A/N : Niat hati ingin meng-update bulan Maret tanggal tiga, apa daya WB masih berkuasa... Maaf telat sangat ya, saudara-saudara~
Dan kepada Nezumi-kun, maaf sudah memperalat anda untuk membantu saya sementara saya tau anda yaoi-fobia. Anda cowok sih soalnya.
OXDXC
Why You Must Not Anger a Goddess (No Matter How Crazy She Is) © Nyx Keilantra yang luar biasa sakti mandraguna *HEH*
APH © ...tolong, jangan siksa saya dengan memaksa saya mengatakannya. Himapapa... *cry*
Warning(s) : YAOI, OOC, Zoo Language, humor ngilang entah kemana, dan lain sebagainya~
Current Pairing(s) : USUK, FrUK, SpUK, PrUK
OXDXC
Chapter 2 : In Which Arthur Discovers His Curse
"Ohonhonhon~ Kemarilah, petit lapin~ Abang akan memperlakukanmu dengan baik, tak usah takut~"
"Fusososo~ Kejar-kejaran begini membuatku makin senang, tomatito~"
"Kesesese! Kecepatan larimu awesome juga, Vögelchen! Und der Arsch..."
"HAHAHAHA! HERO tidak akan kalah dari kalian para penjahat! Artie, ayo ke sini, biar HERO yang melindungimu!"
"Jangan macam-macam denganku! Giiit! That bloody witch!"
Derap langkah di lantai batu yang licin. 'Rayuan' dan 'ajakan' yang dibalas dengan dingin. Koridor HA yang seharusnya sepi mendadak dipenuhi lima orang pemuda yang berlari secepat angin.
Sementara, dari atas susuran tembok nun jauh di atas sana, bersanding dengan patung gargoyle dari batu yang gagal menyaingi keangkerannya, duduk seorang wanita, yang tidak lain tidak bukan adalah Elizaveta. Tanpa hati menertawai kutukan yang menimpa pemuda paling depan di bawah sana, cuma sesekali menyelanya dengan sekaan hidung dari darah bahagia.
Tapi mengenai bagaimana—atau mungkin apa—yang tengah terjadi tepatnya, mari kita kembali pada kurang-lebih satu jam sebelumnya, di kantor kepala sekolah HA.
.
.
Karpet merah, check. Tirai-tirai krem berjumbai keemasan, check. Mawar bertebaran, check. Tiga orang cowok tampan, triple check.
Silahkan piiip Arthur kalau dia benar dan piiip lagi kalau dia salah (Arthur: "You git! Apa bedanya kalo gitu?!"), tapi ketua OSIS satu ini cukup yakin ia tidak baru melewati portal atau semacamnya dan tiba-tiba crossover ke fandom sebelah sebagai Haruhi Fujioka.
"Mr. Kirkland! Akhirnya datang juga!"
Mendengar suara yang akrab di telinga menyebutkan kalimat yang dulu sempat jadi sebuah acara tivi yang menekankan improvisasi pemainnya, Arthur sontak mengangkat kepala, seketika bertatap muka dengan kepala sekolah sekaligus atasannya, Signore Romulus Vargas, yang tengah tersenyum cerah ceria dengan lengan membentang bagai gadis menyambut kepulangan tentara kekasihnya—eh maaf, lupakan saja.
"Aku sudah sempat bertanya-tanya kenapa kau belum datang juga, sempat kukira di perjalananmu ke sekolah kau menabrak Dewa Piiip dan akibat membentaknya karena panik sudah terlambat, kau lalu dibawanya sebagai budak... Untung saja tidak, ya?"
Sig. Romulus tertawa, sebelum mendekatkan wajahnya ke sisi Arthur (tidak, tidak akan ada Ancient Rome x England di cerita ini) dan auranya mendadak menggelap bagai tornado berbahaya. "Untung saja tidak... Karena, kalau kau sampai tidak hadir dan membuat para murid baru ini mengeluh sedikit saja... 'Keluarga'ku akan dengan senang hati memperbaiki situasi. Capische?"
Arthur menelan ludah. Menguatkan jiwa. Kemudian mengangguk hormat dan menghampiri tiga orang pemuda di sana—oh, dan satu lagi yang tadi diseretnya... ASDFGHJKL SEMOGA YANG INI NGGAK KOMPLEN APA-APA!—siap menjalankan tugasnya.
Satu hal yang disesali Arthur sejak bergabungnya ia di OSIS HA: Ia diinformasikan bahwa kepseknya juga merangkap kepala Famiglia alias mafia, dan sepertinya mengidap kepribadian ganda.
Sedihnya.
.
.
"Maaf membuat kalian lama menunggu—saya Arthur Kirkland, ketua OSIS di sini."
Salam pembuka formal diucapkan.
"Hey, dude! Aku Alfred F. Jones, American HERO! Tidak kusangka, badanmu kurus begitu tapi kuat juga y—hmmpf!"
Balasan bernada riang, diikuti komentar yang membuatnya harus dibungkam telapak tangan.
"Ah, ¡Hola! Aku Antonio Fernández Carriedo, dari Spanyol!"
Sapaan sama riang, yang untungnya tidak diikuti komentar ambigu mencurigakan.
"Yo! Gilbert Beilschmidt dari Prussia—ja, itu MASIH negara! Tapi panggil aku Your Awesomeness saja, kesesese~"
Arogan, tapi sejauh ini masih tidak masalah.
"Bonjour, ma chere~ Je m'appelle Francis Bonnefoy dari le pays de l'amour Perancis~ Senang berkenalan deng—aaah, kau manis sekali, cherie... Menikahlah denganku!"
Satu kedipan mata tanda ketidakpahaman, dan tahu-tahu saja kedua tangan Arthur sudah ada dalam genggaman. Rahangnya tidak pernah jatuh begini cepat.
What the bloody hell?
"Whoa, Franny, unawesome! Jangan asal serobot begitu, dong!"
Belum sempat mengumpulkan kembali akal sehatnya yang terdepak dari otak, sekali lagi ia tersentak, kali ini oleh rengkuhan—yang lebih mirip renggutan—dari belakang.
"Coba lihat, aku yang awesome ini lebih cocok dengannya ketimbang kau. Jadi, lebih baik kau jadi pacarku saja, ja?"
"Jangan bercanda, mon ami. Kau yang masih gelagapan dan perawan jangan mengklaim seenaknya! Je yang berpengalaman ini jauh lebih pantas!"
"Maksudmu bekas? Kesesese!"
"..."
Demi para dewa dan dewi, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Upaya Arthur untuk memahami situasi gagal berulang kali, membuatnya hanya sanggup berdiam diri dan wajah kosong ekspresi. Wajar saja, mengingat ia baru saja dilamar dan ditembak—dan parahnya, oleh sesama pria—dan kemudian diperebutkan kedua orang tadi pada hari yang sama.
Akhirnya, mengambil jalan logis yakni mengabaikan keduanya, Arthur berpaling ke dua pemuda lainnya (yang untungnya tidak ikut-ikutan teman mereka dan masih berparas ceria), menawarkan senyum lemah dan mata tanpa binar cahaya, dengan suara datar bertanya;
"Jam pelajaran pertama sudah hampir lewat, jadi bagaimana kalau saya pandu kalian melihat-lihat lingkungan sekolah saja?"
"Si~"
"Sure thing, dude!"
.
.
"Oh, lihat, petit lapin, ceruk di sana itu romantis sekali~ Kau pernah 'bermain' di rumah kaca? Parasmu sudah cantik dari sananya, tapi sinar matahari yang menyorotmu nantinya akan membuat penampilanmu makin menawan~"
Oke.
"Keh! Ada klub light music! Hei, Vögelchen, kurasa lebih baik kau mengikuti gaya punk saja, 'aset'mu kelihatan awesomely sexy dengan celana kulit ketat itu—"
Ini.
"Wah~ Ada ladang sayuran segala, ya~ Tomatito, kau tahu, tadi saat diperebutkan oleh... Aaah, dua hama pengganggu di sana itu, kau mirip sekali dengan buah tomat~ Jadi tidak apa-apa kan kupanggil seperti itu?"
Sangat.
"Duuude! Kenapa gedung perpustakaan bisa empat tingkat dan kantin cuma satu? Bagaimana HERO bisa melindungi heroine-nya sambil kelaparan... Hei, Artie, kau mendengarkanku, tidak?!"
ANEH.
Kenapa dari tadi ia dikerubungi?! Kenapa komentar dari para murid baru ini tidak juga berhenti?! Dan kenapa Arthur terus diperlakukan seolah-olah dia uke dalam doujinshi yaoi?!
BRAK!
"!"
Arthur terlonjak, menabrak dada bidang entah-pemuda-aneh-yang-mana di belakangnya, sebelum sadar suara tadi berasal dari kaki berbalut sepatu kets bermerk yang talinya saja dirumorkan (?) bisa menutupi biaya SPP beberapa bulan.
"Artie~ Jangan mengabaikan HERO seperti itu, dong! Heroine yang baik akan mendengarkan HERO-nya, kan?"
Dari kaki ke betis dan paha kekar, dari perut sixpack ke dada bidang, dari mulut mengusung cengiran ke... Mata dingin penuh perhitungan.
Uh?
"Oi, dummkopf! Siapa bilang Vögelchen itu entah apamu!"
"Aku tadi yang bilang, dumbass. Dan apa itu yang kau bilang, Volkswagen?"
"Ah~ Petit lapin, kau takut? Sini, biar abang peluk dan lindungi dari mereka~"
"No hagas eso—jangan lakukan itu, Arturo. Lebih baik kau temani aku ke ladang tomat saja, sí?"
"Hey, Artie—"
"Vögelchen!"
"Chéri?"
"Tomatito~"
"...BERHENTI SEMUANYAAA! GUE INI STRAIGHT, TAUUUK!"
Dan inilah, saudara-saudara, awal dari apa yang terjadi di paragraf pertama. Semoga anda mampu memahaminya, dan tidak bersimpati dengan tokoh utama kisah kita—lest we be condemned by the crazy goddess.
.
.
"Hhh... Hhh... Bloody hell... Tadi itu apa, coba..."
Arthur terhuyung-huyung menghampiri sebatang pohon sakura, bersandar pada batangnya sebelum menggelosor ke rumput di bawah.
"Gue sempet bikin dosa apa sih, sampe mendadak dikejar be—"
Monolog Arthur langsung terhenti saat realisasi menghantam diri. Tabrakan tadi pagi. Doujinshi yaoi dan fujoshi.
Jangan bilang itu—!
"Ya, Arthur Kirkland," bagaikan di film-film drama, Arthur menengokkan kepala, efek garis cahaya bak Conan menyadari Ran sedang dalam bahaya terpatri di belakangnya. Bahkan angin berhembus juga, membuat rok serta rambut orang yang tadi buka suara berkibar di udara—tunggu dulu, itu kipas angin raksasa atau apa? "Perkenalkan, aku Elizaveta Hedervary..."
Gadis berambut cokelat itu melangkahkan kaki, sedangkan Arthur mundur tanpa menyadari tindakan sendiri. Senyuman keji tersungging di wajah gadis tadi.
"...Dewi Yaoi bagi Seluruh Fujoshi dan Fudanshi. Kau senang dengan 'hadiah'ku?"
"...damn it."
~Tsuzuku~
A/N :
Nyx: "Happy bi~rthday to you~ Happy bi~rthday to you~ Happy bi~rthday, happy bi~rthday~ Happy bi~rthday, Arthur~"
Arthur: "Heh, gak nyangka, udah ulangtahun gue lagi aja ya... Oi, sebagai hadiah, boleh gue minta fic ini di-discontinue aja gak?"
Nyx: "EH? J-jangan! Nanti saya mau buat fanfic apaan lagi! OAO"
Sekali lagi, mohon maaf atas keterlambatan update-nya fanfic ini~ =w=" (dan juga ceritanya. Ralat, terutama ceritanya. Saya yakin ini lebih ancur dari chapter sebelumnya. Saya ngotot mau publish hari ini sih... orz
Sebaik-baiknya seorang reader adalah apabila ia memberi review atas fanfic yang telah dibacanya. (quote by Nyx Keilantra)
~Omake~
Department of Dangerous Deities—07:40 AM
Pemuda itu tampak elegan, dengan rambut cokelat gelap dan mata ungu yang dilindungi sepasang kacamata hitam sederhana. Berbalut kemeja sutra berhias rimpel dan celana panjang hijau tua serta jabot di atas mantel ungu sewarna matanya, Dewa Musik Roderich Edelstein berjalan di sepanjang koridor marmer putih yang terbuka di sebelah kanan, dimana terdapat pilar-pilar gading berjajar dan keranjang rotan bersepuh perak menggantung diantaranya.
"H-hey, Ro—Edelstein!"
Dan di seberang sana, Dewa Kakak Laki-laki Vash Zwingli menghentakkan kaki, adiknya Dewi Lolita Lili mengikuti.
"Ya, Vash?"
"Lili ingin tahu kemana Hedervary pergi... Tidak biasanya dewi gila itu tidak di sini pagi ini."
"Ah, soal Elizaveta, ya..." Roderich menghembuskan nafas. Melambaikan tangan ke sembarang arah ke bawah sana, di dunia para manusia. "Tadi malam dia pamit mau mengambil doujinshi hasil kurban para pengikutnya... Tapi pagi tadi, dia buru-buru kembali dan minta ijin pada Dewa Tertinggi, katanya ada manusia yang harus ia... uh, 'patroni'."
"...aku kasihan pada manusia itu."
"Kita semua mengasihaninya, Vash, sungguh. Kecuali Elizaveta."
~Omake Tamat~
Again, mind to review?
