Chapter 3 Updated~
"Akogare no Popstar."
"My Beloved Popstar."
Sankyu untuk reviewnya (^o^)/
Nanase Ikumiya-san : Silakan cekik Elsword sepuasnya, gratis kok /heh/
Fecchan : Aisha di chapter ini dapet untung kok
RainNight10715 : Rewatch lagi~ Rewatch adegan Nagisa x Chieri.. Author nge-ship mereka ^-^ /malah promosi/
.
.
.
Elsword : "Thor please jangan bikin gue dapet haters, kalo kakak gue baca fic ini mungkin besok udah jadi abu, mana dicekik leash (; A;)"
Eve : "Elsa gak mungkin tau, lagian dia masih jalan-jalan di fic lain"
Rena : "Hah? Elsa?"
Elsword : "Kakak gue Elesis bukan Elsa, kalo mau cari Elsa lu salah fandom, lagian kakak gue ngeluarin api bukan es (-_-)"
Author : "Let it goo~~ Let it goooo~~ Mungkin Eve salah minum bensin lagi"
Eve : "Nggak kok, aku minum cairan yg di botol merah kayak biasanya"
Aisha : "Etto... itu bukan bensin Eve, bisa dibilang itu miras oplosan si Banthus. Thor janji ya di chap ini aku untung. Harus bahagia. (O_O)"
Add : "WTF Cewek gue lu kasih apa shaaaa?!"
Author : "Hah? Cewek lu? Gak salah denger gue?"
Add : "IYA DIA CEWEK GUEE /ngotot/"
Raven : "Ren, pergi yok"
Rena : "Darimana aja ven? Jangan bilang abis ngintipin Chung, please Chung itu cowok."
Raven : "Kagak lah gue normal, lagian gue baru dateng udah disangka yang aneh-aneh (-_-)"
Author : "jreng jreng jreng... *backsound* Wuih, KDRT moment of the year. Hush hush, sono sono"
Eve : "Iya, Pergi sana! *ngeluarin laser*"
All : "WTF Eve..."
Chung : "Ada apaan ini manggil manggil gue?"
Elesis : "Iya, gue juga dipanggil"
Rena & Raven : "Enggak, hehe.*kabur*"
Add : "Oi, Elesis. Baca fic ini dulu deh"
Aisha : "Thor, pergi juga yok.. Untungnya Kak Ara gak ada disini.."
Author : "Ayok sha, iya dia lagi nge-delusiin kakaknya"
Chung : "Rena baka. Please gue itu cowok tulen (-_-)"
Elesis : "ELSWORD PULANG KERUMAH, SEKARANG."
Elsword : "NGGAAAAAAK *kabur*"
Author, Aisha, Add, Chung : "Semoga Elsword tenang disana.."
Eve : "Urusai. Biarkan aja si Elsword, lanjutin fic ini cepet. /ngasih deathglare/"
Readers : "Iya tuh.. Wooooo Authornya baka *lempar kertas*"
Author : "M-mampus gue.. Okay.. Happy reading btw (^o^)"
.
*Elsword Online belongs to KoG
.
.
"anata wa POPPU SUTAA
hitorijime wa dekinai
minna no LOVER
wakatteru kedo...
anata wa POPPU SUTAA
FAN no hitori de ii no
kocchi wo mite yo
SHIIDII JAKETTO no naka
anata ga UINKU shita you de..."
.
.
"You're a pop star
I can't have you all for myself
You're everyone's lover
I know it, but
You're a pop star
It's okay to be just one of you fans
But please look at me
It looked like you winked at me
In the photo on your CD cover..."
Iris berwarna hijau Rena benar-benar tajam saat itu, ia memandang dengan kesal kedua rekannya itu. Sementara di lain pihak, ada dua orang yang terlihat sangat ketakutan jika sudah melihat Rena yang seperti ini (meski salah satunya tidak terlihat seperti 'orang' yang ketakutan. Hanya memasang ekspresi datar seperti biasanya). Sosok Rena yang biasanya ramah dan selalu ada senyum yang menghiasi wajahnya itu kini benar-benar berbeda, aura kehitaman bisa terlihat di sekitar tubuhnya.
"Hm? Kalian tidak menjawabku? Biar kuulangi, kalian tadi kemana aja?" Tanya Rena kepada dua orang didepannya dengan senyuman sinis, sehingga membuat kedua orang yg diwawancarai oleh Rena itu bergidik ketakutan untuk kesekian kalinya.
"Etto Rena-chan... s-sebenarnya kami pulang malam karena ada alasannya.." Jawab Ara sambil menjelaskan semua yang tak Rena ketahui ketika ia pergi bersama Eve.
.
.
"Eh? Eve jadi korban juga?!" Teriak Rena heboh. Teriakannya itu membuat Aisha keluar dari kamarnya, mata merah dan sembab, rambut yang acak-acakkan dan ekspresi di wajah Aisha benar-benar menunjukkan kesedihannya.
"Ya, orang itu terus mengikuti-ku sampai aku kewalahan dan terpisah dari Ara" Ujar Eve, tanpa ekspresi.
"Kau tahu Ren, orang itu sepertinya fans fanatik Eve. Dia seolah-olah memiliki radar yang bisa melacak Eve, soalnya meski Eve sudah berkali-kali mengganti penyamarannya, orang itu tetap bisa menemukannya. Ya kan Eve?"
"Hmph."
"Kau tau bagaimana ciri-ciri orang tersebut ra?" Tanya Rena, raut wajahnya tetap tidak berubah, masih tegas. Aisha mengikuti pembicaraan ini sambil membaringkan tubuhnya dengan malas di sofa.
"Rambutnya berwarna silver, sewarna dengan Eve. Dia terlihat sakit jiwa, dia seperti memakai sesuatu di telinganya. Pakaiannya agak keren tapi, tapi dia gila! Dan juga matanya berwarna biru tua dan diselu-"
"Matanya berwarna ungu muda." Eve memotong penjelasan Ara
"-diseluruh tubuhnya ada benda aneh yang melayang-layang seperti itu. Eh tunggu Eve, kenapa kau bisa tahu warna matanya? Dia selalu menunduk..."
"Tunggu, tunggu... Kau diikuti stalker juga, Eve-san?" Aisha terjun ke percakapan, kembali membahas topik yang sebelumnya. Dia tidak tahu jika semenjak tadi mereka sudah membahas tentang orang aneh yang mengikuti si Cyborg Idol itu.
"Ya, Aisha-chan.. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah moodmu sudah agak baikan?" Tanya Rena
"..Hm, sedikit.. Aku masih dapat mengingatnya, aku benci orang itu."
"Eeeh?! Apa yang kau maksud dengan 'juga' Aisha-chan? Apakah ada stalker juga? Apakah stalker itu masuk ke rumah itu? Eeeh Ren, sha, jelaskan dong!"
"Tepat sekali ra, ia benar-benar mendapat hari yang buruk. Apakah kau tidak melihat luka dan lebam di kakinya itu? Juga goresan di lengan Aisha? Itulah mengapa aku memarahi kalian... Kalian ini benar-benar.."
"Sudahlah Rena-san.. Tidak ada gunanya, semua sudah terjadi.. Hiks.." Air mata kembali muncul dari mata sembabnya Aisha, Rena merangkulnya dan mencoba membuatnya nyaman, terlihat seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya. Sementara Ara dan Eve baru menyadari luka-luka di tubuh Aisha. Suasana di rumah ini yang biasanya ramai menjadi hening sejenak.
"Ini rumit.. Sebenarnya orang aneh tadi hampir saja menyentuh alat yang kugunakan untuk berbicara ini dengan miliknya." Ujar Eve memecahkan keheningan. Dan membuat suasana tambah hening, karena semuanya kaget dengan apa yang gadis Nasod ini katakan.
"Tunggu.. Apa itu artinya..?"
"EEEH EVE? BENARKAH? APAKAH DIA MENCIUMMU? DEMI RAKSHASA, INI TAK MUNGKIN TERJADI"
"Rena-san... Ini seperti kejadian tadi.. hiks"
"Memangnya apa maksudnya?" Tanya Eve singkat, jelas, padat.
"Baka! Itu merupakan hal yang sangat dilarang dalam dunia idol, seorang idol tidak boleh ada kontak dengan fansnya. Apalagi jika fans-nya berbuat macam - macam seperti itu adalah sebuah kejahatan! Seorang idol itu harus pure!" Jawab Ara, tanpa menyaring dulu kalimatnya. Dia tidak sadar jika perkataannya barusan dapat menyinggung Aisha, yang juga mengalami kasus seperti Eve. Bahkan lebih parah.
"Bagaimana jika orang yang membencimu, sekaligus menyebarkan aibmu dapat membuatmu merasa terlena namun akhirnya mempermainkanmu seperti sampah yang tak berguna? Selain mempermainkanmu, dia juga melakukan kejahatan yang tadi kau katakan Ara-san. Bagaimana jika dia mencuri First Kiss-mu?" Tanya Aisha, kali ini dia benar-benar mencurahkan isi hatinya kepada rekan-rekan se-grupnya. Detik demi detik, menit demi menit dan setiap jamnya telah berlalu. Ini pukul 02:07 AM. Namun mereka masih asik untuk mencurahkan setiap masalah yang dipendam didalam hati mereka. Mulai dari stalker-nya Eve, kesialan yang dialami Aisha, masa lalu-nya Ara bersama kakaknya hingga kejadian cukup menyenangkan yang dialami Rena. Jalan-jalan bersama atasanmu sebagai tindakan balas budinya merupakan hal yang baik bukan? Menurut yang lainnya ini cuma jalan-jalan biasa. Tapi tidak menurut Ara, Ia menganggap acara 'jalan-jalan Rena sama Raven' itu adalah sebuah kencan, dia seolah tahu segalanya.
(*~*)
Waktu menunjukkan pukul 08.39 AM, namun keempat gadis itu masih tertidur lelap di ruang tamu dengan tenang, tampak seperti sebuah keluarga yang rukun dan damai. Ekspresi di wajah mereka sangat tenang, seolah sudah melepaskan dan melupakan beban berat yang mereka simpan. Saking lelapnya, mereka bahkan tidak sadar jika ada seorang pria masuk ke-rumah mereka. Tidak, orang ini tidak berniat membahayakan mereka. Dia justru berniat untuk membangunkan mereka, namun begitu melihat wajah mereka yang damai membuat pria berkulit sawo matang ini mengurungkan niatnya. Dia justru merasa tenang ketika melihat gadis favorit bersurai hijaunya tertidur dengan tenang seperti itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk meminjam kamar mandi mereka (karena sebelum datang kesini ia tidak membersihkan dirinya terlebih dahulu) dan menyiapkan sarapan untuk para gadis ini.
.
.
Gadis elf terbangun, suara keran air yang mengalir membangunkannya. Dia melihat teman-temannya, ketiganya masih lengkap. 'lantas siapa yang ada di kamar mandi?' pikirnya.
Sesosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi menjadi jawaban atas pertanyaannya, dengan rambut hitam dan kulit sawo matangnya yang basah terkena air dan beberapa bekas luka di tubuhnya itu membuat Rena merasa masih tertidur dan terjebak di dalam mimpinya.
Namun tidak, yang dilihatnya itu nyata. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas bekas luka yang ada di tubuh pria itu, sangat besar dan berbentuk 'X'. Pria itu berjalan dengan tegap kearahnya, hanya handuk berwarna putih saja yang terbalut di tubuhnya, menampilkan otot-otot dan badannya yang ideal itu (meski ada beberapa bekas luka).
"Eh, Rena? Kau sudah bangun?" Suara beratnya itu membuat Rena sepenuhnya tersadar, bangun dari tidurnya. Kali ini Rena tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah seperti strawberry itu, namun sosok di depannya itu sepertinya gak sadar dengan apa yang dia lakukan, gak sadar kalau dirinya berpenampilan seperti itu di depan wanita. Bahkan ia kebingungan dengan tingkah Rena.
"Anoo.. Raven-san.. Bajumu.." Ujar Rena pelan, saking pelannya ia seolah berbisik.
"Apa? Gak kedengaran." Pria yang bernama Raven ini mendekatkan wajahnya ke Rena, mencoba untuk mendengar kalimat yang ia ucapkan barusan dengan lebih jelas.
"R-r-raven-san... Bajumu.. Anoo.." Rena berbisik lagi, kali ini Raven baru mengerti. Dia menyadari jarak antara wajahnya dengan wajah milik Rena, juga pakaiannya. Ya, dia hanya memakai sebuah handuk berwarna putih. Wajah mereka sekarang benar-benar merah, sewarna kepiting yang sedang direbus malahan.
"Erm. Ini masih pagi lho, kalo mau pacaran cari tempat lain kek. Dan gausah terburu-buru, ini masih pagi. Langsung lepas baju gitu" Celetuk Ara, sebenarnya ia sudah terbangun dari tadi. Hanya saja dia tidak mau mengganggu kedua orang ini. Ucapan Ara barusan membuat Rena dan Raven blushing berat.
"K-kami gak kayak gitu kok ra, aku baru bangun dan sadar kalo Raven-san ada di sini"
"Jangan negative thinking, lagian aku kesini cuma mau bangunin kalian, daritadi ku telepon gak diangkat. Pak seiker marah tuh."
"Hahaha.. kok ngeles ya? Oiya, ada perlu apa sampai repot-repot kesini? Atau jangan-jangan cuma mau liat Rena aja? Uhuk"
"Iiih! Ara sok tahu!" Gumam Rena dengan wajah semerah strawberry, karena kesal ia menggembungkan mulutnya. Ia terlihat imut sekali saat menggembungkan mulutnya, jika saja Raven tidak menahannya, ia mungkin sudah nosebleed saat melihatnya.
"Cuma mau ngasih tau kok, kalo pak Seiker udah menandatangani kontrak untuk iklan selanjutnya." ujar Raven dengan suara khasnya.
"Pak Seiker yang ngasih tahu sendiri." Ia menegaskan.
"Etto.. Iklan apa Raven-san?" Tanya Rena
"Dia mau kalian mengiklankan produk 'grilled fish' kemasan baru, 3 hari lagi syuting iklannya. 2 Minggu iklan itu udah siap ditayangkan di media. Begitu katanya"
"Hah? Produk itu? Idih, Rena aja. Biasanya dia yang suka jadi bintang iklan. Oiya ven, kenapa sih manggil si cebol itu 'bapak' lagian dia lebih muda dari kita dan gendernya gak jelas. Ya kan Ren?"
"Gak boleh gitu ra."
"Gak bisa.. Kalo Rena udah sering disorot, Pak Seiker bilang kita butuh sesuatu yang baru. Dan juga, kau gak sopan manggil atasanmu kayak gitu, mana nyebut 'cebol' pula."
"Aisha aja. Dia kan masih fresh, lagian emang kenyataannya kalo si Chung itu cebol. Hahahaha- ADUH!" Ara tertawa terbahak-bahak, namun ia berhenti ketika sebuah pukulan gratis dari Rena mendarat di kepalanya.
"Okay Aisha, kita butuh satu orang lagi nih."
"Rena aja."
"Ara aja." Kedua gadis itu saling tunjuk.
"Ih, udah Ara aja. Lagian Ara jarang tampil di iklan-iklan."
"Nggak bisa Ren, kamu aja sana. Dih, aku nggak mau"
"Inget kata Pak Seiker tadi apa?"
"Uuuh.. Eve aja coba tawarin.."
"Kok aku? Tidak, aku mau kasih makan Moby dan Remy aja daripada mengiklankan produk kayak begini." Celetuk Eve yang entah sejak kapan sudah terbangun.
"Coba dulu aja.." Ujar Ara meyakinkan. Raven masih menimbang-nimbang saran Ara, sementara Rena gak tahu mikirin apa.
"Etto.. Eve, coba ulang kalimatku" Rena dengan semangat ngomong gitu.
"Ini baru kupikirkan barusan, ulang ya.. 'Kyaa~ Grilled Fish! Grilled Fish! Omnomnomnomnom~'" Ujar Rena dengan ceria, bahkan malah ada kesan imutnya di mata Raven.
"Kya. Grilled fish grilled fish. Omnomnomnomnom." Eve mengulangi kata-kata Rena, Tanpa ekspresi. Ara dan Rena cuma bisa bengong. Sementara Raven dalam hatinya berbicara 'Apaan ini gak ada ekspresi-nya. Kok gak dapet kesan imut kayak tadi?!'. Raven kecewa.
"Tuh. Sama sekali tidak cocok, Aisha sama Ara saja, cocok. Ah, Moby dan Remy sudah kelaparan." Eve melarikan diri. Tanpa ada bantahan lagi, kini sudah ditetapkan jika Ara dan Aisha akan membintangi iklan 'grilled fish' .
"Aaaah.. Aisha-chan, Aisha-chaaan.. Bangun dong.. Tolong, kita dipaksa si Raven" Ujar Ara merengek seperti anak kecil kepada Aisha yang masih tertidur lelap.
"Oh iya Raven-san, nanti syuting iklannya pake baju apa?"
"Baju renang.. Syutingnya di pantai." Jawab Raven singkat. Di dalam hati Rena ia sangat bersyukur. Sementara Ara, dia mengutuki si-manajer-sialan itu. Benar-benar mengutuknya.
(*~*)
Aisha benar-benar terkejut ketika Ara memberitahunya tentang iklan itu. 3 hari lagi karirnya akan ditentukan, entah apa respon fans terhadap iklan yang akan dibintangi Ara dan Aisha itu, entah bagus, normal atau buruk. Namun yang lebih mengejutkannya dari itu adalah Fan letter, bukan hanya satu, tapi lima. Lima Fan Letter untuk Eve.
Fan letter pertama normal. Sebuah surat pribadi dari fans untuk sang idola kesayangannya.
Fan letter kedua dibuka, berisi selembar kertas dengan tulisan - tulisan puitis dan yang memuji Eve di dalamnya.
Fan letter ketiga cukup unik, dibungkus berkali-kali dan dalamnya berisi foto Eve saat sedang konser dan perform. Di tiap foto itu ada tanggal kapan foto tersebut diambil, dan catatan yang sama "At your concerts i'm in the first row. Cheering for you with a high pitched voice , I feel like fainting. Your voice, your looks. Everything is perfect"
Fan letter keempat pun dibuka, wangi amplopnya begitu menyengat. Sangat segar namun menyengat, isinya berisi berbagai kelopak bunga beragam jenis yang dituliskan 'Eve' di setiap kelopaknya. Aneh, Aisha cukup merinding ketika membuka Fan letter ini bersama Eve.
Dan yang terakhir, Fan letter kelima. Sangat aneh, dan cukup menyeramkan. Isinya adalah sepucuk surat bertuliskan beberapa kata yang ringan, namun tintanya beda, tintanya terbuat dari darah fans yang menulisnya. Disana tertulis "There's something wrong with me now. Yes, I've seriously fallen in love, You're someone so far and so high above me. I let out a sigh for your dazzling smile" Dan diujung kertas itu ada tulisan "Aku membuat surat ini dengan darahku sendiri.'
Satu hal yang mereka berempat ketahui tentang orang ini adalah, orang ini tidak waras.
.
.
.
-Chapter 3 End-
Hai minna-san~ Author balik lagi :3
Bagaimana chapter 3-nya~? Aisha gak tersiksa lagi kok, dia disiksa di sinetron lain /gak/
Okay disini author nya bener-bener fangirlingan sama si Raven dan RavenxRena couple. Banyak hint-nya~
BTW jangan lupa reviewnya~
