Chapter 5. The Rain, and Our sweetest sin.

Red Lunatic Sword-san : Gak kok, ini bukan rape ('w')/ . Rape hanya untuk pairing sadist & masochist :v .. menurutku.

Nanase Ikumiya-san : Uwaaa.. thanks a lot x3 kali ini saya update chapter yang super panjang (menurut saya ('w')/)

Fecchan : Sankyu~ Ini dia chapter 5 nya ('w')

.

.

Weh udah chap. 5 lagi, gak kerasa... Di chapter ini author gak masukin lirik lagu lagi, dan mungkin seterusnya :3

Dan juga maaf telat update '3')v saya baru beres menginap di rumah sakit jadi baru bisa update sekarang~ Sumimaseeeeen ;-;

.

.

Miyaharu : "Baguslah, Authornya sadar"

Author : "Lha..? Anda siapa ya?"

Miyaharu : "Ckckck, aku OCmu. Miyazaki Haruna A.K.A Miyaharu- Atau Myanyan"

Author : "Saya gak inget pernah bikin OC."

Miyaharu : "Aaah, Urusai! Udah terlanjur muncul ke dimensi ini, cepet mulai ficnya! Eh iya, kalo mau tau tentang aku, ada kok di profil authornya *ngasih wink* *masang gaya centil*"

Author : "Jijik, Udah jangan promosi diri disini, minggir sana. Oiya, happy reading ya~ (^o^)/"

Miyaharu : "Authornya jahat bener (;-;) . Happy reading untuk readers~~~~"

.

.


"... Dan dengan ini, akan kuakhiri semuanya. Terima kasih, tidak masalah kan jika aku memberi hadiah selamat tinggal untukmu?"

"Tentu.. Tapi, jangan tinggalkan aku!"

"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Kemarilah."

Dan adegan kedua insan yang saling berpelukan pun terpampang di layar kaca, disusul oleh ending theme song ala film romansa dan lampu yang dinyalakan oleh gadis bersurai sehijau rumput di siang hari, Rena, sambil menghela napas lega karena film yang diputar selama seratus tigapuluh menit itu berakhir seperti yang ia harapkan, Happy Ending.

Sementara Ara menatap kesal kearah Rena sambil menggosok matanya, kemudian bergumam tidak jelas.

"Syukurlah, mereka berakhir dengan bahagia ya? Filmnya bagus!" ucap Aisha dengan senyumannya yang lebih cerah dari lampu yang menerangi ruang keluarga mereka itu.

"Apanya yang bagus ah, aksi-nya kurang! Dan tokoh utamanya juga overpowered gitu. Dan juga Rena, jangan tiba-tiba nyalain lampu gitu dong, mataku pedih nih!" Ara mengomentari segalanya, termasuk roman picisan yang baru saja ia saksikan barusan. Rena hanya tersenyum simpul ketika menyaksikan kedua sahabatnya yang baru saja memulai sebuah perdebatan bodoh. Sementara si Cyborg Idol acuh tak acuh, ia lebih memilih menghabiskan brondong jagung yang masih tersisa di mangkuk coklat yang ia cengkeram.

"Lagian itu kan hanya sebuah film." Ujar Eve, melontarkan isi pikirannya dan membuat perdebatan itu selesai dengan mendadak.

"A-aah.. iya ya" Ujar Ara dan Aisha kompak sambil menghela nafas panjang.

"Ada yang mau mengantarku tidak? Aku harus mengembalikan film ini, kalian mau mengantarku?" Tanya Rena kepada ketiga gadis di depannya, mereka hanya bisa memberikannya sebuah tatapan 'tidak'.

"Diluar mendung, hujan hanya akan memperlambat sistemku."

"Malas ah. Ajak Aisha aja gih"

"Etto, Rena-san.. Tidak apa-apa kan jika pergi sendiri... M-maafkan aku.." Ucap Aisha pelan, Rena hanya tersenyum menanggapinya. Ia tidak keberatan jika harus pergi sendiri.

"Ah, tidak apa-apa. Baiklah, aku pergi dulu ya sebelum hujan datang"

"Bawa payung gih Ren"

"Gak deh, gak usah. Lagipula cuma sebentar kok" Ujar Rena seraya membuka pintu, mengabaikan ucapan Ara. Dia berhenti dan membiarkan pintu terbuka, kembali ke ruang tamu dan mengambil beberapa pakaiannya, Trench coat, kacamata dan syal.

"Oh iya, jangan lupa membeli makanan untuk Moby dan Remy" Timpal Eve, Rena mengangguk pelan kemudian sosoknya menghilang seiring menutupnya pintu.


Rena's POV

Aku melangkahkan kakiku keluar, pantulan tubuhku terlihat samar ketika aku menatap kaca yang memantulkan sinar matahari redup saat itu. Syal coklat kulilitkan ke leher, dan mulutku juga ikut tertutup oleh itu. Trench coat yang berwarna putih kugunakan, dan rambut ponytail-ku dibuat terurai. Kacamata yang ada di tanganku kupakai, melengkapi penyamaranku, berharap tidak ada paparazzi yang melihatku.

Rasannya malas jika harus mengembalikan kaset-kaset pinjaman ini, soalnya toko yang meminjamkan kaset-kaset ini letaknya cukup dekat dengan rumah Raven. Tapi mau bagaimana lagi, jika besok aku akan kena denda. Selain itu, mereka juga tidak mau mengembalikan ini. Ya sudahlah, apa boleh buat.

Aku mulai berjalan cepat ketika melihat langit yang semakin mendung saja, semoga tidak turun hujan. Dalam hati, aku merasakan perasaan menyesal tidak menuruti perkataan Ara, tapi jika kembali lagi ke rumah tanggung, toko-nya sudah terlihat di depan.

Drip Drip Drip

Hujan benar-benar turun. Aku berlari untuk berteduh di sebuah supermarket, menunggu hujan reda. Jika aku berlari ke arah toko kaset itu, sampai-sampai disana aku akan menjadi basah kuyup, jadi aku memilih untuk berteduh di dalam supermarket, sekalian membeli makanan untuk Moby dan Remy.

"Suru suru.. Apa yang membawamu ke Echo?" Tanya kasir di supermarket ini sambil menjilati sebatang lollipop, kurasa namanya Echo.

"Echo, bukan seperti itu caranya.. Kau harusnya mengucapkan selamat datang.. Ah, selamat datang~" Wanita berambut hitam datang menyapaku, bola matanya yang berwarna turquoise itu menatapku lembut. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman ringan.

"Maafkan aku, namun dia ini kasir baru.. Semenjak kasir kami yang terdahulu, Denka pergi ke kampung halamannya, gadis ini menggantikan dia sebagai kasir. Maaf jika dia membuatmu merasa tidak nyaman.." Sambungnya lagi sambil terkekeh pelan, ia terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Aku melihat tanda pengenalnya, namanya Lucy.

"Ah tidak apa-apa, lagian aku merasa nyaman-nyaman saja kok. Dia melakukan tugasnya dengan benar" Ucapku, wanita bernama Lucy itu hanya tersenyum, sementara si kasir acuh tak acuh. Ia masih menjilati lollipopnya, sikapnya yang acuh itu mengingatkan aku akan Eve. Aku pun mengambil sebuah keranjang, memasukkan se-pack makanan anjing dan sekaleng minuman bersoda kedalamnya.

Aku berjalan kembali kearah kasir, di luar ternyata masih hujan, hujan deras. Sesosok pria tinggi berdiri di sebelahku, memakai jaket coklat tua dan masker. Dan ia juga menyerobot antrian.

"Hei, antri!" Teriakku, dia menoleh dan mendekat. Menatap mataku dengan intens. Aroma tubuhnya yang memabukkan sangat familiar, aku seperti sudah sangat lama mengenalnya.. Semua lamunanku buyar ketika dia menarik paksa keranjang yang ku pegang dan memberikannya ke kasir.

"Sekalian sama yang ini." Ujar pria itu dengan suara parau yang khas. Dia membayarnya dan mengambil bungkusan berisi belanjaan kami, kemudian menarik tanganku.

"Hei sakit! Mau kemana? Lagipula di luar masih hujan!" Teriakku, kami berdua tiba-tiba berhenti di depan pintu. Air hujan yang turun dengan derasnya itu terbawa angin, membuat kakiku basah karena cipratannya.

"Sssh, maafkan aku. Kukira kau sudah mengenaliku." Ujarnya sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, kemudian membuka maskernya. Tangan kami masih berpegangan. Suara hujan menjadi satu-satunya suara yang bisa kudengar saat itu.

"Raven-san?" Tanyaku dengan suara pelan, dia mengangguk. Dia masih memegang tanganku, aku merasa gugup dan juga.. Nyaman. Dia sepertinya tidak menyadari jika tangan kami masih saling bertautan. Aku merasakan jika pipiku mulai memanas, demi el.. Semoga dia tidak melihat wajahku.

"Ada apa?" Ia bertanya, dengan suara paraunya lagi. Itu sangat khas dan aku menyukainya. Manik hazelnya kembali menatapku, kali ini ia kebingungan. Dia menyadari rona merah di wajahku, dia mengalihkan pandangannya ke tangan kami dan buru-buru melepaskannya.

"M-maaf." Ucapnya seiring dengan rona merah yang muncul di pipinya, dia memiliki sisi manis juga ternyata.

"Tidak, tidak apa. L-lagipula aku tidak keberatan..." Suaraku nyaris tidak keluar, aku merasakan pipiku semakin memanas.

"Kau mau mengembalikan itu?" Tanyanya sambil menunjuk bungkusan berisi sekumpulan kaset film romansa dan horror yang kugenggam di tangan kiri ku. Aku mengangguk.

"Mau aku yang kembalikan? Hujan seperti ini akan sangat lama, jadi aku akan mengembalikannya sekarang. Dari pada berdiam disini sampai malam. Biar aku yang mengembalikannya." Pintanya.

"Darimana kau mengetahui hal itu, Raven-san? Oh ya, bagaimana caraku pulang jika hujan ini akan bertahan sampai malam?" Tanyaku, dia terkekeh pelan mendengar pertanyaanku.

"Kau tidak suka menonton ramalan cuaca ya? Ramalan cuaca juga berguna, apalagi di setiap konser. Kita bertaruh kepada ramalan cuaca ketika akan menentukan lokasi dan tanggal diselenggarakannya konser. Selain itu, mau berteduh di rumahku sebentar, Ren?"

"Aku jarang menonton hal seperti itu.. Eve selalu menguasai TV, Eh? Baiklah jika kau tidak keberatan Raven-san" Ia cukup polos juga ya.. Masih menonton berita cuaca seperti itu, aku tertawa kecil mendengarnya. Namun dengan tawarannya, kurasa akan baik-baik saja jika aku menerima tawarannya dan berteduh disana.

"Sini, ku kembalikan kasetnya" Aku pun menyerahkannya, dan dia menitipkan belanjaan tadi kepadaku. "Tunggu disini ya!" Ujarnya, sambil berlari menyusuri jalan di bawah hujan.

Drip Drip Drip

5 menit.

10 menit.

20 menit.

Dia kembali dengan basah kuyup, poninya itu menutupi sebelah matanya seperti biasa, namun kali ini rambutnya basah. Dia membuka jaketnya dan menyerahkannya kepadaku meski ia menggigil kedinginan.

"Pakailah" Ujarnya. Suaranya lebih serak dan lembut dibandingkan yang tadi, kemeja putih yang dipakainya juga basah dan mengeluarkan aroma yang memabukkan itu lagi.

"Tidak bawa payung?" Tanyaku.

"Kalau kubawa, mungkin aku tidak berlari menerobos hujan seperti itu. Cepat pakailah dan lindungi kepalamu dengan itu, belanjaannya biar aku yang bawa."

"Tidak. Kemarilah, ini jaketmu. Jadi kau harus memakainya juga Raven-san, lindungi kepalamu juga atau kau akan sakit. Raven-san pegang jaketnya, dan aku yang membawa belanjaannya"

"Tak apa, lagipula jika aku sakit nanti ada Lowe yang sementara menggantikanku."

"Tidak boleh, ayo cepat"

"Dasar keras kepala. Baiklah Ren, ayo" Dia membentangkan jaketnya dan melindungi kepala kami, kami pun berlari di tengah hujan. Untungnya rumahnya tidak terlalu jauh dari supermarket itu, berjalan lurus ke arah utara sejauh 15m lalu belok kiri, dan kau akan menemukan sebuah rumah minimalis berwarna hitam, itulah istananya. Namun sayangnya jalannya menanjak, dan terkutuklah, aku menyesal memakai sepatu boots tinggi dengan keadaan yang seperti ini.

.

.

Akhirnya kami sampai di rumahnya, deru nafasnya terdengar di telingaku dan sangat tidak teratur. Kami berdua basah kuyup, ya itulah yang didapatkan dari menerobos hujan deras.

"M-maaf jika aku merepotkan.. " Ujarku. Dia menoleh dan kemudian tersenyum.

"Tidak apa-apa kok. Ayo masuklah, mau coklat panas?" Tanyanya sambil tertawa ringan. Matanya terpejam ketika ia tertawa, itu suatu pemandangan yang sangat jarang. Namun ia terlihat tampan dengan senyuman seperti itu.

"Terima kasih! Baiklah jika kau tidak merasa kerepotan.." Jawabku sambil membungkukkan badan 90 derajat.


Normal POV

Gadis bersurai hijau muda itu pun masuk ke dalam rumah, mengikuti sang pemilik rumahnya. Gadis itu berdiri di ruang tamu, sementara pria bersurai hitam masuk ke ruangan pribadinya, lalu kembali dengan membawa handuk dan beberapa pakaian.

"Ganti dulu dengan ini, kau bisa keringkan itu di atas pemanas ruangan. Pakailah dulu untuk sementara" Ucap pria tadi, melempar sebuah kaus berwarna hitam dan celana pendek berwarna putih. Lalu menanggalkan kemejanya dan menaruhnya kedalam mesin cuci, tidak menyadari ekspresi si gadis elf saat melihat hal ini.

"R-raven-san! Ja-jangan sembarangan membuka baju gitu! Ada perempuan disini!" Gadis itu, Rena, berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Eh.. Iya, m-maaf aku terbiasa seperti ini, kalau mau ganti pakai kamar mandi ruang tamu saja, itu yang pintunya coklat. Aku akan menggunakan kamar mandi yang ini soalnya. Cepat sebelum kau flu." Pria itu pun masuk ke kamar mandi.

Rena hanya mengangguk pelan dan menuruti perintahnya. Ia masuk kedalam kamar mandi berpintu coklat itu lalu menanggalkan pakaiannya. Dressnya saja sudah seperti yang direndam air, apalagi trench coatnya. Belum lagi pakaian dalamnya juga menjadi basah karena hujan. Rena kebingungan, jika dipakai dia akan kedinginan, jika tidak dipakai nanti akan terasa tidak nyaman. Ia menghabiskan 10 menit di kamar mandi memikirkan hal itu. Dasar, wanita.

Knock knock knock

"Ren? Kau sudah selesai? Ini coklat hangatnya." Ujar sebuah suara parau dari pria di luar, Raven.

"Baiklah.. Terimakasih. Err, tunggu sebentar.. Aku kebingungan.."

"Hm? Ada apa?"

"Etto Raven-san.. Apakah kau punya adik atau kakak perempuan? Atau mungkin saudara perempuan?" Tanya Rena

"Memangnya kenapa?" Raven bertanya balik, ia tidak mengerti maksudnya.

"Apa kau menyimpan baju perempuan?"

"Tidak, apakah baju itu tidak cocok dengan seleramu? Maaf, tapi aku tidak punya baju perempuan."

"Bukan itu maksudku.. Anoo.. Aku b-butuh pakaian khusus perempuan.."

"Aku tidak punya dress." Ujar Raven, ia membuat Rena kesal. 'apa harus kuberitahu agar ia mengerti maksudku? Itu memalukan!' pikir Rena.

"Eh tunggu, pakaian khusus perempuan? Apa yang kau maksud p-pakaian dalam...?" Tanya Raven. Bingo! Dia mendapatkan jawabannya.

"I-Iya.." Ujar Rena pelan. Situasi ini benar-benar canggung. Mereka berdua sama sekali tidak punya ide.

"Bagaimana jika kau keringkan saja dulu diatas pemanas ruangan lalu mengambilnya nanti... Ah, lupakanlah.. Itu ide yang bodoh..." Ucap Raven yang nada suaranya semakin pelan.

"T-Ta-Tapi..."

"..."

Hening dan rasa canggung menyelimuti perasaan mereka.

"B-ba-baiklah! Tapi Raven-san jangan lihat.. Ini memalukan.." Rena pun membuka pintu coklat itu, mendongakkan kepalanya dan menatap Raven. Mereka bisa melihat wajah satu sama lain yang berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.

"T-tentu saja aku tidak akan melakukan itu! Pemanasnya di dekat dapur.." Ujar Raven sambil menunjuk pemanas ruangannya itu, berwarna hitam dan ukurannya lumayan besar. Rena mengangguk dan langsung meletakkan pakaiannya diatas pemanas ruangan itu.

(*~*)

Sudah 1 jam berlalu, dan sudah ada 5 cangkir coklat panas yang mereka minum. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 17:19 PM. Namun hujan belum juga berhenti. Kedua individu itu pun duduk di bagian sisi sofa dan saling berhadapan, selimut yang hangat menutupi kaki mereka. Sesekali bercerita tentang cerita horror, atau kehidupan mereka sehari-hari dan tak jarang menterawakannya bersama-sama.

"Nee, Raven-san.. Bagaimana jika para fans atau pak Seiker mengetahui hal ini? Aku harap mereka tidak berpikiran aneh jika melihat yang sedang kita lakukan sekarang.." Rena berkata dengan lirih.

"Aku harap mereka tidak tahu hal ini. Lagipula ini wajar kan? Selain itu, kita juga tidak terkait hubungan apapun.." Jawab Raven dengan sopan, seperti biasanya. Rena tersenyum kecil mendengar jawaban itu, meski ada rasa sakit yang sedikit mengganjal di hatinya, tentang hubungan itu. Rena tau ia menginginkan hubungan yang lebih dari ini, namun ia adalah seorang Idol yang harus setia kepada Fans-nya. Ia mengetahui hal itu.

Selain itu, Rena tahu jika Raven masih terjebak dalam kenangan masa lalunya. Ia masih belum bisa melepaskan diri dari bayangan mantan kekasihnya, Seris. Gadis itu adalah tunangan Raven, mereka seharusnya menikah 5 tahun yang lalu, dan memulai kehidupan sebagai kehidupan yang bahagia.

Namun rencana itu berubah setelah Raven mengetahui jika wanita bernama Seris itu menjadi korban pembunuhan yang dilakukan sekelompok narapidana yang mencoba balas dendam kepada Raven. Rencana itu hancur seketika, membuat pemuda itu tersesat ke jalan yang salah. Namun untungnya Agensi Seiker telah menemukannya dan mengembalikan jati dirinya kembali sebagai pria yang benar -dan lebih sopan dari yang dulu-.

Ironisnya, Rena memiliki kemiripan dengan wanita yang bernama Seris itu. Dan Raven memang menyadarinya, namun ia tidak ingin melakukan apapun. Ia tidak ingin Rena berada di dalam genggamannya, tidak ingin gadis elf itu berakhir dengan tragis seperti Seris. Dan begitu seterusnya, hingga ia menyadari perasaan si gadis itu. Bisa dibilang, ia terjebak dalam permainannya sendiri.

"Hujan ini.. Sampai kapan akan seperti ini ya? Seharusnya aku tidak mengabaikan Ara.. Harusnya aku bawa payung.." Keluh Rena.

"Apa itu artinya kau tidak senang berada di rumahku?" Raven membalasnya dengan sebuah pertanyaan.

"Umm.. Tidak, maksudku.. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu.." Jawab gadis bersurai hijau muda itu sambil memutar matanya.

"Tidak apa-apa, lagipula anggap saja ini seperti rumahmu. Tidak usah merasa canggung, dan nikmati suasana nya. Sekali-kali kau harus bersantai, Ren."

"Tapi kurasa aku terlalu banyak bersantai.. Selain itu aku tidak terlalu menikmati hujan, maksudku, hujan hanya membuat semua benda menjadi basah.. Dan membantu tumbuhan juga" Ujar Rena.

"Menurutku, hujan itu mengasyikkan. Petrichor-nya membuat aroma lain yang menenangkan, dan juga suasananya. Sangat tenang.. Namun yang kubenci adalah-"

Blaaar!. Sambaran petir yang menggelegar itu terdengar sangat keras, membuat Rena ketakutan dan dengan refleks memeluk pria yang duduk di depannya itu. Disertai dengan teriakannya yang tak kalah keras dengan suara petir barusan.

"-Hujan deras." Sambung Raven, petir barusan memotong perkataannya. Ia memang membenci petir dan hujan deras, namun kali ini mungkin pengecualian, karena membawa keuntungan baginya.

"Kyaaa!" Teriak gadis itu. Tubuhnya meringkuk diatas pria bernama Raven itu, Raven yang tadinya duduk dengan santai kini terbaring di bawah tindihan si gadis elf itu, berat.

Hingga akhirnya mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Sial, Raven tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Rena. Dan mereka berdua menyadari jarak mereka yang terlalu dekat.

"Rena." Suara parau yang pelan milik Raven memecahkan keheningan.

"Y-ya Raven-san?" Tanya gadis itu dengan suara yang tak kalah pelan dari Raven.

"Tolong panggil aku Raven." Jawab Raven. Suara parau yang pelan itu kini berubah menjadi tegas.

"B-baiklah Raven.." Ujar Rena dengan gugup. Semburat merah di wajahnya muncul entah karena rasa gugupnya atau posisi mereka yang sangat canggung ini.

Blar! Suara petir terdengar lagi, membuat Rena membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu. Sebagai pria, Raven juga merasakan suatu perasaan aneh (yang hanya bisa pria jelaskan, mungkin). Apalagi ketika ia merasakan gesekan dari dada besar milik Rena di bagian perutnya, membuat pikiran pria bersurai hitam itu melayang entah kemana.

Hingga ia menyadari jika mereka hanya dibatasi oleh sebuah kain tipis saja yang terbalut pada tubuh bagian atas mereka, ia merasakan rona merah yang tak terkontrol menguasai wajahnya.

"R-Rena..." Ujar Raven sambil mendorong Rena agar tidak terlalu dekat dari wajahnya, rona merah saling menghiasi wajah mereka.

"Kau terlalu dekat." Sambungnya lagi, pria itu mencoba melupakan hasratnya. Ya, hasrat ingin menguasai gadis itu dan menjadikan ia menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak, ia tak bisa melakukannya meski mereka memiliki perasaan yang kuat namun mereka berdua belum memiliki hubungan apa-apa.

Gadis itu menatapnya dalam-dalam, memperlihatkan sebuah kekecewaan kecil. Didalam hatinya, gadis itu juga merasa lelah. Lelah karena pria yang disukainya itu hanya menganggap hubungan mereka sebagai hubungan teman kerja saja, meski mereka menyadari ada perasaan yang lebih dari itu. Dan gadis itu memutuskan untuk membuat sebuah langkah.

CUP.

Bibir lembut Rena bersentuhan dengan bibir milik Raven. Iris berwarna hazel milik pria itu membulat. Ya, tentu saja dia kaget menerima hal seperti itu. Jantungnya berdebar semakin kencang, dan pikirannya sudah tak bisa ia kuasai lagi.

Ia pun menarik tangan Rena dan menciumnya kembali. Rena tidak melawan saat lidah Raven memasuki rongga mulutnya. Mengabsen setiap inci bagian dari mulutnya dan melumuri lidahnya dengan saliva di sana-sini. Pertanda lelaki itu sudah dikuasai oleh nafsunya. Ya, Raven menunjukkan sisi liarnya sekarang. Rena yang sudah terpojok pun tidak bisa apa-apa lagi sekarang, Raven sudah menindih tubuhnya.

"Mmmph!" Nafasnya terengah-engah. Raven tak mau melespaskan bibir gadis itu sedikitpun. Beberapa menit kemudian, mereka melepaskan bibir masing-masing. Mencoba mengambil nafas dalam-dalam dan mengatur kembali nafas mereka setelah ciuman barusan.

"Kau membuatku gila, Ren" Ujar Raven yang masih terengah-engah

"T-tunggu.. Apa ini maksudnya..?" Raven menyeringai mendengar pertanyaan Rena, ia tidak bisa menahan diri lagi sekarang. Sementara Rena, ia sekarang bagaikan kelinci yang siap dimangsa oleh serigala. Tidak menyangka akan seperti ini akhirnya, namun ada sedikit perasaan senang juga dalam dirinya.

"Kau sudah siap, nona?" Raven bertanya balik, kemudian menunjukkan tubuh atletis dan otot abdomennya yang mampu membuat gadis manapun terlena jika melihatnya. Ditambah lagi, bekas-bekas luka yang menghiasi tubuh Raven itu menambah kesan tersendiri bagi yang melihatnya, termasuk Rena.

"T-t-tunggu... T-tolong gunakanlah p-pelindung atau semacamnya... Dan tolong pelan-pelan..." Ucap Rena terbata-bata sambil memalingkan wajahnya yang sudah berubah menjadi warna merah itu.

"Tenang saja, aku akan bersikap lembut kepadamu. Dan aku tidak akan mengeluarkan hal itu di dalam, jadi tenang saja. Kau milikku sekarang." Raven menyeringai lagi, kemudian ia mulai menjilat-jilati leher jenjang Rena. Tangannya mulai menjelajahi tubuhnya, dan ia mendapat jalan ke payudara gadis itu.

"Hmmmh Ssshh" Rena mengerang saat Raven menjilat-jilati lehernya dan bermain-main dengan payudara nya. Erangan itu membuat Raven makin bergairah dibuatnya. Membuat beberapa bekas berwarna merah di sekitar leher gadis itu.

"Mmmmphh.. T-tolong jangan terlalu banyak membuat bekas disana, Raven-san" Desah Rena pelan.

"Sudah kubilang panggil aku Raven. Sebagai hukumanmu, aku akan membiarkanmu membuka pakaianmu sendiri. Kuperintahkan kau untuk membukanya sekarang." Ujar Raven sambil melepaskan tangannya dari payudara penuh milik gadis itu.

"Kau terlalu berlebihan.. Raven.. Aku malu..." Keluh Rena, Raven hanya menganggapinya dengan sebuah seringaian. Rena pun menanggalkan pakaiannya. Jantung Raven berdegup sangat kencang ketika payudara kencang perempuan didepannya itu terlihat dengan jelas, membuat kejantanannya menegang sempurna. Ia pun bermain dengan dua aset milik gadis itu, tak lupa memberikan tanda khas berwarna kemerahan disana. Tangan nasodnya bermain-main kembali dengan salah satu bukit milik gadis itu, sementara yang satunya lagi ia mainkan dengan lidahnya. Tangan yang satunya keasyikan menjelajahi tubuh gadis itu.

Jemarinya kini sampai di titik paling sensitif milik perempuan. Mulai bermain dengan titik sensitif gadis itu yang sudah basah.

"Ahhnn.. Cukup, Raven... Lakukan saja.." Desah Rena.

"Baiklah, akan kumasukkan. Tahan sedikit ya, ini akan sedikit sakit." Raven mengatakan kalimat itu sebelum akhirnya kejantanan miliknya yang sudah menegang masuk kedalam lubang kewanitaan Rena. Rena mengerang saat alat milik Raven menembus hymennya. Gadis itu langsung memeluk Raven dalam dekapannya. Punggung yang penuh dengan bekas luka itu pun kembali mendapat luka baru, sebuah cakaran yang dibuat oleh Rena.

"Kau tidak apa-apa Ren? Atau harus kutarik ini kembali.. Agar kau tidak kesakitan?" Tanya Raven pelan. Rena menggelengkan kepalanya, memberi tanda 'tidak'. Tapi itu memang sakit, sepertinya.

"L-lanjutkan saja..." Ujar Rena, Air matanya mengalir di pipinya, namun ia tetap berniat melanjutkannya. Raven melaksanakan perintahnya, ia melanjutkan 'kegiatan' mereka. Beberapa lama kemudian, rasa sakit itu berganti menjadi rasa nikmat. Perlahan tapi pasti, Raven menggoyang-goyangkan pinggangnya untuk mencari titik kenikmatan Rena.

Desahan-desahan mereka terdengar seirama dengan tempo yang dibuat, lama kelamaan tempo berubah menjadi cepat. Keduanya tampak menikmati hal itu, gairah masing-masing pun menggelora menuju puncaknya.

Kini, seisi ruangan kini penuh oleh desahan, erangan dan suara-suara yang mereka buat. Setelah cukup lama, Rena merasakan ada suatu cairan yang akan keluar dari lubang kewanitaannya.

"Mmmmph.. Aaahhhn.. Raven, aku merasa aku ingin pipis... Ahn" Desah Rena. Sama dengan Rena, Raven juga sudah berada dalam puncaknya. Laki-laki berkulit eksotis itu menggoyang-goyangkan pinggangnya dengan kencang, sekencang yang ia bisa.

Raven mengeluarkan alat kejantanannya dan mengeluarkan cairan orgasme nya di perut Rena, begitu juga dengan Rena yang sudah mengeluarkan cairan orgasmenya beberapa detik lebih awal sebelum Raven. Nafas mereka berdua hampir habis, tidak menyangka akan melelahkan seperti ini.

Hujan deras, dan sofa yang telah ternodai oleh cairan masing-masing menjadi saksi bisu hubungan mereka berdua. Membiarkan hubungan terlarang ini dilakukan oleh kedua insan itu.

"Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini.." Ujar Raven diiringi dengan deru nafasnya yang tak beraturan. Wajah masing-masing kelihatan sangat lelah meskipun seulas senyuman muncul di wajahnya.

"Ya, padahal kita belum menikah.. Namun ini adalah dosa terbesar dan termanis yang pernah kubuat selama hidupku.." Ucap Rena sebelum bibir Raven kembali bertemu dengan bibirnya, mengakhiri kegiatan yang mereka lakukan barusan.

.

.

"I'll become an idol
For you and only you"

-Chapter 5, end-


Halo readers '-')/ bagaimana tanggapannya tentang chapter 5? Saya harap alurnya gak terlalu cepat.. Dan maaf juga kalo lemonnya kurang hot /ditampar
Baru pertama kali saya buat & upload fic rated M. Dan pertama kali ngebuat fic yg pairingnya normal xD . Oh ya, maaf kalo update-nya harus tunggu seabad '-')v soalnya saya baru bisa ngetik lagi, lengan kanan author patah hiksu ;-; *curcol* jadi agak ribet kalo ngetik pake satu tangan xD (Miyaharu : Salah Authornya sendiri sih, kagak bener pake kendaraan) sigh ;-; .. Oke, reviewnya~~~ :3