DISCLAIMER: I do not own Detective Conan. All characters mentioned in this fiction belong to Gosho Aoyama.
.
.
Title : Trapped
Chapter 3 : The Warmth Where Heart Understands
Words : 1491
Characters : Shiho M., Shuuichi A.
Genre : Romance
Rating : T+ for implicit sexual scene
Summary :
Ya, kami sama ... sama-sama terluka, sama-sama menyesal, dan lebih jauh lagi ... sama-sama bodoh. Seharusnya kami dapat menjadi dua orang yang saling memahami. Tetapi, untuk memahami kakak dengan baik pun, kami berdua gagal.
.
.
.
Trapped
Chapter 3. The Warmth Where Heart Understands
by pijar religia
.
.
Aku membuka mata dan menemukan langit-langit putih kamarku. Kutegakkan tubuhku dan tersadar dengan sesosok pria yang masih tertidur di sampingku. Sebelah tanganku mulai memainkan helai rambutnya yang ikal. Aku tidak mengerti bagaimana pertengkaran kami semalam sepulang dari konser dapat membuat hubungan kami menjadi semakin rumit.
Kak, semuanya karena pesan Kakak yang tidak pernah dihapusnya ...
.
.
"Konsernya bagus, bukan?" tanyaku sambil melepaskan mantel dan menggantungnya di tempat gantungan. Aku melepaskan high heelsku dan menggantinya dengan sandal rumah. Shuuichi mengikutiku dari belakang.
"Hng, yah bagus ..." jawabnya ringan. Aku hanya menoleh untuk melihat wajahnya dan mengendikkan bahu karena aku tahu bahwa pria ini tak akan berkomentar lebih jauh. Aku membiarkannya dan berjalan menuju dapur untuk membuat segelas cokelat hangat.
"Kau ingin sesuatu?" tanyaku sambil mulai memasak air di dalam teko.
"Kopi."
Aku tidak berniat membantahnya malam ini, jadi dengan santai aku mengambil sebuah cangkir dan tempat bubuk kopi. Kulihat Shuuichi mendudukkan tubuhnya di kursi ruang makan dan mulai memainkan ponselnya seperti biasa.
Saat aku tengah menyiapkan kopinya, suara dering yang kukenal sebagai suara dering ponselku berbunyi.
"Shiho, ponselmu ..."
"Ah, iya," jawabku lalu mematikan kompor dan setengah berlari untuk mengambil clutchku di meja makan. Kulihat nomor telepon berkode Amerika Serikat terpampang di layar. Aku menaikkan alisku, bertanya-tanya.
"Halo?"
"Ah, Miyano-kun. Apa Akai bersamamu? Ia tidak menjawab ponselnya, kupikir mungkin dia bersamamu."
Aku mengenali suara itu sebagai suara James Black. Setelah menjawab 'Ya, sebentar ...' aku memberikan ponselku pada Shuuichi. Shuuichi lalu berjalan menjauhiku sambil berbicara. Mungkin mereka sedang membicarakan kasus yang tiba-tiba ditinggalkan Shuuichi karena dia pergi ke Jepang.
Aku meletakkan secangkir kopi untuk Shuuichi di atas meja makan. Saat itulah aku melihat ponselnya yang terbuka dan sebuah pesan dengan nama yang tidak asing bagiku. Dengan ragu tanganku meraih ponsel itu dan membaca pesannya ... sebuah pesan dari kakak.
Dai-kun,
Jika aku dapat melarikan diri dari organisasi seperti ini, apakah kau mau berkencan denganku sebagai kekasihku yang sesungguhnya?
Akemi
Tanganku bergetar membaca pesan itu. Mungkinkah ini pesan terakhir kakak pada Shuuichi sebelum dia tewas ditembak Gin? Apakah kakak tahu kalau Shuuichi hanya memanfaatkannya?
Saat pikiranku tengah kacau karena membaca pesan itu, Shuuichi kembali dan menyadari bahwa aku tengah memegang ponselnya.
"Shiho ..."
Aku meletakkan ponselnya di atas meja dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarku. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Untuk saat ini saja, aku tidak ingin melihatnya.
"Shiho!"
Aku dapat mendengar suaranya yang memanggilku dari belakang. Namun, aku tidak berniat menoleh. Aku membuka pintu kamarku, bersiap menutupnya dengan keras saat sebuah tangan berhasil menahan pintu itu dan menghentikanku. Aku menemukan sepasang mata yang menatapku tajam.
"Shiho, aku tahu apa yang kau pikirkan, dan aku bisa menjelaskannya padamu."
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat sebelum akhirnya membalas, "Akai-san aku pun paham apa yang ingin kau katakan, jadi kau tidak perlu repot-repot memberikan penjelasan. Aku butuh istirahat, jadi biarkan aku menutup pintu ini."
"Tidak, aku sangat yakin kalau kau telah salah mengerti," ucap Shuuichi sambil berjalan mendekatiku tanpa melepaskan pegangannya pada pintu kamar.
"Ya, aku salah. Aku salah telah mengira bahwa kau hanya mengencani kakakku untuk bisa masuk ke dalam organisasi. Kau tahu bagaimana perasaan kakak terhadapmu! Tapi kau tetap memanfaatkannya, begitu bukan?"
Shuuichi menghela napasnya, ia terlihat habis akal dengan kemarahanku padanya.
"Shiho, aku memang pernah bilang padamu bahwa pada awalnya aku berkencan dengan Akemi karena berniat menyusup ke organisasi. Tetapi, saat aku memberitahu Akemi bahwa aku adalah agen FBI dan aku mengetahui perasaan Akemi padaku ... aku meninggalkannya."
Aku melepaskan peganganku pada gagang pintu dan menatap tidak percaya pada pria di depanku. "Kau tidak berperasaan, Akai Shuuichi ..." ucapku getir. Aku mati-matian menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.
"Aku meninggalkan Akemi, karena aku ingin melindunginya. Jika aku tetap berhubungan dengannya maka organisasi akan menyingkirkannya ..."
Aku mengepalkan kedua tanganku, menahan diriku agar tidak histeris. Aku tidak paham dengan semua ini. Jika Shuuichi benar-benar mencintaiku kakak, harusnya ia tidak meninggalkannya begitu saja!
"Harusnya kau tetap berada di sisinya," ucapku dengan kepala tertunduk. Air mataku mulai mengalir, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Saat itulah aku merasa kedua bahuku didorong dengan kuat hingga punggungku menabrak dinding. Aku meringis kesakitan, lalu aku menemukan Shuuichi menatapku dengan pandangan yang terlihat marah ... namun terluka.
"Seandainya aku bisa, aku sudah membawa kakakmu pergi bersamaku. Tapi, ia tidak menginginkannya, Shiho! Kau tahu kenapa?" Suara Shuuichi yang terdengar dalam membuatku bergidik ketakutan. Aku tidak pernah melihat dirinya semenakutkan ini.
"Dia tidak ingin kabur dari organisasi jika tidak bersama dengan dirimu!"
Jawaban Shuuichi membuatku tersentak. Tapi aku tidak bisa membantu diriku sendiri. Aku membalas tatapan Shuuichi dan mengeluarkan kemarahanku padanya.
"Seharusnya kau paksa dia pergi bersama dirimu! Apa kau tahu bagaimana bingungnya aku saat mengetahui kalau kakak telah dibunuh oleh Gin? Berkali-kali aku menanyakan alasan mereka membunuh kakakku, tapi aku tidak mendapatkan jawaban! Apa kau pernah berpikir, jika kakak dibunuh karena mereka takut kalau kakak terus memberikan info tentang organisasi kepadamu, seorang agen FBI?!"
"Ya, aku tahu!" kali ini Shuuichi sukses membentakku. Sampai detik tadi, Shuuichi tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya kepadaku. "Itulah alasan mengapa mereka membunuh Akemi! Dan saat aku menerima pesan itu dari Akemi dan mencari tahu apa yang Akemi lakukan untuk membawamu keluar bersamanya ... semuanya sudah terlambat."
Tiga kata terakhir yang dikeluarkan oleh Shuuichi terdengar bergetar. Saat aku kembali ingin menyalahkannya, aku tidak sanggup. Pria ini ... pria yang sangat dicintai oleh kakak juga merasakan kesedihan yang sama denganku.
"Kau tahu, Shiho? Bukan kau saja yang frustasi karena kematiannya. Sampai detik ini aku pun terus menyalahkan diriku, tanpa perlu kau memberitahuku. Terkadang aku pun ingin menyalahkanmu jika teringat Akemi lebih memilih melindungimu dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi, aku tahu Akemi tidak menginginkan aku berpikir seperti itu."
Mendengar pengakuan Shuuichi, air mataku keluar semakin deras. Aku tahu kalau kakak selalu melindungi diriku. Aku tahu kalau kakak selalu mendahulukan kepentinganku. Tetapi, kenapa aku tidak bisa mengerti? Kenapa aku terus mencari seseorang untuk disalahkan atas kematian kakak? Dulu, aku pernah menyalahkan Shinichi. Kini aku menyalahkan pria yang kakakku cintai. Seharusnya aku bisa membuka mata, dan menyadari kalau semua ini adalah kesalahanku.
Saat aku berpikir seperti itu, aku merasakan sebelah tangan Shuuichi meraih wajahku, mengusap pipiku yang telah basah oleh air mata.
"Kapan kita akan berhenti, Shiho? Berhenti saling menyalahkan juga berhenti menyalahkan diri sendiri?"
Kalimat terakhir yang diucapkan Shuuichi berhasil memecah tangisku. Isak tangisku yang kencang teredam oleh pelukan Shuuichi yang begitu erat.
Ya, kami sama ... sama-sama terluka, sama-sama menyesal, dan lebih jauh lagi ... sama-sama bodoh. Seharusnya kami dapat menjadi dua orang yang saling memahami. Tetapi, untuk memahami kakak dengan baik pun, kami berdua gagal.
Aku terus menangis dalam pelukan Shuuichi, hingga ia melonggarkan pelukannya. Shuuichi mengangkat wajahku. Jari-jarinya yang panjang menelusuri pipiku yang basah. Dikecupnya kedua mataku perlahan, dan entah bagaimana aku merasakan kehangatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
"Shuuichi ..."
Aku menahan napas saat jari-jarinya mulai menyusuri lekuk pinggangku. Sama seperti saat aku menahan napas ketika suara solois meso sopran menyanyikan bagian akhir dari simfoni Scriabin.
O highest symbol of divinity
supreme art and harmony
we bring praise as tribute before you
"Shiho ..." bisik Shuuichi di dekat daun telingaku yang dihiasi sebuah giwang perak.
Aku memalingkan wajahku, membiarkan dirinya mengecup wajahku lebih lama. Aku mendorong kedua bahunya untuk melihat wajahnya dengan lebih jelas. Ya, wajah yang belakangan ini menemaniku. Wajah yang mulai membuatku terbiasa dengan kehadirannya.
"Shuuichi ..." panggilku dengan suara yang lemah. Tanpa bisa kutahan air mata kembali membasahi wajahku.
.
.
Ia membuka mata dan melihatku yang tengah duduk di atas tempat tidur sambil memainkan rambutnya. Aku tidak mengucapkan apa pun dan melanjutkan kegiatanku. Ia lalu menghentikan gerakan tanganku dengan menggenggam tanganku lembut.
"Bangun tidur dan hal pertama yang kau lakukan adalah memainkan rambutku? Kau tidak punya sarapan untuk dibuat?"
Aku tersenyum simpul dan meraih jam tangannya yang tergeletak di lantai. "Maksudmu makan siang?"
Ia melotot sesaat lalu mengambil jam tangannya dengan tidak percaya. "Shiho, kau membuatku ketinggalan penerbangan. James akan benar-benar memarahiku setelah ini." Shuuichi turun dari tempat tidur dan mulai mengambil pakaiannya satu per satu.
"Oh, jadi ini bagaimana kau bicara setelah bertengkar dan meniduri adik kekasihmu?"
Shuuichi mengencangkan ikat pinggangnya dan mendelik ke arahku. Ia kembali naik ke tempat tidur dan mengusap wajahku. Entah kenapa, aku mulai suka dengan caranya membelai pipiku.
"Kau tahu, Shiho, kadang aku kesal dengan cara bicaramu yang sarkastik? Bagaimana kalau kau menggantinya dengan 'berdiskusi dan bercinta dengan kekasihnya?'"
Aku membuka mulutku, pura-pura terkejut. Sambil menahan geli, aku memperbaiki posisi jam tangannya yang sedikit longgar di pergelangan tangannya.
"Wah, jadi boleh kuanggap kalau sekarang aku sudah punya kekasih? Aku tersanjung."
Shuuichi hanya mendengus pelan dan berdiri untuk memakai kemejanya.
"Terserah kau saja."
Aku tersenyum saat melihatnya berjalan keluar kamar, mungkin untuk membereskan barang-barangnya sebelum kembali memesan tiket penerbangan. Yang aku tahu, dia tidak sedang berniat membuat bosnya kembali kebingungan mencarinya karena pekerjaan yang ia tinggalkan.
Angin yang berhembus memasuki kamarku lewat jendela yang sedikit terbuka. Terik matahari yang menyentuh wajahku membuatku seperti ingin menyapa kakak. Mungkin kakak tengah melihatku sekarang.
"Hei, Kak. Sepertinya aku menyukai pria bodoh yang kau cintai. Aku harus bagaimana?"
.
.
The End
.
Author's note: Ow ow ow ow pijaaar, bisa-bisanya kau membuat tulisan seperti ini. Ampuuun (/_\)
Ah, seandainya ada waktu lebih saya ingin melanjutkannya. Akhirnya saya berhasil membuat Shiho dan Shuuichi berdamai dalam kepala saya. Saya yakin suatu saat nanti, entah kapan, pasti ada scene resolusi antara mereka berdua mengenai Akemi di DC series. Jadi sebelum semuanya terlambat, saya mau post dulu fic ini hahaha. Saya ingin membuat fic baru tentang mereka berdua. Ada yang punya saran tema cerita? Hihihihi. Saya mulai suka mereka berdua
