Pagi hari di panti asuhan Rainbow, para bocah warna-warni sedang sibuk melakukan aktivitas barunya. Sudah seminggu merasakan yang namanya bersekolah di taman kanak-kanak, tetap saja mereka belum terbiasa untuk bangun pagi.

"Wah! Tempat pensil ku kok ilang ssu?" Keributan awal dimulai dari Kise yang sibuk mondar mandir mencari tempat pensilnya.

"Umm, ada yang liat snack ku nggak?" dan barusan itu Murasakibara yang terdiam melihat isi kulkas yang kosong.

"Kemalin malam, kamu balu aja ngabisin snacknya Mulasakibala-kun." Jawab Kuroko datar.

Wajah Murasakibara berubah sedih. 'Aku minta sama Kak Liko aja deh nanti.'

"Kuloko! Semalem kamu tau nggak aku nalo buku tulis dimana?" tanya Kagami, karena semalem mereka habis belajar bersama. Yaa, kali aja Kuroko tau gitu.

"Aku enggak tau Kagami-kun. Seingat ku kemalin kamu udah masukin bukunya ke dalam tas kok."

Kagami langsung menghampiri tasnya yang tergeletak dan melihat isinya. Ta-da~ buku yang dicari ternyata ada di dalam tas. Kagami langsung tersenyum kagum pada Kuroko. "Wahhh! Kamu hebat Kuloko! Bisa tau bukunya ada di dalam tas."

'Kamu aja yang pikun Kagami-kun.' Batin Kuroko pasrah.

Dan yang paling berisik adalah Aomine.

"Gyaahh! Kenapa semua balang-balang ku yang ada di tas ilang?" teriaknya frustasi. "Tetsu! Kamu pasti yang nyembunyiin semuanya pake kekuatanmu ya?" tuduhnya.

Hah?!

"Aku enggak mengelti maksud Aomine-kun." Jawab Kuroko polos.

"Kamu enggak usah bohong Tetsu. Kamu kan suka menghilang tiba-tiba tuh, pasti balang ku yang menghilang tiba-tiba ini juga gala-gala kamu." Jelas Aomine.

'Terus apa hubungannya?'

Kuroko sweatdrop. Sebenarnya Kuroko tidak terlalu mengerti maskud Aomine. Tapi ya sudahlah. "Aku enggak ngambil balang-balang mu Aomine-kun."

Sedangkan Kise yang mengerti maksud Aomine, ikut-ikutan berpikir kalau Kuroko yang menyembunyikan tempat pensilnya. 'Masa Kulokocchi yang menghilangkannya ssu?'

Aomine langsung memandang Kagami menyelidik. Kagami yang sadar, langsung memandang Aomine balik. "Apa liat-liat? Aku enggak ngambil balang kamu. Sumpah" ucap Kagami sembari membentuk huruf V dengan jarinya.

Aomine menghampiri Kise yang lagi sibuk mencari tempat pensilnya. "Kise, kamu yang ngambil balang ku ya?"

"Apaan si Aominecchi. Tempat pensil ku aja ilang, ngapain aku ngilangin punyamu juga ssu!" balas Kise kesal.

Terus siapa yang ngambil dong?

Aomine memandang Murasakibara. Dia pasti tidak melakukan hal itu. Setau Aomine, dipikiran Murasakibara itu hanya makanan.

Selanjutnya Midorima. Midorima orangnya enggak iseng, jadi bukan dia. Tapi kok mukanya aneh gitu ya?

Akashi? Cukup! Aomine tidak mau menuduh Akashi. Terakhir yang Aomine tau, gara-gara Midorima menuduh mimpi buruk Kise adalah Akashi, kacamatanya retak tiba-tiba. Memikirkan yang terjadi nanti saja sudah membuat dirinya merinding.

"Telus, balang-balang ku dimana dong?" gumam Aomine.

Kini giliran Akashi yang beraksi. "Bukannya kemalin kamu sendili yang ngelempalin balang-balang mu Daiki? Kemalin kan kamu ngambek."

Perkataan Akashi langsung membuat ingatan yang sempat hilang sesaat dari bocah pelangi itu, muncul kembali.

"Ah aku balu ingat. Kemalin kan Minechin malah-malah nggak jelas ya?" ucap Murasakibara.

"Iya iya! Aku ingat ssu! Gala-gala kemalin Kak Momoi salah bawain bekal buat Aominecchi itu kan?" sahut Kise girang.

"Oh yang kemalin Aomine-kun nangis terus diliatin teman-teman sekelas ya?" ucap Kuroko datar.

"Oh yang itu! Pas pulang kemalin Aomine malah-malah ke Kak Momoi, telus ngebelantakin isi tasnya. Iyakan Akashi?" jelas Kagami.

Akashi mengangguk bangga. "Kalian telnyata pintal."

Aomine terdiam. Butuh beberapa detik agar ingatan Aomine bisa mengingat kejadian kemarin siang.

.

.

.

.

.

"Ah! Yang itu? Aku enggak nangis kok! Benelan deh. I-itu aku ke-kemasukan debu. Iya! kemasukan debu." ucap Aomine. Mukanya tanpa sadar memerah menahan malu.

Temannya-temannya yang sadar tidak membiarkan kesempatan emas ini untuk mem-bully Aomine. Kan biasanya Aomine tuh yang suka nge-bully.

"Muka Aominecchi melah ssu! Hahaha.." sahut Kise.

"Kamu udah kayak pelempuan aja, Aomine-kun." Ucap Kuroko ikut-ikutan.

Tapi ada satu orang yang tidak ikut dalam pembicaraan itu. Midorima tengah duduk di pojok ruangan, memandang teman-temannya. "Meleka tellihat senang sekali, nodayo." Ucap Midorima sembari membetulkan kacamatanya.

Entah kenapa melihat kesenangan temannya itu ada sedikit rasa kesal di dalam hatinya. "Apa meleka engga ingat kalau aku ulang tahun?" gumamnya. "Bahkan sekalang ini udah lewat bebelapa hali dali waktu sehalusnya, nodayo."


Together

All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi

Warning

OOC, Chibi!GoM, Chibi!Kagami, typo dan lain sebagainya


Chapter 4 -Midorima ulang tahun? Masa kami lupa?-

Setelah semuanya beres dan memakai pakaian lengkap, mereka berkumpul di ruang tengah untuk sarapan pagi sebelum pergi ke TK. Kise sudah menemukan tempat pensilnya, yang ternyata ada di dalam tas Midorima entah bagaimana caranya. Aominepun sudah menemukan barang-barangnya yang disimpan oleh Momoi.

"Maafkan aku ya Dai-chan! Aku benar-benar tidak sengaja kemarin itu." Ucap Momoi tiba-tiba, masih merasa bersalah.

Beberapa bocah pelangi menutup melutnya dengan tangan mereka menahan tawa, kecuali Akashi, Murasakibara dan Midorima. Bahkan Kuroko yang terkenal datar itu juga ikut-ikutan menahan tawa. Aomine langsung memandang tajam teman-temannya itu. 'Awas kalian!'

"E-enggak apa-apa. A-aku udah nggak malah lagi kok." Jawab Aomine malu.

"Benarkah? wah! Sebagai gantinya aku akan memasak ayam teriyaki untuk makan malam kita." Sahut Momoi senang. Aomine yang mendengar itu tanpa sadar tersenyum senang.

"Hah, habisnya kenapa kau bisa sampai salah memasukan bekal untuk Imayoshi dan Aomine si?" tanya Riko penasaran.

"Te-he~ Aku mengantuk si." Jawab Momoi polos.

GUBRAK!

Gara-gara kemarin Momoi salah memasukan bekal untuk Aomine, dia jadi harus memakan makanan yang tidak dia sukai. Makanan yang seharusnya untuk Imayoshi itu di penuhi dengan sayur mayur dan beberapa makanan yang pahit. Kalau dia tidak dinasihati oleh sang guru untuk tidak membuang-buang makanan, pasti Aomine tidak akan memakannya.

Jadi, dengan terpaksa dia memakannya. Dan tanpa dia sadari air matanya mengalir menahan rasa sayur mayur yang pahit. Karena itu, teman-temannya jadi menganggap Aomine menangis.

"Baiklah, ayo cepat. Kalian harus berangkat." Ucap Riko.

Dalam acara makannya, Midorima masih memikirkan ulang tahunnya. Bahkan Riko dan Momoi tidak ingat ulang tahunnya. Hah, menyedihkan sekali.

Akashi yang melihat gerak-gerik Midorima tersenyum tipis. 'Sepeltinya lencana ku belhasil. Fufufu..'

xxxxx

Di TK Midorima terlihat lesu. Bahkan dia lupa membawa lucky item-nya.

"Midolimacchi, kok mukanya sedih gitu." Tanya Kise menghampiri Midorima yang tengah duduk sendirian.

"E-engga apa-apa nodayo." Jawab Midorima. Kise tersenyum lucu.

"Pasti ada yang kamu sembunyiin ya?" tanya Kise lagi.

Midorima membenarkan kacamatanya. Apa sebaikanya dia tanya ke Kise saja ya? Tapi nanti dikira ke ge-eran lagi. Tapi Midorima penasaran kenapa temannya tidak ingat? Kalau Kagami si, Midorima maklumi. Diakan anak baru.

"Umm, Kise?" Tanya Midorima ragu-ragu.

"Kenapa Midolimacchi?"

Tanya nggak ya?

"T-tanggal 7 Juli itu, h-hari apa, nodayo?"

Gotcha! Kise tertawa dalam hati, berpura-pura tidak tau.

"Hmm, itu kan hali Senin ssu!" sahut Kise senang.

JLEB

Hati Midorima terasa ditusuk pedang. Jawaban Kise tidak salah, malahan sangat tepat. 'Jadi benelan lupa ya?'

"I-iya kau benal." Jawab Midorima pelan.

Keadaan menjadi hening sesaat.

"Memangnya kenapa Midolima-kun, kamu nanyain tanggal itu?" ucap Kuroko tiba-tiba.

Dan di detik berikutnya, Kise memeluk Midorima, kaget karena kemunculan Kuroko yang tiba-tiba itu.

"Wuaaahh! Kulokocchi jahat ssu! Kalau aku mati gimana? Nanti di panti asuhan kan jadi sepi." Gerutu Kise sembari melepaskan pelukannya.

Kuroko membungkukan badannya. "Maaf Kise-kun. Tapi dali tadi aku ada disini sebelum kamu dateng."

Kacamata Midorima melorot. Kuroko sudah ada disitu sebelum Kise dateng? Tidak mungkin! Masa Midorima tidak sadar? Padahal dia sudah memakai kacamata. Abaikan yang barusan.

"K-kamu udah ada disini sebelum Kise dateng, nodayo?" tanya Midorima horror.

Kuroko mengangguk mantap.

Sepertinya Midorima harus menambah lensa kacamatanya.

"Jadi, kenapa dengan tanggal 7 Juli itu Midolima-kun?" tanya Kuroko masih penasaran.

"Aku cuma nanya aja. Soalnya aku lupa itu hali apa nodayo."

"Oh, kilain aku ada sesuatu." ucap Kuroko memancing.

Midorima tersentak mendengar kata 'sesuatu' dari mulut Kuroko. 'Apa mungkin dia ingat?'

.

.

.

.

.

.

.

.

Selagi Midorima sibuk dengan ke galauaannya. Di halaman TK, Akashi, Murasakibara, Aomine dan Kagami sedang berkumpul menjalankan rencananya. Kuroko dan Kise memang sengaja disuruh Akashi untuk menemani Midorima.

"Jadi lencana kita belhasil ya, Akachin?" tanya Murasakibara.

Akashi mengangguk. "Sepelti yang aku duga, Midolima enggak akan tahan dengan sikap tidak peduli kita. Dia pasti bingung kenapa kita enggak ingat sama ulang tahunnya."

"Ah ya? Memang ulang tahunnya kapan ya?" tanya Kagami polos.

Aomine menjitak pala Kagami. "Kan udah aku bilang tanggal 7 Juli tau!" dengus Aomine kesal.

Kagami kembali menjitak pala Aomine. "Kan aku lupa, nggak usah jitak juga dong."

Akashi langsung mengeluarkan jurus andalannya, tatapan maut. "Daiki? Taiga? Masih mau lanjut?"

Aomine dan Kagami menggeleng dengan cepat merasakan aura hitam yang hampir menyentuhnya.

"Jadi pas pulang nanti kita ninggalin Midolima nih?" tanya Aomine meyakinkan.

"Iya. Kak Liko dan Kak Momoi juga udah nyiapin kue di lumah. Nanti kita bikin kejutan pas Midolima balu pulang. Kalian ngelti?" Jelas Akashi.

Ketiganya mengangguk mengerti. Dimulailah rencananya.

xxxxx

Sesuai rencana yang tadi, Midorima ditinggal teman-temannya pulang. Karena mereka tidak ingin dianggap anak manja, sejak beberapa hari lalu Riko dan Momoi tidak pernah mengantar mereka atau menjemputnya. Jadilah Midorima pulang sendirian.

"Meleka tega sekali meninggalkan ku, nodayo." Gumamnya pelan, menyusuri jalan pulang. "Apa aku juga udah nggak dianggap teman meleka ya?"

Midorima bukan orang yang blak-blakan seperti Kise. Atau orang yang jujur seperti Kuroko. Karena itu, dia jadi bingung sendiri untuk mengungkapkan perasaannya.

Sebenarnya dia tidak peduli teman-temannya ingat dia ulang tahun atau tidak. Tapi melihat kenyataan teman-temannya tidak ada yang ingat, bahkan Riko dan Momoi, membuat perasaannya aneh.

"Aku nggak boleh sedih kalna hal ini. Lagipula kan ulang tahun itu nggak penting." Ucapnya pada diri sendiri. Kedua tangannya menggepal erat tali tasnya, berjalan menuju rumah.

xxxxx

Di lain tempat.

Setelah bocah pelangi pulang ke panti, kecuali Midorima, mereka dengan semangat membantu Riko dan Momoi menghias ruangan.

"Kak Momoi, balonnya udah aku tiup semua nih." Ucap Kuroko memberikan beberapa balon untuk ditempel di dinding.

"Bagus-bagus. Sini biar aku tempel di dinding." Sahut Momoi menerima balonnya.

"Kuenya keliatan enak. Aku boleh memakannya Kak Liko?" tanya Murasakibara polos.

"Tentu enak, karena ini spesial. Kamu boleh memakannya kok, tapi nanti kalau kita sudah merayakan ulang tahun Midorima ya?" jelas Riko. Murasakibara mengangguk mengerti.

Akashi yang biasanya tidak mau peduli, kini ikutan membantu Kuroko memotong kertas warna warni menjadi kecil untuk di masukan ke dalam bola yang sudah dimodifikasi. Nantinya bola tersebut akan terbuka kalau di tarik dan membuat kertas warna warni itu berjatuhan.

"Kagami? Kamu sudah membungkus kado-kadonya?" tanya Riko.

"Sudah, tapi kayaknya nggak telalu bagus." Gumam Kagami. Riko mengelus surai merah gelap Kagami. "Tidak apa-apa. Itu cukup."

"Wuah, Kak Momoi! Aominecchi gangguin aku mulu ssu!" sahut Kise kesal. Dia lagi merapikan ruang tengah agar terlihat lebih bagus.

"Dai-chan! Jangan mengganggu Kise-kun, kamu juga ikutan bantu dong." Sahut Momoi yang lagi masang bola kertas di dinding atas pintu.

Baru beberapa detik mereka selesai menghias. Pintu depan terbuka dengan munculnya bocah ijo, Midorima. "Aku pulang."

Murasakibara yang bertugas memperhatikan sekitar, berlari kecil menghampiri teman-temannya. "Midochin pulang." Bisiknya.

Riko dan Momoi yang mengerti langsung menyuruh semuanya untuk bersembunyi, bersiap memberikan kejutan. Momoi bersembunyi di balik pintu untuk menarik tali dari bola yang sudah berisi kertas itu.

"Kalau nanti Kak Momoi sudah menarik bolanya, kalian muncul terus langsung kasih kejutan ya?" jelas Riko dan diikuti anggukan para bocah.

.

.

.

.

.

"Kok sepi?" gumam Midorima bingung. Kayaknya tadi yang lainnya udah pulang duluan. Terus Momoi dan Riko dimana?

Midorima melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Alisnya terangkat bingung melihat pintu yang selalu terbuka itu, kini tertutup.

KRIEETT

Ketika Midorima melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Momoi langsung menarik tali, dan terbukalah bola itu menjadi dua bagian. Kertas warna warni yang sudah dipotong kecil berjatuhan layaknya hujan menimpa Midorima. Tapi ini beda. Hujan yang ini terlihat lebih indah di mata Midorima.

"Kejutan!" teriak semuanya.

Midorima terdiam kaget. Sejak kapan teman-temannya ada disini? Dan seterusnya, kejadian yang terjadi ini layaknya film yang diputar slow motion.

"Selamat ulang tahun Midolimacchi!" seru Kise memeluk Midorima.

"Selamat beltambah umul, Midolima-kun." Ucap Kuroko menghampiri Midorima.

"Selamat beltambah tua." Seru Aomine asal.

"Selamat ulang tahun, Midolima." Ucap Kagami.

"Midochin, jadi tua." Ucap Murasakibara ikut-ikutan Aomine.

Akashi maju menghampiri Midorima. "Semoga kejutan ini nggak mengecewakan kamu, selamat ulang tahun, Shintalou." Ucap Akashi.

Dan bodohnya Midorima masih terdiam membisu. Ini mimpi kan? Teman-temannya merayakan ulang tahunnya? Tapi bukannya mereka melupakannya?

Akashi yang mengerti apa yang dipikirkan Midorima, menepuk pundak temannya itu lembut. "Kami melayakan ulang tahun mu, Shintalou. Kami tidak melupakannya."

Perkataan Akashi sukses membuat perasaan Midorima senang. Sangat senang malah, sekaligus malu.

'Jadi selama ini aku belbuluk sangka sama meleka?' batin Midorima.

Riko dan Momoi yang melihat percakapan anak asuhnya tersenyum lucu. Mereka berdua membawa kue yang tidak terlalu besar. Di atas kue itu terdapat enam lilin, sebagai pertanda umur Midorima.

"Nah, Midorima ayo kita tiup lilinnya." Ucap Riko.

"Sebelum meniupnya, cobalah minta permohonan di dalam hati." Tambah Momoi.

Midorima yang masih memproses kejadian ini, jadi sedikit kaku. Dia sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata.

"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga! Sekarang~ Juga~ Sekarang~ Juga~" para bocah pelangi menyanyi diikuti Momoi dan Riko.

"Ayo Midolimacchi tiup lilinnya." Sahut Kise tidak sabar.

"Aku sudah lapal." Gumam Murasakibara.

Midorima menundukan palanya. 'Buat pelmohonan ya? Kalau gitu, aku mohon agal aku bisa belsama meleka selamanya. Bisa telus belsahabat dan belmain belsama Kak Momoi dan Kak Liko.' Pintanya.

Dan lilinnya yang menyala itu padam setelah ditiup Midorima. Tepuk tangan meriahpun mewarnai ruangan ini.

"Sekarang pemberian hadiah!" sahut Momoi senang.

Para bocah pelangi langsung mengambil hadiah mereka yang sudah dibungkus oleh Kagami. Sedangkan Midorima masih berdiri sembari menunduk, diam seribu bahasa.

"Midolimacchi! Ini hadiah dali ku ssu! Aku halap kamu suka." Seru Kise.

Midorima tidak membalas. "…" Kalau dipikir-pikir, Midorima belum bicara sama sekali dari tadi.

"Midolimacchi?"

"K-kenapa kalian melakukan ini?" gumam Midorima masih bisa didengar. Dia menunduk tidak berani memperlihatkan wajahnya.

"Eh? Ini kalna kami sayang sama Midolimacchi." Ucap Kise.

"Bukannya kalian nggak inget ulang tahunku?"

Akashi tersenyum tipis mendengar kalimat dari Midorima.

"Kami inget kok ssu!" seru Kise.

"T-tapi, dali kemalin kalian…." Ucap Midorima terputus.

"Kami mengingatnya Shintalou. Kami memang sengaja ingin ngeljain kamu, dengan pula-pula lupa hali ulang tahun kamu." Jelas Akashi.

"Akashi-kun benal, Midolima-kun. Kami cuma ingin tau leaksi dali kamu, kalau kami lupa. Telnyata Midolima-kun itu sensitive ya?" ucap Kuroko jujur.

Aliran air mengalir begitu saja dari bolamata Midorima. Kini dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang teman-temannya katakan nanti.

"Midochin kamu nangis?" tanya Murasakibara.

"Wah iya! Midolima kamu nangis? Hahaha…" ucap Aomine senang.

"Midolima-kun, kamu jadi OOC gitu." Ucap Kuroko datar.

"Aku nggak nyangka Midolima bakal OOC." Sahut Kagami.

"Shintalou, mode OOC." Ucap Akashi ikut-ikutan.

Midorima langsung mengusap air matanya itu. "A-aku nggak nangis, nodayo. A-aku cuma…aku cuma b-bahagia."

Mereka semua tersenyum melihat tingkah Midorima. Kise yang memulainya pertama kali memeluk Midorima, sebelum diikuti semuanya.

"Kita nggak bakal lupa satu sama lain ssu!" seru Kise.

"Itu benal Kise-kun." Balas Kuroko.

'T-terima kasih…' batin Midorima senang.

Perayaan ulang tahun Midorima yang sudah terlewat beberapa hari itu, berlangsung meriah. Murasakibara yang dari tadi tidak sabar ingin makan kue, langsung melahapnya setelah pemberian hadiah. Aomine dan Kagami kembali bertengkar karena hal sepele. Akashi dan Kuroko duduk manis menikamati suasana ulang tahun Midorima. Kise ikut membantu Midorima membuka kado. Sedangkan Riko dan Momoi tersenyum bahagia melihat anak asuhnya bahagia.

Dan tanpa sadar mereka bersenang-senang hingga malam hari.

Chapter empat selesai~


Balasan Riview

AoKagaKuroLover : Salam kenal juga, Ao :D (bingung mo manggil apa) Hmm sampe berapa ya? Leavi belum tau tuh..hehe. Kepikiran juga si mo bikin sampe mereka dewasa, tapi liat nanti deh.. Makasih review nya :)

Lawliet Vert : Aaahh, aku juga gak bosen baca riview kamu :D Kurang banyak ya? Ini sudah Leavi banyakin kok..hehe.. mereka memang manis dan terima kasih riviewnya :D

Eqa Skylight : Mereka memang imut..hehe.. ini sudah lanjut dan terima kasih riviewnya :)

KuroAmalia : Terima kasih riviewnya :)

Aoki : Leavi usahain deh…hehe,, kamu jeli benget! Leavi baru sadar kalau midorima enggak ada diperkenalan.. Terima kasih atas koreksi dan riviewnya :)

Letty-Chan19 : Rencananya nanti Leavi mo buat cerita kenapa Akashi jadi psycho :3 Ini sudah Leavi panjangin.. Oke, Leavi usahain deh.. Arigatou riviewnya :)

KUROUJI : Wah, Leavi gak sadar. Terima kasih koreksi dan riviewnya :)

Yuukio : Ini sudah dilanjut, terima kasih riviewnya :)

SNaizuki : Sama-sama gelap itu maksudnya XD Hehe, iya terima kasih riviewnya :)

Dan terima kasih yang udah follow, fav, riview dan silent rider yang udah baca, maaf kalau chapter ini kepanjangan atau garing atau lain sebagainya.

Chap ini special buat ulang tahun Midorima yang udah kelewat beberapa hari, gegara Leavi lupa..hehe

Ada yang merasa banyak OOC disini? Maaf ya, karena mereka masih kecil jadi Leavi pikir wajar kalau Midorima dan Aomine nangis..haha

Dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Akhir kata, riview?