THE VIOLET GUARD
Summary:
Cintamu seperti embun, sejuk namun akan menguap dengan mudah..berbeda denganku, seperti angka 8 yang tak berujung..
Pairing:
Ichigo Kurosaki and Rukia Kuchiki
Rate:
T+ (16 keatas)
Genre:
Romance/Hurt/Comfort( ada actionnya)
Disclaimer:
just master Tite Kubo had authority with Ichigo and Rukia and also all character in this ff :D
Warning:
AU, maybe typo(s), and maybe OOC, mohon maaf apabila ada kesamaan cerita/ide/tempat/judul,ada unsur kiss yang berlebihan dan aksi kekerasan lainnya dimohon untuk 16 thn kebawah tidak membaca. Don't Like, don't read
A/N: untuk para wanita yang mempertahankan cintanya tanpa syarat
Klik..
Suara pelatuk yang siap memuntahkan peluru tiba-tiba saja sudah ada didahi sang lawan. sang wanita inipun menyeringai.
"Ucapkan selamat tinggal.." ucapnya datar.
DOOORR..
Seketika tubuh pria gemuk itu tumbang ke tanah. Sang wanita mengambil ponsel milik pria tersebut. Ada sebuah pesan singkat yang berasal dari rekannya yang lain.
'Kiriman paket sudah dikirim ketempat target. Sudah dipastikan besok pukul 07.00 pagi sudah berada disana'
"Cih,sial! Mereka sudah unggul," ucap sang wanita.
Chapter 6
Safe
.
.
.
.
Rukia POV
Flashback
'Sial!' rutukku dalam hati. Bagaimana tidak? Aku datang bulan disaat tidak tepat.
Ughh..nyeri melanda diriku yang harus pulang dengan bis umum.
'Ini semua karena Renji,' umpatku dalam hati.
Aku terus berjalan sampai...
"Rukia, sedang apa kau disini?" panggilnya tampak kelelahan.
'Ichigo..' ucapku dalam hati tak percaya. Aku bermimpi? Jika iya, aku tak sanggup untuk bangun. Lidahku terlalu kelu pula untuk menjawab pertanyaannya yang mampu menerbangkan hatiku ke angkasa raya.
"Kau, baik-baik saja? Wajahmu pucat. Kuantar kau kerumah sakit, ya?" ucapnya lagi dengan tersirat kekhawatiran.
Pelan-pelan ku cubit tanganku dan hasilnya..
'Aw, berarti aku tidak bermimpi' gumamku dalam hati.
"Ah..ano tidak usah,Ichi. Aku tak apa" ucapku sambil memaksa tersenyum. Aduh, nyeri ini menyiksaku. Kulihat ekspresi wajah Ichigo yang berubah saat melihatku dan tangannya yang sempat terulur kembali kesisi samping tubuhnya. Aku masih belum percaya atas semua perlakuannya.
'Oh Kami-sama, inikah Ichigo tunanganku?' tanyaku dalam hati.
Aku masih menatapnya tak percaya hingga...
"Ughh..." erangku pelan sambil memegangi perutnya. Dengan sigap Ichigo merengkuhku dikhalayak ramai. Hal itu membuatku sangat terkejut dan malu tentunya.
"Kita kerumah sakit sekarang,ya?" ucapnya sambil mengusap pelan puncak rambutku .
"Ichi..go, t..tapi.."
"Gak ada tapi, Rukia. Aku khawatir," ucapnya lagi yang masih dalam posisi memelukku. Aku sangat malu..Namun, Ichigo tampak tak peduli dengan orang yang lalu lalang memandang tajam aksinya didepan umum tersebut.
"..."
Aku hanya bisa terdiam dan merasa benarkah ini tunanganku?...
Dan seketika kejadian ini begitu cepat, tiba-tiba aku sudah ada dalam gendongan Ichigo. Ia menggendongku ala Bridal Style.
'Oh, Kami-sama..aku sungguh malu.. namun,aku sangat mencintai lelaki ini' ucapku dalam hati.
"Ehmm, Ichigo.." ucapku sambil menahan semburat merah diwajah karena semua orang yang berlalu lalang menatap diriku.
'Ugh, Ichigo Baka' umpatku dalam hati
"Hnn, ada apa?" tanya Ichigo kalem sambil berjalan kearah lampu merah untuk menyebrang.
"Kita..dilihat banyak orang, Ichigo" ucapku lagi yang sedang menyembunyikan wajah di dada bidang miliknya.
Ichigo tersenyum sambil tetap berjalan pelan kearah lampu merah.
"Kau malu, Rukia?" tanyanya tetap kalem.
Blush.
"..." Aku terdiam.
Wajahku sudah dipastikan seperti tomat sekarang. Aku pun hanya mencengkram kerah kemeja yang digunakan Ichigo. Sudah pasti kerah yang kucengkram kusut.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir ketika aku mencengkram kerah kemejanya.
"A..aku baik, Ichigo" ucapku parau.
"Bertahanlah, kita hampir sampai kemobilku" ucapnya lagi.
Ting..
Bunyi lampu merah berganti hijau untuk pejalan kaki. Ichigo berjalan menyebrangi jalan dengan menggendongku. Aku hanya bisa diam membisu atas tindakan spontannya hari ini denganku. Sesampainya disebrang, Ichigo membuka pintu depan mobilnya dan menurunkan tubuhku dengan hati-hati. Ia pun segera masuk kedalam mobil.
"Rukia.." panggilnya ketika melihat wajahku yang pucat.
"Hmm..ada apa, Ichigo?" tanyaku sambil menoleh kearah Ichigo.
Mata Hazel miliknya sukses membuatku terpana akan keindahannya.
'Sial! Detak jantungku abnormal. Ichigo..'
"Masih sakit? Atau butuh sesuatu? Katakan padaku,Rukia" tanyanya lembut.
"Eh? Aku..aku sedikit sakit. Terima kasih Ichigo." ucapku sambil tersenyum.
Perlahan, Ichigo menghapus jarak diantara kami. Ya tuhan, Kini wajahnya dekat denganku. Dan diriku hanya bisa terperangah oleh kelakuan lelaki yang diidamkan para kaum Hawa ini.
Deg..Deg...
Deg..Deg...
Detik selanjutnya kembali begitu cepat, dengan sangat hati-hati dan tiba-tiba, Ichigo memasangkan sabuk pengaman pada tubuhku.
'Kami-sama, aku akan melayang sekarang,' ucapku dalam hati
"Kau adalah tanggung jawabku,Rukia. Maafkan aku atas omonganku yang kemarin," ucap Ichigo sambil menyesuaikan ikatan sabuk yang dipakaikan padaku.
'Ya Tuhan, mata ini telah menawanku didalamnya'
Aku terus saja terperangah atas tindakan Ichigo yang dibilang 'Sweet'. aku bisa merasakan aliran nafasnya yang menyapu pipiku pelan. Hangat..
'Ichigo..aku mencintaimu..' gumamku dalam hati
"Selesai, kita berangkat," ucap Ichigo yang kembali keposisinya dan memasang sabuk pengamannya sendiri.
"Ehmm, Ichigo.."
Ichigo menoleh lagi padaku. Aku memandangnya gugup. Aku akan mengatakan sesuatu padanya..
"Ada apa?"
Deg..Deg..
"Jangan, kerumah sakit.." pintaku pelan
Deg..Deg..
Hening sejenak
Deg..Deg...
Dahi Ichigo mengerut perlahan. "Rukia, aku sudah.." omongannya terhenti.
Deg..Deg...
Sekaranglah saatnya kukatakan yang sebenarnya...
"Kumohon..aku hanya nyeri datang bulan, Ichigo. lagipula aku hanya butuh istirahat dan asupan makanan yang bergizi," ucapku panjang lebar.
Deg..Deg..
Ichigo menghela nafasnya. Sedangkan aku masih menunggu keputusannya merubah pikiran.
"Baiklah, untuk kali ini. Aku akan menuruti permintaanmu, nona Kuchiki" ucapnya datar.
Aku tersenyum simpul dan mobil itu melaju menuju mansionku.
Selama perjalanan kami hanya terdiam. Tak ada yang bersuara hingga tidak terasa sudah sampai di mansionku.
Mobil sport bewarna merahnya terparkir sempurna di halaman mansion. Ichigo turun dari mobilnya dan bergegas membuka pintu samping. Tanpa basa-basi, Ia menggendongku ala Bridal style.
Aku merasakan jantungku hampir lompat dari tempatnya. Oh Kami-sama...
"I..Ichi..go"
Suaraku membuat calon suamiku ini menunduk dan menatapku sejenak dalam gendongannya.
"Ada apa, Rukia?"
"Ehnn, aku bisa jalan sendiri, Ichigo..," ucapku gugup sambil menyembunyikan wajahku didada bidangnya.
Aku menerka pasti Ichigo memutar bola matanya malas sambil menghela nafasnya pelan.
"Tidak boleh.." ucapnya tegas.
"I..Ichi..t..tapi.."
"Tidak ada kata tapi, Rukia Kuchiki,"
Aku terdiam. Percuma saja membantah kelakuannya yang keras kepala . Aku bisa mendengar langkah Ichigo serta hembusan nafasnya dan detak jantungnya yang abnormal sama sepertiku. Apa ia mulai mencintaiku?..
'Pasti sudah dipintu utama,' gumamku dalam hati.
"Selamat datang, Kurosaki-sama dan nona Kuchiki,"
Kudengar sambutan para maid yang pasti berjejer rapi diruang tamu utama. Langkah kaki Ichigo masih menggema ditelingaku, Hingga suara itu terhenti. Dugaanku, kami sudah sampai didepan pintu kamarku.
"Aah, nona Kuchiki.. anda tidak apa-apa?"
Itu suara Isane, maid pribadiku.
"T.. tidak apa-apa, Isane" ucapku yang masih dalam gendongan Ichigo.
Pintu kamar terbuka, dan itu berkat Isane. Ichigo membaringkan tubuhku diatas futon. Sejenak ia menatapku lembut.
'Oh Kami-sama jantungku rasanya mau lepas,'
"Ada yang bisa saya bantu, tuan Kurosaki?" tanya Isane disela-sela Ichigo menatapku.
"Aku ingin memasak untuk, Rukia. Kau bisa membantuku?" tanya Ichigo datar.
"Ah iya, tuan. Saya akan membantu anda. Mari tuan," ucap Isane sambil meninggalkan kamarku.
Hening.
Ichigo menatapku kembali. Ia tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepalaku.
Deg..Deg..
"Istirahatlah, aku akan memasak untukmu." Ucapnya lembut sambil meninggalkan kamarku.
Aku hanya bisa menatap punggung kokohnya menutup pintu kamar.
'Aku akan melindungimu'
End Of Flashback
End Of Rukia POV
My heart was beating fastly..
I can't controlled it..
Even you took my breath away..
I swear, I will give it to you with my pleasure ..
-Rukia-
Normal POV
Ichigo tampak kewalahan dengan semua bahan masakan yang berada didepannya. Bola matanya tak berhenti menyisir satu persatu Ingredients. Mulai dari daging ayam, daun bawang, cakwe, jamur, daun seledri, dan sebagainya. Ia mendengus perlahan ketika memotong daging dada ayam menjadi dua bagian. Pengalaman pertamanya untuk terjun didapur sebagai direktur memang patut dihargai.
Isane tampak masih sibuk dengan beras yang akan dijadikan bubur. Ia juga terkikik ketika melihat sang tunangan dari majikannya ini kesusahan ketika membelah dada ayam menjadi 2. Ichigo membersihkan daging ayam yang sudah dipotong, daun bawang, daun seledri serta jamur lalu ia sisihkan. Selanjutnya, ia bumbui daging ayam dengan garam lalu dikukus. Sambil menunggu, ia merebus daun bawang,seledri serta jamur di panci yang berbeda, serta memberinya garam sedikit. Kemudian, ia siapkan minyak panas untuk menggoreng adonan cakwe yang sudah di persiapkan oleh Isane. Ia masukkan satu persatu adonan cakwe kedalam wajan yang berisi minyak panas sambil membolak baliknya. Tak lupa ia mematikan api yang sedari tadi mengukus si ayam serta merebus daun bawang, seledri serta jamur.
"Tuan, berasnya sudah menjadi bubur," Ucap Isane yang menginterupsi kegiatan Ichigo yang cukup padat.
"Letakkan di panci, aku akan memasaknya bersama mereka (bahan-bahan)," titahnya sambil menggoreng ayam setelah cakwe.
Setelah semuanya siap, Ichigo menghidupkan api yang berada dibawah panci. Pertama ia masukkan garam dan sedikit gula kedalam buburnya. Lalu,ia masukkan jamur,seledri dan daun bawang dan diaduknya perlahan. Ia tampak menyuwir ayam yang tadi digorengnya.
"Aw panas," keluhnya ketika menyuwir ayam.
"Hati-hati,Tuan," Ucap Isane yang menggantikan posisi Ichigo mengaduk bubur.
Selesai dengan pekerjaannya, Ichigo memasukan suwiran ayam serta cakwe tadi kedalam panci. Setelah itu, ia menuangkan sedikit kaldu ayam dan menambahkan kecap manis sedikit serta mencicipinya. Dan rasanya..enak. Voila, bubur ala Ichigo Kurosaki jadi juga.
"Biar saya yang antar, Tuan," ucap Isane
Ichigo hanya tersenyum ketika hasil mahakaryanya itu diantarkan pada Rukia.
"Tidak buruk," ucapnya sambil terkekeh.
"Ughh, Kami-sama ini sakit," ucap Rukia sambil memegangi perutnya.
Setiap datang bulan, ia pasti kesakitan akibat kram pada saluran peranakannya.
Tok..Tok
"Masuklah," Ucap Rukia sambil memasang ekspresi sedatar mungkin.
Isane membawakan semangkuk bubur, obat dan air putih. Ia tersenyum dan membungkuk sedikit dihadapan Rukia.
"Nona, saya bawakan bubur yang tadi dimasak oleh tuan Kurosaki," ucapnya
Mata Rukia membulat sempurna. Isane yang mengetahui ekspresi majikannya hanya tersenyum.
"Aah saya tahu, pasti anda berpikiran Kurosaki-sama tidak akan melakukannya, bukan?"
Rukia hanya mengangguk pelan.
'Bagaimana ia bisa tahu?' gumam Rukia pelan.
"Ehem.."
Rukia dan Isane sama-sama menoleh kearah sumber suara yang berada diambang pintu. Sesosok lelaki berambut orange
"Kurosaki-sama," ucap Isane gugup.
Ichigo melangkah masuk. Rukia hanya memandangnya datar.
"Terima kasih atas bantuanmu, Isane-san" ucap Ichigo sambil tersenyum.
"Aah..sama-sama, Kurosaki-sama. Kalau begitu saya undur diri tuan,nona," ucap Isane sambil membungkuk hormat dan bergegas meninggalkan kamar.
Ichigo mulai menatap Rukia yang masih terperangah akan bubur buatan dirinya.
"Ayo dimakan, Rukia. Rasanya gak bahaya kok," tegurnya
Rukia sempat menatap Ichigo ragu namun pada akhirnya, ia memakannya.
"Enak.." gumam Rukia pelan.
"Kalau begitu habiskan,Rukia" ucap Ichigo datar.
Rukia hanya menggangguk pelan dan Ichigo duduk di tepi ranjangnya. Perlahan, ia menyusupkan tangannya kedaerah perut Rukia dan mengusapnya pelan. Rukia hanya terkejut dan tak tahu harus bersikap apa selain..
Blush.
Wajahnya yang memerah seperti tomat matang..
" .."
Ichigo menatapnya sambil tersenyum.
"Aku hanya sedikit mengucapkan mantra agar kau tak kesakitan lagi," ucapnya kalem.
Rukia speechless. Sedangkan sang tunangannya hanya tersenyum. Senyum yang sangat Kurosaki banget. Rukia berani menukar apapun untuk senyum yang sekarang ditunjukkan kepadanya.
Cup..
Ichigo mengecup perut Rukia pelan. Dan itu membuat Rukia semakin memerah dibagian wajahnya.
"Bagaimanapun juga.. Perut itu yang akan mengandung anakku..," ucapnya masih kalem sambil berdiri dari tepi ranjang dan berjalan kearah pintu.
Kalimat itu sukses sang nona bangsawan ini terperangah dengan wajah semerah-merahnya.
"..."
Ichigo membuka kenop pintu dan berhenti sejenak.
"Istirahatlah. Kau membutuhkan itu. Aku harus kembali ke apartemen. Besok adalah hari tersibuk untukku. Jangan lupa minum obatnya. Atau tidak sama sekali karena ada mantra dariku," ucapnya lagi sambil terkekeh.
"..."
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Bonsoir,"
"Ichi..go"
Panggilan itu sukses membuat sang Kurosaki sulung ini menoleh lagi kepada Rukia yang masih memerah wajahnya.
"Hmm..ada apa?"
"Terima kasih,"
Alis Ichigo mengernyit dan menambah kerutan permanen yang ada diwajahnya yang tampan.
"I love you,"
You said I love you for me..
Your face so cute when you said it with little red tinge in your face
And i like it
I wanna replied that I love you too but.. i felt not proper to say that.
Because i loved the other girl too..
I am sorry..my angel..
You more than angel for me...
-Ichigo-
Matahari menunjukkan dirinya diatas ufuk langit. Suasana masih sepi disebuah apartemen milik siapa lagi kalau bukan...
"Kurosaki!" teriak seorang pria berkacamata.
Ya,Ichigo Kurosaki..
"Hnn?"
Sebuah jawaban yang tidak diinginkan oleh Ishida yang tadi memanggilnya dengan teriakan yang memekakkan telinga *ditampol Ishida*. Ia pun mendengus kesal.
"Sampai kapan aku bertingkah layaknya seperti Istrimu, hah?" ucapnya kesal sambil menarik selimut yang dikenakan oleh direkturnya.
"..."
"Kutunggu kau dibawah, kita hari ini akan rapat dan sangat sibuk. Kau tahu?"
"Aku tahu, tuan kacamata," ucap Ichigo dengan masih posisi yang sama.
"Berhenti memanggilku kacamata, baka" ucap Ishida sambil meninggalkan kamar Ichigo.
Langkah kaki seorang pengirim paket terhenti didepan mesin pemeriksaan. Seorang security memeriksa paket yang dibawanya dan..
Piip..
"Ya, kau boleh masuk dengan paket ini," ucap sang security
"Terima kasih," ucapnya datar
Ia berjalan dengan pasti tanpa ada sedikitpun gerakan yang mencurigakan. Ia meletakkan paketnya di meja sekretaris. Secepat langkah, ia memutar langkahnya untuk keluar dari kantor itu. Secepat itu pula, ia mengabarkan pada seseorang disebrang sana.
'Paket sudah sampai,'
Rukia bangun dengan malasnya ketika sebuah nada sms masuk ke ponsel miliknya.
"Oaahm, siapa sih pagi-pagi begini. Ganggu tidur aja," umpatnya sambil mengambil ponsel yang letaknya tak jauh darinya. Ia membukanya malas. Namun, seketika matanya membulat sempurna..
'Ichigo..'
I swear, i will give all my life and change the fate..
I will protect you no matter what happen..
Derap langkah kaki Ichigo menggema di seluruh koridor kantor perusahaannya. Diikuti oleh Ishida dibelakangnya, ia siap menerima kesibukan sebagai direktur perusahaan minyak terbesar di Tokyo ini.
"Kurosaki-kun.."
Suara itu menghentikan langkahnya menuju ruangan direktur. Suara sekretarisnya, Orihime Inoue.
"Ada apa, Orihime?" tanya Ishida yang angkat bicara. Sedangkan Ichigo hanya mendengus kesal karena Ishida yang tiba-tiba menyelaknya untuk angkat bicara.
"Ano, ada paket untuk Kurosaki-kun," ucap Inoue
Alis sebelah Kurosaki sulung ini mengernyit bingung.
"Untukku? Dari siapa?" tanya Ichigo datar
"Aku tidak tahu, Kurosaki-kun," ucap Inoue sambil menunduk.
Ichigo mengambil sebuah kotak yang berisi paket tersebut.
"Terima kasih," ucapnya dan berlalu memasuki ruangan direktur meninggalkan Ishida serta Inoue yang masih menunduk.
Seorang lelaki bertubuh tinggi dan bersurai hitam tengah memberikan hormat sambil melaporkan sesuatu pada Grimmjow yang duduk dikursi membelakanginya.
"Tuan, paket itu sudah sampai ditangan Ichigo Kurosaki," ucapnya.
Grimmjow memutar kursi kerjanya dan menyeringai.
"Bagus, Tsukishima. Kerja bagus. Walaupun, kemarin ada seseorang yang menghabisi Kira dan Yammy. Kita masih bisa menghancurkannya dengan rencana yang kita buat. Haha,"
Tsukishima mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Grimmjow kembali menyeringai.
"Kita mulai acaranya, Ichigo Kurosaki," ucapnya.
Rukia berlari menuju kantor Ichigo dengan tergesa-gesa. Ia menaiki atap gedung dan melompat dari gedung satu kegedung yang lainnya. Melakukan parkour* tidaklah sulit baginya, karena ia sudah berlatih berbulan-bulan untuk aksi seperti spiderman ini.
"Rukia,kau bisa mendengarku?" tanya suara dari sebrang
"Iya, aku mendengarmu, Renji,"
"Ichigo sudah menerima paket itu. Kau harus berhati-hati"
"Aku tau,"
'Aku akan menyelamatkanmu, Ichigo'
Ichigo tampak sibuk memandangi kotak tersebut. Ia tampak berpikir keras tentang siapa yang mengirimi paket tersebut. Ia pun membuka satu persatu pembungkus yang melekat pada kotak isinya..
"Wine? Siapa yang mengirimiku ini dengan kotak besar?" tanyanya bingung.
Ia pun membuka tutup botolnya dan ingin menuangkannya pada gelas yang ada dimejanya, tidak sampai kegiatannya terhenti oleh..
"Hai,"
Mata hazel Ichigo membulat sempurna dengan kehadiran sosok yang menyelamatkan nyawanya dua kali sekaligus yang mencuri hatinya berada di balkon ruangannya.
"Kau! Ada ap.."
Buagh..
kalimat Ichigo terputus ketika sosok itu menghantam tengkuknya. Pandangan matanya perlahan mengabur. Namun, sedetik kemudian ia melihat ..
DUAAAAAARR
To be continued
RnR
*Parkour (baca : Paar-kuur , kadang-kadang disingkat PK) atau l'art du déplacement (Seni gerak) adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. (sumber: wikipedia)
Coming soon on chapter 7
"Aku menyukaimu"
"Ichigo dia diculik"
"Kuberitahu satu hal, dia memancing kita datang"
"Aku takkan biarkan dia hidup, akan kubunuh dia"
Author Corners:
Hai, ketemu lagi dengan D *kibas rambut* maaf updatenya lama banget karena ini nyusunnya sambil ngerjain soal sbm wkwk. Doain nih yg mau msk ptn hehe. Kemaren ada yang review, yuk kita bales hehe :D
UL
wuaaaahhhhh lanjuuuut lanjuuut seruuuuu good job i like it ... :D
Jawab: arigatou udah suka sama ceritanya dan mampir buat review. Ditunggu chapter selanjutnya ya.
Azura Kuchiki
Aku penasran dgn previewny...
Jawab: sudah diupdate, Azura-san. Ditunggu chapter berikutnya :D
UL
wah ichi perhatian sekaliii... cepat update lagiiiiiii... ceritanya kalau bisa panjangiiinnn hehe ... DrIk-san mau masuk PTN mana nih? semoga lancar ya :)
Jawab: iya nih, hehe aku nulisnya nih sampai senyum2 sendiri gt ngebayangin Ichi kayak gt. Udah kupanjangin nih hehe. Aku mau masuk UI atau UNJ doain ya, terima kasih UL-san :D
Rin
Ooohh... Ak lupa. Ayo, cepat apdet!
Jawab: gapapa Rin-san. Ini udah update, enjoy and keep waiting for next chapter.
Udah kejawab reviewnya semua. Dan disini ada adegan Ichi masak ya sama ngelus perutnya Rukia biar gak sakit. Mohon maaf apabila jelek pas bagian itu gomen bgt kalo jelek. Hope you all like it. See you at chapter 7. Jaaa
-D-
