Aku tahu, aku bukanlah orang yang diinginkannya. Aku juga paham, kalau dia hanya perlu waktu untuk melupakannya. Tapi meskipun begitu, aku tidak akan memaafkan hal yang telah membuatnya menangis memalukan seperti ini.

.

.

Disclaimer

Kuroko's Basketball © Tadatoshi Fujimaki

This Story © Mine

Chapter 3 : Kuroko Tetsuya

Enjoy The Story~

.

.

Aku menyukainya. Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku jatuh hati padanya. Tapi dia tidak pernah melihatku, dia selalu melihat ke arah biru yang lain. Aku masih bisa bersabar, karna selama dia masih bisa bahagia—walaupun bukan karena diriku, aku akan ikut bahagia.

Naif? Tidak. Entahlah. Silahkan menganggapku naif, melankolis, atau bahkan masokis. Aku tidak masalah, karna aku bukanlah orang yang seperti itu. Aku bahagia dengan hidupku yang seperti ini, mengagumi orang lain yang mengagumi orang lain. Aneh? Yah mungkin itu memang jalan hidupku. Mencintai tanpa dicintai, seperti lirik lagu, eh?

Maka ketika aku melihatnya dibuang oleh orang yang dia cintai, aku merasa marah. Bagaimana mungkin orang itu dengan tega membuang orang yang mencintainya dengan sepenuh hatinya?

"Kuroko." Panggil pemuda itu, pemuda bersurai merah pekat yang ku kagumi. Pemuda beralis cabang yang ku sukai, pemuda dengan tinggi 190 cm yang mampu membuat hidupku penuh olehnya.

"Ya?" balasku sambil menatapnya. Melihat ke atas, agar aku bisa menatap lebih jelas wajahnya yang mempesona.

"Aku ingin kau menghapuskan rasa sakit ini, kau bisa 'kan?" tanya pemuda itu. Nafasku tercekat, aku tidak tahu harus bagaimana. Selama ini aku juga ingin membuatnya bahagia, dan apakah dengan cara ini aku bisa membuatnya bahagia?

"Hai, aku akan berusaha." Jawabku kemudian. Dia bernafas lega.

"K-kalau begitu, berarti sekarang kita jadian?" Dia bertanya lagi, mungkin memastikan. Aku mengangguk, lalu memeluknya. Ah, aku lupa. Aku sedang berada di dalam apartemennya saat ini.

"Ah, mungkin supnya sudah jadi. Aku akan mengambilkannya untukmu." Ucap pemuda itu. Aku mengangguk dan melepaskan pelukanku, lalu menunggu sambil duduk.

"Ah, ini supnya. Silahkan dimakan." Ucap pemuda itu sambil menaruh sebuah panci ukuran sedang, dan dua mangkok di meja. Aku lalu mengambil mangkok itu.

"Sini, biarkan aku yang mengambilkannya untukmu." Ucap pemuda itu. Aku lalu mengangguk, dia mengambilkan sup itu untukku. Setelah selesai, dia memberikanku mangkok berisi sup yang aku kira rasanya sangat lezat itu.

"Terimakasih, Kagami-kun." Ucapku. Dia lalu tersenyum, dan aku tak bisa mempertahankan wajah datarku—aku ikut tersenyum.

.

.

Sudah lama sejak pemuda bersurai merah dan beralis cabang itu resmi berpacaran dengan pemuda invisible bersurai biru muda yang kini berjalan di sebelahnya sambil menggandeng tangannya. Walaupun masih malu-malu, mereka terlihat mesra.

Hyuuga Junpei, salah satu dari kakak kelas mereka melihat hal itu dan mendekati pasangan merah-biru tersebut dengan mengendap-endap, lewat belakang. Melihat Hyuuga yang mengendap-endap, Aida Riko—pelatih basket putra—juga ikut mengendap-endap, dan begitulah seterusnya sampai urutan manusia mengendap-endap itu kini jadi Hyuuga-Aida-Tsucchida-Mitobe-Koganei.

Setelah dirasa timingnya pas, Hyuuga mengagetkan pasangan merah-biru tersebut.

"DOORRR!" teriak Hyuuga sambil melompat dan menepuk pundak pemuda bersurai merah.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" teriak pemuda bersurai merah tersebut, pemuda yang satu lagi melepaskan pegangan tangannya pada tangan sang pemuda merah, lalu menoleh ke belakang. Membiarkan pemuda bersurai merah itu jongkok dengan menutup telinganya dengan wajah kaget sekaget-kagetnya.

"Hyuuga-senpai. Kantoku, Tsucchida-senpai, Mitobe-senpai, Koganei-senpai. Apa yang kalian lakukan disini?" tanya pemuda biru. Hyuuga lalu menoleh ke belakang dan kaget, kenapa teman satu timnya ada disini semua?

"Tehee~ Aku sedang mengikuti Hyuuga-kun." Aida nyengir nista.

"Hee, kenapa kau mengikutiku Kantoku?" Hyuuga yang tidak terima diikuti saat dia sedang mengikuti melancarkan protes.

"Karna aku penasaran. Lagipula kau mengendap-endap seperti itu."

"Ah sudahlah. Kuroko, apa yang sedang kau lakukan bersama Kagami?" tanya Hyuuga kemudian tanpa menghiraukan Aida.

"Aku sedang berjalan." Ucap Kuroko. Hyuuga sweatdrop.

"Bukan itu maksudku! Tadi kau bergandengan dengan Kagami kan?" tanya Hyuuga, tepatnya dia sedang berusaha memojokkan Kuroko. Terlihat Kuroko sedikit panik, tapi wajah datarnya tetap tak berubah.

"Iya! Kau tidak menjawabnya!" tunjuk Hyuuga heboh pada Kuroko. Kuroko hanya menghembuskan nafas.

"Iya, aku bergandengan tangan dengan Kagami-kun." Ucap Kuroko.

"HE? HEEEEEEEEEEEEEEEEEE?" Kebiasaan tim Seirin keluar, teriak bersama-sama ketika ada hal yang mengejutkan.

"Kagami, oi bangun! Mau sampai kapan kau jongkok?" Hyuuga menghiraukan teriakan teman-temannya. Kagami menolehkan kepalanya patah-patah ke belakang, dan melihat semua senpainya ada di belakangnya. Kini bukan hal seperti hantu yang ada di benak Kagami, tetapi senpainya yang menyeramkan lebih dari hantu. Dengan gerakan patah-patah, dia berdiri dan menghadap senpai-senpainya.

"Kagami, apa kau berpacaran dengan Kuroko?" tanya Koganei dari ujung belakang sana.

"Eh, apa yang—"

"Cepat akui saja! Kau mau Kuroko-mu menangis?" ejek Hyuuga. PATS! Perempatan urat muncul di pelipis Kuroko.

"Ah—Ya—Tidak—itu ... Aku, ya. Aku memang berpacaran dengan Kuroko." Aku Kagami, walau dengan tergagap.

Kuroko tersenyum, siapa yang tidak senang kalau kekasihmu mengakui dia punya kekasih sepertimu?

"He? Majide?" kasak-kusuk di barisan belakang pun dimulai. Kuroko masih tersenyum dan Kagami menggaruk-garuk kepalanya.

.

.

Hari ini festival kembang api di musim semi. Kuroko berniat mengajak Kagami untuk pergi bersama.

Kagami-kun, aku ingin ke festival kembang api malam nanti.

Sent. Kuroko tak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan dari Kagami.

Baiklah, aku akan menjemputmu. Jam 7 ya.

Kuroko tersenyum tipis.

Jangan lupa pakai hakama-mu, Kagami-kun.

Sent. Kuroko tak bisa menahan senyumnya, membayangkan Kagami memakai hakama untuk melihat festival kembang api.

Memangnya aku perempuan heh?

Kuroko menghela nafas, hakama kan untuk laki-laki.

Kagami-kun, hakama itu untuk laki-laki. Lagipula, kalau tidak memakai pakaian tradisional Jepang nanti kita tidak bisa lewat.

Baiklah, baiklah.

Dan, Kuroko harap malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan.

.

Jam 7 pas, Kagami datang ke rumah Kuroko dengan memakai hakama warna merah padam, sesuai dengan warna wajahnya saat ini, ups. Kuroko tersenyum tipis melihat hal itu. Sekarang pun dia memakai hakama berwarna biru tua, agar tidak terlalu mencolok katanya.

Mereka lalu berjalan berdampingan, menuju tempat diadakannya festival kembang api. Kuroko lalu menarik Kagami menuju gerbang besar dimana orang-orang masuk ke tempat festival.

"Oy Kuroko! Jangan tarik-tarik tanganku!" teriak Kagami. Kuroko lalu berhenti menarik tangan Kagami.

"Tapi nanti kalau aku menghilang, jangan menyesal ya." Ucap Kuroko. Kagami lalu menoleh ke sampingnya, dan Kuroko sudah tidak ada. Sulapkah?

"Oy Kuroko! Jangan bercanda! Ini tidak lucu! Ayo cepat muncullah!" teriak Kagami yang lalu dilihat oleh orang-orang yang lewat dan dikira orang gila. Tapi Kagami tetap panik, bahkan dia terus memanggil Kuroko.

"E-eh, Kagami-kun?" sapa seorang gadis bersurai coklat pendek, memakai yukata berwarna pink dengan motif sakura.

"K-kantoku! S-sedang apa kau disini?" Kagami yang tadinya panik tambah panik karna bertemu dengan pelatihnya. Pelatih bersurai coklat itu hanya merona dan memainkan yukata miliknya.

"A-aku.." baru saja Aida hendak menjawab, datanglah pemuda megane bersurai hitam dengan menggunakan hakama berwarna merah, mirip seperti punya Kagami.

"Riko! Kau jangan meng ... hi ... lang ..." pemuda itu menelan paksa ludahnya, mungkin karna kencannya ketahuan oleh kouhainya sendiri, ups.

"K-kalian berkencan?" tuduh Kagami sambil berjalan mundur. Memang apa salahnya kalau berkencan? Sendirinya juga berkencan kan?

"Huh, iya. Kau sendiri? Sedang mencari Kuroko ya?" jawab plus tanya Hyuuga. Aida hanya bisa merona sambil memegangi pipinya di sana.

"Eh, iya. Apa kau melihat Kuroko?" tanya Kagami. Hyuuga hanya menggeleng lalu berjalan sambil menggandeng Aida dengan mesra. Ingat, dengan mesra. Mungkin niatnya untuk memanas-manasi Kagami, terbukti ada tanduk merah imajiner di kepala Hyuuga.

Kagami makin suram, dia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam tempat festival itu sendirian. Lalu duduk suram di kursi beton yang ada di bawah pohon. Kagami menundukkan wajahnya dalam-dalam, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

"Kagami-kun." Suara datar itu, Kagami terkaget.

"Huaah! Kuroko sialan kau darimana saja heh?" teriak Kagami. Kuroko hanya diam sambil duduk di samping Kagami.

"Tadi aku beli ini, Kagami-kun." Ucap Kuroko. Kagami melihat apa yang dibawa Kuroko, permen kapas?

"Hey hey masa iya kau meninggalkanku hanya untuk permen kapas itu?" Kagami tidak terima. Kuroko hanya memakan permen kapasnya dengan wajah polos.

"Aku hanya ingin, Kagami-kun." Ucap Kuroko datar setelah menghabiskan permen kapas yang tadi dia gigit. Terlihat di sekitar bibirnya caramel bekas permen kapas tadi. Kagami mendekati wajah Kuroko, lalu mencium bibir Kuroko yang belepotan caramel permen kapas.

"Mph—" Kuroko Kaget, Kagami menjilati bibir Kuroko, sambil merangkul pinggangnya.

Manis, ujar Kagami dalam hati. Mulut Kuroko yang biasanya manis vanilla kini terasa manis permen kapas. Kagami menyukai itu, mungkin permen kapas akan jadi makanan favoritnya setelah burger.

.

.

Kini sudah berlanjut sangat lama semenjak jadian, mungkin lima bulan? Jika dihitung sejak Januari, dan sekarang Mei, kini sudah lima bulan. Aku melihat Kagami-kun lebih memilih untuk memainkan ponselnya ketimbang jalan-jalan bersamaku. Bahkan saat latihan pun, walau sudah ditegur oleh kapten dia tetap memainkan ponselnya diam-diam.

"Kagami-kun." Panggilku kepada Kagami-kun yang sedang memainkan ponselnya.

"Ah ya, ada apa Kuroko?" tanya Kagami-kun sambil menyimpan ponselnya di saku.

"Maaf, tapi bisakah kau berkonsentrasi saat berlatih?" pintaku, dia sudah keterlaluan. Ia lalu salah tingkah.

"A—ah, sumimasen!" Dia menggaruk belakang kepalanya, lalu berlatih dengan baik.

.

.

Hari ini sudah sebulan sejak Kagami-kun lebih memperhatikan ponselnya ketimbang aku. Aku sudah tidak kuat, walaupun aku tahu aku hanya sebagai pelampiasannya, tapi tak bisakah dia menghargaiku? Bahkan hari ini Kagami-kun lebih senang bermain ponsel daripada berbicara denganku.

Aku sempat melihat apa yang sedang Kagami-kun perhatikan di ponselnya, saat itu aku sedang berdiri di sampingnya dan Kagami-kun tidak tahu kalau aku disitu. Dan, aku melihat dia sedang chatting dengan Aomine-kun, mantan kekasihnya.

Aku tahu, aku mengerti, dan aku memahami jika hari ini akan datang. Bagaimana caranya, cepat atau lambat, dia akan meninggalkanku dan kembali pada biru yang lain—yang lebih padam. Aku putuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk mendinginkan pikiranku. Ah, bahkan saat aku melewatinya, Kagami-kun tidak melirikku ataupun mengajakku pulang bersama.

.

.

Aku lihat, hari ini Kagami-kun sedang dalam mood yang jelek. Wajahnya murung, dia terlihat suram, dan yang lebih mencolok—Matanya sembab, apa yang terjadi padanya?

"Kagami-kun?" panggilku padanya di atap sekolah, tempat dimana kami biasa makan bersama—makan bento buatan Kagami-kun.

"A-ah, ya ada apa, Kuroko?" tanya Kagami-kun. Terlihat kaget, dia baru saja melamun,

"Matamu terlihat sembab, apa yang terjadi semalam?" tanyaku to the point. Dia terlihat malu-malu.

"A-ah, apakah kau mau mendengarku, Kuroko?" tanya Kagami-kun. Aku mengangguk.

"Apa kau janji kau tidak akan marah?"

"Haik."

"Apa kau janji kau tidak akan menjauhiku?"

"Haik. Cepatlah Kagami-kun, waktu istirahat makan siang bukanlah selama-lamanya." Ucapku. Kagami-kun menghela nafas.

"Begini, kemarin Aomine berkunjung ke apartemenku." Ucap Kagami-kun, aku kaget tetapi tetap memasang wajah datarku, ternyata Aomine-kun yang membuatnya seperti ini.

"Dia tiba-tiba menyerangku, kau tau? Seperti ini ..." Kagami-kun mendekatkan wajahnya padaku, dan tangannya memegang tanganku. Aku membayangkan Aomine-kun melakukan hal itu kepada Kagami-kun, dan hatiku panas seketika. Begitukah sikap orang yang telah membuang kekasihnya sendiri, lalu kembali dan menorehkan luka lama? Aomine-kun, aku tidak akan memaafkanmu.

Aku lalu menarik Kagami-kun dalam pelukanku, punggungnya bergetar. Dia belum kuat mental untuk melanjutkan cerita ini, benarkan? Aku lalu menepuk-nepuk punggung Kagami-kun.

"Sudahlah Kagami-kun, jangan menangis. Matamu sudah sembab, jangan kau tambah dengan tangismu." Ucapku menenangkannya.

Dia lalu melepaskan pelukanku, dan menatapku lekat-lekat. Ku balas tatapannya dengan pandangan datar nan kosongku seperti biasa.

"Kuroko, aku menyayangimu." Ucap Kagami-kun, lalu memelukku lagi. Aku balas pelukannya. Hanya menyayangiku ya? Padahal aku harap dia mencintaiku.

Aku tahu aku tak bisa berharap lebih, dia masih mencintai Aomine-kun dan aku tidak bisa mengklaim cinta Kagami-kun harus hanya untukku. Aku tahu, tak lama lagi Kagami-kun akan kembali kepada Aomine-kun, aku tahu. Aku tahu, aku mengerti, aku paham.

.

.

TBC~

Ini fic jadinya multichapter kan noh -_- mungkin akan tamat di dua chapter ke depan, mungkin yaaa mungkin. Kalo gak satu ya dua #digiles

Plannya sih besok bagiannya Kise, terus chapter terakhir yaa endingnya, siapa pair siapa wkw :3 Yasudah,, ini chapter 3 maaf kalo kurang memuaskan.

Akhir kata, Mind to feedback? All feedback accepted.