Itachi menghela napas, diperhatikannya wajah seseorang yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Dia mengulurkan tangannya, membelai lembut surai raven yang sedikit menutupi paras yang terlihat pucat itu. Surai yang seharusnya sangat tebal itu kini hanya tinggal helaian tipis, membuatnya tersenyum pahit saat melihatnya. Tangan yang kini sedang digenggamnya pun terasa sangat ringan dan rapuh. Jari-jari itu menjadi sangat kecil dan kurus, berwarna putih pucat. Ia mengelus jari-jari itu dengan lembut, seakan ingin memberitahu pada seseorang yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri itu bahwa ia ada disini, bahwa kakaknya ada disamping menemaninya.

Satu bulan.

Benar. Sudah satu bulan berlalu sejak terakhir kali ia mendengar suara adiknya. Sudah satu bulan sejak terakhir kali ia melihat kelopak pucat itu memperlihatkan manik onyx-nya, sejak ia melihat bibir pucat itu memberinya senyuman manis, sejak ia melihat tubuh yang terlihat sangat rapuh itu bergerak.

Ia sudah tak sanggup.

Rasanya ia sudah tak mampu melihat adiknya terbaring lemah seperti sekarang.

Rasanya ia ingin berteriak, menjerit, menangis, memarahi siapapun karena sudah membuat adiknya seperti ini. Tapi pada siapa?

Ia tak tahu.

Hal yang terjadi pada adiknya bukanlah salah siapa-siapa.

Tidak. Mungkin ini adalah kesalahannya. Kesalahannya yang kurang memperhatikan adiknya lebih. Sehingga ia menjadi sakit seperti sekarang, bahkan kini terbaring lemah tak sadarkan diri.

Itachi tersenyum pahit.

"Sasuke…" panggilnya begitu lirih.

Ia pun mendekatkan wajahnya, mengecup lembut dahi berkulit pucat milik sang adik.

"Cepatlah bangun, Sasuke…." bisiknya lirih.


This Isn't Just A Game

By

Fro Nekota


Seorang pemuda terlihat duduk di atas sebuah tempat tidur, menatap lurus ke arah luar dari balik jendela besar dengan tirai yang terbuka. Surai hitam miliknya sepanjang bahu, ditutupi oleh sebuah topi rajut berwarna biru tua. Jika ia tak memakai topi, maka akan terlihat rambut bagian belakang yang mencuat ke atas melawan gravitasi. Gaya rambut alami yang terlihat lucu namun juga sangat pas dengannya.

Pemuda itu menghela napas, ia membenarkan posisi topi yang dipakainya untuk menghalau dingin yang mulai dirasakannya. Sebuah saluran tipis memanjang yang menempel pada tangannya menarik perhatiannya. Ia menatap benda panjang yang seperti tali itu, lalu mengikutinya sampai ia menemukan sebuah kantong infus yang terpajang tenang di sebuah tiang samping tempat tidurnya. Terlalu seringnya ia melihat benda itu, membuatnya berpikir mungkin ia tak akan pernah lepas lagi dari benda yang menempel ditubuhnya itu.

Pemuda itu menoleh ke arah pintu saat mendengarnya terbuka. Sebuah senyuman langsung terlukis diwajahnya saat ia melihat seseorang yang berdiri di depan pintu.

"Niisan!" panggilnya dengan senang.

"Sasuke. Bagaimana keadaanmu?" ucap seorang pemuda yang dipanggil kakak itu.

"Aku bosan." Jawab sang adik merengut. "Bisakah kita pulang sekarang, niisan?" tanya Sasuke pada kakaknya.

Itachi menghela napas, lalu berjalan mendekati tempat tidur dimana adiknya berada. "Kau tahu kita tidak bisa melakukannya, Sasuke." ucapnya lembut, menepuk kepala adiknya.

"Tapi, aku baik-baik saja! Lihat! Aku masih bisa berdiri, berjalan, bergerak sesukaku! Mereka saja yang berlebihan!" protes Sasuke memperagakan hal yang dikatakannya.

Itachi hanya tersenyum membalasnya. "Kalau begitu beristirahatlah, lalu kita bisa segera pulang."

"Bisakah kita pulang sekarang saja? Aku bosan dengan tempat ini! Bau obat membuatku mual!" protes Sasuke tidak suka.

"Sasuke…bersabarlah, oke? Kita pasti pulang kok…" balas Itachi tersenyum, mengusap kepala sang adik dengan sayang.

"Tapi aku bosan…" ucap Sasuke menekuk wajahnya.

"Oh, benar. Aku punya sesuatu untukmu." Ucap Itachi tiba-tiba teringat sesuatu, ia mengambil sesuatu dari tas yang tadi dibawanya lalu menyerahkannya pada Sasuke.

"Apa ini?" tanya Sasuke bingung, ia membuka bungkusan plastik benda yang diberikan kakaknya. Mata onyx-nya melebar saat ia melihat isi bungkusan itu. Ia pun menatap kakaknya penuh tanya sekaligus tak percaya. "I-ini…?!"

"Itu untukmu, bukankah kau bilang kau selalu ingin memainkannya?" ucap Itachi menjawab tatapan penuh tanya dari adiknya.

"T-tapi ini…?! Bukankah harganya mahal?! Darimana niisan—"

"Sssshh. Tak perlu pikirkan soal itu. Pakai saja. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunmu minggu lalu. " terang Itachi dengan tersenyum.

Sasuke terbelalak mendengarnya, lalu ia pun menerjang kakaknya dengan sebuah pelukan. "Terima kasih niisan!" ucapnya mempererat dekapannya.

Itachi hanya tertawa kecil, membalas pelukan itu. "Bagaimana kalau kau mencobanya?"

"T-tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya…" ucap Sasuke sedikit malu, ia membuka kotak kardus yang membungkus benda itu. Mata onyx-nya berbinar melihat benda berteknologi canggih itu.

Nerve Gear.

Benar, benda yang diberikan oleh kakaknya adalah sebuah nerve gear. Sebuah benda canggih yang membuatnya bisa bermain dalam dunia game hanya dengan menggunakan pikiran. Sebuah benda canggih yang sudah mulai terkenal di kalangan remaja lainnya. Tak akan heran, jika Sasuke, yang juga masih seorang remaja ingin memainkannya, dan benda itulah awal dimana ia mengenal sesuatu yang begitu menyenangkan sekaligus….menyakitkan.


Second Chapter

Please stop me…Please stop me from loving you, because it's just too much…


Namanya adalah Uchiha Sasuke. Pemuda berambut raven ini merupakan putra bungsu dari keluarga Uchiha. Sebuah kecelakaan naas membuat pemuda ini menjadi yatim piatu. Orang tuanya sudah meninggal sejak ia duduk di bangku SMP, meninggalkannya hanya dengan seorang kakak yang saat itu hampir menyelesaikan kuliahnya.

Mereka pun hidup hanya bedua, hanya dihidupi oleh sisa kekayaan orang tuanya dan uang tambahan yang dihasilkan sang kakak dengan bekerja.

Selama bertahun-tahun mereka bisa bertahan, sampai suatu ketika mereka dihadapkan suatu kenyataan pahit yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Sasuke sakit.

Dia didiagnosa menderita leukema stadium tiga.

Itu adalah saat pemuda itu baru masuk tahun pertama di SMA nya.

Penyakit yang dideritanya diduga berasal karena keturunan gen dari kakeknya yang juga meninggal akibat leukemia.

Berbagai cara sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun semakin kemari, penyakit yang dideritanya semakin parah, dan biaya yang dibutuhkan pun semakin mahal.

Sasuke tahu, kalau kondisi ekonomi dia dan kakaknya semakin genting akibat membiayai pengobatan penyakitnya. Dia bahkan dapat mengerti jika kekayaan orang tuanya sudah mulai menipis.

Sasuke sebenarnya sudah tak ingin merepotkan kakaknya lagi. Ia tidak ingin melihat kakaknya menjadi mati-matian bekerja untuk memperpanjang hidupnya.

Benar, 'memperpanjang'.

Dia tahu hidupnya tak bisa bertahan lebih lama. Ia bisa merasakannya lewat tubuhnya sendiri. Ia selalu berusaha keras untuk menutupi rasa sakit yang dideritanya. Namun ia juga tahu bahwa kakaknya tahu kalau ia berusaha menutupinya.

Karena itu, saat Itachi memberinya nerve gear sebagai hadiah ulang tahunnya. Sasuke merasa ingin…menangis.

Meskipun mereka kesulitan dalam hal uang, kakaknya masih ingin membuatnya senang. Kakaknya bahkan masih ingat kalau Sasuke pernah mengatakan bahwa ia ingin memainkan permainan canggih itu.

Sejak saat itu, Sasuke berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap hidup, untuk tetap bertahan dan menemani kakaknya. Bahkan jika memang takdir menjemputnya nanti, paling tidak ia ingin membuat kakaknya senang. Ia akan melakukan apapun asalkan kakaknya bisa bahagia, asalkan kakaknya tidak akan terlalu bersedih saat ia…pergi nanti.

Tapi, takdir berkata lain saat ia mengenal orang itu.

Permainan yang ia pikir hanya untuk mengisi rasa bosannya, tiba-tiba membuatnya tak bisa lepas dari dunia game saat ia bertemu dengan orang itu.

Benar, orang itu.

Seseorang yang bahkan tidak ia ketahui wajah, nama asli, identitas, bentuk tubuh, atau bahkan penampilannya. Seseorang yang hanya ia tahu lewat dunia maya. Seseorang yang untuk pertama kalinya menyatakan kata suka padanya. Seseorang yang membuatnya mengerti apa itu arti dari seorang teman, sahabat, rival ataupun…seorang kekasih.

Pertemuan mereka sangat singkat, namun mampu memberinya begitu banyak pengalaman indah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Pertemuan yang terasa nyata namun disaat yang sama juga terasa seperti mimpi belaka.

Pertemuan singkat yang membuatnya sadar bahwa betapa takutnya ia pada yang namanya sebuah…kematian.

Dia adalah Uchiha Sasuke. Seorang pemuda berumur 18 tahun yang menderita leukemia stadium akhir, dan dia memiliki seorang kekasih dari dunia maya…Naruto.

.

.

.

.

.

Pertemuan pertama mereka tidaklah begitu spesial. Hanya pertemuan biasa yang juga biasa terjadi pada orang lain. Diawali oleh seorang pemain yang sedang mencari partner dalam mencari level.

Kesan pertama Sasuke akan pemuda pirang itu adalah pemuda itu tidak bisa diam. Pemuda pirang yang memperkenalkan dirinya sebagai 'Naruto' benar-benar tidak bisa diam. Dia terus mengoceh apapun hal yang terpikirkan olehnya. Sangat berisik. Benar-benar berisik. Sangat berbeda dengan dirinya yang begitu pendiam. Dia hanya akan berkata jika hal penting saja.

Karena itu, saat pertama Sasuke bertemu dengannya, sama sekali tak terpikirkan olehnya kata 'suka' akan muncul dibenaknya. Dia benci pemuda itu.

Tapi takdir berkata lain.

Tidak.

Mungkin akan lebih tepat, jika Sasuke bilang, pemuda pirang itulah yang membuat takdir tidak sesuai hal yang ia perkirakan. Sebab, pemuda itu terus menempel padanya. 'Menempel' yang ia maksud adalah benar-benar 'menempel' seperti arti sebenarnya. Pemuda pirang itu selalu mengikutinya. Bahkan saat mereka log in di waktu yang berbeda, Naruto pasti dengan mudah bisa menemukannya. Dia akan memaksa Sasuke untuk satu grup dengannya, mengikutinya terus sampai akhirnya Sasuke menyerah dan mau menjadi partnernya melawan monster.

Mungkin hal itulah yang membuat Sasuke menjadi terbiasa, menjadi sangat terbiasa berada di sekitar Naruto. Bahkan entah sejak kapan, mereka menjadi saling menunggu sebelum mereka pergi untuk melawan monster. Dan tanpa Sasuke sadari, ia menjadi menunggu-nunggu saat-saat dimana mereka akan bertemu.

Mungkin hal itulah, yang membuat Sasuke perlahan-lahan…membuka hatinya…membuat mereka menjadi dekat, menjadi teman, menjadi sahabat, rival…bahkan pemuda pirang itu berhasil mengisi hati terdalam milik Sasuke…

…dan ketika Sasuke sadar…ia sudah terjerumus terlalu dalam…

.

.

.

.

.

"Ne, Sasuke…bolehkah aku minta foto wajahmu?"

Kalimat itu terdengar seperti tusukan tajam yang mengaktifkan alarm dalam tubuhnya.

"Foto?" tanya Sasuke mencoba yang ia bisa untuk bicara tanpa suara bergetar.

"Yep, Shikamaru bilang hubungan kita sangat aneh. Dia selalu menanyaiku kenapa aku bisa bertahan begitu lama dengan seseorang yang tidak pernah aku lihat dalam dunia nyata. Karena itu dia bilang paling tidak seharusnya kita tahu wajah masing-masing." Terang Naruto padanya.

"Jadi karena itu kau meminta foto padaku?" tanya Sasuke menyipitkan kedua matanya, menyembunyikan tangannya yang terkepal erat.

"Uh, tidak! Bukan begitu, aku juga sebenarnya ingin melihat wajahmu. Kita sudah pacaran lebih dari setengah tahun kan, tapi tak pernah sekalipun aku melihat wajahmu yang sebenarnya…"

'…wajahmu yang sebenarnya…'

Kalimat itu tiba-tiba menjadi bergema di kepalanya.

Wajah…yang sebenarnya…

Benarkah Naruto ingin melihatnya…?

"…apa kau tidak penasaran dengan wajahku? Aku hanya ingin melihatnya. Aku tidak akan merubah pikiranku setelah melihatnya, Suke!"

Merubah pikiran…?

Naruto akan merubah pikiran tentangnya…

Naruto akan merubah pandangan tentang dirinya…

Naruto akan berubah jika dia sampai—!

Tidak.

Tidak boleh!

Naruto tidak boleh melihatnya!

Naruto tidak boleh melihat dirinya yang sebenarnya…

Naruto akan membencinya!

Naruto akan membencinya jika sampai tahu dirinya yang sebenarnya…

Naruto akan—

"Jadi kau berniat merubah pikiranmu kalau wajahku tidak seperti yang kau bayangkan?!" teriak Sasuke marah tiba-tiba berdiri. "Kau mau bilang kalau wajahku jelek kau akan tetap menerimanya?!" dia menjadi panik.

"A-apa?! B-bukan begitu!"

Tapi kalimat itu tidak bisa didengarnya lagi…

Kepanikan tiba-tiba memenuhi kepalanya…

Ketakutan menyelimuti seluruh perasaannya…

Dia takut…

Sangat takut…

Apa yang harus ia lakukan…

Apa yang harus—

Bagaimana jika Naruto sampai meninggalkannya…

Bagimana jika Naruto…

.

.

.

.

.

Ketika ia sadar, mata onyx-nya kembali menemukan pemandangan ruangan berdinding putih. Sasuke mengerjapkan matanya, lalu mengangkat salah satu tangannya dan menatapnya seakan sedang memastikan bahwa ia memang sudah kembali ke dunia nyata. Ia pun melepas nerve gear dari kepalanya. Lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas tempat tidur bersprei putih yang menjadi tempatnya berbaring. Diliriknya sekeliling ruangan tempatnya berada.

Kosong.

Hanya berisi sebuah meja kursi, dan tempat tidur yang kini ditempatinya.

Ruangan bercat serba putih dengan bau obat dimana-mana.

Sasuke tersentak kaget saat sebuah bunyi ringtone terdengar memenuhi ruangan. Dia melirik ke arah meja yang terletak di samping tempat tidur. Sebuah gadget berwarna biru menyala terang dengan ringtone berbunyi yang membuat benda itu bergetar.

Sasuke menggigit bibirnya, menatap sebuah nama yang tertera jelas di layar benda canggih itu. Benda itu akhirnya berhenti saat tak ada satupun orang yang mengangkatnya, namun beberapa detik kemudian menyala lagi.

Sasuke terpaku. Dia hanya terdiam menatap benda yang menyala terus menerus itu. Tangannya terkepal, meremas sprei putih tempat tidurnya saat benda canggih itu masih belum juga berhenti berbunyi. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terduduk disana, hanya memandang takut pada benda yang sangat berisik itu.

Dengan bergetar, tangannya pun akhirnya terulur, meraih benda berwarna biru itu. Bunyi keras yang muncul dari benda itu kembali membuatnya tersentak, menghentikan gerakan tangannya meraih benda itu. Setelah beberapa detik benda itu pun akhirnya berhenti berbunyi.

Dengan ragu-ragu, Sasuke mengambil gadget itu. Matanya terbelalak saat melihat begitu banyaknya panggilan dan pesan yang masuk. Dia mengigit bibirnya, tak berani membuka satupun pesan ataupun memanggil ulang nomor itu. Dia tersentak saat benda itu kembali berbunyi. Sebuah nama yang tertera pada layar itu membuatnya semakin merasa panik.

Naruto.

Naruto.

Naruto, Naruto, dan Naruto dan Naruto.

Nama itu terus muncul di layar handphone-nya.

Setelah sekian lama, Sasuke pun akhirnya memberanikan diri mengangkat panggilan itu.

"Sasuke!"

Suara baritone yang sudah familiar itu membuatnya hampir menjatuhkan handphone-nya. Sasuke menggigit bibirnya, tangannya yang bergetar terangkat menempelkan gadget itu pada telinganya.

"Sasuke! Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf! Tolong jangan marah padaku!"

Sasuke terdiam. Tidak. Dia membisu. Bibirnya digigit keras seakan ingin menahan perasaannya.

"Sasuke?! Kau mendengarku kan? Kumohon jawab aku, suke!"

Genggaman tangannya pada handphone pun bertambah erat. Sasuke membuka mulutnya namun hanya untuk menutupnya kembali.

"Kumohon jangan marah! Aku tidak akan sanggup jika kau sampai marah padaku! Aku benar-benar menyukaimu. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu marah. Jika kau memang tidak ingin menunjukan wajahmu, Aku sama sekali tidak akan mempermasalahkannya!"

Sebuah pantulan cahaya membuatnya menoleh ke sisi samping ruangan itu. Sebuah cermin di atas wastafel tertangkap oleh pandangannya. Ia pun tanpa sadar menggerakan tubuhnya untuk keluar dari selimut. Kakinya goyah saat ia menyentuh lantai, membuatnya hampir terjatuh jika bukan karena sebuah meja yang menjadi pegangannya. Ia pun mencoba untuk melangkah, berjalan dengan berpegangan pada dinding perlahan-lahan. Tubuhnya bergemetaran, terlalu lemah untuk menahan berat tubuhnya.

Napasnya terengah saat ia akhirnya sampai di depan wastafel itu. Lalu dilihatnya pun cermin itu, dilihatnya wajah yang terpantul jelas di cermin itu. Tangannya terulur, dengan gemetaran meraba wajah yang tertampang jelas disana, dengan perlahan menyusuri paras berkulit sangat pucat itu.

"Sasuke, kumohon berbicaralah. Aku tidak mau kau marah seperti ini. Aku sangat menyukaimu, Sasuke…"

Jari-jarinya bergerak, meraba wajah yang terpantul di cermin itu. Pipi yang dulunya berisi kini terlihat begitu kurus. Bibir yang seharusnya berwarna merah cerah, kini sangat pucat dan kering. Kulit putih susu itu semakin terlihat bertambah sangat pucat. Lalu mata onyx-nya pun menangkap helaian raven yang terlihat dari balik topi rajut biru yang dipakainya.

"…Aku ingin melihat wajahmu karena itu adalalah wajah seseorang yang aku sukai. Bukan karena Shikamaru ataupun siapapun…"

Wajah seseorang yang naruto sukai…

Wajah yang Naruto sukai…

Tidak!

Naruto tidak akan mungkin menyukainya…

Wajahnya…

Wajahnya kini terlihat begitu jelek…

Sangat jelek…

Bahkan rambutnya sekarang—

Dengan kasar, ia menarik topi rajut biru yang menutupi rambutnya, membuangnya entah kemana dengan kesal. Lalu ia pun menggigit bibirnya keras, menatap surai hitam yang kini hanya tertingal helaian tipis. Rambut hitam yang dulunya tebal itu kini terlihat begitu arang, membuat kulit kepala yang seharusnya tertutupi kini terlihat. Hanya dengan menyisirnya dengan jari saja, helaian itu akan rontok dan berjatuhan. Tinggal menunggu waktu, ia pun akan kehilangan rambutnya.

Ia sudah kehilangan keindahannya…

Ia sudah menjadi begitu jelek…

…sangat jelek…

..dan Naruto pasti…akan membencinya…

"…Aku tidak peduli seperti apa wajahmu. Aku hanya ingin bisa mengingat wajahmu saat aku merindukanmu."

Kedua onyx itu pun terbelalak lebar mendengarnya.

'…Aku hanya ingin bisa mengingat wajahmu saat aku merindukanmu…'

…merindukannya…?

Naruto akan merindukan wajahnya…?

Wajah ini…

Wajah yang begitu menyedihkan ini…

Naruto bilang ia akan….merindukannya…?

"Sasuke? Kau masih disana kan? Berbicaralah padaku…"

Sasuke menggigit bibirnya.

"…Aku benar-benar minta maaf. Aku akan melakukan apapun asal kau tidak marah lagi padaku. Aku juga tidak akan mengungkit soal foto lagi. Karena itu Sasuke, kumohon berbicaralah. Aku—'

"…nar…ngin…m…l..hatnya?"

Kalimat itu pun terucap olehnya, terdengar begitu lirih dan serak hampir tak bersuara.

"Sasuke?"

Sasuke menelan ludah. Genggaman tangannya mengerat, dan kedua matanya pun memanas.

"Sasuke? Aku tidak bisa mendengarnya, apa yang tadi—"

"…kau…ingin melihatnya?"

Suara yang begitu serak itu terlepas lagi dari bibirnya.

"Huh?"

"….wajahku…"

Ucapnya menggigit bibir.

"Itu…aku…tidak ingin memaksamu. Aku tidak mau—"

"…kau bilang ingin melihatnya…"

"Itu benar, tapi—"

"…aku akan memberikannya padamu…tapi apa…"

Sasuke menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa mengganjal, begitu berat dan menyakitkan. Pandangannya pun mulai berkaca-kaca…

"…"

"…apa kau akan tetap bersamaku…?"

….dan sebutir air hangat akhirnya mengalir pelan dari sudut matanya…

"Bodoh! Tentu saja! Apa kau tidak mendengar perkataanku barusan?! Aku sangat menyukaimu Sasuke! Hanya karena sebuah foto tidak mungkin aku akan meninggalkanmu! Sudah kubilang aku tidak peduli seperti apa wajahmu. Aku menyukaimu bukan karena wajahmu, suke. Aku menyukaimu karena itu adalah kau, Sasuke."

Bendungan air mata itu pun akhirnya pecah. Pipinya kini menjadi begitu basah. Napasnya tercekat menahan isakan tangisnya.

"…kau…tidak akan membenciku…?" kalimat itu diucapkan dengan serak, bibirnya bergetar menahan isakannya yang mulai terdengar.

"Apa?! Itu…damn it, Sasuke!" Naruto berteriak padanya. "kenapa kau selalu sebodoh ini sih soal perasaanku?! Aku sudah mengatakannya berkali-kali kan! Aku sangat menyukaimu, sampai kapanpun aku tidak mungkin membencimu!"

Tangannya terangkat, membungkam mulutnya untuk mengeluarkan isakan yang mungkin bisa didengar Naruto.

"Dengar, teme! Lupakan saja soal aku meminta fotomu. Aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Bagiku bertemu denganmu dalam dunia game sudah sangat cukup. Karena itu jangan bicara hal bodoh seperti ini lagi, oke? Aku sangat menyukaimu, kau harus ingat hal itu."

'Aku sangat menyukaimu…'

Tubuhnya pun merosot jatuh ke lantai. Isakannya sedikit demi sedikit terlepas dari bibirnya. Air mata yang mengalir itu pun menjadi semakin deras.

'Aku sangat menyukaimu…'

Kalimat itu bergema dalam kepalanya, membuatnya semakin terisak lebih keras. Matanya terpejam, tak sanggup lagi menahan air matanya yang menjadi berat.

"Sasuke? kau mendengarku kan? Bicaralah."

Tidak. Ia tak sanggup untuk bicara. Ia sudah tak sanggup. Tubuhnya membisu. Hanya sebuah isakan yang mampu ia lakukan.

"Sasuke…?"

"…kau…tidak sedang menangis kan…?"

Kalimat itu pun membuatnya semakin terisak. Handphone yang digenggamnya akhirnya terjatuh ke lantai.

"…bisakah kita bertemu sekarang…?"

Iya.

Iya.

Dia ingin bertemu.

Dia ingin bertemu Naruto.

Dia ingin melihat pemuda itu.

Namun tak satupun suara yang keluar dari bibirnya. Hanya sebuah isakan. Hanya isakan yang terdengar lirih memenuhi ruangan itu.

.

.

.

.

.

Pintu berwarna coklat itu akhirnya berada di hadapannya. Gerakannya pun terhenti, matanya menatap menerawang pada pintu itu, seakan ingin melihat langsung isi dari balik pintu itu. Tangannya pun terulur, dengan ragu-ragu menyentuh gagang pintu di depannya. Menarik napas, Sasuke pun memberanikan diri membukanya.

"Sasuke! Aku cemas sekali kau tidak akan datang!" suara teriakan itu mengagetkannya, disusul sebuah pelukan erat yang menerjang ke tubuhnya.

Sasuke terpaku, tak mampu berkata ataupun bergerak membalas pelukan itu, ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya takut pertahanan yang sudah dibentuknya sebelum kemari menjadi hancur.

"Sasuke? Kau tidak apa-apa kan? Apa kau masih marah padaku?" suara itu terdengar begitu cemas, membuatnya mengigit bibir saat mendengarnya.

"Sasuke?"

Ia pun akhirnya menggeleng pelan.

"Kau tidak apa-apa kan?"

"Kemarilah."

Naruto menarik tubuhnya, membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka pun duduk di sebuah sofa. Namun Sasuke hanya menunduk, tak berani menatap langsung mata biru yang menatapnya.

"Sasuke." Naruto memanggilnya pelan, dua tangan menangkup wajahnya.

"Lihat aku, Sasuke." dan Sasuke pun tak bisa menolak untuk mengangkat wajahnya, menatap dua manik biru yang menatapnya lembut. Hatinya tiba-tiba menjadi sakit, matanya tiba-tiba memanas ingin menangis.

Sasuke menggigit bibirnya ketika Naruto menatapnya begitu lembut, memperhatikannya begitu serius. Jari-jari yang menyentuh wajah dan rambutnya terasa begitu lembut namun disaat yang sama membuat hatinya perih.

"…kau ingin melihatnya?" kalimat itu akhirnya terucap olehnya.

"Kau ingin melihatnya?" ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih yakin tanpa gemetar.

Sasuke mulai menjadi takut saat Naruto hanya terdiam. Keheningan sempat mengisi ketika tak satupun dari mereka yang bicara. Naruto hanya menatapnya, memperhatikan wajahnya. Lalu akhirnya bibir itu pun membentuk sebuah senyuman.

"Tidak."

Jawaban itu membuat Sasuke tertegun, mata hitamnya pun terbelalak lebar.

"Kurasa ini pun sudah cukup, bisa melihatmu seperti ini, bisa menyentuhmu seperti sekarang. Walaupun ini hanya dunia game, tapi kau nyata, ada disini bersamaku. Ini sudah cukup. Kelak jika kau memang ingin menunjukkannya, aku dengan senang hati akan melihatnya. Karena itu aku akan menunggu sampai kau siap. Tidak perlu besok, minggu depan ataupun bulan depan. Kapanpun itu aku tidak peduli. Kau hanya perlu berjanji satu hal padaku, kalau kau tidak akan meninggalkanku, Sasuke." ucap Naruto tersenyum lebih lebar.

'Berjanji…?'

Dia…

Tapi dia…tidak mungkin…

Bibirnya membuka namun tak sanggup mengeluarkan suara, hanya kembali mengatup erat lagi.

Kenapa…

Padahal itu hanya sebuah janji…

Tapi kenapa…terasa begitu berat…

Kenapa hatinya terasa begitu sakit…

"Oh, benar juga, ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu." Ucap Naruto tiba-tiba menarik perhatiannya kembali.

"Um, sebenarnya aku ingin memberikannya di saat yang tepat, tapi kurasa aku tidak bisa menahannya lagi." Naruto berkata sedikit ragu, menggaruk belakang kepalanya dengan malu.

Sasuke hanya terdiam, menatap Naruto dengan bingung sekaligus penasaran. Hati nya masih terasa sakit, namun juga berdebar ingin tahu apa yang ingin diberikan Naruto padanya.

"Um, Sasuke, apa kau bisa menutup matamu?"

"Ayolah, sebentar saja, tatapanmu membuatku gugup, teme." Pinta Naruto menutup matanya dengan telapak tangan.

"Hn." Sasuke hanya bisa menurut. Ia memejamkan matanya, menunggu apapun yang akan diberikan oleh Naruto. Alisnya sedikit menekuk saat merasakan tangannya digenggam oleh Naruto, namun ia tidak menolak. Ia tak bisa menolak. Tangan yang menggenggamnya terasa begitu nyata namun disaat yang sama ia tahu itu tidak nyata.

Apa Naruto selalu merasakan hal ini?

Merasa bahwa hubungan mereka begitu rapuh, berada di atas benang tipis antara kenyataan dan mimpi belaka. Bagaimana kalau ternyata yang ia rasakan sekarang hanyalah mimpi. Bagaimana jika sekarang ia bukan sedang dalam dunia game, melainkan hanya di dalam mimpi belaka, bukan sebuah kenyataan.

Karena itu Naruto ingin bertemu dengannya…

Karena itu Naruto ingin melihat wajahnya…

Tapi dia…tidak mungkin bisa melakukannya…

Tubuhnya bahkan sudah tak mampu berjalan jauh keluar kamar…

Kehidupannya kini hanya sebuah ruangan kecil di dalam rumah sakit…

Jika…

Jika Naruto sampai mengetahuinya…

Naruto mungkin…akan meninggalkannya…

…dan dia…akan kembali sendirian…

Tak akan ada lagi seseorang yang berisik di sekitarnya…

Tak akan ada lagi pemuda pirang yang selalu mengatakan suka padanya…

Dia akan kembali sendirian…

Sebuah benda kecil diletakan diatas tangannya, menarik Sasuke kembali dari pikirannya. Benda itu berbentuk kotak, terasa ringan namun cukup keras di tangannya.

"T-tunggu!" ucap Naruto tiba-tiba menghentikan gerakannya membuka mata.

"O-okay, kau boleh membukanya sekarang."

Sasuke pun membuka matanya. Dilihatnya langsung benda kecil yang ada di tangannya, berbentuk kotak seperti yang ia rasakan sebelumnya. Kotak kecil berwarna biru tua, dengan desain simple menghiasinya. Sasuke mendongak, menatap penuh tanya akan benda yang ada di tangannya itu.

Naruto hanya mengangguk pelan, mengisyaratkannya untuk membuka.

Dengan ragu-ragu, Sasuke pun membuka kotak itu dengan perlahan. Jantungnya menjadi berdetak bertambah cepat, jari-jarinya sedikit bergemetar takut untuk melihat isi benda itu.

..dan napasnya pun tercekat, matanya terbelalak lebar.

Benda itu sangat kecil dan berdesain simple. Tapi itu adalah benda yang memiliki arti begitu dalam. Napasnya tertahan, menatap sebuah cincin perak yang berkilau begitu indah di dalam kotak itu. Ia pun mendongak, menatap tak percaya pada pemuda pirang di depannya.

"Um, a-aku tahu ini pasti membuatmu terkejut, d-dan kita juga baru sebentar saling mengenal..."

Kalimat itu satu per satu diucapkan Naruto…

"…T-tapi waktu yang kuhabiskan bersamamu merupakan waktu terindah yang pernah aku alami…"

Dadanya tiba-tiba menjadi begitu sesak…

"…Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, walaupun ini hanya dunia game, tapi perasaanku tulus padamu…"

…dan matanya pun mulai memanas, tenggorokannya tiba-tiba terasa mengganjal, begitu berat dan menyakitkan.

"…Aku sangat mencintaimu, Sasuke. M-maukah…"

Napasnya tertahan, pandangannya mulai menjadi blur…

"Maukah kau menikah denganku, Sasuke?"

…dan ia tak sanggup menahan air matanya untuk tak jatuh…

Kenapa…

Kenapa Naruto harus mengatakannya…

Kenapa Naruto begitu mempercayainya…

Kenapa Naruto…

…begitu mencintainya…

Hentikan…

Tolong hentikan…

Ia tak sanggup…

Ia sudah tak sanggup…

Perasaan ini…begitu menyesakkan…

Sangat menyesakan…

Kenapa Naruto harus…membuatnya memiliki perasaan ini…

Kenapa Naruto harus…membuatnya merasakan sebuah cinta…

Ini salah…

Perasaan ini salah…begitu menyesakkan…sangat menyesakkan dan menjeratnya begitu kuat…

Membuatnya tak sanggup untuk melepas diri lagi…

melepas dari pemuda yang kini sangat dicintainya...

Seharusnya ia tidak terjerumus sedalam ini…

Seharusnya ia tidak mencintai pemuda itu…

Tidak.

Bukan.

Naruto lah yang seharusnya tidak mencintainya…

Naruto seharusnya tidak bertemu dengannya…

Karena dia…

Karena tubuhnya…sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi…

..dan mereka…tidak mungkin bisa bersama…

"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Sasuke. Kau adalah milikku sekarang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu."

'Bisakah kau memenuhi janji itu…

…Naruto…?'

.

.

.

.

.

"Hidupnya tidak akan bertahan lama lagi, anda harus segera memutuskannya, Uchiha-san…" suara itu samar-samar terdengar olehnya

"Tapi, dokter, bisakah anda memberiku waktu sedikit lagi, hanya sedikit lagi…" suara seseorang yang terasa familiar kini terdengar. Matanya yang terpejam rapat pun terbuka perlahan.

Sebuah jendela besar muncul di pandangannya. Ia melirik sejenak, mendapati dirinya sedang terbaring menyamping diatas tempat tidur.

"Kami benar-benar minta maaf Uchiha-san. Kami sudah melakukan hal terbaik yang kami bisa untuk menolongnya. Hanya tertinggal satu cara yang bisa kami lakukan, tapi itu tergantung pada keputusan anda…" suara tadi terdengar lagi dari arah belakang tubuhnya. Namun, ia tak membalikkan tubuhnya. Tubuhnya terpaku, ia menjadi takut melihat dengan jelas apa yang sedang dua orang dibelakangnya bicarakan.

"Dokter, tolong beri aku waktu, aku pasti bisa membayarnya. Bisakah kalian menyelamatkan adikku terlebih dahulu? aku pasti bisa membayar pengobatannya…" suara itu terdengar seperti suara kakaknya.

"Kami ingin menyelamatnya Uchiha-san. Namun kami tak bisa melanggar prosedur rumah sakit ini. Biaya pengobatannya sangat mahal, kami tak bisa begitu saja mengoperasi adik anda. Kita juga masih harus mencari donor sumsum untuknya. Kami sedang mengusahakan mencarinya. Sampai saat itu, anda harus memikirkannya baik-baik. Operasinya tak akan berjalan jika anda tak membayarnya terlebih dulu…" terang Doktor itu lagi dengan tersenyum sedih, merasa sakit harus menjelaskan hal itu pada keluarga pasiennya.

"A-aku mengerti…terima kasih dokter…" Itachi hanya bisa berkata pasrah.

Dokter itu pun hanya mengangguk pelan, sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan ruangan itu.

Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu, membuatnya menjadi terasa begitu tegang dan dingin.

Sasuke menggigit bibirnya, ia tak mampu berkata ataupun bergerak. Ia bahkan tak berani untuk bernapas karena takut kakaknya akan tahu kalau ia sudah menguping pembicaraan penting itu.

Sebulir air mata menetes pelan dari sudut matanya.

Dia…lagi-lagi…sudah menyusahkan kakaknya…

.

.

.

.

.

.

Sasuke menatap handphone di tangannya dengan pandangan kosong. Benda itu bergetar beberapa kali lalu berhenti, sebelum beberapa detik kemudian bergetar lagi. Terus seperti itu sampai ia tak tahu lagi sudah berapa kali hal itu terjadi.

Sudah satu minggu sejak Sasuke memutuskan untuk berhenti menemui Naruto, berhenti masuk ke dalam dunia game hanya untuk melihat kekasihnya.

Sejak itu Naruto terus menerus menghubunginya, tanpa absen satu hari pun, membuat rasa sakit di hatinya kian menumpuk berkali-kali lipat.

Genggaman tangannya mengerat kuat saat benda canggih itu bergetar lagi. Bibir ia gigit dengan keras, menahan isakannya yang ingin keluar dari persembunyiannya. Matanya pun mulai memanas.

Naruto.

Nama itu terlihat lagi di layar benda canggih itu. Lalu muncul lagi, lagi, dan lagi, tanpa henti…

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Ingin sekali ia mengucapkan kata itu pada kekasihnya…

Ia sudah tak sanggup lagi…

Ia benar-benar harus menghentikannya sekarang…

Sebelum semuanya menjadi semakin dalam…

Sebelum ia tak bisa melepas diri lagi…

Sebelum ia menyakiti Naruto lebih dari ini…

Tapi sesungguhnya ia tahu…

Bahwa semua itu sudah terlambat…

Ia sudah terjerat begitu dalam…

Ia sudah tak bisa melepas diri lagi…

Ia sudah menyakiti Naruto begitu banyak…

Tak hanya kekasihnya…bahkan kakaknya…

Ia sadar tubuhnya sudah tak mampu bertahan lagi…

Hidupnya tak akan bertahan lebih lama…

Cepat atau lambat kematian pasti akan menjemputnya…

Bukankah…

Bukankah akan lebih baik jika hal itu terjadi lebih cepat…?

Dengan bergemetar, Sasuke pun menekan tombol 'send' di layar handphone-nya…

Dengan cepat, pesan itu pun terkirim…

Pesan yang ia tulis untuk mengakhiri segalanya…

Untuk mengakhiri hubungannya dengan Naruto…

.

.

.

.

.

Naruto,

Aku tahu kau pasti sedang mencariku sekarang.

Aku tak bisa mengatakan apapun soal alasanku tiba-tiba menghilang.

Tapi ada satu hal penting yang harus aku beritahu padamu.

Jangan mencariku ataupun menghubungiku lagi.

Hubungan kita berakhir sampai disini.

Aku sudah bosan denganmu.

Selamat tinggal.

By

Uchiha Sasuke

.

.

.

.

.

.

Drap!—Drap!—Drap!—Drap!—Drap!

Seorang pemuda berlari dengan terburu-buru, menghiraukan teriakan seseorang yang memperingatkannya untuk tidak berlari di koridor rumah sakit.

Brugh!

"M-maaf…maafkan saya…maaf!" ucap Itachi dengan panik saat ia menabrak seorang perawat. Tanpa terlalu mempedulikannya, Itachi langsung berlari pergi meninggalkan perawat itu, melesat dengan cepat menuju salah satu ruangan gawat darurat di rumah sakit itu.

Koridor berdinding putih itu tiba-tiba terasa begitu jauh. Padahal ia sudah berlari begitu cepat, namun kenapa terasa begitu lama untuk sampai di ruangan itu.

Napasnya terengah-engah saat ia akhirnya sampai di depan ruangan itu. Matanya dengan segera menangkap lampu hijau menyala yang dipasang di atas pintu ruangan itu, memberitahunya bahwa operasi penting sedang berlangsung disana.

"Uchiha-san?" seorang perawat memanggil namanya saat melihatnya.

Itachi hanya mengangguk cepat, menghampiri perawat itu. Perasaan panik dan takut semakin menjadi-jadi di dalam dadanya.

"B-bagaimana keadaannya?!" ucapnya terengah-engah.

Perawat itu tersenyum sedih. "Kami sedang menangani adik anda semaksimal yang kami bisa. Operasinya akan memakan waktu satu atau dua jam. Kondisi-nya tiba-tiba menjadi kritis beberapa waktu yang lalu. Kami takut adik anda juga mendapat serangan jantung. Kami bersyukur salah satu perawat kami menemukannya dengan cepat." Ucap perawat itu menerangkan kondisi adiknya yang kini sedang di operasi.

"A-apa dia akan baik-baik saja…?!" ucapnya getir, tangannya terkepal erat, mendapat sebuah telepon dari rumah sakit saat ia bekerja tadi benar-benar membuatnya hampir jantungan. Ia benar-benar takut terjadi apa-apa pada Sasuke.

"Untuk sekarang, kami akan melakukan yang terbaik untuk menolongnya…"

.

.

.

.

Satu jam.

Dua jam.

Hampir tiga jam ia menunggu, operasi itu masih belum terselesaikan.

Jantungnya hampir melompat kaget saat pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka.

Itachi dengan cepat menghampiri para dokter dan perawat yang keluar dari ruangan itu. Jantung berdebar ketakutan mendengar berita yang akan diucapkan oleh salah satu dokter yang baru saja mengoperasi adiknya.

"Uchiha-san?" seorang dokter menghampirinya dengan sebuah kertas di tangannya.

Itachi hanya mengangguk, menunggu dokter itu untuk melanjutkan kalimatnya.

Dokter itu pun menghela napas, sebelum akhirnya berbicara lagi. "Kondisi adik anda sudah stabil sekarang. Dia sudah melewati masa kritis. Untuk sekarang kondisinya tubuh tidak akan mengkhawatirkan…"

Seharusnya ia merasa lega mendengar itu, tapi entah kenapa…ada satu hal yang terasa ganjil, satu hal yang membuat Itachi semakin cemas saat ia melihat ekspresi dokter itu yang terlihat tidak enak dalam menerangkan kondisi adiknya.

"Uchiha-san. Kami benar-benar minta maaf, kami sudah melakukan hal yang terbaik. Adik anda memang sudah melewati masa kritis untuk sekarang, tapi saat ini…dia…tubuhnya dalam keadaan koma. Kami takut dia tak akan bangun lagi..."

.

.

.

.

.

.


tbc / end ...?


tinggal satu chapter lagi...

tapi, review dulu plis...? hehe ^^


Special Thanks to :

Kim Tria : haha, oke, Fro sapa balik "Hai, Kim-chan ^^" wkwkwk

iya hubungan mereka LDR hihi,, kalau karakter narusasu di dunia game sao nya sih terserah para reader aja hehe, Fro malas mendiskripsikannya haha #digamparr# tapi beda dg aslinya ya, cuma sama warna rambut dan mata saja ^^

Sasuke bisa sembuh ga yaaa :P

Aicinta : haha oke2, happy ending kok, fro ga suka sad ending huhuhu *nangis sendiri nulis fic ini TT-TT*

doain aja deh, moga2 bisa tepat waktu tanggal 23 haha _

Sabachi Gasuchi : iyaaa ampunn pasti fro lanjutin ko haha :p

CA Moccachino : familiar? pernah baca yang mirip? haha, ceritanya ringan sih, ga seberat royal revenge, jd mudah di tebak, walaupun hiks hiks hweee maaf naruu, sasuu TT_TT

lhalaech : ini dilanjut kok haha

ikatriplesblingers : makasih hehehe, lebih kerasa lg ga brothershipnya disini?

NaluCacu Cukacuka : iyaa ampuunnnn mak, Fro pasti lanjutin kooo *ikut nangis sambil makan mie*

Monster Danau Toba : oke2 ini lanjut, mereka bakal ketemu kok d chappy tiga ^^

natasya agustine 12 : makasihh, ini apdet cepet kan...? haha

suira seans : hehe iya kah? semuanya lagi pada melow kali wkwkwk

alta0sapphire : oke ini lanjut hehe, happy ending ko, nangis bombaynya uda cukup hiks hiks TT

CrowCakes : aduh di puji sama crow-senpai, jadi malu huehehehe o/o #ditabok# oke2 pasti happy end kok, nyesek nulisnya hiks

U-Know Yunjae : iyaa, Fro juga terharuuu hiks hiks, aduhh kasian narunya hweee, ga sanggup nulisnya lagi TT

Ndah D. Amay : haha banyak jg yang minta happy end :3

duh duh, Royal Revenge ? Apaan tuh?! Makanan baru ya?! #Ditabokk# uhuk, okay okay maap, mungkin satu bulan lagi... #dihajar_massa

ClapJun : ga pernah nonton sao?! ahhh cepetan nonton sana! padahal seru banget ceritanya! *MAKSA* #Digamparrr

ShinKUrai : Kenapa harus leukemia? karena Fro pengin leukemia haha...

oke2, bukan sad ending kok

*nerima sodoran sumsum tulang belakang

*pergi ke pasar gelap

*jualin tuh sumsum tulang belakang

*uang buat beli es krim

*digampar bolak-balik sama yama*

usur saos : ga mauuu sad ending aja dehhhh *gantian narik2 kaki* #digamparr

anu, anu, itu, aduh ditanya gituan, wkwkwk, iya mirip mimpi basah haha, di dunia nyata engga sakit, kan cuma lewat pikiran doang

pfft royal revenge lagi? apaan sih itu?! *pura2 amnesia* #dirajangmassa

shin : ini udah asap kan? hehe

onewbiased : oke2 makasih, ini dilanjutt

Yuki Jaeger : hwee hati fro juga sakit... mau liat ga? #ditabokk

Yassir : yep, tiga chappy doang hehe

Ivy Bluebell : hweee hiks hiks Fro jg nangiss nulisnya TT-TT

uhuk, maaf, fro ga kenal royal revenge tuh #digamparr# uhuk oke2 haha, abis ini dilanjut ko..

yuharu kouji : disiksa dulu?! oh my, ini udah cukup menyedihkan belum? *langsung mikir berbagai cara bt nyiksa sasu* #ketawa sadis

Namikaze lin-chan : iya, nanti Fro buat keajaiban, nanti sasu akhirnya pergi karena sakitnya, terus dia idup lagi jadi vampire, trus gigit naru br jadi vampire juga, terus mereka pun hidup bahagia sebagai vampire #smirk #digamparr bolak balik

uhuk, maaf imajinasi meliar -"

1412 : happy end ga yaaaaaaaaa :p

Guest : tapi mereka uda bahagia kan di dunia game haha? #digampar

ai no dobe : iya ini lanjut dan tbc lagi kan? wkwkwk

fanfic lain? fanfic mana ya? *pura2lupa* #digamparr


ada yang belum kesebut? maaf kalo iya, mungkin Fro melewatkanya...

makasih buat semua yang sudah review dan baca cerita ini ^^

P.S. ada yang sadar kalau chapter ini lebih pendek dari chapter sebelumnya? soalnya memang lebih pendek huehehehe *nyengir gaje*