Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha, PowerFX, Internet, et cetera.

Judul lagu, film, iklan, sinetron yang nyelip di sini bukan milik saya. This story created for entettainment purpose only.

Warning possibly typo(s), inkonsistensi bahasa, lack of humor, et cetera. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Jadi, tokoh utama kita yang ganteng tiada tara yang namanya Yuuma masih belum menyerah mencari belahan jiwanya. Walau baru ditolak Aria, Yuuma tak lantas bermuram durja karena dia pria jagoan.

Membuang harga diri yang melekat di tubuh, Yuuma pun nekat mengiklankan dirinya sendiri di sebuah surat kabar. Ini semua dikarenakan ia ingin segera membawakan mama untuk Luka. Biarlah dia dicap sebagai orang desperate yang kebelet mau nikah, yang penting Luka senang!

Piko sempat memberi saran agar Yuuma mengikuti ajang pencarian jodoh berlabel Take Me Out, namun segera ditolak oleh Yuuma. Alasannya klise.

"Harga diriku, sebagai orang ganteng, akan jatuh jika mengikuti acara picisan seperti itu."

Seandainya Yuuma tahu bahwa tindakannya mengiklankan diri di koran juga sudah membuat harga dirinya anjlok seketika.


Aku Mau Mama!

by devsky

{5/8}


Piko adalah tipikal asisten yang selalu total dalam menjalankan pekerjaan. Hal ini sudah tidak diragukan lagi.

Piko selalu mengatur jadwal Yuuma yang sangat padat dalam sebuah buku catatan khusus hingga si CEO tidak perlu merasa kerepotan dan efisiensi waktu tetap terjaga. Dia mencatat terlebih dahulu deadline laporan dan dokumen apa saja yang perlu ia (kadang juga Yuuma) kerjakan. Semua yang Piko lakukan selalu tertata dengan baik dan cermat. Karena itu dalam tugas mencarikan Yuuma calon istri pun, Piko juga ingin melaksanakannya dengan baik, rapi, dan cepat.

Sayang, pekerjaan kali ini tidak semudah bayangannya.

Sekedar informasi saja, mencarikan jodoh untuk Yuuma jauh lebih sulit daripada lulus dari tes IELTS—International English Language Testing System— modul Akademis dengan skor keseluruhan 7.

Melewati tes IELTS, mudah. Sebelum mengambil tes IELTS, kita bisa mengambil kursus atau bahkan IELTS Preparation. Bisa juga tanya-tanya dengan orang yang pernah melewati tes tersebut.

Mencari wanita yang 'ideal' untuk Yuuma, butuh wangsit dari dukun.


Pada hari sebelumnya, Yuuma sudah memerintahkan Piko untuk membuat iklan di sebuah surat kabar.

Awalnya Piko menolak mentah-mentah, tentu saja. Menurutnya, Yuuma terlalu ganteng untuk sampai mengiklankan diri di koran. Namun, seperti biasa, pemuda cantik itu dipaksa menurut dibawah ancaman potong gaji.

Jika Utatane Piko adalah Cinderella, maka Yukio Yuuma adalah manusia hina yang menjelma sebagai ibu tiri. Di saat-saat begini, dia sesuka hati memakai kelemahan Piko untuk membuat tunduk dan patuh. Tapi untuk urusan naik gaji, Yuuma bisa mendadak tuli.

Sebagai buruh yang terzalimi, Piko cuma bisa berdo'a dalam hati; semoga makhluk itu masuk neraka secepatnya. Oh, dan semoga pemerintah cepat-cepat menaikkan nilai UMR para buruh. Dia sudah lelah makan paket goceng tiap akhir bulan. Lelah.

Kembali lagi ke event cari jodoh Yuuma.

Di iklan tersebut, Yuuma menjabarkan kriteria istri idamannya. Mulai dari bagaimana penampilannya (yang pasti harus yang menarik!), masih perawan ting-ting atau sudah janda (perawan karena aku masih perjaka—"Tapi, kan, kamu sudah punya anak satu."), bagaimana personality-nya (harus yang baik dan sabar, karena dia akan mengurus Luka. Piko tidak berkomentar pada bagian ini), dan kemampuan dalam mengurus rumah tangga (pokoknya harus bisa masak, rajin, pintar bersih-bersih—"Kamu mau cari istri apa cari pembantu?").

Meskipun absurd, toh, iklan itu tetap terbit dan memenuhi satu halaman surat kabar. Entah berapa banyak uang yang Yuuma keluarkan untuk menyogok redaksi surat kabar supaya mau menerbitkan iklannya. Yah, namanya juga orang kaya. Mengeluarkan uang satu-dua juta demi kepuasan pribadi bukan masalah.

Pada Senin pagi, secara tak terduga, gedung VY Group Tower disesaki oleh para wanita yang ingin melamar menjadi istri Yuuma.

Adalah sebuah keajaiban iklan gagal cetak di koran tersebut ternyata benar-benar berfungsi seperti yang diharapkan. Para wanita cantik dengan body biola dan betis-betis feminin berdatangan sambil membawa CV dan surat-surat yang dibutuhkan. Bagaimana caranya mereka mengurus surat-surat itu dalam waktu singkat, Piko juga tidak mengerti.

Wajah wanita-wanita itu bersinar. Jutaan bintang berpendar di dalam mata mereka. CEO lajang yang desperate cari jodoh adalah jalan pintas merubah nasib.

Sayang, semua wanita itu langsung balik kanan bubar jalan sambil menangis pilu setelah ditolak mentah-mentah dengan dalih tak masuk kriteria wanita idaman si CEO sinting. Alasannya abstrak. Mulai dari; "Kau kurang cantik.", "Aku tidak suka model rambutmu.", "Betismu terlalu besar.", "Badanmu terlalu kurus.", sampai "Dadamu kurang besar."—dan sebuah tamparan mendarat di pipi mulus CEO itu.

Yuuma memang tidak sensitif. Memangnya kenapa kalau dadanya kurang besar? Kenapa? Kecantikan wanita, kan, tidak bergantung pada besar atau tidaknya dadanya. Mereka sudah berusaha, tapi kalau Tuhan sudah memberi ukurannya segitu, lantas mau apa lagi? Pasang silikon? Buang-buang harta.

Sekali lagi, mencarikan jodoh yang 'ideal' untuk Yuuma, butuh wangsit dari dukun.


"Sudah tidak ada yang daftar lagi, nih?" Yuuma bertanya tanpa dosa sambil mengabaikan kenyataan bahwa dia baru saja menolak 151 wanita sempurna yang langka dalam sekali lirik.

Piko tak menjawab pertanyaan Yuuma. Dia sedang memikirkan kelakuan Yuuma dan nasib pekerjaannya kali ini. Demi menyelamatkan dirinya dari jurang ketidakwarasan, dia ingin sekali berkelit dari tugasnya; mencarikan pasangan hidup untuk Yuuma. Tapi Piko berada pada posisi yang sulit.

Dia tak punya daya untuk menolak semua perintah Yuuma. Kalaupun bisa, Yuuma akan bertindak kurang ajar dengan langsung membalikkan posisi dan mengeluarkan pidana mati: POTONG GAJI. Semua ini jelas membuat Piko stres.

Dia menundukkan kepala, menyusun kembali kesabarannya ketika—

"Kalau tidak ada wanita yang cocok untukmu, kenapa tidak coba ubah pencarian saja?"

—bibir Piko refleks mengucap rentetan kalimat sakti.

Yuuma mengerjap, tanda tak mengerti. "Maksudnya ubah pencarian?"

"Cari laki-laki saja."

Yuuma membatu mendengar ucapan Piko. Dia baru tahu jika Utatane Piko, asistennya yang selalu berdedikasi dalam menjalankan pekerjaan, ternyata seorang abnormal yang sanggup menyuruh atasannya menikah dengan sesama jenis. Dunia pers bisa geger.

"Lagipula, jaman sekarang 'mama' itu universal." Piko melanjutkan dengan enteng. "Semua orang bisa jadi mama. Termasuk laki-la—ADUH! KENAPA AKU DISELEPET KARET?!"


"Jadi…."

"Jadi…?"

"Pada akhirnya kita kembali ke cara awal?"

"Habis mau bagaimana lagi? Mendekati setiap wanita yang pernah dekat denganmu adalah cara paling aman, mudah, dan efektif. Untuk saat ini."

Yuuma mengangguk. Setidaknya itu lebih baik ketimbang ide Piko yang sebelumnya. Mereka akhirnya kembali ke jalan yang benar.

"Jadi, kau punya saran, Piko?" Ujung-ujungnya, Yuuma tetap mengandalkan Piko.

Piko segera memeriksa buku catatannya. Matanya berjalan, menelusur setiap untaian kata yang ia tulis di atas kertas. "Sebenarnya ... aku punya dua orang yang bisa dipertimbangkan. Hanya saja ... yah, aku tidak tahu mereka akan bersedia jadi istrimu atau tidak."

"Siapa?"

Piko dengan sigap memperlihatkan isi catatannya pada Yuuma. Di sana tertulis dua nama yang sudah sangat tidak asing bagi mereka:

Aizawa Mayu & Yuzuki Yukari

Aizawa Mayu dan Yuzuki Yukari adalah dua orang rekan Yuuma di kelas 3 SMA dulu. Keduanya terkenal karena penampilannya yang begitu menarik. Masing-masing menonjol di bidangnya. Masing-masing memiliki rambut yang indah. Dan, yang paling penting, masing-masing dari mereka belum punya pacar.

Yukari dan Mayu memiliki wajah yang cantik dan feminin yang tidak dimiliki oleh sebagian besar teman-teman sekelas mereka. Wajar saja, mayoritas murid di kelas mereka—kelas 3-2, lebih tepatnya— adalah kaum laki-laki miskin cinta alias fakir asmara.

Jika dibuat perumpamaan, Mayu dan Yukari adalah dua kuntum bunga yang terjebak ditengah-tengah padang gersang. Atau kalau mau permisalan yang lebih frontal, mereka adalah mawar yang terjebak di antara kuman penyakit. Namun, di sinilah letak masalahnya.

Seperti kata orang; bunga mawar, meski penampilannya cantik, tapi punya duri terselubung yang siap menusuk jari siapapun yang berani menyentuh mereka. Sama halnya dengan Mayu dan Yukari. Memang benar, jika kedua orang itu cantik dan begitu menggoda. Tapi, mereka berdua juga terkenal begitu judes. Terutama Mayu. Saking judesnya, Yohio dan Leon—dua orang teman sekelas Yuuma— pernah saling berbisik menyusun konspirasi terselubung untuk membuat sebuah tanda peringatan berbunyi:

AWAS! MAYU/YUKARI GALAK!

Sayang, rencana mereka ketahuan oleh Yukari.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, HEH!"

"Maafkan kami, Yukari-kun/Yukari!"

"TIDAK AKAN! KEJAR MEREKA, KELINCI-KELINCIKU!"

Kemudian Yohio dan Leon lari menyelamatkan diri dari terjangan kelinci ganas peliharaan Yukari. Bagaimana Yukari bisa memanggil kelinci peliharaannya ke sekolah? Semua masih jadi misteri.

Ngomong-ngomong, yang pernah jadi korban keganasan duo makhluk cantik ini bukan cuma Yohio dan Leon saja, tapi hampir seluruh murid laki-laki di kelas 3-2. Mikuo pernah di tampar kaleng sarden oleh Yukari. Gumiya pernah ditendang di bagian 'yang-pasti-sakit-sekali' oleh Mayu.

Yuuma juga pernah jadi korban keberingasan salah satu personil duet maut ini. Spesifiknya, Mayu.

Sekali, Yuuma pernah iseng mendekati Mayu sambil berkata, "Hei, Mayu. Ikut Abang dangdutan, yuk!"

Tak lama setelah ajakan itu diutarakan, Yuuma segera dilarikan ke UGD lantaran kepalanya menjadi target pendaratan sebuah kursi yang dilempar oleh Mayu.

Benar, saudara-saudara. Inilah respon yang normal dan sehat di kalangan gadis cantik yang sedang pubertas:

1. Melempar orang pakai kursi, kaleng sarden, atau benda-benda berat yang membahayakan nyawa.

2. Mengejar orang dengan sekumpulan kelinci.

3. Menendang bagian paling vital milik seorang laki-laki sejati.

Jika ada gadis cantik yang sedang berada dalam masa pubertas tidak melakukan hal-hal di atas, maka dia butuh terapi.

Semuanya pun terasa masuk akal bagi Yuuma dan teman-teman seperjuangannya. Mayu dibesarkan oleh sekelompok mafia brutal. Sementara Yukari dibesarkan oleh sekawanan kelinci ganas haus darah.

Yuuma (dan seluruh anak laki-laki di kelas 3-2) pun membuat sebuah catatan mental:

JANGAN PERNAH MENJADIKAN MAYU/YUKARI SEBAGAI TARGET KEISENGAN JIKA MASIH SAYANG NYAWA!

Dengan semua catatan masa lalu (suram) itu, tentu saja Yuuma berpikir dua kali untuk mendekati dua orang (yang dianggapnya) berbahaya tersebut. Mengajak Mayu dangdutan saja Yuuma kena lemparan kursi, apalagi jika mengajaknya menikah? Yuuma bisa tewas seketika.

Namun, sekali lagi, rasa sayang terhadap Luka membuat semua kengerian yang berkecamuk di hati Yuuma gugur bak kelopak mawar di kebun tetangga sebelah.

Mengesampingkan segala resiko pahit yang membayang, Yuuma, akhirnya, memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan mendekati salah satu dari Mayu atau Yukari.

Semuanya cuma untuk Luka. Hanya untuk anak itu.

Untuk.

Luka.


TO BE CONTINUED


Preview next chapter:

"Kamu mau nikahin aku? Emoh—Nggak mau!"

Yuuma masih berjuang mencari jodoh. Piko masih setia menemani.

Tiga karakter baru akan muncul. Mayu, Yukari, dan—?

"Aku tiga kali juara lomba bikin ketupat sekecamatan."


Review is love.

sign,

devsky