Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.

Warning lack of humor. Kesamaan ide harap dimaklumi.


"Kalian mau apa kesini?"

Sesuai dengan keputusan, Yuuma dan Piko pun bertandang ke apartemen Mayu. Seperti yang diduga, kedua makhluk itu mendapat sambutan tak menyenangkan dari si gadis. Tatapan hostile, aura membunuh, lirikan judes, semuanya mengarah pada tamu tak diundang itu. Terutama pada Yuuma.

Mayu memang masih menyimpan dendam lama pada pria berambut merah muda itu. Lebih tepatnya, dia masih tersinggung diajak dangdutan oleh orang kurang waras seperti Yuuma. Iya, wajah ganteng memang tidak bisa menjadi tolak ukur kewarasan seseorang.

Jika metafora bisa membunuh, tentulah Yuuma sudah tewas menggelepar dengan kondisi mengenaskan.

Piko sendiri lebih memilih tutup mulut dan membiarkan Yuuma yang menyampaikan sendiri hajat besarnya. Dia cukup sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang monster berdarah dingin yang memakai topeng bidadari khayangan. Ia tak mau ambil resiko meregang nyawa. Jika Mayu mengamuk, biarlah Yuuma yang tewas duluan. Piko masih terlalu sayang nyawa.

Satu lagi bukti betapa durhakanya Piko.

"Aku ... ehm ... aku...," terlalu gugup, Yuuma kehilangan kontrol atas semua sistem sarafnya.

Mayu memutar bola mata. Merasa waktunya terlalu berharga untuk meladeni orang seperti Yuuma. "Kalau tidak ada perlu, lebih baik kalian pergi—"

"TUNGGU!" Yuuma akhirnya buka suara. "Aku ke sini untuk minta tolong padamu, Mayu!"

"Minta tolong apa?"

"Tolong, MENIKAHLAH DENGANKU!"

"..."

Mayu kaget dengan lamaran mendadak Yuuma. Siapa yang tidak kaget? Tidak ada angin, tidak ada kentut, tiba-tiba saja diajak nikah.

Jika Mayu adalah protagonis manga shoujo, mungkin dia akan menerima. Apalagi Yuuma sudah memenuhi kriteria karakter pria idaman. Ganteng dan kaya dan single. Tapi ini dunia nyata. Dan jangan lupa, Mayu masih punya dendam lama.

Yuuma menatap Mayu dengan dalam. Permata kuning menyelam setengah memohon pada kedua mata Mayu yang membelalak kaget, mencoba menebar harap. Namun mata Mayu berkata lain.

Sambitan sepatu menjadi jawaban dari permintaan sinting Yuuma.


Aku Mau Mama!

by devsky

{6/8}


Tidak mendapat respon yang diharapkan ketika menghampiri Mayu, tak lantas membuat Yuuma patah arang. Yuuma pun bergegas putar haluan dan mendatangi apartemen Yukari. Piko tetap setia mengikuti sang atasan dengan alasan loyalitas.

Ketika sampai di apartemen Yukari, mereka berdua bingung. Pasalnya, mereka tak pernah tahu di lantai berapa tepatnya apartemen Yukari berada. Mereka tidak mungkin mengetuk satu persatu pintu yang ada di apartemen itu karena, selain tidak efisien, mereka juga mempertimbangkan jumlah pintu yang kelewat banyak. Di tengah kebingungan, secara kebetulan, seseorang datang menghampiri mereka berdua.

"Loh? Yuuma dan Piko, 'kan? Sedang apa di sini?"

Yuuma dan Piko menoleh. Mata mereka melebar kala sosok seorang pemuda berambut pirang dan bermata darah masuk ke dalam saraf memori mereka.

Yuuma, orang yang pertama kali sadar dari kondisi shock, langsung menunjuk orang itu dengan binar memenuhi seluruh ruang di wajahnya. "KAU!"

Orang itu tersenyum lebar. Mawar kegembiraan berhamburan. Merasa tersanjung karena ada orang yang langsung mengenal—

"Kayak pernah lihat. Siapa, ya?"

Kembang-kembang di hati orang tersebut seketika dimakan hama. Layu kemudian rontok.

"Aku Yohio, Tadayuki Yohio. Temanmu waktu kelas 3 SMA."

Mata Yuuma memicing. Curiga. "Hio…?"

"Iya."

"Yakin kamu Hio?" tanya Yuuma sekali lagi, mengonfirmasi. Ingatannya tentang wajah teman-teman lamanya sudah mulai kabur.

"Yakin dong, masa' aku lupa sama namaku sendiri."

"Bukannya Yesung?"

"Bukan!" Yohio langsung mengelak kala dirinya disamakan dengan salah satu personil boyband yang namanya tengah meroket.

"Yesung kali, ah," Yuuma telak menulikan diri dari kalimat terakhir Yohio.

"Sudah kubilang bukan!"

"Ngaku, deh…."

Yohio mendesah lelah. Dengan pasrah, ia menjawab, "Oke. Aku Yesung."

"Kok nggak mirip, ya?"

"…"

Butuh segenap pengendalian diri bagi Yohio untuk tidak adu sundul dengan Yuuma.


Sekilas mengenai hubungan Yohio dan Yuuma, hubungan keduanya sebetulnya bukan sesuatu yang bisa dibilang sahabat dekat. Beda dengan Piko yang memang sudah dekat dan mengekor Yuuma ke mana-mana (meski kadang yang berlaku juga sebaliknya), Yohio dan Yuuma tidak lebih dari teman biasa. Keduanya hanya dekat karena satu kelas dan, secara kebetulan, Yohio duduk di depan Yuuma. Yohio juga adalah target pertama Yuuma ketika butuh pensil mekanik, penghapus, maupun alat tulis lain.

Jangan salah, meski Yohio anak laki-laki, tapi isi tempat pensilnya lengkap luar biasa. Mulai dari yang standar seperti pulpen, hingga gunting dan cutter. Yuuma bahkan pernah mendengar gosip bahwa tujuan Yohio ke sekolah adalah untuk jualan alat tulis, bukannya menuntut ilmu. Entah siapa yang mengembuskan gosip miring tersebut.

Yohio sendiri, secara tak terduga, punya kedekatan yang lumayan dengan Yukari karena mereka telah bertetangga sejak kecil.

Kata kunci: Tetangga Yukari.

Tetangga Yukari, artinya orang ini tahu yang mana apartemen Yukari. Atau lebih tepatnya, orang ini bisa menunjukkan di mana tepatnya Yukari tinggal. Atau lebih tepatnya lagi, Yuuma dan Piko tidak perlu capek-capek mengetuk satu persatu pintu yang ada di sini.

Detik itu juga, Yuuma dan Piko terbawa lamunan di mana, dalam lamunan mereka, Yohio terlihat seperti seorang malaikat. Lengkap dengan sepasang sayap putih, halo, dan semua aksesoris berbau malaikatwi lainnya.

"Oi? Yuuma? Piko? Kenapa jadi bengong?" Yohio bingung sendiri karena kedua makhluk di hadapannya tiba-tiba saja bengong setelah barusan basa-basi mengenai masa sekolah.

"Oi? Yuhuuuuuuuuu!" Yohio mengibaskan tangannya di depan wajah Yuuma dan Piko. Memberikan gestur 'halo' pada Piko, dan 'lay-bangun-lah-kau-lay' pada Yuuma. Keduanya tersadar dari lamunan.


"Ini dia apartemennya Yukari," ujar Yohio ketika mereka bertiga sampai di depan pintu bernomor 302. Seperti kebanyakan pintu yang berderet di gedung ini, pintu apartemen Yukari juga dicat dengan nuansa abu-abu terang. Hanya nomor yang tertera di pintunya saja yang membedakan dengan pintu apartemen milik orang lain. "Sepertinya hari ini dia sedang ada di rumah. Jadi, kalian bisa langsung bertemu dengannya."

"Kalau begitu, terima kasih, Hio-san. Maaf merepotkan," jawab Piko sopan, karena dia anak budiman.

Yohio mengibaskan sebelah tangannya dan tersenyum ramah. "Bukan masalah. Ngomong-ngomong, kalau aku boleh tahu, ada urusan apa kalian mencari Yukari?"

"Oh!" Plok, Yuuma menepuk tangannya. "Aku akan meminta Yukari untuk MENIKAH DENGANKU~"

Kesalahan terbesar yang diperbuat Yuuma adalah berkata jujur.

"... Kau apa?"

"Aku mau MENGAJAK Yukari-kun MENIKAH~"

"Ooh…. Mau mengajak Yukari nikah." Oohh….

Kemudian hening sejenak.

"APAA!" Yohio kaget. "KAU MAU MENGAJAK YUKARI MENIKAH?!"

"Eh? I-iya…. Tidak ada masalah dengan itu, 'kan?"

"Tidak ada masalah, katamu? Tentu saja masalah!"

Yuuma langsung sembunyi di belakang Piko. Terlalu kaget melihat perubahan sikap Yohio yang kelewat drastis. Satu detik lalu, pemuda pirang itu terlihat ramah serta bersahabat kepadanya dan Piko (dan mungkin juga kepada seluruh umat manusia di dunia). Namun, satu detik kemudian Yohio berubah menjadi pemimpin sekte aliran sesat yang percaya kiamat akan segera datang setelah mendengar Yuuma akan mengajak Yukari menikah.

"Dengar, ya, kau tidak boleh mengajak Yukari menikah! Aku sudah lama pdkt dengan dia! Tidak boleh ada yang menyentuh dia! Langkahi dulu mayatku, baru kau bisa mengajaknya menikah!"

Kata pdkt yang keluar dari mulut Yohio memberi Piko dan Yuuma pencerahan. Rupanya mantan teman sekelas Yuuma ini sudah lama naksir Yukari. Rupanya ajakan pulang bersama yang dulu kerap Yohio layangkan pada Yukari tidak sepenuhnya tulus. Rupanya ledekan yang dulu kerap Yohio layangkan pada Yukari terselubung modus. Oh, cinta masa muda yang buta.

"De-dengar dulu, Hio-san," meski ngeri setengah mati, Piko merasa harus turun tangan menengahi keadaan ini, "ini keadaan darurat. Yuuma butuh istri dan—"

"Aku tidak peduli!" Yohio malah makin menjadi. "Pokoknya, kalau kalian berani menyentuh—apalagi sampai melamar—Yukari-ku, aku pastikan saat pulang dari sini, kalian cuma tinggal nama!"

"Ada apa ini?"

Ketiga makhluk itu segera menoleh saat sebuah suara feminine yang halus merambat di udara hanya untuk mendapati sosok Yukari. Gadis itu tengah berdiri dengan wajah bingung di belakang pintu apartemen yang setengah membuka.

"Yukari-san!"

"Yukari-kun!"

"Yukari!" (Sayaaang~)

Yukari memutar bola mata saat melihat ketiga makhluk yang sangat tidak diharapkan kehadirannya berada di depan pintu apartemennya.

"Mau apa kalian ke sini?"

"Yukari-kun! Jadilah istriku! Menikahlah denganku!" Yuuma langsung berlari ke arah Yukari, mengajaknya menikah. Tak lupa memasang pose ala Fernando Jose, tokoh utama salah satu telenovela jadul. Dia berlutut dan memegang mesra telapak tangan Yukari; seolah menggamit tangan lawan jenis dengan pandangan seduktif bukanlah perbuatan di ambang batas kesusilaan yang mampu mengundang kontroversi agama.

Bermaksud tebar pesona, Yuuma pun menatap mata Yukari penuh arti. Dia tidak menyadari tatapan itu seperti orang yang kremian.

Niat Yukari yang ingin langsung melayangkan tinju pada Yuuma langsung mengambang di udara.

Yukari membatu. Efek ajakan menikah Yuuma yang tak terduga sama dengan tatapan Medusa. Bahkan kalau Yuuma mengaku dia telah membakar Utau Bersahaja beserta seluruh penghuninya hidup-hidup atau menghamili anak orang, dia takkan sekaget ini.

"Jangan diterima, Yukari!" Yohio dengan segera menghalangi. Tak rela idaman hati yang sudah ia incar bertahun-tahun direbut.

Ya iyalah, nggak rela! Bertahun-tahun dia jungkir-balik sampai tiarap demi mengejar cinta Yukari, sekarang tiba-tiba saja ada orang yang mau melamar sang pujaan hati. Ini bukan anime NTR dan Yohio juga bukan seorang masokis yang rela sang bidadari penakluk hati direbut begitu saja oleh orang lain.

Mau coba-coba mendekati Yukari? Langkahi dulu mayatnya!

Selanjutnya, bisa ditebak. Yuuma dan Yohio pun terlibat adu argumen—oke, mungkin lebih cocok dibilang konfrontasi. Karena adu argumen mereka melibatkan sambitan sepatu, acungan jari yang tidak baik, sampai sederet kalimat yang lebih kotor dari kali Jakarta. Saat ini, Yukari memegang peran sebagai objek sengketa.

"Yukari harus jadi istriku!"

"Oh ... tidak bisa! Dia itu calon istriku! Lagipula, yang ngantri cintanya dia, 'kan, aku duluan."

"Baru calon, 'kan? Berarti belum pasti." Yuuma berorasi dengan penuh semangat. "Jaman sekarang semua orang nggak butuh harapan palsu. Mereka butuh yang pasti-pasti. Dan aku membawa kepastian!" Ini adalah ucapan seseorang yang sering menebar janji manis kepada para bawahannya yang menuntut naik gaji demi perbaikan kesejahteraan dengan satu kata; "Nanti."

Ya. Kita bisa lihat kepastian macam apa yang Yuuma maksud di sini. Sungguh.

"Pasti!" Yohio tak mau kalah. "Aku pasti akan menjadikan Yukari sebagai istriku dan dia juga pasti mau jadi istriku!"

Yukari yang melihat perdebatan dua lelaki bujang berhati hampa dan kesepian itu pun langsung naik pitam. Selain karena dia tidak suka dijadikan objek rebutan, keributan yang Yuuma dan Yohio buat juga membuat kepalanya sakit.

Apa-apaan dua orang itu? Sudah datang tak diundang, secara sepihak menjadikannya barang lelang, bikin keributan pula.

Yuuma dan Yohio benar-benar cari mati.

"DIAM KALIAN BERDUA!"

Luar biasa. Kedua lelaki yang sedang cekcok rumah tangga itu pun seketika menutup mulutnya. Suara Yukari begitu menggelegar hingga membuat Piko refleks tiarap sambil menutup telinga. Bahkan Len, teman sekelas Luka yang tinggal di lantai atas dan sedang duduk santai sambil makan pisang, pun ikut tersedak.

"Dengar baik-baik," kata Yukari geram. "Yang pertama, aku tidak pernah berpikir untuk menjadi calon istri dari siapapun. Jadi, ya, aku dengan tegas menolak tawaranmu, Yuuma."

Yohio menari-nari bahagia, sedangkan Yuuma langsung duduk di pojok koridor sambil menggambar lingkaran tak berujung. Dia ditolak untuk ketiga kalinya. Oh, apa ini karma karena Yuuma sering meledek Gumiya sebagai jomblo nista?

"Dan yang kedua," Yukari melanjutkan, "segera pergi dari hadapanku dalam tiga detik!"

"Tapi, Yukari-kun—"

"Satu!" Yukari mulai menghitung.

"Tu-tunggu sebentar! Dengarkan aku—"

"Dua!"

"PERGI!"

Tak mau dianggap penyebab kekisruhan, dengan sangat terpaksa, Yuuma dan Piko pun balik kanan. Bubar.


Setelah saingan cintanya (baca: Yuuma) pergi, Yohio mendesah lega. Dia bilang pada Yukari bahwa tindakannya sangat bagus dan sama sekali tak digubris Yukari. Merasa tak dipedulikan, Yohio bertanya apakah dia punya salah. Yukari merespon dan balik bertanya, mau apa Yohio masih di sini dan bukan mengurus pacar barunya dengan nada dan tingkat kejudesan yang tak kalah dari abg labil yang sedang PMS.

"Pacar? Pacar apa?" Yohio bingung. Seingatnya dia tak punya pacar. Ehem, maksudnya belum. Karena sampai sekarang dia belum jadian sama Yukari dan masih menunggu si gadis ungu menerima cintanya. Ah, penantian yang begitu manis.

"Jangan bohong!" Tatapan Yukari seperti menuduh. "Dua hari yang lalu aku lihat kok, kamu jalan sama perempuan. Rambutnya pirang panjang, bawa belanjaan. Malam-malam pula."

Yohio terdiam. Mengingat. Kemudian dia terbahak.

Yukari bertanya, apa yang lucu. Yohio menjelaskan jika gadis rambut pirang yang terlihat bersamanya adalah Aria yang tak lain dan tak bukan adalah mantan teman sepanti Yuuma dan Piko.

Sayang, Yohio tak sadar penjelasannya malah membuat situasi selanjutnya makin runyam.

"Malam itu aku tak sengaja menabrak dia yang baru keluar dari supermarket. Karena barang belanjaannya jatuh semua, aku bantu dia membawakannya."

Yohio memang tidak mengatakan semuanya dan menyimpan beberapa detil yang bersifat personal untuk dirinya sendiri. Tapi, dia juga tidak sepenuhnya berbohong.

(yang sebenarnya terjadi malam itu)

—BRAK!—

"ADUH!" Seorang gadis jatuh tertabrak Yohio.

"Maaf, maaf…." Ternyata maaf Yohio tidak cukup mengobati luka tergores aspal di tangan kiri gadis itu. Darah keluar dari siku.

"LIAT-LIAT DONG, KALO JALAN! KAN SAKIT!"

"Aduh maaf ya, maaf…." Yohio membantu perempuan itu berdiri. Postur wanita itu sedang. Berambut pirang-platinum panjang. "Bisa jalan, 'kan? Kita duduk di bangku situ, yuk. Biar aku carikan obat."

Yohio membantu membawakan semua barang belanjaan gadis itu dan membiarkannya duduk di bangku taman panjang dekat supermarket. Yohio memeriksa luka perempuan itu yang ternyata tidak terlalu dalam, kemudian bergegas mencarikan alkohol dan perban.

Sepuluh menit kemudian, setelah menggencet, membentak, dan memaksa seorang anak tetangga yang kebetulan lewat untuk mencarikan alkohol dan perban (jangan salah, begini-begini Yohio juga punya naluri preman), dia kembali menghampiri gadis tadi dan merawat lukanya.

"Tadayuki. Tadayuki Yohio." Dia mengenalkan diri setelah selesai mengobati. Berawal menolong, lalu dilanjutkan ke tahap perkenalan. Modus terselubung.

"Aria."

"Kok aku baru kali ini lihat kamu, ya?" Yohio tak kuasa mencari logika bagaimana makhluk secantik Aria bisa tak pernah terlihat olehnya.

"Eng…. Karena aku tinggal cukup jauh dari sini, mungkin?"

"Memangnya tinggal di mana?"

"Panti asuhan Utau Bersahaja."

Yohio ingat pernah punya teman yang juga berasal dari sana. "Loh, berarti ... kenal dengan Yuuma dan Piko juga?"

Anggukan kepala. "Sebenarnya, kami teman baik. Mereka juga pernah tinggal di sana soalnya."

"Ah, begitu. Udah lama kenal sama Yuuma?" Sifat salah tingkah Yohio sukses membuat harga dirinya turun.

"Lumayan, ya. Tadi, 'kan, aku udah bilang kami pernah tinggal di sana sama-sama," ujar Aria.

"Oh, iya. Maaf aku kelihatan bodoh. Nggak setiap hari aku nabrak perempuan cantik, ngelukain dia, dan duduk sambil ngobrol bareng di bangku taman. Maaf."

Aria tersenyum. "Iya, bukan masalah. Asal jangan dijadikan kebiasaan."

Ada jeda pergantian topik.

Aria memperhatikan perban yang secara aneh terpasang rapi di tangannya. "Rapi banget perbannya. Waktu sekolah pernah ikut PMR, ya?"

"Oh, nggak. Waktu kecil sering bantu Mama bungkus ketupat."

"Rapi."

"Aku tiga kali juara lomba buat ketupat sekecamatan."

"..."

(flashback selesai)

"Lalu?" Yukari bertanya.

"Setelah itu, ya aku mengantarkan Aria pulang."

Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.

"Enak ya jadi Aria. Bisa diantar pulang malam-malam sama kamu. Padahal, 'kan, dia bukan pacar kamu."

Yohio garuk-garuk kepala. Baiklah, dia mengerti maksud omongan Yukari. Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dengan mampu pulang larut malam melewati gang-gang gelap penuh preman, maling, dan pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar, atau diculik mafia jahat penjual organ dalam.

"Dia tinggal di Utau Bersahaja, Yukari."

"Lalu?"

"Jalanan daerah sana nggak aman."

"Suruh dia pindah tempat tinggal, dong. Biar kamu nggak perlu anter-anter," ujar Yukari.

Yohio makin garuk-garuk kepala. Tidak tahukah Yukari bahwa mencari tempat tinggal di jaman sekarang itu sulit? Kalaupun dapat, harga sewa apartemen/kontrakan/kos mahal. Belum ditambah biaya hidup dan transport. Memang tidak perlu sampai jual ginjal, tapi cukup untuk bikin pening.

"Kenapa sih kamu mesti cemburu, Yukari?"

"Cemburu?" Yukari menatap Yohio dengan tidak percaya. "Jangan ge-er kamu! Aku nggak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah aku terlihat seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurutmu aku ini cemburuan? Nggak!"

Kemudian Yukari membanting pintu tepat di depan wajah Yohio.


Yuuma dan Piko baru berhenti berjalan ketika sadar kaki mereka membawa ke sebuah taman. Mereka pun duduk di sana sambil mengejar napas. Sinar senja yang mirip lelehan emas menyinari keduanya. Peluh yang mengalir di kening jadi terlihat seperti kristal yang berkilau.

Keduanya menatap matahari tenggelam. Keduanya terdiam. Keduanya merenung. Gagak berkoak nyaring.

"Piko."

"Hmm?"

"Apa kaupikir aku bisa menemukan 'mama' yang pas untuk Luka kalau begini caranya?"

"Tidak."

Hening.

"Yuuma."

"Hmm?"

"Apa menurutmu, akan ada orang yang bersedia jadi 'mama' untuk Luka jika kau mencarinya dengan cara begini?"

"Kupikir tidak."

"Aku rasa juga begitu."

Mereka kembali terdiam.

"Jadi," Piko menekuk lutut dan memeluknya, "apa kau sudah menyerah?"

Yuuma terdiam.

Menyerah, ya?

Setelah melewati beragam kejadian saat pencarian berlangsung (baik yang wajar sampai yang paling absurd), di dalam hati Yuuma telah tumbuh keinginan untuk menyerah. Dia ingin sekali menyerah, sungguh.

Maksudnya, mengencani teman lama yang perangainya tak bisa ia mengerti kemudian ditolak mentah-mentah, mengiklankan diri di koran, mempertaruhkan nyawa mengunjungi dua orang paling berbahaya yang bisa membunuhnya dalam sekali kedipan mata (dan dua-duanya berujung pada penolakan pahit) demi mengabulkan permintaan anak angkatnya. Apa semua itu pantas?

Saat ini, Yuuma ingin sekali berteriak, penolakan itu pedih, Jendral!

(Di waktu yang sama, di sisi kota yang lain, Gumiya juga ingin berteriak, jadi jomblo jauh lebih pedih, Masbro!)

Yuuma menghela napas. Yah, sepertinya Luka tak akan apa-apa jika keinginannya kali ini tak dapat ia penuhi. Toh, Yuuma juga sudah berusaha dengan segenap jiwa.

Yuuma menghela napas, membulatkan tekad untuk menyerah. Dia menoleh untuk memberitahu sang asisten. Ketika mulutnya membuka siap mengucapkan rentetan kalimat tanda menyerah, dia kembali menutup mulut. Telak terpaku menatap si asisten yang duduk memeluk lutut di sampingnya.

Piko menatap matahari yang mulai terbenam. Kelereng dwi warnanya terciprat warna senja. Oranye yang bercampur kuning dan merah menyepuh rambutnya yang lurus dan jatuh sampai bahu, membuat gradasi putih pada pigmen dalam rambutnya jadi sedikit asing namun menarik.

Alis Yuuma naik satu bersamaan dengan munculnya sebuah senyum konspirasi dan bohlam hemat energi di atas kepala.

Aha! Yuuma punya ide.


Preview Next Chapter:

Berita besar itu akhirnya tiba.

"Papa sudah nemu calon Mama buat kamu, nih. Kamu senang, 'kan?"

Luka bahagia. Seluruh teman lama Yuuma geger luar biasa.

"Jodohku, dimana kau beradaaa?"

Piko? Dia patah hati dan impor diri ke luar negeri.

"—Sebentar, yang terakhir itu fitnah!"