F L O W

Naruto © Masashi Kishimoto.

Warning: Membaca fanfic ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti mulut berbusa dan kepala pening luar biasa. Anda dipersilahkan mundur untuk menghindari tindak anarkis yang mungkin akan Anda lakukan di kotak review (?).

-oOo-

Collaboration with Yukio Valerie (SASUKE P.O.V).

-oOo-

Chapter 2 : L for Love.

-oOo-

Enjoy~

~F L O W~

Tiga hari telah berlalu sejak bunkasai penuh cerita itu, kini aku tengah berada di dalam sebuah cafè yang kulihat saat aku dan Ino kabur waktu itu.

Aruta Cafè, cafè manis berlantai 4 dengan desain yang menarik di setiap lantainya. Ini adalah kali ketiganya aku mengunjungi cafè ini setelah bunkasai tiga hari yang lalu. Cukup membuatku tahu bagaimana seluk beluk cafè unik ini.

Lantai 1 terdiri dari 3 area, yaitu coffee area, books area, dan boutique area. Coffee area terletak pas di depan pintu masuk, di sana kita bisa menikmati kopi yang menjadi salah satu menu kebanggaan dari cafè ini. Berlanjut ke books area, di area ini terdapat semacam mini library, dengan koleksi buku yang terpajang rapi di dalam rak-rak yang menjulang tinggi —tidak lupa dengan sofa-sofa empuk nan nyaman yang tersebar di books area. Dan boutique area terletak di bagian agak dalam cafè ini, di area ini ada beberapa manekin dengan dekorasi yang stylish dan memanjakan mata.

Lantai 2 sendiri sepertinya memang didesain untuk para gadis. Di lantai ini terdapat 2 area yang dapat disinggahi, yaitu candy area dan flower area. Aura di lantai ini memang terasa lebih feminin dan manis. Mungkin kesan girly ini ada hubungannya dengan warna pink lembut pada desain di candy area dan aksen taman dengan nuansa putih yang peaceful banget di flower area.

Naik ke lantai 3, mata kita akan disambut dengan music area, di sini kita bisa menemukan rak-rak yang berisi pajangan koleksi musik sang owner dengan genre yang sangat bervariasi.

Lantai 4 adalah area puncak dari Aruta Cafè, rooftop outdoor yang berada di puncak cafè ini dijadikan sebuah open area yang unik. Terbukti dengan adanya sepeda fixie, barber shop dan juga payphone yang mempermanis desainnya. Dengan pemandangan langit biru yang indah di siang hari, dan langit hitam bertabur bintang di malam hari sukses membuat cafè ini melejit akan desainnya yang unik. Perfect!

Aku beranjak, melangkahkan kakiku dari satu rak ke rak yang lain demi mendapatkan buku yang bisa menarik perhatianku.

Ah ya, kini aku sedang berada di books areaspot favoritku di cafè ini. Memang benar, terkadang jika aku berada di cafè ini hingga malam, aku akan segera menuju ke rooftop untuk menikmati sunset. Tapi tetap saja, books area adalah harga mati untukku.

Tak hanya memanjakan mataku dengan desain interior yang manis, novel-novel yang ada di sini juga ikut serta dalam alasanku untuk tetap setia dengan area ini. Books area memang sangat cocok untuk pecinta buku sepertiku.

Sebuah novel bersampul hitam dengan judul 'Dead Girl Walking' berhasil menahan langkahku. Tanganku terulur untuk meraih novel tersebut, beberapa saat setelahnya aku habiskan dengan membaca sinopsis novel di tanganku dengan cermat.

Aku mengangguk pelan ketika memantapkan hati untuk 'menghabiskan' novel ini hari ini juga. Mungkin butuh beberapa jam mengingat novel ini memiliki halaman yang cukup banyak.

Kembali kulangkahkan kakiku, namun kali ini tidak pada deretan sofa yang terhampar di sekitar books area seperti kebiasaanku, melainkan ke area di sebelah books area, coffee area. Ya, kali ini aku akan menghabiskan hariku di coffee area karena sepertinya aku memerlukan sedikit kafein setelah menghadapi serangkaian tugas kuliah yang mematikan.

Hiperbola? Biarlah. Terkadang aku memerlukan ke-alay-an itu agar tidak stres.

Iris emerald-ku bergerilya—menyapukan pandangan pada setiap sudut coffee area yang rupanya telah dipadati oleh pengunjung.

Aku mendesah lirih, pesimis akan mendapatkan kopi yang kuinginkan siang ini mengingat penuhnya pengunjung dan adanya larangan untuk menikmati kopi selain di coffee area. Hingga mataku berbinar cerah saat aku menemukan sebuah sofa kosong di sudut ruangan.

Tidak benar-benar kosong sebenarnya, karena ada seorang pemuda yang kulihat sedang duduk santai di sana.

Dia hanya membutuhkan sebuah sofa untuk duduk, dan sofa di hadapannya pasti tidak akan didudukinya juga, pikirku.

Berbekal pemikiran simpel itu aku mengayunkan kaki-kakiku ke arahnya. Ketika jarak yang membentang perlahan terkikis, aku pun mulai menyadari jika pemuda yang duduk santai dengan mata terpejam itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang mengembalikan rapier-ku saat bunkasai kemarin.

Tentu saja aku mengingatnya, helai hitam dan kontur wajah itu tidak akan pernah membohongiku. Dia adalah pemuda yang sama.

Tap.

Kakiku berhenti melangkah tepat di sebelah sofa kosong incaranku. Sebelah alisku terangkat saat mendapati betapa rileksnya pemuda itu menyenderkan punggungnya di senderan sofa dengan mata terpejam erat.

Aku terdiam sejenak, menimang-nimang apakah aku akan membangunkan pemuda ini sekarang untuk minta izin atau langsung duduk dan meminta izin saat dia bangun?

Akhirnya aku memilih opsi kedua. Bukan karena apa, tapi setelah kuteliti ada segurat kelelahan dan kepenatan terlukis jelas di wajahnya. Akan sangat tidak sopan jika aku merusak ketenangannya saat ini.

Aku mengangguk pelan—tanda mantap dengan pilihanku saat ini dan bergegas menduduki sofa itu tanpa menimbulkan suara sekecil apapun. Sudah kubilang kan jika aku tak mau mengusik pemuda di hadapanku ini?

Menit demi menit berlalu, alunan musik jazz yang lembut menghanyutkanku dalam suasana damai. Manik hijauku kembali bergulir membaca tiap bait tulisan yang tertera di permukaan kertas novel yang kini kubaca. Beberapa kali aku sempat melirik pemuda di hadapanku —memastikan apakah dia sudah terjaga agar aku bisa meminta izin padanya. Tapi sampai saat ini pun pemuda itu masih tertidur dengan nyaman di sofanya.

Baru lima menit lalu saat terakhir kali aku melirik pemuda di hadapanku, dan sekarang aku sudah merasakan adanya seseorang yang mengawasiku.

Aku menghirup napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk mengangkat wajahku dengan perlahan. Dan sepasang manik sehitam jelaga itu langsung menyambutku dengan pandangan datar saat irisku dan miliknya bertumbukan.

Aku mendesah lirih dalam hati, mengagumi betapa serasinya iris mata itu dengan proporsi wajahnya. Kembali, aku terjerat dalam pesona alami pemuda di hadapanku.

Baru beberapa detik aku terlena oleh kuatnya pesona pemuda berhelai hitam ini saat inner-ku berteriak menyuruhku meminta maaf karena sudah bertindak tidak sopan—duduk tanpa permisi.

Spontan, aku melompat dari sofaku lalu ber-ojigi di hadapannya. "Sumimasen! Aku langung duduk di depanmu tanpa izin terlebih dahulu. Apa tempat ini sudah ada yang memesan?" Pemuda itu menggeleng pelan, guratan kebingungan yang tadinya terpeta di wajahnya pun menipis—membuatku tersenyum tanpa sadar.

"Yokatta ... Aku baru saja dari books area dan mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Tapi semua bangku sudah penuh kecuali tempat ini. Jadi ... aku duduk di sini, hehehe. Aku tidak membangunkanmu karena sepertinya kau lelah sekali," jelasku tanpa diperintah.

"Hn." Gumaman singkat itulah yang menjadi balasannya. Ck, seperti dugaanku, dia memang tipe cowok cuek.

"Konnichiwa, Anda ingin memesan sesuatu?" Seorang butler mendadak mendatangi meja kami ketika aku baru saja mendudukkan diriku di hadapannya.

Aku mendongak dan menerima buku menu yang diulurkan butler tadi dengan senyuman singkat.

Suasana sontak berubah sunyi saat aku menunduk menatap buku menu di tanganku. Dahiku refleks mengerut menatap deretan nama menu yang tersaji di depan mataku.

Aku menggigit bibir bawahku pelan, menerka-nerka manakah kopi yang harus kupesan agar cocok dengan deretan makanan manis yang akan kupilih.

"Mmh, Double Choco Mousse Pudding, Red Velvet, lalu ... Affogato. Kurasa itu saja," ucapku sambil mengembalikan buku menu setelah kulihat butler itu selesai mencatat pesananku. Aku tersenyum tipis.

Butler itu membalas dengan senyuman ramahnya sebelum pamit pergi dengan sopan.

Dengan santai aku kembali membuka dan membaca novel —yang sebelumnya sempat kututup— dengan tenang, hingga seorang maid datang mengantar pesananku.

"Arigatou," ucapku. Sebuah tundukan kepala pelan menjadi aksi terakhir dari maid itu. Aku menatap makanan di depanku dengan pandangan penuh nafsu. Aku lapar.

Dengan cepat kupotong kecil red velvet favoritku dan memasukkannya ke dalam mulutku. Lidahku bergoyang merasakan entakan rasa manis dari makanan yang berada di rongga mulutku.

Aku masih bisa merasakan bagaimana lembutnya tekstur cake ini, krimnya yang pas menjadi nilai plus tersendiri untuk cake ini, taburan kacang yang berada di sekelilingnya juga menambah crunchy makanan ini. Aw, aku memang tidak salah memilih makanan.

Setelah menghabiskan seperempat cake-ku, aku kembali fokus kepada novelku yang sempat terbengkalai karena nikmatnya red velvet. Tangan kananku yang menganggur segera menyendok sedikit krim putih yang berada di permukaan cake-ku tanpa mengalihkan pandangan dari buku bacaanku.

Dengan wajah masih terfokus pada novel, aku segera memasukkan sendok yang penuh dengan krim itu dan mengulumnya dengan perlahan.

"Kau tidak sedang mencoba menghabiskan itu sendiri bukan?" Aku tersentak kaget ketika sebuah suara baritone mendadak menelusup memasuki gendang telingaku.

"Ah!" sebuah pekikan kecil pun keluar sebagai wujud atas kekagetanku. Mulutku terbuka, namun suaraku mendadak macet di kerongkongan saat kusadari aku tidak tahu harus menjawab apa.

Memang kenapa jika aku mau menghabiskan kue ini sendirian? Apa dia berharap aku memberinya?

"Hmm ... ano ...," gumamku mencoba mencari jawaban. Tanpa sadar aku memainkan sendok kecil di tanganku sambil menatap cake yang telah kupotong kecil-kecil.

"Memangnya kenapa jika aku menghabiskan ini sendiri, huh?!" Jawaban yang bodoh. Aku tahu itu, namun yang lebih bodohnya lagi aku juga melotot ke arahnya tanpa malu. Seakan belum cukup, aku pun turut mengacungkan sendok kecilku ke arahnya dengan tatapan marah.

Bodoh, bodoh! Sakura bodoh!

Tak henti-hentinya aku merutuki kebodohanku yang tidak tahu malu dalam hati, hingga sebuah dengusan pelan terdengar dari pemuda di hadapanku.

Bagus, Sakura! Sekarang dia tak hanya akan menganggapmu gadis aneh dan tidak tahu sopan santun, tapi juga tidak tahu malu! Aku mengomel dalam hati.

"Bukankah dia gadis yang cosplay beberapa hari yang lalu? Yang menjadi Asuna." Tiba-tiba aku mendengar seseorang berkata ketika aku sedang melirik pemuda di hadapanku yang kini tengah menyesap kopinya dengan khidmat.

"... Kau benar. Wajahnya benar-benar manis. Kali ini dia sedang ber-cosplay apa ya? Dengan rambut merah jambu itu." Obrolan itu masih terus berlanjut saat aku masih memantapkan hatiku untuk sekadar tidak melemparkan tatapan tajam pada siapapun itu yang sedang membicarakanku.

"Itu rambut aslinya."

"Eh?! Uso!"

"Aku satu kampus dengannya. Itu memang warna rambut aslinya."

"Aneh ya …."

Aku menggeram pelan sambil melahap cake-ku dengan wajah yang kuusahakan seacuh mungkin saat suara bernada mengejek itu merobek gendang telingaku.

Tanpa sadar aku meremas ujung rambutku dengan gelisah. Ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, saat seperti ini sudah terjadi beratus-ratus kali sepanjang hidupku. Tapi entah mengapa aku tidak kunjung kebas mendengar semua ejekan dan hinaan yang dilontarkan oleh orang-orang karena rambutku.

Bagi orang yang baru mengenalku pasti mengira aku mengecat rambutku menjadi merah muda untuk sekadar mencari sensasi. Mereka pasti akan mencemoohku sebagai gadis yang haus popularitas.

Padahal …,

Padahal aku pun tak suka dengan warna rambutku yang tak lazim.

Aku menundukkan wajahku semakin dalam dengan rahang terkatup erat, berusaha sedemikian keras untuk meredam kekesalanku.

Pluk.

Aku sontak membeku ketika tangan pemuda —yang entah sejak kapan telah meninggalkan sofanya— itu menepuk puncak kepalaku dan bergerak turun membelai rambut merah muda sebahuku dengan lembut.

Belum sempat aku terlepas dari jerat kekagetan yang sempat memakuku, pemuda itu telah menarik kembali tangannya dan bergegas pergi.

Aku tersentak dan segera bangkit dari kursiku untuk menghentikan pemuda misterius itu.

"Tunggu! Hei, kamu cowok yang pakai kemeja biru tua! Aku bilang tunggu!" aku berteriak spontan.

Seperti harapanku, lelaki itu berhenti tepat di ambang pintu café dengan wajah yang sedikit menunduk. Gumaman-gumaman penuh tanya mengudara dengan cepat sebagai respon dari aksiku tadi, namun aku tak mengacuhkannya. Manik hijauku masih terpaku pada punggung tegap pemuda di ambang pintu cafè itu.

"Aku?" pemuda itu menoleh dari balik bahunya, aku mengangguk dengan senyum yang tersemat di bibirku.

"Ya, kamu," ucapku.

"Watashi wa Sakura desu," Sekali lagi aku ber-ojigi sebelum lelaki itu memutuskan untuk membalikkan tubuhnya secara sempurna menghadapku.

Dia mengangguk pelan. "Sasuke," ucapnya singkat.

Sasuke. Jadi itu namanya.

Nama yang keren, sama seperti orangnya.

Aku menegakkan tubuhku dengan seulas senyum lebar di wajahku. "Yoroshiku, Sasuke. Soshite, arigatou," ujarku tulus.

Terima kasih ...,

Terima kasih karena telah mengembalikan rapier-ku tempo hari, dan terima kasih ... untuk sentuhan lembutmu tadi, ungkapku dalam hati.

"Hn. Aku duluan," Sasuke melambaikan tangan sembari membalikkan badan dan berlalu pergi. Aku merasakan sudut bibirku tertarik semakin ke atas, sebuah perasaan yang aneh secara tiba-tiba merasuki hatiku tanpa permisi ketika jemari tangan Sasuke mengusap lembut rambutku beberapa saat yang lalu.

Ya, sebuah perasaan yang aneh.

~F L O W~

Setelah kejadian waktu itu, entah bagaimana kami menjadi sering bertemu di cafè ini. Aku tak tahu mengapa, padahal kami tak pernah membuat janji akan bertemu —tapi kami selalu bertemu setiap berkunjung ke Aruta Cafè. Aku tak tahu, dan tak ingin mencari tahu. Biarlah itu menjadi permainan takdir.

Seperti hari-hari sebelumnya, aku kembali menemukan eksistensinya di sudut cafè —duduk tenang sambil menyesap kopi di tempat favoritnya. Sebuah jendela besar yang menampilkan hiruk pikuk kehidupan di luar sana menjadi pusat atensi sepasang bola onyx itu.

"Sasuke!" aku memanggilnya saat pemuda berkemeja putih itu hendak menyesap kopinya.

Sasuke menghentikan gerakan tangannya —cangkir berwarna putih porselen itu berada tepat di depan bibirnya. Ia terdiam sejenak lalu melirik ke arahku yang masih berdiri sekian meter dari mejanya. Sebuah senyuman tersungging di bibirku saat Sasuke melirikku dengan pandangan datar.

Tanpa basa-basi aku segera melangkahkan kakiku ke arahnya, ke arah sofa di hadapannya yang kosong, seperti biasanya.

"Boleh aku duduk di depanmu?" Percayalah, itu hanya sebuah pertanyaan basa-basi. Kenapa? Karena dia tidak akan menjawabnya. Ya, Sasuke tak pernah menjawabnya, lelaki itu hanya akan diam sambil menatapku dengan iris matanya yang tajam, dan aku akan duduk di hadapannya, seperti biasanya.

Awalnya aku menganggap reaksi Sasuke adalah sebuah bentuk dari ketidaknyamanannya akan kehadiranku di sekitarnya. Tapi lambat laun aku mengerti jika itulah sifat aslinya, pendiam dan tak mau ambil pusing.

Aku baru saja meletakkan nampan berisi beberapa kue yang telah kupesan sebelumnya di atas meja ketika iris mata Sasuke memandangku penuh keheranan.

Aku mengangkat sebelah alisku sejenak sebelum melemparkan pandangan pada kue yang berada di atas nampanku.

Tidak ada yang aneh, batinku.

"Kau benar-benar berpikir jika kue manis itu sangat enak?" celetuknya pelan.

Sebelah alisku kembali terangkat secara berlebihan sebelum kepalaku mengangguk mantap. "Tentu saja! Setiap aku datang ke cafè ini, aku selalu memesan kue seperti ini. Ini benar-benar enak!" ucapku bak sales yang sedang menawarkan barang dagangannya.

"Enak?" ulangnya dengan dahi berkerut. Aku kembali mengangguk meyakinkan.

Gemas melihat ekspresi Sasuke yang menganggap makanan manis ibarat sebuah racun paling mematikan di muka bumi, aku segera menyendok kecil kue dengan krim yang melapisi tiap sisi kue berwarna merah kesukaanku.

"Cobalah," aku menyodorkan sendok kecil itu tepat di depan mulutnya —membuatnya refleks menarik kepalanya ke belakang.

"Aku tidak suka makanan manis," tolaknya singkat.

Aku menggeram, tidak menerima penolakannya begitu saja. Tanganku masih kekeuh terulur di depan bibirnya. "Ini tidak akan membuat gigimu sakit. Hanya sepotong saja! Ayolah, Sasuke~" rayuku sambil menyodorkan sendok kecil berisi kue itu tepat di depan bibirnya.

Aku tersenyum kecil saat Sasuke dengan ragu-ragu akhirnya membuka mulutnya dan melahap kue yang sedari tadi kusodorkan padanya.

Senyum kecil itu pun kian melebar ketika kulihat Sasuke menikmati kue favoritku dengan ekspresi yang lucu.

"Tak buruk juga," gumamnya.

Membuat senyumku semakin melebar dengan cepat. Entah mengapa.

~F LO W~

Pertemuan itu pun berlanjut ke hari-hari berikutnya. Kami semakin sering bertemu di cafè ini, khususnya jika akhir pekan telah tiba.

Walau hanya sebuah pertemuan dengan percakapan tak tentu arah, denganku yang akan tetap mengoceh —dan dia yang akan menjadi pendengar setia, semua itu cukup berarti untukku.

Seperti Sabtu sore ini, seperti yang sudah-sudah, siapapun yang datang duluan, dia yang harus menunggu. Dan hari ini adalah giliranku, giliranku untuk menunggunya datang.

Kini aku sudah duduk di sudut ruangan coffee area—tempat favorit kami. Sasuke belum datang. Tapi aku yakin dia akan segera datang.

Aku merutuk dalam hati ketika sebersit tanya mendadak bercokol di benakku. Aku menggigit bibirku, berusaha memfokuskan mataku pada novel Jane Eyre yang berada di genggamanku, bukan pada pintu cafè seperti sebelumnya.

Baru dua menit yang lalu aku memutuskan untuk fokus pada bacaanku —tapi kini aku kembali mengangkat wajahku yang semula kupaksa menghadap pada lembaran kertas bertinta di hadapanku.

Aku kembali memaki diriku ketika kusadari jika kini aku sedang gelisah menanti kedatangan Sasuke.

Baru saja aku melemparkan pandanganku ke pintu cafè, dan kini emerald-ku sudah bisa menemukan eksistensinya.

Itu dia ...

"Sasuke!" Aku berteriak memanggilnya yang masih terdiam di dekat pintu masuk, entah sedang apa.

Aku tersenyum sambil melambaikan tangan kananku saat kulihat Sasuke menghampiriku dengan langkah terburu.

Bruk.

Sepasang alisku otomatis mengernyit bingung saat kudapati Sasuke mendudukkan dirinya dengan kasar di sofa yang ada di depanku, wajah tampannya tampak dingin dan kaku. "Hey, kenapa tampangmu dingin begitu?" Aku menatapnya penuh tanya.

Novel yang sedari tadi tak berhasil mengalihkan perhatianku kini kuletakkan di dekat siku kananku.

"Jangan melakukan hal itu lagi," tukasnya pendek.

"Eh? Apa?" Aku bertanya polos.

Melakukan apa? Aku tidak merasa telah melakukan hal yang merugikannya kok.

"Berteriak. Kau membuatku menjadi pusat perhatian." Sasuke mendengus yang kubalas dengan gelak tawa.

"Oh ayolah, Tuan Muda. Apa kau tidak sadar selama ini kau sudah menjadi pusat perhatian?" Retoris. Aku tahu itu. Tapi biarlah, sangat menyenangkan dapat membuat lelaki di hadapanku ini kesal.

Sepercik tawa masih menguar dari bibirku ketika aku memutuskan untuk menyangga kepalaku dengan kepalan tanganku, menatapnya dengan tatapan jahil milikku.

"Aku tahu," jawabnya singkat sembari mengalihkan pandangannya dari sepasang manikku yang berkilat jahil.

Lalu, seorang maid tiba-tiba datang membawakan secangkir espresso dan meletakkannya di hadapan Sasuke.

Tadi dia tidak memesan apa pun, kan? tanyaku dalam hati.

"Ne, Sasuke. Kau pasti sangat kaya, ya?"

"Hn?" gumamnya di sela aktivitasnya menikmati kopi favoritnya.

"Sepertinya kau sering sekali ke sini. Bahkan pelayan di sini langsung membawakan pesananmu tanpa kau minta."

"Kau berpikir begitu?" tanya Sasuke sambil meletakkan cangkir kopinya di atas meja.

"Ya," timpalku yakin.

"Tidak ada alasan khusus," kilahnya—membuatku mendelik sejenak.

Aku baru akan menyemburkan asumsiku saat kusadari itu bukanlah hal yang sopan. Aku baru mengenalnya, aku bahkan tak tahu nama keluarganya.

Yang kutahu hanyalah dia bernama Sasuke, seorang mahasiswa jurusan bisnis tingkat akhir di Meiji University.

Selesai. Hanya itu.

Dan karena itulah aku merasa akan sangat tidak sopan jika aku memaksanya menceritakan kehidupannya di saat dia sendiri pun enggan untuk membuka cerita tentangnya.

"Begitu, ya? Baiklah." Aku mengendikkan bahu dan kembali menikmati kue-kue yang sedari tadi kuabaikan.

"Jane Eyre. Selera yang bagus," gumam Sasuke tiba-tiba. Aku terperangah kaget saat Sasuke telah mengambil novel yang tadi kuletakkan di dekat sikuku tanpa aku ketahui.

Aku masih dalam kondisi tercengang ketika sepasang manikku merefleksikan gerakan tangan Sasuke yang membolak-balik halaman demi halaman novel yang yang telah diangkat menjadi film dengan judul yang sama.

"Apa?" tanyanya singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari novel yang tengah dipegangnya.

"A-apanya yang apa?" sahutku gelagapan.

Apa dia tahu aku memerhatikannya dari tadi? Benarkah? Sungguh?

Oh, damn! Kau telah memermalukan dirimu untuk yang kesekian kalinya di hadapan Sasuke, Sakura!

"Kau sejak tadi memandangku." ujarnya sakratis.

Aku kembali terperangah, sebelum aku membantahnya dengan suaraku yang—kuakui—nyaring.

"Aku nggak memandangmu kok. Aku cuma penasaran apa yang akan kau lakukan dengan novel itu." Aku membuang muka ke samping —mencegah terlihatnya rona merah yang terpoles rapi di kedua belah pipiku— sambil menggerutu pelan.

"Jadi kau suka novel roman klasik seperti ini, ya?" Sasuke kembali meletakkan novel bersampul coklat itu di atas meja.

"Bisa dibilang begitu sih ... Tapi yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah penggambaran karakternya yang kuat. Aku sangat suka karakter Jean Eyre di sini! Kisahnya sejak kecil hingga bertemu dengan cintanya itu ..." Dan lima menit setelahnya aku dengan riang tetap berceloteh mengenai novel karangan Charlotte Bronthe itu —membiarkan Sasuke yang kembali menjadi pendengar setia sembari sesekali menyesap kopinya.

"Kau memang menarik, Sakura," gumam Sasuke dengan tawa kecil dan sebuah senyuman tipis tercetak sempurna di bibirnya.

Aku terdiam, terpukau saat melihat tawa dan senyum langka yang menguar dari bibir tipis seorang Sasuke.

"Seperti itu," celetukku tanpa sadar. Senyum Sasuke dapat memberikan efek berbahaya rupanya.

Sasuke mengernyit. "Apa?"

"Kenapa kamu nggak sering-sering tersenyum seperti itu sih? Kamu terlihat jauuuhh lebih tampan lho kalau sering-sering tersenyum!" Terlanjur basah, mandi saja sekalian. Terlanjur keceplosan, kuungkapkan saja sekalian. Mungkin seperti itulah pikiran simpelku.

Beberapa saat kemudian keheningan mendadak menguasai atmosfer sampai tiba-tiba Sasuke meraih cangkir kopi miliknya dan bergegas meminumnya.

Aku mengerling, mengulum senyum saat kurasa Sasuke sedang salah tingkah.

"Apa kau mencoba merayuku, hm?" celetuknya spontan.

"Te-tentu saja tidak." Terkesiap. Rona merah kini menjarah pipiku, salah tingkah.

"Sayang sekali. Padahal kupikir kau tertarik menjadikanku pacarmu," katanya.

Aku terperangah. Tak memercayai apa yang baru saja kudengar.

Pacar?

Oh God!

"Eh?"

"Kenapa tampangmu kaget begitu? Apa kau benar-benar ingin berpacaran denganku, Sa-ku-ra?"

Bodoh, bodoh! Sasuke bodoh!

Kenapa dia bisa berkata semudah itu sih? Kenapa dia berkata seolah itu bukanlah hal krusial?

Baka! Sasuke no baka! umpatku dalam hati.

Aku terdiam, berusaha meredam debaran jantungku yang menggila akibat efek dari ucapan Sasuke.

Aku mungkin masih akan menunduk menahan malu jika aku tidak melihat segaris senyum geli yang terpahat di bibirnya. Saat itulah aku sadar jika dia hanya bercanda.

"Mou! Sasuke nyebelin!" Aku kembali menundukkan kepalaku dengan wajah panas, berusaha menepis perasaan tak nyaman yang hinggap di dadaku saat kutahu lelaki di hadapanku ini hanya bercanda.

"Belajar dulu yang benar," ujarnya sembari terkekeh kecil. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya tiba-tiba bergerak menyentil dahiku.

"Ittai, Sasuke!" Aku memekik kesakitan. Kedua tanganku pun refleks terangkat memegangi dahiku yang —kuyakini— sangat merah.

Aku menggembungkan pipiku sebal sambil memelototinya galak.

"Hahaha … maaf … maaf …." Alih-alih takut, Sasuke justru tertawa saat melihatku dalam mode garang.

Sialan! rutukku dalam hati.

Aku masih saja mengomel dalam hati ketika tubuh Sasuke tiba-tiba membungkuk dengan sebelah tangan yang terulur mengusap dahiku.

Aku terpaku, kembali terpesona dengan lelaki berambut hitam ini. Dari posisi ini, aku bisa melihat jelas kontur wajah Sasuke. Iris onyx-nya yang sekelam batu obsidian, rahangnya yang kokoh, dan bibir tipisnya yang sepertinya menyenangkan untuk dikecup.

Tunggu ...

Menyenangkan untuk dikecup ...

Untuk dikecup ...

Dikecup ...

Blush.

Dan rona merah kembali menginvasi kedua permukaan pipiku saat hatiku berteriak menyatakan jika aku telah jatuh dalam pesona pemuda ini.

~F L O W~

"Jadi, kau sedang jatuh cinta, eh, Sakura?"

Duk.

"Auch, kau mengagetkanku, Pig!" omelku pada sahabat berambut pirangku.

Aku mendelik, tapi Ino hanya menanggapinya dengan cengiran khasnya. Aku berdiri, beranjak dari kolong meja perpustakaan tempatku semula berlutut untuk mengambil penghapusku yang terjatuh —sebelum Ino datang mengagetkanku dan membuat kepalaku terantuk meja.

"Hehehe, kau tahu itu bukan maksudku, Jidat." Ino meletakkan tas selempangnya di atas meja. Ia duduk di kursi yang ada di sebelahku sambil menyilangkan kaki jenjangnya.

Aku mencibir, merasa iri dengan tubuhnya yang tinggi berlekuk bak model —berbeda jauh denganku yang semampai —semeter tak sampai.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Jidat," ucap Ino memotong cibiranku.

"Pertanyaan apa?" tanyaku acuh tak acuh.

"Kau sedang jatuh cinta, kan?" Ino bertanya dengan nada menuntut.

Aku tergelak, "Hahaha, jatuh cinta dengan siapa, Pig? Kau ini ada-ada saja," ucapku masih dengan tawa kecil yang menyertai.

"Oh ya? Lalu siapa laki-laki berambut raven yang sering kau temui di Aruta Cafè belakangan ini? Pacarmu, kan?" Ino menyeringai jahil.

"Kau menguntitku?!" seruku kaget.

Ino mendelik. "Siapa yang kau bilang penguntit?! Salahku kalau aku tidak sengaja melihatmu sedang berkencan di cafè? Siapa suruh kau duduk dekat jendela? Dari trotoar seberang jalan pun aku bisa melihatmu yang bermesra-mesraan dengan laki-laki itu. Mou! Sejak kapan kau main rahasia-rahasiaan dariku, Jidat?!" cerocos Ino dalam sekali tarikan napas. Aku terdiam, memijat keningku yang mendadak pening mendengar serentetan tuduhan yang dilontarkan Ino padaku.

"Dia bukan pacarku, Pig," Ino terlihat tak setuju dan hampir menyela jika aku tidak meliriknya dengan pandangan tajam.

"Dengar, aku tidak bermesraan dengan Sasuke—"

"Sou! Jadi namanya Sasuke!" sahut Ino dengan suara keras —membuat orang-orang yang berada di ruangan yang menjunjung tinggi ketenangan ini melirik sadis ke arah kami.

Aku meringis, malu dengan tingkah Ino yang membuatku ingin menjedukkan kepalaku keras-keras ke meja panjang perpustakaan.

"Jika kau terus mengoceh seperti bebek dan kembali menyela ucapanku, aku bersumpah tidak akan mau menceritakan apa pun lagi padamu!" ancamku.

Ino kembali melontarkan cengiran lebarnya sebelum gadis barbie-like itu membuat gestur mengunci bibirnya.

Aku menghela napas berat, kemudian kembali membuka mulutku, "Aku bertemu dengannya saat bunkasai waktu itu. Dia yang menemukan dan mengembalikan rapier-ku saat itu. Beberapa hari setelah itu aku kembali bertemu dengannya di Aruta Cafè. Seperti yang kau lihat, setelah itu aku jadi sering bertemu dengannya di Aruta Cafè walaupun kami tak pernah membuat janji akan bertemu sebelumnya. Itu hanya hubungan pertemanan, oke?! Dan aku tidak bermesraan dengannya!" tegasku kemudian.

Ino berkedip dua kali sebelum bibirnya terbuka, "Apa aku sudah boleh berbicara?" tanyanya dengan nada konyol.

"Kau sudah berbicara, Pig," sindirku.

Ino tertawa kecil, "Jadi pemuda itu yang menemukan rapier-mu, Sakura?" Aku mengangguk.

"Sou~ dia mahasiswa Todai juga?" Manik biru Ino berkilat jenaka.

"Tidak, dia mahasiswa Meiji Daigaku."

"Universitas swasta paling prestisius itu?!" Ino berseru tertahan.

"Apa aku baru menemukan sorot tertarik dari iris birumu itu, Ino? Sudah bosan dengan Sai, hm?" ejekku membuat Ino cemberut.

"Apa yang ada di pikiranmu? Aku tidak mungkin bosan pada Sai-kun, Ji-dat," elaknya dengan bibir mengerucut.

"Lalu?"

"Aku hanya penasaran saja siapa gerangan pangeran yang mampu meluluhkan hati beku sang Putri Haruno ini," ujar Ino dramatis.

Aku mengerang, tidak percaya jika Ino balik meledekku. "Aku sudah bilang aku tidak ada apa-apa dengannya, Pig! Aku dan Sasuke hanya berteman! Dia tak menyukaiku, dan aku tak menyukainya! Jadi berhenti memasang wajah menjijikkan seperti itu!" desisku sambil meraup wajah frustasi.

Ino tergelak, kedua bahunya terguncang pelan menahan tawa yang sepertinya sudah ada di ujung bibirnya.

"Kau berkata jika kau tak tertarik padanya, tapi aku malah mengartikan sikapmu ini adalah sebuah sikap defensif. Kau hanya malu, Sakura." Aku mendelik, tidak setuju dengan tuduhan Ino.

Aku baru akan membuka mulutku dan membuktikan jika apa yang dikatakannya adalah kesalahan besar.

"Tidak, Saku. Aku tidak salah. Kau hanya malu, kau hanya malu mengakui jika kau menyukainya."

Itu pernyataan, bukan pertanyaan.

Aku ... menyukai, Sasuke?

Aku menyukai pemuda yang bahkan tidak kuketahui nama keluarganya?

Mungkinkah?

"Kau harus menegaskannya, Jidat. Aku tidak ingin melihatmu menangis jika ternyata pemuda itu hanya memberimu harapan palsu."

-To be Continue-

Alloha, Minna~ jumpa lagi dengan Miyu di sini~ #grin Ne, gomen ne lama banget update-nya. Ini sepenuhnya salah Miyu kok #pundung harap maklum ya? Jadi siswa tingkat akhir gini ini ribetnya tak terkira #senyummiring

Yosh! balas review dulu~ aku jawab pertanyaan-pertanyaannya dulu ya~

Salam kenal Kak! Yosh! Salam kenal~ Apa di sini Sasuke juga suka ber-cosplay? Enggak, Sasuke di sini gak suka cosplay kok Orang ketiganya Gaara, kah? Mmh, nanti lihat aja deh, gak bisa ngomong nih, hehehe. Omong-omong saya suka pair KiritoAsuna Dua orang itu juga pair favorit aku~ Kok kamu bisa buat 1 ff berbeda versi? HEBAT! Ucapkan terima kasih pada Yukio-nee yang telah membuat keajaiban ini, hehehe. Kamu mau jadiin 3-4 chap ya? Goodies tu apa? Itu sama kayak action figure.

Yosh! Thank you for my lovely sister, Yukio Valerie dan seluruh readers yang udah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karya kami. See you in the next chapter! ^o^

Oh iya, jangan lupa baca © Yukio Valerie ya~

Special Thanks :

Sajiai Atsushi, Blank, Eagle Onyx 'Ele, fariskaaulia77, vanny-chan, Nona CherryTomato.

.

Regards,

.

.

Miyu & Yuki.

Surabaya & Malang.

11 Oktober 2014.