Hanya sebuah cerita sebelum mereka bertemu—ketika semua bermulai dari tanggal 12 Desember tahun lalu.
.
.
Disclaimer
Kuroko's Basketball © Tadatoshi Fujimaki
This Story © Mine
No bash chara, OK?
Ini adalah versi Aomine. Setting waktunya sama kayak dari awal chapter 1. Nah, enjoy the story please? ;)
.
.
Hari ini Aomine mengajak Kagami untuk one-on-one seperti biasa—di lapangan biasa mereka bermain basket. Aomine kemudian berfikir—bagaimana jika dia memutuskan Kagami? Apa Kagami mau mempertahankannya?
'Pasti mau, dia kan mencintaiku.' Batin Aomine percaya diri saat sedang dalam perjalanan menuju lapangan basket.
"Yo!" panggil Kagami yang ternyata sudah ada di lapangan. Aomine lalu berlari menuju Kagami dan menepuk tangan Kagami yang masih melambai.
"Yo! Sudah menunggu lama?" tanya Aomine. Kagami menggeleng, lalu dia mendribble bola basketnya. Aomine lalu menaruh tas yang dia bawa dan berjalan menuju Kagami.
"Ayo kita mulai!" ucap Aomine semangat. Kagami mengangguk, dan dimulailah acara one-on-one tersebut.
.
.
Kagami telah kelelahan, begitu juga Aomine—walau tak selelah Kagami. Kagami meminum air mineralnya sampai tumpah-tumpah lewat lehernya. Aomine menelan ludah, dia kemudian teringat tentang niatnya tadi siang.
"Ano,, Kagami.." ucap Aomine, Kagami berhenti meminum dan menatap Aomine.
"Ya, ada apa?" tanya Kagami.
Karena Aomine lama tak berbicara lagi, akhirnya Kagami meminum kembali minumannya. Aomine lalu duduk di samping Kagami.
"Aku ingin putus." Ujar Aomine, membuat Kagami hampir tersedak.
Dalam hati Aomine berharap kalau Kagami akan marah-marah padanya, tanya kenapa, bilang kalau dia masih sayang, lalu memeluknya dan lain sebagainya. Tetapi apa yang didapatkan Aomine?
"Yah, kalau itu keinginanmu sih aku tidak bisa menolak." Ucap Kagami. Aomine kaget.
Eh? Hah? Yang benar saja! Kagami masih menyayangiku kan? Dia masih mencintaiku kan? Apakah kali ini aku salah? J-jangan bercanda! Batin Aomine mengamuk. Aomine kini bingung harus berbuat apa, dia terlalu egois untuk mengatakan bahwa dia hanya mengetes Kagami. Yah, walaupun sebenarnya cara dia mengetes membuat Kagami salah paham—mungkin. Tapi mau bagaimana lagi? Aomine sudah terlanjur.
"Y..Yasudah, aku pulang dulu." Pamit Aomine sambil melangkahkan kaki menuju tasnya dan kembali ke rumah. Aomine terlalu sakit hati—rasanya dia seperti ditolak oleh seorang gadis. Ahsudahlah, kenyataannya memang begitu. Kagami tak ingin mempertahankan hubungan mereka.
.
.
Sesampainya di rumah Aomine membaca majalah Mai-chan sepuas-puasnya, Ibu dan Ayahnya juga sedang pergi. Dia bebas di rumah. Sebenarnya majalah Mai-chan itu sudah dia simpan di dalam kardus di kolong tempat tidur Aomine paling dalam, katanya dulu dia sudah punya kekasih yang lebih mantap daripada Horikita Mai
—
"Ahomine!" panggil Kagami kepada Aomine ketika melihat tumpukan majalah Mai-chan di meja belajar Aomine.
"Apa sih, Bakagami?" Aomine tiba-tiba muncul dengan tubuh hanya dibalut dengan sebuah handuk berwarna biru tua dan otot dada serta otot perutnya terekspos sempurna, membuat Kagami menoleh dan langsung merona.
"Ahomine pakai bajumu! Hentai!" teriak Kagami sambil melemparkan bantal yang ada di dekatnya, dan yang ada malah bantal tersebut hanya menyenggol sedikit handuk Aomine dan bisa ditebak setelahnya, kini Aomine polos tak berdosa—salah, polos tak berbusana.
"AHOMINEEEE!" Teriak Kagami sambil menutup wajahnya yang sudah memerah bak kebakaran dan berlari menuju keluar—walaupun di pintu masih ada Aomine. Tak sengaja Kagami menubruk Aomine.
"Itte yo, BAKAGAMI!" teriak Aomine sambil menyumpahi Kagami, sambil menarik kaki Kagami.
"Awas! Aku tidak akan berbicara padamu sampai kau memakai bajumu!" ucap Kagami masih menutup wajah.
"Apa-apaan itu?" Aomine menarik kaki Kagami dan membuatnya terjatuh. Kagami terjatuh di pangkuan Aomine.
"KYAAAAAAAAAAA-mmph.." suara jeritan Kagami langsung Aomine hentikan dengan jurus ciuman cinta miliknya. Aomine tidak ingin tetangganya menyangka Aomine memperraep anak orang di rumahnya ketika tak ada orangtuanya disini. Dan beruntungnya Aomine, tadi saat Kagami berteriak tangannya malah turun ke bawah dan menyentuh paha mulus Aomine.
"Hah..Hah..Hah.." nafas mereka naik turun, setelah seberapa lama berciuman. Wajah Kagami sudah sama persis dengan rambutnya.
"Tidak usah berteriak seperti perempuan, baka." Ucap Aomine dengan nada rendahnya, membuat Kagami melt—iya iya enggak jadi.
"Habisnya kau mengagetkanku, Aho!" balas Kagami tak mau kalah. Aomine menghembuskan nafas.
"Jadi kenapa tadi kau memanggilku?" tanya Aomine. Kagami berfikir sebentar, ternyata dia lupa.
Sembari menunggu Kagami berfikir, mari kita lihat posisi mereka. Aomine yang sedang lesehan tanpa baju—beralaskan handuk yang tadinya melilit tubuhnya—kakinya disilangkan dan ada Kagami duduk santai di atas sila-nya yang entah kenapa tangannya tidak mau melepaskan paha kaki mulus milik Aomine.
"Ah, aku ingin penjelasan tentang majalah Mai-chan yang bejibun di meja belajarmu itu!" ucap Kagami sambil menunjuk wajah Aomine. Aomine lalu melihat ke arah meja belajar.
"Kau tau, itu sudah tidak pernah ku baca. Aku punya yang lebih 'hot'." Jawab Aomine, hampir seperti bisikan. Kagami memerah lagi, entah marah atau bagaimana—ngomong-ngomong, Kagami belum sadar dia di pangkuan Aomine loh ya.
"Lalu kenapa—"
Kali ini bukan dibungkam oleh ciuman, hanya oleh satu jari.
"Aku akan membuangnya besok. Lagipula, yang nyata dan lebih 'panas' ada di depanku sekarang.." ucap Aomine sarkastik, dan pada detik setelahnya Aomine memeluk pinggang Kagami dan Kagami menyadari.
"AAAAA-mmp.."
Silahkan berfikiran negatif untuk selanjutnya.
—
Aomine tidak bisa berkonsentrasi memikirkan Mai-channya lagi, fikirannya masih terpaku pada pemuda yang baru saja dia putuskan. Dia akhirnya memutuskan untuk tidur saja.
.
.
Sebulan telah berlalu, hati Aomine juga telah terbiasa tanpa Kagami. Aomine merasa dia sudah bisa bangkit lagi setelah keterpurukannya beberapa minggu yang lalu. Aomine berjalan-jalan di sekitar sekolah Kaijou, dan dia menemukan seorang pemuda bersurai pirang sedang berjalan—menuju rumahnya.
"Oy Kise!" panggil Aomine. Kise menoleh, dan terlihat matanya berbinar-binar seperti anak kecil melihat dia dibelikan eskrim.
"Aominecchi! Hisasiburi-ssu!" teriak Kise lalu langsung menubruk Aomine dan memeluknya erat. Maklum, Aomine adalah cinta perta—ups, okeoke maaf.
Aomine mengelus-elus surai pirang Kise.
"Tumben kau kesini-ssu? Mau apa?" tanya Kise. Aomine mendelik.
"Kau tidak suka heh?" tanya Aomine. Kise menggeleng.
"Tentu saja aku suka-ssu! Nee, Aominecchi sudah makan? Ayo ke cafe.." ajak Kise gak nyambung. Tanya udah makan atau belum, tapi ngajak ke cafe. Cafe kan buat minum kopi-teh-apalah itu. Tidak menyediakan makanan berat—oke maaf.
"Kau yang bayar ya!" ucap Aomine. Kise mengangguk, lalu berjalan bersama Aomine menuju cafe terdekat.
"Aominecchi mau pesan apa-ssu?" tanya Kise kepada Aomine ketika mereka telah sampai dan mendapat tempat duduk. Aomine berfikit sebentar.
"Hmm vanilla latte." Ujar Aomine. Kise mengangguk dan berjalan menuju konter hp—okeoke ini terakhir!—menuju counter tempat memesan minuman. Tak lama kemudian Kise kembali dengan dua gelas kopi hangat.
"Sankyu." Ujar Aomine sambil tersenyum hangat.
"Hehe tidak usah difikirkan." Ucap Kise sambil mengaduk kopi panasnya tersebut.
"Nee Aominecchi, bagaimana hubunganmu dengan Kagamicchi?" tanya Kise. Aomine terkejut, sudah sebulan dan Kise belum tahu?
"Ah, aku sudah putus.." ucap Aomine lesu.
"B-bagaimana bisa-ssu?" tanya Kise lagi, sambil menahan senyumnya—karna Aomine kini bebas.
"Yah begitulah. Ah, aku ingin meminta sesuatu padamu Kise." Ucap Aomine.
"A-apa-ssu?"
"Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Dan setelah beberapa menit kemudian, yang ditanya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
.
.
Lima bulan sudah, sejak Aomine berpisah dengan Kagami. Kini dia menjalin hubungan dengan Kise. Tetapi dia mulai jenuh, dia bosan karna Kise jarang mempunyai waktu dengannya. Dia lalu iseng-iseng mencari alamat e-mail Kagami, dan ketemu! Aomine lalu menghubungi Kagami.
.
.
Sebulan berlalu sejak Aomine mendapatkan e-mail Kagami, dia lalu berencana pergi ke rumah Kagami untuk bersilaturahmi—setidaknya semacam itu. Melihat dari respon Kagami, dia sangat senang.
'Baiklah, siap-siap untuk jam lima!" Aomine menyemangati dirinya sendiri. Lalu bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Kagami.
.
.
'Apa dia akan menyambutku dengan baik ya?' batin Aomine.
'Jangan-jangan dia marah? Jangan-jangan dia menolakku lagi?' Aomine lalu menggeleng, membuang perasaan negatif dari kepalanya.
'Sudahlah, percaya diri! Aku pasti tidak salah!' teriak Aomine dari dalam hati. Aomine lalu mengepalkan tangannya dan dia memantapkan diri melangkah menuju apartemen Kagami.
Ting Tong
Bel apartemen Kagami berbunyi, setelah tombolnya dipencet oleh Aomine. Kagami lalu membukakan pintu. Aomine bisa melihat dengan jelas, senyuman Kagami yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Yo!" sapa Aomine.
"Aku merindukanmu, aho!" ucap Kagami sambil memukul pundak pemuda dim itu.
"Baka, aku juga merindukanmu!" ucap Aomine sambil memeluk Kagami, sontak Kagami kaget dan blushing. Lalu dia mendekap pemuda yang masih dia sayang ini. Dia tidak ingin kehilangannya. Setelah beberapa lama, keduanya tersadar dan melepas pelukan mereka.
"Ah ya, silahkan duduk. Aku akan membuatkan teh." Ucap Kagami kepada Aomine. Aomine yang canggung itu lalu duduk dan mengangguk. Kagami segera membuatkan teh untuk Aomine.
Suasana berubah sangat canggung, Aomine merasa tidak enak—begitu juga Kagami. Mereka belum terbiasa akrab di dunia nyata—walaupun di e-mail mereka terlihat sangat akrab, tapi oh ayolah.
"K—Kagami.." panggil Aomine. Kagami menengok, mengalihkan pandangannya yang daritadi tersita pada teh di depannya kepada pemuda bersurai navy blue di sampingnya.
"Aku ingin memberitahu satu hal padamu."
"Apa?"
"Aku sudah punya kekasih..."
Hening, Kagami belum merespon.
"Ah, aku sudah tahu kok! Ikemen pirang itu kan?" tanya Kagami. Aomine hanya menelan ludah.
"Haha, ternyata kau sudah tahu. Aku juga tahu kau sudah punya kekasih kan? Kau berpacaran dengan Tetsu kan?"
"Ehe, yaa.. Begitulah.. Aku tidak bisa melupakanmu, dan Kuroko datang. Dia mewarnai hidupku." Kagami menunduk.
"Hmm yeah Kise juga begitu."
"Apa kau sudah melupakan kenangan kita, Aomine?"
"Tidak sepenuhnya, aku masih bisa mengingat beberapa. Maaf." Aomine berbohong. Dia masih ingat jelas kenangan bersama Kagami.
"Tidak apa-apa, hehe.."
"Nee, Kagami lihat aku."
Kagami menengok, Aomine memegang wajahnya dan menguncinya. Kemudian Aomine mendekatkan wajahnya ke wajah Kagami. Aomine kehilangan kontrol, dia merindukan rasa dari bibir pemuda bersurai merah pekat tersebut.
Setelah jarak yang dihapuskan kurang dua sentimeter, Kagami menutup matanya. Aomine melihat jelas, dia menyeringai. Dia kira Kagami akan menerimanya kali ini. Namun, setelah itu Kagami membuang muka ke arah lain. Aomine shock, apakah itu artinya dia ditolak?
"Kenapa?" tanya Aomine. Dia tahu Kagami masih menyukainya, tetapi kenapa Kagami tak mau dicium olehnya?
"Maaf, aku tidak bisa." Kagami menunduk. Aomine menggenggam tangan Kagami.
"Tidak bisa kenapa?"
"Tidak apa-apa, sebaiknya kau pulang sekarang Aomine. Ini sudah malam." Ucap Kagami. Aomine sontak terkaget lagi, lalu mengangguk.
"Baiklah, aku akan pulang." Ucap Aomine. Lalu berjalan menuju ke pintu keluar dan meninggalkan Kagami sendirian.
'Haha, aku ditolak dua kali oleh orang yang sama. You must be f*cking kidding me, Kami-sama.' Umpat Aomine dalam hati, ketika mengetahui bahwa Kagami memilih Kuroko-nya daripada harus bersama Aomine.
.
.
Fin~
Bacotan Authir:
Yoh, minna~ huehehe gimana? Gimana? Sedih? Ah nggak pasti ya.
Saya seneeeeeeeeeeeeeeeeeeng banget kalo ada yang respon ehehe.. Apalagi kemaren itu ada yg langsung follow+fav padahal baru di publish satu jam -_-' tapi gapapa, saya bahaaaagiaa..
Terus ya, ini mau dilanjutin atau kaya gini aja? Kalo dilanjutin maunya gimana? Belom nemu ide -_-
Dan gatau kenapa lagi pengen bikin fic humor-tapi-saya-tau-bakal-gagal- malah nerusin fic ini =_="
Jadi maaf kalo banyak kata-kata gaje yang diberi tanda sambung—ini misalnya. Kadang gaje kadang ndukung diksi tapi... sudahlah, namanya anak dari burung ababil/nak/ yoossh.. Minna, mind to feedback?
