A/N : Akhirnya, liburan di kampung tanpa internet membuat saya terilhami untuk membuat chapter tiga. Dan tidak, saya sama sekali tidak lupa kewajiban saya meng-update cerita. Sungguh ini bukan dusta, wahai para pembaca... *silang jari di balik punggung*
To Guest : I'm really sorry, but WYMNAG contains too much Indonesian jokes, it'll be practically impossible to convert into English. Still, I'm willing to describe how the story goes via PM if you log in fanfiction.
OXDXC
Why You Must Not Anger a Goddess (No Matter How Crazy She Is) © Nyx Keilantra yang memutuskan hari ini untuk jadi biasa-biasa saja
APH © Himapapa yang dicintai semuanya, boleh England anda berikan kepada saya?
Warning(s) : YAOI, OOC, bahasa yang begitulah (?), dan lain sebagainya, seperti biasa~
Pairing Chapter Ini : SpUK karena kasian pada Higitsune84tails-san yang sudah menunggu lama
OXDXC
Chapter 3 : In Which Arthur Makes a Deal with the Devil/Goddess
Seandainya Arthur sedang minum ketika mendengarnya, pastilah ia sudah tersedak dan minumannya berakhir keluar melalui lubang hidung dan telinga.
Eh, kenapa saya membuka cerita dengan begitu random-nya? Ah, biarkan saja. Namanya juga cerita.
"Ka, kau... Dewi Fujoshi...?" kembali ke cerita yang di chapter ini bahkan belum bermula, otak Arthur sedang berjuang sekuat tenaga memproses informasi yang baru diterimanya.
"Dewi Yaoi Bagi Seluruh Fujoshi dan Fudanshi. Kau tidak dengar waktu kubilang pertama kali?"
"Salah sendiri. Punya nama panjang banget."
...mohon abaikan dialog barusan.
Akhirnya, otak Arthur berhasil memproses informasi dengan kecepatan mengagumkan. Dengan efek sampingan: Kemunculan jiwa terpendamnya sebagai preman.
"FUJOSHINTINGILA! JADI ELO PENYEBABNYA?! PERSETAN MAU ELO ITU DEWI ATAU APAAN JUGA, GUE AKAN HABISI LO KALO LO GAK CABUT KUTUKAN SIALAN INI SEKARANG JUGA!"
JGEEER—!
"Oh~?" di lain pihak, sang dewi justru bersidekap. Seolah—atau memang, mengingat dia itu anggota keluarga dewa—tidak gentar menghadapi ancaman pemuda yang baru saja dikutuknya. "Maaf sekali, Arthur Kirkland... Tapi itu tidak mungkin kulakukan. Sang Mahadewa sendiri telah memutuskan kalau KAU harus menerima hukuman," lanjutnya dengan penuh tudingan. Meniru-niru adegan sebuah film, besar kemungkinan.
"Ka... Karena gue ngejatuhin doujinshi lo?" Arthur tercengang, tak mampu mempercayai nasib buruk yang menimpanya. Itu pertama kalinya—well, pertama kali setelah masa anak baiknya—dia bersikap kasar pada orang yang justru ditabraknya lho. Demi apa dia langsung dikutuk Mahadewa—yah, walo cuma lewat anak buahnya.
"Bukan hanya karena itu," Elizaveta menggelengkan kepala, memejamkan mata seolah-olah tengah menyesali perbuatan Arthur yang entah apa. "Itu karena sikapmu yang homofobia. Hidupmu sebagai manusia adalah fana, terlalu singkat untuk dilewati dengan mengotak-ngotakkan hubungan cinta..."
"Tapi kan secara agama, itu dosa?"
"Ya bodo amat. Ini fanfic juga, ya suka-suka."
Sekali lagi, mohon abaikan dialog barusan. Cih, dasar mengganggu saja.
"Dan selain itu!" oh, rupanya masih ada lagi yang tidak bisa diterima Dewi Yaoi bagi Seluruh Fujoshi dan Fudanshi kita. Dan Nyx juga berpendapat sama dengan Arthur bahwa namanya memang terlalu panjang sekaligus merepotkan untuk dicantumkan lengkapnya. "Ada satu lagi alasanku, alasan yang jauh lebih penting lagi..." kali ini suara Elizaveta bergetar, tubuhnya berusaha menahan tangis gentar.
"..." Arthur menunggu pemberian alasan yang diharapkannya akan lebih masuk akal. Ya, dia memang tidak peduli mau ada seorang wanita menangis di depannya. Jiwa gentleman Arthur masihlah sangat rapuh alias labil, bagaimanapun juga.
"Alasan itu adalah... KARENA DOUJINSHI YANG KAU JATUHKAN KE KUBANGAN LUMPUR DAN LINDAS BEGITU SAJA ADALAH DOUJINSHI LIMITED EDITION! MASIH UNTUNG ADA PENGIKUT YANG RELA MENGORBANKAN DOUJINSHI-NYA UNTUKKU! AKU INI MEMANG TERLALU BAIK, SAMPAI-SAMPAI RELA PENGIKUTKU YANG LAIN MENCURI KURBAN UNTUKKU DEMI MEREKA BISA MEMBACA DOUJINSHI SESUKA MEREKA! TAPI AKU JUGA MAU MEMBACANYA, huhuhu..."
Dan tahu-tahu saja Arthur dihadapkan dengan seorang dewi yang sesenggukan di hadapannya. Jika di satu fanfic oneshot karya Nyx ia butuh buku '1001 Cara Menghindari Awkward Situation', sekarang Arthur membutuhkan buku '1001 Cara Menangani Awkward Situation'.
(kelak, jika Arthur berhasil melewati ini semua, ia bertekad akan menulis buku itu sendiri seandainya masih belum ada, supaya tidak perlu lagi ada korban seperti dirinya. Sungguh mulia cita-citanya! Mari ikuti jejaknya!)
"Oi, oi, tunggu sebentar!" akhirnya memutuskan untuk membiarkan saja si dewi ini menangis sepuas hatinya, Arthur tiba-tiba teringat kondisi dirinya yang terkena kutukan Elizaveta. "Oke fine, gue ngerti, kalo ini semua karena gue yang homofobia, gue akan mencoba—mencoba, ya!—untuk berubah. Tapi tolong cabut kutukan ini dari gue! Gue gak akan bisa hidup tenang kalo begini caranya!"
"Udah dibilangin, doujinshi gue yang sekarang gak kebaca lebih penting!" Elizaveta bergeming, tetes airmata terakhirnya pun menghilang ketika matanya memicing. "Lagian, doujinshi yang mau gue baca itu kebetulan genrenya harem, jadi karena gak bisa baca, ya sekalian aja..."
"Jadi lo ngutuk gue cuma supaya lo bisa liat live-action yaoi gratis?!" Arthur mencak-mencak. Makhluk macam apa Elizaveta? Bisa-bisanya menyalahgunakan kekuatannya untuk membuat manusia—yang memang bersalah... Tapi manusia kan memang penuh dengan salah dan dosa—menderita!
"Mungkin iya, mungkin nggak," jawab Elizaveta minta disepak. "Tapi kalau elo emang berniat kutukan ini dihapuskan, atau minimal diringankan..."
Arthur mengangkat satu alisnya yang luar biasa, menggigit lidah untuk tidak mengutarakan opininya mengenai betapa fairytale kalimat Elizaveta itu terkesannya. "...apa yang harus gue lakukan?"
And that's how Arthur Kirkland made a deal with the devil/goddess.
.
.
Sebelum melanjutkan cerita, mari kita dengarkan dulu seulas kisah.
...tunggu dulu, perasaan cerita dan kisah sama aja. Ah, biarlah.
Kisah yang saya maksud tidak lain dan tidak bukan adalah kisah kehidupan Antonio.
Antonio Fernández Carriedo, seorang pemuda tulen dari España. Menjadi pewaris kedua setelah kakaknya untuk perkebunan sayur dan buah terbesar di seluruh Eropa tidak lantas membuatnya jadi sosok yang angkuh dan beranggapan dirinya lebih baik dari manusia-manusia rendah di sekitarnya. Tidak, Antonio tumbuh sebagai pemuda yang riang, berhati lapang, serta hobi memeluk dan mencubit pipi adik-adiknya tersayang. Membuat ia sempat dinasehati ibundanya agar berhati-hati selepasnya di kota yang baru resmi menjadi tempat tinggalnya—takut dikira pengidap pedofilia lalu dipenjara.
Ya, Antonio, selaku pemuda kelas atas sekalipun bernilai pelajaran pas (Antonio : "Apa maksudnya nilaiku pas! Aku sudah belajar sekuat tenaga!" QAQ"), diperintahkan secara halus oleh orangtuanya untuk mengikuti jejak kakaknya bersekolah di sana—di kota antah berantah yang sampai chapter 3 ini masih juga tak punya nama—dalam rangka memperluas wawasan, mengais ilmu dan merajut asa. Entah apa maksudnya, tapi Antonio senang-senang saja bisa keluar negeri dan merasa tertantang untuk mencoba hidup sendiri. Sayang sekali, harapannya untuk belajar mandiri kandas dikarenakan keberadaan rumah mewah lengkap dengan pembantu dan koki serta supir pribadi.
Tapi, pertama kali menginjakkan kaki ke SMA barunya ini, matanya menangkap sepasang mata hijau indah—jauh melebihi keindahan daun-daun dan rerumputan di perkebunannya ketika embun masih merekat dan cahaya matahari pagi menimpa mereka—terpasang di atas pipi yang sewaktu memerah mengingatkannya akan buah tomat yang amat disukainya. Dan saat pemilik mata hijau indah dan pipi merah menggoda itu bicara, Antonio jatuh cinta.
Cihuiii~ Asek, daaah~
...abaikan ucapan nyasar di atas.
.
.
Pagi hari di kediaman keluarga Kirkland selalu sunyi.
Bersyukur karena hari ini jam wekernya (yang baru karena yang sebelumnya sudah dianggap veteran dan dicabut dari jabatan) berbunyi di waktu biasa, Arthur menuruni tangga dari kamarnya di lantai dua ke ruang utama—lantai satu rumah mereka memang model yang terbuka; ruang tamu dekat dinding-jendela, dapur di sebelah kanan dan gym di sebelah kiri atau sebaliknya (tergantung dari sisi mana kalian melihatnya). Ruang makan dan ruang keluarga menyambung dari dapur sementara kantor dan perpustakaan keluarga berseberangan dengannya.
Menjerang air untuk teh paginya, menggeratak kulkas dan lemari makan dalam rangka mencari apapun yang bisa disantapnya sebelum berakhir dengan sepotong roti yang sudah mendekati masa kadaluwarsa, Arthur lalu keluar rumah dan mulai menyirami tanaman-tanamannya tercinta. Anjing piaraan Dylan yang bernama Dragon—entah angin apa yang membuat kakaknya yang lembut dan sebenarnya lebih suka domba itu menamai seekor anjing dengan nama naga, tapi mengingat fisik Dragon yang memang menyerupai naga muda setelah entah diapakan oleh Cailean yang sekarang tengah menuntut ilmu di sebuah universitas biokimia—menggonggong dan berlari-lari dekat kaki si pemuda sebelum diutus Arthur untuk mengambil surat kabar pagi dekat gerbang rumah mereka.
Setelah sarapan sambil membaca koran, membersihkan badan, dan mengenakan seragam, Arthur membuka pintu depan rumah (kebetulan dari tadi pagi ia menggunakan pintu belakang)...
...untuk kemudian bertatap muka dengan senyuman Antonio yang cemerlang. Seandainya tanaman sundrops Arthur sedang ada di tangan, kemungkinan besar bunga itu akan layu sekarang.
"Fusososo~ Buon giorno, Arturo~"
"...good morning, Anthony."
Sudut bibir kanan berkedut dalam upaya memberi balasan senyuman, namun gagal menyedihkan.
Dan sekarang, mari kita dengarkan apakah tepatnya isi perjanjian antara Arthur dan Elizaveta.
"Seperti yang lo tuduhkan, gue mau liat live-action yaoi gratis. Tambahan, HARUS harem. Jaaadiii..."
"Ja, jangan bilang lo—!"
"Gue mau lo bikin adegan harem antara elo dan cowok-cowok pilihan gue! Tapi tenang, karena gue baik hati dan tidak sombong lagi maha penyayang—eh... Pokoknya karena itu, gue gak akan terlalu jahat dengan menyuruh elo di-gangbang mereka rame-rame atau sejenisnya. Kecuali lo mau, silakan aja. Tapi untuk sekarang, gue mau elo kencan dengan mereka satu per satu."
"...dan kalau gue udah kencan sama mereka semua?"
"Gue akan cabut kutukan gue."
"...okay, you got a deal."
"Nice to have business with you~!" *grin*
Jadi begitulah, saudara-saudara—jika biasanya Arthur dengan senang hati akan mengusir siapapun yang berani menampakkan batang hidung mereka apalagi batang-batang lainnya di depan rumahnya, sekarang ia harus memaksa diri beramah-tamah dengan mereka. Naas, Arthur tidak begitu baiknya sampai rela menawarkan tamunya scone kebanggaannya. Padahal kalau dilakukan, niscaya takkan ada lagi yang datang—antara tengah dirawat intensif di rumah sakit atau malah sudah dikubur enam kaki di bawah tanah entah di bagian bumi sebelah mana.
Meski begitu, Arthur kaget juga saat Antonio mendekatkan wajah dan bertanya dengan nada serius berbumbu kekhawatiran yang tidak biasa.
"Arturo, kau baik-baik saja? Kalau tidak, kita bisa batalkan kencan hari ini kok. Masih bisa lain hari..."
Mengerjapkan mata, dan pipi Arthur memerah lagi tanpa diminta. Bahkan otaknya ikut berkhianat dan berpikiran serupa.
'Sepertinya memberi orang satu ini kesempatan tidak apa-apa...'
~Tsuzuku~
A/N : Hohohoho~ Tidak disangka chapter ini bisa selesai begitu saja~ Pasti karena author baru dapet THR melimpah~ *ini mau A/N ato pamer sih*
Jaa, seperti biasa, Nyx mohon maaf untuk keterlambatannya. Daripada fanfic Nyx di fandom sebelah yang malah sampai dua tahun hiatusnya. Gila, kalau itu sampai terjadi di sini, Nyx kalian tembak saja, pembaca!
Reader : "Bener, ya? Okeh, siap-siap~" *kokang senapan*gulp*
Sebaik-baiknya seorang reader adalah apabila ia memberi review atas fanfic yang telah dibacanya. (quote by Nyx Keilantra)
~Omake~
"Tapi aku agak kaget, kalian bisa dengan damai memutuskan siapa yang duluan akan, uh... kencan denganku..."
Arthur berkomentar dengan nada datar selagi mobil Antonio yang ditumpanginya meluncur di jalan. Di sampingnya di bangku belakang—supir di depan—sang pemuda Spanyol tersenyum tanpa dosa.
Lindo Arturo tidak perlu tahu kalau semalam, agen-agen yang disewa Antonio sudah memastikan obat bius terselip ke bir Gilbert, parfum Francis, dan soft drink Alfred, memastikan kencannya dapat berjalan tanpa hambatan.
~Omake Tamat~
Again, mind to review?
