Main Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun

Other Cast : masih dicasting ^^

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan, tapi cerita ini milik author mesum (Cupid'skyumin)...

.

.

.

Previous Chapter

"Jika itu bisa membuatku merebut perusahaanya." Ia mengunyah angkuh buah cherry tersebut, hingga cairan merah itu meleleh keluar dari sela-sela bibirnya.

"Bunuh anak itu." Lanjutnya dengan menyeringai tajam.

.

.

Chapter 4


A Winter Story


.

.

.

'Minnie'

"uhnnn..."

'Appa tak pernah meninggalkanmu Minnie'

"Nn~ Appa...Appa"

'Appa selalu melindungimu...cha kemarilah peluk Appa'

'Maafkan Appa'

BRAKKKK!

"Nnnnn ...AAPPAAA! Hh...hh...hhh—

Tubuh mungil itu menyentak terbangun dengan nafas menderu. Sungmin meremas kuat-kuat ujung selimutnya, melampiaskan rasa sesak dan takut yang tiba-tiba menyergap. Sungguh demi apapun itu ia tidak siap dan tak rela kehilangan sosok ayahnya hanya dengan sekejap mata.

Kyuhyun terbangun begitu mendengar jeritan memekakkkan di sisinya, namun seketika itu pula ia mengernyit heran, melihat Sungmin meringkuk dengan tubuh gemetar...samar-samar terdengar isakkan kecil dari namja mungil itu.

"Ssshh..." tenangnya seraya meraih tubuh ringkih itu dan mendekapnya erat, berulang kali tangan besarnya mengusap punggung sempit Sungmin, berusaha memberi kenyamanan dan perlindungan penuh untuknya. Ia tau...Sungmin baru saja mendapatkan mimpi buruk.

"Hhh...hhh..A—ppaa." Lirih Sungmin masih dengan nafas tersengal, berulang kali ia menggeleng getir kala mengingat wajah dan senyum ayahnya, membuat air mata itu semakin lekat mengaburkan jarak pandangnya. Bahkan Sungmin tak menyadari dan memang tak peduli, dirinya kini tengah berada dalam pelukan seseorang.

"Mimpi buruk hm?" bisik Kyuhyun masih dengan mengelus pelan belakang kepala Sungmin, hatinya memang mengeras mendengar Sungmin meracau nama ayahnya, namun sungguh...jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa tertikam dengan isakkan namja cantik itu.

.

.

"C-cho sajangnim." Sungmin membulatkan mata lebar dan menggigit bibir bawahnya saat menyadari dirinya tengah bersandar dalam pelukan Kyuhyun, cepat-cepat ia mendorong dada bidang itu hendak beringsut menjauh...bagaimanapun Sungmin tau, Kyuhyun sangat membencinya. Dan tak seharusnya ia bersikap selancang itu.

Namun Kyuhyun sama sekali tak bergeming,semakin Sungmin meronta semakin kuat ia mendekap namja mungil itu.

"Lepaskan aku." Sentak Sungmin masih terus meronta ingin lepas.

"Sungmin!."

Kalimat singkat itu cukup telak membuatnya membeku, Sungmin memejamkan mata erat dan meringkuk pasrah dalam pelukan Kyuhyun. membiarkan namja tampan itu membelai kepala dan punggungnya dengan lembut, hatinya memang berdentum liar mendapat semua pelakuan tak terduga itu, bukankah hanya sikap kasar dan kata-kata dingin yang selalu ia terima...Kyuhyun tak pernah memeluknya seperti ini.

"Tidurlah." Ucap Kyuhyun begitu menyadari Sungmin sedikit menenang dalam pelukannya, sesekali ia melirik wajah Sungmin dan menghela nafas pelan melihat raut gelisah masih membingkai paras cantik itu.

"C-cho sajangnim...apa kau benar-benar membenciku?." Lirih Sungmin dengan wajah tertunduk.

"..."

Tak ada jawaban, Kyuhyun hanya menatapnya sesaat kemudian kembali berbaring.

"Cho Sajangnim, apa kau membenciku?." Ulang Sungmin, kedua tangannya tampak bergetar ingin menyentuh lengan kokoh itu.

"Tidur! dan jangan banyak bicara!"

"A-aku tak mengerti...semua sikapmu...aku—

BRUGH

Kyuhyun bangkit, dan memenjarakan Sungmin dengan tiba-tiba. Kedua obsidiannya tampak menyalak geram, mengisyaratkan ia benar-benar terusik dengan pertanyaan tersebut.

"Tck!apa semua tidak jelas untukmu? Aku membencimu lebih dari yang kau tau Lee Sungmin."

"W-wae?."

"Karena kau—

Seolah terlarang, semua alasan itu tertahan di bibirnya. Sesuatu dalam dadanya terasa bergemuruh, kala mengingat racauan Sungmin beberapa saat lalu. Tidakkah namja cantik itu terus menerus memanggil Appanya dalam tidurnya, akan menjadi sebuah pukulan keras jika ia mengungkap segalanya.

"Ku mohon katakan sesuatu...apa yang telah kuperbuat padamu?."

"Kau tak berhak bertanya apapun padaku!...karena kau hanyalah pelacur yang kubeli Sungmin~shi."

'NYUT'

Lagi...Kyuhyun kembali meremukkan hatinya. Sungmin manatap nanar sosok di atasnya, apakah hanya kata-kata merendahkan itu yang harus selalu keluar dari bibir merahnya?. rasanya semakin mustahil merengkuh apa yang diharapkannya dari Kyuhyun benar...ia tak memiliki hak apapun, sama sekali tak memilikinya.

"Kembaliliah tidur!" Lanjutnya lagi seraya bangkit perlahan dari tubuh Sungmin.

Namun Sungmin tak mengindahkannya, namja cantik secepat mungkin beringsut menuruni ranjang dan berdiri dengan wajah tertunduk.

"Kau tak mendengarkanku? Apa kau mulai melawanku?" Kyuhyun beranjak mendekati Sungmin. Ia sedikit mengernyit melihat namja cantik itu menunduk dengan tangan terkepal kuat.

"Jangan menunjukkan wajah seperti ini di hadapanku." Ujarnya dengan menyentuh dagu Sungmin, hingga sedikit menengadah.

Hening...

Sungmin sama sekali tak berniat menjawab, dan lebih memilih memalingkan wajah.

"Tatap mataku saat aku berbicara denganmu!"

"Hentikan." Sungmin menepis tangan Kyuhyun dari wajahnya, tatapannya begitu menghunus namun terlihat rapuh karna air mata di pelupuknya.

"Kau tak harus bersikap seperti ini jika membenciku, bersikap baik untuk sesaat kemudian kembali memperlakukanku seperti binatang...itu membuatku muak Cho Sajangnim." Desis Sungmin sembari berjalan mundur ke belakang, tak peduli namja tampan itu mungkin akan menyentakknya kembali dengan kata-kata kasar atau bahkan perlakuan menyakitkan.

"Lee Sungmin!"

"Wae? Kau ingin memukulku? Atau...kau ingin menyetubuhiku?! Lakukan! Aku tak akan peduli meski kau membunuhku sekalipun!" Serunya sembari melepas kancing kemejanya, hingga beberapa terpental kasar. Hatinya benar-benar kebas akan rasa sesaknya, tapi tidakkah semuanya telah terjadi. Ia tak mungkin memutar takdir...hidupnya memang telah hancur di tangan Kyuhyun.

"Kau tak pernah puas menyiksaku bukan! Karena aku hanya pelacur?!" Tangan mungilnya terus menerus bergerak tak terkendali, ingin merobek paksa seluruh kain yang melapisi tubuhnya. Sungmin benar-benar kalap...bahkan ia tak peduli, sebagian besar tubuhnya mulai terekspose.

Kedua obsidian Kyuhyun tampak menatap getir, perlahan ia kembali mendekati Sungmin. sesuatu dalam hatinya kembali berdenyut nyeri melhat air mata itu tak pernah berhenti mengukir jejak bening di pipi Sungmin.

"Bunuh aku! Bukankah itu lebih memuaskanmu! Kau tak akan melihat manusia—mpfthh."

Waktu seolah terhenti...begitu hening tak satupun hal bergeming...kecuali jantung yang terus berpacu liar. Kedua manik foxy itu tampak membelalak lebar dengan apa yang menyentuh bibirnya saat ini. Benarkah ia bermimpi? Akan tetapi lumatan bibir itu terasa begitu nyata dan lembut.

"..." Berulang kali ia mengerjap tak mengerti, dadanya semakin panas melihat namja tampan itu memejamkan matanya. Sungmin tak tau apa yang harus diperbuat. Karena tak pernah mendapat hal semacam ini sebelumnya. Hingga ia lebih memilih menahan nafasnya sekuat mungkin.

"Mmh~"

"Kembalilah tidur...aku lelah, berhenti menyulut emosiku." Bisik Kyuhyun begitu melepas pagutan bibir keduanya, ia melilitkan selimut tebal di tubuh polos Sungmin. Sejujurnya Namja tampan itu tak mengerti bagaimana bisa bertindak bodoh mencium Sungmin demikian, namun ia merasa memang harus melakukannya.

Sungmin tak sekalipun meresponnya, namja mungil itu tetap berdiri tertunduk dalam balutan kain tebal tersebut. sama sekali tak mengikuti apa yang Kyuhyun lakukan saat ini, untuk berbaring di atas ranjang king size itu. hati dan kepalanya semakin terasa berputar...ia benar-benar tak mengerti dengan Kyuhyun, sikap namja tampan itu begitu absurd untuk di terkanya. Tidakkah beberapa saat lalu kata benci mengalun dengan keras dari bibir merahnya, tapi mengapa sentuhan lembut juga mengalir dari bibir tersebut.

"Lee Sungmin?"

"..."

Merasa percuma, Kyuhyun kembali beranjak dan menarik Sungmin agar mendekat. Kedua alisnya bertaut heran melihat namja cantik itu hanya menatap kosong dengan wajah bersemu merah.

"Cih...kau pikir aku benar-benar menciummu? Aku hanya ingin membuatmu tutup mulut. Dan kau...terlena karenanya? Menggelikan."

Meski namja...namun kalimat yang terucap dari bibir Kyuhyun, cukup telak membuat hatinya menangis. Ia sempat mengira..Kyuhyun berubah dan memberi sedikit simpati terhadapnya, namun rasanya angannya kembali tak berujung. Namja tampan itu akan tetap mempermainkan perasaannya.

"Kau benar." Singkat Sungmin sembari menyentak paksa genggaman tangan Kyuhyun, kemudian berlalu tanpa suara untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Tak berniat sedikitpun melihat wajah arogan itu.

Kyuhyun kembali menatap redup sosok mungil itu, sepertinya lidah tajamnya kembali mengukir luka di hati Sungmin dan ia menyadarinya tapi sama sekali tak mampu mengendalikannya.

"Min" Panggilnya begitu memposisikan tubuhnya di sisi Sungmin, ingin rasanya menyentuh bahu sempit itu dan memeluknya. namun ia urungkan...terlalu munafik baginya melakukan hal demikian. Bukankah dirinya membenci Sungmin? putra pembunuh Appanya...ya, selamanya akan tetap begitu.

"Apa kau mendengarku?"

"..."

"Lee Sungmin apa kau tuli?"

"..."

"Tsk...Kau tidur?" tanya Kyuhyun lagi, oh sungguh ia merasa bodoh saat ini. tak seharusnya dirinya bertanya dan bersikap gusar kala Sungmin tak sekalipun merespon ucapannya, tapi hatinya benar-benar tak tenang.

"Sungmi—

"Bukankah kau ingin aku tutup mulut Kyuhyun~shi?." Desis Sungmin tanpa memutar tubuhnya, membuat Kyuhyun semakin mengacak kasar rambutnya dan menendang udara kosong di atasnya.

.

.

.

Esoknya

"Mmhh..." Kyuhyun sedikit beralih posisi sembari meraba-raba sisinya, namun rasanya ada yang berbeda...tak ada tubuh kenyal yang kerap ia peluk saat tertidur hingga terbangun. Cepat-cepat Kyuhyun membuka mata detik itu juga ia mendudukkan tubuhnya dengan gusar kala tak menemukan Sungmin di sisinya.

"Oh Shit!." Umpatnya ketika menuruni ranjang dengan tergesa, dadanya benar-benar memanas saat ini. ia yakin namja cantik itu memanfaatkan kelengahannya untuk lari darinya.

.

.

Kyuhyun menyambar kasar jaket dan kunci mobil, lalu berlari kalut hendak menuju mercynya. Namun belum sempat ia mencapai anak tangga terakhir, langkahnya seketika terhenti kala melihat siluet Sungmin tengah meringkuk di bawah meja pantry.

Perlahan ia membawa langkahnya mendekat, senyum tipis samar-samar terukir di bibir merah Kyuhyun. Entahlah...wajah polos itu kembali membuat sesuatu dalam dadanya berdesir halus.

"Apa yang kau lakukan di sini? Jangan membuatku gila Min." Bisiknya lirih sembari menyibak helaian rambut yang menjuntai dipipi Sungmin. senyum menawannya semakin terkembang...menyadari namja cantik itu tidur begitu pulas, tapi itu terlihat sangat tidak nyaman. Sungmin akan mengeluh pegal jika tidur dengan kaki tertekuk seperti itu. tanpa suara Kyuhyun menyusupkan tangan kanannya di kaki Sungmin berusaha mengangkatnya dengan hati-hati.

Namun apa yang dilakukannya, membuat Sungmin melenguh terusik...dalam sekejap foxy bulat itu membuka, dan terbelalak lebar melihat wajah stoic Kyuhyun berada begitu dekat dengannya

"Ngh...Aa...Kau."

"Kau ingin lari dariku?"

Sungmin menatap tak percaya mendengarnya...tidakkah Kyuhyun kembali menaruh prasangka terhadapnya dan ia benar-benar jengah akan hal tersebut.

"Aku tidak lari darimu!."

"Kau pikir aku percaya?."

Sungmin makin meradang mendengarnya, ia menggeliat kasar berusaha turun dari gendongan namja tinggi itu. "Turunkan aku." Tukasnya.

"Lebih baik aku mengurungmu, kau akan menyesal jika lari dari—

Ucapan Kyuhyun terhenti kala Sungmin menangkup pipinya dan memaksanya menoleh ke samping, tepat di atas meja makan.

"Aku tidak lari darimu, bukankah kau ada rapat penting pagi ini...persiapkan dirimu lalu sarapan."

Seketika itu pula, Kyuhyun kembali menatap Sungmin dengan wajah memerah, ia merasa benar-benar bodoh dengan menunjukkan sikap berlebihan seperti itu, Kyuhyun tau dirinya terlihat sangat ketakutan saat matanya tak melihat Sungmin di manapun.

"Bisakah kau menurunkanku sekarang? Kau akan terlambat jika tidak segera bergegas."

"Apa yang salah denganmu? Mengapa kau melakukan semua ini?"

"Karna saat ini aku hidup dan bergantung denganmu" Lirihnya sembari menggigit bibir, Sungmin tau ia telah mengingkari hatinya. tapi bukankah segalanya akan mustahil jika mengungkapkan perasaan terdalam itu. Kyuhyun tak akan pernah menyadari bahkan menerimanya.

"Hn...itu memang tugasmu."

.

.

.

Namja tampan itu mendudukkan dirinya dengan menyilangkan kaki, sesekali kedua obsidiannya mengekor pergerakan Sungmin yang menyiapkan makan paginya. Meski tak bicara, tapi ia cukup puas dengan memandang wajah babyface itu di pagi ini...entahlah hatinya terasa ringan...terlebih Sungmin semakin memberinya perhatian lebih akhir-akhir ini.

'Bagaimana mungkin kau masih bersikap seperti ini pada orang yang telah melukaimu Lee Sungmin?' Gumam Kyuhyun dalam hati.

"Panggil aku jika kau butuh sesuatu." Ucap Sungmin usai menuangkan segelas susu hangat untuk Kyuhyun.

"T-tunggu...kau ingin pergi kemana?."

"Membersihkan rumah ini." Sungmin berpaling hendak berlalu. Akan tetapi sebuah genggaman menahan pergerakannya, ia mengernyit dan menoleh ke belakang. "Wae?" tanyanya kemudian.

"Temani aku makan."

Sungmin sempat membulatkan mata namun setelahnya ia tersenyum hangat dan duduk berseberangan dengan Kyuhyun. "Uhm...ne."

"Tsk! Siapa yang memintamu duduk di sana...kemari!." Titah Kyuhyun seraya menunjuk tempat duduk di sisi kanannya.

Walau masih menyimpan heran, Sungmin tetap memenuhi permintaan tersebut. ia melangkah kecil mendekati Kyuhyun dan duduk di sampingnya.

"Mengapa aku harus duduk di sisimu?" tanya Sungmin sambil mengerjap polos.

"..."

Tak ada jawaban...hanya tatapan dingin yang terlihat mengintimidasinya, tapi setidaknya ia bisa sedikit lebih dekat dengan namja Cho itu. walau nyatanya hatinya kini masih berdenyut nyeri.

Berulang kali Sungmin menunduk berusaha menahan senyum, ia benar-benar tak mampu menahan persaannya ketika melihat Kyuhyun begitu lahap menyantap masakan buatannya. tapi tiba-tiba ia tersentak saat namja tampan itu menatapnya tajam.

"W-waeyo?." Gugup Sungmin.

"Kau...cepat makan."

"Ah...tidak—

"Aku tak ingin mendengar alasan apapun, cepat makan karna kau akan ikut denganku ke kantor."

"M-Mwo? Untuk apa?."

"Ck! Aku tak ingin mendengar alasan atau bahkan pertanyaan apapun! Apa kau tuli?."

BRAKKK

Tubuh mungil itu berjengit terkejut kala Kyuhyun beranjak dari kursinya dengan kasar, dengan gemetar ia mengambil hidangan di hadapannya. meski melahapnya dengan perlahan tapi tetap saja semua makanan itu terasa menyedaknya. Karena memang Sungmin tengah menahan tangis, bukankah beberapa saat lalu Kyuhyun sedikit meluluh terhadapnya, tapi kini...namja tampan itu kembali mencabik ulu hatinya dengan kata-kata kasar tersebut. Sungmin hanya bertanya tak lebih.

.

.

.

Skip Time

Sungmin berjalan kikuk mengekor langkah Kyuhyun di depannya, berulang kali ia menunduk seraya meremas kuat ujung kemejanya kala mengedarkan pandangan dan mendapat tatapan sinis dari beberapa yeojja di sekitarnya. Meski begitu megah...tapi tempatnya berpijak saat ini sangatlah asing.

"Percepat langkahmu." Titah Kyuhyun, membuat namja mungil di belakangnya semakin melangkah tersendat-sendat.

Kyuhyun mengulas seringai tipis, sangat menyenangkan melihat namja cantik itu untuk waktu yang lebih lama, karena jika hari-hari kemarin ia hanya beberapa jam saja menatap Sungmin, terlebih kejadian di pagi ini, membuatnya tak ingin Sungmin jauh darinya.

"C-cho sajangnim, lebih baik aku pulang...aku tak ingin membuatmu~ akh."

Sungmin memekik terkejut saat Kyuhyun menarik paksa tangannya dengan tiba-tiba, menyeretnya untuk berjalan lebih cepat.

'Aku bisa gila...jika kau pergi dari sisiku seperti pagi ini Lee Sungmin!' Ucap Kyuhyun dalam hati.

.

.

.

"Tunggu aku di sini." Ujar Kyuhyun begitu mendudukkan Sungmin di sofa ruang kerjanya. Namja cantik itu mengangguk patuh, ia tau Kyuhyun hendak menghadiri rapatnya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, saat punggung lebar itu mulai menghilang dari balik pintu.

"Hhhh..." Helanya, Sungmin mengedarkan pandangan ke sekitar...semua benda di sekitarnya penuh warna yang begitu kaku. Dan itu benar-benar membosankan. Merasa jenuh ia berailh membaringkan tubuhnya di sofa dan memainkan jemarinya di atas dadanya.

.

.

Beberapa jam kemudian.

'CKLEKK'

"Kyu...aku membawa beberapa dokumen yang harus kau— O..ou~

Sungmin menegakkan tubuh, begitu seseorang membuka pintu itu dengan tiba-tiba. ia sedikit memiringkan kepala, melihat namja di hadapannya tampak terkejut dengan kehadirannya.

"Apa kau Sungmin? ah...kau bisa memanggilku Yesung Hyung." Ujar namja itu sembari berjalan cepat menghampiri Sungmin.

"N-ne." Gugup Sungmin.

"Ahahaha...tak ku sangka, Kyuhyun membawamu kemari...aku tau bocah tengik itu tak akan bisa memenuhi dendamnya, dia tak bisa jauh darimu Lee Sungmin."

Sungmin mengerjap polos, ucapan namja asing itu benar-benar absurd untuknya. "Dendam?"

"Mwo? kau tak mengetahuinya...apa Kyuhyun tak mengatakannya padamu bahwa kau— PLAKKK.

"Ackkk! Y-YYA! Wookie...Appoo!." Yesung mengusap bahunya yang terasa panas, hasil serangan tiba-tiba di belakangnya.

Ryeowook berdengus jengah mendengarnya ia benar-benar tak habis pikir bagaimana mungkin kekasihnya bersikap seceroboh itu. ucapannya akan melukai perasaan Sungmin jika dirinya tak datang tepat waktu.

"Kemari kau!" Bentak Ryeowook sembari menyeret lengan Yesung ke bawah meja kerja Kyuhyun.

"Kita belum tau pasti, apa Sungmin telah mengetahui Kyuhyun membelinya karena alasan dendam. Tak seharusnya kau seceroboh itu Hyung!" Bisiknya lagi. membuat Yesung menepuk jidatnya keras...ia benar-benar merutuk pada dirinya, yang tak bisa mengendalikan ucapannya ketika merasa antusias.

"Oh...Eottohkkae?" Ucap Yesung sambil meremas rambutnya.

"Bersikap seperti tak terjadi apapun, dan kau hanya salah bicara."

Yesung mengangguk mengerti, cepat-cepat ia berdiri dan tersenyum lebar pada Sungmin. "H-hai..." Sapanya kemudian.

"Chaggiya...aku kemari karena obat untuk Dongsaengmu, kau tak harus memaksanya belajar sekeras itu...karna itu akn menyiksanya." Ujar Ryeowook sembari memberikan beberapa tablet obat flu untuk kekasihnya.

Yesung hanya mengerjap tak mengerti , tapi beberapa detik kemudian ia mulai dapat menangkap maksud namja manis itu, dan mengikuti alur pembicaraan tersebut.

"Tapi Himchan 1 minggu lagi akan menampuh ujiannnya, tentu saja aku harus memaksa bocah itu." Tukasnya sembari melangkah perlahan keluar dari ruangan tersebut, berusaha tak menghiraukan Sungmin.

"Arrayooo...tapi Himchan—

"J-jjeogiyoo...chankanmanyo."

DEG

Keduanya seketika mematung, mereka tak menginginkan Sungmin kembali mengungkit ucapan Yesung beberapa saat lalu.

"Himchan?" Tanya Sungmin kemudian, membuat dua namja di depannya saling bertukar pandang. Tapi setidaknya nama Himchan bisa mengalihkan perhatian Sungmin.

"N-ne...Kim Himchan, dia dongsaengku...ah ini fotonya." Yesung merogoh ponselnya, lalu menunjukkan potret seorang namja ulzzang dalam layar gadget tersebut.

Manik foxy itu seketika berbinar lebar...ia tak pernah menduga akan bertemu dengan Kim Jongwoon, Hyung yang selalu diceritakan Himchan saat di kelas.

"Wae? Apa kau mengenal anak ini?" Ujar Yesung lagi.

Sungmin mengangguk cepat, ia berjalan mendekat hendak meraih ponsel Yesung.

"Siapa yang menyuruhmu berbicara dengan orang lain! yang tak kau kenal?"

Namun tiba-tiba sebuah bentakkan menginterupsi ketiganya, Sungmin jatuh terhempas ke sofa...karena Kyuhyun menarik kuat pergelangan tangannya.

"M-mianhae." Lirih Sungmin, bibirnya tampak bergretar karena takut. Ia hanya sedikit bicara dengan Yesung...tapi Kyuhyun sudah semarah itu dengannya.

"Jangan menunjukkan wajah seperti itu! aku membencinya Lee Sungmin!."

Sungmin mengepalkan tangan kuat, ia tak tahan dibentak seperti itu, di depan orang lain. Sungmin bangkit seraya menatap tajam Kyuhyun dan memberanikan dirinya bersikap lantang pada namja tampan itu.

"W-Wae?! Kenapa kau membenciku? Apa salahku hingga kau selalu mengatakan benci padaku?! Lebih baik kau membunuhku!."

"Tutup mulutmu!."

"Tidak! Aku tak akan diam sebelum mengetahui alasanmu membenciku seperti ini." Kekeuh Sungmin.

"Anggap aku salah bicara, cepat pakai jaketmu, lalu kita pulang." Kyuhyun mengambil jaket soft blue milik Sungmin di sofa, kemudian berusaha memakaikannya. Namun Sungmin menepis tangannya dan kembali menatapnya geram.

"Aku tak akan mengikutimu pulang jika kau tak mengatakannya!"

"Cih! Kau keras kepala sekali Lee Sungmin, pakai jaketmu ppali!."

"Mengapa kau membenciku!." Jerit Sungmin, sambil menghempas kasar jaket tebalnya dari tangan Kyuhyun. membuat namja tampan itu makin tersulut karenanya, tak ada satupun yang berani bersikap lancang seperti itu padanya. dengan geram Kyuhyun mencengkeram lengan Sungmin dan menariknya mendekat.

"Kau ingin mengetahuinya? geurrae... karna kau putra pembunuh Appaku! Dan kau pasti tau seberapa besar aku membencimu! Apa kau puas dengan jawaban itu?!"

Ketiga namja itu tampak berjengit terkejut mendengarnya, terlebih untuk Sungmin. namja cantik itu menggeleng kasar, dengan air mata yang telah merembas dari pelupuknya. Ayahnya bukan seorang pembunuh...Tidak! ia tak bisa menerima hal tersebut dan tak akan mempercayainya.

"Appaku bukan pembunuh! Kau tak berhak memfitnahnya! Ayahku hiks bu—kan pembunuh! Brengsek!." Racau Sungmin dengan memukul-mukul dada Kyuhyun, luka dalam hatinya membuatnya tak berdaya untuk melawan lebih. Tentu ia tak bisa menerima begitu saja semua ucapan Kyuhyun mengenai ayahnya.

"Ayahmu pembunuh! Dia yang harusnya kau penggil brengsek Lee Sungmin!."

" ANDWAEEEE! Cukup! Appaku bukan pembunuh! Kau brengsek Cho Kyuhyun!...Appaaa!." Sungmin kembali menjerit seraya meremas kepala, kakinya terasa lemas ...sungguh ia benar-benar tak sanggup menopang tubuhnya, semua kata-kata itu terlalu dalam mencabik hati dan harga diri keluarganya.

"Kyu hentikan...kau sudah keterlaluan, jangan katakan apapun lagi." tukas Yesung dengan mendorong pelan dada Kyuhyun agar menjauh, ia tak pernah menduga Kyuhyun akan terbawa emosinya sefatal itu.

"H-hyung". Kyuhyun mengusap kasar wajahnya, ia sadar tak seharusnya mengatakan semua kalimat tersebut. Tapi itu benar-benar di luar kendalinya. Perlahan ia berjalan mendekati Sungmin hendak meraih tubuhnya yang bergetar.

Namun tiba-tiba saja Sungmin menerjang dan mencengkeram kuat bagian depan kemejanya. Ia menatap Kyuhyun tajam, meski nyatanya air mata membuat wajah itu begitu pias.

"Bunuh aku! Jika itu memang bisa memuaskanmu! Jangan menaruh dendam pada Appa! Dia bukan pembunuh! Bunuh aku saja Cho Kyuhyun!." racaunya kalut, kedua matanya menatap nyalang ke sekitar berusaha mencari sesuatu yang tajam. sedetik kemudian Sungmin melepas cengkeramannya, lalu meraih sebuah cangkir keramik dan membantingnya keras. Membuat serpihannya berserakan di lantai.

Sungmin tak segan-segan mengambil pecahan tersebut dan menyodorkannya pada Kyuhyun.

"Bunuh aku dengan inii! Semua dendammu akan berakhir bukan?... Cepat bunuh—PLAKKK

Sungmin jatuh terjerembab ke sofa, begitu Kyuhyun menamparnya keras. Namja mungil itu menunduk berusaha menahan perih di sudut bibirnya.

"Kyuhyun! " Gertak Ryeowook, ia mengambil langkah cepat menghampiri Sungmin dan menyentuh dagunya. Detik itu pula Ryeowook berdecak keras melihat luka lebam di sudut bibir Sungmin.

Sementara itu Kyuhyun tampak menatap tangan kanannya yang gemetar,sungguh demi apapun dirinya tak pernah berniat menampar Sungmin sekeras itu. ia kalap karna Sungmin berulang kali mengucapkan kalimat yang dibencinya. Dirinya sampai kapanpun ia tak kan sanggup membunuh namja cantik itu.

"Kau menyakitinya!... tidakkah kau ingat ucapanku waktu itu?." Ujarnya lagi seraya menatap miris Sungmin, terlebih pada perban putih yang masih melilit di kepalanya.

Wajahnya mengeras begitu melihat Ryeowook, menyentuh Sungmin. kendati namja manis itu seorang uke...tapi tetap saja ia tidak rela namja lain menyentuh Sungminnya.

"Kim Uissangnim, dibandingkan dengan diriku... aku rasa pasien di rumah sakit lebih membutuhkan ocehanmu. Tak seharusnya kau berkeliaran di tempatku!."

Ryeowook berdecih lirih, kemudian menatap tajam Kyuhyun...menyiratkan sebuah perhitungan dari manik caramelnya.

"Aku memang tak memiliki hubungan apapun dengan anak ini, tapi aku tak bisa berdiam diri melihatmu memperlakukannya demikian. Dengar...Sungmin pasienku! Dan aku akan membawanya bersamaku, hingga anak ini sembuh total! ."

"Kau—

"Wae? Kau keberatan? Ah...apa perlu aku memanggil media untuk meliput sikap bejatmu? Aku yakin reputasimu akan hancur sebagai pemegang jabatan tertinggi di perusahaan ini Cho Kyuhyun."

Ryeowook berjalan ke belakang Sungmin dan meletakkan jemarinya di kedua bahu namja cantik itu, masih dengan tatapan tajamnya ia menyeringai sinis.

Sementara itu Yesung tampak menutup wajah dengan telapak tangannya, ia benar-benar kebas dengan semua ucapan kekasihnya. Tidakkah Ryeowook tau...Kyuhyun akan sangat bringas jika dia berbicara selancang itu.

"Sungmin! kemari kau!" Gertak Kyuhyun sembari mengepalkan tangannya, sejujurnya ia begitu panik jika Sungmin bersedia mengikuti dokter muda itu.

"Minnie...kau akan aman jika bersamaku, tak perlu takut dengannya...cha kajja pergi."

"Ku bunuh kau Kim Ryeowook!."

Ryeowook menghentikan langkahnya untuk menoleh, kemudian kembali mengulas senyuman lebar...bermaksud meremehkan namja tinggi di belakangnya.

"Ah! Johta...kau ingin membunuhku? lakukan Cho Kyuhyun, bersikaplah sewajarnya...kau belum dewasa...tak perlu memaksakan diri sekeras itu...kajja Minnie."

Kyuhyun makin meradang mendengarnya, terlihat jelas nafasnya menderu karena amarah. Dengan geram ia berjalan hendak menyergap Ryeowook...namun secepat kilat pula Yesung berdiri menghadangnya.

"Kyu...tenanglah, Wookie hanya bercanda denganmu. Apa yang dia lakukan hanya untuk kebaikan Sungmin dan dirimu, percayalah anak itu akan kembali setelah luka di kepalanya sembuh."

Seolah menutup pendengarannya, Kyuhyun memaksa Yesung untuk menyingkir dan kembali ingin merebut Sungmin dari rengkuhan Ryeowook.

"Berhenti! Kembalikan Sungmin padaku!."

"Aniyoo...aku akan tetap membawanya, kajja Minnie jangan menghiraukannya" Ujar Ryeowook sembari membimbing Sungmin meninggalkan Kyuhyun.

"Aku tak peduli kau merusak reputasiku! Kembalikan Sungmin padaku!" Teriak Kyuhyun lagi, ia makin gusar menyadari Ryeowook sama sekali tak menghiraukannya. Dan lebih memantapkan langkahnya menuju lift.

Sementara Sungmin hanya diam, dan mengikuti langkah Ryeowook dengan patuh. Ia masih begitu terpukul dengan ucapan Kyuhyun beberapa saat lalu, dan itu benar-benar mengguncang emosinya...mungkin benar bersama dengan Dokter muda itu lebih membuatnya tenang. Walau nyatanya hatinya bergejolak ingin menatap Kyuhyun dan kembali padanya.

"Kau tak bisa pergi dengannya Sungmin!" Kyuhyun tiba-tiba mencengkeram kasar tangan Sungmin,dan berusaha menariknya menjauh dari namja manis itu.

"Akhh le-lepas."

"YACK! Kau melakukannya lagi! lepaskan tanganmu!" Ryeowook menyentak cengkeraman tersebut hingga terlepas, kemudian menarik tubuh Sungmin agar berlindung di belakangnya.

"Kau tak memiliki hak apapun untuk membawanya!." Seru Kyuhyun masih dengan berusaha meraih tubuh Sungmin, tapi tetap saja Ryeowook menghadangnya dengan kekeuh.

"Aku berhak! Karena Dia pasienku! Pergi kau!"

"Tapi dia milikku!."

"Aku bukan milikmu!" Jerit Sungmin seraya menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Ryeowook. Ia yakin Kyuhyun mengucapkan kata 'milik' tersebut dalam artian namja tampan itu telah membelinya. Bukan karena suatu perasaan yang terpendam untuknya.

"Min...aku tak bermaksud menamparmu, ikut denganku pulang arrasseo?."

Sungmin menggigit kuat bibir bawahnya, bukan karena tamparan itu yang menahan dirinya untuk menyambut uluran tangan Kyuhyun, akan tetapi ucapan menyakitkan mengenai Appanya beberapa saat lalu. Benar-benar tak bisa dimaafkan.

"Minnie...putuskan pilihanmu, kau ingin bersamaku atau tetap bersama namja brengsek seperti dia?" tunjuk Ryeowook pada Kyuhyun.

Sungmin mengangkat kepalanya, dan menatap pias sosok tampan di hadapannya...tapi setelahnya ia kembali menunduk dan mencengkeram kuat bagian belakang kemeja Ryeowook.

"Bawa aku bersamamu Kim Uissangnim." Lirih Sungmin.

"Kau dengar itu Kyu...jadi aku menang, right?"

Kyuhyun benar—benar membelalakkan mata mendengarnya, sesuatu seperti menghantam keras hatinya kala menyadari Sungmin tak sekalipun menatapnya dan lebih memilih meninggalkannya. Tapi ia tak menginginkan semua ini...Sungmin hanya miliknya, Kyuhyun bisa gila jika tak melihat namja mungil itu di sisinya. Tidak! ia tak akan membiarkan Sungmin pergi darinya satu detikpun.

"Ku mohon...jangan pergi."

DEG

Sungmin seketika menghentikan langkahnya saat Kyuhyun tiba-tiba menggenggam tangannya, sungguh ia tak pernah mendengar Kyuhyun meminta demikian. Sungmin berbalik dan betapa terkejut dirinya, melihat raut sedih membingkai wajah tampan itu.

"Apa aku tak salah mendengarnya? Yya! Apa yang terjadi denganmu? Kemana sikap arogan dan angkuhmu itu Cho Sajangnim?." Ketus Ryeowook, masih dengan menyeringai sinis.

Tapi Kyuhyun tak mengindahkannya, tatapanya hanya tertuju pada Sungmin, entah apa yang terjadi pada dirinya...ia merasa benar-benar lemah saat melihat Sungmin pergi meninggalkannya.

"Min..." Panggilnya lagi, saat menyadari Sungmin hanya menatapnya kosong.

"Aisshh jinjja? Apa anak seusiamu memang labil seperti ini eoh?! lebih baik kau ikut denganku Miinnie"

"Kim Ryeowook!." Satu urat emosi muncul di keningnya, namja bermata caramel itu benar-benar seperti parasit. Ia melayangkan death glare tajam pada Ryeowook mengisyaratkanya untuk diam, lalu kembali menatap Sungmin lekat.

"Ku mohon pulanglah denganku"

"Bukan kah kau namja yang tak menginginkan siapapun menyentuh property di rumahmu, dan apa ini? kau mengizinkan Sungmin tinggal di rumah bahkan tidur bersamamu?." Sinis Ryeowook sembari terkekeh meremehkan. "Oooh dan lagi, kau tak mengerahkan manusia besar tak berotak milikmu, untuk menyeretnya pulang, ck..ck..sangat kontras sekali dengan tabiatmu dulu."

"Karena Sungmin spesial! Dia milikku! Satu-satunya miliku apa kau puas Kim—

'Blush'

Kyuhyun seketika memalingkan wajahnya begitu menyadari, ia telah lepas bicara...obsdiannya melirik Sungmin sesaat, tapi wajahnya semakin terasa panas. Tak seharusnya namja penuh kuasa seperti dirinya bersikap memalukan seperti itu.

"Hahh! Benar-benar seperti dugaanku...kau munafik sekali Kyu."

Sementara Sungmin hanya menatap redup...ia tak peduli dengan perubahan ekspresi wajah stoic itu, bagaimanapun rasa sakit dan kecewa masih meliputi perasaannya. Sekali lagi...Ayahnya bukanlah seorang pembunuh, Kangin begitu hangat dan lembut...sangat mustahil pria itu melakukan hal sekeji itu.

"Min jangan bersamanya kau-

"Aku akan pulang". Sergah Sungmin tiba-tiba.

Kyuhyun melirik Ryeowook sinis, kemudian mendekati Sungmin hendak merangkul bahunya.

"Aku bisa berjalan sendiri, lepaskan" Lirih Sungmin seraya menepis tangan Kyuhyun, kemudian berjalan perlahan menuju lift di hadapannya.

"Bersiaplah...kau tak akan mendapat senyuman manisnya lagi."

"Apa maksudmu?"

"Apa maksudku? Tsk! Kau akan menemukan jawabannya di rumah." Ketus Ryeowook sembari menyilangkan tangan di dadanya.

Kyuhyun berdecih sesaat, kemudian bergerak sigap demi mengejar siluet Sungmin. namja cantik itu pasti telah menunggu dirinya di lobi perusahaan.

.

.

.

"Aku yakin...anak itu tak lama lagi akan menyadari perasaannya, mmh~"

"Benarkah? Itu bagus." Bisik Yesung sembari menggigiti kecil bagian belakang telinga Ryeowook. Keduanya kini tengah berbaring di sebuah sofa panjang, dengan posisi Yesung menindih namja mungilnya.

"Ahn~ C-cukup Hyungh...aku—harus kembali bekerja..akhh." ucap Wookie terbata-bata.

"Sshh...aku tak bisa menahanya lagi Wookie, kita lakukan di sini."

"M-mwoo? Y-yeoggi? (Di sini)...tidak Hyung, bocah tengik itu akan membabi buta jika mengetahuinya." Pekiknya kesal seraya mendorong dada Yesung agar segera bangkit.

"Ahss...Dia tidak akan tau, ayolah Wookie...kau tega membiarkanku seperti ini." Rajuknya dengan menunjuk-nunjuk sesuatu ditengah selangkangnya.

"Tck!aku tidak mau di sini...bagaimana jika karyawan lain datang?."

"Ahh Jinjja! Aku benar-benar tak tahan lagiii!."

BRUGH

Yesung kembali menghempas tubuh kurus itu, dan mengunci pergerakan tangan Ryeowook dengan dasi miliknya.

"AH! K-kau ahhnn~...Geumanhae! HYUU—Mppfthhh...Mmmm."

.

.

.

"Saranghae Wookie~ah."

"Nnnn~ ARGHMMMM!."

.

.

.

Sementara itu di tempat lain

"YACK! Berhenti...kau!." Teriak seorang namja garang, sambil memacu larinya lebih cepat...tak peduli dirinya kini merangsak siapapun yang menghalanginya.

Ia kesal bukan kepalang dengan kejadian beberapa waktu lalu, anak itu melarikan diri begitu saja setelah dirinya menyelamatkannya dari kungkungan penjara. Dan kini...Yong Guk tak akan melepaskannya untuk kedua kalinya.

"Aisshh Waeeee! Apa kau idiot? Kenapa masih mengejarku! Hubungan kita sudah berakhir...ingat itu!." seru Himchan masih terus berlari sekencang mungkin, ia benar-benar tak habis pikir bagaimana mungkin polisi itu sangat gemar mengejarnya di manapun dan kapanpun saat keduanya bertemu.

"Apa yang kau bicarakan bocah tengik! Berhenti kataku!."

Teriak Yong Guk lagi, tak menghiraukan tatapan jengkel dari beberapa orang yang diterjangnya di pusat keramaian itu. ya...keduanya kini tengah berlari membabi buta di sebuah pasar tradisional.

"Shirreo... kau ahjusshi mesum?! Pergi! Jangan mengejarku." Himchan menggeleng kasar, sungguh tubuhnya lemas total karena hampir setengah jam ia berlari menghindari Yong Guk. Semakin merasa langkanya melemah, semakin Himchan menunduk dan memejamkan mata erat...karena dengan begitu larinya akan semakin cepat, bahkan ia bisa meniti anak tangga di depannya dengan gesit.

Akan tetapi namja ulzzang itu tak menyadari tak jauh di bawahnya saat ini terdapat sebuah box raksasa berisikan berton-ton ikan segar.

"YACK! Turun! Apa kau buta? Di depanmu! Awas—

'BYUUURRR'

Terlambat baginya membuka mata, air es yang meleleh dalam box besar itu telah lebih dulu membungkus tubuhnya. Himchan meronta dan berusha berteriak di dalam air penuh dengan aroma amis yang menusuk, bahkan sebagian tertelan karena terlalu kalap.

"Hei bocah! Gwaenchanaa!" Teriak Yong Guk dari atas, ia menyipitkan mata elangnya dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru box tersebut, namun Himchan tak kunjung menyembulkan kepalanya...hanya terlihat ikan-ikan mati di dalamnya.

"Ah Tuan...apa ada anak yang tercebur ke dalam bak penampungan ini?." Ujar Seorang Ahjushi...beberapa saat lalu ia melihat seorang anak berlari di atas box besarnya dan tiba-tiba saja anak itu menghilang.

"Heiiihh Ahjushii...bagaimana bisa kau bertanya seperti, sudah jelas kau melihatnya bukan?" Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk tempat di bawahnya.

"Aigoo...kita harus bertindak cepat, anak itu mungkin pingsan di dalam air es Tuan!" Paniknya seraya menyingsingkan lengan baju, hendak mengambil tindakan.

"MWOO? Pingsan? Oh Sesangeee! (Oh bagaimana mungkin)...Yya! Bocah bertahanlah!."

Seru Yong Guk sembari berdiri dan bersiap-siap menceburkan dirinya ke dalam box tersebut.

"T-Tuan tunggu—

BYURRRRR

Pria paruh baya itu menghela nafas pasrah melihat polisi muda di hadapannya bertindak gegabah, menceburkan dirinya ke dalam bak besarnya. "Anak Bodoh." Ucapnya kemudian.

"Arrrggg...acckk! jinjja...air macam apa ini! Dingiin!" Teriaknya gusar, kendati demikian...ia tetap bergerak aktif di dalam air, berusaha menggapai-gapai apapun demi menangkap tubuh Himchan.

"Aku menangkapmu!." Pekiknya girang, begitu memegang sesuatu yang kenyal...dengan penuh semangat ia menariknya, dan...

"U-UWAAAAHH!." Teriaknya kalap begitu menyadari dirinya kini tengah memegang sebuah kepala besar bertentakle. Tak ada rambut di atasnya, sepenuhnya polos dan lembek...itu benar-benar bukan kepala manusia.

Dengan kasar ia membanting gurita berkepala besar itu ke dinding box, membuat setiap tentaklennya melekat erat dan betengger di dinding tersebut.

Namun tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu yang berat, ia membelalakkan mata lebar dan bergerak sigap meraihnya. Dan benar saja...itu memang tubuh Himchan.

"Y-ya! Gwaenchana? Apa kau masih hidup?." Ucapnya panik, Yong Guk menkan dada Himchan...beruntung masih terasa detak kehidupan di dalamnya. ia bergerak cepat, mengangkat namja kurus itu keluar dari kubangan ikan mati tersebut.

Namun tiba-tiba saja air menyusut... hingga batas betisnya, menampakkan ratusan ribu ikan bermacam spesies di dalamnya.

"W-Wae Geurrae? Apa yang terjadi?." Masih dengan menggendong bridal Himchan, namja garang itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Tuan?"

"Ahjushii...apa yang terjadi?."

"Aku mengurangi debit airnya, apa anak itu baik-baik saja?."

"Menggunakan mesin?." Tanya Yong Guk lagi

"Ne Tentu saja...alat ini sudah canggih?."

"Kenapa tidak mengatakannya? Dan kau membiarkanku berkubang dalam lautan bangkai ikanmu?!."

"Tuan sendiri yang tak mendengarkanku...cepat bawa anak itu kemari."

Ingin rasanya menginjak ikan-ikan di bawahnya hingga ringsek sampai ke tulang-tulangnya, akan tetapi melihat kondisi pasi namja ulzzang dalam gendongannya membuatnya meluluh dan bergerak sigap menaiki tangga box tersebut.

.

.

.

"Tuan...apa perlu aku memanggil seorang dokter kemari?."

"Tak perlu...beri aku pakaian tebal dan minuman hangat saja." Ujar Yong guk sembari membaringkan tubuh Himchan di sebuah tempat yang landai.

"Ah...Ye."

Yong Guk menatap kepergian Ahjusshi itu sesaat, tapi setelahnya ia beralih kembali pada Himchan. Dengan cekatan ia melepas kancing kemeja Himchan, dan melonggarkan ikat pinggangnya.

Namja garang itu sedikit mengangkat tengkuk Himchan hingga menengadah, kemudian menekan dagu dan kepalanya berlawanan arah. Dengan perlahan ia menyatukan bibir keduanya, dan menghembuskan nafas hangat sekuat mungkin.

Merasa tak mendapat respon apapun, Yong Guk menekan kuat dada Himchan kemudian kembali memberinya nafas buatan. Namja garang itu melakukannya berulang-ulang, hingga...

"Uhuk...uhkk...Hhhh...hhhh." Himchan tersedak dan terbatuk-batuk, kala air yang menyumbat saluran pernafasannya keluar dari sela bibirnya.

"Gwaenchana?." Cemas Yong Guk.

"YACK! Mesum! Kau menciumku!" Jerit Himchan seketika seraya menutup bibirnya.

'SLAPP'

"Bocah tengik aku menyelamatkanmu Pabbo!."

"Appoooo!." Seru Himchan seraya mengusap kasar kepalanya, ia mempoutkan bibir...lalu memeluk Yong Guk dengan erat.

"K-kau—

"Dingin ahjusshiii~."

Yong Guk sempat terkejut, tapi setelahnya ia tersenyum lembut dan mengusap punggung Himchan dengan hangat.

"Tuan...aku membawakan mentel tebal untuk kalian."

Yong Guk melepas kemeja dan celana Himchan dengan cepat, dan membungkus tubuh Himchan dengan 2 mantel sekaligus. Sebelum namja ulzzang itu kembali berteriak dirinya mesum.

.

.

.

.

"Kamshahamnida...ahjushii, kami berhutang budi padamu."Ucap Yong Guk sembari membungkukkan badan.

"Ahhh Cheonmanayoo... datanglah berkunjung lain waktu Tuan."

Polisi muda itu tersenyum ramah, kemudian melanjutkan langkahnya dengan menggendong seorang namja ulzzang di punggungnya.

.

.

.

"Ahjushi~."

"Aku baru 25 tahun, jangan memanggilku Ahjushi!."

"Tapi kau terlihat tua."

"Yack! Kau—

"Gomawo."

Jantungnya tiba-tiba saja menyentak cepat, dan semakin gugup kala namja ulzzang itu menyandarkan kepala di bahunya.

"Bolehkah aku tidur?" tanya Himchan tiba-tiba.

"N-ne...tidurlah."

.

.

.


Kyuhyun kembali membuka matanya, malam ini ia benar-benar tak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Sesekali Kyuhyun melirik Sungmin, ingin rasanya menyentuh punggung sempit itu, namun ia urungkan niat tersebut. Mengingat semenjak pulang dari kantor...namja cantik itu tiba-tiba saja bersikap dingin terhadapnya, seperti saat ini...Sungmin sama sekali tak membiarkan Kyuhyun melihat wajahnya, bahkan ketika tidur sekalipun.

"Kau sudah tidur?."

"..."

"Tentang...aku yang menamparmu, maafkan aku." Ucapnya, Kyuhyun tau namja cantik itu belum terlelap.

"..."

Sungmin sama sekali tak bergeming, terlebih menyahutnya...ia hanya mengerjap dan mendengarkan Kyuhyun bicara.

"Apa masih terasa sakit?."

"..."

"Biarkan aku melihatnya."

'Plak'

Sungmin menghempas tangan Kyuhyun, begitu namja tampan itu memegang bahunya, ingin membuatnya berbalik. Tatapannya memang terlihat kosong, namun tersirat luka dan rasa takut di dalamnya.

"Aku tak butuh perhatianmu!."

Namja tampan itu mengernyit sakit mendengarnya, ia memang masih begitu yakin dirinya menyimpan benci pada Sungmin, tentu saja karna kematian Appanya. Akan tetapi melihat raut wajah pias itu membuat sesuatu dalam hatinya berdenyut nyeri, dan tak dipungkirinya Kyuhyun tak menginginkan Sungmin bersikap demikian.

"Hhh...aku rasa kau cukup lelah, tidurlah." Kyuhyun mengelus kepala Sungmin yang membelakanginya. Mencoba menghibur diri...karena penolakan tersebut.

.

.

.

Esoknya

Senyumnnya terkembang begitu saja melihat namja mungil di sisinya masih begitu lelap memejamkan matanya, ia memang telah berpakaian rapi. Dan seharusnya memang setengah jam yang lalu ia bergegas ke kantor, akan tetapi melihat wajah menggemaskan itu, memaksanya untuk kembali berbaring dan memandangi Sungmin dari dekat.

Masih dengan menyangga kepala dengan sebelah tangannya, Kyuhyun menyentuh pipi Sungmin dan berakhir pada bibir soft pinknya.

Kyuhyun benar-benar takjub, Sungmin memang namja...akan tetapi ia memiliki kulit yang begitu halus dan mempesona. "Yeppeoh." Bisiknya lirih.

"Uhn~."

Cepat-cepat Kyuhyun menyingkirkan telunjuknya dari bibir Cherry itu, begitu menyadari Sungmin sepertinya akan terbangun.

"Sepertinya kau bermimpi cukup indah eum?." Ujar Kyuhyun. Membuat namja cantik itu membelalakkan mata dan mendudukkan diri cepat.

"M-mianhae...aku akan segera menyiapkan makan pagimu."

Belum sempat kakinya berpijak, Kyuhyun telah lebih dulu menariknya dan membuatnya kembali berbaring.

"Tak perlu, aku tau kau tak cukup sehat hari ini." Kyuhyun bangkit dan meraih sup di meja nakas.

"Buka bibirmu." Ucapnya, ingin menyuapkan sup tersebut untuk Sungmin.

Namun Sungmin memalingkan wajahnya, membuat Kyuhyun kembali mengernyit karena penolakan tersebut.

"Kau tak harus bersikap seperti ini."

"Kau sedang sakit."

Sungmin tersenyum kecut. "Tenanglah...aku tak akan mati. Dengan tubuh seperti ini...pelacur sepertiku masih bisa bertahan jika kau memukulku atau bahkan menyetubuhiku sekalipun."

Hatinya kembali terasa terkoyak mendengar Sungmin merendahkan dirinya. Ia mendesah berat seraya menatap langit-langit kamarnya.

"Berhenti merendahkan dirimu."

"Wae? Bukankah aku benar, kau selalu mengatakan itu bukan?...tak apa kau membenciku, tapi ku mohon jangan menaruh dendam pada Appa. Dia bukan pembunuh."

Kedua obsidian itu membuka lebar, ia begitu lekat menatap Sungmin. Sesungguhnya Kyuhyun ingin memeluk Sungmin dan mengucapkan maaf karna semua kata dan perbuatannya pada namja cantik itu. Akan tetapi keyakinan dan dendamnya seolah semakin melingkarinya, membuat kata maaf itu tak mampu terucap.

"Aku akan segera pergi, ku harap kau menghabiskan sup ini." Ujar Kyuhyun, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia meletakkan sup tersebut di sisi Sungmin kemudian berjalan perlahan hendak bergegas dari kamar miliknya.

Tapi sesaat kemudian Kyuhyun berbalik, dan menyentuh dagu Sungmin dengan cepat. Tanpa peringatan ia menyatukan bibir keduanya. Melumat belahan manis itu dengan lembut.

"Mhmfth~." Sungmin membulatan mata lebar, ia benar-benar terkejut dengan ciuman mendadak tersebut, jemari mungilnya meremas kuat-kuat ujung kemejanya...melampiaskan perasaan berdebar yang tiba-tiba menyergap.

.

.

'Chup'

"Aku akan kembali secepatnya." Ucap Kyuhyun begitu melepas ciumannya, ia membelai pipi Sungmin sesaat...lalu beranjak pergi dengan senyuman tipis di bibirnya. Kyuhyun tau apa yang dilakukannya akan semakin memperumit perasaannya, tapi siapa peduli? . ia hanya menginginkan hatinya menghangat dengan menyentuh Sungmin seperti itu.

"Bukankah aku tak sedang banyak bicara? Mengapa Kyuhyun menutup bibirku dengan ciumannya?" Gumam Sungmin sambil mengerjap polos, berulang kali ia menyentuh bibirnya yang terasa basah kemudian menenggelamkan wajahnya ke bantal, tak peduli sup di sisinya jatuh dan mengotori lantai. Entahlah...wajahnya memanas begitu saja, dan sungguh...Sungmin menyukainya.

.

.

.


"Ahn~ M-more..akh! AH! AHH!." Tubuh rampingnya mengejang hebat, tatkala semburan sperma pekat memenuhi rongga tubuhnya tanpa, jeda. Namja itu...Kwon Jiyong, jatuh melunglai dengan nafas terengah-engah.

"I love You...babe." bisik namja kekar di atasnya sembari mengecupi, punggung sempit Jiyong.

"Nnhh~ kau tetap hebat memuaskanku Top."

Jiyong semakin terkikik kecil, kala Top memainkan lidah di lubang telinganya. Sesekali ia mendesah sensual, meminta pria kekar itu mencumbunya lagi...dan lagi.

"Ssshh...pastikan ahh~ tak ada yang mencium rencana kita Top."

"Semua akan mudah di tanganku Jiyong~ah, seperti yang pernah ku lakukan 5 tahun silam."

.

.

Flash Back On

"Sajangnim, anda memiliki rapat jam 4 sore."

"Batalkan."

"N-Ne?." Asisten itu tampak membulatkan mata tak percaya, ia tak pernah menemukan Hangeng menganggap remeh pekerjaannya, terlebih membatalkan rapat penting. Itu sangat mengejutkannya.

"Ada yang lebih berharga di bandingkan rapat itu. Aku memiliki janji dengan kawan lamaku. Sesuatu hal penting yang harus ku bicarakan dengannya, setelah sekian lama tak bertemu." Ucap Hangeng, sembari menepuk bahu pria paruh baya itu.

.

.

"Kau tak perlu mengikutiku, istirahatlah dirumah Tuan Kang."

"N-ne?."

"Gwaenchana...aku akan menghubungmu saat membutuhkan bantuanmu."

"Ah Ye...Jaga dirimu baik-baik sajangnim."

Hangeng tersenyum ramah, dan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.

.

.

Tak lama kemudian pria tampan itu tiba di tempat tujuan, Hangeng menepikan mobil dan seketika itu pula ia tersenyum lebar melihat sahabat lamanya tengah bersenda gurau dengan istri dan Putra kecilnya.

Cepat-cepat pria bermarga Cho itu turun dari mobilnya hendak, memasuki taman bermain tersebut namun tiba-tiba...

'DOOORR'

Sebuah timah panas melesat dan menembus dada kirinya, Hangeng jatuh bersimpuh ...sesaat kemudian ia tergeletak tak sadarkan diri.

"HANGENG!"

Kangin terkejut bukan main mendengar bunyi letupan senjata api di belakangnya, dan makin terperangah melihat sahabatnya tergeletak dengan bersimbah darah.

"Teukkie...bawa minnie pergi!." Serunya sembari mendorong Leetuk menjauh, tiba-tiba saja kedua matanya menyipit kala menangkap siluet hitam berlari tergesa di ujung taman hiburan itu. Kangin menarik pelatuk pistol, dan membidik cepat kepala sosok itu.

'DOOR'

Sial, tembakannya meleset...sepertinya pelurunya hanya menggores wajah sosok itu. Kangin mengumpat keras lalu berlari kalut mendekati Hangeng.

"TIDAK! HANGEEENGG!."

.

..

.

.

"N-nuguya?"

"Aku memiliki bukti, Polisi ini pembunuh Appamu...Cho Kyuhyun."

"Pembunuh A—Appa? Paman Kangin? Tidak! Tidaaaakk!"

Flash Back Off

.

.

.

"Bahkan aku bisa memutar fakta...Polisi keparat itu yang membunuh Cho Hangeng...tak ku sangka, anak itu begitu cepat mempercayai bukti yang kuberi." Desis Top seraya menyentuh goresan panjang di pipi kanannya, luka dari tembakan Kangin.

"Aku tak meragukanmu Dear." Desah Jiyong dengan mengecupi bibir Top.

Top menyeringai sesaat, ia mengambil sebuah amplop di atasnya kemudian menujukkan isinya pada kekasihnya.

"Siapa anak ini?." Ujar Jiyong, ia benar-benar heran dengan semua potret namja cantik di tangannya.

"Aku rasa anak ini sangat berharga untuk Kyuhyun, kita bisa menjadikannya umpan."

"Awesome! Aku tak sabar menjadikan perusahaan itu milikku Top!"

Namja kekar itu mengecup kening Jiyong sekilas, lalu terkekeh pelan. "Kita bergerak esok hari, semua akan menjadi milikmu."

.

.

.

.

TBC

Chaa AWS Hadiirr...

Mianhae saya bru muncul hari ini dan updatenya sangat laruut...bukan krn mangkir dari utang Update, tapi deadline sesuatu mengejar saya Chinguu...Mohon di maklumi nee ^^

*Zelo muncul di chap dpn :D

*Kl g review...author bisa hiatus T_T

Dan untuk:

Cho Na Na , Michelle BunnyKyu , gyumine , RithaGaemGyu, Ria , pumpkinsparkyumin , minhyunJOYers137, TifyTiffanyLee , Yuuhee , Karen Kouzuki , kimteechul , Princess Kyumin215 , ChanMoody , gorjazsimba, cho hyo woon, bunnyblack FLK 136, Princess Pumkins ELF, UnyKMHH , winecoup137, Cho MinHyun , ChoKyunnie, WineShipper, Zebri JOY , Zen Liu , Kim Yong Neul, sitapumpkinelf , kyuminsaranghae, KYUMINTS, WineMing, TsubakiMing , bebek , kyuminjoy, Phia89, Bunbunchan ,Iam E L , F and JOYer, Yefah Joyer Cloudsomnia , MinChanLee137SasuNaru, Ritsu HyunMin , liez137, coffeewie137, mita sarang-MIN, epildedo, Chlie hanariunnse , Zahra Amelia, Indah Mirahati137, sitara1083 , Park Heeni, Dessy Kyumin Shipper, stalkyumin, nova137 , dJOYers , Dennis Park , cassiopeia, dhian930715ELF, Safira JoyClouds , hwangpark106 , Lee Hyun Riaprilbunny9 , Myst-girl, AreynaSyndrome , deviyanti137, sider imnida, Chikyumin, Cywelf, farla 23 , AnjarHana137, JOYmin137 , Rianichi, sissy , evilminnie14 , Kang Dong Jae , Lee Hyun Ri , mirukia, Maximumelf, hideyatsutinielf , ButtCouple137 , lee sunri hyun, vey900128 , HeeKitty, Glows Kyumin Angel , reaRelf , sary nayoll, Adekyumin joyer, winecouple , AtiqahPumpkin, mumumu, kim eun neul, NaizhuAmakusa , teukiangle, dirakyu , AngeLeeteuk , lee13ming, hazelsung , Hyukies, shine tha , Andrea brittania fleischer, asdfghjkyu , shika, kyumin pu, Gyumina, kepo lu, liu13769, imtwins, , 137Real Aiyu, novitawahyuu, snow drop 1272 , kyuminlovelys, EUNHAE 86, fuji, Kyuminlov3r , Nari Hima , km137 , faila, kim alice, fonami kyuminelf , imAlfera , zelming, hijkLEETEUK , CHOhyunrin137 , ckhislsm137 , lemonade , zi'Pumpkins, dan Para Guest

Gomawoo sudah mereview di chap 3 kemarin

Mohon Reviewnya Pleasee

Annyeoong Saranghaaaaeeeee