Lycopersicon Esculentum Maniac

Chapter 2: Maniac vs Paranoid.

Disclaimer. Naruto berada sepenuhnya di tangan Masashi Kishimoto.

Story by. Reako Mizuumi.

Warning: Typo(s), rush, absurd, berlebihan, OOC, AU!.

.

.

Side Story of Solanum Lycopersicum Maniac

.

.

Rated T (+/++) for This Chapter.

Enjoy This!


Gemerlap cahaya lampu menyambut datangnya senja. Riuh suara ucapan selamat hampir tak terdengar lagi. Perlahan namun pasti, orang-orang di pesta itu berkurang jumlahnya. Yah meski masih terlihat beberapa tamu—yang entah diundang atau tidak—merampok makanan yang sudah disediakan.

'Hampir selesai, Sakura. Bersabarlah,' Runtuk Sakura dalam hati.

Dia sudah lelah bin penat untuk acara semacam ini. Sementara si Tuan Muda Uchiha tampak bersantai ria dengan Itachi-nii sambil sesekali melihat ke arahnya dan tersenyum meremehkan.

"Dasar ayam menyebalkan!"

Kaki jenjang perempuan berambut merah muda itu melangkah tanpa keraguan menuju suaminya. Dia pikir, laki-laki itu perlu dijewer agar sedikit saja menghargai isteri.

"Sasuke-kun!"

"Hn."

"Tamunya tidak pulang-pulang."

"Usir saja."

"Ck, kau ini!" Gerutu Sakura sambil melancarkan aksinya.

"Hei, aku sudah keren, apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke sambil menata kembali tatanan rambutnya. Salahkan Sakura yang tanpa sebab menjewer rambut keramatnya, bukan telinganya.

Sementara seorang Itachi hanya bisa memandang cengo adegan pengantin baru itu. Kenyataan pahit menamparnya keras-keras. Adiknya, seorang Uchiha Sasuke ternyata narsis.

"Apa yang salah? Kau cukup galak untuk melakukan itu."

"Aku lelahhh~" Ucap Sakura sambil merebahkan tubuhnya seenaknya di antara Sasuke dan Itachi.

"Hn. Masuk sekarang?" Pertanyaan Sasuke hanya dijawab anggukan lemah Sakura. Setidaknya, ia ingin sedikit...saja beristirahat.

"Ayo," Ajak Sasuke sambil mengulurkan tangannya mengajak Sakura berdiri. Sementara tangan satunya sibuk merogoh kantong celananya. Tak lama, keluarlah benda bulat berwarna merah yang membuat Sakura memutar bola matanya bosan. Tomat. Kapanpun dimanapun Sasuke tak akan lepas dari buah itu. Menurut kepercayaan yang dianut Sasuke, pepatah yang benar adalah sedia tomat sebelum kelaparan.

Sakura menyambut ajakan suaminya, lalu pasangan pengantin baru itu mulai berjalan menuju Mansion Uchiha—atau lebih tepatnya kamar mereka—yang terkenal akan kemewahan. Bibir Sakura tak henti-hentinya komat-kamit mengucap mantra dan doa, ia hanya berharap arti 'mewah' bagi Sasuke bukanlah kaya tomat, karena jika benar, bisa-bisa dia akan segera mati muda, kebosanan, namun tak penasaran. Pada akhirnya menjadi hantu yang bebas gentayangan.

"Selamat bersenang-senang, Sasu-chan!" Teriak Itachi seraya melambaikan tangan yang malah dibalas deathglare oleh sang adik. Bagi Sasuke, suffiks chan yang diucap Itachi adalah ajakan tak langsung untuk berperang. Gelut, jotos kiri lalu jotos kanan. Sekalipun ia setuju dengan maksud bersenang-senang yang diucapkan oleh Aniki-nya itu.


"Sasu?" Panggil Sakura di sela-sela perjalanan mereka ke mansion yang berjarak sekitar 100 meter.

"Hn."

"Apa kau tidak lelah?" Tanya Sakura yang sibuk menaikkan gaunnya agar tidak mengganggu tiap langkahnya, dan sepertinya Sasuke sama sekali tak berniat untuk membantu. Kesalahannya memang, tak berganti baju terlebih dahulu. Tapi siapa juga yang mau mengenakan dress selutut pilihan Sasuke yang penuh payet, pita, manik, dan hiasan—yang lagi-lagi—serba tomat. Kelebihan dress itu hanya harganya yang mahal, padahal dengan bahan yang seperti itu akan lumayan berat jika digunakan. Satu lagi, jangan lupakan belahan di dadanya yang terlalu panjang yang justru kata Sasuke akan memunculkan kesan seksi, sedikit nakal, dan menggoda. Semua itu sudah cukup bagi Sakura. Sungguh. Sangat. Menggelikan.

"Hn," Sasuke kembali hanya mengeluarkan dua huruf untuk menanggapi isterinya.

"Aih, kau ini kenapa tidak seru sih dari tadi? Iblis ayam sedang merasukimu?" Ujar Sakura yang mulai terpancing emosi. Salah kalau dibilang pertanyaannya sangat perhatian, karena di dalam benaknya kini sangat ingin mencincang dan menggoreng ayam berwujud manusia itu.

Hampir saja Sakura akan melakukan kekerasan dalam rumah tangga pertamanya, andai di depannya kini tak terdapat pintu mewah mansion. Tubuhnya seakan tersihir untuk tak bergerak. Membeku. Matanya beralih menatap kagum satu demi satu kekayaan Uchiha. Itu baru tampilan luar, dia belum pernah menginjakkan kaki di dalam karena Sasuke selama ini berkutat dengan salah satu apartemen—yang juga mewah—di tengah kota. Satu hal yang kini ada dipikirannya hanya, 'Memang tak heran, jika Uchiha bisa melakukan segalanya.'

"Ini sangat ke—" Belum selesai kalimat Sakura ucapkan, Sasuke yakin, isterinya itu pasti akan mulai memuji klannya. Setidaknya, itu benar-benar akan dilakukan Sakura sebelum matanya menangkap keberadaan benda asing di salah satu sudut halaman mansion. Deg. Dia melihatnya—karena ia sama sekali tak mengidap rabun senja, dengan sangat jelas dan tanpa gangguan sedikitpun—itu tomat! Sekerumunan pohon tomat dengan beberapa buah yang tampak menggantung. Berarti, itu kebun TOMAT, "—keterlaluan sekali kau ini Sasuke!"

Tangan kanan Sakura bergerak mencengkram kerah Sasuke sementara tangan lainnya menunjuk-nunjuk kebun kesayangannya, "Kau lihat? Itu tomat. Tomat, Sasu. ITU TOMAT!"

"..."

"Apa di sini ada juga peternakan AYAM? Ha?!"

Sasuke hanya menghela napas menghadapi sikap Sakura itu. Tidak bisakah dia bersikap wajar dan tidak histeris terhadap tomat, satu hari saja? Bahkan sepertinya itu mulai berpengaruh buruk otaknya. Sasuke, dan semua orang di dunia juga pasti tahu kalau yang ia tunjuk saat ini adalah tomat. Sasuke memang sudah tahu dari Ino tentang Sakura yang sewot sekali akan tomat. Tapi ia tak menyangka jiwa gadis itu terguncang sampai separah ini.

'Benar kata Si Nanas, dunia ini memang merepotkan. Untung sudah antisipasi,' Batin Sasuke sambil menyeringai lebar.

Dengan halus, Sasuke menepis tangan Sakura yang berada di kerah lehernya dan dengan satu gerakan cepat, ia telah menggendong isterinya itu ala bridal style.

"WHAT THE—APA YANG KAU LAKUKAN AYAM?" Teriak Sakura tepat di telinga Sasuke.

"Cerewet."

"Turunkan aku atau kubunuh tomat-tomatmu!" Ancam Sakura sambil berusaha melepaskan diri. Sementara Sasuke tak ambil pusing dengan perkataan Sakura itu. Dalam sekejap, ia meluncur cepat bak roket ke kamar mereka. Dia sedang terburu-buru dan tak bisa bersabar lagi.


Bruk.

Sakura dijatuhkan dengan tidak elit di atas kasur empuk berukuran king size.

"Dasar ayam kesurupan! Aku akan bilang ke Itachi-nii mansion ini butuh cenayang untuk mengusir makhluk halus sejenis kau," Sakura mulai mengoceh sendiri sambil menunjuk-nunjuk Sasuke yang sedang membelakanginya.

Dengan menggenggam secarik kertas—yang semula berada di saku—Sasuke membalikkan tubuhnya, "Ck, tanda tangan saja di sini."

"Untuk?"

"Dikirim pada Aniki, tanda aku tak butuh obat dan barang-barangnya untuk malam pertama dan seterusnya," Ucap Sasuke sejelas-jelasnya. Sementara Sakura terdiam memerah, kata-kata Sasuke cukup vulgar untuk ia terima.

Tanpa basa-basi, tangan gadis itu meraih kertas yang diberikan Sasuke dan dengan gemulai menuliskan signature-nya, "Hn, arigatou.. Hime."

Sasuke tersenyum puas. Ia merasa bangga bisa membuat Sakura menyetujui ide—gila kesayangan—nya. Antisipasinya.

Surat Perjanjian

Dengan ini menyatakan bahwa,

Nama: Uchiha (Haruno) Sakura

Umur: 23 tahun

Pekerjaan: Dokter

Bersedia dengan ikhlas dan rela menerima keberadaan tomat-tomat milik Sasuke Uchiha (selaku suaminya) dimanapun dan kapanpun tanpa syarat apa-apa.

Demikian surat ini dibuat dalam keadaan sesadar-sadarnya dan akan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Tertanda,

Sakura.

Sebagai isteri yang baik dan benar, Sakura menyadari ada yang aneh dengan Sasuke yang sedari tadi sibuk senyam-senyum gak jelas. Dengan gerakan cepat, ia merebut kertas bersejarah dari tangan suaminya itu.

"Kau—" Ucap Sakura sambil merobek-robek kertas berharga itu setelah membacanya dengan cepat. Mencincangnya habis tanpa sisa, "—buntut sialann!"

"Sayang sekali, hime. Kau selalu tertinggal satu langkah dari ku," Sasuke menyombongkan dirinya. Apalagi kalau bukan foto di ponselnya sekarang. Ditambah lagi terdapat keterangan sent to Uchiha Itachi di situ. Uchiha mustahil untuk dikalahkan adalah kalimat yang tepat untuk semua ini.

"KAMPRET KAU!" Sakura melancarkan serangan telunjuknya ke arah Sasuke di tambah sesekali menjambak rambutnya sendiri. Seharusnya ia tahu apa yang dipikirkan ayam itu. Seharusnya ia tidak jatuh ke pelukan buntut yang satu ini. Seharusnya ia menikahi seorang pangeran bukan ayam penggila tomat. Yah. Seharusnya. Sepertinya Kami-sama menyimpan dendam kesumat pada Sakura.

Sementara Sasuke tak mau ambil pusing dengan semua ulah Sakura. Toh ini juga sudah biasa.

"SASU—mmph," Sasuke berhasil membungkam Sakura dengan sebuah ciuman sebelum teriakan maut ke sekian kalinya terdengar.

"Bukankah ini waktunya bersenang-senang, hime," Bisik Sasuke pelan namun terkesan seksi di telinga Sakura sesaat setelah ia menyudahi ciuman—yang sama sekali tidak memuaskan—nya. Wajah Sakura pun mulai bereaksi menjadi merona.

Sebuah ciuman kembali dilanjutkan. Lebih hangat, lebih lembut, lebih mengekspresikan cinta. Panas. Sasuke tak sekedar mengabsen gigi-gigi gadis pink itu atau hanya membiarkan lidahnya bergelut di dalamnya. Tidak, dia mencoba merasakan sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang harus ia dapatkan. Cinta Sakura.

"S-sasu—"

Puas menghabiskan napasnya dalam buaian rongga kecil tempat pertukaran saliva itu, Sasuke tanpa ragu bergerak menelusuri kenikmatan yang lain. Dengan Sakura yang mengalungkan tangannya di leher Sasuke menjadi lampu hijau tersendiri. Ditambah lagi alunan desahan Sakura yang sangat melengkapi momen saat ini. Satu kissmark di leher tidak akan cukup, berjuta kissmark di tubuh tak akan berpengaruh untuk menandai miliknya. Sasuke tak akan puas bila hanya sekedar tanda, mulai malam ini Sakura harus dipastikan miliknya sepenuhnya.

Jemari Sasuke bergerak menurunkan lengan gaun pengantin Sakura. Tangannya mencoba menggapai sesuatu yang lain. Resleting. Membukanya dengan cepat lalu menurunkan gaun itu perlahan. Sementara indera pengecapnya tetap menjelajahi bagian-bagian Sakura yang lain.

"Ngh.. Sasuhh.."

Kini Sakura tengah memberikan pemandangan yang menarik bagi Sasuke. Apalagi kalau bukan tubuhnya yang tinggal berbalut bra dan celana dalam bermotif bunga sakura dengan warna senada. Sepertinya dia benar-benar membutuhkan sentuhan g-string Victoria Secret. Tapi apapun itu, kini si gadis sudah siap untuk diapa-apain. Kalau Sasuke adalah orang yang ileran, liurnya pasti sudah menetes sedari tadi.

Kegiatan itu terus berlangsung sepanjang malam. Tak peduli dinginnya semilir angin dari celah jendela yang menyentuh kulit mereka, selama berdua, mereka akan tetap didekap kehangatan. Mereka tidak malu pada bulan yang mengintip kebersamaan mereka. Karena sekali lagi, selama berdua, mereka bisa menjelma menjadi apa saja, termasuk...cinta. Malam ini, selama kejadian-kejadian ini, untuk pertama kalinya Sasuke menjauh dari tomat-tomatnya. Kamar mereka menjadi saksi bisunya. Itu menjadi secercah kebahagiaan tersendiri bagi Sakura. Karena semua cukup berdua. Hanya Sasuke dan Sakura.

"Watashi wa anata ga suki desu, hime.."

.

.

.

"Sasuke-kun…"

Kelelahan membuat mereka terlelap. Padahal jam dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Matahari akan segera menampakkan sinarnya. Tapi siapa yang peduli? kapanpun, baik siang maupun malam, mereka akan tetap diselimuti kasih sayang. Saling medekap, tak mau melepaskan. Yang orang-orang bilang memang benar, malam pertama, dan hari-hari setelahnya akan selalu menakjubkan. Apalagi kalau bukan karena dimulainya masa hidup bersama-sama.


"Ugh.." Sakura baru saja terbangun dan menyibakkan selimutnya. Keadaannya terlihat parah. Rambut berantakan sejenis orang terkena tegangan listrik beribu-ribu volt, kantung mata tercetak jelas, dan ruam-ruam merah di tubuhnya. Tunggu, dia—telanjang.

Sejenak dia terdiam, sampai dia mendapati orang berstatus suaminya menutup mata di sampingnya, "APA YANG KAU LAKUKAN AYAM?!"

Teriakan sekeras 188 desibel yang setara dengan satu juta kali suara mesin jet itu belum mampu membangunkan Uchiha di sebelahnya. Atau kemungkinan lainnya adalah, Uchiha Sasuke menderita tuli seketika.

"Sasu…" Panggil Sakura sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih terbuai dalam mimpi.

"…"

"Sasuke-kun~"

"…" Masih nihil. Sama sekali belum terdengar jawaban.

"Sasu~"

"…"

"Sasuke!"

"Berisik, jidat!" Ada satu hal yang Sasuke tidak pernah suka sedari dulu. Saat-saat dimana memeluk guling kesayangaannya dan tedampar di lautan kapuk seenaknya diganggu.

"Bangun atau kita. Cerai."

Mendengar kata keramat yang diucapkan Sakura, membuat Sasuke spontan terbangun, "Apa maumu?"

"Good boy. Kau lihat?" Tanya Sakura sambil mempertontonkan tubuhya. "Hasil kerjamu, buntut! Mengotori dam merusak keindahanku."

"Ck, bodoh! Kau masih saja terlihat cantik bahkan seksi di mataku."

"Ugh. Bullshit, ayam."

"Hn. Kau bisa membuktikan dengan yang menegang di sana." Ucap Sasuke sambil menunjuk ke arah miliknya. Jagoannya.

Sakura yang dalam keadaan terkejut makin shock dengan ciuman kecil di dahinya yang diberikan Sasuke tiba-tiba, "Ciuman untuk pagi ini."

Tak berhenti sampai di situ, Sasuke melanjutkan aksinya dengan sebuah bisikan, "Kau juga harus bertanggng jawab untuk yang di sana."

Sakura yang mengerti keadaannya dalam tahap siaga mulai dibanjiri keringat dingin. Iya jelas tahu apa yang dimaksud Sasuke. Tapi, setelah semalaman? Rasanya tidak mungkin. Itu gila. Uchiha memang gila.

"Tenang saja, kau akan mendapatkan hadiahmu besok atau mungkin lusa."

"H-hadiah apa?" Wanita bermata emerald itu tergagap. Baginya, Sasuke sekarang adalah sosok misterius nan mengerikan.

"Bersenang-senang. Fuji-Q Highland*."

Sakura tersenyum, "Bebas bermain? Bebas makan? Bebas semuanya?"

"…Ya."

Dengan senang hati, jawaban yang terlontar ialah, "Aku setuju."

Mereka kembali bergerak membunuh waktu

Dengan cinta dan kasih yang menggebu-gebu

Memadu rasa melepas rindu

Menantang dunia, mereka pantas bersatu


To Be Continue


*) Fuji-Q Highland (富士急ハイランド Fujikyū Hairando?) atau sebelumnya ditulis Fujikyu Highland adalah taman bermain di Fujiyoshida,Yamanashi, Jepang. Taman bermain ini berada di kawasan Lima Danau Fuii di kaki Gunung Fuji.

A/N:

Holaa~ Rea kembali. Maafkan update-nya ngaret. *dikeroyok* Ternyata tetek bengek UN dan lain-lain memakan waktu lebih lama. Oh ya, berhubung masih nuansa lebaran, Rea minta maaf buat kesalahan-kesalahan Rea selama ini, kalau nisa yang akan datang juga. xD

Oh ya, Thanks to Dhezthy UchihAruno,Hanna Hoshiko,Acethyl Choline,marukocan, Guest, .520, Weleh deleh, Eysha CherryBlossom,Lhylia Kiryu, Ifaharra sasusaku, Kumada Chiyu,ntika blossom,Nakazawa Miyuki, sama Arisa Sakakibara buat reviewnya di chapter 1 kemarin.

Ditunggu review berupa komentar/kritik/saran dari readers sekalian untuk chapter 2 ini. Chapter 3 nanti menghadirkan liburan sekaligus bulan madu ala SasuSaku. Selamat menunggu~