.
.
Disclaimer
Kuroko's Basketball © Tadatoshi Fujimaki
This Story © Mine
Chapter 4 : Kise Ryouta
Enjoy The Story~
.
.
"Oy Kise!" panggil seseorang dengan suara berat. Aku menoleh ke belakang, dan yang ku lihat adalah pemuda dim yang dulu pernah ku sukai.
"Aominecchi! Hisasiburi-ssu!" teriakku sambil berlari menuju kepadanya dan memeluknya, sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu sejak winter cup kemarin. Aominecchi mengelus-elus rambutku.
"Tumben kau kesini-ssu? Mau apa?" tanyaku sambil melihat ke wajah Aominecchi.
"Kau tidak suka heh?" tanya Aomine. Aku menggeleng.
"Tentu saja aku suka-ssu! Nee, Aominecchi sudah makan? Ayo ke cafe.." ajakku.
"Kau yang bayar ya!" ucap Aomine. Aku mengangguk, lalu mengajaknya menuju cafe terdekat.
"Aominecchi mau pesan apa-ssu?" tanyaku pada Aominecchi ketika sudah sampai.
"Hmm vanilla latte." Ujar Aomine. Aku lalu mengangguk dan berjalan menuju konter. Lalu memesan dua vanilla latte dan membawanya ke meja Aominecchi. Setelah itu aku memberinya satu cangkir.
"Sankyu." Ujar Aomine sambil tersenyum hangat.
"Hehe tidak usah difikirkan." Ucapku sambil tersenyum dan mengaduk vanilla latte itu. Ah, aku ingat. Bukannya Aominecchi sudah berpacaran dengan Kagamicchi? Kenapa dia sendirian disini?
"Nee Aominecchi, bagaimana hubunganmu dengan Kagamicchi?" tanyaku. Aku melihat wajah Aominecchi sedikit terkejut, lalu melunak.
"Ah, aku sudah putus.." ucap Aomine lesu. Ha? Sudah putus? Kapan? Kenapa tak ada yang memberitahuku?
"B-bagaimana bisa-ssu?" tanyaku lagi, meski sebenarnya aku sedikit senang karna Aominecchi sudah bukan milik siapa-siapa, dan juga aku tidak akan merasa bersalah kalau berlama-lama dengan Aominecchi.
"Yah begitulah. Ah, aku ingin meminta sesuatu padamu Kise." Ucap Aominecchi kemudian.
"A-apa-ssu?"
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" ucapnya. Kekasih? Kekasih? Secepat ini?
Bagaimana kalau ternyata Kagamicchi masih menyayanginya? Bagaimana kalau ternyata aku hanya untuk pelampiasan saja? Argh aku tak bisa berpikir. Tiba-tiba kepalaku mengangguk sendiri, hey hey kenapa bisa? Ah ini artinya aku menerima Aominecchi dong.
"Arigatou, Kise.." ucap Aominecchi sambil mengelus kepalaku, aku hanya tersipu. Aku ingat Kasamatsu-san—manajerku, juga sering mengelus kepalaku seperti itu kalau aku bekerja dengan baik.
Setelah berhenti mengelus-elus kepalaku Aominecchi lalu meminum lattenya. Aku juga melakukan hal yang sama, tiba-tiba ponselku bergetar, menandakan ada e-mail baru yang masuk. Aku lalu mengambil ponselku di saku dan melihat ada e-mail dari siapa.
From : Kasamatsu_Yukio
To : Kise_Ryouta_ssu
Subject : cepat
Kau dimana? Cepat ke tempat pemotretan! Aku sudah menunggumu lama!
Aku buru-buru menyimpan ponselku, menyeruput latteku hingga habis, dan berpamitan pada Aominecchi.
"Aominecchi, aku pergi dulu ya-ssu. Aku lupa kalau sekarang ada jadwal pemotretan. Jaa nee Aominecchi!" ucapku, Aominecchi mengangguk. Aku lalu berlari keluar cafe dan menuju ke tempat pemotretan.
.
.
Sudah lima bulan semenjak Aominecchi menembakku tiba-tiba, selama ini hubungan kita masih baik-baik saja walaupun dengan ber-LDR-ria. Yang ku lakukan selama ini hanyalah berkirim e-mail dan berbicara lewat telefon. Tetapi karna itulah, Kasamatsu-san marah padaku.
"Kise! Jika kau tidak menghentikan aktivitas berkirim e-mail-mu setiap detik itu maka aku akan menyita ponselmu. Jangan main-main kalau sedang kerja!" ujarnya memarahiku, aku lalu buru-buru menyimpan ponselku. Aku tidak mau ponselku disita.
"Nah, bagus. Ayo cepat ganti baju sana." Ucap Kasamatsu-san. Aku lalu berganti baju, memakai pakaian yang sudah disiapkan olehnya.
Setelah selesai, aku langsung pemotretan.
"Nice pose!" ucap fotografer yang sedang memotretku. Aku lalu tersenyum dan tersenyum lagi. Pemotretan ini benar-benar melelahkan. Aku berkeringat, mungkin sang fotografer juga melihatku berkeringat lalu menyuruh make-up artist-nya mendandaniku ulang. Ah, aku benci bedak.
"Kerja bagus, Kise." Ucap Kasamatsu-san sambil menepuk kepalaku. Aku lalu tersenyum padanya.
"Ariagatou." Ucapku. Kasamatsu-san tersenyum.
Aku mengaguminya, dia adalah orang yang perhatian walaupun terkadang memarahiku. Dia juga selalu bisa membagi waktuku dengan baik, karna aku bukan orang yang pandai mengurusi semuanya sendiri.
Kasamatsu-san lalu memberiku botol minuman, aku lalu mengambil dan meminumnya. Ah aku lelah, aku ingin istirahat dulu sebelum memasuki sesi kedua.
Aku berjalan menuju ruang ganti, dan duduk di depan meja rias. Bukan untuk merias wajahku, aku hanya ingin duduk saja. Lalu ponselku bergetar, aku membuka ponselku dan melihat e-mail baru. Tiba-tiba saja seseorang mengambil ponselku.
"Kasamatsu-san!" teriakku ketika aku tahu yang mengambil ponselku adalah dia.
"Sudah ku bilang kan, tidak boleh bermain ponsel ketika bekerja?"
"Tapi, ini kan sedang istirahat-ssu.."
"Tetap tidak boleh, nanti kalau kau dipanggil dan tidak menyahut malah sedang asik ber e-mail ria. Istirahat saja cukup kan? Tidak perlu memegang ponsel. Mulai hari ini ponselmu ku sita." Ucap Kasamatsu-san. Aku hanya bisa diam, membatu, berdebu.
.
.
Sudah dua minggu aku tidak memegang ponsel, bagaimana keadaan Aominecchi ya? Sebenarnya bisa saja aku membeli ponsel baru, tetapi aku terlalu malas karna kelelahan. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemenku. Aku lalu berjalan menuju pintu dan membukakan pintu itu. Ku lihat seorang pria bersurai hitam beriris abu-abu sedang berdiri di depan pintu apartemenku.
"Konbanwa, Kise." Ucap orang itu, Kasamatsu-san.
"Ah, konbanwa Kasamatsu-san." Ucapku lalu memberi dia jalan untuk masuk. Setelah itu aku mempersilahkan dia duduk di ruang tamu apartemen.
"Kasamatsu-san ingin minum apa?" tanyaku.
"Terserah kau saja." Ucapnya, aku lalu berjalan menuju ke dapur dan membuka lemari es, hanya ada lemonade kalengan. Aku lalu membawanya untuk Kasamatsu-san.
"Ini untukmu, Kasamatsu-san." Ucapku sambil menaruh minuman kalengan itu di meja di depannya. Lalu aku duduk di sampingnya.
"Ada apa Kasamatsu-san datang kesini? Tumben sekali-ssu.."
"Aku.. Etto, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.." ucap Kasamatsu-san, dia terlihat gugup.
"Ya, ada apa?"
"Aku.. Aku menyukaimu.. Tidak, tidak.. Aku menyayangimu, argh bukan.. Lebih seperti mencintaimu.. Bukan seperti sayang seorang kakak terhadap adiknya, tetapi.. Semacam, yaa kau taulah.. Maaf, aku jadi berbicara aneh seperti ini.." Dia menggaruk kepalanya yang sepertinya tak gatal, dia juga tidak berani menatapku.
"Kasamatsu-san, apa ini pernyataan cinta?" tanyaku, yaah aku perlu kepastian 'kan?
"Entahlah, ah sudahlah.. Maaf mengganggumu, ini ponselmu ku kembalikan. 'Aominecchi' selalu menanyakanmu. Maafkan aku jika aku punya salah, aku akan pulang.." ucap Kasamatsu-san sambil berjalan keluar apartemenku.
Bagaimana ini? Kasamatsu-san ternyata menyuka—ah, menyayangiku.
.
.
TBC~
Ini besok chapter terakhir yey!
Maaf kalo kurang berasa sedihnya, terus ini juga ke Kise terus jadinya yaaa maaap kalo kurang memuaskan...
