Chapter 2 Updated :v

"Kiss shite son shichatta."

"Set Back After A Kiss."

Elsword belongs to Aisha *eh, KoG.

.

.

.

"KISU shite son shichatta wa

MAJI ni shinjiteta watashi
yasashii me wo shite
ai wo sasayaita
KISU shite son shichatta wa
subete wa uso datta no ne
watashi no kuchibiru wo kaese!"

.

.

"Set back after a kiss

I seriously believed it
You looked at me with gentle eyes
You whispered to me love
Set back after a kiss
Everything was a lie
Give me back my kiss!"


Cahaya jingga sang raja siang mulai memasuki kamar Ara, menampakkan sinarnya tepat di wajah gadis eun itu. Membuatnya secara refleks menutupi wajahnya yang halus itu dengan kedua tangannya. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, Ara melirik kearah jam weker yang ia tempatkan diatas meja kecil dekat ranjangnya. Waktunya menunjukkan pukul 7:49, tidak biasanya ia bangun se-siang ini. Biasanya dia bangun pukul 5 pagi, namun sepertinya ia kelelahan setelah konser kemarin. Dia turun dari ranjangnya, berjalan kearah cermin untuk melihat bayangan dari dirinya. Dilihat olehnya bayangan yang dipantulkan oleh cermin itu, seorang gadis bersurai hitam yang rambutnya terurai, memakai sepasang piyama seduktif dengan baju atasan ketat tak berlengan berwarna hitam-kuning dengan motif kupu-kupu berwarna merah dan celana super pendek dengan motif yang sama dengan baju atasannya, memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih itu.

Tidak biasanya ia melihat sosok dirinya yang natural seperti ini. Ia lebih suka mengenakan kostum yang sama dengan rekan-rekan se-grupnya, atau kostum pribadi miliknya yang biasa ia sebut kostumnya itu dengan nama "Yama Raja", entah apa alasannya ia memilih nama itu namun ia sangat menyukainya.

Ia kembali melihat cermin, matanya terbelalak. Ia kaget saat melihat bayangan di cermin, itu bukanlah dirinya. Itu adalah masa lalunya, ya dia melihat sosok kakaknya yang dulu. Sosok kakaknya yang biasanya melindunginya, yang kini telah menjadi sebuah memori di dalam diri Ara. Gadis itu menangis di dalam hatinya, merindukan kakaknya yang dulu dan sosok dirinya yang masih menjadi gadis yang baik dan sopan, bukanlah gadis pemberontak seperti ini.

Knock knock knock..

Ada yang mengetuk pintu kamarnya, dengan buru-buru ia membukakan pintu itu. Di depan pintu kamarnya sudah berdiri sesosok elf cantik bersurai hijau dengan bentuk tubuh yang sangat menarik perhatian para lelaki dan kecemburuan bagi para wanita. Gadis itu sudah memulai harinya dengan seulas senyuman, seolah mau menyebarkan senyumannya itu kepada Ara.

"Hm? Ada apa ren?" Tanya Ara.

"Etto.. Raven menyuruh kita untuk datang kesana, namun karena Aisha belum bangun dan Eve.. Aku tidak melihatnya, aku berharap semoga dia tidak terang-terangan menunjukkan identitasnya di depan umum. Jadi, Raven hanya menyuruhku saja.. Tolong jagalah Aisha dan cari Eve ya, Ra" Jawab Rena, Ara sudah memiliki ide jahil di dalam kepalanya ketika ia mendengar kata 'Raven hanya menyuruhku saja'. Namun tiba-tiba saja aura Rena berubah.. Membuat Ara mengurungkan niatnya untuk menjahili Rena.

"Nee, Ara.. Aku berangkat dulu ya~ Jangan lupa jaga Aisha dan cari Eve"

"Hmph, bersenang-senanglah sana sama Ravenmu tercinta" Percakapan tersebut berakhir dengan keheningan dan wajah Rena yang merah padam.

Setelah Rena pergi, Ara pun berniat mencari Eve dan meninggalkan Aisha di rumah. Dia pikir karena Aisha sudah bukanlah bayi, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan Aisha didalam rumah. Namun karena perutnya yang sudah mengeluarkan bunyi ingin diisi, akhirnya Ara pun memutuskan untuk membiarkan Eve.

"Ck, Rena belum masak apa ya? Laper duh. Biarin aja deh, Eve gak mungkin hilang begitu aja. Lagian dia bukan anak kecil lagi, kalaupun hilang juga pasti gampang nyarinya. Tinggal cari aja yang kakinya gak napak ke tanah~ nanana" Gumam Ara.

"Rena udah masak kok ra, itu ada di kulkas. Aku gak mungkin hilang, lagian cuma jalan-jalan doang di kebun dekat rumah." Eve membalas gumaman Ara. Membuat Ara tersentak karena kaget oleh kehadiran Eve. Mahluk yang satu ini benar-benar membuat Ara jantungan.

"E-eve! Kamu kayak lantern fly aja tiba-tiba muncul kayak gitu! Kaget tau! Lain kali ketuk pintunya dulu kek"

"Udah, kamu nya gak denger. Ya sudah." Ujarnya singkat, padat, jelas. Ara masih merasa kaget akibat perbuatan Eve barusan.

"Bangunin Aisha gih Eve, kayaknya tidurnya kelamaan.."

"Okay. Jangan lupa sisakan sarapan buat Aisha."

"Baiklah~"

Eve pergi ke kamar Aisha dan benar kata Ara, gadis itu masih tertidur pulas dengan imutnya. Eve berniat membangunkannya, namun ia malah penasaran dengan handphone milik Aisha. Ia masih penasaran dengan hal yang kemarin, lebih jelasnya penasaran dengan pengirim pesan kebencian yang kemarin itu. Akhirnya ia tenggelam dalam kesibukannya, mengabaikan apa yang Ara suruh tadi. Ara pasti sudah menceramahi mereka berdua jika melihat Aisha yang sama sekali belum bangun dari tidurnya dan Eve yang sibuk dengan gadget milik Aisha, tapi Eve tidak peduli dengan hal itu, ia lebih penasaran dengan yang kemarin. Ia mengecek pesan dan akun social media milik Aisha dan orang 'itu' ada lagi, dengan kalimat yang sama seperti kemarin 'Mati saja kau.'

(*~*)

Aisha terbangun dari tidurnya, ia langsung mencari handphone berwarna fuschia kesayangan miliknya. Dia mencari handphone-nya karena dua alasan; Untuk melihat waktu dan alasan yang sama dengan Eve, penasaran dengan pengirim pesan menyebalkan itu.

"Yaampun! Kenapa aku bisa bangun sesiang ini?! Mereka pasti sedang sibuk berbelanja, membiarkan aku menjaga rumah sendirian. Ufff, kenapa harus pukul 10.48? Aah, kesal" Gumam Aisha sambil menggembungkan pipinya.


Aisha's POV

'Aah, kesal. Kenapa coba mereka meninggalkan aku sendirian? Mana laper lagi nih.' Pikirku begitu keluar dari kamar. Sepi, sama sekali tidak ada tanda-tanda mereka dan keributan seperti biasanya. Aku berjalan kearah dapur, aku melihat sebuah catatan yang tertempel di pintu kulkas

'Nee Aisha-chan, ini jika mau makan cari saja di kulkas, aku sama Eve mau pergi jalan-jalan sementara Rena-chan pergi ke rumah manajer untuk 'ehem ehem'. Hihihi, aku bercanda.. Rena itu disuruh sama manajer ke rumahnya, ada sesuatu yang penting gitu (?) kuharap kamu gak nyari aku sama Eve, karena kayaknya kita bakal lama belanjanya. Yaudah deh mungkin segini, jangan keluar dari rumah yaa~ kalo ada sesuatu telepon aja aku atau Eve, jangan ganggu Rena yang lagi pacaran (?) hihi~.

-Ara'

Aku membaca catatan itu, Ara benar-benar menyebalkan. Terpaksa aku menuruti apa yang Ara tuliskan disana, aku memakan makanan yang sudah Rena siapkan semenjak tadi pagi di kulkas, tidak mencari mereka bertiga, menghabiskan waktu ku di rumah dengan menunggu dan menjaga rumah selama 9 JAM.

"BAGAIMANA BISA MEREKA BERBELANJA SELAMA 9 JAM, DAN APA.. APA YANG RENA LAKUKAN SELAMA 9 JAM DIRUMAH MANAJER ITU?! WTF AKU BENAR-BENAR KESAL!" Teriakku dengan kesal, meski Moby dan Remy masih menggonggong di luar rumah, aku merasa benar-benar sendirian di rumah ini. Aku sih tidak peduli dengan apa yang Rena lakukan di rumah pak manajer sampai selama ini.. Apakah mungkin mereka... Tunggu, eh? Aku berpikir jika Ara sudah meracuni pikiranku. Tapi apa yang Ara dan Eve lakukan sih sampai sudah jam segini? Kalau Eve sih mungkin tahan berdiri dan berjalan-jalan selama itu, dia kan Nasod.

Aku berhenti memikirkan hal ini, meski aku masih kesal dengan mereka. Aku memutuskan untuk berbicara dengan Moby dan Remy, anjing peliharaan Eve untung mengusir rasa kesalku. Meski mereka terlihat sangat tidak bersahabat terhadapku dan terlihat dapat menerjangku kapan saja, tapi mereka menggemaskan. Aku berbicara pada mereka meski respon mereka hanya 'woof woof woo' dan bermain dengan mereka dengan menggunakan bola karet yang kutemukan di halaman rumah. Setelah 30 menit, aku merasa bosan dan berniat mengajak mereka jalan-jalan. Tapi, jika rumahnya ditinggalkan begitu saja akan menjadi masalah buatku.. Bagaimana jika terjadi sesuatu disini?

'kruuuk' Suara yang berasal dari perutku itu membuatku berpikir dua kali, jika aku tetap disini aku akan kelaparan karena masakanku cukup buruk rasanya. Tapi jika aku meninggalkan rumah bisa saja terjadi sesuatu disini..

Tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi sebentar untuk beli makanan di supermarket yang cukup dekat dari sini, dengan membawa Moby dan Remy tentunya. Jaraknya tak cukup jauh, tapi aku harus melalui beberapa gang sepi, setelah menyamarkan penampilanku, akhirnya aku pun pergi dan menyimpan kunci di bawah mangkuk makanan milik Moby, aku sudah menyiapkan catatan di depan pintu rumah untuk mereka, dengan kode tersembunyi tentunya, agar tidak sembarang orang masuk ke rumahku.

Aku memasangkan leash* untuk Moby dan Remy, setelah itu aku memakai blazer dan sepatu boots berwarna putih milikku. Rambutku kuikat dengan gaya ponytail agar seseorang tidak mengenaliku tentunya, juga kacamata hitam dan masker melengkapi penyamaranku.

.

.

Setelah membeli beberapa makanan, aku harus melewati gang sepi itu lagi, aku merasa ada yang mengikutiku sejak tadi. Aku kaget ketika melihat ada seorang pria di hadapanku, dia tersenyum padaku. Aku ketakutan begitu mengetahui jika dia tak sendirian, beberapa orang lain menampakkan diri di belakangku, jumlahnya empat. Aku sangat ketakutan, aku hanya bisa terdiam begitu saja, seluruh tubuhku bergetar ketakutan. Moby dan Remy terus-terusan menggonggong dengan agresif, sementara hanya bisa terdiam karena ketakutan seperti ini.

"Kau mau apakan gadis ini? Hahaha, dia terlihat menarik dan terlihat seperti golongan orang kaya dilihat dari pakaiannya" Salah satu dari mereka berbicara, membuatku semakin takut. Aku mengutuk diriku karena tidak bisa berbuat apa-apa, jauh di dalam hatiku aku merasa kalah dari Moby dan Remy yang hanya seekor anjing.

"Aku ingin menawarkannya ke si pria tua, aku yakin dia akan tertarik melihat ini. Namun sebelum itu, aku ingin melakukan sesuatu dulu terhadapnya" Ujar yang lainnya sambil menamparku dengan keras, aku hanya bisa meneteskan air mataku karena rasanya sangat sakit, teriakanku seolah terjebak di dalam tenggorokanku. Sepertinya ketakutan telah menguasai diriku, Moby dan Remy bahkan kulepaskan, entah apa yang aku pikirkan. Setelah menamparku mereka menarik kakiku, refleks aku langsung menutup rokku, pria yang menamparku tadi melepaskan ikat pinggangnya dan mencambuk kakiku dengan ikat pinggangnya itu. Kali ini teriakanku bisa keluar karena kesakitan, mereka terlihat senang melihat aku yang berteriak kesakitan ini. Pria yang tadi makin mencambukku dengan kasar, aku mencoba melepaskan diri, mencoba mengejar Moby dan Remy yang berlari menjauh dari pandanganku. Aku berusaha sekuat mungkin melepaskan diri dari mereka, tetapi mereka makin mencambukki diriku dengan kasar, masker yang kupakai pun lepas.

"Hei lihat, wajahnya begitu bersih.. Bagaimana jika kupakai percobaan?" Tanya pria yang lain sambil mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya, ia tersenyum dengan lebarnya, wajahnya menyeramkan. Ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya, mendekatkan pisau itu kearah wajahku. Pisaunya sangat dekat dengan mataku, seperti ingin menusuk mataku dengan pisau itu. Sebelum dia mau menusuk mataku, dia menggoreskan pisau itu ke lenganku terlebih dahulu. Darah mengalir dari sana, aku sempat kaget sejenak, kemudian aku menjerit kesakitan. Mereka hanya tertawa melihatku, tidak menunjukkan sama sekali rasa kasihan terhadapku.

"Hentikan... Hentikan..!" Ujarku sambil berlinang air mata, mencoba berteriak, namun sepertinya mereka mengabaikanku. Mereka makin menyiksaku dengan bersemangat.

Tap tap tap..

Kudengar seseorang datang, aku sangat berharap dia akan menolongku dan bukanlah teman dari orang-orang ini, atau bahkan jika dia tidak menolongku kuharap dia menelpon Polisi atau semacamnya, aku sangat berharap pada orang itu. Dia makin mendekat, aku melihat sorot matanya, sangat tajam. Aku seperti mengenali sorot mata itu, tapi karena gelapnya tempat ini membuatku tidak bisa melihat wajahnya secara keseluruhan. Dia makin mendekat, mengepalkan tangannya. Dan kemudian aku tidak percaya dengan apa yang kulihat barusan, dia menghabisi mereka, benar-benar menghabisi mereka. Dia mendengus kemudian mengulurkan tangannya, membantuku berdiri.

"Aw.." Ucapku, kesakitan dengan perbuatan mereka barusan. Dia hanya menoleh kearahku dengan singkat, sambil menunjukkan dua buah tali yang ia bawa. Aku baru sadar jika ia membawa Moby dan Remy kemari, sepertinya dia membawa mereka.. Untunglah

"Aisha..." Ia memanggil namaku. Aku kaget kenapa dia bisa mengetahui identitasku, aku hanya bisa meresponnya dengan memberikan tatapan aneh. Aku seperti mengenali suaranya dan tatapannya, namun kegelapan ini membuatku tidak bisa melihat wajahnya. Dan dia mulai menuntunku berjalan keluar dari tempat ini

"A-aku bukanlah Aisha.."

"Ck, jangan bodoh. Kau adalah Aisha. Kemari, biar kuantar kau kerumah."

"T-Tidak, terima kasih. Aku bisa berjalan sendiri, sekarang kembalikan anjing-anjingku.."

"Aku sangat mengenalimu, aku tau dimana rumahmu. Dan tunggu, anjingmu? Ini adalah milik Eve, kau tau?" Aku makin kaget dengan ucapannya. Aku sangat yakin dia ini salah satu fans grupku. Dia bisa saja melakukan sesuatu yang nekat terhadapku. Aku hanya diam, tidak merespon ucapannya. Dia terus menuntunku berjalan keluar dari tempat ini, aku bisa melihat cahaya lampu dari ujung gang ini. Dapat kulihat dengan samar-samar wajahnya karena cahaya lampu di ujung gang ini.

"B-bagaimana kau bisa mengenaliku?"

"Siapa lagi yang memiliki rambut lavender seperti itu di kota Hamel?"

"Banyak."

"Baiklah, gadis berambut lavender dengan anjing milik Idol terkenal? Siapa lagi jika bukan salah satu teman dari mereka?"

"..."

"Aku tau yang kau pikirkan Aisha. Tenang, aku tidak akan membahayakanmu. Kau ingat Elsword? Temanmu sejak di Ruben dahulu?" Tanyanya, sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas dan sekarang kuingat sosoknya. Itu memang benar dia, Elsword. Rambut merahnya, sorot matanya yang tajam dan senyumnya yang hangat. Namun ia sedikit berbeda, lebih tinggi, terlihat dewasa, dan kini aku bisa melihat sedikit warna gelap menghiasi rambutnya yang merah itu.

"Elsword! Tentu saja aku ingat! Terima kasih telah menyelamatkanku!" Jawabku dengan senang, ia akhirnya mengantarku pulang sambil membawa Moby dan Remy. Di jalan kami berbicara banyak sekali tentang beragam hal, dia juga memberitahuku tentang kakak perempuannya. Aku tidak pernah tau dia punya kakak perempuan. Sebagai balasannya, aku mengajak ia untuk tinggal sebentar di dalam. Aku menyuguhkan dia kopi dan beberapa makanan yang kubeli, aku merasa sangat berterima kasih karena dia telah menyelamatkanku, bahkan mengobati luka goresan di lenganku akibat kejadian tadi.

"Hei, Aisha."

Dia memanggil namaku, memecahkahkan keheningan di ruangan ini. Aku membalas sapaannya hanya dengan tatapan, rasa canggung di ruangan ini makin terasa, suara gonggongan Moby dan Remy di luar dapat terdengar dengan jelas.

"Itu hal yang sangat bagus jika kau masih ingat denganku, Aisha.."

"..."

"Apa yang kau pikirkan terntang diriku yang sekarang?"

"Kau.. Kau berbeda, Elsword. Kau tumbuh, kau menjadi dewasa. A-aku rasa kau telah menjadi seorang pria..."

"Hm, seperti yang kuharapkan, kau akan mengatakan hal itu."

"Apa maksudmu, elsword?"

"Kau masih ingat dengan pertemuan terakhir kita di Velder?"

"Y-ya.. Saat itu diriku masih menjadi seorang gadis normal.. Tolong jangan bahas ini terlalu jauh, Elsword.."

"Dan sekarang, apakah kau mengingat kejadian itu? Kau menyatakannya di hari itu. Aku ingin kau jujur, bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Tolonglah Elsword, Aku tidak ingin membahas ini terlalu jauh. Meskipun hal ini masih tetap kupikirkan, namun diriku yang sekarang tidak mungkin untuk meneruskan hubungan ini.."

"Aku hanya ingin bertanya bagaimana perasaanmu sekarang, Aisha. Jujurlah."

"Elsword.. Ak-Aku.. Sebenarnya perasaan ini sama sekali tak berubah.. T-tapi, tolonglah.."

"Baguslah." Dia tersenyum, memandang dengan ramah kearahku. Sorot matanya seolah menyampaikan semuanya. Tatapannya seolah mengintimidasiku, aku merasakan wajahku ini panas dan dadaku sesak. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, wajahku kali ini sudah benar-benar seperti kepiting rebus. Dia memegang tanganku, menatapku dalam-dalam, membuat situasi ini kembali canggung. Pikiranku sudah kacau balau, dan sekarang kubiarkan dia mendekatkan wajahnya kepadaku, hanya membuat sedikit jarak sebelum akhirnya-

chuu

-dia melakukannya. Dia benar-benar melakukannya. Pikiranku makin tidak karuan, aku dapat merasakan suhu di pipiku makin panas.

"E-els-elsword... Elsword bodoh!" Teriakku

"Hahaha, apakah kau senang sekarang, Aisha?"

"..."

"Apakah itu first-kiss mu?" Dia bertanya hal bodoh seperti itu, tentu saja itu memang first kiss-ku. Dasar ,dia memang benar-benar bodoh. Aku hanya mengangguk sebagai tanda 'iya'. Sungguh, hal ini benar-benar seperti drama. Kau terluka oleh sang penjahat, kemudian ksatria datang dan langsung mengambil hati sang putri, hal ini terlalu singkat untuk berubah menjadi sebuah roman picisan.

"Kurasa kau masih memendam perasaan kepadaku. Hahaha. Apa kau mau melakukan hal yang lebih jauh lagi?" Ia menanyakan hal aneh dan ambigu seperti itu. Bukan, mungkin memang bukan ambigu. Mungkin memang 'itu' maksudnya.

Eh, Apa?

Aku merasakan wajahku kembali memerah. Hening.

.

1 detik

.

5 detik

.

10 detik

Ia menaikkan alisnya, ekspresi dan sorot matanya berubah.

"Sampah. Kau memang benar-benar sampah. Tidak ada yang perlu diragukan lagi, dasar sampah."

"Eh?" Aku benar-benar bingung dengan kalimat yang ia katakan dan perubahan ekspresinya barusan. Wajahnya kali ini tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun.

"Kau bahkan mau dipermainkan seperti ini oleh orang lain dan tidak melawan sedikitpun? Ck, b*tch."

"Elsword! Apa sih yang kau maksud?"

"Kau terlalu bodoh, kau tidak pantas menjadi seorang Idol, lebih baik kau mundur dari dunia per-idolan, Aisha."

"Tidak bisa, kalau kau mau mengutarakan sesuatu ya utarakan saja! Jangan berbelit-belit!"

"Hm, Aisha. Apakah kau tahu ID [ElxRedSword]? Yang menyebarkan keburukanmu, memberikan kata-kata kasar lewat teks kepadamu dan memancing fans agar membencimu, meneriakkan kata-kata kasar kepadamu? Kau tahu siapa sosok itu?"

"I-itu.. Aku mengetahui hal itu, itu sempat menurunkan semangatku untuk berjuang.. Tapi.. Tapi aku tidak tahu siapa sebenarnya orang itu.."

"Sampah. Otakmu terlalu bodoh untuk mencerna semua ini, kau tak pantas berjuang ataupun bertahan dengan mereka sebagai Idol. Lebih baik jika kau menyerah saja. Kau terlalu bodoh untuk menyadari jika semua yang melakukan itu adalah aku. Berhentilah menjadi idol atau aku akan terus menerrormu." Dia berkata begitu, aku tidak dapat mempercayainya. Ia baru saja membuatku tersenyum, dan kini ia menghancurkan semuanya. Menghancurkan perasaanku, semangatku dan kepercayaanku padanya. Emosiku tak bisa kutahan lagi.

"ELSWORD BODOH! KENAPA KAU MELAKUKAN INI SEMUA?! BUKANKAH KAU MENYUKAIKU?! KAU BARU SAJA MENGAMBIL CIUMAN PERTAMAKU DAN DALAM SEKEJAP KAU MENGHANCURKAN HATIKU! BAHKAN JAUH SEBELUMNYA KAU MAU MENCOBA MENGHANCURKAN KARIRKU, HAH?! DASAR KAU MEMANG BENAR BODOH!" Teriakku, air mata kembali menetes di pipiku.

"Hahahah, gak usah sok polos. Kaulah yang menyukaiku, aku hanya menciummu, itu memang fakta jika aku menciummu. Tapi tidak didasari karena aku menyukaimu, itu hanya karena kau yang membiarkan pertahananmu terjatuh, aku hanya iseng melakukannya. Dan ya, aku sangat ingin melihat karirmu hancur."

"APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN DARIKU, HAH?! APA TUJUANMU?!"

"Aku ingin kau keluar dari '#1 Id-El', aku ingin hidupmu hancur, lalu menghilang dan musnah dari dunia ini. Mati sana!" Dia berteriak seperti itu kepadaku, aku tidak bisa menahan kekesalanku lebih lama lagi. Aku menampar wajahnya dengan sangat keras hingga ia terjatuh, dia masih memasang senyum yang menjengkelkan itu.

"...Pertama-tama kau memaki-maki diriku, menghancurkan awal dari karirku, berpura-pura menyukaiku dan mengambil ciuman pertamaku? Kau sudah keterlaluan.. KELUAR KAU DARI SINI!" Usirku, teriakkanku menghancurkan keheningan didalam ruangan ini.

"Tanpa diusir pun aku sudah ingin keluar. Lagian aku tidak pernah mengatakan jika aku menyukaimu, aku tidak pernah menyimpan perasaan kepadamu. Dan aku melakukan itu karena aku sedang bosan, aku sedang berniat mempermainkanmu." Ia mendapat tamparan dariku lagi di pipinya sebelum ia kuusir dari rumah ini.


Normal POV

09:56 PM

.

.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Aisha, gadis elf membuka pintu mobil yang masih mulus itu, dia berbincang-bincang dan berterima kasih kepada pemilik mobil itu sebelum ia masuk ke dalam rumah. Gadis elf yang satu ini sepertinya sedang memiliki mood yang bagus karena hari ini berlalu dengan sangat sempurna, tanpa ada satupun yang mengganggu dirinya.

"Tadaima~" Ujarnya. Tidak ada satupun yang meresponnya, gadis elf itu kebingungan.

"Eh? Aisha-chan, Ara-chan, Eve-chan.. Kalian disini?" Tanya-nya sambil memeriksa satu persatu ruangan yang ada di dalam rumah tersebut, hingga akhirnya ia membuka pintu kamar Aisha, menemukan sang gadis imut bersurai lavender tersebut sedang membenamkan wajahnya kedalam bantal sambil menangis tersedu-sedu. Gadis bersurai lavender itu meliriknya, tangisannya pecah saat ia melihat Rena.

.

.

-END OF CHAPTER 2-


[A / N] : Leash* = Tali yang biasa dipake buat ngiketin anjing gitu, woof.

A : Hola, Authornya disini~ :3

Ara : WTF cuma kebagian adegan sedikit =.=

Eve : Mending, kamu kesorot di awal cerita. Moby dan Remy juga enak ya, kesorot sedikit-sedikit meski cuma 'woof' doang. Padahal harusnya mereka mesin.

Elesis : Kalian masih mending! Gue masih belum disorot, ckckck

Chung : Iya nih!

Add : Iya, gak sabar nunggu gue disorot, haaaakh Eve-chan, tunggu aku~~~ *Mati karena Nosebleed*

Ara, Elesis & Chung : WTF

Eve : Manusia keren ya, mereka bisa mengeluarkan cairan merah dari hidung mereka.

A : *sweatdropped* Kalian semakin OOC aja deh =w= Eh BTW, Para Reader jangan lupa ninggalin Reviewnya ya~ ^o^