Terima kasih kepada:

CityOfReverence, AzuraRii, Helium Xenon

Yang telah mau memberi komentar mengenai beberapa jokes yang akan digunakan dalam chapter ini. Terima kasih juga saya haturkan kepada:

Aoi, Kurotori Rei, CelestyaRegalyana, Kaizawa Kaito, Akizuki Airy, akanemori, miku. Loverz, Go Minami Hikari Bi, aquathyst, Chiyo, Hikari Kengo, Hana Kirameku, Yumiharizuki, moririn, Necromancer Alfan, SyifaCute, Im Seok Hyo

Serta semua orang yang sudah menyempatkan diri membaca cerita ini. Terima kasih banyaaak~!


[1] Ngomong-ngomong, sekedar mengingatkan (mungkin aja pada lupa), garis besar cerita ini adalah tentang pencarian jodoh Yuuma. Jadi, saya mohon untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan siapakah yang akan menjadi pasangan Yuuma agar tidak terjadi kesalahpahaman dan (yang paling tidak diinginkan) pair war. Total keseluruhan chapter dalam cerita ini adalah 8 chapter, btw ;)

[2] Salah satu kebiasaan saya dalam menulis humor adalah menyebutkan produk/judul lagu atau sinetron atau film secara eksplisit. Saya memilih cara ini karena efek humor yang ditimbulkan lebih ngena ketimbang memaksa memarodikan sesuatu (saya akan parodikan apa yang sekiranya bisa saya parodikan. Jika tidak bisa, maka saya lebih memilih pasang merk asli daripada maksa). Maka, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada 1-2 pembaca yang tidak nyaman dengan ini. Mohon pengertiannya. Tapi jika batas toleransi Anda sekalian sudah lewat batas, yah, maka Anda bebas meng-abuse tombol back ;;;;

[3] Selamat membaca!


Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera.

Judul iklan, film, sinetron bukan milik saya. No commercial profit taken.

Warning possibly typo(s), YAOI & INCEST(I've warned ya, pals!), inkonsistensi bahasa, lack of humor, et cetera. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Esoknya, setelah semalaman penuh berpikir, hati Yuuma semakin mantap untuk menemui Aria. Siapa tahu Aria betul-betul sosok istri yang selama ini dia cari. Apa pun bisa saja terjadi, iya 'kan?

Namun, terlalu banyak harapan yang membuncah malah membuat Yuuma menjadi resah. Ia takut gagal dan takut kaku. Sejak pagi, dia tak henti-hentinya bertanya pada Piko mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan.

"Pokoknya, kamu harus rileks," Piko memberi saran. "Ajak Aria mengobrol seperti yang biasa kalian lakukan waktu masih kecil. Tapi ingat: jangan langsung 'tembak' dan minta dia jadi istrimu. Poin terpenting adalah, bangun koneksi di antara kalian. Buat dia nyaman berada di sampingmu dulu. Ajak kencan, kalau perlu."

Adalah sebuah ironi bagi Piko yang selalu memberi nasihat jitu dan super ala Mario Teguh ini sebenarnya juga tidak punya pengalaman dalam hal percintaan.

"Oh…. Oke."

Setelah memastikan Yuuma mencatat semua tips dan trik darinya, Piko pun kembali tenggelam dalam pekerjaan.

"Eh, kamu nanti ikut ke sana juga, 'kan?" Yuuma bertanya, memastikan. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Piko tidak ikut bersamanya.

"Tidak bisa. Aku sedang banyak kerjaan." Piko menjawab dengan minimalis. Mata memeriksa jurnal. "Kau pergi sendirian saja."

Terdengar rengek kekanakan dari Yuuma. "Ayolah, Piko. Temani. Perjalananku masih jauh. Temani. Ya, ya?"

"Tidak bisa."

"Kumohon!"

"Kalau aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa."

Dengan sigap, Yuuma mengeluarkan dompet. "Nanti aku kasih 1000 yen, deh."

"AYO KITA BERANGKAT, BOS!"

Harga diri Piko ternyata lebih murah dari Yuuma kira.


Aku Mau Mama!

by devsky

{3/8}


Mereka sampai di Utau Bersahaja setengah jam kemudian.

Terakhir kali Yuuma dan Piko berkunjung ke tempat itu adalah empat bulan yang lalu. Setelah itu, mereka belum sempat datang lagi. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan ketika mereka menginjakkan kaki sekali lagi di tempat tersebut, mereka mendapati bahwa Utau Bersahaja tak banyak berubah. Bentuk bangunannya masih sama seperti empat bulan lalu—bahkan seperti dulu, waktu mereka tinggal di situ. Yang berbeda cuma cat yang melapisi tembok. Warnanya lebih mengilap dari yang terakhir mereka ingat. Pastilah pengurus di sana baru saja mengecat ulang bangunan.

Ketika mereka masuk, Aria, yang sedang berada di tempat, langsung menyambut dengan seulas senyum. Yuuma merasa senang bertemu langsung dengan objek yang sedang ingin sekali ia temui.

Penampilan Aria tidak terlalu banyak berubah meski empat bulan telah berjalan. Rambutnya masih pirang nyaris putih, wajahnya manis, dan matanya masih indah seperti yang Yuuma ingat. Ada sedikit bekas tepung di pipi gadis itu, tapi tepung itu seakan tidak menghalangi kecantikan yang terpancar dalam diri Aria. Sebaliknya, aura keanggunan dan keibuan gadis itu justru makin terpampang nyata.

Melihat aura keibuan yang memancar pada gadis itu, Yuuma perlahan mulai ragu gravitasi bekerja di tempat ini. Rasanya ia sedang melayang di ruang hampa udara.

"Yuuma! Piko! Rupanya kalian!"

"Aria-san!" Piko menyapa.

"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian?" Aria menyodorkan tangan.

"Ah, kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Yuuma buru-buru menyambut tangan gadis itu setelah sebelumnya menepuk tangan Piko yang juga ingin bersalaman dengan Aria. Sang asisten memutar bola mata.

"Aku juga baik-baik saja." Gadis itu tersenyum.

Ceb!

Ada satu panah melesat ke jantung Yuuma ketika sosok Aria menyunggingkan senyum.

"Manisnyaaaa~" batin Yuuma.

Piko menatap Yuuma dengan heran. Perasaannya saja atau di atas kepala Yuuma memang sedang ada kembang api yang meletup-letup? Dan mengapa tiba-tiba banyak kelopak bunga Sakura terbang dihela angin begini?!

"Ano, Aria-san, kenapa sepi sekali di sini?" Piko bertanya, mencoba mengabaikan Yuuma.

Utau bersahaja penuh dengan anak-anak kecil. Berisik adalah kondisi yang nyaris selalu ditemukan dalam semua situasi. Sunyi tentu bukan hal yang wajar ditemui.

"Anak-anak sedang tidur siang. Kalau Akaito dan Kaito ada di kamar."

"Oh…." Piko dan Yuuma mengeluarkan kata oh tanpa arti.

"Karena sedang senggang dan anak-anak sedang tidur, makanya aku kepikiran untuk membuat kue." Aria mengakhiri dengan ber-hehe.

Membuat kue? Ah, itu menjelaskan soal noda tepung di pipi Aria. Sudah cantik, pintar masak pula. Yuuma tersenyum. Aria kecil yang dia ingat dulu sebagai anak cengeng kini telah tumbuh menjadi dewasa, keibuan, dan berparas cukup.

Tak sadar, Yuuma terbuai oleh impian dan persepsinya akan wanita. Figur yang dia inginkan. Figur yang dia cari. Figur yang menjadi parameter pencarian jodohnya. Figur yang ter-display jelas di hadapannya. Mungkinkah Aria sosok mama yang tepat untuk Luka?

"Lagi bikin kue? Mau kubantu?" Yuuma mulai melancarkan jurus pdkt.

"Eh? Kamu bisa bikin kue?"

Jebakan Batman. Kalau Yuuma bilang tidak bisa, citranya bisa turun drastis. Kalau bilang bisa, namanya pembohongan publik.

Di tengah pilihan yang berat, hati sang pemuda menjadi galau. Mana yang harus dia pilih? Pencitraan atau kejujuran?

"Tidak, sih." Yuuma memilih jujur karena dia pria budiman. "Tapi, kalau bantu-bantu sedikit aku bisa, kok."

"Aduh, aku jadi tidak enak." Aria tersenyum, sedikit tersipu. Yuuma membalas senyumnya. Manisnya pasangan muda.

Mereka pun bersama-sama berjalan ke dapur sambil mengobrol.

Di dapur, mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Mengejar waktu yang hilang. Yuuma bertanya kepada Aria apa dia sudah lulus kuliah, dan Aria menjawab dia baru saja lulus kuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan Yuuma. Yuuma kemudian bercanda tentang dosen Linguistik-nya waktu masih kuliah di semester satu dulu, dan Aria memberitahu bahwa dosen Linguistik itu adalah bapak-bapak yang tinggal tiga blok dari Utau bersahaja. Suasana di antara keduanya pun semakin hangat. Mereka terlihat sudah saling connect dan saling bercanda lebih dekat.

Seperti yang telah Piko perkirakan sebelumnya, dia mulai dilupakan. Sebagai asisten profesional, dia sadar diri.

"Lebih baik aku menyingkir."

Utatane Piko, 23 tahun, mengalah.


Piko mengambil inisiatif meninggalkan Yuuma berdua dengan Aria dan pergi ke kamar Akaito. Dia berjalan cuek menuju kamar salah satu teman lamanya itu.

Shion Akaito adalah teman sepermainan Piko dan Yuuma ketika masih tinggal di Utau Bersahaja dulu. Rambutnya merah menyala. Wajahnya imut, agak sedikit narsis tapi kepribadian sesungguhnya sangar, mirip preman yang selalu memalak uang saku Piko di gang depan tiap berangkat sekolah.

Waktu kecil, Piko sering sekali bermain ke kamar anak itu. Dibilang sering juga, sebenarnya tidak juga, sih. Karena Piko cuma mampir ketika ingin membaca komik Detektif Conan edisi terbaru (Piko fans beratnya Kaito Kid. Dia telah mengoleksi beragam merchandise. Mulai dari action figure, poster, fan-book, key chain, strap hp, dan sebagainya). Kamar Akaito adalah tempat paling asoy buat baca sekaligus spot paling aman untuk menyembunyikan komik dari tangan-tangan jahil para setan kecil Utau bersahaja. Yuuma bahkan pernah menyimpan seluruh koleksi komik hentai-nya di sana.

Teman sepermainan Piko dan Yuuma, sebenarnya bukan hanya Akaito. Yang satu orang lagi adalah Shion Kaito. Dia adalah adik Akaito. Beda umur mereka kira-kira cuma dua tahun.

Kaito adalah anak berambut dan bermata biru serta bertubuh kurus. Wajahnya terlihat lebih kalem, sementara sifatnya agak kikuk dan pemalu. Karena sifat inilah Kaito kadang jadi target bully Yuuma, selaku penyandang predikat Anak Paling Nakal.

Piko sendiri tidak mau menyangkal telah banyak berdosa pada Kaito. Dosa yang paling besar adalah waktu Kaito dituduh kentut oleh seisi panti di suatu makan malam yang khidmat. Padahal yang kentut adalah Piko. Tapi Piko hanya diam saja demi menjaga nama baik.

Iya, Piko lebih memilih menjaga pencitraan. Dia teman durhaka. Dan sampai saat ini, tidak ada yang tahu bahwa angin busuk beraroma menyengat itu datangnya dari Piko.

Kaito, meski agak cupu, nyatanya selalu terlihat bertengkar dengan Akaito. Ini wajar, mengingat tingkah Akaito kepada adiknya lebih seperti ngajak tawuran daripada mengayomi seperti yang seharusnya dilakukan seorang kakak.

"Abang, Abang! Tadi aku nemu kucing. Terus, terus, aku kasih nama. Kaito Nomor Dua. Lucu 'kan, Bang? Kayak aku, lucu. Hehehehe…."

"Siapa?"

"Eh? Siapa?"

"Yang nanya."

Kemudian kakak-beradik itu pun sambit-sambitan sepatu. Tidak ada yang berani melerai kedua anak itu. Semua terlalu sayang nyawa.

Pertengkaran Akaito dan Kaito hanya bisa dihentikan ketika Dell—selaku anak tertua— naik pitam. Biasanya ditandai dengan keluarnya kalimat penuh rasa persaudaraan seperti: "Kalian berdua bias berhenti atau tidak? Jika tidak, AKU GANTUNG KALIAN DI TALI JEMURAN!"

Ya, cara paling efektif menghentikan perang saudara adalah dengan mempraktekkan kekerasan dalam rumah tangga.

Meski sekilas tampak tidak akur, namun semua penghuni Utau bersahaja tahu jika Akaito dan kaito saling menyayangi. Terbukti dari rasa saling peduli yang kerap mereka tunjukkan secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja, keduanya terlalu tsundere untuk mengakui.

Kini, bertahun-tahun sudah berlalu. Entah keduanya masih tetap tsundere atau tidak.


Langkah Piko terhenti di depan kamar Akaito. Pintu kamar anak itu sedikit terbuka, Piko masuk.

Akaito tidak ada di dalam kamar. Yang ada di dalam sana adalah sosok yang dia kenal. Sosok yang dulu selalu kedapatan bertengkar dengan Akaito. Sosok tersebut adalah Kaito.

Berbeda dengan Yuuma yang sejak lahir sudah jadi anak gaul, Piko adalah anak yang (sangat) polos. Dia adalah anak yang baru sadar jika manusia tidak lahir dari telur ketika memasuki usia 15 tahun. Itu juga karena tidak sengaja menyetel dvd porno yang sembarangan diletakkan Dell di antara selipan komik. Selesai menonton, jiwa Piko terguncang. Selama seminggu penuh, dia menolak untuk makan. Sedangkan Dell dimarahi habis-habisan oleh Kakak Pengurus Panti.

Piko memiringkan kepalanya menatap Kaito. Sekarang, Kaito tengah duduk di kasur Akaitodengan tubuh bagian atas yang betul-betul polos. Piko bahkan berani bertaruh jika tubuh bagian bawah orang itu—yang saat ini tertutup selimut— juga sama polos dengan tubuh bagian atasnya.

Wajah Kaito menatap kaku Piko. Yang ditatap pun terdiam.

Oh, itu Kaito. Oooh….

...

SEDANG APAKAH KAITO TELANJANG DI KAMAR AKAITO?

1. Kaito sedang main ke kamar Akaito. Karena panas, dia buka baju.

2. Pakaian Kaito kotor semua jadi dia mau pinjam baju Akaito.

3. Kaito dan Akaito habis main kartu dengan taruhan yang kalah akan ditelanjangi.

4. Kaito habis nari striptease.

5. Kaito dan Akaito praktek sesuatu dengan inspirasi film biru.

Otak Piko langsung korslet memikirkan kemungkinan nomor lima.

Suasana mendadak canggung.

"Hai."

"Hai."

"Hai." Hai ketiga datang dari belakang. Piko menoleh dan melihat Akaito berdiri telanjang dada. Ada handuk tersampir di leher, menandakan dia baru selesai mandi.

"Habis mandi, Akaito?" Piko terjebak dalam percakapan paling basi sedunia.

"Iya."

"Panas, ya?"

"Iya, panas."

"Oh…. Iya. Jepang sekarang tambah panas. Global warming." Piko salah tingkah.

"Iya."

"..."

Keduanya terdiam.

"Eng…. Aku dengar dari berita di tv tadi, harga bawang naik drastis." Piko membahas topik yang sama sekali tidak berkoneksi dengan semua keadaan. Sukses menambah kecanggungan semua orang.

"... Iya."

"..."

Hening lagi.

"Ah, sepertinya kalian ada urusan. Aku pergi saja, ya," ujar Kaito. Dia berdiri dari atas kasur, entah sejak kapan sudah memakai kembali celana pendeknya.

"Kamu jangan pergi!" Piko refleks menjawab. Matanya berusaha untuk tidak salah fokus pada celana pendek Kaito—celananya motif Pikachu. Wow. "A-aku ke sini cuma sebentar, kok."

"Cuma sebentar?" tanya Akaito.

"Iya, cuma sebentar. Aku ke sini ... ehm ... cuma mau pinjam sesuatu!"

"Pinjam apa?"

Gugup, Piko meraih sesuatu dengan asal. "Pinjam ini!" Dia berseru sambil mengacungkan sesuatu.

"... Pinjam lotion?"

...

Suasana semakin hancur.

"... Iya, pinjam lotion. Ehm…. Buat cuci tangan."

Akaito baru tahu body lotion bisa dipakai buat cuci tangan. "Nggak takut keracunan?"

"Nggak. Kebetulan aku lagi mau keracunan. Permisi." Piko menelan ludah dan tanpa ba-bi-bu lagi, langsung melarikan diri. Dia bersumpah, setelah pulang nanti akan segera harakiri pakai tusuk sate.


Sementara Piko kabur dari Akaito dan Kaito, di dapur, Yuuma dan Aria justru semakin lengket. Acara membuat kue bersama telah lama berganti menjadi bincang-bincang dengan perabotan dapur dan cicak di dinding sebagai penonton.

Yuuma kelihatan agresif di sini. Dia terus-menerus mencari topik baru untuk diperbincangkan dengan Aria. Aria sendiri meladeni, bahkan kadang melempar satu-dua topik baru. Mereka saling mengisi dan melengkapi. Keduanya cocok.

Pembicaraan terus berjalan, sampai akhirnya Aria bertanya soal Luka yang langsung membuat Yuuma sadar akan tujuannya datang ke sini.

"Luka? Ah, dia baik-baik saja."

"Benarkah? Aku senang jika begitu." Aria tersenyum lega.

"Kau mengkhawatirkannya?"

"Sedikit." Gadis itu terdiam sejenak. "Utau Bersahaja sedikit sepi tanpa anak itu. Kautahu, biasanya Akaito selalu kelihatan bermain dengan Luka, 'kan?"

Yuuma tertawa. "Benarkah?"

"Ya. Tapi aku senang mendengar Luka baik-baik saja. Lain kali, ajaklah dia main ke sini, Yuuma."

"Ah, ya. Kapan-kapan akan kuajak dia ke sini," jawab Yuuma. Bibirnya mengembangkan sebuah senyum, namun mata kuningnya mengilatkan pertimbangan.

Membicarakan Luka selalu membuat Yuuma jadi merasa tidak enak. Aria menyadari perubahan pandangan Yuuma dan mengernyit.

"Ada sesuatu?" tanya gadis itu.

Yuuma mengerjap. "A-aah…. Sebenarnya bukan apa-apa."

"Yakin?"

Yuuma menggeleng dalam hati. Dia bimbang, apakah harus bilang jika Luka minta seorang mama pada Aria atau tidak? Di tengah kebimbangan hebat yang melanda, dia teringat akan wangsit dari Piko ("Jangan asal 'tembak'!") dan buru-buru berkata, "Eng, Aria…. Besok ada waktu?"

Aria memiringkan kepala dan meletakkan telunjung di ujung bibirnya. Pose berpikir. "Hmm…. Sepertinya tidak. Ada apa, Yuuma?"

"Mau pergi bersamaku?" Yuuma straight to the point.

"... Ha?"

"Mau pergi bersamaku? Err…. Besok kebetulan aku sedang senggang dan ... rasanya malas jika harus seharian berada di kantor. Jadi…. Maukah?"

Aria terdiam, ajakan pergi itu tetap menggantung seperti kolor yang dijemur bersamaan dengan kasur yang diompoli Luka.

Yuuma menunggu dan mematung. Dia sadar tengah memasuki detik-detik paling berbahaya. Detik-detik penuh penantian dan pengharapan. Detik-detik di mana kaum hawa bisa dengan mudah menunjukkan bahwa merekalah penguasa dunia sebenarnya. Detik-detik di mana mereka bisa dengan mudah memperlihatkan betapa kejam sesungguhnya diri mereka.

("Hmm ... ternyata ada yang cukup tertarik sama aku sampai mau ngajak jalan. Terima nggak, ya? Jalan nggak, ya? Kalau aku diemin kayak gini ... nanti dia salting nggak, ya? Coba deh, kerjain dikit.")

Dua detik para wanita terdiam dengan ajakan menggantung adalah dua detik penuh penghinaan dan pengharapan. Bagi Yuuma dan bagi kebakebanyakan pria lain.

Kesunyian lama yang dilontarkan Aria cukup membuat Yuuma menjadi salah tingkah.

Lima detik lagi aku berdiri diam konyol seperti ini, lebih baik aku gantung diri pakai sumbu kompor, si pemuda menggumam dalam hati.

Yuuma memandang Aria. Di mata gadis itu terlihat campuran rasa yang kaya akan menang, gengsi, merasa laku, iba, belas kasih, dan ... sebuah keingintahuan. Aria, akhirnya, menjawab:

"Boleh juga. Besok jemput aku, ya?"

Joget. Yuuma joget dalam hati.


[ to be continued ]


Preview next chapter:

Yuuma dan Aria pergi kencan. Piko dapat rejeki dadakan.

"Eh? Kukira Yuuma homo."

Apa Aria betul-betul wanita yang selama ini Yuuma cari?


Kritik dan saran yang membangun amat sangat dinanti.