To Forever
.
.
By Dep Jung
.
.
.
.
.
Hari ini sekolah libur, ya memang karna sekarang hari minggu tentu saja hari dimana semua orang yang bersekolah berlibur.
Pagi-pagi seperti ini Chanyeol sudah terlihat rapih entah akan kemana dia pergi, dia memasang tampang konyol karna sebenarnya ia memang konyol tapi..dia tampan. Dia tersenyum-senyum sendiri seperti seorang yang sedang entah apalah itu.
Dia duduk di meja makan rumahnya seperti pagi-pagi yang sebelumnya, memakan sebuah roti yang ia olesi oleh selai kesukaannya. Ia memakan roti tersebut seraya mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang yang sedang mendengarkan lagu tapi dia sama sekali tidak melakukan ataupun mendengarkan apapun itu. Sangat aneh tidak seperti biasanya yang selalu makan dengan muka malas dan yah meratapi kesendirian di rumah besar ya walau banyak pelayan namun ia tetap merasa sendiri karna layaknya seperti anak yang tidak di urus oleh appanya yang sudah dua bulan tak menampakkan batang hidungnya karna pergi ke luar negri.
Appa Chanyeol adalah orang penting yang memiliki banyak tugas hingga harus meninggalkan anak semata wayangnya Chanyeol. tapi, Chanyeol mencoba mengerti akan semua ini meski terkadang ia selalu benci appanya yang mempunyai jabatan sebagai orang penting! Membuatnya sendirian, andai saja eommanya masih ada pasti ia tak terlalu larut dalam kesendirian ini. oh kasihan dirimu Park Chanyeol. bicara tentang eommanya, Chanyeol telah ditinggalkan ibunya sejak ia berumur empat tahun, umur dimana Chanyeol masih sangat polos tak mengetahui apapun, yang ia tahu saat itu ibunya terbaring lemah ditirah baring rumah sakit, semua orang bilang termasuk appanya sendiri bahwa ibunya tidak apa, ibunya akan segera sembuh.
Saking polosnya, Chanyeol percaya dengan hal itu. Namun setelah sebulan ibunya dirawat ia pun mulai curiga, bertanya-tanya sendiri dengan pikirannya. Lalu sebulan seminggu kemudian, ibunya benar-benar terbaring tidak berdaya. Chanyeol melihat ibunya memejamkan matanya yang tak kunjung membuka matanya dengan sebenih air bening yang tertinggal diujung mata itu. Chanyeol tak mengerti, semua orang bilang ibunya akan sembuh, tapi pada akhirnya? Ibunya pergi meninggalkannya.
Chanyeol bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, sampai-sampai ia bertanya pada appanya ada apa dengan ibunya. Appanya menjawab, setelah menyeka air matanya dan kemudian tersenyum pada Chanyeol, appanya bilang ibunya telah di panggil Tuhan untuk menuju rumah Tuhan yang disebut surga. Chanyeol menatap appanya dan bertanya lagi, apakah Tuhan itu jahat? Dan apa surga itu indah? appanya tersenyum dan kembali menjawab, Tuhan sangat baik Chanyeol dan surga itu sangat indah jadi kau tidak usah khawatir karna ibumu akan bahagia disana. Kembali satu pertanyaan lagi saat itu, Chanyeol menanyakan apa ibu akan merindukanku sedangkan ibu tengah berbahagia disana? Dan apakah kita semua akan bersama lagi seperti dulu? dan kapan itu? appanya mengangguk padanya dan berkata bahwa ibunya sangat sangat merindukannya dari jarak kejauhan, dan pasti tentu saja mereka akan bersama lagi. Suatu saat.
.
Chanyeol menyeringai kecil jika sedang mengingat hal itu. Betapa bodohnya dia saat itu, tak mengetahui bahwa ternyata ibunya dulu terbaring lemah karna sedang sakit, Chanyeol tahu jika sedang sakit tapi ia pikir waktu itu ibunya hanya sakit biasa dan sembuh segera karna semua orang mengatakan seperti itu padanya, namun ternyata semua orang bohong! Menyembunyikan semuanya darinya bahwa ibunya sakit keras.
Tak habis pikir kenapa semua orang menutupi ini darinya, yah dengan alasan tak ingin membuatnya sedih. Hei, apa kalian tak tahu bahwa Chanyeol merasa sangat sedih jika tidak diberi tahu tentang ini semua? Bahkan ia tak sempat menghabiskan sisa waktunya dengan ibunya pada saat itu.
Chanyeol menggeleng kuat, mencoba melupakan itu sesaat tak ingin menambah pikirannya. Dan ia rasa, ia telah selesai pada makan paginya. Ia beranjak dari kursi, menuju sebuah meja yang diatasnya telah ada rangkaian bunga mawar merah muda yang sangat banyak. Chanyeol mengambil, dan menatap bunga itu dengan penuh arti. Senyumannya terulas indah diwajah tampannya saat ini. Chanyeol segera melangkah, dan pergi.
.
.
.
#Baekhyun POV
Aku tidak tahu harus mengucap ataupun bersikap seperti apa nanti jika Chanyeol datang menjemputku, karna kutahu ini adalah ya mungkin bisa dibilang tanggal kesukaan Chanyeol 27 oktober. Yah, seperti tahun-tahun sebelumnya ia selalu memintaku untuk menemaninya ditanggal yang sama, bukan, bukan itu yang menjadi kendalaku untuk menemani Chanyeol tapi karna nanti ditempat tujuan yang tak pernah ganti disetiap tahun, hanya disitu-situ saja, tapi aku mencoba memahami hatinya, yah itulah yang menjadi kendalaku karna tak tahu harus bersikap seperti apa.
Ku dengar suara klakson mobil telah terdengar nyaring didepan halaman rumahku, tanpa melongok kejendela aku sudah tahu siapa itu. Yahhh siapa lagi kalau bukan Chanyeol.
Aku segera beranjak keluar dari kamarku, dan keluar menghampiri Chanyeol didalam sana—mobil—.
Aku melangkah dengan padangan lurus ke depan, terlihat dari jarak aku berjalan dengannya yang sedang berada di mobil itu, ia menatapku dengan senyumnya yang membuat ia semakin tampan.
'klek'
Kubuka pintu mobil itu dan segera memasukinya, kupasang seat belt sebelum kembali menoleh padanya dan tersenyum, dia juga nampak tersenyum tapi tak satu katapun keluar dari bibirnya. Chanyeol memang selalu seperti ini tiap ditanggal 27 oktober ini, ia terlihat seperti namja yang benar-benar sangat polos yang hanya tersenyum manis, dan tak terlalu banyak bicara. Kupikir, aku suka ketika Chanyeol seperti ini, tapi bagiku terasa asing jika Chanyeol tak mengoceh seperti biasanya.
Chanyeol pun kembali fokus, segera ia melajukan mobilnya ketempat tujuan.
.
.
.
.
.
Tak pernah libur, itulah Jongin.
Jongin memang sosok yang tak pernah menyia-nyiakan waktunya, baginya waktu itu adalah uang. Ia bisa menghidupi dirinya dan keluarganya yang jauh disana—kampung halaman—nya dengan berkecukupan. Itu karna kerja kerasnya selama ini.
''jongin'' Jongin menoleh pada orang yang memanggilnya, namja dimple ternyata yang memanggilnya. Lay adalah teman kerjanya di cafe ini.
''apa kau sakit? Kulihat sedari tadi kau hanya berdiam diri disini, kupikir kau melamun'' Jongin hanya menggeleng.
''gwenchana'' jawabnya singkat sambil tersenyum simpul. Lay tahu Jongin sedang tidak apa, Lay memaklumi temannya yang satu ini, Jongin selalu berusaha menutupi masalah yang ia hadapi. Namun sesekali Jongin bercerita pada Lay, dan kali ini Lay menebak sesuatu yang sedang dipikirkan Jongin.
''adikmu lagi eum?'' tanya Lay hati-hati. Jongin refleks menoleh, dilihat tatapan sendu dan ia tertunduk, benar, pikiran Lay tepat.
Jika jongin seperti ini, Lay seperti merasa bersalah karna menanya seperti ini. rasa tak tega selalu hadir jika melihat Jongin yang seperti ini.
Jongin mengangkat kepalanya dan menoleh pada Lay, mencoba menyunggingkan kedua sudut bibirnya agar tersenyum dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Lay hanya mengangguk pelan dan tersenyum, tak ingin membuat Jongin lebih terlarut lagi dalam kesedihannya itu dan Lay lebih memilih pergi meninggalkan Jongin sendiri, sedangkan Jongin hanya menatap punggung Lay yang mulai menjauh berjalan meninggalkannya, kini ia hanya ingin sendiri.
Jongin kembali berdiam diri, namun segera ia menggelengkan kepalanya kuat bertekad tak ingin memikirkan hal ini dulu, pikirnya. Ia rasa ini adalah waktu kerja dan ia harus fokus terhadap kerjaannya ini. jongin segera berjalan ke dapur berniat untuk meneguk air agar pikirannya sedikit lebih tenang dan kemudian fokus untuk bekerja.
.
.
.
.
.
.
.
.
Namja tampan, tinggi, dan berkulit putih pucat tengah terduduk dan menunduk terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, namja itu Oh Sehun.
.
#Sehun POV
Inilah aku, Oh Sehun, Sehun. Seorang namja lemah, itu pikirku. Seorang namja yang tak pernah mendapatkan sebuah kebahagiaan yang layak. Aku selalu menjadi bahan pelampiasan kemarahan ayahku—kekerasan—. Karna pikirannya cukup terganggu semenjak ibu meninggal, ia menganggap semua itu beban, termasuk diriku, aku adalah anaknya juga dianggap beban hidupnya. Ibuku, pergi ke rumah Tuhan sejak aku menginjak usia 10 tahun. Dulu, keluargaku adalah keluarga sederhana yang sangat bahagia, dulu keluargaku adalah napasku, segalanya bagiku. Seakan-akan tanpa keluargaku yang bahagia itu, aku akan hancur dan memilih untuk mati. Selalu mengharapkan bahwa perpisahan itu tidak akan terjadi, aku tahu itu mustahil, sangat-sangat mustahil, namun apa salah jika aku berharap? Setidaknya aku bisa menikmati sebuah kebahagiaan keluarga sederhana hingga akhir hayatku. Saat ibu meninggal, rasa sakit terngiang disini, didadaku, pikiranku sangat sakit. Namun ada sosok seorang yang selalu bilang padaku jangan bersedih, kita semua akan berkumpul di Surga kelak dengan bahagia, sosok itu yang selalu ku rindukan, senyumannya membuatku nyaman, dia bilang walau tidak ada ibu lagi kita masih bisa menjadi keluarga sederhana dan bahagia tentunya. Aku selalu percaya kata-katanya, menaruh setiap kalimat itu dibenakku agar takkan pernah terlupakan sampai kapanpun.
Kupikir, kata-kata yang dilontarkannya itu sangat bertolak belakang pada kenyataan yang ada. Keluarga kami berantakan karna ayah seperti orang yang telah kehilangan akal sehatnya. Ayah menjadi tak peduli padaku dan dia—kakakku—. Ayah selalu bepergian hingga larut malam dengan keadaan mabuk. Rasanya tak sanggup jika harus terus-terusan tinggal bersama ayah, tapi sekeras apapun ayah padaku, ia tetap ayahku, aku menyayanginya, menyayangi keluargaku. Namun aku juga butuh dia, kakakku. Aku berpisah dengannya waktu tiga bulan setelah kepergian ibu, dan sampai sekarang aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Aku merindukanmu, dimana kau?
#Sehun end POV
.
.
Setetes air jatuh dipelupuk mata Sehun, sakit, sangat sakit jika mengingat hal itu. Belum lagi ia merindukan sosok sang kakak yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, ia membutuhkan kakaknya, ia ingin hidup bersama kakaknya.
Ia ingin seperti dulu, namun pikirnya itu mustahil. Hei ayolah Sehun, tak ada yang tidak mungkin. Tak ada yang tahu jika pada akhirnya kau akan mendapatkan kebahagiaan yang layak, Oh Sehun.
.
.
.
.
.
Laju mobil terasa melambat karna Baekhyun dan Chanyeol telah sampai kepada tempat tujuannya dan kini Chanyeol sedang memarkirkan mobilnya disalah satu sisi tempat tersebut. Baekhyun sudah cukup merasa familiar dengan tempat ini karna setiap tahun Chanyeol membawanya ke tempat ini. baekhyun dan chanyeol turun dari mobil, Chanyeol memandang Baekhyun dengan tersenyum kemudian meraih tangan Baekhyun dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang rangkaian bunga yang indah dan Chanyeol berjalan menuntun Baekhyun yang ada dibelakangnya.
Tempat ini, sebuah tempat keramat. Dimana Baekhyun akan melihat Chanyeol berbicara, tertawa, dan menangis sendirian sesekali Baekhyun diajak bicara dengan Chanyeol. tapi Baekhyun mengerti dengan semua ini. ia pasti sangat merindukan sosok ibunya yang telah lama meninggal itu, ya,, kini Baekhyun dan Chanyeol tengah berada disebuah tempat pemakaman. Kenapa? Tentu saja untuk berziarah, mendatangi tempat dimana ibu Chanyeol dimakamkan, tepat ditanggal 27 oktober ini.
Chanyeol dan Baekhyun tengah sampai tepat didepan makam itu, Chanyeol melepaskan genggamannya pada tangan Baekhyun, Chanyeol terduduk dengan lututnya sambil tersenyum miris. Baekhyun hanya berdiri diam ditempat tepat disamping Chanyeol. chanyeol mendekati batu nisan itu, dan mengusap perlahan batu nisan itu dengan penuh perasaan yang berarti di setiap usapannya itu.
Chanyeol menaruh rangkaian bunga mawar merah muda yang indah itu pada makam ibunya.
''aku membawakan ini, kesukaanmu bukan? Aku takkan pernah melupakan sedikit tentangmu, semuanya yang ada pada dirimu, ibu'' jawabnya pelan ketika menyebut kalimat ibu.
Baekhyun masih terdiam diri, benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, ia takut serba salah karna sekarang Chanyeol tengah memulai adegannya untuk berbicara sendiri, lebih tepatnya berbicara pada makam ibunya itu. Dan baekhyun memutuskan untuk diam , menunggu Chanyeol mengeluarkan semua rasa kerinduannya pada sosok ibunya itu. Sesekali air mata Baekhyun akan keluar jika mendengar tiap-tiap kata yang keluar dari mulut Chanyeol itu sangat pedih rasanya, Baekhyun saja yang hanya mendengarnya merasakan pedih, bagaimana dengan Chanyeol yang merasakan hal itu? Oh tidak, apa dia menderita dengan ini semua?
.
.
''ibu'' panggilnya pada makam itu.
''aku bersama Baekhyun, seperti biasa'' Baekhyun menatap Chanyeol sedikit heran, karna tidak biasanya Chanyeol akan memberitahu dengan siapa Chanyeol ke makam ini diawal pembicaraannya. Baekhyun tak ingin berbicara, ia memilih untuk mendengarkan selanjutnya apa yang akan keluar dari mulut Chanyeol.
''hidupku terasa lebih baik dengannya, dia telah merubah hidupku bu. Aku yang terpuruk karna kepergianmu, dan appa yang selalu bepergian meninggalkanku hanya karna bisnis-bisnisnya yang appa anggap lebih penting dibandingkan aku, anaknya. Hidup sendiri di rumah sebesar itu sangat menyakitkan bu, walaupun banyak pelayan tapi itu kurang sempurna bagi hidupku. Kupikir jika aku suruh memilih antara hidup dirumah mewah dengan rumah yang biasa-biasa saja, aku akan memilih yang biasa-biasa saja selama itu bisa membuatku bahagia. Bahkan jika aku memilih rumah yang biasa itu namun tidak mendapat kebahagiaan, itu tak apa selama..'' Chanyeol memberi jeda pada kalimatnya, berpaling menatap Baekhyun dan tersenyum, sembari meraih tangan Baekhyun agar terduduk juga disampingnya.
''apa?'' tanya Baekhyun heran. Chanyeol memalingkan pandangannya kembali ke makam ibunya.
''selama aku bersamanya bu, Baekhyun. Didekatnya itu membuatku jauh merasa mendapatkan kebahagiaan yang layak'' ucapnya dan itu benar-benar membuat Baekhyun melebarkan matanya, dan benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Chanyeol. chanyeol mengerti dari tatapan Baekhyun yang tengah kebingungan, tak paham apa yang Chanyeol maksut. Ah, Baekhyun memang tidak pernah peka errr.
Chanyeol menghela napasnya kecewa, dan bertanya pada Baekhyun.
''kau tidak mengerti?'' tanya Chanyeol pada Baekhyun. Baekhyun menjawab dengan cepat ''aku mengerti'' jawabnya sambil tersenyum. Dan itu benar-benar membuat Chanyeol senang dan menyunggingkan senyumnya yang menampakkan deretan gigi rapi putih itu~
''kau benar-benar mengertikan?'' tanyanya mencoba meyakinkan kembali bahwa ia tak salah dengar, Baekhyun mengerti maksutnya, uwoahh. Baekhyun kembali menatap Chanyeol heran, dan kemudian ia mengangguk cepat menandakan bahwa ia mengerti.
Chanyeol, dia rasanya ingin teriak sekarang juga tapi ia cukup sadar diri ia sedang berada dimana sekarang.
''apa yang kau mengerti eum? Apa yang ada dipikiranmu hingga kau mengerti tiap ucapanku tadi?'' tanya Chanyeol sambil tersenyum lebar. Dan Baekhyun membalas senyuman itu, membuat Chanyeol tambah senang~
''kau pikir aku bodoh? Sampai-sampai tidak mengerti apa maksutmu hah'' jawabnya.
''ayolah cepat ucapkan''
''aku tahu kau merindukan ibumu'' ucapnya, ohh ayolah Baekhyun langsung keintinya saja byunnnn, gerutu Chanyeol dalam hati.
''kau kesepian karna ayahmu bekerja terus, kau tidak merasa nyaman dengan pelayan-pelayanmu itu kan?'' tanya Baekhyun dan Chanyeol menangguk. ''lalu, kau tidak ingin tinggal dirumah mewahmu itu karna tidak ada kebahagiaan didalamnya'' Chanyeol mengangguk lagi. ''dan kau ingin tinggal dirumah sederhana''
''lalu?'' tanya Chanyeol penasaran.
''kau ingin tinggal bersamaku?'' tanya Baekhyun kini. Dan Chanyeol mengangguk mantap.
''baiklah, aku tidak tega melihatmu hidup kesepian seperti itu. Nanti akan kutanyakan pada eomma apa kau boleh tinggal dirumahku atau tidak. Kau bisa menganggap eommaku sebagai eommamu juga Chanyeol, kita akan menjadi saudara benar-benar. Aku tak menyangka haha, memiliki saudara konyol sepertimu'''
Tek
Tekz
POTEKZZZZ
Senyuman Chanyeol luntur begitu saja, sekali Baekhyun tetap Baekhyun, Baekhyun yang tidak pernah peka, rasanya ia ingin berteriak
BAEKHYUN! KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENGERTI TIAP KATA YANG KU MAKSUT?! AKU MENCINTAIMU BYUN BAEKHYUN! AKU INGIN MENIKAH DENGANMU KELAK! HIDUP DIRUMAH SEDERHANA TAPI BAHAGIA, BAHKAN MENDERITA-PUN TAK APA SELAMA MASIH BERSAMAMU BAEKHYUN! ITU MAKSUTKU! TAPI KENAPA KAU MALAH BERPIKIR AKU INGIN TINGGAL DIRUMAHMU, MENGANGGAP EOMMAMU ADALAH EOMMAKU? AH ITU TAK APA, AKU JUSTRU MENGINGINKANNYA TAPI KENAPA HARUS MENGANGGAPKU SAUDARA? BISAKAH KAU ANGGAP AKU SEBAGAI KEKASIHMU BAHKAN SUAMIMU HAH?!
''chanyeol?'' Baekhyun memanggil Chanyeol sembari menggoyangkan lengan Chanyeol karna Baekhyun tahu kalau Chanyeol sedang melamun dan ia mencoba menyadarkan lamunan Chanyeol karna yang benar saja, ini adalah makam. Kalau Chanyeol tiba-tiba kerasukan bagaimana? Matilah kau byun baekhyun,. Pikirnya sendiri tapi Baekhyun segera menghilangkan semua pikiran negatifnya itu. Tak ada sahutan dari Chanyeol, Baekhyun kembali memanggil sembari menggoyang-goyangkan lengan Chanyeol lagi.
''chanyeol! jawab aku! Kau membuatku takut'' ucap Baekhyun kali ini dengan nada yang cukup tinggi. Chanyeol tersadar akan teriakan baekhyun dan segera memfokuskan pikirannya kembali. Chanyeol masih bergeming dalam diam, sesekali menoleh Baekhyun walau hanya sekilas. Ia pun berdiri dan Baekhyun hanya memandang Chanyeol yang telah berdiri dengan kerutan didahinya, heran.
Chanyeol mengulurkan tangannya pada Baekhyun, menurutnya Baekhyun juga bodoh, tak adakah terlintas dipikirannya sedikit? Chanyeol sudah berdiri, tapi Baekhyun masih terduduk dibawah, haisss Baekhyun, gerutu Chanyeol dalam hati.
''mau kemana?'' tanya Baekhyun polos~ chanyeol menghela napasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan baekhyun. ''kajja kita pergi'' ucap Chanyeol cepat.
Baekhyun heran, tak biasanya Chanyeol seperti ini, di tanggal ini. Baekhyun tak ingin bertanya lebih lanjut disini, mungkin nanti di mobil atau dimana itu yang penting ia harus menanyakan tentang ini karna menurut Baekhyun ini cukup aneh.
Baekhyun pun menerima uluran tangan Chanyeol dan berdiri, chanyeol berjalan lebih dulu menuntun Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
28 OKTOBER~
Baekhyun kembali terduduk seperti biasa dibangku panjang, di danau. Dengan headshet ditelinganya mendengarkan lagu, memutar lagu kesukaannya 'My turn to cry' by Exo. Sesekali ia ikut bernyanyi terlarut dalam lirik-lirik lagu tersebut.
Untung saja hari ini pulang cepat, sehingga dia mungkin bisa agak lebih lama disini, Chanyeol? seperti biasa, latihan basket karna yang Baekhyun tahu bahwa team Chanyeol akan mengikuti kompetisi basket.
Baekhyun kembali terhanyut pada lagu-lagu yang tengah diputarnya, melupakan sejenak semuanya yang ada didunia nyatanya itu. Baekhyun terdiam tetapi matanya bermain kesana kemari, melirik sekitar, ternyata jika terlalu lama apalagi sendiri, itu membosankan.
Baekhyun menghentikan lagu yang diputarnya, melepaskan headshet yang terpasang ditelinganya dan memasukannya. Baekhyun berdiri meninggalkan danau, Baekhyun tidak ingin pulang dulu, ia memutuskan untuk menghampiri Chanyeol yang saat ini sedang berlatih bersama teman-temannya.
Berjalan pelan sembari menelusuri perlahan isi sekolahnya, dilihat jam yang tersangkut ditanganya jam tiga (waktu korea). Seharusnya chanyeol memang sudah selesai latihan, pikirnya.
Ia malas jika harus menghampiri Chanyeol sebenernya karna banyak teman-temannya itu. Jadi, baekhyun akan menunggunya dibelakang halaman sekolah, cukup menarik pikirnya, karna sudah agak lama ia tak kesitu. Dan juga ia akan mengirim pesan pada chanyeol bahwa ia menunggunya dihalaman belakang.
Baekhyun berjalan ke halaman belakang sambil memandangi ponselnya karna ia tengah mengetik pesan untuk dikirimkan pada Chanyeol.
''send'' ucapnya sendiri sembari mengirim pesan tersebut dengan kontak bernama Chanyeol
Ia melaju kali ini lebih cepat agar cepat sampai ketempat tujuannya. Saat tengah sedikit lagi sampai pada tempat tersebut, Baekhyun melihat sosok orang dihalaman belakang itu. Baekhyun menyipitkan matanya lebih sipit dari sebelumnya, dilihat tak hanya satu orang, tetapi dua orang. Baekhyun penasaran, apa yang sedang dilakukan mereka? Pacaran? Dihalaman belakang? Sungguh tak elit, pikir Baekhyun.
Ia melangkah mendekat, rasanya sosok itu cukup familiar dipenglihatannya, ia kembali berjalan dengan tempo cepat namun perlahan, memastikan siapa mereka itu. Jarak kini mungkin hanya sepulu meter dari pandangannya, dan dirasa ia telah melihat cukup jelas, sekarang ia tahu siapa mereka.
''chanyeol?'' tanya Baekhyun sendiri, berhasil membuat kerutan didahinya.
Matanya kembali lepas dari sosok Chanyeol dan sekarang beralih pada sosok, 'yaTuhan bukankah itu orang yang belum lama aku lihat disekitar daerah rumahku?' batin Baekhyun.
Baekhyun masih takut salah mengira bahwa itu adalah namja yang waktu iu pernah bertemu dengannya, ia memperhatikan namja kulit putih pucat itu dengan seksama dari bawah hingga keatas, baekhyun kembali mengingat-ngingat ciri-ciri namja yang waktu itu pernah bertemu dengannya. Dan kali ini Baekhyun yakin, ia tak salah lihat, namja kulit putih pucat tinggi itu adalah orang yang tinggal tak jauh dari sekitar daerah rumahnya.
Sedang apa dia disini bersama Chanyeol? dia mengenal Chanyeol? terlihat seperti akrab. Bahkan yang Baekhyun tidak tahu adalah namja itu, namja kulit pucat itu bersekolah disini, ditempat yang sama dengan Baekhyun.
Baekhyun penasaran, ia pun kembali mendekatkan langkahnya pada Chanyeol dan dia, entah siapa itu Baekhyun tak tahu namanya. Namun rasanya, ia cukup menguping saja dibalik pohon yang mungkin hanya berjarak 3meter, ia menajamkan indera pendengarannya agar lebih jelas mendengarkan percakapan antara keduanya.
''sudah kubilang berapa kali padamu jangan seperti ini, kau mengangguku. Jika kau fansku, jadilah fans yang sewajarnya saja. Jika kau mencintaiku'' Chanyeol menjeda, dilihat namja putih yang tengah menunduk tiba-tiba mendongak dan menatap Chanyeol saat Chanyeol megucapkan kalimat 'mencintaiku'
''lupakan aku, karna—''
''karna kau hanya mencintainya kan?'' ucap namja putih itu sambil menyeringai kecil nan miris.
''iya memang, jadi lupakan aku Sehun'' jawab Chanyeol datar, sedikit agak tak tega karna walau Chanyeol bersikap seperti ini, dia masih mempunyai hati, ia paham perasaan seorang Sehun yang mencintainya, lalu Chanyeol bersikap seperti ini bahkan menyuruh Sehun untuk melupakannya itu pasti sangat menyakitkan bagi Sehun.
''mian Se—''
''aku memang tak pantas sepertinya mendapatkan sebuah kebahagiaan yang layak. Apa ini yang namanya hidup? Hidupku ini membuatku menderita, mati menyusul ibuku, itu sepertinya lebih baik, membuatku bahagia. Hidupku sudah terlalu sakit Chanyeol, aku mecintaimu, sangat. Kupikir aku bisa bahagia bersamamu kelak, tapi ternyata itu bertolak belakang dengan harapanku. Sesak chanyeol disini, didadaku'' ucap Sehun dan itu membuat Chanyeol merasa bersalah pada Sehun. Tetesan air mata Sehun mulai mengumpul dipelupuk matanya, rasanya sangat perih jika mengungkit kisah hidupnya. Chanyeol melihat itu semua, dia tak ingin sebenarnya membuat hati seseorang sakit karnanya, ia menjadi sangat merasa bersalah nantinya.
Chanyeol tak tahu harus berbuat apa sekarang, dia terus memperhatikan raut wajah Sehun yang tengah merasakan kepedihan disana didalam hatinya. Chanyeol menyeka air mata Sehun dengan ibu jarinya, dan meraih tubuh Sehun dalam pelukannya. Sehun menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Chanyeol, bisa dirasakan oleh Chanyeol napas Sehun yang berhembus tak teratur karna sesak mungkin. Chanyeol menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Sehun dengan perlahan.
''menangislah, aku bersalah. Maafkan aku Sehun, tapi aku memang tidak bisa berpaling darinya, mian sehun, mian'' ucap Chanyeol lirih tak tega dengan Sehun yang pasti terasa semakin sakit menusuk hatinya.
''d-dan jangan berpikiran untuk mati dulu, jalan hidupmu masih panjang. Kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat-sangat layak kelak, percayalah itu. Ibumu, dia juga pasti ingin melihatmu bahagia. Kau tahu? Banyak orang yang menyayangimu Sehun, aku juga menyayangimu. Apa yang kau rasakan itu sama sepertiku asal kau tahu saja itu tapi tak sama sekali pikiranku untuk mati dulu, karna masih banyak hal yang harus kulakukan untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan walau itu cukup sulit. Sudah ya, jangan menangis, kau ini namja sehun! Dan jangan katakan apapun tentang kau yang ingin mati, aku merinding mendengarnya, jika mati pilihanmu itu jalan yang salah Sehun'' ucap Chanyeol panjang lebar.
Napas Sehun mulai berhembus teratur, didalam sana, masih didalam pelukan Chanyeol ia terpejam dan meyakini bahwa semua kata yang dilontarkan Chanyeol itu adalah kekuatan baginya walau pada akhirnya ia juga yang harus merasakan sakit.
.
.
Baekhyun yang tengah mengupingpun ikut mengeluarkan benih-benih air dari matanya, sesakit itukah kehidupan orang itu? Eum, Sehun.
Sungguh kasihan, tak tega rasanya.
.
.
.
.
.
.
.
T to the B to the C
Tbc
.
.
.
Please baca A/N gue jangan diabaikan, disini gue nyoba ngobrol loh ya buat lebih akrab ama readers^^
A/N : hai? Rasanya gue tuh emang nyebelin ya! Update lama banget! Disini dep punya alesan yang jelas loh ya dan gak ngada-ngada. Alesannya karna, pertama dep bener-bener keabisan ide buat ff ini, tadinya mau di discontinued aja._.v tapi ga jadi. Bayangan ff ini jadi gaje disini nih diotak dep, awal bikin udah ngebayangin endingnya, eh sekarang malah ngeraguin ide pertama kali itu, itu semua gara-gara Chanyeol, agak salah kayanya dep ngejadiin dia cast di ff ini, karna dep bakalan terfokus ama Canyol+bekyon doang karna mereka emang couple dan cenyol emang bias dep, mungkin kalo ada luhan disini, ulala apalagi disini ada sehun, dep bakal ngejadiin mereka maen cast! Karna ane hunhan shipper dan biasnya si luhan ono noh.
Kedua, pasti taukan kalo seseorang membutuhkan mood yang baik jika melakukan sesuatu? Ya sama seperti dep, kehilangan mood menulis dan sebagainya sampe-sampe ide-ide ff buyarrrr~ sekarang aja lagi bad time, tapi nyoba nulis aja deh karna sebagaimanapun buntunya otak dep, dep bakal lanjutin karna dep ga pengen disebut orang yang ga tanggung jawab sama readers u,u apalagi reviewan yang dikit, hh ga masalah juga sih, prinsip dep disini itu tanggung jawab.
Ketiga, baru nyelesain UCUN 1 pas 17 feb kemarin, jadi harus fokus sama pelajaran waktu itu.
Dan demi apa dep bingung BANGET! Bingung!
INI ENDING KAIBAEK/CHANBAEK?
HARUSKAH DEP BIKIN
DEPBAEK / CHANDEP / KAIDEP / SEDEP ?!
Aduh sumpah ga enak banget ya, apalagi pas bagian sedep (sehun dep). Abaikan aja lah pokonya.
Mian yang nunggu kaibaek moment, buntu tau otaknya, tapi bakal diusahain next chap semoga kaibaek moment banyak, ga janji juga sih ya. Pokonya liat aja nanti gimana.
Eiya jangan panggil author, dep masih 99l masi bocah lahya, karna dep tau yang baca mungkin kebanyakan adalah kakak-kakak sekalian dan disini dep bener-bener masih belajar, belom pantes disebut yang namanya author. Masih banyak belajar dari orang-orang/kakak-kakak sekalian yang senior. So, panggil dep aja yaaa
Dan dep minta, yang baca tinggalin review. Review itu salah satu semangat dep buat ngelanjutin loh, jangan jadi silent readers yippp.
Sorry for typo, ga ngecek ulang, kalo ada bahasa yang kurang dipahami bilang aja direview, nanti nyoba ngejawab dibalesan review next chap.
Satu lagi nih, follow twitter bisa dong? Adevimln . itu twitter baru, twitter sebelumnya kena hack! Huhu sedihhh u,u ramein ya pelisss, masi sepi bgt tuh twitter. Mention aja ntar difollback kok, let's be friends. Tenkyuuu;)
*DEEP BOW*
Buat yang udah ngebuka hatinya dengan senang hati membaca ini, mereview, fav, follow, silent readers,
Belum bisa bales review, mian.
Terimakasih^^
