DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
.
.
Title : Trapped
Chapter 2 : Symphony, in The Depth of You
Words : 1697
Characters : Shiho M., Shuuichi A.
Genre : Romance
Rating : T for teenager
Summary :
"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat hari ini?"
Aku mengambil kertas yang diberikannya, dan mengangkat kedua alisku saat menyadari apa yang diberikannya.
"Konser Tokyo Philharmonic? Malam ini!?" ucapku setengah tak percaya. Ia menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Trapped
.
Chapter 2. Symphony, in The Depth of You
by pijar religia
.
.
Aku terbangun untuk menemukan wajah Shuuichi masih dengan mata bosannya yang terbuka lebar. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali dan menyadari bahwa TV masih menyala. Entah apa yang ditontonnya. Orang ini benar-benar tidak peduli untuk tidur barang sejenak saja.
Kepalaku di pangkuannya, entah sejak kapan. Mungkin aku yang tidak sadar berpindah posisi saat tidur, atau dia yang memindahkanku agar aku merasa lebih nyaman.
"Jam berapa ini?" tanyaku dengan suara serak. Shuuichi melirik jam dinding yang ada di ruangan itu. "Jam dua."
Aku terperanjat dan duduk tiba-tiba hingga membuat kepalaku berputar. Jam dua? Sudah berapa jam aku tertidur? Pasti sejak menonton TV tadi. Berarti sudah sekitar enam jam. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.
"Aku akan di lab bawah tanah. Kalau kau ingin tidur, tidurlah di kamar Profesor," ucapku sambil berjalan keluar ruang tengah. Aku hanya mendengarnya menjawab, "Ya," tanpa menoleh sedikit pun.
Baru saja aku berjalan mendekati tangga menuju lab bawah tanah, aku mendengar suara benda seperti kaleng terjatuh. Kuhela napasku. Dasar orang itu ...
Saat aku kembali ke ruang tengah, aku menemukan kaleng bir yang satu lagi sudah jatuh ke lantai dengan isinya yang tertumpah. Aku mendesis pelan dan mendekatinya. Kuambil kaleng itu dari lantai dan buru-buru mengambil sebuah lap dari dapur. Membersihkan lantai dari tumpahan bir, aku pun mulai mengomelinya.
"Lihat, kau itu sudah mengantuk. Pasti kau masih kena jetlag kan?"
Dia diam saja. Aku kemudian berjalan kembali ke dapur untuk mencuci lap yang sudah basah oleh bir itu. Aku mengambil lap kering lain dan mulai mengelap lantai agar tidak lengket nantinya. Setelah selesai, aku mendongak untuk menatap matanya yang memang terlihat sedikit memerah.
"Cepatlah tidur. Kau ini seperti anak kecil yang susah sekali disuruh tidur siang. Lihat kantong matamu sudah menghitam seperti itu."
"Mataku memang seperti ini," komentarnya polos sambil menyentuh kantung matanya. Aku menggeram pelan dan meletakkan lap yang agak basah itu di atas meja dengan tenaga yang sedikit berlebihan. Aku berdiri dan menarik tangannya agar mengikutiku. Kubuka kamar yang dulu pernah ditinggali Profesor dan menariknya menuju tempat tidur. Kududukkan dia di ujung tempat tidur lalu kuambil sesetel piyama profesor dari lemari. Kuletakkan di sampingnya.
"Kalau kau ingin mandi, mandi saja dulu. Kau bisa pakai piyama profesor ini. Jika tidak ingin mandi, kau bisa langsung—jangan membantah!" Shiho sedikit meninggikan suaranya saat dia melihat gerak gerik Shuuichi yang seolah sedang ingin menjawabnya. Shuuichi terdiam dan berjalan menurut menuju kamar mandi yang ada di kamar itu dengan membawa setelan piyama profesor.
Shiho menghela napas berat dan berjalan keluar dari kamar profesor.
.
Kenapa aku jadi galak begitu kepadanya?
Aku menghela napas entah untuk keberapa kalinya hari ini dan menyenderkan kepalaku di bantalan kursi. Ya, aku tahu saat profesor masih hidup aku memang sangat cerewet padanya. Melarang makan inilah, melarang makan itulah, memarahinya seperti istrinya saja. Mungkin aku frustasi karena sudah lama tidak ada yang bisa kumarahi, jadi aku melampiaskan kebiasaanku pada Shuuichi yang kebetulan sedang disini?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat. Tapi, kurasa aku terlalu galak padanya.
Kulihat jam yang ada di meja komputer. Pukul enam. Kuluruskan badanku kembali dan menambahkan beberapa hal pada pekerjaanku. Setelah mengecek ulang, kusimpan semuanya di dalam USB drive dan kumatikan komputer peninggalan profesor itu. Aku memang memiliki laptop yang biasa kubawa dan kugunakan di kampus. Namun, saat di rumah, aku lebih senang menggunakan komputer milik profesor Agasa ini. Saat menggunakannya, aku merasa profesor ada disini memperhatikanku bekerja. Ah, dia masih disini pun aku tidak keberatan.
Oh ya, apa kabar orang itu? Mungkin aku akan memeriksanya sebentar hanya untuk melihat apakah dia sudah tertidur.
Kubuka pintu kamar profesor perlahan. Kulihat dia sedang tertidur dengan wajahnya menghadap langit-langit. Tapi ada satu hal janggal yang kutemukan darinya.
Topinya. Ya Tuhan, dia bahkan lupa melepas topi rajutannya.
Aku duduk di sisi tempat tidur profesor dan melepaskan topi itu perlahan, berusaha agar dia tidak terbangun. Kulihat ujung-ujung rambutnya yang ikal, tanpa sadar aku tersenyum kecil. Kurapihkan helaian rambut itu agar tidak menutupi matanya. Tapi, percuma, rambutnya sudah terlalu panjang. Aku baru menyadarinya sekarang.
Saat aku tengah memainkan rambutnya seperti itu, matanya terbuka perlahan. Malu, kutarik tanganku.
"Maaf, aku membangunkanmu?"
Dia menggosok matanya perlahan lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Hari apa ini?" tanyanya masih dengan suara mengantuk.
"Sabtu."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam enam."
Ia memutar tubuhnya menghadapku lalu kembali memejamkan mata.
"Tidurlah lagi," ucapku dengan nada lembut yang sebenarnya aku sendiri tidak ingin mengeluarkannya.
"Semalam kau galak sekali," keluhnya datar.
"Kukira aku selalu galak?" tanyaku sambil menyeringai.
"Jangan salahkan aku jika rambut merahmu berubah menjadi putih dalam waktu dekat."
Aku memukul kepalanya pelan namun dia seperti tidak terganggu. Ia memejamkan matanya beberapa saat namun kembali membukanya untuk melihatku dengan pandangan menyipit.
"Ada apa?"
Ia menunjuk pada dompetnya yang ia letakkan di bufet tempat tidur profesor. Dengan pandangan bingung, aku mengambil dompet itu dan memberikannya pada Shuuichi. Ia membuka dompetnya dan mengambil dua lembar kertas dari dalamnya. Sambil tersenyum tipis, ia memberikan satu lembar untukku.
"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat hari ini?"
Aku mengambil kertas yang diberikannya, dan mengangkat kedua alisku saat menyadari apa yang diberikannya.
"Konser Tokyo Philharmonic? Malam ini!?" ucapku setengah tak percaya. Ia menganggukkan kepalanya.
"Mungkin bisa jadi pelepas stressmu."
"Aku tidak stress," sanggahku cepat.
Shuuichi meletakkan telunjuknya di antara kedua alisku.
"Ini bukti kalau kau stress." Aku memandangnya kesal namun dia hanya tertawa ringan. "So, are we going or not? Aku tidak keberatan menonton konser mewah ini sendirian." Ia lalu mengambil tiket itu dari tanganku dan bersiap memasukkannya kembali ke dalam dompetnya."
Dengan cepat aku mengambil kembali tiket itu dari tangannya dan melemparkan senyuman yang serupa yang ia berikan padaku. "Oh, aku bukan wanita bodoh yang akan menyia-nyiakan tiket seharga hampir duapuluh ribu yen ini hanya karena kau yang memberikan, Tuan Agen FBI."
"Deal, then." Ia beranjak duduk dari posisi tidurnya dan meletakkan kembali dompetnya di atas bufet. "Kalau begitu, setelah sarapan kau akan menemaniku mencari pakaian yang pantas untuk kita pergi nanti malam. Kecuali jika kau tidak keberatan pergi dengan seorang pria yang mengenakan celana belel dan jaket kulit."
Aku mengulum senyum, memasang kembali topi rajut ke kepalanya lalu menariknya ke bawah hingga menutupi kedua matanya.
"Oh, baiklah."
.
Kami berdua tiba di Tokyo Opera City Concert Hall setengah jam sebelum konser dimulai. Setelah memakirkan mobil, Shuuichi menuntunku keluar menuju lobi.
"Mantelmu?" tanyanya sesaat setelah kami memasuki lobi. Aku mengangguk dan dengan segera dia membantuku melepas mantel hitamku dari belakang. Ia lalu menitipkan mantelku di meja penitipan barang dan berhenti tiba-tiba saat kembali berjalan menuju arahku.
Ia memandangiku yang tengah mengenakan gaun selutut berlengan panjang berlapis lace hitam dengan motif sulur dan tulip. Malam itu aku mengenakan gaun yang kupikir tidak terlalu berlebihan namun juga tidak terlalu sederhana untuk dipakai ke konser klasik seperti ini. Lagipula gaun ZARA ini adalah hadiah terakhir dari profesor Agasa yang belum pernah kukenakan sekalipun sejak ia membelikannya untukku. Selain itu, warna gaun ini senada dengan setelan jas hitam yang dibeli oleh Shuuichi tadi siang bersama denganku ...
Sebentar. Kenapa aku harus repot-repot memadankan bajuku dengan bajunya?
"Akai-san?" panggilku pelan karena kini dia benar-benar memandangku dengan pandangan datarnya yang sulit kupahami.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu mengenakan gaun seperti itu," jawabnya sambil memalingkan mukanya ke samping. Aku tersenyum pelan dan berjalan mendekatinya. Kugandeng sebelah tangannya dan menatapnya dengan pandangan yang kubuat sebiasa mungkin. Aku senang malam ini aku mengenakan sepasang heels berwarna nude yang cukup tinggi sehingga aku tidak perlu susah-susah mendongakkan kepalaku untuk melihat pria jangkung di sampingku ini.
"Nah, karena malam ini tujuanmu adalah menghilangkan stressku, kuharap kau bisa menjadi pria baik sampai kita pulang nanti, Akai-san."
Shuuichi masih memandangku dengan pandangan datarnya lalu mulai berjalan menuju hall tempat konser akan dilaksanakan.
Hall itu terlihat begitu megah dengan penerangan yang membuatnya berwarna kemilau keemasan. Aku terpana melihat betapa luasnya hall konser itu. Pipa-pipa organ yang berdiri tegak di belakang panggung mengingatkanku pada sebuah kasus pemboman yang pernah terjadi hampir tujuh tahun yang lalu. Aku tertawa kecil mengingatnya.
"Kenapa?" tanya Shuuichi yang menangkap suara tawaku. Aku menggelengkan kepala. "Tak apa, aku hanya teringat sesuatu."
Kami berdua menuju bangku yang sudah dipesannya di tingkat satu bagian depan, tempat yang cukup strategis untuk mendengarkan suara musik yang dimainkan juga melihat para pemain konser secara langsung. Shuuichi mengambil tempat di sampingku setelah mempersilahkanku untuk duduk terlebih dahulu. Melihat betapa gentlemannya dia malam ini, membuatku menahan rasa geli.
Aku membuka flyer berisi komposisi musik yang akan dimainkan hari ini dan bagian-bagiannya. Akan ada break setelah komposisi pertama yang dilanjutkan dengan komposisi kedua. Konser malam ini akan berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Ya, berarti kami akan tiba di rumah sebelum tengah malam untungnya.
"Chopin, ya?" ucapku saat membaca flyer tersebut. "Piano Concerto No. 1 in E minor. Dimainkan sebelum dia pergi dari Polandia, ne?" komentarku sambil melirik Shuuichi yang terlihat sama tertariknya dengan flyer itu.
"Ya," jawabnya singkat. "Sejujurnya, aku tidak tahu banyak tentang musik klasik. Aku hanya pernah mendengar dari Akemi kalau kau menyukainya. Jadi, aku mengajakmu kemari."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Tidak kusangka seorang Akai Shuuichi yang dingin akan peduli dengan hal seperti musik macam apa yang menarik untukku.
"Kakak ya? Ya, kakak pernah sekali mengajakku untuk menonton konser di tengah pengawasan organisasi yang sangat ketat. Hanya di saat-saat seperti itulah aku bisa sedikit merasa menikmati hidupku," ucapku dengan senyuman yang kutahu akan terlihat sedikit menyedihkan. Tidak ingin tenggelam dalam suasana melankolis yang tanpa sengaja tercipta, aku mengembalikan perhatianku pada flyer di tanganku.
"Lalu ... Simfoni No. 1 Scriabin. Aku suka ini," ucapku sambil sedikit merapatkan tubuhku ke arahnya.
"Kau harus mendengarkannya baik-baik," jelasku dengan nada yang terdengar riang. "Disini akan ada dua solois vokal yang bernyanyi. Aku yakin kau akan menyukainya."
Aku menangkap senyuman tipis dari bibir tipisnya dan ketenangan dari mata hijaunya. Aku tidak sadar bahwa sosok pria di hadapanku ini memiliki pandangan yang begitu menenangkan. Rasanya seolah aku bisa terhisap kapan saja ke dalam pandangannya yang tajam. Tanpa sadar, aku menggerakkan tanganku dan menyentuh helaian rambutnya yang jatuh menutupi matanya dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Saat aku tersadar dan berniat untuk segera menarik tanganku, ia menggenggamnya. Tidak ingin kehilangan kendali, aku berusaha melemparkan komentar sarkastisku seperti biasa.
"Ingatkan aku untuk memotong rambutmu sebelum kau pulang besok."
Shuuichi tersenyum dan melepas tanganku. Ia bersandar dan berusaha membuat dirinya nyaman di bangku yang ia duduki. Tak lama, suara yang terdengar dari speaker mengumumkan bahwa konser akan segera dimulai.
.
.
To be continued
.
Author's note: Fast update and just one chapter to go. Aku batal membuat cerita panjang dan akan menyelesaikannya di chapter depan. Jadi aku menghapus nama Shinichi dan Jodie dari daftar karakter kali ini. Memang tidak ingin kubuat panjang-panjang karena akan menambah daftar utangku. Karena kedua karakter ini adalah pasangan yang pertama kali kubuat fic nya aku masih sulit menangkap karakter mereka jika berhubungan satu sama sekali. Aku bahkan berkali-kali membuka komik dimana ada Shuuichi hanya untuk menangkap karakternya. Semoga tidak OOC ya. Beritahu aku jika terasa OOC, aku akan berusaha memperbaikinya di chapter depan. Dan sepertinya aku mulai tertarik dengan mereka berdua *tertawa nista. Mungkin aku akan membuat cerita tentang mereka lagi jika sempat. Terima kasiiih
