah manisnya.
"Ohayou minna-san, hari ini kelas kita kedatangan murid baru," ujar Bella-sensei seraya memasuki kelas yang diikuti oleh seorang cowok berawakan tinggi di belakangnya.
Semua murid langsung berbisik-bisik. Bukan membicarakan si murid baru, tapi membicarakan author yang entah bagaimana bisa menjadi guru di sekolah ini.
Bella-sensei yang menyadari dirinya sedang dibicarakan langsung berdeham. "Minna, berhubung Terada-sensei tidak bisa mengajar dan tidak ada yang menggantikannya. Maka saya selaku author fanfic ini secara sukarela akan mengantikan beliau. Apa ada yang keberatan?" tanya author dengan senyum seramah mungkin, tapi dengan background gelap yang membuat siapapun merinding melihatnya.
Semua murid langsung menganggukkan kepalanya dengan amat sangat terpaksa, takut kalau author nanti ngambek dan nggak mau ngelanjutin fanfic ini.
"Baiklah balik ke ceritanya ya. Hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan dirimu nak!" perintah author pada cowok yang berdiri di sampingnya.
"Enak saja panggil nak, emang situ emak saya!" protes cowok itu.
"Egh mending dipanggil nak daripada dipanggil mbah. Emangnya situ mau, sudahlah sana cepat perkenalkan dirimu!" seru author keras.
Cowok itu langsung menghela napas panjang dan kembali menghadap ke semua murid. "Perkenalkan nama saya Li Syaoran. Saya pindahan dari Hongkong. Senang bertemu dengan kalian," ujar cowok itu singkat, padat, dan tidak jelas. Maksudnya jelas.
Author langsung cengo di tempat. "Hah cuma segitu doing perkenalannya. Nggak mau nyebutin TTL, hobi, atau kriteria cewek," terang author yang lagi kumat.
Semua langsung sweatdrop ngeliat cerita yang jadi ngelantur gini gara-gara kemunculan author.
"Syaoran, Hongkong," guman Sakura lirih sambil mengingat-ngingat sesuatu.
"Ada apa, Sakura-chan?" bisik Tomoyo di sampingnya.
Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja aku tiba-tiba teringat sesuatu," jelas Sakura.
Tomoyo tidak sempat bertanya lagi, karena author sudah mulai berdangdut ria maksudnya sudah mulai menerangkan materi pelajaran di depan kelas. Meski author sendiri nggak tahu materi apa yang sedang diterangkannya.
'Apa mungkin dia ya orangnya,' batin Sakura dalam hati.
~Promise~
Tet… tet… tet…
Akhirnya terdengar juga bel yang selalu dinanti-nanti kan oleh semua murid (termasuk author) yaitu bel istirahat. Semua murid langsung berhamburan keluar kelas. Tak terkecuali Sakura, dia langsung berlari keluar kelas. Bedanya, dia tidak ingin pergi ke kantin atau ke kamar mandi. Dia keluar karena dia ingin menyusul Syaoran yang sudah terlebih dahulu keluar kelas.
Tomoyo yang masih di dalam kelas hanya bisa menatap bingung ke arah Sakura, gadis itu berniat ingin mengejar Sakura. Tapi diurungkannya niatnya itu begitu mengetahui motif Sakura mengejar Syaoran. Akhirnya Tomoyo malah ikut ngerumpi bareng author di pojokan kelas.
"Li-san, tunggu!" panggil Sakura cukup keras.
Syaoran pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sakura. Entah kenapa Sakura tiba-tiba merasa déjàvu dengan peristiwa ini. Dia merasa pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Syaoran dengan wajah bingung.
"Aku mau tanya, apa waktu kecil kamu pernah tinggal disini sebelumnya?" tanya Sakura dengan wajah penuh harap.
Tampak Syaoran mengeryitkan dahinya. Ia tampak bingung mendengar Sakura tiba-tiba bertanya seperti itu pada dirinya. "Memangnya kenapa?"
"Egh ti-tidak, a-aku cuma ingin tahu saja," jawab Sakura sedikit gugup.
"Tidak, aku tidak pernah tinggal disini sebelumnya. Ini pertama kalinya aku datang kesini," jawab Syaoran.
"Ohh begitu rupanya," ujar Sakura sedikit kecewa.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, aku permisi dulu. Kau sudah membuang waktu istirahatku saja," ujar Syaoran dingin seraya berjalan melewati Sakura begitu saja.
Sakura hanya terdiam menatap kepergian Syaoran. "Entah kenapa aku masih merasa begitu yakin kalau dialah orangnya," ucap Sakura lirih.
~Promise~
Sakura duduk bersandar di sebuah pohon besar sembari menatap aliran sungai. Disinilah tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan dia, teman masa kecilnya. Sudah sepuluh tahun telah berlalu dan Sakura masih mengingat betul akan sosoknya.
Meong… meong…
Sakura menoleh ke sumber suara, ia kaget begitu melihat kucing yang pernah ia tolong dulu sedang mengendus-endus kakinya.
"Push, kamu datang kesini juga untuk bertemu dengannya," ujar Sakura sambil mengelus-elus rambut kucing tersebut.
"Meong." Kucing itu langsung meloncat ke dalam pangkuan Sakura.
Sakura langsung tersenyum melihatnya. "Kalau begitu kita tunggu sama-sama ya."
Dua jam kemudian…
'Dia lama sekali ya datangnya,' batin Sakura dalam hati.
Sakura masih senantiasa menunggu, namun orang yang ditunggu-tunggu Sakura belum datang juga.
"Apa dia tidak akan datang ya," ucap Sakura pada si kucing.
Kucing itu hanya mengeong pada Sakura.
Tes tes tes
"Hujan," gumam Sakura seraya mendongakkan kepalanya untuk menatap langit yang sudah menitikkan air hujannya.
Kucing itu yang sedari tadi duduk di pangkuan Sakura langsung bersembunyi di balik jaket yang dikenakan Sakura begitu air hujan sudah mulai membasahi tubuhnya.
"Oh ya, kamu kan takut dengan air," ujar Sakura yang setelah itu langsung melepas jaketnya lalu dipakaikannya untuk melindungi tubuh si kucing dari hujan.
"Kau aman sekarang, bagaimana kalau kau ikut aku pulang ke rumah?" tanya Sakura pada si kucing.
Kucing itu lagi-lagi hanya mengeong. Sakura menampakkan seulas senyumnya, ia pun segera menggendong tasnya dan si kucing. Lalu berlarian menerobos hujan untuk pulang ke rumah.
Tanpa Sakura sadari, ada dua pasang mata yang sedang menatapnya dengan cemas.
.
.
To Be Contiuned
.
.
Please Review
