Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.
Warning cliché, hints pedo!YuumaLuka. mari kita lupakan humor untuk sesaat. Kesamaan ide, harap dimaklumi.
Aku Mau Mama!
by devsky
{8/8}
Setelah pernikahannya dinyatakan gagal, Yuuma kembali menjalani hidup seperti biasa dan tenggelam dalam rutinitas harian. Bangun tidur, sarapan, kerja, pulang, tidur. Monoton terus seperti itu.
Piko juga sudah kembali masuk kerja dan menjalankan tugas seperti biasa. Dia masih suka marah-marah kala Yuuma tidak mau rapat. Hanya saja dia masih sedikit sensitif soal kejadian tempo hari. Karena itu, tingkat kejudesan yang ia tunjukkan pada Yuuma sedikit lebih meningkat dari waktu-waktu sebelumnya. Luka di hati memang perlu waktu lama untuk sembuh.
Gumiya ... yah, dia masih jomblo dan kesepian seperti sedia kala. Sama halnya dengan Yuuma. Yang tabah ya, kalian berdua.
Semuanya nyaris terlihat biasa-biasa saja di mata Yuuma. Disebut nyaris, karena ada satu hal yang terasa berbeda dalam hidup Yuuma.
Hubungan Yuuma dengan Luka.
Sebelum kejadian pernikahan gagal itu terjadi, hubungan Yuuma dan Luka begitu akrab. Normal layaknya ayah-anak kebanyakan. Meski Yuuma tipe ayah yang sibuk, kedekatan antar keduanya tetap terjaga. Tapi setelah kejadian itu ... yah, anggap saja semuanya jadi agak berbeda.
Yuuma mengaduk kopi paginya dengan sangat tidak minat hari ini. Kopi itu hitam dan pekat. Kelam. Tiba-tiba dia teringat Gumiya yang sampai detik ini masih jomblo. Yah, dia sendiri juga masih jomblo, sih. Tapi Yuuma, 'kan, jomblo kece. Gumiya jomblo hina. Dari strata saja sudah beda.
Oke, Yuuma salah fokus. Mari kita luruskan lagi.
Pagi itu matahari bersinar sempurna. Biru muda menghias langit. Burung-burung berkicau merdu. Hari ini begitu cerah, tapi Yuuma merasa hatinya begitu suram. Dia melirik ke arah Luka yang tengah mengunyah roti tanpa minat, kemudian menghela napas panjang.
Benar juga, pikirnya. Beberapa hari ini Luka jadi jauh lebih pendiam. Pantas saja dunia terasa suram. Apa Luka marah padanya?
"Luka," Yuuma memanggil setelah sebelumnya berdeham beberapa kali, "sedang makan apa?"
Luka memandang ayahnya dengan penuh rasa syok karena baru menemukan betapa bodoh pertanyaan ayahnya.
"Roti."
"Oh. Enak?" Yuuma terjebak dalam percakapan paling basi sedunia.
"... Iya."
Mereka terdiam.
"Luka setelah ini mau ke mana?"
"Sekolah."
Nenek-nenek lagi senam lantai juga tahu kalau anak yang sudah bawa ransel pasti mau ke sekolah. Memang dasar Yuuma saja yang terlalu pintar mencari topik.
"Oh, begitu."
Keduanya kembali terdiam.
Luka kembali memakan sarapannya. Masih tanpa minat. Tik tok tik jarum jam mengisi suasana.
Tidak, Yuuma mendesah dalam hati. Dia tidak bisa begini terus dengan Luka.
Merasa tidak nyaman dengan keadaan yang terus menerus jatuh kaku, Yuuma memutuskan kembali bicara.
"Luka," dia memanggil dengan nada hati-hati, salah bicara sedikit segalanya bisa jadi runyam, "kamu marah sama Papa?"
Luka berhenti makan. Kelereng biru melirik ke arah Yuuma yang tengah menatap dengan pandangan putus asa. "Papa berpikir seperti itu?"
"Jadi, Luka benar-benar marah?"
Anak itu tidak menjawab. Lebih tertarik menghabiskan sarapannya.
Yuuma menghela napas. Harusnya tidak usah bertanya lagi, Yuuma berbisik dalam hati.
Anak itu pasti marah sekali padanya. Setiap anak juga pasti marah jika ayahnya tega berbohong. Terlebih kebohongan Yuuma kali ini menyangkut hal yang lumayan sensitif; keinginan Luka memiliki sosok seorang mama. Memang, cara Luka meminta mama pada Yuuma tidak terlihat seperti ia menginginkan sosok itu untuk alasan yang terlalu emosional; untuk menghadiri Hari Kunjungan Orangtua. Tapi, itu tidak membuat segalanya menjadi ringan.
Keinginan tetaplah keinginan. Dan Yuuma telah mempermainkannya.
Kalau ditilik lebih dalam, bisa dibilang tindakan Yuuma yang berkata ia telah menemukan wanita yang pas untuk jadi mama Luka (padahal kenyataannya belum) telah menumbuhkan benih-benih harapan pada diri Luka. Sayang, yang Yuuma beri hanya sekedar harapan palsu. Janji tanpa bukti. Omong besar tanpa realita.
Yuuma sekarang sadar dirinya tak lebih baik dari para calon anggota Legislatif yang senang mengumbar janji saat kampanye, tapi mendadak pikun kala resmi naik kursi jabatan. Tukang PHP.
Tiba-tiba dia ingat obrolan Yukari dan Mayu bertahun-tahun lalu.
"Tukang PHP harusnya diarak keliling kampung lalu dihukum rajam!"
Yuuma semakin down.
"Dengar, Luka. Papa sangat menyesal dan benar-benar minta maaf."
"..."
"Awalnya Papa hanya ingin Luka senang, karena itu Papa berusaha mencari wanita yang tepat untuk Luka. Tapi ternyata menemukan orang yang tepat itu tidak gampang."
Luka masih belum mau menjawab, tapi sudah berhenti mengunyah.
"Papa sudah berusaha mencari, dari cara yang paling biasa sampai ke yang paling absurd, tapi tetap saja tidak ketemu. Di tahap itu, Papa frustasi. Papa putus asa dan hampir saja menyerah, tapi tidak jadi karena kalau Papa menyerah begitu saja itu artinya Papa gagal menyenangkan Luka, 'kan?" Pria itu tersenyum, getir. "Maka itu, akhirnya Papa terpaksa memaksa Piko membantu. Papa pikir, asalkan Luka melihat Papa sudah menikah, maka Luka akan senang. Tapi jadinya malah seperti ini."
Jeda yang lumayan panjang terjadi.
Napas ditarik, lalu diembuskan panjang-panjang. Haaah. "Papa tahu, Papa salah. Harusnya Papa tidak menjanjikan kamu sesuatu yang sekarang belum bisa Papa kasih. Maaf. Lain kali, tidak akan Papa ulangi lagi."
Masih tidak ada respon dari Luka, tapi Yuuma tidak mau memaksa anak itu untuk bicara. Yuuma mengerti, anak itu pastilah sakit hati padanya.
Benar, sambil tadi bicara panjang-lebar, benak Yuuma terbang membayangkan penderitaan macam apa yang Luka rasakan akibat perbuatan bodohnya. Karena seluruh teman sekelas Luka datang ke acara pernikahan Yuuma kemarin, pastilah mereka tahu kejadian memalukan (dan memilukan) itu. Luka pasti diledek habis-habisan oleh teman-temannya di sekolah.
"Hiiiiii! Papa-nya Luka nikah sama cowok!"
Indahnya jadi anak SD. Memiliki keuntungan bisa mengata-ngatai temannya dengan perkataan kejam tanpa memikirkan lebih lanjut apakah orang yang bersangkutan akan sakit hati, marah, kemudian mencabik-cabik raga mereka.
Hening. Hening. Hening.
Keduanya terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah beberapa lama, akhirnya Luka menghela napas panjang dan membuka mulutnya.
"Apa benar?" tanya Luka.
Yuuma mendongak. Wajahnya bertanya-tanya.
"Yang tadi Papa bilang," anak itu menjelaskan. "Papa benar-benar melakukan itu hanya demi melihatku senang. Apa itu benar?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, jangan lakukan itu lagi."
"...?"
"Aku senang Papa mau berusaha mengabulkan keinginanku. Tapi aku tidak suka Papa berbohong padaku."
"Tapi, 'kan—"
"Aku lebih senang jika Papa jujur dari awal, kupikir itu akan jauh lebih baik dan aku juga pasti akan mengerti. Karena, bagiku, tidak masalah kalau Papa tidak bisa memenuhi semua keinginanku. Tidak masalah Papa tidak datang ke Hari Kunjungan Orangtua. Tidak masalah tidak ada mama. Aku lebih senang jika Papa selalu jujur kepadaku."
Yuuma kehilangan kata-kata untuk sesaat, tapi selanjutnya ia tersenyum. Rasanya sangat mengharukan ketika anakmu bersedia mengerti keadaanmu. "Baiklah, Papa mengerti. Maaf, Papa menyesal."
"Benar-benar sudah menyesal?"
Yuuma mengangguk.
"Janji tidak akan mengulangi lagi?"
Yuuma menaikkan kelingking kanannya. "Janji."
Luka tersenyum lalu turun dari kursi. Yuuma mengikuti.
"Merunduklah. Aku ingin berikan sesuatu," pinta Luka.
Dengan alis berkerut, Yuuma sedikit merunduk dan menyamakan tingginya dengan Luka.
"Apa? Kau akan memberi apa pada Papa?" tanya pria itu saat tingginya sudah sejajar dengan Luka.
Sang anak hanya tertawa kecil sebelum mendekat dan memeluk tubuh Yuuma dengan erat dan sayang.
Yuuma terhenyak.
"... Luka?"
Yang bersangkutan tak menjawab, malah mengeratkan pelukannya.
Ya, itu adalah hadiah yang Luka maksud. Sebuah pelukan yang hangat dari seorang anak. Memang tidak terlihat berharga. Tapi bagi seorang ayah, tentulah pelukan itu jauh lebih berharga ketimbang potongan emas 24 karat.
"Aku sayang Papa." Dan sebuah bisikan malu-malu dari Luka membuat segalanya sempurna.
Anak berambut merah jambu itu melepas pelukannya setelah beberapa lama. Senyuman masih melekat di wajah, namun segera menguap ketika menyadari ayahnya masih terhenyak. Atau lebih tepatnya, ayahnya itu sedang terbengong-bengong.
"... Papa?"
Tak ada respon.
"Papa?" Luka menggoyang-goyangkan tangan di depan wajah Yuuma. Gerakannya cepat seperti panik dan—
—gerakan anak itu berhenti tiba-tiba ketika melihat cairan merah lolos dari hidung Yuuma. Anak itu panik.
"HIIIEEEEEE! PAPA KENAPA? KOK HIDUNGNYA BERDARAH GINI?!"
Ya, terlalu terkejut mendapat pelukan sayang dari Luka membuat seorang Yukio Yuuma mimisan.
"PAPA KENAPA?!"
"Tidak apa-apa, Luka. Papa baik-baik saja." Yuuma menutup hidung dengan telapak tangan. Kenapa malah mimisan di saat-saat begini, sih? Pria itu mengerang dalam hati. Jika ada jembatan, mungkin Yuuma lebih memilih terjun dari sana daripada malu ketahuan mimisan di depan anak sendiri.
"Kamu berangkat sekolah saja. Hari ini Hari Kunjungan Orangtua kan?"
"Apanya yang baik-baik saja! Darah Papa tidak mau berhenti mengalir!"
"Nanti juga berhenti—Aduh!" Dia mengaduh ketika hidungnya terasa berdenyut-denyut.
"Papa!" Luka makin panik. "Ini! Pakai tissu, Pa!" Anak itu menyodorkan tissu.
Dan pagi itu Luka tidak jadi masuk sekolah karena harus mengurus Yuuma yang hidungnya tidak berhenti mengeluarkan darah. Rapat Yuuma juga gagal dengan indahnya.
Yah, benar-benar hari yang cerah.
TAMAT (beneran)
Terima kasih kepada siapa pun yang masih sanggup mengikuti cerita ini sampai selesai. Maaf atas kekurangan yang ada. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!
Sign,
devsky
