Vocaloid (c) Crypton Future Media, Yamaha, Internet, et cetera. No commercial profit taken.

semua nama produk, iklan, judul lagu, sinetron yang muncul bukan milik saya.

warning lack of humor, typo(s) karena belum di-edit. kesamaan ide, harap dimaklumi.


Setelah melakukan pendekatan yang intensif dan agresif dengan keringat, darah, dan air mata (Piko sempat akan harakiri sepulang dari Utau Bersahaja namun gagal karena tak kunjung menemukan tusuk sate yang cukup tajam), Yuuma akhirnya berhasil mengajak Aria pergi bersama. Artinya, tentu saja, pencarian mama buat Luka telah memasuki babak baru.

Yuuma merasa makin bersemangat karena sangat yakin Aria adalah sosok yang selama ini ia cari. Cantik? Check. Anggun? Double check. Perhatian dan keibuan? Triple check!

Pasti, Yuuma berkata dalam hati. Pastilah Aria yang selama ini ia nanti-nanti.

"Wahai, kau Putri Impian Hati. Bagiku kau secantik bidadari dengan sorot mata sesejuk embun pagi."

Piko hanya bisa tercengang mendengar bait-bait puitis nan romantis sekaligus hiperbolis tersebut keluar dari mulut atasannya.

Yuuma tidak pernah ambil jurusan Sastra waktu kuliah. Tapi begitu jatuh cinta, dia mendadak puitis dan melankolis. Fantastis.


Aku Mau Mama!

by devsky

{4/8}


"Selamat berjuang ya, Yuuma!"

Diiringi semangat dan tepukan bahu dari Piko, Yuuma pergi bersama Aria pada keesokan harinya dengan suka cita. Piko akan tinggal di Utau Bersahaja menggantikan posisi Aria sampai yang bersangkutan pulang.

Kala itu, hati Yuuma berkecamuk dengan perayaan dan ketakutan. Gembira karena akhirnya dia bisa selangkah lebih dekat dengan Aria, namun juga gundah dan takut karena bersama dengan datangnya kegembiraan itu, datang pula resiko gagal. Mereka berdua selalu datang dalam satu paket. Dua sisi dalam satu koin.

Yuuma telah mengikuti semua wejangan diberikan Piko. Mulai dari mandi 7 kembang, berendam air 7 sumur, luluran 7 jam, sikat gigi 7 odol, hingga memakai kemeja warna biru. Satu warna yang diisukan adalah warna favorit Aria. Meski wejangan-wejangan di atas tidak lantas membuat Yuuma bisa seratus persen berhasil, toh, tetap dilakoni. Namanya juga usaha.

Sementara Yuuma dan Aria pergi, para penghuni senior Utau Bersahaja, termasuk Piko, berkumpul di ruang makan. Akaito, Kaito, bahkan Dell, ikut hadir.

Pertamanya mereka kumpul-kumpul biasa. Nostalgia kenangan lama. Berbagi cerita dan saling bercanda. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja mereka bertanya-tanya mengenai Yuuma dan Aria. Kenapa tiba-tiba Yuuma mengajak pergi Aria? Berduaan pula.

Diskusi mereka terus berlanjut dan mulai berubah menjadi ajang debat kusir antara Akaito dan Dell di mimbar terbuka. Kaito bertindak sebagai juri sementara Piko jadi penonton. Pertumpahan jigong pun tak terhindarkan.

Piko, yang melihat perdebatan mulai beresiko berubah jadi perang saudara, akhirnya menjelaskan bahwa Yuuma sedang mencari sosok mama buat Luka.

"APAA!" Semua kaget. "Jadi, Yuuma akan meminta Aria untuk jadi istri?"

"Iya." Piko menjawab kalem. Entah sejak kapan sudah mulai mengelap meja makan yang tadi kena tumpahan air dari gelas Kaito. Piko memang asisten yang bisa diandalkan. Naluri pembantunya kuat.

"Eh? Kukira Yuuma homo." Dell berkata. Kelihatan masih tidak percaya. "Habisnya dari dulu nggak pernah kelihatan punya pacar, sih."

"Karena itu, sekarang dia sedang cari pasangan."

"Hm…. Berjuang untuk cari jodoh, ya?" Akaito menyandarkan punggung. Kedua tangan dilipat di depan dada. "Tapi aku nggak yakin dia akan dapat jodoh. Dia itu payah. Aku bahkan berani taruhan 1000 yen, Aria nanti akan menolak Yuuma mentah-mentah."

Dell ikut menanggapi, "Aku juga berani taruhan 1000 yen, Yuuma nanti ditampar Aria."

"Hmm … 1000 yen, Aria mengabaikan Yuuma."

Karena terbawa suasana, Piko akhirnya ikutan. "Taruhan 1000 Yen juga, Yuuma mengatakan hal bodoh dan Aria meninggalkannya."

Ujungnya, bukannya mendoakan, mereka malah pasang taruhan. Dasar teman-teman durhaka.


Yuuma mengajak Aria pergi ke sebuah mall. Tadinya dia mau mengajak Aria makan siang di sebuah restoran Prancis, tapi karena Piko bilang itu terlalu klise akhirnya dia mengajak Aria jalan-jalan di mall. Lebih praktis.

Ini adalah kencan pertama Yuuma dan di saat ini dia baru menyadari benarnya perkataan Piko tempo hari; bahwa wanita adalah makhluk yang rumit dan kompleks.

Yuuma dan Aria berjalan berduaan melewati deretan toko. Ketika melangkah di depan sebuah toko pakaian, Aria berhenti dan terpaku menatap etalase.

"Ih….. Bagus ya, bajunya." Aria menatap dress warna teal yang dipasang di sebuah manekin. Mata biru Aria membesar dan menjadi begitu berbinar.

"Kamu mau? Kalau mau, aku bisa belikan. Kebetulan aku bawa kartu kredit." Yuuma tidak bermaksud pamer.

Aria terdiam dan berpikir sejenak. "Eng…. Nggak usah, deh."

"Yakin?"

Aria mengangguk.

"Oh…. Oke." Yuuma kembali berjalan, meninggalkan Aria yang masih berdiri di depan etalase dengan wajah kecewa.

"Cuma begitu?"

Yuuma menoleh. Wajahnya bingung. "... Eh?"

Aria menatapnya cemberut. "Paksa aku, dong. Bujuk supaya aku mau dibelikan baju ini."

Yuuma bingung. "... Tapi tadi kamu sendiri yang bilang tidak mau."

"Iya, aku bilang tidak mau," Aria melipat tangan di depan dada, "tapi bukan berarti aku benar-benar tidak mau baju ini, 'kan?"

Otak Yuuma mulai menemukan sebuah koneksi dari semua kondisi membingungkan ini. "Oh! Jadi kalau kamu bilang tidak mau, berarti kamu mau?"

"Belum tentu."

"Kalau kamu bilang mau, itu artinya kamu tidak mau? Begitu?"

"Belum tentu juga."

Yuuma garuk-garuk aspal.


Puas berjalan-jalan, Yuuma dan Aria memutuskan untuk makan. Mereka makan di sebuah restoran fast food sambil berbincang.

Selesai makan, Aria bertanya, "Aku kelihatan gemuk, ya?"

Yuuma memperhatikan gadis itu. Atas ke bawah. Bawah ke atas. Alisnya naik satu. "Nggak."

"Masa', sih?"

"Iya. Nggak gemuk, kok."

Aria terdiam kemudian memperhatikan tubuhnya sendiri. Alisnya berkerut. "Gemuk, ah."

"Nggak, Aria."

"Gemuk…."

"… Nggak."

"Gemuk!" Aria berkeras.

Didesak hingga ke ujung ring, Yuuma akhirnya memperhatikan badan Aria sekali lagi. Dia lalu menjawab, "Oke…. Err…. Yah…. Mungkin kamu butuh sedikit fitness. Sedikit."

Ada jeda.

"JADI MENURUT KAMU AKU GEMUK? JAHAT!"

Yuuma gelagapan. "Loh? Ta-tapi tadi kamu bilang…."

"Apa?!" Aria menjawab dengan judes. Dia sakit hati dibilang butuh fitness sama Yuuma. Pria memang tidak mengerti betapa sensitifnya hati wanita.

Di tahap ini, cleaning service yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.

Yuuma memandang Aria dengan tatapan anak anjing terbuang. "Jangan marah, dong…."

"Nggak usah liat-liat!"

Yuuma langsung menunduk.

"Tuh, 'kan, malah nunduk! Pasti kamu malu jalan sama orang gemuk kayak aku!" tuduh Aria.

"Ta-tapi tadi, 'kan, kamu nyuruh aku buat—"

"Yuuma menyebalkan!"

"HEE?"

"AKU BENCI SAMA KAMU! JANGAN BERANI TEMUI AKU LAGI!" pekiknya sambil beranjak meninggalkan pria itu.

Yuuma terduduk, terdiam, dan terpaku. Punggung Aria menghilang di balik keramaian pengunjung mall.

Yuuma positif ditolak pada kencan pertama.


Di dalam kamar mandi rumahnya, Yuuma sedang stress pasca-bencana. Semua harapan untuk memperistri Aria luluh lantak karena masalah sepele. Mana Yuuma tahu Aria sangat sensitif jika membahas berat badan?

Yuuma pun menjadi galau. Baru pertama kali ini dia ditolak mentah-mentah oleh wanita. Penolakan ini juga membuat batinnya begitu terguncang. Sebagai seorang pria sejati, Yuuma merasa gagal.

Yuuma masih tertunduk, membiarkan air kucuran shower membasahi mulai dari kepala sampai ke kaki. Samar-samar, dari mp3 player yang ada di kamarnya, terdengar lagu kebangsaan para galauers; Butiran Debu.

Iya, meski perawakan Yuuma mirip personil Power Ranger, tapi hatinya Heavy Rotation.

"Sudahlah, Yuuma. Jangan nangis terus." Menunggu di depan pintu kamar mandi, Piko berusaha menenangkan atasannya. Meski sebagai asisten pekerjaannya cuma sekedar membantu dan mengatur jadwal Yuuma, tapi pemuda cantik itu langsung melesat ke tempat Yuuma ketika melihat Aria pulang ke Utau Bersahaja dengan wajah acak-acakan. Benar saja, begitu Piko sampai dia langsung mendapati atasannya sedang 'galau' dan mengancam mau bunuh diri dengan membenamkan kepala ke lubang kloset sampai kehabisan oksigen.

Piko memang asisten idaman. Tetap berada di samping Yuuma dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika sang atasan sedang berkubang dalam air mata seperti sekarang. Tapi jangan salah mengira. Semua itu cuma sampulnya saja.

Di dalam?

Piko sedang menari-nari senang lantaran menang taruhan sama Akaito, Dell, dan Kaito. Lumayan, isi dompetnya bertambah 3000 yen. Piko jadi tidak perlu ngeri membayangkan masa kritis ketika akhir bulan tiba. Pokoknya, dengan tambahan 3000 yen ini, dia jadi tidak harus makan Indomie hingga bungkus terakhir. Dia juga tidak perlu repot-repot menyusun niat untuk impor diri dan jadi TKI ke Arab Saudi. Pokoknya, bulan ini Piko sejahtera. Persetan dengan Yuuma yang gagal dapat istri.

Piko memang asisten bejat.

"T-Tapi aku, 'kan, tidak tahu apa-apa! Aku ini polos, inosen, tak bersalah," isak Yuuma sambil membuang ingus dengan taplak meja. Oooh, jadi seperti inikah perasaan Gumiya waktu ditolak mentah-mentah oleh wanita? Perih.

Yuuma melanjutkan, "Aku cuma mengatakan apa yang mau dia dengar. Kenapa dia jadi marah? Kenapa aku kena imbasnya?"

SROOT!

Yuuma membuang ingus. Piko meringis jijik.

"Sudahlah...," Piko masih memberi pintu kamar mandi puk-puk lembut. Seharusnya yang Piko puk-puk adalah punggung Yuuma. Tapi dia masih ogah keluar dari kamar mandi. Jadilah Piko belai-belai pintu.

"Dari awal aku, 'kan, sudah bilang kalau wanita itu logikanya sulit dimengerti." Piko berkata sekali lagi. "Meski mereka bilang A, belum tentu yang benar-benar mereka inginkan itu A. Bisa jadi B, C, atau malah D."

"Itu! Kenapa sih wanita pikirannya rumit? Kalau semua wanita di dunia pemikirannya begitu, bisa-bisa aku tidak pernah dapat istri…."

SROOT!

Yuuma kembali membuang ingus.

"Yuuma! Jorok banget, sih!" protes Piko. Dia lama-lama jijik mendengar suara tarikan ingus Yuuma tiap sepuluh detik sekali. Jorok.

"Berisik kamu, Piko! Nggak tahu orang lagi sedih apa?"

"Sedih sih, sedih. Tapi jangan berlebihan begitu!"

"Kau tidak mengerti rasanya ditinggalkan perempuan saat kencan pertama! Sakit, Piko. SAKIT!" Yuuma mendramatisir. Dengan ini dapat dibuktikan jika patah hati ternyata bisa membuat orang jadi punya bakat akting. Tinggal tunggu ada sutradara lewat, Yuuma akan dikontrak untuk membintangi FTV sore.

Piko memutar bola mata. "Ayolah. Mungkin kau belum beruntung untuk dapat Aria. Tenang, masih banyak wanita lain, kok."

Yuuma mengelap ingus. Tangisnya mulai reda.

"Dengar, ya. Anggap saja kau sedang main sepak bola. Sekarang, kau mungkin masih jadi pemain cadangan inti dan belum bisa menggiring bola di lapangan. Tapi, suatu saat nanti, kau pasti akan bermain di lapangan hijau dan menjadi pemain yang bersinar!" Piko memberi sebuah analogi yang dalam, meski sebetulnya agak melenceng dari konteks.

Yuuma tidak menjawab. Ia merenungi kata-kata Piko. Bisakah ia bersinar di lapangan hijau—atau dalam konteks ini, bisakah ia mencapai tujuannya untuk membahagiakan Luka?


Piko sedikit cemas.

Sudah tiga hari berlalu sejak insiden kencan pertama itu, tapi Yuuma belum juga kelihatan membaik. Sebaliknya, makin hari dia malah terlihat makin lemah, lesu, dan lunglai.

Luka juga menjadi cemas. Dia bahkan sempat berpikir Yuuma kena anemia dan langsung memberinya sebotol Combantrin. Yuuma menerimanya sambil menangis. Luka mengira ayahnya terharu diperhatikan olehnya. Sebenarnya Yuuma menangis lantaran kelakuan Luka sendiri yang gagal membedakan mana obat anemia dan mana obat cacingan.

Piko melirik atasannya. Yuuma duduk bertopang dagu di mejanya. Mata kuning pria itu terpaku pada halaman koran pagi yang tengah dibaca. Piko mendesah.

Bagaimanapun juga, ini tidak normal, pikir si pemuda cantik. Tiga hari harusnya cukup untuk membuat Yuuma melupakan semua kejadian pahit itu. Tapi, kenapa Yuuma masih tetap sedih?

Otak Piko pun merangkai pikiran-pikiran jelek di kepala. Di antaranya Yuuma putus asa, Yuuma depresi, dan Yuuma sedang mencari jembatan yang arus sungainya paling mematikan untuk bunuh diri. Tidak, ini tidak boleh dibiarkan.

Piko lantas menghampiri atasannya. "Kau sudah menyerah mencari mama untuk Luka?"

Yuuma mengerling asistennya cepat. "Ah ... tidak juga."

"Lalu kenapa akhir-akhir ini kau diam sekali?"

"Oh, aku sedang memperhatikan berbagai macam iklan yang ada di koran. Ternyata objek yang diiklankan bervariasi, ya?" Yuuma membalik halaman koran. "Lihat ini."

Piko maju selangkah. Membungkuk memperhatikan halaman yang ditunjuk atasannya. Bola mata hijau dan biru itu membelalak tak percaya saat melihat kolom yang ditunjuk oleh Yuuma.

Kolom Biro Jodoh.

"Yuuma."

"Ya?"

"Jangan bilang kau berpikir untuk mengiklankan diri di koran."

Yuuma nyengir. "Tidak ada salahnya mencoba, kan? Siapa tahu aku bisa menemukan sosok istri sekaligus mama yang tepat untuk Luka lewat cara ini~"

"…"

"Piko, perintah untukmu: hubungi redaksi koran ini. Bilang padanya, aku mau memasang iklan. Urus semua hal yang perlu dengan baik. Masukkan pembayaran ke tagihan rekeningku."

Piko geleng-geleng kepala. Rasa cinta terhadap anak ternyata bisa membuat seseorang rela menggadaikan harga diri.


Ketika itu, Makoto Gumiya sedang membuka koran pagi sambil menikmati kopi hitam yang asapnya mengepul harum. Itu hari yang indah dan tenang. Gumiya ingin menikmatinya dengan santai. Tapi, tiba-tiba saja, mata hijaunya langsung terpaku pada satu iklan yang memenuhi satu halaman penuh koran tersebut. Tulisan warna merah menyala dengan warna dasar hitam dan font raksasa, sukses mengalihkan perhatian Gumiya. Belum ditambah keberadan sebuah foto pria berpose (sok) kece juga mengisi halaman tersebut.

Isi iklan tersebut adalah:

Seorang CEO muda beranak satu dari sebuah perusahaan finansial ternama mencari kandidat Calon Istri, dengan persyaratan sebagai berikut:

1. Wanita, usia maks. 28 tahun.

2. Berpenampilan menarik (Tinggi minimal 160 cm).

3. Diutamakan masih perawan.

4. Minimal lulusan S1 (Fresh graduate dipersilakan melamar).

5. Berintelejensa tinggi, cepat tanggap, dan memiliki refleks yang cepat.

6. Mampu berbahasa Inggris dengan baik, minimal pasif. Skor TOEFL minimal 500.

7. Mampu mengoperasikan komputer (MS Word, Excel, PowerPoint, Internet).

8. Good personality (jujur, setia, berdedikasi tinggi, sabar, penyayang, dan mampu berinteraksi dengan anak kecil).

9. Pandai memasak serta lihai membersihkan rumah.

Bagi yang memenuhi persyaratan, dapat mengirimkan lamaran lengkap beserta pas foto terakhir melalui email:

VY_Yuuma yahoo. co.jp, atau mengirimkan CV dan surat lamaran ke:

HRD VY Group

VY Group Tower, Lantai 20

Contact person:

Utatane Piko - 0847-blahblahblah-wasweswos

Gumiya membatu di tempat, retak-retak, lalu pecah dihantam angin.

Jauh di dalam hati, dia ingin sekali merobek koran itu sampai kecil. Atau sekalian saja, dibakar. Tapi apa daya, tubuhnya sudah terlanjur kaku. Dia terlalu syok.

Perlu beberapa detik bagi Gumiya untuk bias memulihkan kesadarannya dari isi iklan yang dipasang Yuuma, mantan rival-nya waktu SMA dan kuliah dulu, sebelum akhirnya bisa mengucapkan satu kata.

"Orang gila."


[ to be continued ]


Preview Next Chapter:

Event cari jodoh Yuuma terus berlanjut.

Ada pendaftar berikutnya?

"Dada kamu kurang besar. Jadi, saya pilih no."

Serius. Piko butuh wangsit dari dukun.


Kritik dan saran yang membangun, amat dinanti!

Sign,

devsky