Part2 , logika memang menyakitkan, tapi kau tidak bisa hidup hanya dengan imajinasi.
Prim ingin menolong Peeta. Tapi, bagaimana kalau ia menduga hal yang salah? Bagaimana kalau Peeta hanya menggunakan obat biasa atau malah suplemen kesehatan? Insting penyembuhnya ingin secepatnya menghentikan Peeta. Tapi dia masih manusia yang bisa merasakan malu, iya kan?
Belum lagi, jantungnya selalu berdegup kencang, lebih kencang dari detak jantung normal saat bicara dengan Peeta.
Entah kenapa, kapan, dimana, bagaimana.
Terdengar aneh saat Prim memikirkan bahwa itu cinta. Terasa aneh saat diingat lagi, bahwa Peeta mencintai Katniss. Kakak perempuannya sendiri.
Ia tahu Katniss tidak pernah mencintai Peeta. Tapi terkadang Katniss mengharapkan Peeta di sisinya.
Sulit.
Terlalu rumit.
Prim hanya remaja tiga belas tahun.
Yang jatuh cinta pada pria yang mencintai kakaknya. Pria yang benar-benar menyukai, cinta setengah mati pada Katniss.
Dia agak merasa bersalah saat memikirkan tentang aku-jatuh-cinta-pada-Peeta.
Dan Peeta, pria itu sedang dalam masalah.
Sepertinya sedang dalam masalah.
...
Desa Pemenang sepi seperti biasa. Seperti kamp konsentrasi. Kami seperti orang-orang yang terisolasi.
Mewah dan tanpa kebahagiaan.
Hidup tanpa masalah.
Cerita tanpa inti.
Seakan-akan ketidakadaan masalah itulah yang menjadi masalah bagi kami. Para pemenang. Yang membohongi diri sendiri.
Aku dengan alkohol. Katniss dengan panah dan perangkap. Peeta dengan cat dan kanvas.
Anak-anak itu. Terkadang aku berharap mereka mati.
Ada saat dimana gagal, berarti menang. Dan hal itulah yang kupelajari dari Hunger Games.
Tapi keegoisanku mengatakan adanya harapan.
Dari anak-anak itu.
Peeta dengan kata-katanya.
Katniss dengan dirinya sendiri.
Tanpa sadar aku mengacaukan hidup anak-anak itu. Yang bahkan tidak tahu-menahu tentang hidup.
Aku egois dan kejam.
Di sisi lain aku juga tidak ingin melihat ada anak-anak lagi yang mati. Tidak ingin mengulangi kesalahanku.
Aku yang berkedok alkohol dan air liur, selalu membiarkan anak-anak mati.
Bahkan aku tidak tahu itu salah atau benar.
Otakku sudah penuh dengan alkohol.
Aku sudah gila.
Benar-benar kehilangan akal sehat...
... Karena aku, setiap kali melihat gadis itu...
... Aku melihat Maysilee.
Sulit untuk dipercaya bahwa aku masih merindukan Maysilee. Wanita itu. Yang sesaat membuatku melupakan kekasihku sendiri.
Yang menjadi rekanku untuk beberapa minggu.
Waktu yang sangat singkat. Tapi aku merindukannya lebih dari kekasihku sendiri.
Seandainya saja dia pergi.
Dia bisa kembali, kan?
Mungkin dengan sifatnya yang seperti itu dia tidak akan menikah.
Setidaknya aku tahu dia mencintaiku. Dulu.
Tapi logikaku selalu mengulangi kalimat itu.
Maysilee sudah mati.
...
Katniss menatapi makam ayahnya. Makam ayah Gale. Juga makam Gale. Berurutan.
Mengenang ketiga pria itu. Katniss memang tidak mengenal ayah Gale. Tapi ia tahu sifat-sifatnya dari Gale. Yang sekarang tidak akan pernah lagi ditemuinya.
Kecelakaan tambang itu merengut sahabatnya, sama seperti saat peristiwa itu dulu membunuh ayahnya dan ayah Gale.
Sulit dipercaya bahwa waktu itu Gale sudah selamat. Katniss sudah menggenggam tangannya. Gale sudah berada di atas tanah.
Tapi tambang sialan itu masih saja meledak. Menghancurkan tubuh Gale. Di depan mata Katniss.
Ia melihat bagaimana tubuh kekar itu hancur. Bagaiman potongan tubuhnya terpisah. Katniss menyaksikan semuanya.
Potongan tubuh Gale, ayahku, dan ayahnya yang telah ditemukan dikubur di sini. Di bawah pohon dimana Mockingjay biasa bernyanyi.
Di bawah pohon dimana Mockingjay biasa bernyanyi.
Tempat paling damai di Panem.
Beristirahat di pohon dimana Mockingjay dengan kerelaan hati membuka mulutnya. Menciptakan rangkaian melodi dengan arti tersirat. Tempat yang indah. Tempat yang indah untuk mati…
Cukup.
Katniss tidak akan membiarkan dirinya melanjutkan hal ini lagi. Mereka sudah pergi. Sekeras apapun, sesedih apapun ia menangis, mayat tidak akan pernah bangkit dari kubur.
Ia berusaha bediri, meregangkan tubuhnya, memandangi makam itu sekali lagi.
Lama...
Mengingatkan Katniss pada ciuman Gale...
"Katniss, kau baik-baik saja?" Gale memandangi Katniss. Memandang mata seamnya. Rambut seamnya. Bibirnya…
"Tidak… Tidak apa-apa," jawaban Katniss menggantung di udara. Gale, juga Katniss, mereka sama-sama tahu apa yang akan terjadi. Yang mereka sama-sama ingini sejak lama.
Cepat atau lambat mereka akan melakukan ini. Hal ini. Menggapai bibir masing-masing. Saling mengikat. Merasakan bibir satu sama lain.
Menarik, melepaskan dengan lembut. Membiarkan gelombang listrik statis yang mengalir di tubuh mereka. Menggapai-gapai. Sama-sama tidak ingin melepas. Emosi yang menyebar, hangat, rumit. Katniss menarik nafas. Lalu melanjutkan ciumannya lagi.
Gale membiarkan tangan kananya menyentuh lembut pipi Katniss. Sementara tangan kirinya memeluk erat pinggang Katniss.
Merasakan kehangatan masing-masing…
Ada sesuatu yang menarik Katniss. Dari ingatan itu. Dari tubuhnya sendiri.
Terlempar keluar.
Ia bisa melihat tubuhnya masih di tempat yang sama. Berdiri tegap. Dan menoleh ke arahnya.
Wajah itu menyeringai. "Terimakasih, Katniss." Tawa itu, bukan tawa Katniss.
Katniss bingung, sekarang raganya melayang-layang. Mengikuti tubuhnya yang sedang lari. Bibir itu mengeluarkan tawa kejam, menyeramkan. Melengking tajam.
Membuat para Mockingjay terdiam. Menghentikan nyanyian mereka. Tubuhnya melesat begitu cepat. Bahkan Katniss sendiri tidak yakin ia bisa berlari secepat itu.
Ia bertanya-tanya, apakah ini mimpi? Tapi perasaan ini begitu nyata. Bagaimana gravitasi tidak menghalangi pergerakannya? Tunggu. Bukan. Katniss tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa merasakan tangannya. Ia sama seperti angin.
Katniss mulai panik. Ia tidak bisa menemukan kakinya, rambutnya. Iya mencoba menenangkan diri. Menarik nafas…
Tapi Katniss juga tidak bisa melakukannya. Ia tidak memiliki wujud. Ia tidak memiliki bentuk. Ia sama transparannya dengan udara.
Tidak. Katniss tidak bisa begini. Ia hidup.
Tuggu, ada ranting pohon lima meter di depannya. Ia akan menggapainya. Membuktikan bahwa ia masih punya wujud. Ia manusia.
Ia bergerak semakin cepat. Ia akan menggapai ranting itu ia akan menggapainya.
Tubuh itu berlari semakin cepat. Katniss tidak bisa mengendalikannya lagi. Ia akan menabrak ranting pohon itu. Ia menutup matanya pasrah.
Katniss mencoba merasakan kelopak matanya. Tapi hasilnya nihil. Ia tetap melihat segalanya dengan jelas.
Katniss menatap ranting itu. Dan anehnya sedetik kemudian ia melewatinya. Begitu saja.
Katniss bisa menembus benda? Tidak mungkin.
Tubuh itu melewati pagar. Mempercepat larinya. Menabrak berbagai macam benda. Bahkan anak-anak.
Katniss bisa mendengar omelan warga. Orang-orang yang memarahinya. Anak-anak bodoh yang menertawakannya.
Ada yang mengatainya gila. Tubuh itu menoleh sedikit saat mendengar ledekan itu. Tersenyum sinis.
Tubuh itu memutar arah, menuju seorang pria yang tadi mengatainya gila. Menerjang pria tua itu sampai terjatuh.
Tubuh itu mengamuk. Melemparkan benda apapun yang dilihatnya kepada pria itu. Memukulnya membantingnya. Melakukan hal apapun untuk menyakiti Pria itu.
Tubuh pria itu berdarah-darah. Pria itu berteriak minta tolong. Tapi tidak ada seorang pun yang berani menolong.
Setelah puas, tubuh itu menyentuh darah yang mengalir dari kepala si pria tua. Memandanginya, lalu menjilatnya. Tubuh itu memejamkan matanya.
Lalu tawanya saat di hutan muncul. Lantang dan mengerikan. Katniss mendengar ada anak kecil menangis. Sementara ia tidak bisa melakukan apapun.
Padahal itu adalah tubuhnya.
TBC
