Hari itu, SD Crypton dikejutkan oleh sebuah undangan pernikahan yang dibawa oleh Megurine Luka.

Undangan itu berwarna pink lembut dengan cetak gambar merpati putih di beberapa sisi. Seperti undangan pernikahan pada umumnya, di sampul benda itu terukir dengan indah dan jelas nama dua orang yang tengah menunggu saat-saat bahagia.

Yukio Yuuma

Cathrine

"Wah! Pantas kau daritadi senyum-senyum terus, Megurine. Ternyata papamu mau nikah," ledek Kasane Teto ketika bocah berambut merah muda itu lewat di depannya.

Luka hanya tersenyum grogi sambil berhe-he-he ria. Rona mawar menyebar di kedua pipinya.

Ya, saudara-saudara. Setelah mendaki gunung tinggi, melewati lembah terjal berbatu, serta menaklukkan beragam cobaan pedih nan menyayat hati, tokoh utama kita, Yukio Yuuma, AKHIRNYA menemukan orang yang mau diajak naik pelaminan. Tepuk tangan.

Luka senang bukan main saat papanya, beberapa malam lalu, memberi pernyataan eksklusif mengenai berita besar ini. Privat. Hanya melibatkan dua orang. Yuuma dan Luka. Di ruang tamu.

"Nak," Yuuma berucap dengan nada yang dibuat tenang dan kebapakan, "Papa sudah nemu calon Mama buat kamu, nih. Kamu senang, 'kan?"

"Oh, ya?" Mata Luka dipenuhi bintang. "Terus, terus?"

"Rencananya sih, mau segera Papa lamar dan bawa ke MUI biar halal."

"MUI? KUA kali, Pa." Rupanya Luka lebih gaul dari Yuuma.

Luka senang bukan kepalang. Akhirnya kesampaian juga impiannya punya mama. Papa Yuuma pengertian banget sampai bela-belain mencari sosok mama buatnya. Pokoknya, Papa Yuuma is the best, deh! Luka bahagia punya papa seperti Yuuma.

"Tapi," Len mengeryit melihat undangan yang sejak tadi dibawa-bawa oleh anak perempuan itu, "Catherine itu siapa?"

Hening.

Semua orang di ruangan itu terdiam. Mata mereka berkedip bingung, kemudian menoleh pada Luka dalam satu ketukan.

"Luka-chan," Rin adalah anak pertama yang bicara. "Catherine yang mau jadi mama kamu ini ... siapa, ya?"

Miku ikut mengangguk. "Uhn…. Dari namanya, sepertinya bukan orang Jepang. Warga negara asing? Bule?"

"Aku juga tidak tahu." Luka menjawab kalem.

Oke. Jawaban Luka terdengar tidak benar di telinga.

"Sebentar," Len berusaha mengonfirmasi. "Jadi kau masih tidak tahu siapa yang akan jadi mama barumu?"

Luka menggeleng inosen.

Semua anak sweatdropped. Apakah Luka sudah mendengar nasihat orang tua jaman dulu; kenali bibit, bebet, dan bobotnya dulu sebelum memilih? Lagi, bukankah sudah sewajarnya jika Luka mengetahui rupa calon ibunya dan menaruh curiga ketika ayahnya tak kunjung memberitahu? Sebanyak apakah kepercayaan Luka terhadap Yuuma? Sekali lagi, tidak ada yang tahu. Anak-anak di sana juga tidak ada yang mau memberitahu Luka, ngeri merusak mood-nya.

Setiap anak tahu siapa Megurine Luka. Dari luar, dia mungkin terlihat manis. Tapi jika ada seorang anak berani bicara macam-macam tentang ayah angkatnya, dia bisa jadi lebih beringas dibanding preman pasar. Len pernah menderita luka cakar di pipi ketika mengatai wajah ayah angkat Luka mirip bintang fap-fap.

Dengan pertimbangan itu, akhirnya anak-anak pun sepakat untuk bungkam dan tidak bertanya macam-macam.

Tidak ada yang ingin mendapati loker sepatunya secara misterius dipenuhi ular sanca dan tarantula raksasa ketika pulang nanti.


Aku Mau Mama!

by devsky

{7/8}


Seperti api, berita pernikahan Yuuma merambat dengan sangat cepat. Beberapa orang yang mendengar, seperti Akaito dan Kaito, awalnya menganggap itu cuma kabar burung. Entah burung siapa yang menyebar berita ngaco tersebut.

Di tahap ini, Akaito hampir saja membunuh semua burung yang lewat di atas langit Utau Bersahaja dengan melempari mereka pakai biji ketapel. Tujuannya mulia: agar mereka tak sembarangan menyebar berita. Untungnya, sebelum semua burung menjadi musnah, Dell cepat-cepat menyita ketapel Akaito dan melenyapkannya. Di pikiran Dell, apabila spesies burung punah, maka efeknya akan sangat dahsyat. Jauh lebih dahsyat dari kenaikan harga minyak yang sempat membuat warga dunia geger.

"Jika tidak ada burung, rantai makanan akan terganggu. Hewan-hewan predator akan menjadi semakin buas lalu bermutasi dan memburu para manusia! Kamu mau tanggung jawab atas musnahnya umat manusia?!"

"Kamu kebanyakan nonton film buatan Hollywood!" Akaito menjawab setelah Dell membeberkan pemikirannya yang panjang dikali tinggi sama dengan lebar itu.

Lagipula, Akaito tidak melihat ada tanda-tanda manusia akan punah dalam waktu dekat. Kalau jumlah penduduk berkurang, bukankah itu artinya dia sudah membantu pemerintah mengurangi populasi manusia? Harusnya Akaito dapat bintang tanda jasa!

"Kalau para manusia mau populasinya kembali normal, mereka tinggal bikin anak. Apa gunanya belajar Biologi jika tidak dipakai praktek? Satu keluarga, bikin 12 anak. Selesai perkara!"

"Bikin anak, jidatmu warna-warni!"

Kaito hanya menonton perang verbal antara dua orang penghuni senior Utau Bersahaja ("Makanya, pilih tontonan tuh yang bermutu!" "Memangnya anime hentai yang kau tonton itu bermutu, ha?!") dengan khidmat dan sama sekali tak berniat membantu.

Sebenarnya, Kaito sepaham dengan Dell. Tindakan Akaito termasuk ekstrim. Kalau dia terus-terusan melempari burung-burung itu pakai ketapel, bukan tidak mungkin sebentar lagi Akaito akan diarak keliling kampung oleh Aktivis Peduli Hewan, diguyur bensin, dan dibakar hidup-hidup.

Hidup memang penuh drama. Dan ini semua cuma gara-gara kabar Yuuma akan menikah yang entah benar, entah salah. Padahal waktu anak tunggalnya presiden digosipkan pisah ranjang, Utau Bersahaja masih adem-ayem saja.

Pengaruh Yuuma ternyata lebih kuat dari yang Kaito kira. Mengerikan.


Seakan menjawab kegalauan orang-orang (terutama yang mengenal sosok Yuuma Yuuma), suatu pagi, sepucuk undangan mengisi kotak pos rumah mereka. Dari sana, terjawab sudah bahwa berita yang menyebar itu bukanlah hoax apalagi fiktif belaka. Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspada—maaf, salah.

Kedatangan surat undangan memang menjawab semua tanda tanya semua orang, tapi bukan berarti semua masalah lantas terhapuskan begitu saja.

Seperti yang diduga, kedatangan undangan itu malah menuai kontroversi dari banyak pihak. Perlu diketahui, sebenarnya banyak orang yang sudah curiga jika Yuuma kena kutukan jomblo seperti Gumiya—mengingat yang bersangkutan tidak pernah terlihat menjalin hubungan romantis dengan wanita. Tak ayal, khalayak pun menjadi geger, tidak menyangka saat ini akan terjadi.

Beberapa orang sempat syok dan kejang-kejang setelah membaca undangan pernikahan CEO tersebut. Bukan karena kena penyakit ayan, tapi karena terlalu kaget.

Dalam sekejap, topik semacam; Siapa Gerangan yang Rela Menikah dengan Orang Seperti Yuuma, sampai Perkiraan Berapa Lama Rumah Tangga Yuuma Bertahan, menjadi trending topik di antara teman-teman Yuuma selama 3 hari berturut-turut.

Lenka dan Mizki, teman Yuuma ketika SMA dulu, sampai punya mata panda karena terlalu asyik bergosip hingga larut malam. Rinto terpaksa menjerit dalam hati ketika lebih dari setengah isi dompetnya melayang karena adiknya, Lenka merengek minta dibelikan pulsa untuk bergosip dengan Mizki.

Hanya Yohio yang sanggup tersenyum dalam keadaan ini. Bukan karena dia pria hebat, tapi karena dia meraup banyak keuntungan dari beredarnya gosip tentang Yuuma. Atau lebih tepatnya, dia mengambil keuntungan dari kegiatan mengobrol para wanita tiap malam. Atau lebih tepatnya lagi, dia menaikkan harga pulsa secara sepihak demi meraup keuntungan secara instan.

Ya, selain jadi bandar alat tulis terpercaya, Yohio juga kerja sampingan sebagai juragan pulsa. Omsetnya bisa sampai jutaan yen perbulan. Di saat menguntungkan begini, omsetnya bisa naik lima kali lipat.

Oke, mungkin dia jahat. Tidak baik bersenang-senang di atas penderitaan Rinto. Tapi asalkan punya uang banyak dan kebutuhan sandang, pangan, serta papan selama setahun ke depan tercukupi, Yohio tidak peduli.

Dia memang pedagang kurang ajar.

Di Utau Bersahaja, sekali lagi, reaksi orang-orang beda lagi.

Akaito, Kaito, dan Dell, melihat momen ini bisa dimanfaatkan. Mereka pun kembali menggelar lapak taruhan. Mari kita sama-sama berdo'a, semoga ketiga makhluk itu segera diringkus oleh aparat berwajib agar tidak lagi meresahkan masyarakat.


Sama seperti kebanyakan orang yang sudah terlebih dahulu menerima undangan, Gumiya juga syok. Syok banget malah.

Tidak cukup cobaan hidup menjadi jomblo hampa, dia juga kalah langkah dari orang seperti Yuuma. Gumiya mengurut dada.

Gumiya adalah orang yang cukup sadar diri. Dia tahu wajahnya memang tidak seganteng Brad Pitt. Badannya tidak six-pack seperti model pria di iklan L-Men. Dia juga tidak punya selera humor bagus seperti Tora Sudiro yang bisa membuat wanita mabuk kepayang.

Tapi ada satu hal yang ia tahu pasti. Dia JELAS beratus kali lebih waras ketimbang Yuuma. Buktinya, dia tidak rela menjatuhkan harga diri dengan mengiklankan diri sendiri di koran.

Jadi, ketika dia mendapat undangan pernikahan Yuuma, dia tidak tahu harus pundung, ketawa, atau mengakhiri hidup dengan minum racun tikus saking malunya.

Sesaat, Gumiya terdiam. Getir dan pahit tiba-tiba saja mengudara di sekitarnya.

Bagi orang seperti Gumiya, hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi satu-satunya jomblo hampa di saat teman-temannya telah berhasil menemukan tambatan hati.

Gakupo sudah menikah dengan Gumi dan hidup bahagia. Yuuma akan menyusul dalam waktu dekat. Kalau Yohio, sudah bukan rahasia lagi kalau dia sedang dalam masa pdkt sama Yukari. Meiko dan Meito baru pulang liburan kemarin. Mikuo dan Lenka baru saja jadian dan sedang dalam masa mesra-mesraan (dan demi Tuhan, Gumiya mengutuk semua status gombal yang Mikuo update di facebook tiap satu jam sekali. Dasar capung, tidak punya toleransi berasmara. Ucapan orang tertindas adalah do'a, sumpahin cepet putus baru tau rasa!). Teman-temannya yang lain (mungkin) juga sudah gonta-ganti pacar entah sudah berapa kali.

Sedangkan Gumiya, masih di sini. Masih sendiri. Miris.

Mendadak Gumiya merasa ngenes.

Dia meletakkan undangan itu di atas meja kemudian menatap nanar ke luar jendela. Langit biru. Awan putih. Hari yang sempurna. Dia merentangkan tangan lebar-lebar. Angin menerbangkan rambutnya. Dia berteriak.

"JODOHKU, DIMANA KAU BERADAAA?!"


Hari pernikahan Yuuma tiba. Para undangan pun berbondong-bondong hadir untuk datang menyaksikan upacara suci itu.

Yuuma berdiri dengan jumawa di tengah altar. Setelan jas hitam dan kemeja putih, lengkap dengan dasi kupu-kupu, menghias tubuh. Yuuma jadi makin ganteng, jumlah fansnya pun makin banyak. Ketampanan memang mampu membuat orang bertekuk lutut.

Meski ini adalah pernikahan pertamanya, tapi Yuuma tidak mengundang terlalu banyak orang. Yang ia undang hanya teman-teman lamanya serta teman-teman serta guru sekolah Luka.

Yuuma punya prinsip; tidak penting berapa banyak orang yang datang di pernikahannya, yang penting adalah bagaimana mereka melewati malam pertama.

Oke, bohong. Sebenarnya prinsipnya begini; tidak penting berapa banyak orang yang datang ke pernikahannya, yang penting acara itu bisa berlangsung lancar dan khidmat sampai selesai. Diam-diam Yuuma bijak juga ternyata. Tepuk tangan.

Para tamu sudah duduk di bangku kayu panjang yang menghadap altar. Di baris depan, ada Gumi, Gakupo, Lenka, dan Rinto. Mereka berempat tersenyum ke arah Yuuma. Gumi sempat memberi lambaian tangan dan senyum secerah mentari pada Yuuma sambil berkata; "Selamat."

Yuuma nyaris kena serangan asma. Pesona cinta pertama memang susah dihilangkan.

Beberapa baris di belakang Gumi, ada Yohio, Yukari, Yuu, dan Ted yang sedang asyik mengobrol. Sayup-sayup, Yuuma bisa mendengar Ted heboh bercerita tentang tawaran menjadi bintang iklan dari seorang sutradara yang menghampirinya ketika sedang berlibur di salah satu negara ASEAN beberapa bulan lalu.

"Oh, ya? Kamu diajak jadi bintang iklan waktu liburan di Bali?" Mata Yukari berbinar antusias. Bintang-bintang berkerlip terang di matanya.

"Ya! Dia menyuruhku untuk jadi bintang iklan. Tapi aku tolak." Ted menjawab dengan lugas.

"Loh, kok ditolak?" tanya Yuu. Dia tidak dapat mengerti mengapa ada orang yang sanggup membuang kesempatan untuk bisa tenar.

"Aku tidak suka sama iklannya, kautahu. Bukan aku banget."

"Memangnya kamu ditawari iklan apa?" Yohio penasaran.

"Iklan So Nice!"

Semua orang terhenyak. Kharisma seorang Ted rupanya membuat seorang sutradara berpikir ia cocok jadi bintang iklan sosis. Mereka tidak tahu harus merasa takjub atau kejang-kejang menahan tawa seperti Leon dan Al yang menguping obrolan dari bangku belakang.

"Lalu, lalu?" Yukari masih penasaran.

"Masa aku disuruh akting bawa sosis di depan kamera lalu bilang; 'Smash suka makan So Nice'. Memangnya siapa itu Smash? Kenapa mereka suka makan So Nice? So Nice itu apa, sih?"

Karena pembicaraan jatuh absurd, Yukari dan yang lain pun sepakat untuk diam dan mengakhiri konversasi.

Di deret bangku paling belakang ada pemuda yang kena kutukan jomblo. Siapa lagi kalau bukan Gumiya. Dia memang sengaja duduk di bangku paling belakang karena, selain malu datang tanpa pasangan, dia juga lelah melihat ekspresi Yuuma yang jumawa. Bikin tangan gatal ingin nonjok saja.

(Bagi beberapa orang, wajah Yuuma memang seperti orang yang lagi nyari ribut.)

Teman-teman Luka memenuhi bangku-bangku panjang yang ada di baris sebelah kiri. Ekspresi takjub menghias wajah anak-anak polos itu.

"Wah, ramai, ya!" Rin tampak takjub.

"Benar, benar!" Miku mengangguk cepat. "Seperti melihat reuni orang-orang dewasa saja. Dan kebanyakan dari mereka bawa pasangan. Ah, jadi iri."

"Tapi kok, om yang itu sendirian, ya?" Dengan polos, jemari Rin menunjuk Gumiya. Dia tak kunjung menemukan logika bagaimana bias ada orang dewasa yang datang sendirian ke pesta seperti ini.

"Mungkin dia jomblo." Len menjawab dengan kejam. "Atau mungkin dia nggak laku. Yah, pokoknya antara itu deh."

Entah Len punya dendam apa pada Gumiya hingga tega mengeluarkan sederet kata yang menyayat hati seorang jomblo suci seperti dia.

Saat pengantin wanita datang dan mulai menapaki altar, secara serentak pula alunan musik lembut dimainkan. Para undangan berdiri serentak menyambut kedatangan wanita yang tengah berbahagia itu. Beberapa orang berdecak kagum.

Pengantin wanita itu bergitu anggun. Dia mengenakan gaun pengantin warna putih yang terlihat sederhana tanpa ada banyak hiasan mencolok yang tampak rumit. Sepatu kacanya menyentuh lantai altar yang sengaja dilapis karpet merah. Tap, tap, tap, begitu bunyi haknya ketika berjalan.

Beberapa orang tanpa sadar berbisik sambil menggumamkan pujian. Mulai dari 'Nona, kau cantik sekali', 'Yuuma beruntung sekali dapat wanita secantik itu', sampai 'Gumiya, kapan kamu menyusul?'.

Gumiya pundung seketika.

Wajah Luka dihias rona merah. Dari balik tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya, anak itu bisa mengira-ngira betapa cantiknya wanita yang sebentar lagi akan jadi mama tirinya tersebut.

Kulit wanita itu tidak cerah seperti Yuuma, melainkan sedikit putih pucat. Tidak jelek, sungguh. Justru itulah yang membuat kesan eksotis melekat. Rambut wanita itu tidak sepenuhnya digulung, melainkan dibiarkan setengah tergerai. Luka bisa melihat ujung rambut warna keperakan mengintip dari balik penutup kepala yang wanita itu kenakan.

Luka doki-doki.

Sayang hari ini Piko berhalangan hadir, entah kenapa.

Sejak Yuuma menyebar undangan pernikahannya, Piko jadi sulit ditemui. Pemuda itu tidak datang ke kantor, tidak kelihatan di apartemen, juga tidak mengangkat telpon.

Lebih mudah mencari sekarung besar beras di tengah krisis ekonomi melanda ketimbang menemukan Piko.

Mengingat hubungan Piko dan Yuuma yang begitu akrab, tentu saja kasus menghilangnya Piko di saat pernikahan Yuuma tinggal menghitung jari patut dipertanyakan.

Para bawahan Yuuma bergosip dan membuat asumsi mengenai menghilangnya asisten berwajah trap tersebut. Beberapa gosip yang beredar di antaranya adalah; Piko patah hati, Piko frustasi, dan Piko terbang ke luar negeri, mengganti identitas, dan memulai hidup baru tanpa eksistensi Yuuma menghias relung kehidupannya.

Asumsi para anak buah Yuuma memang sangat drama. Entah drama Korea apa yang mereka jadikan kiblat.

Luka sungguh menyayangkan Piko tidak hadir di acara ini. Padahal dia ingin berbagi kebahagiaan. Tapi di tengah kekecewaan, Luka tetap yakin di mana pun Piko berada saat ini, dia juga pasti sedang berbahagia karena papanya sudah menemukan wanita yang pas.

Saat ini, kedua pengantin telah bertemu di tengah altar. Siap mengucap janji suci. Suasana mendadak hening.

"Apakah kau, Yukio Yuuma, bersedia menerima Catherine sebagai istri sahmu, untuk mengasihi dan melayani, dalam sehat maupun sakit, hingga maut memisah?"

"Ya, aku bersedia." Yuuma menjawab dengan ganteng. Luka tampak girang.

"Dan apakah kau, Catherine, bersedia menerima Yukio Yuuma sebagai suami sahmu, untuk mengasihi dan melayani, dalam sehat maupun sakit, hingga maut memisah?"

"A-aku…."

Suara pengantin wanita itu begitu jernih. Para tamu pun hening.

"Aku ... Aku…."

Para undangan menunggu. Yuuma menahan napas. Len makan pisang. Akaito memungut koin 100 yen di lantai.

"Aku…."

Bersedia, ayo cepat, bilang bersedia, Luka mulai tidak sabar.

Rin memperhatikan sekeliling lalu berbisik pada Len, "Kenapa tiba-tiba jadi tegang begini?"

Setelah sekian lama terdiam, 'gadis' itu menggigit bibir bawahnya lalu menghela napas dalam-dalam. "Yuuma, hentikan semua kebodohan ini."

"HAH?" Luka terhenyak ketika 'wanita' yang berada di tengah altar bersama papanya tiba-tiba berbicara di luar konteks dan bersuara mengindikasikan adanya jakun. Apakah orang yang ada di hadapan papanya itu adalah wanita tulen, atau dengan wanita jadi-jadian? Semua masih misteri.

Barulah ketika tangan 'wanita' itu bergerak untuk menyingkap tudung yang menutupi wajahnya, semuanya menjadi jelas.

"Loh!" Seseorang di bangku belakang—sepertinya Al—adalah orang pertama yang sadar dari kondisi syok. Dia pun mengarahkan telunjuk pada pengantin wanita tersebut. "Itu, 'kan, Piko!"

Benar! Yang ada di tengah altar bersama Yuuma adalah Piko. Atau lebih tepatnya, Piko yang telah didandani sedemikian rupa dan mengenakan gaun pengantin wanita.

Semua orang kaget luar biasa. Dalam sekejap, mata semua undangan menatap Yuuma dengan penuh hina.

Apa artinya semua ini? Apakah Yuuma sudah terlalu desperate karena lama menjomblo hingga nekat menikahi Piko yang merupakan asisten merangkap sahabat laki-lakinya? Apakah orientasi seksual Yuuma sudah melenceng terlalu parah?

Luka terlihat syok. Para siswa SD Crypton juga terkejut. Kejadian ini merupakan guncangan hebat bagi psikis mereka, karena dari kecil anak-anak itu sudah diberi pendidikan bahwa laki-laki haruslah berpasangan dengan wanita, bukan sesamanya.

Di tengah keheningan yang melanda, Len menyeletuk dengan polos, "Om Yuuma. Homo itu, 'kan, dosa."

Makoto Gumiya tertawa dengan kejam.

Piko menatap Yuuma lama. Api amarah menyala di kedua bola mata. Dia kemudian memukul wajah Yuuma dengan sebuket bunga yang ia bawa.

"Sudah kubilang, aku tidak mau melakukan ini! Brengsek!"

Wajah Yuuma kena tampar bunga.

"Hanya karena aku bawahanmu, bukan berarti kau bisa menyuruhku berpura-pura jadi pengantin wanitamu! Kurang ajar!"

Rambut Yuuma dijambak.

"Aku ini masih normal, Yuuma!"

BUAGH!

Piko menonjok Yuuma hingga yang bersangkutan terpental jauh.

Akaito, Dell, dan Kaito entah sejak kapan sudah kembali menggelar lapak taruhan.

"1000 yen, Yuuma K.O!" Akaito melempar uang taruhan dengan jumawa.

Seseorang, tolong seret tiga orang itu ke kantor polisi.

Lily, Mayu, dan Yukari berlari tergopoh-gopoh menghampiri para siswa. Secara serempak, memberi instruksi supaya mereka tutup mata dan tidak melihat adegan smack down antara Piko dan Yuuma. Kekerasan dalam rumah tangga bukan tontonan anak kecil!

Di lain pihak, Yohio, Leon, dan Gakupo pun segera berlari menengahi Yuuma dan Piko.

Mereka terlalu takut Piko akan khilaf dan kebablasan mencabut nyawa Yuuma. Bukannya mereka sedih atau apa jika Yuuma meregang nyawa. Mereka hanya tidak mau repot harus menjadi saksi dan diperiksa polisi.

(Bahkan Yohio, Leon, dan Al juga teman-teman durhaka.)

Yohio dan Al membantu Yuuma bangun. Leon dipercaya mengurus Piko yang tengah murka, siap mencabut tulang rusuk Yuuma satu-satu dan memasaknya untuk hidangan makan malam.

"Piko, tenang." Leon mencoba menenangkan Piko. Tangan Leon bergerak-gerak memberi isyarat agar pemuda bermata dwi warna itu mengatur napasnya.

Piko menurut dan mulai mengatur napas. Tarik, hembus, tarik, hembus, jambak Yuuma, tarik, hembus. Piko kembali tenang.

"Sekarang," kata Leon, "bisa kau ceritakan apa yang terjadi?"

"Orang ini," jari Piko menunjuk Yuuma, "memaksaku untuk berpura-pura jadi pengantinnya."

"HEEE?!" Semua orang kembali kaget.

"Se-sebentar. Bagaimana ceritanya Yuuma 'memaksamu pura-pura jadi pengantinnya'?"

Piko terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia pun mulai bercerita.

"Sore itu…."

(yang terjadi sore itu)

"Piko!"

"Ya?"

"Aku punya ide!"

"Ide apa?" Piko menjawab setengah hati. Jujur saja, dia sudah malas dengan ide-ide absurd Yuuma. Pertama mengiklankan diri di koran, lalu dilanjut dengan ide nekat melamar para wanita cantik berduri yang tak segan melempar benda-benda berat atau melepas hewan peliharaan ganas. Dan sekarang Yuuma bilang dia punya ide? Ahay, jangan harap Piko mau dengar.

Piko sudah lelah. Lelah jiwa dan raga.

Kalau gajinya dinaikkan 100% sih, mungkin Piko semangat menjalankan pekerjaan ini. Setidaknya, meski pekerjaan yang harus ia lakukan tidak enak, Piko masih punya motivasi. Naik gaji di tengah krisis ekonomi begini sama dengan oasis di gurun pasir.

Tapi, kenyataannya, Piko sama sekali tidak dapat apa pun. Bahkan setelah sekian banyak kerja kerasnya, Yuuma tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan memberi bonus ataupun naik gaji. Bos ini memang benar-benar pelit! Apa dia tidak tahu, pegawai juga butuh hidup sejahtera?

"Aku akan menikah!"

Piko mengedip. Kenapa tiba-tiba saja? "Dengan siapa?"

"Denganmu!"

"HEEEE?"

Apakah Yuuma tidak tahu jika Piko masih terlalu normal? Tidak ada yang tahu.

"Dengar," Piko berdiri, "aku tidak mau. Aku masih normal. Dan aku bukan orang desperate yang terobsesi mencari pasangan hidup sepertimu. Tidak, terima tidak mau!" Piko menolak dengan judes.

"Ayolah, pura-pura saja. Biar Luka senang."

"Tidak mau!"

"Kumohon."

"Tidak!"

"Anggap ini bagian dari pekerjaan. Hei, bukankah itu ada dalam kontrak kerjamu?"

"Persetan dengan kontrak kerja! Kubilang tidak mau, ya tidak mau!"

Yuuma menghela napas. Jika sudah begini, tidak ada cara lain. "Kalau tidak mau, gajimu akan kukorting sampai sisanya cuma tinggal seperempat."

APAA?!

"Uang lemburmu selama setahun tidak akan aku bayar."

"..."

"Fasilitas kantor berupa mobil antar jemput akan kucabut. Tunjangan hari raya juga tidak akan aku beri."

"JANGAAAAANNN!"

Dan akhirnya, Piko pun dengan sangat terpaksa menuruti perintah Yuuma.

(flashback selesai)

Setelah Piko selesai bercerita, semua orang pun menatap Yuuma seolah ia adalah makhluk paling hina di muka bumi.

"A-aku bisa jelaskan!" Yuuma membela diri.

"Jelaskan apa, hah?!" Mayu berteriak dengan sangat tidak santai. Dia memang tidak suka melihat praktek perbudakan.

"Aku melakukan ini hanya karena ingin Luka punya mama."

Semua terdiam.

Luka terhenyak. Mata anak itu membulat saat Yuuma menyebut namanya. Jadi, semua ini dilakukan untuk ... aku? Luka bertanya-tanya dalam hati.

"Aku sudah melakukan semua yang kubisa guna menemukan mama yang tepat untuk Luka tapi tidak kunjung menemukannya. Jujur saja, aku frustasi. Makanya aku terpaksa melakukan ini." Dia menghela napas. "Aku tahu tindakanku sangat tidak bertanggungjawab dan tidak bisa dimaafkan. Tapi, kalian juga pasti ... akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku."

Para undangan saling lirik. Memang benar yang dikatakan Yuuma. Jika seseorang yang mereka sayang menginginkan sesuatu, pastilah mereka akan berusaha sekeras apa pun untuk mengabulkannya. Tak peduli se-absurd apa pun permintaan itu.

"Tapi itu bukan alasan kau memaksa Piko-kun sampai seperti ini, Yuuma-kun." Gumi tiba-tiba saja memecah keheningan yang menyeruak.

"Dan lagi, mengeluarkan ancaman berupa potong gaji itu keterlaluan. Kesejahteraan pegawai itu segalanya, Yuuma." Yukari menambahkan. Tangan terlipat di depan dada.

Piko menangis haru. Akhirnya ada yang mengerti bagaimana rasanya jadi pegawai. AKHIRNYA!

"Selain itu, kau juga telah memperlakukan Piko dengan semena-mena. Tidak bisa dimaafkan." Aria ikut-ikutan mengompori.

Benar! Yuuma telah memperlakukan Piko dengan semena-mena. Apa dia tidak tahu, harga diri Piko tercabik karena harus mengenakan gaun pengantin wanita ini? Meskipun wajahnya super trap, tapi begini-begini Piko tetap lelaki sejati. Dipaksa berpakaian begini sama dengan pelecehan! Pelanggaran Hak Asasi Manusia!

Semua undangan menatap dengan tajam kemudian merajam Yuuma dengan benda apa pun yang bisa ditemukan. Tas, sepatu, bola, koin 100 yen, pisang, semuanya dilempar ke arah lelaki tersebut. Al dan Yohio tidak menolong, takut dihajar massa yang mengamuk.

Yuuma pun tergeletak mengenaskan.

(Dengan ini, pernikahan Yuuma gagal.)


TAMAT


Next chapter? Epilogue, yeah!

Yuuma membohongi Luka dengan telak.

"Papa … minta maaf."

Apakah hubungan ayah-anak itu masih baik-baik saja?