F L O W
Naruto © Masashi Kishimoto.
Warning: Membaca fanfic ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti mulut berbusa dan kepala pening luar biasa. Anda dipersilahkan mundur untuk menghindari tindak anarkis yang mungkin akan Anda lakukan di kotak review (?).
-oOo-
Collaboration with Yukio Valerie (SASUKE P.O.V).
-oOo-
Chapter 3 : O for Our.
-oOo-
Opening Song :
Lyn – Two as One.
-oOo-
.
.
.
What kind of fate is it to somehow meet you like this?
It's strange that the more I see you, the faster my heart beats.
Is this love?
I've grown so fond of you.
.
.
.
Sasuke.
Sasuke.
Sasuke.
Siapa sebenarnya pemuda ini? Kenapa dia mampu menembus benteng kasat mata yang kubangun dan mewarnai hariku dengan semudah itu?
Siapa dia? Apa artinya untukku?
Dia tak pernah membeberkan kehidupannya padaku, begitu pula diriku. Dia tak pernah menanggapiku dengan ribuan kata saat aku dengan hebohnya bercerita tentang kehidupanku.
Tapi kenapa?
Kenapa dia bisa meluluhkan hatiku semudah ini?
Apa karena dia tampan?
Jika iya, kurang tampan apa seorang Sabaku Gaara? Kurang menarik apa seorang Akasuna Sasori?
Atau mungkin ... karena dia kaya? Anak konglomerat? Milyarder?
Hell no! Aku bahkan tak tahu apa marga pemuda itu, bagaimana bisa aku menyimpulkan bahwa pemuda berambut mencuat itu adalah orang kaya?
Lalu, kenapa?
Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang yang tidak kuketahui jelas asal-usulnya?
Karena dia memiliki sepasang telinga yang bersedia mendengarkan semua ocehanmu. Karena dia memiliki kepedulian padamu walau tak banyak kata terucap dari bibirnya, jawab sisi lain diriku.
Ah ya, mungkin itu. Mungkin aku terlarut dalam suasana nyaman yang diciptakan oleh Sasuke. Dia tak pernah banyak bicara, dia hanya menyeruput kopinya dalam diam dan terkadang memberikan satu-dua tanggapan saat aku bercerita padanya.
Aku menghela napas dan kembali memfokuskan diri dan batinku pada buku kedokteran setebal dosa yang kini berada dalam genggamanku.
Buk.
Buku tebal bersampul biru tua itu berdebum pelan ketika aku memutuskan untuk menutupnya.
Sebentar lagi koas akan tiba, tidak seharusnya aku memprioritaskan perasaan tidak pentingku ini di saat jalan menuju cita-citaku sedang menunggu untuk kutapaki.
Tapi jujur, sebersit rasa takut kembali menodai hatiku. Aku takut tak bisa melalui koasku dengan baik.
Bagaimana jika aku tidak sengaja merusak citra kampus karena kerjaku yang tak becus? Bagaimana jika aku membuat pasienku meninggal karena keteledoranku?
"Sasukeee ...," rengekku sambil menggoyangkan lengan kirinya yang terlipat di atas meja.
Aku tak tahu kenapa bibirku bergerak untuk memanggilnya. Aku tak tahu sejak kapan aku bisa merengek selebay itu pada seorang laki-laki.
Dan aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasa jika aku butuh kata-kata penyemangat dari Sasuke saat ini.
"Hn?" gumamnya pelan. Aku tahu, meski terkesan seperti gumaman tak peduli, itu adalah sebuah gumaman penuh tanya.
Aku menarik tanganku, melipatnya di atas meja dan menjadikannya sebagai bantalan dagu. "Kau tahu kan, sebentar lagi aku akan koas?" ujarku tanpa semangat.
Sasuke melirikku sejenak sebelum tangannya beranjak mengambil kopinya dari tatakan. "Lalu?"
"Apa kau berpikir aku bisa melakukannya? Apa aku memiliki bakat untuk menjadi seorang dokter?" Aku diam, terlebih saat kulihat Sasuke mengurungkan niat untuk menyesap kopinya —padahal cangkir itu sudah tinggal beberapa inchi lagi dari bibirnya.
Ia meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja, lalu menatapku dengan tegas —membuatku menunduk sambil memainkan jari telunjukku membentuk lingkaran imajiner di atas meja.
"Kupikir kau sudah paham." Celetukan Sasuke berhasil membuatku mengangkat kepalaku hingga kedua iris kami bertumbukan.
"Keraguan kita adalah pengkhianat dan—"
"—dan membuat kita kehilangan kebaikan yang mungkin kita menangkan dengan membuatnya takut mencoba." Aku melanjutkan ucapan Sasuke dengan sebuah senyuman yang tersemat di wajahku.
"Sasuke! Aku tak menduga kau juga membaca novel Hamlet!" pekikku antusias.
Rasa ragu yang semula menjalar di dalam dadaku kini telah menghilang saat Sasuke melafalkan penggalan kata dari novel favoritku.
Aku melebarkan senyumku, yang tak kusangka akan membuahkan sebuah senyuman tipis dari pemuda di hadapanku.
"Hanya iseng saja. Jadi …,"
"Ya! Kenapa aku harus ragu dan takut untuk mencoba? Aku pasti bisa melewatinya dengan baik!" ucapku penuh semangat. Sasuke mengangguk singkat.
"Di luar itu, kau ini umur berapa sih?" Aku menangkap sebuah nada geli dari ucapan Sasuke barusan.
Aku memiringkan kepalanya sedikit ke arah kiri, benar-benar tak mengerti mengapa tiba-tiba Sasuke menanyakan umurku. "20. Kenapa?" balasku polos.
"Kau makan seperti anak kecil saja. Makan kue sampai belepotan krim seperti ini."
Dan aku terkejut saat ibu jari Sasuke sudah menyapu sudut bibirku dengan lembut. Momen dimana iris hijauku bertumbukan dengan bola matanya, serta merta membuatnya menarik kembali tangannya dan meraih cangkir kopi miliknya.
"Ma-makasih untuk mengingatkanku agar tidak takut menjalaninya," ucapku lirih saat kulihat Sasuke telah meletakkan kembali kopinya di atas tatakan.
Aku kembali menundukkan wajahku dalam-dalam —menyembunyikan rona merah yang menggelayut sampai ke telingaku di balik poni panjangku.
Jangan tanyakan apakah leherku tidak pegal karena telah menunduk berkali-kali.
Salahkan Sasuke, dia yang membuat rona merah keranjingan untuk mendatangiku.
"Hn," balasnya singkat sambil mengalihkan pandangannya ke jendela di samping kami.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
From : Gaara.
Jadi menemaniku mengambil kostum Ayato hari ini, kan?
Deg.
Astaga~ aku lupa telah berjanji menemani Gaara mengambil kostum cosplay-nya hari iniii, batinku menjerit panik.
To : Gaara.
Araaa~ gomen ne~ aku lupaaa~
Tapi tenang saja aku akan tetap menepati janjiku. Bisa menjemputku di Aruta Cafè?
Send.
Aku menghela napas, merasa bersalah telah melupakan janji yang kubuat dua minggu yang lalu untuk menemani Gaara mengambil kostum pesanannya. Lelaki berambut merah itu memang telah berencana akan memerankan Ayato Sakamaki dari anime Diabolik Lovers di event mendatang —dan dua minggu yang lalu dia telah memintaku untuk menemaninya mengambil kostum itu ke costume-maker langganannya.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
From : Gaara.
Aku sudah ada di halte dekat cafè. Cepatlah keluar.
Ke-kenapa cepat sekali? tanyaku dalam hati.
Tak mengacuhkan keanehan timing kedatangan Gaara, aku bergegas memasukkan ponsel, novel, dan buku kedokteranku ke dalam tas. Aku sudah merasa bersalah karena sudah melupakan janjiku, dan aku tidak mau menambah rasa bersalahku dengan membiarkan Gaara menunggu terlalu lama.
Bruk.
Tas selempang kesayanganku kini telah kuletakkan di atas meja. Aku mendongak dan menatap Sasuke yang juga menatapku dengan sebelah alis terangkat.
"Mau pulang sekarang?" tanyanya.
Aku lekas mengangguk. "Ya. Aku ada janji dengan seseorang. Tak apakah jika aku tinggal?" ujarku tak enak.
"Tentu saja. kau tidak berpikir aku ini bayi yang perlu ditemani setiap saat, kan?" selorohnya dengan sebelah alis terangkat tinggi-tinggi.
"Hahaha ... mirip sih," gurauku disertai juluran lidah dan sebuah tawa.
"Sakura."
"Ya?" Aku menatap Sasuke yang beberapa saat lalu memanggilku.
Sebuah senyum tipis diberikannya padaku. "Ganbatte!"
Aku terdiam sejenak lalu tersenyum, "Un. Arigatou! Kalau begitu aku duluan, Sasu. Daaahhh~" Aku beranjak meninggalkan meja ketika kulihat Sasuke telah menganggukkan kepalanya.
Baru saja aku membuka pintu café tetapi aku sudah bisa melihat kehadiran Gaara di bawah pohon sakura di samping halte seberang jalan.
Aku tersenyum dan segera menghampirinya.
Tap.
"Sudah menunggu lama, Gaara?" sapaku ringan.
Ia tersenyum singkat lalu menepuk kepalaku pelan. "Tidak. Cepat naik."
Aku tersenyum melihat tingkah pemuda berambut merah yang selalu to the point ini. Tanpa ba-bi-bu aku segera beranjak menduduki boncengan motor Gaara.
Kepala Gaara berputar —menatapku dengan seringai yang tak kumengerti. "Lingkarkan lenganmu di pinggangku jika kau tak ingin terlempar."
Aku melotot —paham dengan arti ucapan Gaara.
Ngebut.
Tanpa perlu disuruh dua kali, aku segera melingkarkan lenganku di pinggang Gaara saat pemuda itu telah menyalakan mesin motor dan memasukkan kopling—takut jika apa yang dikatakan Gaara benar-benar berubah menjadi kenyataan.
Terlempar dari motor adalah keinginan terakhirku.
~F L O W~
"Ayolah Saku~ jangan ngambek begitu," pinta Gaara geli.
Aku merengut, mencibirnya yang kini tengah mengejek diriku yang ketakutan beberapa saat lalu.
"Haaah~ baiklah~ aku minta maaf, oke? Aku tidak akan ngebut lagi kali ini," Gaara berucap sungguh-sungguh.
Aku berpaling, menatapnya yang kini menatapku memelas. "Kau harus membawaku ke toko buku jika benar-benar ingin mendapatkan maafku," kataku lengkap dengan seringai di bibirku.
Gaara menghela napas dengan senyuman miring di bibirnya. "Toko buku? Baiklah. Beli semua yang kau mau, aku yang bayar."
Aku terkejut. Sungguh bukan maksudku meminta Gaara membayar seluruh bukuku, aku hanya memintanya untuk mengantarku tanpa harus membayar seluruh bukuku.
"Araaa~ tidak-tidak! Aku hanya memintamu mengantarkanku. Bukan berarti kau harus membayar seluruh bukuku!" seruku panik.
Bukannya apa, tapi toko buku adalah 'rumah'ku, dan buku-buku adalah 'sahabat'ku. Itu sebab mengapa aku tak pernah mau datang ke toko buku jika tak memiliki uang —aku memang suka kalap soal membeli buku, apalagi novel. Tapi bukan berarti aku akan membiarkan Gaara membayar seluruh bukuku!
Tidak! Aku tidak mau dianggap gadis matre! Aku bukan gadis seperti itu.
Seolah tak mau memahami kegusaranku, Gaara mengendikkan bahunya cuek. Kakinya dengan cepat melangkah menuju motornya dengan kedua tangan yang menggenggam erat dua buah paper bag berisi perlengkapan cosplay-nya.
"Gaara! Gaara! Kau tidak perlu membayar semua bukuku! Oi, Gaara!" seruku sambil berlari mengejarnya.
~F L O W~
"Do Rio Come Amor, Do Rio Come Amor ..." Aku bergumam sambil menyusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi di sekitarku.
Manik emerald-ku berbinar cerah menatap barisan buku yang memanjakan mataku.
Tap.
Langkahku terhenti saat korneaku merefleksikan novel yang sedang kucari.
Emerald-ku berbinar sejenak, namun bibirku mengerucut kemudian.
Novel incaranku ada di rak keempat ; rak paling atas.
Aku menunduk, menatap sepatu sneakers yang kini kukenakan. Dengan tinggiku ini aku hanya bisa mencapai rak kedua, jika merentangkan tangan pun aku hanya bisa meraih rak ketiga —itu pun aku harus berjinjit penuh perjuangan.
Aku menoleh ke kanan dan kiri —mencari tangga atau apa pun yang bisa kunaiki.
Senyumku melebar ketika bola mataku melihat adanya tangga yang berbentuk kursi berada di sayap kiri ruangan. Aku beranjak mendekati kursi itu dan segera menyeretnya menuju rak tujuanku.
"Ini tak kan pecah, kan?" gumamku sambil menekan-nekan permukaan kursi yang terlihat sedikit rapuh.
Dengan perlahan aku pun mulai menaiki setiap anak tangga yang ada di kursi itu. Aku begitu takut jika ternyata tangga ini tak mampu menahan berat tubuhku —itulah yang membuatku berniat untuk bergegas mengambil novel incaranku dan segera turun setelahnya.
Set.
Krek.
Bola mataku membulat kaget saat kudengar bunyi patahan dari kursi yang kunaiki —tepat ketika aku baru saja mengambil novel incaranku.
Khawatir kursi ini akan pecah, aku bergegas menuruni tangga dengan langkah terburu. Hingga—
"Sakura! Watch out!"
"E-eh? Kyaaa~"
Gubrak.
"Aduh ... sakittt ...," rintihku sambil mengusap pelan pantatku yang baru saja mencium lantai.
Aku meringis malu sekaligus sakit ketika Gaara bersimpuh di hadapanku dengan senyum tertahan.
"Jangan cuma tertawa. Gendong aku!" perintahku main-main. Bak seorang gadis kecil, aku menjulurkan kedua tanganku ke arahnya yang masih menatapku aneh dan tak bergerak sedikit pun untuk membantuku.
Aku mengerucutkan bibirku, "Ya sudah kalau tidak mau. Aku bisa bangun send—kyaaa~" Refleks, aku segera mengalungkan kedua lenganku di leher Gaara saat ia dengan tiba-tiba langsung mengangkatku ke dalam gendongannya.
"Ga-gaara, tu-turunkan aku sekarang!" pintaku tergagap. Malu rasanya ketika aku sadar jika kini aku dan Gaara telah menjadi pusat perhatian —terlebih saat aku sadar jika aku dan Gaara sedang berpose bak seorang pengantin baru.
"Hn? Bukannya tadi kau menyuruhku untuk menggendongmu?" Mengabaikan protesku, Gaara segera melangkahkan kaki-kakinya menuju barisan kursi yang disediakan oleh toko buku ini di bagian belakang ruangan.
"Uuhhh! Kau membuatku malu, Gaara!" cibirku dengan bibir mengerucut. Gaara balas berseringai.
"Akrobatik yang sangat bagus, Cantik," canda Gaara sambil mengacak lembut rambutku.
Bibirku semakin mengerucut. Dengan kesal aku menyingkirkan tangan Gaara yang masih betah merusak tatanan rambutku.
Melihatku semakin bersungut-sunggut, Gaara langsung mendudukkan dirinya di hadapanku. Pemuda itu menatapku intens, yang kubalas dengan pandangan galak.
"Apa kau lihat-lihat?" sahutku kasar. Pemuda itu kembali memasang seringainya andalannya.
"Jangan cemberut terus, kau sudah seperti ikan koi, Saku." dengus Gaara geli.
Aku menggembungkan pipiku yang kemerahan, kemudian melengos menatap deretan rak buku dengan cara yang —kuakui— berlebihan.
"Sakura, ada ... yang ingin kubicarakan." Aku menoleh ketika kudengar suara Gaara mendadak berubah serius.
Gembungan pipi dan wajah kemerahan itu telah sepenuhnya pergi dari wajahku.
Aku menatap iris jade yang balas menatapku tegas. "Ada apa, Gaara?"
"Aku ... aku menyukaimu."
Deg.
"A-ah?!"
"Jadilah milikku." Gaara menggenggam kedua tanganku erat.
Bola mataku bergerak liar, bingung.
Gaara serius kali ini —terlihat dari pancaran irisnya yang begitu tajam menatapku. Tentu aku tak bisa menjawabnya dengan candaan —itu akan melukai harga dirinya.
Apalagi yang kau pikirkan, Saku? Gaara pemuda yang baik, dia orang yang sempurna. Terima saja dia, Batinku berucap tiba-tiba.
Tapi ... bagaimana dengan Sasuke?
Dia bukan siapa-siapamu Sakura. Belum tentu dia juga menyukaimu! Untuk apa kau memikirkan orang yang tidak mencintaimu? ucap sisi lain diriku.
Deg.
Bukan siapa-siapanya.
Benar. Aku bukan siapa-siapa untuknya.
"Gaara ... Aku ...,"
~F L O W~
Tiga bulan telah berlalu sejak saat itu. Masa koas yang berlangsung selama tiga bulan ini sukses membuat duniaku menyempit di sekitar rumah dan rumah sakit saja. Praktis, aku tak sempat ber-cosplay dan mengunjungi Aruta Cafè selama tiga bulan terakhir ini.
Jemariku bergerak —merapatkan mantel merah yang kini tengah kukenakan untuk menghalau angin musim dingin yang menyusup membekukan tubuhku.
Aku mendongak, menatap butiran salju yang melayang dengan tenang. Perlahan, aku menutup mataku dengan wajah yang masih setia mendongak ke atas —meresapi desau angin dan nuansa yang begitu damai.
Sensasi dingin perlahan merayap, serta merta membuat pipiku memerah saat butiran halus itu mendarat di wajahku.
Iris emerald-ku kembali terbuka —bersamaan dengan seutas senyum yang meretas di bibirku.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
Tersentak, aku buru-buru mengeluarkan ponselku dari dalam tas putihku.
From : Gaara.
Kau di mana? Bukankah hari ini kau ada janji legalisasi laporan dengan Tsunade-sensei?
Tsunade-sensei. Aku hampir lupa dengannya.
Ck, shishou pasti akan marah jika aku terlambat datang untuk legalisasi, gerutuku dalam hati.
Tangan kiriku terangkat, menatap jam tangan putih beraksen bunga sakura kado dari Gaara di hari pertama koas.
Jam 10 pagi.
Masih ada waktu dua jam lagi.
Masih sempat jika aku berkunjung sebentar, batinku.
To : Gaara.
Aku ke Aruta Cafè sebentar. Setelah itu aku langsung ke kampus. Tenang saja, aku tidak akan telat ;)
Send.
Rindu.
Sebuah perasaan yang sangat jarang kurasakan.
Namun kini aku tengah merasakan perasaan asing itu.
Aku rindu ...
Rindu pada keunikan Aruta Cafè dan ... Sasuke ...
Kakiku yang terbalut celana jeans coklat panjang dan sebuah boots coklat sebetis bergerak cepat memangkas jarakku dengan gedung Aruta Cafè yang sebenarnya sudah terlihat jelas.
Tap tap tap.
Kaki berlapis boots coklatku bergerak cepat —meninggalkan jejak kasar pada tumpukan salju yang terhampar di atas trotoar.
Tap.
Langkahku berhenti, mataku berbinar, dan bibirku mengeluarkan uap putih saat aku menghembuskan napasku dengan begitu lega.
Itu dia.
"SASUKE!" teriakku pada lelaki yang kini tengah berdiri tegap dengan mata tertutup menghadap pohon sakura yang berdiri kokoh di depannya.
Kakiku kembali bergerak dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya. Helai merah jambu panjangku yang sengaja kuikat ponytail bergerak liar mengikuti langkahku yang terburu.
"SASUKEEE!" teriakku sekali lagi saat lelaki bersurai gagak itu tak kunjung memberi reaksi.
"Apa dia mendadak tuli tiga bulan ini?" gerutuku sambil mempercepat langkahku.
Tap.
"OIII SASUKE!" Teriakan nyaring dan tepukan yang kuberikan di bahu kanannya akhirnya sukses membuat Sasuke membuka matanya —dan iris onyx itu kembali menampakkan eksistensinya.
Alisku refleks menukik turun dan bibirku mengerucut kesal saat pemuda di hadapanku ini malah menoleh dengan wajah tanpa dosa. Mempertegas kekesalanku, aku pun meletakkan kedua tanganku di pinggangku —berkacak pinggang.
"Sakura?"
"Tentu saja! Kau pikir hantu musim dingin?!" gerutuku sembari memukul bahu kanannya main-main.
"Hn. Awalnya sih iya," jawabnya singkat dan jujur.
Aku menggembungkan pipiku. "Mou, Sasuke masih aja nyebelin!" Aku menghentak-hentakkan boots-ku dengan kesal.
"Hn. Jadi ada apa?" tanyanya santai. Raut wajah dan sikap tenang inilah yang membuatku merindukannya.
Rindu ...
Deg deg deg.
"Begitukah balasanmu padaku setelah tiga bulan tidak bertemu? Dingin sekali," dengusku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Uap putih mengepul di depan wajahku saat aku mendengus.
"Hn." Pemuda itu mengalihkan pandangannya lurus ke depan —tepat pada sebuah taman di seberang jalan.
Alisku menukik, tak tahu apa yang sedang diperhatikan Sasuke di taman itu. "Hahhh~ Terserahlah! Lagian kamu ngapain sih melamun sendirian di depan café? Merindukan pacarmu, ya?" candaku sambil menyenggol bahunya pelan.
"Mungkin," jawabnya tanpa menoleh.
Mungkin?
Jadi ... Sasuke sudah punya kekasih?
Nyut.
Ah, tentu saja Sakura! Sasuke itu pemuda yang tampan dan pintar! Tidak mungkin dia tidak punya pacar!
Nyut.
Segurat rasa sakit mendadak menggoreskan taringnya —melukai hatiku yang tak sempat memberi perlawanan.
Aku menggigit bibirku keras-keras —berusaha mengembalikan raut wajahku sebelum Sasuke menyadarinya.
"Eh?" gumamku sambil menelengkan kepalaku —seolah hal yang diucapkannya barusan tidak memberi dampak apapun.
Cukup.
Cukup wajah inilah yang harus diketahuinya. Sasuke tak perlu tahu di balik wajah tenangku ini aku tengah memunguti pecahan hatiku yang remuk.
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya tanpa menoleh.
Aku menelan ludah ; membasahi kerongkonganku yang terasa kering. "O-Oh, aku baru saja kembali dari rumah sakit dan sekarang aku mau ke kampus. Karena halte terdekat ada di depan café ini, jadinya aku ke sini deh," jelasku seringan yang kubisa.
"Sudah tidak takut lagi?" Sasuke menoleh. Iris jelaganya kembali menusuk lensa lazuardiku.
"Un. Ini semua berkat kata-kata Sasuke dulu! Aku jadi lebih percaya diri dan semangat." Aku tersenyum —terus berusaha menjadi diriku yang ceria dan penuh semangat.
"Syukurlah," katanya tulus. Dan tiba-tiba saja telapak tangannya telah berada di puncak kepalaku yang sejajar dengan bahunya.
"Arigatou ne." Aku tersentak, tapi aku tak sanggup lagi menahan binar mata dan rona merah yang menggerogoti pipiku.
"Hn. Jadi hadiah apa yang aku dapatkan?"
"Eh?" Aku mengerjap bingung.
"Bukankah seharusnya kau memberikan hadiah padaku?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Umm … etto … aku bisa saja mentraktir Sasuke segelas kopi. Tapi sekarang aku harus segera ke kampus," ucapku penuh sesal. Terlebih—
"Jadi tidak ada hadiah untukku, hn?" —saat kulihat ada sorot penuh harap di kedua iris obsidian milik Sasuke.
"Uhhh~ mungkin aku bisa memberikan hadiah awal buat Sasuke." Aku menundukkan wajahku. Tanganku memainkan tali mantel yang menjuntai di dadaku saat sebersit ide gila mendatangi otakku.
Sebuah ide yang sangat sangat gila.
"Jadi … apa hadiah awal yang akan kau berikan pada—"
CUUPP~
Ucapan Sasuke terhenti begitu saja saat aku tiba-tiba berjinjit dan mengecup pipinya.
Ya, itulah ide gilaku. Ide yang benar-benar gila, kan?
Tak ingin Sasuke melihat wajahku yang semerah udang rebus, aku segera berlari menuju bus yang baru saja berhenti di halte yang berada tepat di depan Aruta Café.
Baka, baka, baka! Sakura no baka! Apa yang baru saja kau lakukan, Gadis Bodoh?! Kenapa kau malah mencium Sasuke di tepi jalan yang ramai seperti ini? Bodoh, bodoh, bodoh! rutukku dalam hati.
Wajahku semakin memerah ketika telingaku tidak sengaja mendengar percakapan orang-orang yang ternyata menonton aksi bodohku tadi.
Dengan langkah tergesa dan wajah merah yang tenggelam di balik kerah mantel aku segera menapaki lantai bus ketika— "Sakura!"
Sasuke memanggilku dengan suara yang lantang —berlomba dengan deru suara mesin bus.
Aku menoleh, lengkap dengan rona merah yang masih tampak jelas menghiasi wajahku.
Sasuke menatapku lurus-lurus. "Bisakah kau datang ke sini hari Sabtu ini? Kalau kau tidak ada acara, tentunya."
Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat apakah aku punya jadwal hari Sabtu esok. "Mmm ... Tentu saja, Sasuke," ucapku sambil tersenyum kecil.
"Baiklah. Aku tunggu di roof top pukul lima sore."
"Un." Aku mengangguk perlahan dan segera masuk ke dalam bus dengan wajah menghangat.
Refleks, tanganku terangkat untuk menyentuh bibirku yang beberapa saat lalu menempel di pipi tirus lelaki berpostur tegap itu.
"Masa muda memang mengasyikkan ya, Nona?" Sopir bus itu tertawa renyah, sama sekali tak ada cemooh dalam nada bicaranya —membuatku tertawa sumbang dengan wajah merah padam, terlebih saat kulihat seluruh penumpang bus memasang seringai penuh makna.
Blush.
~F L O W~
"INO! INO!" Aku berteriak sambil berlari ketika retinaku menangkap sosok sahabat pirangku yang sedang berjalan sambil bercengkrama dengan pangerannya.
Ino menoleh dan menghentikan langkahnya, tepat ketika aku hampir menabraknya dari belakang. "Wooo~ slow princess Haruno. Slow~" Ino mengusap-usap kedua pundakku —mencoba merilekskanku yang sedang terengah-engah setelah berlarian mencari si pirang ini di seluruh penjuru kampus.
"Haah ... haah ... a-ada ... yang mau ... haah ... kubicakan denganmu, Pig," ucapku dengan napas tersenggal.
Ino mengangkat sebelah alisnya, "Apa? Ada gajah pakai bikini?" candanya membuatku cemberut.
"Bukan itu!" jawabku sambil menghentakkan sebelah kakiku ke atas tumpukan salju yang kupijak.
"Nah? Lalu?"
"Ini ... ini pembicaraan pribadi, Pig. Pembicaraan perempuan." Aku menekankan dua kalimat terakhir sambil melirik Sai yang dari tadi mengawasi kami lengkap dengan fake smile trademark-nya.
Ino mengangguk paham, "Sai-kun?" panggilnya seraya menatap kekasihnya yang masih setia menutup bibirnya.
Tak selang beberapa lama, akhirnya lelaki berambut eboni itu mengangguk, "Aku tahu, Cantik." Sai kembali melengkungkan senyum di bibirnya hingga membuat matanya menyipit.
"Mata ashita, Ino, Sakura." Sai berbalik badan sambil melambaikan tangan kanannya pada kami.
"Nah, Saku. Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan sampai-sampai kau harus mengusir pacarku, hm?" tanya Ino begitu Sai telah hilang di balik dinding koridor.
Aku meringis kemudian menarik Ino menuju kursi yang terletak di taman kampus. "Besok sore Sasuke—" Dan dengan penuh semangat aku menceritakan kejadian yang terjadi di Aruta Cafè saat itu pada Ino —tentu saja tidak dengan adegan cium pipi itu.
Damn, itu sangat memalukan!
"Lalu ... apa maksudmu menceritakan ini padaku? Sekadar pamer ... atau … apa?" kata Ino sambil bersedekap dengan mata memincing —kaku, tetapi sekadar candaan. Aku tahu itu dengan pasti.
Meringis, aku menggaruk pipi kananku yang tak gatal, sebelah tanganku yang berada di dalam saku mantel tergenggam dengan erat. "Sebenarnya ..."
"Sebenarnya?" Ino mengangkat sebelah alisnya. Tubuh sintalnya bersandar pada sandaran kursi dengan nyaman.
"Aku tidak tahu harus mengenakan apa," lirihku. Aku menunduk, dan Ino menahan tawa.
Aku mendelik, dan Ino menghentikan tawanya. "Oke, oke. Aku berhenti tertawa. Dan jangan mendelik lagi —matamu hampir lepas," selorohnya masih dengan tawa geli yang tersisa.
"Ayolah, Ino~ aku benar-benar sedang butuh bantuan di siniii," gerutuku setengah kesal.
Ino membekap mulutnya dengan kedua tangan yang terbalut sarung tangan ungu cerah. "Oke, Besok, datanglah ke rumahku," kata Ino setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Lalu pakaianku? Aku belum punya pakaian, Piggyyy!" protesku.
Ino mengedipkan mata kirinya, "Percaya padaku."
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan gadis pirang sinting sahabatku ini. Tapi aku percaya dia akan memberikanku yang terbaik.
~F L O W~
"Sebenarnya aku akan memberikan ini untukmu sebagai kado ulang tahunmu tahun depan." Aku mengalihkan pandanganku yang semula sibuk menjelajahi tiap jengkal kamar Ino yang begitu memesona saat Ino tiba-tiba berkata sambil membuka kloset pakaiannya yang begitu besar dan lebih tinggi darinya.
Entah apa yang dilakukan gadis pirang itu, namun beberapa saat kemudian ia sudah berbalik dengan sebuah kotak di tangannya. Berbentuk kubus, dengan pita pink di atasnya.
Dahiku mengerut bingung.
"Tapi karena sepertinya sekarang kau lebih membutuhkannya ...," Ino mendudukkan dirinya di sebelahku sambil menyodorkan kotak pink misterius itu.
"aku akan memberikannya sekarang." Ino meletakkan kotak itu di pangkuanku.
Aku memegang kotak itu, tetapi masih tidak mau melihatnya. "Apa isinya?"
"Buka saja," kata Ino —enggan membocorkan apa isi kotak yang diklaimnya sebagai kado ulang tahunku yang masih sangat lama itu.
Perlahan, aku membuka kotak itu.
Sebuah gaun berbahan chiffon dengan tali spageti selutut berwarna putih mutiara dengan pinggiran berwarna fuchsia menyembul dari balik kotak itu.
Gaun yang sangat cantik, sungguh.
"I-ino ... i-ini ..." Aku kehilangan kata-kata. Kedua tanganku memegang erat gaun pemberian Ino —sedangkan kotak berwarna pink itu sudah meluncur bebas ke lantai.
Ino tersenyum, manis nan tulus. "Kau suka? Aku membuatnya sendiri." Ia menyilangkan kedua kaki jenjangnya.
Aku menatapnya dan mengangguk penuh semangat. "Sangat! Aku sangattt menyukainya! Arigatou gozaimasu, Ino-buta!" pekikku sambil memeluk sahabat pirangku, erat.
Ino memang kaya raya, tapi dia bukanlah tipe Nona Muda Manja seperti gadis kaya kebanyakan. Ino sangatlah mandiri. Ia bahkan sangat pintar dalam hal jahit menjahit.
Sedikit informasi, dia adalah costume-maker langgananku.
Itulah alasan mengapa aku tak kaget saat Ino berkata jika gaun ini adalah buatan tangannya.
Ino terkekeh lalu mengusap-usap punggungku pelan. "Karena ulang tahunmu di musim semi, aku membuatkanmu gaun dengan tali spageti seperti ini. Aku tak pernah mengira akan memberikannya saat musim dingin seperti sekarang. Tapi seperti kataku tadi, kau membutuhkan gaun ini." Manik biru Ino mengerling lucu.
"Nah! Karena sekarang musim dingin, aku tak yakin kau akan mengenakannya tanpa menggunakan mantel —kecuali kau memiliki separuh saja kekuatan Elsa dari film Frozen agar tak membeku," seloroh Ino sambil tertawa.
Aku tersenyum lalu kembali mengagumi gaun di tanganku. "Cobalah," Ino menepuk lenganku pelan.
"Oh iya, Sakura!" panggil Ino sebelum aku masuk ke dalam kloset pakaiannya.
"Pakai ini." Ino melemparkan sebuah stoking berwarna putih ke arahku.
Aku mengangguk lalu memasuki kloset pakaian Ino tanpa banyak bicara. Kloset ini sangat besar, tiga orang dapat berganti pakaian di dalamnya tanpa mendapat masalah.
Selepas menanggalkan pakaianku, aku bergegas mengenakan stoking dan gaun pemberian Ino dengan hati-hati.
"Tadaaa~" Aku keluar dari dalam kloset dengan penuh tawa. Ino menahan senyum.
Ia mendekat dan melingkarkan sebuah belt dengan model rantai berwarna fuchsia di pinggangku, dan memasangkan sebuah mantel pendek berwarna senada. "Nah, sempurna," katanya sarat akan nada bangga.
Aku kembali tersenyum dan memeluknya erat. Ino benar-benar sahabat terbaikku.
"Sekarang, kau harus bersedia untuk kudandani."
Ugh! Boleh kutarik kembali kata-kataku?
~F L O W~
Malam merangkak naik dan semburat merah semakin sirna sejurus dengan hilangnya sang raja siang.
Aku menghela napas entah untuk yang ke berapa kali. Iris hijauku masih setia menatap pelataran parkir Aruta Cafè dari area roof top tanpa kenal lelah.
Jam setengah tujuh tepat.
Satu setengah jam sudah aku menunggu Sasuke di sini. Aku kembali menguatkan hatiku —meyakinkan diriku jika Sasuke akan datang walau sangat terlambat.
"Sumimasen. Apakah Anda sudah akan memesan sesuatu?" tanya seorang maid ber-nametag Hikari untuk ketiga kalinya.
Aku memandangnya tak enak, tapi kembali menggelengkan kepalaku. "Maafkan aku. Tapi aku masih menunggu temanku," balasku lengkap dengan senyum lemah. Gadis pelayan itu kembali mengangguk paham dan berlalu dengan senyum pengertian di bibirnya.
Merutuk pelan, aku kembali memaki diriku yang tidak pernah berpikir untuk meminta alamat email Sasuke sebelumnya. Jika saja aku memilikinya tentu aku tidak akan terlalu gelisah saat ini.
Sasuke pasti akan datang, kan?
Tik-tik-tik-tik.
Jam berlalu dengan konstan. Sang dewi rembulan pun semakin menyamankan diri di singgasana kebanggaannya.
Aku mengetuk-ngetukkan boots-ku dengan bosan.
Tiga setengah jam sudah aku menanti Sasuke yang belum juga menunjukkan eksistensinya.
Secangkir affogato yang tadi —akhirnya— kupesan kini telah mendingin terkikis suhu tanpa kusentuh sedikitpun.
Pipiku pun semakin memerah —bukan karena malu atau marah. Melainkan karena hawa dingin yang menggerogoti.
Aku menutup mataku sembari mengencangkan syal berwarna merah muda dengan sulaman bunga salju perak agar melindungi leher, mulut, serta pipiku dari terjangan hawa dingin.
Sasuke pasti akan datang, kan?
"Sumimasen. Cafè akan segera ditutup, Nona. Saya pikir teman Anda tidak akan datang." Hikari kembali menghampiriku dengan wajah penuh simpati.
Aku menghela napas, lalu melirik jam tanganku.
Jam sembilan tepat.
Cafè akan tutup, tapi Sasuke belum juga datang.
"Aku mengerti, Hikari-san. Maaf merepotkan, dan terima kasih untuk kopinya," ucapku sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja sebelum aku pergi meninggalkan meja tempatku menunggu sejak beberapa jam yang lalu dan beralih menunggu di teras cafè.
Sasuke pasti akan datang, kan?
Setengah jam setelah itu, aku menemukan diriku masih berdiri di pelataran sebuah cafè yang kini gelap gulita —ya, Aruta Cafè sudah tutup sejak setengah jam yang lalu.
Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku yang tak terbalut sarung tangan, membuat tubuhku menghangat sebisaku.
Kembali merutuki kebodohanku yang tak membawa sarung tangan, earmuff, ataupun kairo tadi.
Pipiku memerah, begitu pula dengan hidungku. Geligiku bergemeletuk menahan hawa dingin yang kian menggigit.
Aku menunduk, menatap gaun cantik buatan Ino yang kini seolah sedang menertawakanku yang terlihat menyedihkan.
Aku meringis menyadari keadaanku yang tak ubahnya seperti patung es hidup. Katakan aku bodoh, tapi aku tetap tak mau meninggalkan tempat ini—tidak sampai lelaki itu datang dan menepati janjinya.
Sasuke pasti akan datang, kan?
Detik, menit, dan jam berlalu dengan pasti.
Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sini —aku enggan menghitungnya.
Aku mendongakkan wajahku yang sudah terasa kaku terguyur hawa dingin—menatap serpihan salju yang melayang tanpa beban.
Refleks, mataku pun menutup ketika beberapa serpihan salju terjatuh meninggalkan sensasi dingin di wajahku.
Ckiiit ...
Sebuah suara decitan ban mendadak menerobos gendang telingaku —membuat kelopak mataku terbuka dengan perlahan.
Seberkas asa terajut dalam benakku kala retinaku menangkap adanya sebuah mobil terparkir di dekatku.
Senyumku mengembang begitu saja. Tanpa sadar, aku menarik tangan kiriku yang tak juga menemukan kehangatan meskipun berada di dalam saku mantel.
Jam sebelas malam.
Tak apa, tak apa. Yang penting dia datang, bisikku dalam hati.
Baru saja aku akan melangkahkan kakiku untuk menyambut kedatangannya yang sudah kutunggu-tunggu.
Namun ternyata kakiku lebih memilih untuk membeku di tempat daripada menghampiri orang itu. Dan asa kini tinggallah asa. Orang yang keluar dari mobil itu memang bukan orang yang tak kukenal.
Aku mengenalnya, sangat.
Tapi dia bukanlah orang yang kutunggu.
"SAKURA!" Pemuda itu berlari ke arahku—wajahnya penuh dengan kecemasan.
Bukan.
"Ya Tuhan! Kau membeku!" Iris jade pemuda itu menatapku cemas
Bukan iris ini yang kutunggu.
"Tunggu di sini," perintahnya sebelum berlari menuju mobilnya —membiarkanku menatap punggungnya yang menjauh.
Bukan punggung itu yang kutunggu.
Tak seberapa lama, ia kembali. Pemuda itu membawa sebuah tas karton bersamanya.
Tap.
Ia menatapku cemas, namun kubalas dengan pandangan kosong.
Ia mengusap wajahku yang berlumur salju dengan tangan berlapis sarung tangannya dengan lembut, kemudian tersenyum hangat.
Bukan senyum itu yang kutunggu.
Tak memedulikanku yang masih membisu, pemuda itu memasangkan sebuah topi rajutan berwarna fuchsia di kepalaku. Belum selesai sampai di situ, ia juga memakaikan earmuff lembut berwarna merah muda di telingaku.
"Lihatlah, buku jarimu sudah memutih," ujarnya sambil memasangkan sarung tangan tebal berwarna senada di kedua tanganku.
Pemuda itu kembali menatapku, namun aku tetap membisu dengan senyum bodoh di bibirku.
Bukan perhatian ini yang kutunggu.
"Ayo kita pulang, Saku. Sebelum kau benar-benar jadi patung es di sini," katanya, mencoba mengajakku bercanda.
Bukan.
Bukan Gaara yang kutunggu.
Senyumku luruh, mendadak dunia di sekitarku menjadi buram. Hatiku hancur, hatiku hancur ketika Sasuke tak juga datang meskipun sudah hampir larut malam.
Perlahan, setetes demi setetes air mata yang sedari tadi kutahan sekuat tenaga kini telah mengalir dalam diam.
Grep!
"Ssttt ... Dia tidak akan datang, Saku. Dia tidak akan datang," bisik Gaara sambil memelukku erat.
"Ga ... hiks ... Ga ... hiks ..." Aku ingin berbicara, aku ingin meraung atas rasa sakit yang kurasakan. Namun entah mengapa, aku tak sanggup bicara. Tenggorokanku sakit, terasa seperti dicekik dengan begitu kuat.
"Aku di sini, Saku. Tenanglah ... Aku di sini." Gaara mengusap rambutku dengan lembut.
Pyar!
Bagai balon yang ditusuk dengan jarum, tangisku meledak saat itu juga.
Aku memeluknya. Menumpahkan seluruh tangisku di bahunya. Aku menangis, meraung, dan mencengkram punggung Gaara sekuat yang kubisa. Ia tak protes, hanya usapan lembut dan bisikan-bisikan penenanglah yang kudapatkan sebagai balasannya.
Hidungku ngilu, kepalaku pening, dan tenggorokanku sakit luar biasa.
Menyedihkan.
Ya, aku terlihat sangat menyedihkan.
Tangisku kembali pecah entah untuk yang ke berapa kalinya. Lalu tiba-tiba aku mencengkram mantel Gaara dengan sangat kuat saat napasku tercekat seakan aku akan mati saat itu juga.
Aku tak tahu sudah berapa lama kami berada dalam posisi ini. Aku tak tahu apakah air mataku akan habis setelah ini. Aku tak tahu apakah pita suaraku akan putus setelah aku meraung histeris seperti ini. Aku tak tahu, dan aku tak mau tahu.
Namun kini aku tahu satu hal,
Sasuke tidak pernah datang.
-To be Continue-
.
.
.
Ending Song :
Shin Jae - Tears are Falling.
.
.
.
The you that's always been appearing right in front of me, is filling my heart, overflowing it.
Becomes tears of heartache, yearning tears, you keep living in my heart like that.
Cold tears keep shedding, falling non-stop,
Because I love you, because these tears are tears of love.
Even if you were by my side and couldn't say those words, I really love you.
.
.
.
Alloha, Minna~ jumpa lagi dengan Miyu di sini~ #grin Nah, nah! Chapter 3 sudah update nih~ gimana menurut kalian? Baguskah? Atau malah jelek pakai banget?
Hehehe maaf deh ya kalau fanfic-nya mengecewakan #ojigi. Janji deh Miyu bakal terus berusaha agar fanfic ini semakin bagus dan sesuai harapan #plak.
Yosh! Saatnya membalas review~
Eh ini Sakura version ya? Iya, ini Sakura Version. Yuki-nee yang nulis Sasuke Version. Penasaran sama Aruta Cafè, itu artinya apa ya? Atau udah dijelasin cuma akunya yang gak ngeh ya? Hmm, Aruta Cafè ya? Belum kok. Belum dijelasin. Sebenernya gak ada yang spesial sih. Awalnya yang ngusulin nama ini itu Yuki-nee, dan karena kami suka ya udah dipakai aja #grin. Tapi kalau menurut mbah Google sih, Aruta itu mendiskusikan. Tapi entahlah #ditabok. Saya suka pendeskripsiannya, dan saya rasa alurnya agak cepat ._. Syukurlah ada yang suka deskripsinya~ #terbang #dor merangkai kata itu yang paling sulit, un. Tapi setelah baca review-review ini rasanya seneng banget. Perjuanganku dan nee-chan jadi ada artinya #smile Arigatou gozaimasu~ Hmm~ alurnya agak cepat ya? Iya sih, tapi kalau gak dijabarin dengan detail word -nya bisa banyak banget. Chapter 2 kemarin aja udah 4.444 word loh! Izin fav ;) Silakan~ terima kasih sudah difavoritin~ #blinkblink.
.
Special Thanks :
Eysha CherryBlossom, Eagle Onyx 'Ele, Sajiai Atsushi, Nona CherryTomato, ikalutfi97, UchiHaruno Mia.
.
Terima kasih banyak kami ucapkan untuk seluruh readers maupun siders yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karya kami yang sederhana ini, terutama untuk para reviewers.
Terima kasih telah memberi kami support yang sangat hebat.
Terima kasih telah menjadi pembaca yang hebat.
Bersediakah kalian meluangkan sedikit lagi waktu kalian untuk me-review fanfic kami?
Jangan lupa baca © Yukio Valerie ya~
See you in the last chapter, minna!
Regards,
.
.
Miyu & Yuki.
Surabaya & Malang.
22 Oktober 2014.
