My Lovely Girl
Disclamer © Naruto : Masashi kishimoto
Rate : T
Pairing : Sasuke Uchiha X Sakura Haruno
Au, ooc, typo, gaje, abal berhamburan XD
.
.
.
.
Chapter 3 : Sweet Ending
~**o**~
Suasana taman sekolah KHS saat ini sangat sunyi walaupun jam untuk semua siswa beristirahat. Mungkin semua berada di kantin dan entah kenapa semua tidak ada yang duduk atau beristirahat di taman sekolah.
Di bawah pohon rindang salah satu yang berada di taman sekolah, ada dua anak manusia yang berbeda gender sedang menikmati makan berdua. Seakan menikmati waktu hanya untuk mereka bersama. Sasuke hanya menyenderkan kepala di bahu kecil Sakura dan memejamkan mata. Karena kehebohan tiga hari yang lalu semua penghuni sekolah tahu mereka sepasang kekasih.
"Ne Sasuke-kun! Aku bawa bekal, kau mau?" suara Sakura memecahkan keheningan. Membuka kelopak mata, Sasuke bangun duduk menghadap Sakura.
"Hn, suapi!" Perintah Sasuke tetapi lembut pada Sakura.
"Baiklah." ucap Sakura pasrah. Semenjak kedatangannya kembali Sasuke selalu tidak pernah jauh. Bahkan dia menunggu sampai Sakura tertidur baru ia akan pulang. "Aa..." Sakura menyodorkan telur gulung kepada Sasuke.
"Enak! Kau memang istriku Uchiha Sakura." Kata Sasuke yang memakan makanan bekal yang dibuat Sakura. Melihat rona merah menjalar di pipi Sakura, ia menyeringai.
"B-baka kita belum menikah!" Ucap Sakura gugup dan memalingkan wajahnya.
"Sudah hime."
"Kita saja baru bertemu lagi Sasuke-kun."
"Kau lup..." ucapan Sasuke terpotong saat ciuman mendarat di pipinya. Memegang pipinya ia tersenyum melihat Sakura yang wajahnya semerah tomat favoritnya. Ingin sekali ia melahapnya jika saja telpon dari setan merah yang tak lain mengancamnya. "Sebulan lagi aku akan menyusul Sakura. Ingat jangan kau apa-apakan adikku! Kau ayam mesum! Atau aku tidak akan merestuimu." Cih! kenapa ia malah pindah ke konoha lagi pikirnya.
"Tuk." Sentilan di dahi membuat Sasuke kembali dalam lamunannya. Mengelus dahi yang lumayan nyeri akibat Sakura ia mendengus,
"Sakit hime. Apa kau ingin juga seperti itu?"
"T-tidak! Gomen." Cicit Sakura. Memejamkan mata karena Sasuke menjulurkan tangan ke wajahnya. Tetapi bukan sentilan yang di dapat. Tapi dorongan kepalanya maju ke depan dan ia merasakan kecupan yang sangat lama mendarat di dahinya. Hangat pikirnya.
"Aku mencintaimu," bisik Sasuke dan membawa Sakura dalam pelukannya. Membalas pelukan Sasuke, Sakura tersenyum dan berkaca-kaca. Sungguh ia sangat mencintai pemuda ini dan bahagia bahwa Sasuke masih menunggu dan mencintainya.
.
.
.
Di kursi panjang yang ada di pinggiran taman terdapat teman-teman mereka yang menyaksikan dan sekaligus menjaga.
"Cih, Teme kenapa ingin berduaan saja di taman pakai garis larangan segala." Keluh Naruto.
"Sasuke sangat mencintainya Naruto. Mungkin dia sangat merindukan Sakura makanya tidak mau terganggu." jelas Ino melihat Sakura masih ada dalam dekapan Sasuke.
"Tapi nanti jika ada sensei tahu bagaimana?" tanya Naruto.
"Makanya kita disini untuk berjaga-jaga. Lagian semua sensei sedang ada rapat." Jawab Sai.
"Ahh, aku ingin dekat dengan Sakura-chan. Tapi Teme selalu menghalanginya." keluh Naruto. "Pletak." jitakan pada kepalanya membuat ia meringis. "Kenapa sih kau Neji? Apa kau sangat tertarik kepadaku sehingga senang menyentuhku?" sewot Naruto.
"Bodoh!"
"Apa katamu?"
"Baka Dobe."
"NEJ..." teriakan Naruto terhenti dengan leraian yang menyentuh tangannya. Menoleh ternyata Shikamaru yang menguap bosan. "Berisik kalian menggangguku saja." ucap Shikamaru dan bangun menuju tempat rindang dibawah pohon ia melanjutkan ritualnya 'tidur'.
"Cih pemalas!" kata Naruto.
"Aku dengar Naruto!"
"Eh..he...he... Aku hanya bercanda Shika dattebayo." ucap Naruto sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Bisa gawat jika Shikamaru marah nanti ulangan bagaimana, pikir Naruto ngeri akan mendapat angka 1.
.
.
.
Suasana malam di kediaman Haruno sangat sunyi. Memang hanya ada Sakura seorang diri di rumah yang dulu ia tinggali ini. Sasori kakaknya akan menyusul ke konoha sebulan lagi karena ia harus menyelesaikan urusan perusahaan keluarganya dulu yang berada di Suna. Orang tua mereka akan tinggal di Suna merawat nenek mereka yang tinggal sendirian. Sayup-sayup terdengar suara tawa dan televisi dari ruang tengah. Sakura sedang bersama Sasuke yang menemaninya setiap malam hingga ia tertidur.
"Ha..ha..ha.. Lihat Sasuke-kun anak itu sangat lucu." Kata Sakura yang melihat tingkah anak kecil yang sangat menggemaskan. Duduk bersila di samping Sasuke menyenderkan kepalanya Sakura bergumam,
"Apa aku akan punya seperti itu ya?"
"Kita bisa punya yang lebih dari itu Sakura." Jawab Sasuke yang ternyata mendengar gumaman Sakura.
"A-apa nya Sasuke kun? Kita masih sekolah." Kata Sakura yang dibuat merona kembali.
"Hn, tak masalah. Sakura ..." Perkataan dan panggilan Sasuke membuat Sakura menoleh. "Ya Sasuke kun." jawab Sakura.
Onyx dan emerald bertemu memancarkan kerinduan dan cinta yang membuat jantung mereka berdebar kencang jika merasakannya. Menggengam tangan Sakura lembut Sasuke tersenyum hanya untuk Sakura. Sungguh ia sangat menikmati semua hal hanya dengan Sakura.
"Berjanjilah jika sampai kapan pun kau tidak akan meninggalkanku lagi." Ucap Sasuke lirih membawa tangan Sakura merasakan detak jantungnya. "Kau tau, a-aku tidak bisa tanpamu. Aku sangat mencintaimu! Sangat... sangat. Aku hampir gila jika tidak merindukanmu." kata Sasuke lirih dan Sakura merasakan setetes air jatuh pada lengannya. Ia memandang Sasuke sendu.
"Sa-su..." Sakura tidak melanjutkan ucapannya. Ia melepaskan genggaman tangan pada Sasuke dan memeluk erat Sasuke. Ia terisak "Gomen...gomen..." kata Sakura lirih.
Melepas pelukan mereka, Sasuke menempelkan kening mereka. Sasuke menggeleng, menghapus air mata pada pipi Sakura. Ia mendekatkan jarak mereka sehingga bibir mereka bersentuhan. Tangannya yang tadi mengelus rambut merah muda Sakura kini turun membelai tengkuk Sakura. Mendorong untuk memperdalam ciuman mereka. Tidak lama Sasuke melepaskan bibir Sakura yang ditawannya. Melihat Sakura yang terengah-engah dengan muka merah dan mata sayu membuat Sasuke tidak sabar menanti hari itu. Karena ia sudah berjanji akan menjaga Sakura-nya.
"Sasu~" cicit Sakura yang merebahkan kepalanya di pangkuan Sasuke.
"Hn, tidur'lah hime!" Perintah Sasuke yang mulai membelai rambut Sakura lembut. Sungguh ia sendiri malu karena ini baru baginya dan juga Sakura berciuman lumayan lama. Tadinya ingin meneruskan, tapi ia tidak ingin sampai ingkar. Bisa gawat pikirnya.
Lama dalam keheningan dan suara dengkuran halus membuat Sasuke berhenti mengelus helaian yang berada di pangkuannya. Menelusup tangan dibawah punggung dan lutut Sakura ia menggendong ala bridal style. Melangkah dengan pelan agar Sakura tidak terbangun ia menaiki tangga menuju kamar Sakura yang berada di lantai atas.
Merebahkan dengan hati-hati keranjangnya, Sasuke menyelimuti Sakura dengan pelan. Duduk dipinggiran ranjang, Sasuke membelai pipi yang sekarang semakin halus. Tersenyum memandang Sakura yang terlelap ia teringat kembali perkataan sasori!
"Dia sempat koma satu bulan. Dan maaf aku lupa memberitahu kalian karena saat menuju rumah sakit tasku tertinggal di gerbong dan setelah sadar Sakura tidak ingin kau mengetahuinya. Dia tidak ingin membuatmu mencemaskannya. Karena lima bulan ia mengalami kelumpuhan karena patah di kakinya. Tetapi setelah di kemo sedikit-sedikit ia bisa dan akhirnya lancar kembali. Sekitar lima bulan yang lalu aku dan Itachi bertemu. Itachi sempat marah karena tidak memberitahukan kepada kalian dan bilang kau sedang mencari-cari keberadaan Sakura. Tetapi Sakura memohon kepada Itachi jangan memberitahumu dan ia janji akan menemuimu langsung. Dan aku harap kau menjaganya baik-baik sebelum aku kesana!"
Memejamkan mata dan kembali membukanya. Ia kembali memandang wajah pulas Sakura "Semoga mimpi indah. Aku tak akan membuatmu jauh dariku lagi hime." Ucap Sasuke lirih. Mendekatkan kepalanya ia mencium kening Sakura-nya dengan lembut menunjukan betapa ia sangat menyayangi Sakura gadis-nya. "Oyasumi hime." bisiknya halus dan melangkah keluar kamar.
Setelah mengunci pintu depan rumah Sakura ia bergegas melangkah menuju mobilnya. Ia memang meminta duplikat kunci rumah Sakura agar ia tidak khawatir jika meninggalkan Sakura yang tinggal sendiri. Sebelum memasuki mobil ia menoleh-melihat kamar Sakura- memasuki mobil ia langsung meninggalkan rumah kekasihnya.
.
.
.
Akhir pekan adalah hari dimana semua orang untuk menikmati entah dengan keluarga, teman bahkan kekasih. Di sinilah mereka berada 'Konoha U Park' yang sedang penuh sesak oleh pengunjung.
"Sasuke-kun penuh sekali." keluh Sakura yang melihat antrean panjang.
"Kenapa memang?" tanya Sasuke yang mengeryit alis heran. Ia memang tidak suka tempat ramai tetapi jika Sakura yang meminta ia tidak mungkin menolak.
"Kalau begitu..." Tunjuk Sakura ke para pengunjung "Kapan kita bisa naik semua wahana? Bisa-bisa cuma dua saja."
"Hn, ayo!" ajak Sasuke yang menggandeng Sakura menuju pintu yang berada di area khusus yang memiliki card khusus VIP.
"Ehhh ... Sasuke-kun tunggu! Kenapa kita tidak membeli tiket?" tanya Sakura heran karena Sasuke langsung melangkah menuju pintu masuk tersebut.
"SELAMAT SIANG TUAN MUDA!" Sapa semua pegawai yang berada di sana dan membungkuk hormat.
"Hn."
"..."
"Tuk!" Sentilan Sasuke membuat Sakura sadar dan meringis.
"Sakit Sasu~" Rengek Sakura sebal karena sentilan didahinya.
'Cup' ciuman di kening kembali di daratkan Sasuke kepada Sakura. "Maaf. Ayo!" kata Sasuke yang melangkah dan masih setia menggandeng tangan Sakura.
Adegan yang romantis membuat semua orang merona dan iri. Hah, tak disangka lelaki paling diincar di Konoha sudah memiliki kekasih dan membuat khususnya kaum hawa mendesah kecewa.
.
.
.
~*o*~
"Sasu," panggil Sakura lemah.
"Hn."
"Turun 'kan saja!" Perintah Sakura. Ia memang lelah dan pusing karena saking antusiasnya menaiki semua wahana. Dan Sasuke menyurunya naik ke punggungnya. Menggendong di tengah lautan manusia membuat ia merasa malu juga di perhatikan semua orang. Menyembunyikan wajah di perpotongan leher Sasuke, sehingga ia bisa menghirup aroma tubuh Sasuke yang membuatnya selalu nyaman dan mengeratkan tangan yang memeluk leher Sasuke.
"Kau lelah!" tekan Sasuke.
"Tapi aku berat Sasu~"
"Tidak!"
"Hahh..." Sakura mendesah tidak tahu harus bagaimana lagi membujuknya.
"Kita akan pulang kah?" tanya Sakura.
"Nanti. Ada yang ingin aku berikan." jelas Sasuke.
"Apa itu?"
"Hn."
"Sasu~"
"Hn."
"Aww... sakit Sakura! Jika aku memberitahumu itu bukan kejutan." Upss kenapa ia memberitahu rencananya rutuk Sasuke dalam hati.
"Woahh ... benarkah?"
"Hn."
"Aku mau. Di ma..."
"Bisakah diam hime! Atau kau ingin ku diamkan dengan cara semalam?"
"T-tidak." Mengingat semalam membuat Sakura sudah seperti kepiting rebus.
"Saku?"
"Hm...?"
"Sekarang sudah lumayan tumbuh dengan sempurna." Kata Sasuke entah pernyataan atau pertanyaan.
"App..?" Perkataan Sakura terpotong dengan adanya ingatan yang dulu. "SASU BAKA! TURUNKAN AKU!" teriak Sakura dan wajah sudah sangat merah antara malu dan sebal.
"Ha ...ha...ha..." Tawa Sasuke. Untung sekarang sudah di parkiran jadi ia tidak perlu khawatir. Menurunkan Sakura Sasuke berbalik dan memeluk Sakura. "Aku sangat mencintaimu Sakura." ucap Sasuke dan semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh kebahagiannya hanya satu ialah Sakura-nya.
.
.
.
Di sebuah gedung yang terletak di pinggir Konoha U Park persisnya di lantai sepuluh terdapat tiga orang yang sedang memperhatikan anak muda yang sedang berpelukan. Mereka tak lain ialah Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto orang tua –Sasuke-dan-Itachi- yang juga ada sedang mengabadikan moment SasuSaku.
"Sakura akhirnya kembali." Pernyataan Fugaku membuat anak dan istrinya menoleh kepadanya.
"Iya. Kaasan senang Sasu-kun kembali seperti dulu. Hanya Saku-chan yang bisa membuat Sasu begitu." ucap Mikoto dengan mata yang berbinar.
"Jika tidak Sasu-chan mungkin Sakura denganku Kaasan." gurau Itachi dan mendapat jitakan ibunya. "Sakit Kaasan~..." ringis Itachi.
"Kau jangan macam-macam!" kata Fugaku yang memandang ngeri pada anak sulungnya dan membuat Itachi bergidik ngeri.
"Ahh .. A-aku 'kan bercanda. Ha ...ha ...ha..."
"Sebentar lagi aku punya cucu. Semoga kembar empat." Harap Mikoto membuat Itachi terkekeh geli mengingat ucapannya dulu.
"Mereka masih sekolah Miko." kata Fugaku.
"Setelah lulus bias."
"Tidak!"
"Fuga-kun~ ..."
Keributan orang tuanya Itachi abaikan karena ia tau itu baik-baik saja. Menengok kembali ke arah luar ia melihat kedua adiknya baru saja pergi. Memandang langit ia kemudian tersenyum. Melangkah ketempat meja kerjanya ia membuka laci dan mengambil foto dengan pigura bunga Sakura. Ia memandang foto itu dan tersenyum. Foto pernikahan adiknya dulu yang sempat ia abadikan. Walau itu hanya permainan semoga nanti bisa jadi kenyataan. Melepaskan foto itu dan membalikannya! Melihat tulisannya waktu kecil dulu ia tesenyum kembali.
*Sasuke Uchiha, Sakura-chan Uchiha. Mereka hidup. Melengkapi perbedaan antara Sasu dan Saku. Hanya Saku yang berwarna ceria yang cocok untuk Uchiha. Hanya Saku yang mengerti dan bisa mengatasi Sasu. "Kembar empat". * U.I *
.
.
.
FIN
.
.
.
.
.
.
Omake
.
.
.
.
5tahun setelahnya.
Memandangi foto yang berada di atas meja kerjanya, ia tersenyum. Foto yang di ambil saat pernikahannya satu tahun lalu. Sungguh Sakura sangat cantik dengan menggunakan gaun pengantin warna putih gading itu. Ia tidak ingin mendeskripsikan bagaimana cantiknya Sakura-nya. Baginya Sakura adalah wanita paling sempurna yang tidak pernah tergantikan dihatinya. Cantik bukan selalu penampilan tetapi apapun yang dilakukan wanitanya selalu cantik dimatanya.
Sasuke'sPOV
Sakura adalah keharusan disetiap detik napasku. Tanpanya aku kehilangan segala kehidupanku. Senyumnya yang mampu membuatku hangat, pelukannya membuatku damai, suaranya adalah detak jantungku. Terdengar berlebihan memang, tapi itulah kenyataan-nya. Hanya dia yang mengetahui bagaimana diriku, hanya dia membuat hidupku selalu berwarna. Hanya dia yang mampu melengkapiku. Sungguh ia adalah segalanya. Hanya Sakura! Wanitaku, istriku Sakura Uchiha.
End Sasuke's POV
'Drrttt ... Drrrttt ..'
Getaran smartphone membuatnya mengalihkan perhatiannya kepada benda tersebut yang berada di samping tangan kanan-nya. Entah kenapa perasaan-nya resah 'Sakura' ingatnya akan istrinya. Saat melihat layar yang tertera dengan foto Sakura ia tersenyum. Segera ia menjawab!
"Hallo, hime."
"..."
"Ada dengan Sakura Kaa-san?" tanya Sasuke cepat dengan gemetar di seluruh badannya. Sungguh lemas.
"..."
"Cepat bawa Saa-san! Aku langsung kesana." Ia menutup telponnya ia langsung tergesa-gesa berlari untuk menyusul Sakura-nya. Sungguh ia tidak sanggup jika harus kehilangan Sakura-nya lagi.
.
.
.
.
.
.
Berlari dengan peluh yang mungkin bagi kaum hawa sangat mempesona tapi sungguh ia sangat khawatir. Ia sama sekali tidak menghiraukan tatapan nakal para pesolek menurutnya menjijikan. Saat di harus kan menunggu lift terbuka ia berputar berlari menuju tangga untuk cepat menyusul dakura. Ia tidak bisa menunggu apalagi separuh nyawanya sedang mempertaruhkan hidupnya.
.
.
.
"ITACHI-NII!" teriakan dari ujung lorong membuat Itachi menoleh. Sungguh ia samgat khawatir, semua keluarga sedang menunggu di luar. Sedangkan Sakura lima menit lalu baru saja memulai operasinya. Dan ia lega adiknya sudah sampai.
"Bagaimana keadan Sakura?" tanya Sasuke memastikan.
"Dia sedang di ruang operasi Sasuke." jelas Sasori yang juga berada di sana.
"Sakura." gumam Sasuke lirih.
"Tenang Sasuke. Adikku adalah wanita terkuat."
"Mereka pasti selamat." ucap Itachi tersenyum meyakinkan adiknya.
"Hn, arigatou."
Sudah dua jam mereka menunggu yang membuat semua yang berada disana gelisah. Sungguh mereka bahagia sekasligus cemas.
'Ceklek'
Pintu terbuka dan keluarlah dokter yang tadi menangani operasi. Ia membuka masker dan tersenyum yang membuat semua lega dan sekaligus decihan tak suka dari Sasuke. Sungguh ia tidak menyangka dokter yang menangani operasi Sakura adalah sahabat dan juga rivalnya karena dia menyukai Sakura.
"Selamat Sasuke anak-anakmu selamat, tiga laki-laki dan terakhir perempuan."
"Boleh kami masuk Gaara?" tanya Sasori.
"Hm. Silahkan setelah diruang pasien. Sebentar lagi Sakura akan dipindahkan keruangannya."
"Aa, baiklah." Kata Sasori yang memang kenal Gaara karena dia sahabat Sasuke sekaligus teman sekuliahan Sakura. Dan ternyata dia sepupunya.
.
.
.
Sakura tersenyum lemah melihat semua berkumpul. Sungguh ia sangat bahagia dengan kehidupannya. Memiliki suami yang memang dari dulu sangat dicintainya dan juga kebahagianya lengkap dengan kehadiran malaikat-malaikat kecilnya.
"Sasu." panggil lemah Sakura.
"Ada apa hime, apa ada yang sakit. Katakan padaku agar aku langsung menghajar setan merah itu."
"Aku juga merah ayam."
"Ada apa Sasuke?" Perkataan seseorang membuat yang ada disana menoleh kepada sumber suara. Lelaki yang masih mengenakan seragam dokter dengan rambut merah bata, mata jadhe dan tato 'Ai' dikeningnya yang membawa buah dan sebuket mawar merah muda. Ia berjalan menghampiri ranjang pasien.
"Selamat ya Saku." ucap Gaara tersenyum.
"Hmm, terima kasih Gaara sudah membantu menyelamatkan kami." Kata Sakura sambil tersenyum lemah.
"Apapun untukmu." Jawab Gaara sambil menyeringai melihat muka merah Sasuke.
"Cih, itu sudah tugasnya!" Dengus Sasuke.
"Ha...ha...ha.. kau masih saja seperti dulu Sasuke. Tenanglah aku dudah menganggap Sakura adikku. Tapi..." tersenyum Gaara mengatakan dan menambahkan "Jika kau melukainya aku orang pertama yang ada untuk Sakura. Bukan begitu hime?" tanya Gaara kepada Sakura yang merona. Mengangguk ia menjawabnya. Ia tahu karena Gaara hanya mengoda Sasuke.
"Cih, tak akan!"
"Kemana yang lain-nya?" tanya gaara.
"Lagi melihat mereka Gaara-kun." jawab Sakura
"Oh."
.
.
.
Pintu terbuka munculah keluarga mereka yang masing masing menggendong bayi. Kizashi, Mebuki, Fugaku dan Mikoto dengan senyum cerah mereka menolak para suster yang membawanya.
"Imouto bagaimana keadaanmu?" tanya Sasori kepada adiknya.
"Aku baik-baik saja Nii-chan."
"Sasori benarkan apa yang kubilang 'empat' kan?" kata Itachi mengingatkan kepada Sasori tentang perkataannya dulu.
"Cih, pantas kau jadi peramal dengan muka sihir begitu." Dengus Sasori.
"Tapi aku tampan S-a-s-o-r-i!"
"Aku lebih keren."
"Aku lebih macho."
"Aku lebih dan lebih sexy dan imut I-t-a-c-h-i!"
"Sudahlah kalian berisik. Kalau benar yang dikatakan tadi, cepatlah cari wanita!" Ucapan Mikoto ibu Itachi membuat mereka berhenti.
"Pasti Baa-san."
"Tapi aku ingin menikmati waktuku dengan para keponakanku dulu Kaa-san."
"Oh, lihatlah mereka lucu sekali!" Kata mebuki yang meletakan bayi-bayi itu ke box bayi yang ada di samping Sakura.
"Kenapa yang mirip Sakura yang ketiga matanya, yang terakhir rambutnya saja." Keluh Sasori.
"Mereka Uchiha, Sasori." kata Itachi.
"Mereka juga Haruno, Itachi. Dan aku yakin mereka ada yang mirip kegantenganku." Jelas Sasori dan berharap ada yang dia turunkan kepada keponakannya itu.
"Tak akan." Perkataan Sasuke membuat sasori mendelik ngeri.
"Apa katamu?"
"Ap..."
"Ah aku permisi dulu. Aku pergi dulu Saku, jaga mereka Sasuke!" kata Gaara melangkah keluar.
"Sasu-kun, Kaa-san mau pulang dulu mengambil baju ganti Saku-chan ya? Nanti kami kembali lagi." Ijin Mikoto kepada putranya karena ia akan pulang menyiapkan semua keperluan disini.
"Hn, hati-hati Kaa-san."
"Saku, Kaa-san dan Tousan juga pamit dulu yah. Kamu mau dibawakan apa nanti malam Kaasan kembali ke sini lagi." kata Mebuki kepada Sakura.
"Hm, tidak Kaa-san terima kasih. Hati-hati Kaasan, Tousan."
"Baiklah aku dan Itachi juga mau ke cafetaria di sini. Jika ada apa-apa hubungi Nii-chan oke!"
"Oke, Nii-chan."
Setelah kepergian keluarga mereka Sasuke hanya berdua dengan Sakura. Eh... berenam dengan malaikat-malaikat kecilnya. Sungguh ini adalah kebahagiaanya yang melengkapi kehidupan-nya. Sungguh ia tifak sabar ingin membawa mereka ke istana keluarga kecilnya.
"Terima kasih atas semuanya Hime."
"Aku juga berterima kasih karena mendaptkan suami dan cintamu Sasuke-kun."
"Kau segalanya." ucap Sasuke yang lansung melumat bibir merah nan sexy yang selalu menggodanya. Sungguh ia sangat merindukan Sakura-nya.
"Hmm~" desah Sakura disela ciuman Sasuke. Seakan mengerti Sasuke melepaskan ciuman mereka.
"Aku mencintaimu hime,"
"Aku juga sangat mencitaimu Anata."
"Apa kita lanjutkan saja yang tadi hime?"
"Ah... nanti saja Sasu. Aku lelah~"
"Hn, janji? Istirahatlah!" Perintah Sasuke sambil mengelus rambut Sakura dengan lembut. Ia berjalan menuju boxs bayi-bayinya. Tersenyum, ia membelai pipi anak-anaknya yang sedang terlelap.
"Tousan sayang kalian dan akan selalu menjaga kalian. Shika, Shiki, Shin, Shina." ucap lembut Sasuke kepada anak-anaknya. Sungguh ia sangat bahagia karena akhirnya memiliki seutuhnya Sakura dan buah hati mereka. Berjalan kembali mendekati Sakura yang ternyata masih terjaga. Ia kembali membelai pipi Sakura, menempelkan kening mereka.
"Aku akan selalu bersamamu Sasuke-kun."
"Aku mencintaimu tetaplah disisiku." Ucap Sasuke dan diakhiri ciuman panjang mereka.
Cinta apapun alasan-nya hanya satu yaitu Sakura. Sakura, hanya Sakura yang mampu menggoyahkan pertahanan Sasuke. Karena hanya Sakura yang mampu dan pantas bersanding dengannya. Hanya dia Sakura Ha... Uchiha musim semi yang akan selalu mekar dihidupnya.
.
.
The End
Akhirnya fict perdana yang gaje ini selesai~~~ singkatnya ini chapter penutup~~~ harap maklum ya karena banyak kesalahan. Dan terimaksih atas segala dukungan dan sarannya.^^
Special for :
Ryuhara Shanchi, Floral White, hanazono yuri, Mantika mochi, Anisha Ryuzaki, yaahaa, .9, mysaki, SasuSaku4ever, Reader21,Miss.M, Cherryl.
Terima kasih atas semuanya... #nangisBombay
Sankyuuuu~~~
Kirei_apple
Wyd
BKS
