Maaf , Authornya baru buka FFn.. Sumimaseeeeen *bows*
Etto, sankyu untuk reviewnya~ ^-^
Nanase Ikumiya-san : Sankyuu~ Ini chapter 4 nya, happy reading~
Red Lunatic Sword-san : Time and space-nya memang saya setting biar Glaive gak dateng /dihajar Glaive/ BTW kalo mau bantai IS bantai aja, mumpung dia belum mati .w.
RainNight10715-san : Nanti kubuat ff Aisha x Eve deh xD , kalo yg yaoi-annya udah dibuat sih.. Tapi belum ku-upload *spoiler* Terimakasih~ /kembali ke sarang/
Elsword : "WTF authornya sadist, di chapter kemarin dibakar & dicekik pake leash, sekarang mau dibantai (;-;) mak mati aja aku sekalian mak.. /pundung/"
Malaikat Maut : "Okay Elsword, on the way."
Elsword : "NGGAAAAAK! *kabur*"
Author : "Selamat Jalan, Elsword. Semoga tenang disana *tabur bunga* Ohya, selamat membaca~"
Chapter 4. "Heart Gata Virus" , "Heart-Shaped Virus"
"HAATOgata UIRUSU wa
seikaku kaechau mitai
anata ni netsu agete yuku
ikigurushiku naru no
atama bootto shite shimatte
ai no imi mo kidzukanakatta"
.
.
.
"This heart-shaped virus
Seems to have changed my personality
You make me hot
I can't breathe
My mind's gone blank
I didn't know the meaning of love"
Suara decitan sepatu dan irama musik menggema di ruangan itu, suara yang sempurna dan saling melengkapi juga terdengar. Keringat membasahi baju mereka, mencoba menyesuaikan gerakan masing-masing dengan tempo dan ritme. Tak jarang terdengar teriakkan dan jeritan seperti "aw, aduh"
"One, two, three, four. One, two, three, four!" Suara wanita bersurai hitam acak menggema ke seluruh ruangan. Dia adalah Camille, pelatih sekaligus koreografer Idolgroup ini.
"Eve, lebih berekspresif! Jangan kaku!"
"Baik."
"Ara, lebih keras suaranya! Aisha, gerakanmu jangan terlalu lambat!"
"Tch, baiklah Camille-san."
"Baik sensei! Aku akan mempercepat gerakanku!"
"Dan Rena! Terlalu bersemangat, rokmu terangkat banget tuh!"
"Kyaaa! Maaf camille-san!"
Mereka sudah latihan selama 3 jam, dengan jeda 20 menit setiap setengah jamnya. Ya, mereka harus bertemu dengan porsi latihan yang terasa seperti neraka setiap hari. Tidak boleh ada keluhan selama berlatih dengan Camille, jika mengeluh, porsi latihan ditambah. Kejam. Ya, di mata para member dia terlihat seperti gadis iblis berhati malaikat yang memberikan latihan porsi neraka kepada mereka. Namun sebenarnya dia orang yang baik, saking baiknya sampai ada pria yang naksir padanya. Pria itu adalah Lowe, Lyricist dari '#1 Id-El'. Dialah yang menciptakan lagu bagi para member dan Camille yang membentuk gerakannya, pasangan yang cukup sempurna, jika mereka berpasangan. Pada kenyataannya Lowe hanya bisa mengungkapkan perasaannya itu lewat kode, malu-malu kucing. Dan sayang sekali si gadis iblis berhati malaikat ini tidak mengerti kode yang diberikan, miris.
"Baiklah, waktunya break!" Seru Camille pada keempat gadis didepannya itu, setelah itu ia meninggalkan ruangan. Mereka berempat mengangguk, lalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Rena mencari minumannya, Aisha langsung mengecek handphone-nya, Ara duduk di depan kipas angin sambil mengelap keringatnya, dan Eve sibuk dengan Moby dan Remy yang sengaja ia bawa ke tempat latihan.
"Etto.. Eve, aku ingin tanya tentang kejadian dua hari yang lalu.." Ara membuka percakapan.
"Hm. Silakan."
"Apa benar jika kemarin orang misterius itu mendapatkan First Kiss seperti kejadian Aisha?" Tanya Ara.
"Sebenarnya tidak, sebelum dia melakukan itu aku menamparnya." Jawab Eve datar.
"Wogh, untunglah. Untung bukan cuma aku disini yang masih belum melakukan itu..." Ujar Ara pelan.
"Ha? Melakukan apa?" Tanya Rena yang sayangnya mendengar apa yang Ara ucapkan.
"Etto.. Yang tadi aku bahas, Ren.."
"Eh? Ciuman? Aku juga belum pernah."
"Ah.. Tolonglah jangan bahas ini.. M-maaf tapi sudah 2 hari kalian membahas topik yang sama.." Keluh Aisha.
"Eh iya, maaf Aisha.. Ah, bagaimana dengan lukamu? Apakah obat yang kuberikan membantu?" Tanya Rena.
"Hampir semuanya sembuh, terima kasih kepada obatmu. Hanya saja goresan ini masih terlihat" Jawab Aisha sambil memperlihatkan luka gores di lengannya.
"Hmm, baiklah."
"Hey, apakah kalian melihat makanan Moby dan Remy? Mereka terlihat lapar." Tanya Eve yang sedari tadi bolak-balik mencari makanan untuk kedua anjingnya.
"Aku tidak melihatnya"
"Bukankah ada di tasmu?"
"Tidak bisakah mereka makan coklat? Aku punya coklat, atau mereka tidak suka coklat Eve-san?" Pertanyaan bodoh.
"Tidak, mereka tidak bisa. Selain itu aku tidak boleh memberi mereka coklat, Aisha"
"Uuuh.. Aisha, coklat kan gak boleh dimakan sama Moby dan Remy.. Bahaya tau!"
"Eh, kenapa?"
"Karena itu dapat membunuh anjing, mengerikan!"
"Woof!" Moby dan Remy menggonggong serentak, seperti meng-iyakan perkataan Rena.
"Selain itu coklat mengandung racun bagi jenis hewan tertentu, seperti Moby dan Remy. Makanya bisa membunuh mereka." Timpal Eve. Aisha hanya ber-'ooh' ria setelah diberi penjelasan seperti itu.
"Eh sha, kamu udah siap buat besok? Hihihi~ Aku sih udah gak sabar pake swimsuit. Eh tapi Eve, Ren, kalian juga harus pake. Kan kompak."
"Ish Ara genit, a-aku cuma mau pake kalo Eve sama Aisha juga pake"
"Aku tidak mau memakainya. Moby dan Remy akan tertawa melihatnya."
"Tunggu Eve, sejak kapan Moby dan Remy bisa ketawa? Eh aku juga mau ajak Camille-san, mungkin dia mau ikutan pake. Iya nggak Ren?"
"Etto Ara-san.. Aku masih gak PD pake swimsuit begitu.. T-terlalu banyak memperlihatkan kulitku.."
"PD aja sha, aku juga pertamanya gak PD. Seudah dibujuk sama Ara baru PD. Eh iya ra, bagus juga tuh. Ajakin Camille-sensei sama kamu gih" Ara mengangguk, mengiyakan perkataan Rena dan pergi mencari Camille. 20 menit setelah itu, mereka sepakat untuk memakai pakaian memalukan itu.
.
(*~*)
.
Sang Raja siang sudah menampakkan dirinya, cahayanya terlihat sangat cemerlangmeski ia baru saja menampakkan dirinya beberapa menit yang lalu. Nyiur yang melambai-lambai dan Ombak yang saling berkejaran sudah ada di depan mata. Tampak begitu biru, dan segar. Manik berwarna orange milik Ara melebar ketika memandang pemandangan yang indah itu, ia langsung menarik tangan mungil milik Aisha dan berlari menerjang ombak, tidak memperdulikan sleeveless* blouse orange-hitam dan short jeansnya basah karena diterjang ombak. Sementara si gadis bersurai lavender itu hanya bisa pasrah ketika ia ditarik oleh Ara. Mini-dress putih bercorak ungu tua milik Aisha itupun akhirnya basah karena ombak yang terus menghampirinya.
"Hei! Kalian jangan langsung nyebur gitu dong!" Teriak Rena sembari melepas wedges coklatnya, melemparnya ke pasir dan berlari mengejar Ara dan Aisha. Begitu kaki jenjangnya bertemu dengan permukaan air yang hangat, wajahnya langsung disambut oleh semburan air dari Aisha, asin rasanya. Tak berapa lama kemudian semburan air dari Ara membasahi seluruh wajahnya- bahkan rambut ponytail dan kedua hairclip berbentuk bunga matahari miliknya. Tak ingin kalah, ia membalas mereka berdua sekaligus, dan tepat mengenai wajah mereka. Gadis elf itu tertawa dengan puasnya, mereka saling membalas satu sama lain- sampai Camille memanggil mereka.
Ketiga gadis itu menghentikan kegiatan mereka dan menghampiri rombongan. Dengan rambut yang acak-acakan dan seluruh tubuh yang basah seperti itu membuat mereka terlihat seperti tikus yang baru keluar dari gorong-gorong, benar-benar berantakan. Namun bagi Raven, penampilan Rena yang berantakan seperti itu membawa pemandangan tersendiri, terutama kemeja berlengan pendek putihnya yang basah.
"Eh Raven, liatin apaan?" Tanya seorang remaja laki-laki yang duduk disebelahnya. Kulitnya seputih salju dan rambutnya berwarna pirang, namun ada sedikit bagian dari rambutnya yang berwarna kecoklatan.
"E-eh? Anoo.. Itu lagi liatin laut" Jawab Raven berbohong.
"Hai pak Seiker, waaah~ jadi tinggian ya sekarang." Sapa Ara. Perkataan usil Ara itu pun membuat empat urat terbentuk di kening remaja itu, Chung Seiker namanya.
"Kau ini ngomong apa sih?" Tanya nya dengan nada tinggi. Dia benar-benar tersinggung dengan Ara.
"Hei hei, aku hanya bercanda tau~ Jangan menjadi pemurung begitu, kita kan pantai."
"Ya terserahlah, dan jangan memanggilku dengan sebutan 'pak'. Aku ini masih muda, bodoh" Ia melontarkan kalimat itu sambil memukul kepala Ara dengan koran di tangannya.
"ADUH- sakit tau!"
"Berisik, sana ganti pakaianmu. Oi Richian! Benerin penampilannya nih, jelek banget!"
"Terserah deh." Gumam Ara sambil meninggalkan Chung dan Raven, dan masuk ke dalam Van untuk mengganti penampilannya.
"Mereka akan datang 20 menit lagi." Ujar Raven sambil menepuk bahu Chung, mengambil papan selancar dan kemudian menuju pantai- Ia malah berselancar disaat seperti ini.
"O-Oi! Malah berselancar.. Uh.. Ikut deh! Oi Lowe, tetap disini sambil tunggu mereka ya!" Teriak laki-laki pirang itu sambil berlari menuju laut yang luas dan biru itu. Sementara pria bersurai Ash yang disebut sebagai Lowe itu hanya mengangguk pelan sambil mengerjakan pekerjaannya, menulis lirik lagu.
.
.
(*~*)
.
.
Gadis bersurai silver keluar dari van, dengan pakaiannya. Bikini top berwarna putih, summer skirts bercorak coklat muda dan beige, terlihat seperti pasir pantai. Dan penampilannya itu juga dilengkapi dengan dengan straw hat yang cocok dengan penampilannya, imut.
"Camille-san, apa mereka itu orangnya?" Tanya Eve kepada wanita di sebelahnya yang sedang sibuk memindahkan barang-barang. Gadis itu menoleh sedikit, kemudian kembali ke kegiatannya. Ia memindahkan barang terakhirnya, lalu menoleh kembali. "Ya, itu mereka." Ujarnya singkat, kemudian melepas hoodie hijau yang dipakainya, memperlihatkan swimsuit berwarna biru-putih-kuning dan kulit tan-nya. Ia tidak ingin kalah dari para gadis ternyata.
"Eve-san, Camille-sensei~! Apakah sudah waktunya? A-aku masih belum PD... hiks" Sapa Aisha sambil menutupi swimsuit polkadot berwarna ungu tua dan putih yang dipakainya. Eve mengangguk, sementara Camille hanya tersenyum ringan, namun senyumnya sangat indah.
"Harus PD dong sha, biar sukses nih! Oh iya, cuaca nya panas, kesel. Mana mataharinya terik banget lagi, duh haus." Keluh Ara sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan telapak tangan. Ia memandang matahari sambil memperbaiki kacamata berwarna hitamnya, keringat menetes dari pelipisnya. Yang dikeluhkan gadis itu memang banyak. Namun tak lama kemudian, ia kembali bermain air di laut dengan one-piece swimsuit hitam-orange nya. Sesekali ia mengganggu Raven dan Chung yang sedang berselancar.
"Eh Eve, HPmu ada pesan nih!" Teriak Rena yang baru keluar dari Van sambil membawa HP milik Eve, kedua anjing milik Eve juga keluar dari Van itu.
"Hm? Siapa yang mengirimnya? Yang ada di contact-ku hanya kalian saja dan Camille-san." Ujar Eve dengan nada yang kebingungan, ya, sekali lagi dia memang kebingungan. Namun wajahnya tidak bisa menunjukkan itu.
"Entahlah, nomornya privasi. Eh iya, aku panggil Ara dulu ya" Rena kemudian meninggalkan Eve yang masih bengong disana, ia berlari ke tepi pantai sambil mengecek penampilannya, membernarkan swimsuit hijaunya. Ia tidak mau mengalami wardrobe malfunction** ketika bertemu pandang dengan orang yang ia taksir -ehem, manajernya-.
Eve yang masih terbengong kemudian mulai melihat isi pesan itu. Nomornya memang nomor privasi, tidak bisa dihubungi. Namun ia masih heran siapa yang bisa yang mengirim pesan itu dan kenapa orang itu bisa mengetahui nomor miliknya. Dan isi pesannya juga, ada sesuatu yang aneh ketika ia membacanya.
Pesannya berisi seperti ini, "Eve-chan, aku sudah berada di sini. Kau mungkin tidak mengetahui bagaimana caranya, tapi kau tidak akan menemukanku. Oh ya, style-mu manis. Idolaku makin menggemaskan ya~~ LOL." Aneh, ya memang. Menakutkan, itu hal yang wajar ketika kau mendapatkan pesan dari orang tidak dikenal seperti itu. Menggelikan, tentu, sangat menggelikan menurutnya. Namun ada satu perasaan lagi yang tidak bisa ia ekspresikan, itu seperti perasaan yang menggelitik, seperti ada arus listrik yang baru saja menyengat Nasod Core-nya. Ia membacanya lagi, dan ia merasa senang. 'Apakah ini yang dinamakan senang karena sukses menjadi idol dan mendapat respon positif dari fans-nya?' Pikirnya. Tidak. Ia menggelengkan kepalanya, pikiran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit di dalam labirin pikirannya.
"Ah, itu dia. Mungkin ada yang salah dengan sistemku." Gumam Eve. Kemudian ia mendatangi Lowe, berharap ia bisa membantu. Pria bersurai Ash yang ia datangi itu menoleh, memberikan tatapan bingung kepadanya. "Ada Apa?" Tanyanya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." Eve kembali mendapatkan tatapan kebingungan dari Lowe.
"Perasaan ini.. Aku merasakan ada arus listrik yang menyengat Nasod Core-ku hanya karena membaca sebuah pesan dari orang yang mungkin adalah fans. Aku merasa.. Senang mungkin? Atau bangga? Seperti ada sesuatu yang merambat ke wajahku, namun setelah kusentuh tidak ada apa-apa. Apa mungkin sistemku Error?" Tanya gadis itu. Lowe terkekeh mendengar pertanyaannya, kali ini giliran Eve yang kebingungan.
"Ahahaha, kau bisa merasakannya juga? Aku terkejut. Itu adalah perasaan cintamu sebagai seorang idol, apakah begitu? Atau perasaan suka?"
"Cinta.. Apa itu cinta?"
"Itu adalah perasaan dimana kau merasa sayang atau suka kepada seseorang, perasaan yang membuatmu senang dengan tidak jelas" Ujar Lowe yang tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala gadis polos itu.
"Hoo.. Perasaan manusia? Sebuah program seperti-ku tidak akan mengalami perasaan seperti itu. Sistem kami yang terbaik."
"Terserahlah, ahaha. Tapi kurasa itu yang sedang kurasakan sekarang.. Kau mengerti nak?" Lowe bertingkah seolah-olah ia adalah guru yang mengajari Eve tentang perasaan.
"Hmm, meski aku tidak mengerti secara keseluruhan.. Namun aku mendeteksi sistemmu yang error, sistemmu error karena Camille-san kan?" Eve bertanya dengan lugu-nya, membuat wajah 'guru perasaan' nya itu memerah. Eve kebingungan melihat wajah Lowe yang merah. 'Manusia memang aneh, mereka berganti-ganti sikap mereka dengan mudahnya' pikirnya.
.
.
(*~*)
.
.
Kegiatan itu berakhir seiring dengan Matahari yang makin menenggelamkan dirinya ke lautan, sinarnya kini berubah menjadi orange. Eve menapakkan kakinya di sepanjang tepi pantai, semakin kesini semakin cepat langkahnya. Teman-temannya terus-terusan memanggilnya untuk mempercepat langkahnya, akhirnya kakinya tak lagi menapak. Ia menggunakan sistemnya untuk membuat tubuhnya melayang diatas pasir, lebih cepat dari berlari. Ia pun sampai di depan Van-nya, teman-temannya menyambutnya dengan tatapan kaget dan senang. Untuk kesekian kalinya, Eve kebingungan.
"Eve! Aku menemukan sesuatu! Ayo lihat~ lihat!" Rena menjerit kesenangan sambil menarik Eve kedalam Van, menunjukkan sebuah boneka kucing yang besar dan berwarna putih. Bulunya lembut dan matanya berwarna kuning, persis seperti kucing asli, hanya saja tidak bersuara dan bernyawa. Di leher kucing palsu itu, ada sebuah kalung berwarna biru sebiru laut.
"Nee, Eve-san.. Aku menemukan kertas ini di bawah boneka kucing yang menggemaskan ini. Aku belum membacanya karena itu milikmu.. Hihi~" Ujar Aisha sambil menyerahkan secarik kertas ke Eve. Eve dan ketiga sahabatnya itu membacanya bersamaan, dan mereka berempat pun kaget- secara bersamaan.
Isi kertas itu adalah "Aku memberikan ini untukmu karena boneka kucing ini sangat mirip denganmu, Eve-chan. Sangan manis.. Haaaaakh~~. Selain itu, tidak ada yang mengetahui penyamaranku. Rencana-ku untuk memberikan ini berjalan dengan lancar. Daisuki, my beloved idol."
Hening.
"Aku rasa.. Sebuah virus baru saja mengganggu sistemku. Virus yang cukup menguntungkan, seperti yang tadi Lowe katakan. Virus itu adalah perasaan.. Suka."
Mereka tercengang mendengar pernyataan Eve.
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHH?!"
-Chapter 4 Ends-
A/N : *Sleeveless = Baju tak berlengan
: **Wardrobe Malfunction = Kesalahan berpakaian, kayak memperlihatkan bagian yang tidak ingin diperlihatkan di pakaian yang dikenakan secara tak sengaja.
Etto.. Bagaimana Chapter 4 nya? '-')/
Saya disini sengaja memperjelas pakaian yg para character cewek pakai biar bisa menyampaikan ide saya tentang pakaian mereka kalau di pantai. *wah formal amat*
Maaf kalo ada kalimat/kata yang kurang pas .-.
Oh ya, Chapter selanjutnya Rated M :v *spoiler* Chapter 5 Rated M karena (M)ama 'Lemon' :v
Huahaha *EvilLaugh*, sekian.. Ditunggu reviewnya ^.^
