Naruto © Masashi Kishimoto
© Nakazawa Miyuki & Yukio Valerie
Pairing: Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Genre: Friendship, Romance, & Hurt/comfort
Rated: T
Warning: Prepare yourself~ ufufufufufu~
.
.
F LO W
(Sasuke's PoV Version)
.
.
L
.
Love
.
.
Itadakimasu~
.
"Ini pesanan anda, Tuan."
Bersamaan dengan suara itu, seorang pelayan meletakkan cangkir porselin berisi cairan hitam pekat ke hadapanku. Setelah mendapat anggukan dariku, pelayan tersebut pergi dengan membawa cangkir yang telah kosong.
Semalam aku memang tidak cukup tidur karena harus menyelesaikan laporanku untuk diserahkan pada Orochimaru-sensei pagi ini. Karena itulah, di jam makan siang ini aku perlu dua cangkir kopi kental untuk mengembalikan pikiranku yang terasa penuh.
Sembari menyesap pelan kopi hitam kesukaanku, pandanganku memindai sekitar. Di jam makan siang seperti ini, tak heran jika hampir semua bangku di Coffee Area ini sudah terisi. Meski sebenarnya tidak di jam-jam makan pun Cafe ini tidak pernah sepi pengunjung. Aku cukup yakin dengan ucapanku karena aku sudah sering menghabiskan waktuku di sini. Di Aruta Café. Sebuah café yang terdiri dari empat lantai dengan sentuhan berbeda dan unik pada tiap lantainya.
Lantai satu café ini terdiri dari 3 area, yaitu Coffee Area, Books Area, dan Boutique Area. Coffee Area terletak tepat di depan pintu masuk. Area yang juga menjadi favoritku saat berkunjung ke sini. Disisi sebelah kanan Coffee Area, dibatasi oleh kaca bening dengan pintu geser adalah Books Area dengan berbagai jenis buku yang tersusun rapi pada rak-rak kayu setinggi dua meter. Di area itu juga dilengkapi dengan sofa bagi pengunjung yang ingin menikmati bacaannya dengan lebih nyaman. Sedangkan di sebelah kiri Coffe Area dibuat untuk Boutiqe minimalis. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam sana karena aku sama sekali tidak berminat untuk masuk ke dalam area tersebut. Begitupun dengan Lantai dua café ini. Dengan dekorasi yang didominasi warna pink dan putih sudah jelas area ini dikhususkan untuk para perempuan. Aku tidak begitu mengamati apa yang dijual di lantai ini karena aku tak pernah mampir ke lantai ini. Hanya beberapa kali lewat untuk menuju ke lantai tiga.
Lantai tiga merupakan salah satu tempat bersantaiku selain Coffee Area yang berada di lantai satu. Di lantai tiga ini, pengunjung akan dimanjakan oleh rak-rak berisi CD dari berbagai genre music. Sedangkan lantai empat sendiri merupakan rooftop outdoor yang jadikan open area yang cukup menarik. Agar terlihat tidak kosong, di atap terbuka dari café ini dibuat Barbershop dan juga payphone yang menjadi spot pengunjung untuk berfoto. Hal lain yang membuat area ini diminati adalah pemandangan yang disajikan. Dari atas sini, pengunjung bisa melihat kesibukan dan keramaian kota Tokyo di siang hari, juga gemerlap lampu yang beraneka warna pada malam hari.
Aku meletakkan kembali cangkir kopi setelah dua tegukan. Sembari menyenderkan tubuh letihku pada punggung sofa, aku menutup kedua mataku. Aroma lembut serta alunan nada yang menenangkan memenuhi atmosfer café ini. Alunan musik Jazz Classic membuai indra pendengaranku, berpadu dengan dengungan obrolan para penikmat kopi yang siang ini begitu ramai. Samar, telingaku menangkap suara gesekan kertas yang terdengar begitu dekat. Juga wangi bunga yang menggelitik hidungku.
Saat aku membuka mataku, bukan lagi bangku kosong yang kuhadapi. Sebagai gantinya, kudapati seorang perempuan tengah duduk nyaman di hadapanku. Perempuan itu menunduk. Tampak asyik sendiri dengan sebuah novel dalam pangkuanya. Sehingga, dari sudut ini, hanya rambutnya yang berwarna merah muda yang memenuhi pandanganku. Mengingatkanku pada bunga Sakura yang mekar di musim semi. Ah, benar. Wangi ini, wangi bunga Sakura yang menenangkan.
Oh, sepertinya, perempuan itu menyadari tatapanku. Bahu kecil yang tertutupi dengan kain lembut dari cardigan merah tersebut bergerak pelan. Kepalanya terangkat sedikit hingga aku bisa melihat wajahnya secara penuh. Satu-satunya hal yang langsung menyita pandangku adalah dua selaput pelangi berwarna hijau klorofil yang begitu teduh. Iris yang begitu cantik.
Aku sedikit terkejut saat perempuan itu tiba-tiba berdiri dan membungkuk 45 derajat di depanku. Gerakan kecil yang membuat helaian rambut merah muda sebahu miliknya terayun ke depan. Aku terhenyak. Sejak kapan gerakan sesederhana itu terlihat begitu indah?
"Sumimasen. Aku langung duduk didepanmu tanpa izin terlebih dahulu. Apa tempat ini sudah ada yang memesan?" Suaranya tenang namun terdengar enerjik.
Aku menggeleng dan bisa kulihat sebuah senyum meretas di wajahnya.
"Yokatta. Aku baru saja dari Book Area dan mencari tempat yang nyaman untuk membaca. Tapi semua bangku sudah penuh kecuali tempat ini. Jadi… aku duduk di sini. Hehehe. Aku tidak membangunkanmu karena kau sepertinya begitu lelah sekali."
"Hn." Aku menggumam pelan sebagai respon ucapannya. Aku menyimpulkan perempuan di depanku saat ini termasuk tipe yang senang mengobrol dan berceloteh.
"Konnichiwa, anda ingin memesan sesuatu?" Seorang butler mendatangi meja kami dan menyerahkan buku menu pada perempuan yang duduk di depanku.
Aku masih terdiam di tempatku sembari mengamati wajahnya yang begitu ekspresif saat memilih pesanan. Dahinya berkerut dengan sudut bibir bawahnya yang ia gigit kecil.
"Mmh, Double Choco Mousse Pudding, Flawless ... oh iya, jangan lupa Red Velved. Kurasa itu saja."
Perempuan itu melempar senyum ramah sambil mengembalikan buku menu pada Butler yang telah selesai mencatat.
Alisku sedikit berkedut saat mendengar nama-nama makanan yang baru saja dipesan. Tidakkah itu terlalu banyak dan semuanya manis? Untuk sesaat, aku berpikir untuk mengabaikan apapun yang sedang dan akan perempuan itu lakukan. Ayolah, aku bukanlah jenis pria yang suka mengurusi selera orang lain.
Ya. Harusnya seperti itu.
Tapi, setelah beberapa menit berlalu dan seorang Maid kembali dengan membawa pesanan perempuan itu, menatanya di atas meja yang kini tampak penuh dengan warna-warna manis, kemudian pamit undur diri, saat itu aku tak bisa menahan diriku untuk bersuara. Apalagi ketika melihat perempuan itu mulai melahap kue dihadapannya dengan nikmat. Aku memang tidak suka memulai pembicaraan dengan orang lain, tapi perempuan di depanku ini membuatku tergelitik untuk bertanya.
"Kau… tidak sedang mencoba menghabiskan itu sendiri, bukan?" tanyaku pelan.
"Ah!" Terlihat dia sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Wajah kagetnya begitu polos, mulutnya terbuka untuk beberapa saat, seolah bingung apa yang harus ia katakan. Sendok kecil di tangan kanannya terapung di udara.
"Hmm... anu...," gumamnya sambil mencoba mencari jawaban. Ia memainkan sendok kecil ditangannya dan menatap beberapa potong kue dengan krim putih melumeri seluruh permukaan atas kue-kue dihadapannya. Aku mengangkat sebelah alisku menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari bibir mungilnya.
"Memangnya kenapa jika aku menghabiskan ini sendiri, huh?"
Tawa yang tadi kuatahan hampir saja lepas ketika mendengar jawaban lucu dari perempuan dihadapanku ini. Namun saat ia melotot ke arahku, tawaku seolah tertelan kembali. Fokusku tercuri sepenuhnya pada sepasang mata yang membeliak padaku. Iiris yang menghiasi mata miliknya begitu indah. Bersinar seperti dedaunan yang tersiram cahaya matahari. Warna yang cantik. Begitu hidup. Bahkan tatapan marah setengah merajuk yang ia tampilkan tersebut semakin membuatnya terlihat manis di mataku.
Hey!
Aku mendengus. Menyadari pikiranku yang mulai ngelantur. Sepertinya pikiranku belum sepenuhnya segar. Aku meraih cangkir putih dihadapanku dan kembali menyesap kopi hitam yang tinggal setengah penuh. Meski begitu, aku bisa merasakan sudut bibirku yang tersembunyi di balik badan cangkir tertarik sedikit.
"Bukankah dia gadis yang cosplay beberapa hari yang lalu? Yang menjadi Asuna?"
Satu suara mengusik pendengaranku. Melirik dari ekor mataku, berjarak satu meja di samping kananku, tiga pemuda tengah mengobrol dalam satu meja bundar. Mengabaikannya, aku kembali mengalihkan pandanganku pada cangkir kopi yang tinggal berisi separuh cairan pekat itu kemudian menyesapnya perlahan. Satu tegukan dan kerongkonganku kembali dimanjakan oleh rasa pahit dari kopi ini.
Rasa pahit yang selalu aku suka.
"...Kau benar. Wajahnya benar-benar manis. Kali ini dia sedang ber-cosplay apa ya? Dengan rambut merah jambu itu."
Obrolan itu masih terus berlanjut. Laki-laki yang memakai jaket hijau dengan potongan rambut cepak itu mencuri pandang kearah kami. Ah bukan, tepatnya kearah perempuan di depanku.
"Itu rambut aslinya." Kali ini si rambut kuncir atas yang menjawab.
"Eh!? Uso!"
"Aku satu kampus dengannya. Itu warna rambut aslinya."
"Aneh ya…"
Suara bernada tinggi dari pemuda yang memakai kaos merah terdengar mengejek.
Masih dengan pinggiran cangkir yang menempel di bibirku, aku melirik sosok yang terdiam dihadapanku. Perempuan itu tampak acuh dan masih melahap kue miliknya. Meski begitu, aku bisa menangkap gerakan-gerakan kecil tangan kirinya yang tengah meremas ujung rambutnya dengan gelisah.
Pada momen ini, aku baru menyadari satu hal bahwa perempuan di depanku ini sama dengan perempuan yang ber-cosplay menjadi Asuna tempo hari. Perempuan yang sama dengan perempuan ceroboh yang meninggalkan pedangnya di stand goodies. Dan perempuan yang sama dengan perempuan yang telah berhasil membuatku tertarik tempo hari.
Aku memutuskan pandanganku pada perempuan dihadapanku dan menghabiskan kopi yang tersisa dalam satu tegukan. Mengabaikan pemuda-pemuda di sampingku yang masih asyik bergosip. Ceh! Benar-benar kurang kerjaan.
Aku meletakkan cangkir yang kini hanya tersisa ampas hitam kemudian melempar pandang ke kaca besar di samping kiriku. Ternyata aku sudah menghabiskan waktu cukup lama di café ini. Langit diluar sudah mengguratkan warna jingga. Kurasa, sudah waktunya untuk pulang.
Aku meraih ransel di samping tubuhku dan menyampirkannya ke bahu kemudian beranjak dari tempatku. Namun, baru tiga langkah, aku berhenti. Tepat di samping tubuhnya yang masih terduduk. Aku melirik helai-helai rambut merah muda yang menutupi sisi wajahnya yang bersinar keemasan karena siraman cahaya senja yang menembus melewati kaca besar di sisi kanannya.
Mulutku terbuka sedikit, tapi kembali kukatupkan saat tak kudapati kosakata satu pun yang ingin kuucapkan. Sebaliknya, tanganku bergerak sendiri untuk menepuk puncak kepalanya dan bergerak turun membelai rambut merah muda sebahu itu. Dapat kurasakan sensasi lembut di permukaan telapak tanganku, juga harum shampoo yang menggelitik indera penciumanku.
Sadar akan tindakan yang sama sekali bukan diriku, aku segera menarik kembali tanganku dan bergegas mengayunkan kakiku ke arah pintu. Meninggalkan sosok perempuan berambut merah muda yang masih mematung di tempat duduknya. Aku masih memikirkan tindakanku barusan saat derak kaki meja yang bergesekan dengan kerasnya lantai disusul sebuah suara perempuan terdengar dari balik punggungku.
"Tunggu! Hei, kamu yang memakai kemeja biru tua. Aku bilang tunggu!"
Aku berhenti di ambang pintu café dan sedikit menunduk. Melihat penampilanku hari ini. Jeans gelap dengan atasan kaos putih polos yang dipadu kemeja kotak-kotak berwarna biru tua yang lengannya aku gulung sebatas siku.
"Aku?"
Aku menoleh dari balik bahuku dan menemukan perempuan itu sudah berdiri di samping meja. Menatapku.
Koreksi, tidak hanya perempuan itu, tapi hampir semua pengunjung café ini terutama yang sedang berada di coffee area melempar pandang ke arahku.
Ck. Perempuan ini…
Kutatap sosoknya yang hanya berjarak tiga meter dariku. Berdiri menghadapku dengan bibir yang melengkungkan sebuah senyum.
"Ya. Kamu." Perempuan itu mengangguk.
"Watashi wa Sakura desu."
Perempuan itu kini membungkukkan badan dengan tangan yang bertumpu di kedua lututnya. Satu menit aku mengamati gadis itu yang masih tetap bertahan dalam posisinya. Memperkenalkan diri langsung dengan nama kecil, huh? Menarik.
Aku tersenyum kecil sebelum memutuskan untuk membalikkan tubuhku secara sempurna. Dengan kedua tangan yang masih kubenamkan dalam saku celana, aku menatap lurus kearahnya.
"Sasuke," ucapku singkat.
Perempuan itu menegakkan tubuhnya dan onyx-ku menangkap seulas senyum lebar di wajahnya.
"Yoroshiku, Sasuke. Soshite, Arigatou."
Hanya beberapa kata dan sebuah senyuman tulus darinya. Tapi aku merasakan sebuah kesenangan tersendiri yang hinggap di hatiku karena hal sederhana tersebut.
Saat itulah aku menyadari bahwa apa yang kulakukan tadi hanyalah gerak refleks tubuhku yang tak ingin melihat raut mendung di wajah itu. Karena aku… menyukai senyuman itu.
"Hn. Aku duluan."
Melambaikan tangan sembari membalikkan badan ke belakang, sudut bibirku tertarik ke atas.
Angin musim semi berhembus ketika aku membuka pintu cafe, menebar kelopak berwarna merah muda dengan wangi khasnya yang tumbuh dipinggiran jalan di depan café ini.
Jemariku meraih satu kelopak merah muda yang hinggap di dahiku. Mengarahkannya hingga lurus dengan sepasang obsidian milikku.
Sakura ka?
.
F LO W
.
Setelah kejadian itu, kami sering bertemu di café ini. Lebih pada ketidaksengajaan. Seperti hari ini, di sudut café tempat favoritku, aku duduk di samping jendela besar yang menampilkan sibuknya jalanan di luar sana. Kusesap pelan kopi hitam dalam cangkir di genggamanku sebelum—
"Sasuke!"
Suara yang tidak asing itu datang dari arah kananku. Aku menghentikan gerakan tanganku yang menggenggam cangkir tepat di depan mulut, dan melirik kearah suara itu.
Orang yang berdiri di sana adalah sosok yang akhir-akhir ini menghuni pikiranku. Perempuan yang kemarin menempati tempat duduk di depanku, yang beberapa hari lalu kutemui di sebuah bunkasai dan menjadi seorang cosplayer. Perempuan yang diam-diam tidak bisa kuabaikan keberadaannya.
Ketika aku menyadari hal itu, kurasakan jantugku berdetak lebih cepat. Sementara aku terdiam dan membawa cangkir tersebut ke ujung bibirku, suara lembut perempuan itu mengalun ke dalam gendang telingaku.
"Bolehkah aku duduk di depanmu?"
Biasanya, aku pasti akan menolak seseorang yang meminta seperti itu, atau aku yang akan bergerak menjauh pergi dari tempat itu. Karena aku, Uchiha Sasuke tidak senang kesendiriaku diusik. Akan tetapi, akhir-akhir ini, –ah tidak, lebih tepatnya saat bersama perempuan ini, entah kenapa aku seperti sedang diserang oleh semacam gangguan yang jarang kualami, membuatku tak bisa bereaksi dan memilih untuk tetap diam. Mungkin karena melihat diamku sebagai persetujuan, perempuan itu –Sakura duduk di sofa kosong di depanku dan mulai meletakkan nampan berisi beberapa kue ke atas meja. Apa yang dia ambil adalah sepotong kue penuh krim. Lagi-lagi jenis kue yang banyak mengandung glukosa.
Pada saat itu juga, aku melupakan kopiku yang masih menggantung di tangan kananku, dan sebagai gantinya melihat Sakura dengan heran.
Untuk seseorang yang tidak menyukai sesuatu yang manis, aku cukup terkejut akan kegemaran perempuan dihadapanku ini. Empat kali bertemu dalam satu bulan terakhir dengan Sakura, Aku tak pernah melihatnya tanpa kue manis. Apa ia tidak mengenal diabetes, atau—
"...Sungguh, kau pikir kue manis itu sangat enak?"
Tanpa kusadari, aku benar-benar menanyakan pertanyaan yang baru saja melintas dipikirkanku itu dengan suara pelan. Namun, tampaknya Sakura mendengarnya. Ia menatapku dengan alis yang terangkat secara berlebihan kemudian mengangguk mantap.
"Tentu saja. Setiap aku datang ke cafe ini, aku selalu memesan kue seperti ini. Ini benar-benar enak."
"Enak?" ulangku dengan dahi yang sedikit mengerut.
Sakura mengangguk. Ia menyendok tepi kue dengan krim di atasnya. Kemudian menyodorkannya tepat ke depan mulutku, membuatku reflek menarik kepalaku ke belakang.
"Cobalah." Suara itu mengalun lembut.
Sepotong kue berwarna merah dengan krim berwarna putih di tiap lapisnya. Banyak sekali, atau bisa dibilang sangat tebal, tidak peduli bagaimana aku melihatnya.
"Aku tidak suka makanan manis." aku mengutarakan penolakanku. Masih dengan sepasang onyx-ku yang menatap penuh keraguan pada sendok kecil berisi sepotong kue manis di depan mulutku. Meski begitu, sepertinya perempuan didepanku ini tidak menyerah. Tangan putih itu masih terjulur ke arahku.
"Ini tidak akan membuat gigimu sakit. Hanya sepotong saja. Ayolah… Sasuke~"
Setelah memberikan jawabannya atau lebih tepat dikatakan rayuannya dengan serius dan sedikit nada meminta di akhir kalimatnya, Sakura menyorongkan sendok tersebut kehadapanku. Sensasi dingin saat tekstur lembut dari krim menyentuh permukaan bibirku yang masih terkatup membuatku sedikit penasaran.
Dengan ragu-ragu, aku membuka mulutku dan memakan roti dengan timbunan krim yang di sodorkan Sakura.
Pada saat itu, tekstur dari kue yang lembut berlumur krim menyebar di dalam mulutku. krimnya terasa manis dan lembut, dengan rasa asam dari yogurt yang menyegarkan. Bagian dalam pipiku terkena sentuhan yang aneh namun terasa enak.
Ketika aku tersadar, potongan roti yang berada di mulutku benar-benar habis. Ketika aku melihat ke depan, Sakura menatapku dengan senyum yang terkembang. Ah, rasa ini melukiskan senyumnya yang seperti kue yang baru saja aku makan… Manis.
"Tak buruk juga," gumamku.
Entah memang kuenya yang enak, atau semua itu hanya karena anjuran dan senyuman Sakura.
Entahlah.
.
F LO W
.
Pertemuan itu berlanjut ke hari-hari berikutnya. Kami sering bertemu di café ini. khususnya tiap akhir pekan. Meski itu hanya sebatas menghirup udara segar di balik kepadatan tugas-tugas kuliah kami. Aku akan memesan kopi pahit dan dia akan memesan kue manis penuh krim favoritnya. Tanpa aku sadari, hubungan kami semakin dekat. Cafe ini seolah menjadi media yang bertugas mengantarkan aku untuk mengenal lebih dalam tentang dirinya.
Seperti sabtu sore ini, aku sudah melihat perempuan itu duduk di meja di pojok sebelah kiri pintu masuk. Tepat di samping jendela besar yang mengarah ke jalanan. Spot favoritku yang sekarang telah bertransformasi menjadi tempat aku dan dia menghabiskan waktu saat berada di café ini.
Aku tersenyum kecil melihatnya yang tampak serius dengan bacaan di pangkuannya ditemani aneka kue manis yang tertata di meja. Sakura tampak mencolok dengan rambut merah mudanya diantara pengunjung yang lain.
"Sasuke!"
Aku sedikit tersentak saat suara nyaring Sakura memanggilku yang masih terdiam di dekat pintu masuk. Bisa kulihat beberapa kepala menoleh kearahku.
'Perempuan itu…,' Aku mendesah lelah.
Aku paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Buru-buru aku menghampirinya yang masih melambaikan sebelah tangannya dengan ceria. Aku mendudukkan diriku pada sofa abu-abu dihadapannya dengan sedikit kasar. Mengundang sepasang alis merah mudanya yang mengernyit bingung.
"Hey, kenapa tampangmu dingin begitu?" Manik emerald-nya menatapku penuh tanya. Novel yang tadi di bacanya ia simpan di atas meja dan memberikan atensi sepenuhnya padaku.
"Jangan melakukan hal itu lagi," tukasku.
"Eh? Apa?" ia bertanya dengan wajah polosnya.
"Berteriak. Kau membuatku menjadi pusat perhatian." Aku mendengus yang dibalas oleh tawa dari Sakura.
"Ayolah tuan muda. Apa kau tidak sadar selama ini kau sudah menjadi pusat perhatian." Sakura menyangga kepalanya pada kepalan tangannya.
"Aku tau," jawabku singkat sembari mengalihkan pandanganku dari sepasang mata Sakura yang berkilat jahil pada seorang pelayan yang baru datang membawakan secangkir kopi hitam dan menaruhnya di hadapanku. Dari posisiku, aku bisa melihat Sakura tengah memandangku dengan kedua tangan bertopang dagu.
"Ne, Sasuke. Kau pasti sangat kaya ya?"
"Hn?" gumamku disela aktivitasku menikmati kopi hitam kesukaanku.
"Sepertinya kau sering sekali ke sini. Bahkan pelayan langsung membawakan pesananmu tanpa kau minta."
"Kau berpikir begitu?" Aku menyimpan kembali cangkir kopi yang baru kusesap sedikit ke atas meja.
"Ya."
"Tidak ada alasan khusus."
Tentu saja aku tak mengatakan padanya kalau aku adalah putra dari pemilik Café ini. Biarlah Sakura tahu diriku sebagai Sasuke, seorang mahasiswa tingkat akhir di Meiji University yang senang menghabiskan waktu di café. Bukan Uchiha Sasuke yang merupakan putrs dari pemilik Aruta café. Paling tidak dengan begini aku tahu kalau Sakura berteman denganku bukan karena apa yang dimiliki keluargaku.
Begitupun sebaliknya. Aku tidak akan menanyakan ataupun mempersolakan bagaimana latar belakang Sakura. Disamping tidak sopan karena aku dan Sakura baru saja mengenal, aku merasa sudah cukup nyaman dengan sosok Sakura yang sekarang. Sakura yang kuketahui sebagai salah satu mahasiswi Kedokteran di Tokyo University, pecinta novel dan juga sosok yang penuh warna dan cerita.
"Begitu ya. Baiklah." Sakura mengendikkan bahu dan kembali menikmati kue-kue dihadapannya yang entahlah, aku tak tahu namanya.
Sebuah buku bersampul coklat muda dan cukup tebal yang tersimpan di atas meja dekat siku kanan Sakura menyita perhatianku.
"Jane Eyre. Selera yang bagus." gumamku saat menangkap tulisan yang tercetak pada sampul depan novel yang kini aku pegang. Membolak balik halaman demi halaman novel yang sudah diangkat ke dalam sebuah film.
"Apa?" tanyaku singkat tanpa mengalihkan perhatianku dari buku yang tengah aku pegang.
"A-apanya yang apa?" Sakura menyahut dengan gelagapan. Ayolah Sakura, kau tak berpikir aku tak menyadari sepasang emerald milikmu yang terus mengintip dari bawah bulu mata lentikmu itu, eh?
"Kau sejak tadi memandangku."
Pernyataanku disambut dengan suara nyaring Sakura yang membantah.
"Aku nggak memandangmu kok. Aku cuma penasaran apa yang akan kau lakukan dengan novel itu."
Diakhiri dengan suara –hmmp pelan, Sakura membuang muka ke samping. Ada rona merah yang tersapu di atas permukaan pipi putihnya. Bibir kecilnya terus menggerutu dengan suara rendah. Aku terus mengamati Sakura yang masih menggerutu. Ekspresi wajahnya saat menggerutu itu benar-benar jelek. Tapi sebenarnya aku merasa bahwa Sakura yang seperti ini sedikit lucu.
"Jadi kau menyukai novel roman klasik seperti ini, ya?" Aku bertanya. Mencoba menarik kembali atensi Sakura yang sedang dalam mode ngambek, dan sepertinya cukup berhasil. Sakura kembali menatapku dengan sedikit antusias.
'Benar-benar perempuan yang ekspresif,' batinku. Aku meletakkan kembali novel tersebut ke atas meja kemudian menyamankan punggungku pada sandaran sofa.
"Bisa dibilang begitu sih, tapi yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah penggambaran karakternya yang kuat. Aku sangat suka karakter Jean Eyre di sini. Kisahnya sejak kecil hingga bertemu dengan cintanya itu…"
Dan selanjutnya, aku menghabiskan waktu lima menit untuk duduk diam sambil sesekali menyesap kopi hitamku. Menikmati ekspresi wajah Sakura saat berceloteh mengenai novel karangan Charlotte Bronthe tersebut. Aliran emosi dari nada suaranya kala bercerita, kombinasi dari berbagai ekspresi yang ditunjukkannya, entah kenapa, saat ini, aku merasa angin musim gugur berembus menyegarkan hatiku.
"Kau memang menarik, Sakura."
Tanpa sadar aku menggumamkan kata itu dengan tawa kecil dan sebuah senyuman tipis.
"Seperti itu."
Ucapan Sakura yang tiba-tiba membuat dahiku mengernyit. "Apa?"
"Kenapa kamu nggak sering-sering seperti itu sih? Kamu terlihat jauuuhh lebih tampan lho."
Aku terkesiap. Kenapa jantungku berdetak lebih cepat saat Sakura berkata seperti itu padaku? Ini bukan pertama kali ada seseorang yang mengatakan aku tampan. Tapi saat Sakura yang mengatakannya, aku tak bisa mengendalikan sudut bibirku yang naik. Segera kuraih secangkir kopi milikku dan meminumnya. Kali ini bukan karena tenggorokanku yang kering, tapi karena aku sudah tak bisa lagi menahan senyum yang bermain di bibirku, pun dengan hangat yang menyapu di wajahku.
Oh, menjadi seseorang yang salah tingkah sendirian itu tidaklah menyenangkan, kau tahu? Jadi Sakura, kau juga harus merasakannya. Pikirku jahil.
Setelah memastikan poker face milikku terpasang kembali, Aku menarik sedikit cangkir kopi dari bibirku dan membiarkannya menggantung. Sepasang onyx-ku menatap lurus pada emerald yang berbinar.
"Apa kau mencoba merayuku, hm?" kutarik satu sudut bibirku ke atas.
"Te- tentu saja tidak."
Hei, melihatnya yang salah tingkah dengan rona merah di kedua pipinya malah membuatku semakin ingin menggodanya.
"Sayang sekali. Padahal kupikir kau tertarik menjadikanku pacarmu." Aku pura-pura mendesah kecewa sembari menyenderkan punggungku pada sandaran sofa.
"Eh?"
Aku tersenyum geli melihat ekspresi yang ditunjukkan Sakura. Muka terkejut dengan rona merah di pipi gembilnya.
"Kenapa tampangmu kaget begitu? Apa kau benar-benar ingin berpacaran denganku, Sa-ku-ra."
Sejujurnya ucapanku tadi hanyalah sebuah lelucon untuk menggodanya. Tapi, kenapa dadaku ikut berdetak lebih cepat dari biasanya?
"Mou! Sasuke nyebelin." Sakura menundukkan kepalanya saat mengetahui aku sengaja menggodanya. Bahkan rona merah sudah menjalar hingga telinganya.
"Belajar dulu yang benar." Ujarku sembari terkekeh kecil. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kananku refleks bergerak untuk menyentil dahi lebar Sakura.
"Ittai, Sasuke." Suara teriakan Sakura melengking tinggi. Tangannya terangkat memegangi dahinya. Pipinya menggembung dan sepasang emerald menyorot galak kearahku. Bukannya membuatku takut, ekspresi yang ditunjukkan Sakura semakin membuatku gemas.
"Hahaha… maaf… maaf…"
Aku sedikit mencodongkan tubuhku ke depan. Tanganku terjulur untuk mengusap dahinya yang tampak sedikit memerah.
Dari posisi ini, aku bisa melihat lebih jelas wajah Sakura. Iris emerald yang begitu jernih dan menyejukkan, pipinya yang bersemu merah, bibir kecilnya yang berwarna pink lembut, rambut merah muda sebahu miliknya yang terurai dengan poni panjang yang membingkai wajah putih pualamnya.
Aku tak bisa lagi mengelak.
Detakan ini semakin cepat.
Aku... benar-benar telah dibuat jatuh hati oleh sosok perempuan ini.
.
F LO W
.
"Sakura..."
Aku berguman tanpa sadar dengan fokus mataku masih tertuju pada kalung berantai perak yang menjuntai dari dari sela-sela jemariku. Liontin berbentuk bunga sakura yang terbuat dari tourmalin merah muda berkilat saat tertimpa cahaya lampu gantung di atasku.
Sampai saat ini aku belum tahu alasan pasti kenapa aku mengambil kalung ini. Saat tadi sore Kaa-san dan aku –atas permintaan Kaa-san mengecek aksesoris yang akan dijual di butik, pandanganku langsung tersita oleh kalung berliontin Sakura ini. Dan saat tersadar, aku sudah menyimpan kalung tersebut dalam saku celanaku.
Mungkin...
"Dia akan terlihat cantik jika memakai ini."
Tunggu! Itu bukan aku yang bilang. Meski aku memang berpikir seperti itu. Tapi aku masih bisa menahan diri untuk tidak mengucapkannya.
Aku terlonjak dan bangun dari posisiku yang tengah berbaring di sofa. Satu tindakan fatal karena dahiku langsung berbenturan dengan dahi Itachi yang entah sejak kapan sudah membungkuk di atasku.
"Ukh –apa yang kau lakukan sih, Aniki!?" tukasku sembari mengusap dahiku yang berdenyut nyeri. Mataku menatap nyalang sosok Itachi yang kini berjongkok di samping lengan sofa sambil mengelus dahinya.
"Ittai, ototou. Aku cuma penasaran apa yang sedang kau lakukan dengan kalung itu," ujar Itachi yang kemudian mengambil duduk di lengan sofa.
"Aku nggak ngelakuin apapun," jawabku tak acuh sembari memasukkan kalung itu ke dalam saku celana pendekku.
Satu siulan panjang lolos dari celah bibir Itachi.
"Duuhh... yang sedang jatuh hati. Jangan dingin-dingin, nanti Sakura-nya bisa membeku loh?"
"Siapa yang jatuh hat- tunggu!" Aku tersentak. Kutolehkan kepalaku menatap Itachi yang bersender nyaman di sofa.
"Sakura? Apa maksudmu, Aniki?"
Alih-alih langsung menjawab, Itachi malah menatap ke arah lain dan bersiul riang. "Pohon Sakura. Atau, Sakura yang berkembang di Aruta Cafe. Entahlah, mungkin adikku yang manis ini lebih tahu."
Aku menggeram saat menangkap nada jahil dari ucapannya barusan. Dan apa-apaan lirikan Itachi yang ditujukan padaku itu?
"Ck. Terserahlah." Aku berdecak jengkel. Enggan menanggapi sifat jahil Itachi, aku memilih untuk beranjak pergi ke kamar tidur.
"Hei, hei ototou. Kau mau kemana? Kau tidak mau berbagi kisah tentang gadismu itu pada aniki-mu ini, eh? Padahal aku penasaran dengan sosok gadis manis yang akhir-akhir ini dekat denganmu."
Dari mana dia tahu soal...
"Kaa-san juga penasaran kan?" Itachi menatap Kaa-san yang baru saja datang dengan membawa satu mangkok salad buah.
Ah, jelas sudah.
"Kaa-san!" Kutolehkan kepalaku pada Kaa-san yang baru saja meletakkan satu mangkok salad buah di meja dihadapan Itachi.
"Tak apa Sasuke. Toh, menurut Kaa-san dia gadis yang baik dan manis," ujar beliau yang kini sudah mengambil duduk di samping Itachi.
"Iyakah? Aku jadi ingin melihat gadis itu," celutuk Itachi kemudian melahap satu potong melon segar.
"Tidak perlu." Tukasku cepat.
"Kenapa?"
"Karena aku memang tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Sakura. Aku dan dia hanyalah teman ngobrol di waktu luang. Tak lebih dari itu."
"Lalu?"
"Apanya yang lalu?"
"Aku hanya penasaran gadis seperti apa yang berhasil menarik perhatian ototou-ku yang dikenal dingin pada perempuan."
Aku mendesah lelah. Memutuskan untuk segera kembali ke kamar sebelum percakapan ini berubah menjadi sebuah investigasi.
"Hei Ototou." suara Itachi memanggil. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui kalau Itachi tengah mengejarku.
"Jangan ngambek begitu. Aku nggak bakal ngerebut pacarmu kok."
"Aku nggak ngambek. Dan dia bukan pacarku."
Aku terus melangkahkan kakiku. Hampir saja aku tersungkur ke depan saat Itachi tiba-tiba melingkarkar lengannya pada bahuku.
"Benarkah?"
"Hn."
"Hm?"
Rasanya tanganku gatal ingin meninju wajah menyebalkan Itachi yang mengintip dari sisi kanan wajahku. Namun, alih-alih merealisasikan ide itu, aku malah mengalihkan wajahku ke samping kiri.
"Setidaknya belum," gumamku dalam suara lirih.
Ah! Bodoh. Apa yang aku katakan barusan? Rutukku dalam hati. Was-was jika gumaman spontanku tadi di dengar oleh Itachi. Diam-diam aku melirik Itachi dari sudut mataku. Beberapa detik berlalu dan Itachi tidak memberikan respon apapun. Syukurlah, sepertinya Itachi tidak mendengar ucapanku ta-
"Ahahahahaaha-"
Oke. Ia mendengarnya.
Aku melemparkan tatapan jengkel pada Itachi yang masih asyik tertawa di dekat telingaku.
"Urusai, Aniki," gerutuku sebal.
"Ah, waktu berlalu begitu cepat. Ternyata ototou-ku yang manis kini sudah menemukan bunganya."
"Berisik!" tukasku sembari menyibak lengan Itachi yang melingkar di bahuku.
"Nggak usah malu, Ototou. Tak ada yang salah dengan jatuh cinta." Itachi tersenyum. Ia memberikan satu tepukan pada bahu kananku sebelum berbalik untuk kembali ke ruang keluarga. Meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu kamarku.
Aku jatuh cinta padanya?
Pada Sakura?
Sosok yang baru aku temui belakangan ini?
Apa benar aku telah jatuh cinta padanya?
Tapi perasaan ini...
"Oh ya, Sasuke."
Aku mengangkat kepalaku dan berbalik. Menatap punggung Itachi yang berjarak dua langkah dari tempatku.
"Cepatlah bertindak, karena waktu tidak akan menunggumu, ototou."
.
-To Be Continued-
Chapter 2 akhirnya selesai! Yayyy!
Maaf telah membuat reader-tachi menunggu lama, kami akan usahakan untuk chapter 3 tidak akan lama update-nya. dan juga aku ucapin makasih banyak buat reader-tachi yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca fanfic ini. Semoga kalian menikmati sajian dari kami ini.
Ah ya, reader-tachi bisa menikmati cerita ini dengan Sakura's Pov Version di F LO W © Nakazawa Miyuki
sore ja, see you next chapter~ ^^/
Mind to review?
