Sudah tiga hari Kagami tinggal di panti asuhan bersama anak pelangi, dan selama tiga hari itu lah dia mengenal betapa berbahayanya tinggal bersama mereka.
Together
All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi
Warning
OOC, Chibi!GoM, Chibi!Kagami, typo dan lain sebagainya
Chapter 2 -Turuti aku, atau sesuatu melayang-
"Aominecchi hentikan itu, ssu!" teriak Kise memandang pertengkaran kecil sahabat dan teman barunya itu.
Aomine melemparkan balok mainan ke wajah Kagami berkali-kali, membuat bocah bersurai merah gelap itu kesal. Satu hal dari beberapa sekian hal yang baru Kagami tau tentang panti asuhan ini_
_Aomine itu orang yang sangat menyebalkan.
"Lasakan itu Kagami! Siapa suluh menghina walna kulit olang." Bentak Aomine kesal, masih melemparkan balok mainan itu.
Kedua tangan mungil Kagami membentuk huruf 'X' di depan wajahnya, menghalau semua lemparan Aomine. "Kan kamu duluan yang ngatain alis mata ku. Masih mending belcabang, dali pada walna kulit yang item kayak gitu."
Aomine melemparkan baloknya lebih cepat.
"Aomine hentikan itu, nanti Kagamicchi bisa teluka ssu." Seru Kise yang masih geram melihat pertengakaran kecil kedua temannya.
Merasa diabaikan, Kise maju melangkah melindungi Kagami berharap Aomine menghentikan tindakan bodohnya itu. "Kalo Aominecchi enggak mau menghentikannya, bial aku yang ngelindungi Kagamicchi ssu!" seru Kise sok pahlawan. Tubuh mungilnya berdiri tegap di hadapan Kagami.
Kagami cengo. Aomine tambah cengo.
"Kise, aku enggak pelu dilindungin sama kamu. Kalo kamu yang kena aku enggak mau ikut campul ya." Ucap Kagami.
"Enggak apa-apa kok, Kaga_"
TUKK
Balok berbentuk kubus langsung terjatuh begitu saja setelah menabrak wajah manis Kise.
TUUKK TUUUKKK
Kini balok yang lainnya ikut berjatuhan ke lantai, tentunya setelah melewati wajah Kise.
"Minggil Kise, aku enggak peduli kamu disitu. Pokoknya kalo kamu enggak minggil, aku bakal ngelempalin telus." Paksa Aomine.
1 detik
5 detik
10 detik
"Hiks…hiks Aominecchi…hiks_"
Kagami sudah bersiap untuk menutup telinganya. Sedangkan Aomine terdiam setelah melihat cairan bening itu turun dari bola mata Kise.
"_Aominecchi menyebalkan ssu! Huweeee!" teriak Kise yang langsung terduduk sembari menangis.
Hal kedua yang Kagami tau, Kise orang yang baik tetapi sangat berisik.
.
.
.
.
.
"Huweee! Huweee!"
Kagami langsung menghampiri Aomine meminta pertanggung jawaban. "Minta maaflah ke kise, sekalang."
"Enggak mau, aku tidak belsalah." Bantah Aomine.
"Minta maaf!"
"Enggak mau!"
"Aomine!" Kagami tanpa ba-bi-bu lagi, mencubit kedua pipi Aomine kuat. "Ayo minta maaf, kalo enggak mau aku cubit."
"Sakit tau." Bentak Aomine yang langsung mencubit kedua pipi chubby Kagami. "Lasakan ini."
"Uwaa! Sa-sakit tau."
Dan pertengkaran kecil kembali dimulai dengan saling mencubit kedua pipi lawannya, mengabaikan Kise yang masih menangis.
"Kagami-kun, Aomine-kun, tolong hentikan tindakan bodoh kalian."
Sebuah suara, menghentikan kegiatan asik mereka. Butuh beberapa detik bagi Aomine dan Kagami memproses siapa yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut dan dari mana asalnya.
"Tetsu! Jangan dat_"
"Kuloko! Jangan muncul tiba-tiba kayak hantu begitu!" Lanjut Kagami yang tanpa sadar memeluk Aomine di hadapannya, karena kaget.
Aomine terdiam. Jantung nya berdetak cepat.
'Kagami memeluk ku?' Innernya.
Wajah Aomine terlihat seperti orang kesurupan, yang terdiam dengan tatapan kosong. Kuroko memandangnya dengan bingung.
"Maafkan aku. Tapi tindakan kalian sudah mengganggu yang lainnya." Ucapnya datar.
"Umm, maafkan aku Kuloko. Ini semua gala-gala si item ini." ucap Kagami yang langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Aomine. "Loh, Aomine kamu kenapa?"
Kagami bingung melihat wajah Aomine yang tiba-tiba berubah seperti itu. Diapun bertanya pada Kuroko. "Kuloko, kok muka Aomine jadi belwalna agak melah gitu ya? Apa dia demam?"
Kuroko berfikir kemungkinan yang ada, tapi dirinya juga tidak tau kenapa Aomine bisa berwajah seperti itu, jadi kemungkinan yang ada "Mungkin kalna Kagami-kun memeluk Aomine-kun dengan kuat, jadi dia enggak bisa belnapas."
"O-oh…" Kagami melepaskan pelukannya. "Aomine? Udah baikan? Sekalang kamu bisa belnapas kan?"
Aomine yang pada dasarnya masih belum kembali normal hanya mengangguk mengerti. Pada akhirnya karena bujukan -baca:paksaan- dari Kuroko, Aomine meminta maaf pada Kise dan masalahpun berakhir dengan bahagia.
Dan tentang misteri kenapa wajah Aomine yang berubah memerah seperti itu akan menjadi misteri sampai mereka dewasa.
Dan hal ketiga yang Kagami tau, Kuroko itu seperti hantu yang selalu muncul tiba-tiba.
[Bagi Cancer, supaya kalian bisa terhindar dari bahaya yang akan datang gunakanlah kaus kaki berwarna pink. Oke! Dan sepertinya Leo dan Virgo akan mengalami hal buruk hari ini. Jadi disarankan untuk mambawa boneka!]
Midorima mematikan radio kecil kesayangannya setelah mendengar ramalan keberuntungannya hari ini. Diapun bergegas menuju dapur untuk menemui Momoi yang lagi berusaha masak untuk makan malam mereka.
"Eh? Midorima-kun, ada perlu apa kesini? Berbahaya loh berada di dapur, hehe." Ucap Momoi yang lagi memadamkan api dari atas kompor.
Midorima memandang pemandangan di hadapannya ngeri. Ternyata makanan yang selama ini dia santap berasal dari proses yang begitu menyeramkan.
"Umm, apa kak Momoi punya kaus kaki dengan walna p-pink, nanodayo?" tanya Midorima malu.
"Ohh, apa itu buat lucky item mu hari ini?" tanya Momoi lembut, paham dengan kebiasaan Midorima.
Midorima mengangguk.
Momoi mengelus surai hijau Midorima lembut, sebelum bergegas menuju kamarnya sendiri. "Tunggulah di ruang makan, akan ku ambilkan kaus kaki ku."
.
.
.
.
.
.
Murasakibara yang sedang asik ngemil sembari menonton kartun di televise, menyadari sesosok warna yang aneh melintas di hadapannya.
"Loh? Midochin kok kamu pake kaus kaki yang walnanya kayak pelempuan gitu?" tanya Murasakibara.
Midorima membetulkan kacamatanya sebelum menatap Murasakibara. "Ini lucky item ku hali ini, nanodayo." Diapun melangkahkan kakinya meninggalkan Murasakibara. Tapi setelah beberapa langkah, Midorima kembali menghampiri Murasakibara.
"Ada apa?" tanya Murasakibara bingung.
Midorima tengah berfikir. Setau dia Leo itu bintangnya Kagami deh. Berarti hari ini Kagami akan mendapatkan sial. Kalau Virgo dia sudah hapal betul kalau itu bintang Aomine. Jangan tanya Midorima tau dari mana nama bintang mereka itu, karena hal yang berbau dengan ramalan pasti akan Midorima ketahui.
"Kamu punya dua boneka gak?"
Murasakibara kembali melahap cemilannya. "Kalau enggak salah, Kak Liko punya boneka yang dia taluh di luang makan."
Setelah mendengar hal tersebut, Midorima menuju ke sana dan mengambil boneka yang dibutuhkan.
"Hah? Aku enggak mau bawa-bawa boneka kayak gini. Emang aku pelempuan bawa bonek kelinci?" Dengus Aomine kesal.
"Kalo kamu enggak mau gak apa-apa, nonodayo. Tapi jangan salahkan aku kalo kamu tiba-tiba mati." Jawab Midorima enteng.
Pertengkaran kecil kembali terjadi, kini terjadi di kamar mereka. Midorima yang masuk dengan penampilan aneh sukses membuat Kise dan Aomine tertawa. Kuroko dan Murasakibara hanya diam, asik dengan dunianya masing-masing. Kagami cengo. Akashi diam tidak peduli.
"Untuk hali ini, jangan lepasin boneka ini kalo kamu enggak mau celaka, nanodayo." ucap Midorima sembari memberikan boneka beruang kepada Kagami. Boneka yang ukurannya tidak terlalu kecil maupun besar.
Kagami bingung menerimanya. "Umm, t-telima kasih." Diapun menatap Midorima meminta penjelasan lebih.
Midorima yang ditatap seperti itu langsung salah tingkah. "B-bukannya aku peduli sama kamu. Tapi aku cuma kasian kalo kamu ngalamin kesialan, nanodayo." jelasnya singkat. Terus apa bedanya Midorima?
Hal keempat yang Kagami tau, Midorima itu orang aneh pecinta ramalan.
"Hahaha, Kagami kamu pelcaya dengan lamalan bodoh itu?" seru Aomine sarkastik.
"Namanya Oha-asa, nanodayo." gumam Midorima pelan.
"Kamu belisik banget Aomine." Gerutu Kagami.
"Sekalang kan udah modeln, jadi aku enggak pelcaya dengan lamalan itu." Boneka kelinci yang Midorima berikan di lempar begitu saja oleh Aomine.
Kise yang melihat boneka kelinci yang tidak bersalah tergeletak di lantai, langsung dia pungut. "Kasian sekali boneka kelincinya ssu."
"Kamu belebihan Kise-kun." Gumam Kuroko.
Makan malam tiba. Mereka berenam kumpul di ruang makan diikuti Riko dan Momoi.
"Kagami-kun, bisa kau letakan boneka mu dulu selagi makan?" tanya Riko .
"Umm, tapi kata Midolima ini benda kebeluntungan ku supaya aku enggak kenapa-napa." Jelas Kagami.
"Eh kau percaya dengan ramalan bo_" Riko memandang Midorima yang menatapnya sinis. "_maksudku, bukankah bakal repot kalau kamu makan seperti itu?"
Kagami menggeleng, dieratkan pelukannya kepada boneka beruang itu. Sejak kapan kau percaya dengan ramalan Kagami?
"Cuma anak kecil yang pelcaya dengan lamalan." Gumam Aomine.
"Aomine-kun, kita semua masih anak kecil. Aku lasa, balu bebelapa hali lalu kamu bilang hal begitu." Jelas Kuroko datar.
"Kulochin benal. Ayo kita cepat makan, pelut ku sudah belbunyi dali tadi." Bola mata Murasakibara sedari tadi tidak lepas memandang makanan di atas meja. Tidak sabar menunggu aba-aba untuk makan.
Kagami yang melihat tingkah laku temannya langsung menarik suatu kesimpulan, Murasakibara orang yang suka sekali makan.
.
.
.
.
.
Entah kenapa melihat Kagami makan sembari memeluk boneka pemberian Midorima membuat Aomine kesal. Telur gulung dan sosis berbentuk gurita yang berada di piringnya, diabaikan saja olehnya. Bola matanya tidak lepas memandang Kagami yang lagi menikmati makannya.
BRAAKKK
"Kagami, boneka kamu itu mengganggu makan ku tau." Bentak Aomine tiba-tiba, sembari menggebrak meja makan.
Tanpa Aomine sadari sup miso yang sedang Akashi makan, terjatuh mengenai pakaiannya. Akashi terdiam.
BRAAKKKK
"Kok kamu malah-malah? Kalo makan ya makan aja, gak usah melhatiin olang." Bantah Kagami yang ikutan menggebrak meja.
Dan hal yang Kagami lakukan cukup membuat Akashi berubah ke mode berbahaya. Tanpa dia sadari, segelas air putih yang berada di meja Akashi jatuh mengenai pakaiannya. Membuat sang pemilik mengeluarkan aura hitam tanpa yang lain sadari.
"Gimana aku enggak ngeliatin kamu, kalo kamu duduknya di depan aku." Seru Aomine kesal.
"Yaudah, kamu pindah aja dali situ." Balas Kagami tidak mau kalah.
"Enggak bisa. Yang ada kamu tuh yang pindah dali situ. Ganggu pemandangan tau."
"Yaudah enggak usah ngeliatin a_" Ucapan Kagami terhenti setelah merasakan aura membunuh begitu kuat dari ujung meja makan. Dan tepat, Akashi bangkit dari bangkunya menuju dapur.
Kita tunggu beberapa detik.
Keadaan tiba-tiba saja hening. Tidak ada yang meneruskan makannya lagi, bahkan Murasakibara menunda makannya untuk menyaksikan apa yang terjadi.
Riko dan Momoi terlihat khawatir sekaligus takut. Tinggal bersama anak pelangi selama setengah tahun membuatnya paham sifat menakutkannya Akashi.
"Momoi, coba liat apa yang dilakukan Akashi di dapur." Ucap Riko tiba-tiba.
"Eh?! Kenapa aku? Kau saja yang lihat. Aku yang akan menjaga mereka disini." Momoi tersenyum ragu, tidak yakin dengan perkatannya.
"Bagaimana kalau kita berdua yang melihatnya?" usul Riko.
Momoi berfikir sebentar sebelum mengangguk setuju.
Mereka berdua mengendap-ngendap ke dapur, untuk melihat sang bocah merah. Sedangakan para pelangi yang ada di meja makan menatap khawatir sang pengasuh.
"Liko, Momoi! Jangan coba untuk membelhentikan ku."
Dan ucapan -baca:perintah- dari Akashi mampu membuat Riko dan Momoi berdiri terdiam di depan dapur. Kalimat tadi mampu menggambarkan betapa bahayanya Akashi saat ini. Sampai-sampia dia lupa memakan kata 'Kak' untuk menyebut nama mereka.
Aura hitam keluar dari dapur diikuti sang pemilik. Akashi Seijuuro keluar dari dapur sembari tersenyum dengan membawa sebuah gunting merah yang berhasil dia temukan di dalam dapur.
"Nah, Daiki, Taiga. Saatnya kita belmain belsama."
GLUP
Aomine dan Kagami langsung bangkit dari duduknya menyadari bahaya yang akan datang.
"Kagamicchi! Aominecchi! Lari ssu!" teriak Kise histeris.
Dan setelah Kise menyelesaikan kalimatnya, Akashi berjalan menghampiri Kagami terlebih dulu.
"Kenapa kalian lali? Bukannya kalian mengajakku belmain tadi?" ucap Akashi licik mendekati Kagami.
Midorima mencoba mendekati Akashi untuk menghentikannya. "Akashi hentikan itu. Itu belba_"
BRUUUKK
SYYUUUUTT
Midorima terjatuh karna terpeleset oleh licinnya lantai. Salahkan dirinya memakai kaus kaki pink Momoi yang memang licin. Tapi dengan dirinya yang terjatuh seperti itu, telah menyelamatkan hidupnya. Andai Midorima tidak jatuh, mungkin gunting tersebut sudah menancap di mukanya.
Bertepatan dengan larangan Midorima, Akashi memabalikan badannya untuk menodongkan guntingnya dan beberapa detik sebelum itu Midorima terjatuh. "Jangan coba kau mengehentikan ku juga, Shintalou."
Midorima sujud sukur. Oha-asa memang selalu benar. 'Oha-asa memang dewi ku, nanodayo.' Inner Midorima bersyukur.
Akashi kembali mendekati Kagami. Orang yang didekati terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"A-A-Akashi, jangan mainan gunting itu. B-belbahaya tau." Ucap Kagami gagap.
Akashi hanya tersenyum licik di wajah chubby nya itu.
"Aku halus menolong Kagami ssu!" Kise yang baru ingin menyelamatkan Kagami, langsung di hentikan oleh Kuroko. "Jangan kesana Kise-kun. Disana belbahaya. Aku enggak mau ada kolban lagi beljatuhan. Sekalang yang kita bisa lakukan, hanya beldoa untuk keselamatan meleka beldua."
Kise memandang Kuroko. Apa dia tidak salah lihat? Kuroko baru saja tersenyum iblis menikmati tontonannya. "Uwaa! Kulokocchi, kenapa kamu jadi menyelamkan ssu."
"Nah, Taiga kamu enggak bisa lali lagi sekalang." Ucap Akashi yang semakin dekat. Gunting yang sedari tadi dia bawa di lemparkan begitu saja ke arah Kagami.
"Kagamicchi!"
"Kagami-kun!"
.
.
.
.
.
JLEB!
Gunting merah tertancap tepat di perut sang boneka. Untung saja Kagami tepat waktu melindungi dirinya dengan boneka. Kalau tidak, mungkin sekarang dia akan di rumah sakit.
Akashi melangkah mendekati Kagami yang terdiam shock. "Wah, gunting ku meleset ya." Dia pun mengambil gunting yang tertancap di perut sang boneka.
"Nah Taiga." Ada jeda tiga detik untuk Akashi melanjutkan kalimatnya.
GLUP
"Dengalkan aku mulai sekalang. Kalna kamu masih balu disini, aku kasih tau satu pelatulan. Tuluti aku, atau sesuatu akan melayang ke wajahmu. Mengelti?"
Kagami memandang Akashi horror. 'Bos' yang dulu mengasuhnya saja kalah seramnya dengan Akashi. "B-B-B-B-B-Baik."
Akashi tersenyum senang. Pandangannya kini dialihkan ke Aomine yang sedang mojok dekat jendela.
"He-hei Akashi. Anak kecil enggak boleh bawa gunting kayak gitu, kalo ada yang ce-celaka gimana?" ucap Aomine.
Akashi tersenyum yang bagi Aomine adalah musibah.
Momoi dan Riko pingsan di tempat, setelah melihat gunting yang hampir membunuh anak asuh barunya itu. Murasakibara melanjutkan makannya dengan santai. Kuroko dan Kise, berdoa untuk keselamatan Aomine. Midorima menepuk punggung Kagami menenangkan.
"Midolima, mulai sekalang aku pelcaya dengan Oha-asa mu." Gumam Kagami.
"Memang Oha-asa selalu benal, nanodayo." balasnya.
Kita kembali ke Akashi yang semakin lama mendekati Aomine. "Daiki, sepeltinya aku halus mendidik sifatmu itu."
"Jangan belcanda Akashi, kita kan masih kecil dan belalti sifat kita ini memang masih anak-anak."
JLEB!
TRAK!
Sebuah gunting kembali melayang dan sekarang menancap di kaca jendela sehingga kaca tersebut retak.
"Sudah aku katakan belkali-kali Daiki. Jangan meninggikan sualamu di hadapanku."
Gunting yang hanya beberapa senti dari kepala Aomine, langsung membuatnya diam tidak berkutik.
"Hali ini kamu aku maafkan."
Akashi meninggalkan ruangan itu dengan tenang. Sedangkan Aomine jatuh terduduk bagaikan mayat hidup. Kise dan Kuroko menghampiri Aomine.
"Kise-kun kita halus beldoa supaya alwah Aomine-kun tenang." Ucap Kuroko datar.
Kise mengangguk, dia pun meletakan boneka kelinci di pangkuan Aomine.
"Semoga Aomine-kun/Aominecchi tenang di alam sana." Ucap mereka berdua bersamaan.
"SIAPA YANG KALIAN ANGGAP MATI?! " teriak Aomine frustasi.
Dan malam itu, Aomine dan Kagami mengalami mimpi buruk yang sangat buruk yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup.
Hal terakhir yang Kagami ketahui tentang teman barunya. Akashi orang yang SANGAT menyeramkan, sampai di mimpi pun tetap menyeramkan.
Chapter dua selesai~
Author notes : Kok panjang ya chapter ini?._.
Pertama-tama Leavi mo ngucapin makasih yang udah mau review, nge-fav atau follow cerita ini dan silent reader XD
Terus gomen karena kesalahan zodiak midorima di chapter satu kemarin, sankyu buat VilettaOnyxLV yang udah ngasih tau :D
Dan chapter kedua ini kok kayaknya makin aneh ya? Disini Leavi cuma ngasih hints pair aja, dan reader lah yang menentukan ini genre friendship atau romance.
Gomen, kalo makin aneh.
Update lanjutannya setelah UN selesei, oke!
Review Chapter 3 -Tahun ajaran baru? Masuk TK?-
"Kalian akan masuk TK!" / "TK itu apa?"/ "Ta-da~ ini baju baru kalian masuk TK!"/ "Kita akan belajal belsama ssu!" / "Perkenalkan diri kalian masing-masing." /
Akhir kata, Review?
