Title;

Don't Go

Main Cast;

Kim Jongin – Oh Sehoon

Main Pair;

Jongin!Seme Sehun!Uke

[Kaihun]

Genre;

Romance story, Yaoi, typo (s), abal

Rated;

T

Summary;

Ia berjuang untuk hidup kembali dengan meminta bantuan kepada seseorang yang menempati apartemen miliknya. Bisakah sosok itu membantunya bahkan menyelamatkannya?


-oOo-

"Aku. Tak. Mau!"

"Ku mohooon~~ Jonginiie"

"Sekali tidak, ya tidak!"

"Hanya kau yang bisa menolongku. Pweaseee ~~"

"Aku. Tidak. Peduli"

"Ok –baiklah. Aku akan terus mengusik hidupmu sampai kau mau membantuku!"

"Terserah! Aku tidak peduli"

"OK. BYE!"

"OH CAAADEEEEEELLLLLL!"

CREATED BY NAMI LAU


=Don't_Go=

Chapter III

Tetesan hujan kini begitu terlihat jelas dimata tajam milik Kim Jongin. Rintikan hujan yang begitu lembut beberapa jam yang lalu, kini sudah berganti menjadi guyuran hujan yang begitu lebat. Dan jangan lupakan sahutan petir yang ikut meramaikan suasana dipagi yang begitu dingin ini.

Ia menolehkan wajahnya ke samping kanan dan – ia terkejut meski bisa ditutupi oleh wajahnya yang tidak bisa menunjukkan ekspresi selain wajah datar. Bagaimana tidak terkejut. Kini, tepat disampingnya – didepan wajah tampannya ada sepasang mata yang menatapnya dengan begitu tajam. Walaupun tatapan mematikan sosok itu tidaklah mempan terhadapnya. Malah baginya, tatapan itu membuat wajah sosok itu makin menggemaskan. Apalagi dengan pipi yang sengaja digembungkan dan bibir merah mudanya yang terlihat begitu pucat dimajukan sedikit.

"Kenapa kau masih ada disini hitam?" tanyanya dengan ketus. Ia menyilangkan tangan didepan dada, sedikit menggeser duduknya lebih maju. Alhasil kini, hanya beberapa centi saja jarak antara dirinya dengan si hitam itu.

Jongin mendengus kecil, malas menanggapi pertanyaan konyol hantu usil ini. Kini ia malah memilih untuk turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun ketika tangannya ingin menggapai ganggang pintu, dirinya dikejutkan oleh si hantu usil yang kini tepat berada didepannya.

Jongin memutar bola matanya malas, "Apa maumu hantu usil?". Satu pertanyaan yang membuat Sehun memukul keningnya dengan cukup keras. Tentu saja hal itu membuat Jongin meringis.

"Ish, kenapa kau memukulku? Dasar idiot!" umpat Jongin kesal sambil mengusap pelan keningnya yang cukup terasa sakit itu. uh –andai saja hantu usil ini tidak cantik, akan ia tendang –tendang sampai tewas.

Sehun menyilangkan tangannya didepan dada (lagi), sambil merengut ia menatap si hitam ini dengan tatapan mematikan –meski dimata Jongin itu bukan tatapan mematikan. Melainkan, tatapan memelas seperti bocah tk yang meminta untuk dibelikan permen kapas. Sangat konyol.

"Aku bukan hantu. Dan juga, aku bukan I –di – ot!"

Jongin menatap kesal pada sosok transparan namun dapat saling sentuh tapi bukan hantu seperti yang ia katakan sebelumnya. Keningnya berkedut kesal, "Menjauhlah. Aku mau mandi" ucap Jongin datar seperti jalan didepan rumah neneknya yang berada di China sana. Ia sungguh –sungguh malas meladeni sosok ini. Meski ada rasa tertarik sihhh .. kkk

Sehun ingin sekali memukul wajah Jongin atau bahkan menonjoknya lagi karna bersikap sok keren didepannya. Hey – kau kira Sehun siapa? Bisa diperintah seperti itu! Ingat hitam, Sehun pemilik sah apartemen cantik ini.

"Apa lagi yang kau tunggu? Aku sudah kebelet mau pipis" Jongin menyeringai tipis saat melihat semburat merah terlihat samar dipipi pucat si hantu –coret – sosok transparan itu. Ide jahil melintas begitu saja. Ia mendekati tubuh sosok transparan itu, membuat sosok itu –Sehun tertegun tak berdaya. Rasanya, ia tak sanggup memindahkan kakinya barang sedikit ataupun menghilang. Seakan –akan, aura si hitam itu begitu kuat hingga merusak otaknya.

"Atau kau ingin aku pipi disini? hmm .. kau ingin lihat punyaku ya?"

Seringaian nakal itu terlihat lagi dari mata indah Sehun. Ia juga tidak merasa ketika Jongin mengangkat dagunya, lantas membawanya lebih terangkat, membuat mata mereka saling beradu pandang. Beberapa detik mereka masih setia dengan posisi seperti itu. Hingga sampai saat dimana Sehun mendorong tubuh Jongin dengan begitu kuat, membuat tubuh Jongin hampir terjungkal kebelakang. Lalu beberapa detik setelah itu tubuhnya menghilang.

"DASAR HITAM PESEK MESUMMM! AKAN KU BUNUH KAU NANTI"

Jongin tertawa kecil mendengar teriakan yang begitu memekakan telinganya itu. ah – ia sangat teramat gemas melihat semburat merah diwajah pucat Sehun yang makin terlihat oleh matanya ketika ia tadi sempat memperkecil jarak diantara mereka. Hingga Jongin bisa merasakan hembusan nafas yang begitu pelan menerpa wajah tampannya.

Namun tiba –tiba tawanya menghilang saat ia merasakan ada hal yang aneh didadanya. Dengan cepat ia menyentuh dadanya. Kenapa jantungnya berdegup begitu cepat dan kuat? Apa ia mengidap kelainan jantung? Oh –tidak mungkin. Ia termasuk orang yang memiliki gaya hidup sehat. Lalu? Apa karna si sosok transparan itu? Tapi kenapa? Apa karna ia sudah –

Cukup.

Sebaiknya ia mandi dan mengguyur kepalanya yang dipenuhi oleh pikiran –pikiran yang mulai aneh –aneh.

-Don't_Go-

Sehun mendudukan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Ia mengeratkan pelukannya pada sebuah boneka beruang coklat. Masih bisa ia dengar dari sini, percikan air dari arah kamarnya yang kini ditempati oleh si hitam yang punya hidung pesek dan juga berotak mesum itu.

"Akan ku bunuh kauuuu" ia mencekik kuat leher boneka beruang itu. Menganggap kalau boneka beruang itu adalah si hitam –pesek – mesum itu. Tak lupa juga beberapa pukulan dan tendangan yang menghantam kuat tubuh boneka beruang tak berdosa itu. Sebenarnya sih ia tidak tega, hanya saja ia terlalu kesal. Sangat –sangat kesal. Ia tidak tahu lagi harus melampiaskan kemana? Tidak mungkinkan kalau langsung ke sosok hitam itu. Bisa –bisa ia malah dilecehkan atau mungkin ia bisa diperkosa? Ddduuh, membayangkannya saja sudah membuat dirinya menarik lututnya dan menyembunyikan wajah manisnya. Sebelumnya ia melempar jauh boneka beruang tersebut hingga menimbulkan bunyi 'ngek'.

"Aku tidak mau diperkosa olehnya… amit –amit" desisnya sambil menggelengkan kepalanya ke kanan –kiri berulang kali. Pokoknya, si hitam itu tidak boleh melecehkannya apapun yang terjadi. Tubuhnya ini sudah ia persiapkan untuk Siwon Super Junior yang tampannya melebihi CR7. Sebelum ia disentuh oleh si hitam –pesek – mesum itu ia harus terlebih dahulu menendangnya dari apartemennya ini. Ya! Rencananya kali ini harus berhasil. Benar!

Ia mengangkat kepalanya, hingga kini seulas senyum setannya terlihat begitu jelas. Namun ketika ia hendak berdiri, matanya menangkap selembar kertas yang terletak diatas meja. Tepat dibawah vase bunga cantik miliknya.

Ah –sial. Ia lupa. Dengan cepat ia menarik kertas tersebut tanpa membuat vase bunga itu jatuh. Matanya memperhatikan dengan seksama tulisan yang begitu berantakan. Sampai –sampai ia juga tidak mengerti dengan tulisan yang hampir membuat ia sakit mata.

Ya Tuhan –

Kenapa tulisanku jelek sekali, bathin Sehun miris. Hiks

Sehun menggigit ibu jari kanan miliknya. Matanya tak lepas untuk –masih berusaha membaca tulisan yang berisikan perjanjian yang dibuatnya itu kemarin. Pantas saja si hitam itu melemparkan begitu saja kertas terebut ke lantai, dan tak lupa ia menginjaknya dan sedikit menekannya ke lantai. Dirinya yang menulis saja lupa dengan tulisannya yang begitu –abacadabra –apalagi si hitam itu? ._.

Rencana untuk mengenyahkan si hitam itu lenyap begitu saja. Karna ada hal penting yang harus ia lakukan saat ini.

Yeah –

Ia harus kembali hidup. Ia tak ingin mati. Ia masih ingin bertemu dengan Siwon dan menyuruh pemuda tampan dan juga kaya itu untuk melamarnya. Dengan semangat Palestina yang menggebu –gebu, ia harus bisa membuat si hitam itu mau membantunya. Ingat, hanya si hitam itu satu –satunya orang yang bisa membantunya. Hanya si hitam itulah yang nantinya akan membuat dirinya bisa menikah dengan Siwon. Yeay –!

Sekarang ia harus bisa meluluhkan hati Israel milik si hitam itu. Ia menjetikkan jarinya, mungkin cara ini akan berhasil nantinya. Ia meremas kuat kertas perjanjian itu dan membuangnya ke tempat sampah. Karna ia benar –benar tidak mengerti dengan tulisannya sendiri. Haah – ia menyerah.

-Don't_Go-

Sehun tersenyum begitu amat –sangat manis ke arah Jongin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sebenarnya sehun merasa was –was saat ia baru menyadari kalau Jongin hanya mengenakan handuk yang menutupi organ vital pemuda hitam itu. Pasti sangat besar, keras dan –

Oh shit.

Apa yang kau pikirkan Sehunnaaa?, teriaknya dalam hati. Kenapa otak polosnya kini memikirkan hal yang tidak –tidak. Bukannya ia merasa sombong nih, ia sama sekali tidak pernah menonton video porno selama hidupnya. Ia masih suci tau!

Fokus Sehun .. hanya perhatikan wajahnya. Eits –

Bukan abs-nya yang begitu sempurna tercetak di otot –otot dada dan perutnya.

Fokus Sehunnaa –

Seperti waffles, eh?

Sehun memejamkan matanya seraya memukul pelan kepalanya berulang kali. Astaga .. ada apa dengan Sehunnaaa – kenapa otaknya melenceng seperti ini sih?

Jongin memperhatikan Sehun diatas tempat tidur dari cermin. Tak begitu memperdulikan aksi konyol sosok itu. ia berdecih pelan, "Pasti terpesona olehku?" desisnya narsis. Kini ia berbalik, setelah selesai menggunakan pakaiannya. Tadi ia sempat merasa aneh ketika harus mengenakan pakaian didepan sosok itu. Namun karna menurutnya sosok itu agak autis, jadi yah … ia cuek –cuek aja. Lihatlah, sosok itu masih saja memukul –mukul pelan kepalanya. Dengan menggumamkan kata –kata yang yang Jongin tak mengerti.

"Apa yang kau lakukan idiot?"

Sehun terkejut bukan karna panggilan idiot yang diarahkan Jongin kepadanya. Melainkan sebuah lemparan bantal yang mengenai wajah manisnya. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingat Sehun, jangan bunuh sosok itu sekarang. Ia masih diperlukan saat ini.

Sabar –

Sabar –

Sehun mengeratkan bantal dalam pelukannya. Mencoba mengalihkan amarahnya pada bantal tersebut. Ia menatap Jongin yang kini juga menatapnya dengan pandangan yang Sehun yakini dalam hati –itu bukan tatapan penuh cinta –.

"Um, Jonginiiee .. kau mau makan? Kau mau makan apa? Akan ku masakkan" tawar Sehun dengan senyuman manis yang begitu sangat palsu dimata Jongin. Meski Jongin terpesona siihh .. apalagi eye smile milik Sehun yang semakin membuat sosok itu berkali –kali lipat lebih menggemaskan.

Jongin tersenyum tipis, "Lalu kau memasukkan racun agar aku tunduk kepadamu? Tidak. Terimakasih". Lantas ia melenggang pergi keluar kamar. Sebenarnya ia ingin sekali makan diluar mengingat ini hari libur. Yeah – sekalian mencari udara segar dan pergi ke toko buku. Namun sayang, hujan masih saja setia mengguyur bumi.

"Arrgghh" teriak Sehun teredam oleh bantal. Tak lupa ia juga memberi berapa kali gigitan dibantal yang tadi sempat mencicipi wajah manisnya. Ternyata –bersikap baik dan manis dihadapan Jongin itu membuat harga dirinya terinjak –injak.

Mengenaskan !

Oh Israel kapan kau mengerti aku huh (?)

Sehun terus saja merapalkan kata –kata sama sedari tadi.

Sabar –

Sabar –

Ingat Sehun, setelah kau kembali hidup kau bisa membunuh manusia hitam –pesek –mesum dan menyebalkan itu. ah –memikirkannya saja sudah membuat tangan Sehun gatal ingin menjambak rambut coklat milik Jongin hitam itu. Lantas menghantamkan wajahnya yang menurut Sehun umh, lumayan tampan itu ke dinding. Juga menggoreskan pisau disepanjang kulit hitam itu. Meneteskan lelehan lilin disepanjang luka itu pula, hingga menimbulkan jeritan tersiksa dari si hitam itu. Hahaha

"Sehunnaa .. kau harus kuat! Ingat .. sabar dan sabar" setelah mengucapkan kata penyemangat untuk dirinya sendiri ia menghilang.

-Don't_Go-

Jongin hanya diam, sangat tidak memperdulikan sosok yang kini tengah duduk diatas meja dengan kaki kanan bertumpu dikaki kiri sambil memperhatikannya memasak. Ia menghela nafas beratnya, kenapa ia merasa panas. Ah –bukan karna Sehun yang terlihat menggoda namun ia lupa kalau tangannya menyentuh sisi kompor gas yang menyala -_-

"Ah" Jongin mengepalkan tangannya ketika rasa panas itu menyerangnya. Ia kemudian membuka genggaman tangannya dan menemukan ketiga jarinya –manis –tengah –telunjuknya melepuh.

"Sial" desisnya. Dengan cepat ia mematikan kompor dan setelah itu membuka keran air. Segera ia basuh ketiga jarinya kalau saja sebuah tangan tak menahannya.

"Apa yang kau –" tak bisa lagi ia melanjutkan perkataannya ketika sosok itu –sosok dimana ia kehilangan separuh otaknya – sosok yang beberapa hari ini selalu mengusiknya – sosok yang kini tengah menggenggam tangannya, lalu mengusap ketiga jarinya dengan lembut. Dan ia juga tidak mengerti, kenapa ia hanya diam saja ketika sosok itu yakni Sehun membawanya ke kamar.

Hujan kini sudah semakin menghilang. Hanya tertinggal tetesan dedaunan yang jatuh ke bumi. Jongin memperhatikan ke luar jendela, tidak sanggup untuk melihat sosok yang kini duduk dihadapannya diatas tempat tidur. Sosok yang kini dengan cekatan mengoleskan salep di ketiga jarinya.

Terasa dingin salep berbentuk gel itu. Dan ia juga merasakan sebuah kehangatan ketika jari jemari lentik milik Sehun menyentuhnya. Tiba –tiba matanya terasa penat untuk memandangi pemandangan yang tidak jelas diluar sana. Kini, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tepat ke arah Sehun yang kini juga tengah memandanginya dengan gurat kesedihan. Oh –hentikan tatapan itu! Jongin bisa saja hilang kendali ~~~ fufufufu

"Terimakasih" ucapnya dengan cepat lalu bangkit dengan cukup kasar. Hey – Jongin baru saja mengucapkan kata terkutuk didalam kamus larangannya. Ciyeee ~~

Ia berjalan meninggalkan Sehun yang kini tertunduk lemah. Namun tiba –tiba saja langkahnya terhenti,

"K –kenapa" lirihnya pelan, hampir tak terdengar. "Kenapa kau tidak mau menolongku?". Ia menolehkan wajahnya ke punggung kokoh Jongin yang berdiri membelakanginya.

Jongin terdiam, dadanya terasa sesak mendengar suara yang begitu bergetar masuk digendang telinganya. Ia menggeser kakinya hendak berbalik, "A –aku .."

"Kenapa hitam?"

EHHH?

Tanpa aba –aba Jongin tidak jadi membalikkan tubuhnya untuk mendekap Sehun. Kini ia keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat –sangat keras. Membuat beberapa boneka milik Sehun yang tersusun dilemari berjatuhan.

Sehun menepuk keningnya pelan, "Ish, gagal lagi" gumamnya pelan.

Bisa tidak kalau memohon tidak usah sambil menghina? Noh lihat si hitam ngambek!

-Don't_Go-

"Kenapa?"

"Sudah aku bilang bukan? Kalau itu bukan urusanku!"

"Ayolah .. . hanya kau yang bisa membantuku. Hanya kau! Ku mohon .." Sehun mengatupkan tangannya dan bersimpuh didepan Jongin yang kini asyik membaca buku diatas sofa. Ia memutar bola matanya jengah. Ia mendengus sebal sambil menatap tajam Sehun yang masih betah dengan posisi meminta maaf seperti seorang istri yang ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain.

"Kau berisik. Sangat –sangat berisik!"

"Makanya, tolong aku". Kini Sehun sudah berada disamping tubuh Jongin. Membuat pemuda tampan itu terkejut sedikit. Ia memincingkan matanya untuk menatap sosok yang kini semakin dekat ke arahnya.

"Ku mohon …" ucapnya dengan nada lembut dan itu berhasil membuat Jongin merinding. Ingat, bukan karna aura Sehun yang 'ganjil' namun karna tiba –tiba saja hujan kembali mengguyur dan ia lupa untuk mematikan AC.

Jongin menutup buku dengan kasar, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sehun yang kini tengah memasang senyum lima jarinya. Ah –begitu sangat lucu. Apalagi ada beberapa gigi yang tidak tersusun dengan rapi. Namun itulah yang membuat senyumnya jauh lebih menarik.

"Ya .. ku mohon. Pweaseeee ~~"

Dan jangan lupakan aksen cadelnya saat mengucapkan huruf 's'. Ya Tuhan – kenapa makhluk antah brantah ini sangat menggemaskan. Bolehkan Jongin menciumnya?

Eh?

"Tidak!"

"Jonginieeee ~~"

"T.I.D.A.K!".Putus Jongin bulat. Dan dentuman pintu yang cukup kuat semakin mendukung pernyataannya tersebut.

Sehun terduduk lemas diatas sofa. Tatapan tajamnya ia layangkan dipintu kamarnya. Lama ia pandangi pintu tersebut. Berharap tatapan mematikannya dapat menghancurkan apapun yang berada didalamnya.

Kenapa si hitam itu sangat menyebalkaaaannn !

Ia mengepalkan tangannya kuat dan meninjukannya ke udara. "Aku tidak akan putus asa. AKU TIDAK AKAN MENYERAH ~~~"

Pokoknya, ia harus bisa membuat Jongin untuk membantunya. Harus ! Meskipun harus merelakan Siwon untuk Donghae(?)

-don't_go-

Jongin memejamkan matanya dengan paksa ketika ia dengan jelas bisa mendengar teriakan yang sangat cempreng masuk ke gendang telinganya. Ia melirik sekilas ke jam kecil yang terletak diatas meja nakas.

"Sebaiknya aku tidur sebentar"

Ia memiringkan tubuhnya ke kanan, dan tepat disaat itulah ia melihat sosok menyebalkan itu. Sosok yang kini tengah membaringkan tubuhnya ke arahnya. Dimana jarak mereka yang tidak begitu jauh. Wajah mereka saling bertemu dan mata mereka saling menatap satu sama lain.

Senyumannya –

Eyesmile –

Ia sangat meyakini ada perasaan lain yang tengah mengusik hatinya. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikannya. Sebisa mungkin ia menepis perasaan yang kini mengetuk pintu hatinya. Karna ia meyakini orang itu masih dihatinya.

"Maukah kau –"

"Tidak"

Sehun mendengus sebal ketika melihat Jongin turun dari tempat tidur dan memilih untuk keluar daripada melayani permohonannya itu. Ia menangkupkan kedua pipinya, lantas berguling ke kanan –ke kiri berulang kali sambil merapalkan kata –kata sebelumnya.

"Sabar .. sabar .."

Menghadapi orang ganteng susah ya?

-Don't_Go-

"Jonginieee .."

"Tidak!"

"Ok –baiklah"

"Sekarang?"

"Tidak!"

"Okayyy ~~~" sahutnya sing a song.

Sehun menyenderkan punggungnya pada sisi ranjang sambil memperhatikan Jongin yang saat ini sedang bergelut dengan tugas sekolahnya. Ia tak boleh menganggu Jongin saat ini. Bagaimanapun ia adalah roh yang baik. Sebaiknya .. ia harus mengunjungi raganya. Sudah seminggu ia tidak mengunjunginya. Daripada mati kebosanan disini? Atau lebih parahnya ia bisa lepas kendali dan membunuh si hitam? Atau kemungkinan terburuk, ia bisa terpesona oleh raut tampan Jongin ? oh well – ia harus segara pergi dari sini.

Jongin merenggangkan ototnya yang begitu penat sekali. Ternyata mengerjakan lima halaman soal matematika bukan hanya menguras otaknya saja. Fiuuh*. Segera ia menutup buku –buku tugasnya dan memasukkan ke dalam tas sekolahnya. Setelah memastikan semua beres, barulah ia beranjak dari kursi.

"Ah .. sudah malam ternyata" gumamnya pelan sambil memandangi bintang –bintang yang sangat banyak berkelip diatas sana. Ia menarik tirai gorden dan membalikkan tubuhnya. Tiba –tiba ia teringat sesuatu,

"Kemana hantu usil itu?". Ia mengedikkan bahunya tak peduli, "Baguslah kalau dia sudah pergi. Dengan begitu aku bisa tidur nyenyak malam ini". Dengan cepat ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Menarik selimut hingga sebatas dada dan mulai memejamkan matanya.

Namun beberapa detik setelah itu, matanya terbuka dengan sempurna. Kenapa wajah Sehun melintas begitu saja dipikirannya? Dan kenapa saat ini ia merasa sangat sepi? Ia memijat pelan pelipis matanya. Sedikit pusing ia memikirkan bagaimana menghentikan aksi Sehun untuk menganggunya. Ia sangat tahu kalau Sehun bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah. Ia akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia mau! Dan kemauannya saat ini adalah,

Ia ingin Jongin membantu dirinya untuk hidup kembali. Tapi bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Ah –sudahlah.

Lupakan.

Kenapa ia jadi peduli begini sih?

-Don't_Go-

Sehun terduduk lemas diatas ranjang rumah sakit sambil memandangi wajah manis dirinya yang begitu sangat menyedihkan. Ia bisa lihat dengan jelas, kalau dirinya –raganya yang kini terbaring begitu lemah seperti tak memiliki kehidupan.

"Kau harus hidup Sehuna, kau harus kembali! Ada Suho Hyung dan Junhao yang menunggumu. Juga –" ia memukul pelan keningnya, ketika wajah Jongin melintas dibenaknya.

"Duh, kenapa wajah hitam itu sih ?!"

Ia menegakkan tubuhnya ketika ia mendengar pintu ruangannya terbuka. Seulas senyum terkembang begitu ia tahu siapa yang mengunjunginya. Meskipun senyum indahnya tidak akan pernah terlihat oleh sosok yang kini tengah menarik sebuah kursi dan duduk disamping ranjangnya. Meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Namun senyum lebarnya yang begitu indah kini telah lenyap tergantikan raut kesedihan ketika melihat sosok itu menangis.

"Maafkan Hyung .. Maafkan". Suho berusaha untuk menahan tangisnya sebisa mungkin namun gagal. Malah lelehan air mata kian deras mengucur dari matanya. Lantas ia mengusap air matanya dengan kasar. Dan beranjak begitu saja meninggalkan Sehun yang menangis meratapi kebingungannya.

Ada apa dengan Suho? Kenapa Suho meminta maaf kepadanya? Ini adalah kali pertama Sehun melihat keadaan Suho begitu –sangat terpuruk. Biasanya Suho datang dengan senyum cerahnya. Meskipun Sehun tahu, kalau Suho menahan tangis untuknya. Suho selalu datang dengan kata semangat bukan kata maaf seperti itu?

"Apa yang terjadi selama aku tidak kesini?". Air matanya terus saja mengalir. Bergulir membasahi pipi pucatnya. Tak ada niatan dirinya untuk menahan air matanya atau sekedar menghapus air mata itu.

Ia menatap dengan seksama raganya. Ia berusaha mengingat tentang kejadian dua tahun lalu. Namun –

"Arrgh" ringisnya sambil memegangi kepalanya yang tiba –tiba saja berdenyut sakit. Sangat sakit. Ia mencengkeram kuat kepalanya. Astaga .. ada apa dengan dirinya? Kenapa ia merasakan kalau tubuhnya begitu sangat lemah? Kenapa?

Air mata kembali turun. Ia tak kuat menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Hingga tubuhnya kini limbung jatuh dari ranjang rumah sakit. Sial –

Sakitnya semakin menusuknya. Apa ia akan mati saat ini?

"Jonginiie .. Jonginiiee.. tolong aku". Sebelum akhirnya ia benar –benar menutup matanya.

-Don't_Go-

"SEEHUUNNN!"

Jongin terbangun dari tidur siangnya dengan keringat yang mengucur deras dari wajahnya. Nafasnya memburu dengan darah yang berdesir begitu kuat. Mimpi buruk memaksa dirinya untuk berteriak dengan begitu keras. Meneriakan sebuah nama yang didalam mimpinya tengah merintih kesakitan. Ia menyentuh dadanya. Kenapa detakan jantungnya begitu amat cepat. Lalu, kenapa sekarang ia merasa khawatir dengan sosok itu?

Sehun?

Dengan tergesa ia bangkit. Dirinya hampir saja tersungkur karna kakinya yang masih terlilit oleh selimut.

"Hey – kau dimana? Sehun?"

"Sehun? Kau dimana?"

Jongin menjambak rambutnya dengan cukup keras. Ia benar –benar frustasi sekarang. Kemana perginya hantu usil itu? kenapa didalam apartemen ini tidak ada hawa kemunculannya sama sekali? Apa jangan –jangan Sehun benar –benar dalam bahaya?

"Sehun? Jangan macam –macam! Jika kau tidak keluar aku tidak akan membantumu!"

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Oh shit – bahkan lima menit saat ini bagi Jongin bagi lima tahun. Sehun sama sekali tidak ada di apartemen ini? Ya Tuhan –kemana perginya si cadel itu?

Ia mendudukan dirinya diatas sofa. Menutup wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya benar –benar dirundung gelisah. Ia merasa takut saat ini. Ia takut kalau Sehun benar –benar akan pergi.

Eh?

Memang sejak kapan ia peduli?

Ah –sepertinya pintu hatinya sudah terbuka sedikit saat ini. Ketika Sehun tidak berada didekatnya barulah ia menyadari betapa pentingnya Sehun untuknya. Sejak ia mengenal sosok hantu –ups – sosok transparan meski dapat saling sentuh –ada secercah cahaya dalam hatinya yang begitu gelap. Ia sangat menyadari ketika ia pertama kali melihat Sehun. Ada satu janji yang terucap didalam hatinya. Bahwa –

Ia akan selalu membuat Sehun tersenyum menyebalkan seperti itu.


.

.

Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Matanya terus saja menerawang sebuah foto yang begitu cantik diatas sana. Diatas langit –langit kamar yang ia tempati saat ini. Hatinya masih seperti yang tadi. Gelisah, khawatir dan begitu merasa takut akan kehilangan. Ia ingin melakukan sesuatu. Namun apa? Apa yang harus ia lakukan untuk menjawab pertanyaan hatinya.

Ia memejamkan sesaat matanya. Beberapa detik setelah itu matanya terbuka dan seulas senyum tipis terlihat.

"Benar. Suho Hyung!"

Yeah – mungkin saja Suho bisa membantu dirinya untuk menemukan Sehun. Menemukan dimana letak rumah sakit yang kini sedang merawat Sehun sebagai korban tabrak lari dua tahun silam. Yang kini sedang koma. Kemungkinan besar Sehun saat ini ada disana.

Sepertinya Jongin begitu ingat dan sangat antusias mendengar cerita Sehun meski tak begitu ia tunjukkan melalui wajahnya yang amat datar itu. Namun ia sedikit menyesal, kenapa ia tidak bertanya dimana Sehun dirawat? Oh –

"Sebaiknya aku harus menghubunginya". Dengan cepat ia menyambar ponsel miliknya yang sengaja ia letakkan diatas meja nakas. Dalam hitungan detik kini sambungan telepon telah terhubung. Meski tidak ada sahutan diujung telepon sana.

"Angkatlah Hyung.."

"AH-SIAL!". Ia melempar ponselnya ke samping. Lalu membenamkan wajahnya ke bantal dan berteriak cukup keras. Melampiaskan kekesalan hatinya. Hampir 10 kali ia berusaha menghubungi Suho sialan itu, namun sama sekali tidak ada jawaban.

Namun selang beberapa detik setelah ia berteriak. Ponsel miliknya berbunyi. Dengan cepat ia menyambar ponselnya tanpa peduli siapa yang menelponnya. Karna ia yakin pasti itu Suho.

"Suho Hyung?"

"Ye? Suho Hyung?" suara dari ujung telepon sana terdengar bingung. Kentara sekali dari nadanya yang bertanya. Tentu saja membuat Jongin menjauhkan ponsel dari telinganya dan memeriksa kembali siapa yang kini sedang menelponnya. Meski ia hanya sekali bertatap wajah dengan Suho, namun ia masih ingat suara Hyung dari si cadel itu.

Nomor tidak dikenal.

Ia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. Sebelum berucap, ia menghembuskan nafasnya hanya untuk menetralkan detak jantungnya.

"Monkyu Hyung?" tanyanya tanpa adanya keraguan. Karna ia sangat tahu siapa pemilik suara ini. Suara yang sangat –sangat berisik. Selalu menganggunya dulu. Dan kini, sial –ia kembali mendengarnya.

Terdengar tawa yang begitu keras dari ujung sana. Mau tak mau membuat Jongin sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Jika kau mau berniat menelponku hanya untuk tertawa. Aku tidak ada waktu untuk mendengarkannya". Jongin berbicara ketus membuat Monkyu –sosok yang menelponnya harus menghentikan tawanya. Meski dapat Jongin dengar kekehan pelan dari si perusuh itu.

"Itukah sambutanmu ketika aku kembali ke Seoul?"

Jongin berdecih, "Ya –ya. Selamat datang. Sudahkan? Aku sibuk". Jongin hendak memutuskan sambungan telepon kalau saja Monkyu tidak berteriak.

"APA?"

"Kau bisa membantuku, Jongin?"

Jongin menyenderkan tubuhnya dibadan ranjang, memijit pelan pelipisnya. Pasti bocah ini berulah lagi.

"Kenapa?"

Kekehan konyol itu terdengar lagi. "Aku ada dirumah sakit saat ini. Tadi saat aku sampai Incheon, aku langsung ke apartemenku. Namun kau tahu apa yang terjadi?". Jongin menggeleng malas. Dalam hati ia mengutuk, aku tak tahu dan aku tak ingin tahu sialan!.

"Aku menabrak pos polisi. Dan –ah .. kakiku terkilir karenanya. Kau jemput aku ya?"

Oh betapa menyebalkan makhluk ini!

Jongin menegakkan tubuhnya. Tiba –tiba ia masih teringat kalau ia masih ada urusan yang harus segera diselesaikan. Yup. Mencari keberadaan Sehun. Namun –Monkyu menyebalkan ini merengek –rengek minta dijemput. Oh sial –!

"Aku tidak bisa menjemputmu, Hyung!"

"Oh ayolah .. kakiku benar –benar sakit!"

"Aku sib –"

"Kesibukanmu ditunda dulu ya? Aku sekarang di Hospital International Seoul. Bye –"

Oh. Sambungannya terputus secara sepihak. Kening Jongin berkedut kesal. Bolehkah ia menyumpahi kakak laki –lakinya itu tewas mengenaskan? Kenapa ia selalu saja merepotkan orang lain? Ah –lebih suka merepotan dirinya!

Ia meremas ponselnya dengan sangat kuat. Membayangkan kalau ia sedang meremas –remas wajah Monkyu. Ah –sudahlah. Semoga Tuhan dapat mendengar jerit hatinya untuk melenyapkan Monkyu dari muka bumi ini.

Dengan segera ia meraih jaket dan langsung mengenakannya. Diraihnya kunci mobil didalam laci meja. Kemudian, keluar dari kamar dengan masih berusaha menghubungi Suho. Bagaimanapun ia masih memikirkan dimana keberadaan anak nakal itu. Namun matanya membulat sempurna dan tenggorokannya tercekat hingga tidak bisa teriak ketika melihat sosok yang sedari tadi dicarinya kini sudah berada didepannya dengan senyum lima jari yang sangat menyebalkan. Yeah –meski menyebalkan sebenarnya Jongin suka sih kkkk

"Hai Jonginiie ~~" sapanya dengan lambaian halus. Seulas senyum menyebalkan itu menghilang tergantikan raut wajah bingung ketika melihat penampilan Jongin yang begitu keren dimatanya. Celana pendek –kaos v-neck yang dilapisi oleh jaket kulit hitam. Terlihat simple namun dimata si cadel ini kenapa begitu sangat –

Sempurna?

Eeehhh?

Hentikan berpikiran yang mengada –ada. Makhluk hitam didepannya masih kalah tampan dan keren dibandingkan oleh Siwon.

"Kau mau kemana Jonginiie?"

"Kau yang dari mana?"

Eh?

Sehun menggaruk pipinya sekilas. Lalu menatap Jongin dengan masih menggunakan raut herannya yang ah –amat begitu lucu. Kenapa si hitam menyebalkan mesum itu malah balik bertanya. Ia menggembungkan pipinya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Tatapan tajam ia layangkan kepada sosok hitam –mesum –menyebalkan – dan tampan (untuk yang satu ini Sehun masih pura –pura tidak mengakuinya).

"Aku bertanya Jonginie .. kau mau kemana?"

Jongin memutar bola matanya malas. Memasukkan ponsel ke dalam saku celananya karna sedari tadi Suho tak jua mengangkat telponnya –terlebih sosok yang dicarinya sudah ada didepan matanya. Berlagak sok lucu dan sok imut. Oh –bolehkah Jongin menendangnya saat ini? Biarpun di izinkan tetap saja Jongin tak tega. Makhluk ini memang manis dan menggemaskan … kkkkk

"Aku mau pergi. Puas?"

"Oh –" Sehun tersenyum manis. Ia mengamit tangan Jongin lalu memeluknya. Membuat Jongin terkejut bukan main. Tentu saja? Sejak kapan si hantu cadel ini bersikap manis seperti ini? Ah –Jongin tahu. Pasti hanya akal bulus si hantu cadel ini saja.

"Kau mau membantuku kan?"

"Tidak"

Sehun memajukan bibirnya, "Ayolah Jonginiie .. aku sudah bersikap manis nih" ujarnya dengan menghentakkan kakinya kesal.

Nah benarkan? Berlaku baik hanya karna ada maunya saja. Haha. Tentu saja Jongin tidak akan mudah terpancing begitu saja. Memang ia siapa makhluk cadel ini coba? Apa pedulinya? Meski tadi agak khawatir sih …

Jongin menghempaskan tangan Sehun dari lengannya. Lalu menatap Sehun dengan tatapan tajamnya. Ia mencubit pelan pipi gembul Sehun.

"Sekali tidak ya tidak!"

"Tapi Jonginie .. Eh? Tunggu Jonginiie!"

Sehun menyamakan langkahnya dengan Jongin. Masih berusaha untuk menahan langkah Jongin. "Ku mohon Jonginiie .. bantulah aku? Okey?". Jongin menggeleng keras dan menhempaskan kembali tangan Sehun yang menahan pergelangan tangan miliknya.

"Aku tidak ada waktu untuk mengurusi tentang siapa yang menabrakmu. Sebaiknya kau cari saja orang lain yang bisa membantumu!"

"Hanya kau Jonginiie .. hanya kau!Jika Suho Hyung dapat melihatku aku tidak usah bersusah payah bersikap baik terhadapmu!Jadi, ku mohon ya?"

"Tidak!" ujar Jongin pasti. Setelah itu tubuhnya menghilang dibalik pintu apartemen.

Sehun mencubit kedua belah pipinya dengan gemas. Melampiaskan rasa kesal yang kini sedang melandanya.

"ARRGGGHHH. DASAR HITAM SIALAN! AKAN KU BUNUH KAU NANTIIII!". Teriaknya menggema diseluruh ruangan apartemen miliknya. Uh – hitam menyebalkan! Sehun jadi pusingkan?

Sehun merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya. Dalam hitungan detik dirinya sudah berpindah ke kamar ini. Ah .. dirinya hanya bingung. Kenapa dirinya hanya bisa muncul di Rumah sakit dan di apartemen miliknya saja? Dan kenapa juga harus si hitam itu yang bisa melihatnya? Kenapa bukan Siwon gitu? Pasti sangat menyenangkan! Bisa melihat abs Siwon setiap hari. Eh?

Abaikan.

Abaikan.

Fokus.

Pelukannya terhadap boneka Pinku –Pinku miliknya semakin menguat ketika wajah tampan –eits hitam Jongin terlintas begitu saja dibenaknya. "Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan! Dasar hitam sialan jelek mesum.! Akan kubunuh kau nanti!". Umpatan itu terus saja terucap dari bibir mungilnya hingga tiga jam kemudian. Entah kenapa mulutnya tak lelah saat menyumpahi si hitam itu!

Hingga beberapa saat setelah tiga jam kemudian, seringaian halus menggemaskan terpampang diwajahnya.

"Akan ku buat kau membantuku hitam sialan!"

Setelah itu tawa membahana terdengar didalam kamarnya di sore menjelang malam ini. Semua pikirannya telah tertumpahkan untuk memikirkan cara agar si hitam mau membantunya mencari siapa pelaku yang menabrak dirinya. Meski itu sulit, namun ia yakin kalau Jongin bisa membantunya. Ia juga tidak memikirkan tentang apa yang terjadi tadi siang. Tentang reaksi Suho saat melihatnya. Ia tahu kalau ada yang tidak beres. Namun pikiran negatif tentang itu ia singkirkan. Ia hanya ingin berpikir positif. Ia harus yakin kalau ia akan kembali hidup. Yap – cepat atau lambat ia akan hidup dan membunuh si hitam sialan itu.

Hahah

-Don't_Go-

Pintu apartemen terbuka. Menampakkan dua sosok pemuda tampan yang kini baru saja masuk. Dengan salah satunya menggunakan tongkat.

"Terimakasih ya adikku sayang" ujar Monkyu yang dibalas dengusan kesal dari Jongin. Terdengar kekehan menyebalkan dari Monkyu yang melihat tingkah sang adik tidak berubah dari dulu.

"Kau ingin langsung pulang Jongin?"

"Ya. Besok aku harus sekolah" jawabnya meski kini ia masih betah menyenderkan punggungnya disofa. Ia mengela nafas beratnya, membuat Monkyu memandangnya heran.

Dengan hati –hati ia duduk dihadapan Jongin. Sebenarnya kakinya tidak terlalu parah. Hanya terkilir. Yeah –makhlumlah. Monkyu adalah tipe orang yang suka sekali melebih –lebihkan.

"Apa akhir –akhir ini tugas sekolahmu begitu banyak Jongin?"

Satu alis Jongin terangkat,"Memang kenapa?". Monkyu menggeleng pelan, "Tidak. Hanya saja ku lihat, wajahmu begitu lelah. Apa kau terlalu giat belajar hingga lupa istirahat?" tanya Monkyu lagi yang dibalas gumaman tidak jelas dari Jongin.

"Kau seharusnya tahu Jongin. Kau tidak seharusnya belajar hingga larut malam. Kau seharusnya bisa membagi waktu –bla bla bla". Persetan dengan apa yang dibicarakan oleh Monkyu. Oh Tuhan –Jongin sama sekali tidak perduli. Dan asal Monkyu tahu saja, ia pintar! Sangat pintar. Tidak mungkin ia menghabiskan waktunya hanya untuk belajar. Sialan –pasti ini gegara hantu cadel menyebalkan itu. Yang selalu menganggunya setiap saat ketika ia berada di apartemen. Ah! Benar sekali. Si cadel itu hanya bisa menganggunya di apartemen saja. Lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya di apartemen milik kakaknya ini dulu sebentar. Yeah – lagipula diluar masih hujan.

" –Kau dengar Jongin?"

Jongin mengangguk, "Ya. Aku dengar" bohongnya. Tentu saja bukan?Ingin rasanya ia pindah ke apartemen milik kakaknya ini saja. Eh tidak –tidak! Ini sama saja dengan bunuh diri. Daripada hidup mengenaskan dengan kakak super menyebalkan ini. Lebih baik ia diganggu oleh si cadel itu.

Eh?

"Umh .. Jongin? Kau tidak mengatakan apapun kepada Papa dan Mama tentang kasus itukan?" selidik Monkyu yang dianggukan kepala oleh Jongin.

Helaan nafas terdengar dari bibir Monkyu. "Ah .. baguslah. Aku yakin jika Papa dan Mama mengetahuinya bisa –bisa seluruh mobil milikku akan dijual". Ia tertawa hambar, "Aku tidak bisa membayangkannya. Benar –benar menakutkan" sambungnya.

"Lalu apa kau tahu bagaimana keadaanya?"

Monkyu mengedikkan bahunya tidak peduli. "Entahlah. Aku tidak begitu memperdulikannya". Ia hendak berdiri, namun tangan Jongin menahan lengannya.

Monkyu tertawa ragu, "Kau kenapa Jongin" tanyanya sambil memperhatikan raut wajah Jongin yang tiba –tiba berubah mengeras.

"Kau keterlaluan Hyung!"

Monkyu menjauhkan tangan Jongin dari tangannya. "Ada apa denganmu? Kenapa kau sekarang menjadi sosok sok peduli seperti itu?" tanyanya sambil menampakkan raut tidak suka.

Jongin ingin membalas pertanyaan Monkyu, namun tiba –tiba wajah Sehun masuk ke dalam pikirannya. Membuat ia mengurungkan niatnya.

"Sebaiknya aku pulang". Ia berdiri, berjalan melewati Monkyu begitu saja. Namun langkahnya terhenti ketika Monkyu memanggilnya.

"Ku harap kau tidak membicarakan ini kepada dia!Sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkanmu adikku tersayang"

Jongin hanya diam. Tidak ingin membalas perkataan Monkyu yang begitu menusuknya. Apalagi ketika Monkyu menekankan sosok dia. Hal itu membuat hati Jongin merasa sakit. Inilah yang tidak disukai oleh Jongin. Sikap sang kakak begitu menyebalkan dan selalu ingin menang sendiri. Tidak peduli bagaimana dan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Yah –

Mungkin sikap tidak peduli sudah mendarah daging dikeluarganya. Namun, sang kakak sungguh berbeda dengan dirinya dan orangtuanya.

"Selamat malam"

Monkyu tersenyum tipis melihat kepergian sang adik. Ia berdecih, "Aku tahu kau masih menyukainya. Tapi, jangan harap kau bisa mendapatkannya", ia tertawa kecil lantas menyeringai lebar.


-T –B – C-


Huaah … akhirnya selesai juga chap 3 dengan waktu yang cukup lama. Haha ..Terimakasih untuk kalian semua yang sudah menyempatkan untuk membaca ff dengan tingkat ketidakjelasan yang sangat tinggi serta kata –kata yang sangat tidak masuk di akal. Saya minta maaf karna saya bukan penulis handal layaknya author lain. Bahkan, saya hanyalah seorang wanita berusia 21 tahun yang sangat teramat mencintai Oh Sehoon.

; Tentang Monkyu dan sosok dia .. mhh .. konflik akan segera muncul .. kira" dia siapaa ya?;

For

|AuliaEsaa| Barbiegrawl| ohsehun97| kim haena elfishy| thyrami246| Nagisa Kitagawa| ashley97chan|

HyuieYunnie| park minggi| Weiwei| ika ernis pabboya| Kaihun| Reza Unieq Clouds Whirlwinds| xxx| luexohun| gihae| daddykaimommysehun| evilwu79| KaiHunnieEXO| InfinitelyLove| fishy'lee'142| Erika KyuminYunjaeSibumShipper| dia'luhane| Anggita'setiani| DarKid Yehet| izz'sweetcity| urikaihun|

And all siders where you are …

Thanks a lot !

Gk nyangka kalau kalian pada suka ama ff gk jelas ini .. #terharu

AYO LESTARIKAN FF SEHUN!BOTTOM !

Kaihun everywhere ~~ fufuffufu

:]

MIND RNR PWEASE BABE?