Katniss terengah-engah, terbangun dari mimpi buruknya. Mimpinya aneh. Jiwanya terlempar keluar dari tubuhnya sendiri, sementara dirinya kebingungan, tubuhnya memukuli seorang pria tua dengan brutal.

Lebih anehnya lagi, kali ini Katniss bisa mengingat mimpinya. Bukan hanya sepotong-sepotong tapi keseluruhan mimpinya yang semalam. "Tentu saja kau mengingatnya, sayang." Suara itu… Tawa mengerikan itu… "Karena itu bukan mimpi." Persis.

Part 3

"Siapa kau?" Hal ini semakin aneh. Suara itu mengatakan kejadian itu bukan mimpi. Lalu apa? "Siapa kau? Kau pikir kau sedang bicara dengan hantu?" Sosok yang tadinya hanya berupa suara itu mulai jelas. "Lalu, kau ini apa?" Semakin jelas, membentuk sebuah tubuh yang... sangat manusiawi, nyata, konkret, bahkan cantik. Memiliki wujud-

Seorang gadis.

Katniss agak ragu dengan makhluk yang ada di depannya. Dengan apa yang dilihatnya, atau mungkin otaknya yang sedang menciptakan sebuah kebohongan lain.

Gadis itu berambut pirang, dibelah menjadi dua lalu dikepang, seperti Prim, seperti ibunya dulu ketika difoto bersama ayahnya. Matanya biru, bibirnya penuh. Ujung hidungnya yang mancung kemerahan. Wajah yang cantik, dan pasti anak kota.

Tapi, dari mana dia datang? "Dari mana aku datang, ya?" Dia bisa membaca pikiranku? "Kau...kau," apa kata yang tepat untuk diucapkan?

"Kau pasti berfikir kalau itu adalah mimpi, kan?" Katniss mengangguk mengiyakan, pandangannya mengikuti langkah gadis itu. Tunggu dulu, bukannya ini rumah Haymitch? "Lalu kalau itu hanya mimpi, bagaimana caramu menjelaskan posisimu, sayang?" Dia duduk dilantai. "Oh, maafkan aku. Maksudku apa yang terjadi dengan tangan dan kakimu." Dengan tangan dan kaki terikat dengan rantai. Rantai! "Nah, itu dia yang kumaksud. Kenapa tangan dan kakimu dirantai, juga kenapa kau duduk dilantai rumah si sampah." Satu hal yang muncul ke permukaan-yang sebetulnya ingin ia tolak.

Ini bukan mimpi. Mimpinya itu nyata.

"Maksudmu sampah, Haymitch?" yah, tidak salah juga kalau dia menyebut rumah ini-tunggu, bukan rumah ini tapi pemiliknya. Dia mengenalnya, Haymitch. Lagi-lagi benaknya bertanya-tanya, siapa gadis ini? Ia menggerakan kakinya mencoba berdiri. Tidak mampu. Sesuatu mengikat kaki-kakinya dengan erat. Tentu saja rantai itu. Semabuk-mabuknya Haymitch, dia tidak akan pernah mengikat Katniss seperti ini!

Dirinya butuh penjelasan. Secepatnya.

Bukan oleh gadis pirang yang sekarang sedang menatapnya dengan tersenyum liar penuh arti itu, tentu saja.

Cahaya matahari entah masuk darimana. Pintu. Terbuka.

Gadis itu menghilang.

Seorang pria pirang masuk, sementara gadis yang dirantai itu berharap pria tersebut membawa botol minuman beralkohol. Agar ia bisa meminta penjelasan, dan sejujurnya ia tidak ingin pria pirang lain mengetahui hal ini. Namun yang masuk tidak membawa apapun. Hanya berjalan menujunya, lambat namun pasti. Sedikit demi sedikit wajahnya semakin terlihat. Wajah lesu. Bukan wajah lesu Haymitch.

Tapi Peeta-si pria pirang lain.

"Hai," sapanya lembut. Kini pria itu semakin dekat dengannya, duduk di hadapannya. Tersenyum sendu. Katniss tidak mampu menjawab. Ia hanya menatap Peeta yang terlihat seperti bayangan dari masa lalu. Sesuatu yang tadinya bersama-sama. Sama namun berbeda. Menyelusuri setiap jengkal kehidupannya, namun matanya menangkap sesuatu yang lain, tangan Peeta. Berdarah. Diam-diam Katniss berharap bukan dirinya yang menyebabkan hal itu.

Akhirnya gadis bermata kelabu tersebut berhasil menemukan suaranya, "Peeta, tanganmu…"

Peeta menatap tangannya lalu meringis kecil, seakan-akan tadinya ia tidak menyadari bahwa tangannya terluka. "Bukan apa-apa." Lalu ia hendak membuka mulutnya, namun ragu-ragu sehingga menutupnya kembali. Biasanya Peeta sangat pandai berbicara. "Kenapa aku di sini?" Peeta samasekali tidak terlihat terkejut dengan pertanyaan Katniss, seperti memang ia ingin mendengar pertanyaan itu. Ia datang kesini untuk itu. "Haymitch membawamu ke sini," ia menatap Katniss, "dia bilang kau mengamuk."

Ia diam.

"Kami berdua sudah mendiskusikan hal ini, kau tahu. Mungkin penjaga perdamaian akan memakluminya, lagipula kakek itu masih hidup. Maksudku, menurut Haymitch semua pemenang sering mengalami halusinasi setelah Hunger Games. Mereka mengatasinya dengan cara yang berbeda-beda. Dan, yah, Haymitch pikir kau sudah melewati masa-masa itu. Tapi tenang saja, Katniss. Kau akan melewatinya." Peeta meyakinkannya, meletakkan kedua telapak tangannya ke wajah Katniss. Membingkainya dengan hangat. Katniss menggeleng.

"Rantai."

"Oh, soal itu. Kita tunggu sebentar lagi, oke?" ia mengelus rambut Katniss. Sentuhan masa lalu.

"Peeta, yang waktu itu bukan halusinasi. Aku melihatnya sendiri. Yang mengamuk itu bukan aku, sesuatu yang mengendalikan tubuhku. Itu bukan aku. Orang lain. Pada waktu itu aku hanya seperti angin, tanpa wujud, dan aku tidak bisa mencegahnya! Ini bukan halusinasi pemenang atau apapun itu namanya. Ini betulan terjadi… Peeta.." Katniss menyadari hal itu, Peeta tidak mempercayainya. Pria itu hanya menatapnya dengan sedih. Sangat sedih.

"Aku," ia menggeleng kecil, "aku akan bicara pada Haymitch sebentar." Ia berdiri, "aku akan kembali."

"Percayalah padaku, Peeta." Pria itu kelihatannya akan menangis, namun ia mengangguk. Meninggalkan wanitanya sendirian.