terima kasih kepada:
CelestyaRegalyana, Ryuko Tianyi, Akizuki Airy, Kurotori Rei, akanemori, nabmiles, malas login, Go Minami Hikari Bi, Kiroyin9, aquathyst
yang telah me-review chapter kemarin. terima kasih juga untuk semua orang yang sudah bersedia meng-klik cerita ini. I owe ya! (:
vocaloid (c) Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. No commercial profit taken.
Warning typo(s), penistaan karakter (Yuuma dan Piko di-abuse dengan sangat biadab di sini), inkonsistensi bahasa, lack of humor, etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.
"Jadi…," Piko menatap Yuuma yang terduduk lunglai di kursinya. "Luka minta dicarikan mama?"
Yuuma mengangguk lemas, masih setengah syok dengan konfesi anak angkatnya semalam.
Mereka berada di ruang kerja Yuuma—sebuah ruangan besar yang berada di lantai 22 VY Group Tower. Duapuluh menit lagi rapat dengan para investor akan dimulai. Karenanya, Piko datang untuk mengingatkan Yuuma sekaligus menyuruhnya bersiap-siap. Tapi Piko tidak diijinkan pergi begitu saja. Ia ditahan dan dipaksa mendengar curahan hati sang atasan.
Piko malas, sebenarnya. Pekerjaannya telah menggunung di meja. Kalau tidak cepat dituntaskan, bisa-bisa ia memangkas jam tidurnya malam ini. Omong-omong, sepanjang ingatan Piko, role sebagai Tempat Curhat tidak ada dalam kontrak kerja.
Karena Piko adalah pria matrealistis dan oportunis, dia paham jika ia bisa saja memberi sinyal agar Yuuma memberi beberapa ribu yen sebagai bonus saat gajian nanti. Tapi apa daya, Yuuma bukan atasan yang peka akan jeritan hati pegawainya. Berkali-kali Piko memberi sandi (mulai dari gesture yang paling halus, sampai sandi morse), Yuuma tetap tidak memberi tanda-tanda akan menaikkan upah karyawan.
Piko hanya bisa menyimpulkan dua hal; pertama, Yuuma kurang peka betulan; kedua, Yuuma cuma akting. Yang mana yang betul? Hanya Yuuma dan Tuhan yang tahu.
Jadi, selama keadaan ini berlangsung, Piko hanya bisa menahan diri sambil berdoa dalam hati; Tuhan, tegarkan diri ini.
"Kenapa tiba-tiba saja?" tanya Piko. Seingatnya, Luka tidak pernah menunjukkan keinginan untuk punya mama. Dia kelihatan senang-senang saja tinggal bersama Yuuma. Walau Piko sendiri sebetulnya bisa menganggap wajar akan permintaan anak itu. Tapi tetap saja. Meminta hal seperti itu secara tiba-tiba … rasanya aneh.
"Dua minggu lagi ada Hari Kunjungan Orangtua."
Alis Piko naik satu. Dia tahu betul acara apa itu. Piko sudah dua kali menghadiri. Terpaksa menggantikan Yuuma yang absen, tentu saja. Dan ia tidak terlalu menyukai kenangan yang terekam di hari-hari tersebut. Alasannya? Mudah. Dua kali dia datang, dua kali harga dirinya lecet.
Tahun pertama, wali kelas Luka menghampiri Piko dan mengira ia adalah mamanya Luka.
Tahun kedua, ketika acara selesai dan Piko tengah berjalan bersama Luka menuju gerbang, seorang anak perempuan (yang kemudian ia ketahui bernama Kagamine Rin) berkata polos;
"Luka-chan! Mama kamu cantik, deh. Tapi kok berjakun?"
Dan Piko tidak tahu harus merasa senang atau tersinggung.
"Jadi, aku harus bagaimana?" Pertanyaan Yuuma melempar Piko kembali ke realita.
Pemuda dengan bola mata dwi warna tersebut menaikkan bahu. "Entah," katanya. "Kamu jawabnya apa?"
"Aku jawab … aku akan melakukannya."
"Melakukan apa?"
"Mencarikan mama untuk Luka—cari pasangan lalu menikah dan hidup bahagia selamanya!"
"Ya, kalau begitu lakukan."
Yuuma bengong atas reaksi Piko yang normal-normal saja. "Lakukan? Cuma begitu?"
Kali ini giliran Piko yang mendelik. "Ya, cuma begitu. Memangnya mau apa? Kau sudah berjanji pada anakmu. Tepati. Tidak mau dia menganggapmu sebagai seorang papa yang suka ingkar janji, 'kan?"
Gelengan kepala. "Masalahnya … aku belum punya calonnya."
"Cari."
"Masalahnya lagi … yah, kautahu 'kan. Aku payah soal wanita."
Oke, Piko mulai tahu ke mana arah pembicaraan ini berjalan. "Jadi?"
"Bantu aku. Carikan pasangan untukku."
"Kalau aku menolak?"
"Gajimu kupotong 25 persen."
"Kalau begitu, jika aku bersedia membantu dan berhasil, kau akan menaikkan gajiku 25 persen?"
"Tidak akan."
Terkutuklah kau, atasan pelit!
Aku Mau Mama!
by devsky
{2/8}
Esok paginya, hari perdana pencarian istri untuk Yuuma pun resmi dimulai. Terdengar seperti sayembara memang.
Hati Yuuma sebenarnya galau. Di satu sisi, dia malas. Di sisi lain, Yuuma merasa dirinya keren banget. Biasanya cuma malas-malasan di balik layar laptop, nyuruh-nyuruh (baca: memperbudak) Piko sampai yang bersangkutan ngamuk, guling-guling ketika disuruh rapat, eh taunya sekarang mau serius cari pendamping hidup dan nikah.
Dia sudah bisa membayangkan headline yang akan terpampang di koran pagi begitu semua orang tahu tentang pernikahannya nanti. Kira-kira bunyinya nanti pasti seperti ini:
"Yukio Yuuma, CEO VY Group, Resmi Mengakhiri Masa Lajangnya."
Berita itu pasti jadi Trending Topic di Twitter 6 bulan, hot thread Kaskus 8 minggu, masuk investigasi Insert 14 hari, dan diliput majalah Femina. Yuuma juga bakal dapat undangan dari Oprah, makan malam khusus dengan Presiden, dapat Bintang Tanda Jasa, dapat bonus 300 sms, dan ... TEMAN-TEMANNYA YANG JOMBLO PASTI DENGKI LUAR BIASA!
Keren. Pake banget.
Mengusung slogan sebuah partai, lebih cepat lebih baik, maka Yuuma memutuskan tidak ingin berlama-lama menunggu.
"Dua minggu!" Yuuma mengacungkan dua jari. Posenya mengingatkan kita pada salah satu artis dangdut yang muncul di sebuah iklan mie instan ber-quote; "Duuaaaa~"
Piko mengerjap, tidak mengerti. "Apanya yang dua minggu?"
"Pokoknya, paling lama, dalam dua minggu ini kau harus berhasil menemukan pasangan yang tepat buatku. Di dua minggu ini, aku juga harus sudah menikah dan membawa Mama buat Luka!" ujar Yuuma sambil mengabaikan faktor kecil seperti; bahwa mencari istri sulit.
"Eng, begini, Yuuma. Mencari pasangan itu tidak seperti mencari sepatu yang sekali lirik langsung bisa bilang suka dan cocok. Wanita itu rumit." Piko berusaha menanggapi dengan profesional. Jujur, dia sendiri tidak punya pengalaman dengan wanita, tapi dia tahu jika mereka adalah makhluk yang sukar dimengerti. Pernah ditampar ketika kencan pertama membuat Piko sadar; bahwa para pria tidak boleh bermain-main dengan mereka.
"Piko, aku tidak mau mendengar ceramahmu."
"Aku bukan mau ceramah. Tapi, sebagai asisten, aku hanya menyarankanmu untuk lebih bijak dalam—"
"Pokoknya, kalau sampai dalam dua minggu aku tidak dapat istri, gajimu kupotong duapuluh lima persen!"
"JANGAN!" Piko langsung menjerit. Tak rela gaji bulanannya jadi korban. Menerima gaji penuh saja Piko masih harus makan mie instan tiap akhir bulan, sekarang mau didiskon. Tidak punya perasaan.
Yuuma memang makhluk hina. Main potong gaji karyawan di jaman krismon begini sama saja menzalimi hak asasi manusia!
Walau belum punya bayangan tentang bagaimana istri yang cocok untuk atasannya, Piko berpikir kalau dia masih bisa bertanya tipe wanita ideal yang Yuuma mau. Hitung-hitung sambil mencari sosok gadis yang tepat, karena waktunya benar-benar mepet. Dua minggu. Pasang poster telanjang di pinggir jalan juga belum tentu ada yang tertarik.
Siapa wanita normal yang mau diajak berkomitmen serius dalam waktu kurang dari dua minggu, omong-omong? Yang pacaran bertahun-tahun saja masih bisa kandas di tengah jalan. Apalagi yang dadakan begini.
Begitu waktu makan siang tiba, pasangan asisten dan CEO itu pergi ke sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor. Piko membawa secarik kertas yang memuat semacam pertanyaan mendetil yang harus Yuuma jawab untuk memudahkan pekerjaannya.
Di restoran, Yuuma pun mulai dijejali pertanyaan. Piko bertanya berapa kali Yuuma pernah pacaran, dan Yuuma menjawab dia belum pernah pacaran. Piko bertanya apakah Yuuma benar-benar tidak punya pengalaman pacaran, dan Yuuma menjawab dia benar-benar tidak punya pengalaman pacaran. Piko bertanya siapa yang bayar makanan, dan Yuuma menjawab bayarnya pakai uang masing-masing. Yuuma pelit.
Tadinya tanya-jawab berlangsung dengan cukup kondusif, sampai akhirnya Piko bertanya dengan nada penasaran, "Apa kaupunya kriteria khusus dalam mencari istri?"
"Aku hanya ingin istriku nanti bisa menjadi seorang figur ibu yang baik bagi Luka."
"Kau berpikir sejauh itu?" tanya Piko dengan nada penuh tidak percaya bahwa pria kurang asupan ASI di hadapannya ternyata memiliki tingkat seleksi wanita yang tinggi.
"Ya."
"Kenapa? Kenapa harus sedalam itu?"
"Karena aku ingin Luka bahagia dan tumbuh menjadi anak yang baik." Yuuma menjawab dengan ganteng.
"Semua ibu pasti menginginkan anaknya tumbuh dengan baik, Yuuma. Karena itu, mereka juga pasti akan mengajarkan yang baik-baik pada anak mereka. Tidak mungkin ada ibu yang ingin anaknya tumbuh jadi perampok bank…."
("Ya, bagus. Benar begitu, Nak! Rampok bank itu dan bawa uangnya ke Ibu! Kalau ada yang melawan, cekik lehernya pakai tali sepatu!")
"… Atau jadi anak berandalan, 'kan?"
("Kalau ada yang berani macam-macam sama kamu, hantam saja kepalanya pakai batu ini, Nak! Ibu mendukungmu dari sini!")
"... Nggak sampai begitu juga sih, Piko."
"Oh."
"..."
"…"
Keduanya terdiam. Awkward.
"Aku sebenarnya tidak terlalu yakin bisa menemukan wanita yang mau denganmu. Maksudku, memangnya ada wanita yang mau menikah denganmu?" Tangan Piko menunjuk ke Yuuma yang tengah membolak-balik daftar menu sambil menunggu pelayan datang. Perkataan ini jelas adalah sebuah penghinaan besar bagi Yuuma.
"Kau ini gegar otak atau minta kena gegar otak?" tanya Yuuma. Dia kemudian menunjuk ujung kepalanya hingga bagian pinggang; menyuruh Piko memperhatikan fisiknya dari atas sampai bawah. "Memangnya ada wanita yang akan menolak dinikahi pria tampan seperti aku?"
Meski Piko tidak menyukainya, tapi ia harus mengakui jika atasannya itu adalah pria yang gagah, sekaligus wangi. Hobinya dulu bermain basket punya andil yang besar dalam membentuk postur tubuh tegap dan otot perutnya yang seperti bentuk martabak. Orang akan berpikiran dua kali sebelum mengundang masalah dengannya dan para wanita akan terlihat seperti habis minum baygon kemudian teler dalam pelukan Yuuma.
"Ya…. Ya…. Aku tahu kaupunya penampilan menarik," ujar Piko sembari melayangkan mata ke atas, "tapi kenapa kutukan jomblo masih belum mau lepas darimu?"
"Aku ini single. Yang kena kutukan jomblo hina itu Gumiya."
Yuuma adalah anak terkutuk yang selalu meledek Makoto Gumiya, rival-nya waktu di SMA dan kuliah dulu sekaligus senior Piko, dengan sebutan jomblo hina. Padahal dirinya sendiri tak jauh beda dengan para fakir asmara yang banyak bergelimpangan di jalan.
("Aaaaatcho!" Di sudut kota yang lain, Gumiya tiba-tiba saja bersin tanpa sebab.)
"Bukannya jomblo dengan single itu sama? Cuma beda bahasa, 'kan?"
"Sok pinter!" sembur Yuuma. Dia mulai merasa kesal karena Piko menyama-nyamakan dirinya dengan para fakir asmara berjiwa hampa dan kelu. "Jomblo sama single itu beda."
"... Bedanya apa?"
"Beda kasta!"
"…" Piko baru tahu jika jomblo ternyata ada kelas sosialnya juga.
Yuuma kemudian melanjutkan penjelasan, "Kalau orang single menikah, setelah cerai nanti statusnya jadi Duren—Duda Keren. Kalau mereka yang jomblo, statusnya jadi Dugem."
"Dugem itu apa?"
"Duda Gembel."
Yukio Yuuma, 27 tahun, minta dimutilasi.
"Apa kau pernah menyukai seseorang, Yuuma?" Piko kembali bertanya. Kali ini penuh rasa ingin tahu.
"Pernah."
"Oh, ya?" Alis Piko naik satu. Tertarik. "Siapa?"
"Gumi." Cinta pertamaku.
Piko tampak tak terkejut dengan jawaban Yuuma. Sejak dulu, dia memang selalu tahu Yuuma punya perasaan istimewa terhadap Akasawa Megumi, atau biasa dipanggil Gumi—mantan kapten tim voli waktu mereka masih di SMA dulu. "Sayang Gumi sudah menikah dengan Gakupo, ya. Oh, kudengar mereka sudah punya satu anak."
Yuuma tersenyum pahit. Matanya penuh dengan kenangan. Kemudian dia tenggelam dalam ingatan di suatu hari di kala dia masih mengenakan seragam SMA dan pertama kali bertemu dengan sosok berambut hijau tersebut. Itu adalah saat-saat yang tidak akan Yuuma hapus dari memori sampai akhir hayat. Kemudian memori terus berganti sampai pada musim semi di upacara kelulusan. Di saat-saat itulah hati dan setiap serat tubuh Yuuma menyatakan cinta pada Gumi.
Dramatis.
Kilasan memori di kepala Yuuma masih terus berkelebat. Dia hanyut di dalamnya.
Seorang pelayan datang menanyakan pesanan. Piko kini sibuk membolak-balik daftar menu.
"Kau mau pesan apa, Yuuma?"
"Gumi pakai kecap."
"Hah?"
"Oke, oke. Maksudku…. Gumi saus tiram."
"... Dasar sarap."
Selesai menghabiskan makan siang, mereka tidak langsung kembali ke kantor melainkan duduk-duduk dulu di restoran itu sebentar. Yuuma masih asyik menghabiskan minuman pesanannya, sedangkan Piko sibuk membuat konklusi dari sederet pertanyaan yang telah ia tanyakan pada pria berambut merah muda itu.
Piko berkata, "Dari pembicaraan selama kurang lebih setengah jam barusan, kita tahu jika pengetahuanmu dalam berhubungan dengan wanita adalah nol besar. Agak susah buatku untuk mencari wanita yang bersedia menjadi pendamping pria tidak berpengalaman."
"Jadi? Kau mau bilang aku tidak pantas punya istri?"
Pemuda berambut putih-mutiara itu terdiam sejenak. Mau menjawab jujur, tapi segan. Dia tidak mau kejujurannya malah menyebabkan gajinya dipotong. "Dengar, bagaimana kalau coba mendekati wanita yang sudah kaukenal saja? Kurasa itu akan lebih mudah."
"Seperti?"
"Aria, misalnya?"
Yuuma terdiam.
Aria adalah teman Yuuma waktu di panti asuhan dulu. Dia adalah gadis manis yang baik, rajin menabung dan pandai berhitung. Rambutnya pirang-platinum dan menjuntai halus sampai ke punggung. Piko bisa mengenal Aria karena dulu dia juga pernah tinggal di Utau Bersahaja.
Waktu kecil, Yuuma sering bermain dengan Aria. Main masak-masakan, kejar-kejaran, jambak-jambakan, sampai tendang-tendangan. Bisa dibilang, Yuuma lumayan dekat dengannya. Saking akrabnya mereka, para pengurus panti sampai yakin bila kedua anak itu sudah membuat janji akan menikah setelah besar nanti. Walau sebenarnya, adegan ala manga shoujo itu tidak pernah terjadi. Buktinya, sekarang Yuuma masih jomblo.
"Kenapa Aria?" Yuuma bertanya dengan alis saling bertaut.
"Karena kau lumayan dekat dengannya?" Piko mengedikkan bahu. "Lagipula, Aria adalah salah satu orang yang dikenal oleh Luka, 'kan?"
Benar. Aria kini menjadi salah satu pengurus Utau Bersahaja. Sudah sepuluh tahun terakhir, kalau tidak salah. Jadi, ketika Luka dibawa ke panti, Aria adalah salah satu orang pertama yang dekat dengan anak tersebut.
"Lagi," lanjut Piko, "aku pernah membaca sebuah artikel yang bilang jika seorang anak akan lebih baik memiliki orangtua baru dari kalangan orang-orang yang sudah ia kenal. Lebih aman untuk kondisi psikologisnya, begitu."
"Oh ... jadi begitu, ya?"
"Iya."
Yuuma mengangguk. Setelah beberapa menit berpikir, pria berambut merah muda itu akhirnya memutuskan untuk percaya dengan kata-kata Piko. "Lalu ... sekarang bagusnya bagaimana?"
"Mungkin ... besok kita bisa ke Utau Bersahaja dan menemui Aria?"
Kemudian Yuuma buru-buru menyuruh Piko mengosongkan jadwalnya besok. Mereka positif akan pergi ke Utau Bersahaja.
[ to be continued ]
maaf banget humor-nya garing. saya nggak fokus ke sana emang, melainkan ke plotnya. lagi, saya emang nggak pinter ngelawak. jadi, yah, gini deh... "orzorz
Preview next chapter:
Mereka berkunjung ke Utau Bersahaja.
Yuuma dan Aria mulai menemukan koneksi, sementara Piko terjebak dalam masalahnya sendiri.
"Uh, aku mau pinjam ini." Dia mengacungkan sebotol lotion. "Buat cuci tangan."
Piko bersumpah setelah pulang akan harakiri pakai tusuk sate.
kritik dan saran yang membangun amat sangat dinanti!
sign,
devsky
