Naruto © Masashi Kishimoto
F L O W © Nakazawa Miyuki & Yukio Valerie
Pairing: Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Genre: Friendship, Romance, & Hurt/comfort
Rated: T
Warning: Prepare yourself~ ufufufufufu~
.
.
F LO W
(Sasuke's PoV Version)
.
.
O
.
Our
.
.
Itadakimasu~
.
Sakura.
Aku mengamati dalam diam sosok perempuan yang kini duduk dihadapanku. Berkutat dengan buku kedokteran bersampul biru tua dalam genggamannya. Ia mengatakan padaku bahwa sebentar lagi ia akan Koas. Karena itulah, tumpukan novel yang biasanya tersusun rapi di atas meja kini absen dan digantikan dengan dua buah buku tebal tentang kedokteran.
Berbicara mengenai sosok Sakura, entah sejak kapan keberadaannya menjadi sesuatu yang selalu aku harapkan. Ia seperti pemanis dalam hari-hariku yang terkesan monoton.
Perempuan ini sering sekali berbicara tentang dunianya. Tentang kesehariannya, hari-hari yang dilalui sepekan ini, ataupun pendapatnya mengenai novel yang baru selesai ia baca. Ia akan tersenyum sumringah saat bercerita mengenai sesuatu yang ia sukai, dan mengeluh saat mendapati suatu hal yang berjalan di luar perhitungannya. Sedangkan aku, akan mendengarkannya dengan secangkir kopi hitam sebagai teman di meja. Memberikan tanggapan seadanya, dan mungkin juga sedikit godaan untuknya. Entah sejak kapan, melihat reaksi yang ditunjukkan saat aku menggodanya menjadi satu hiburan untukku. Marah pada waktu sebelumnya dan kemudian tersenyum beberapa detik setelahnya. Perubahan ekspresi yang begitu cepat. Ia sangat menarik dan membuatku senang.
BUKK!
Aku melirik Sakura sekilas dari balik kepulan asap yang menjadi tirai pandangku menatapnya. Sepertinya ia sudah menyerah dengan buku kedokteran yang sejak lima belas menit lalu ia geluti. Sebenarnya, aku tahu sejak tadi fokus Sakura tidak pada buku yang dipelajarinya itu. Entah apa yang tengah dipikirkan Sakura. Ia terlihat begitu resah. Aku baru saja berniat untuk menanyakan apa yang mengganggu pikirannya ketika Sakura tiba-tiba saja memanggil namaku dengan nada merengek.
"Sasukeee…" Kedua tangannya terjulur ke depan dan menggoyangkan lengan kiriku yang terlipat di atas meja.
"Hn?"
Meski terdengar seperti gumaman tak peduli, aku tahu persis Sakura mengerti bahwa aku sedang bertanya padanya. Sakura menarik kembali tangannya kemudian melipatnya di atas meja sebagai bantalan dagunya.
"Kau tahu kan, sebentar lagi aku akan koas."
"Lalu?"
"Apa kau berpikir aku bisa melakukannya? Apa aku memiliki bakat untuk menjadi dokter?"
Kuurungkan niatku untuk menyesap lagi kopi yang sudah tinggal beberapa inci lagi dari bibirku dan menyimpannya kembali di atas meja. Aku beralih menatapnya yang kini menunduk sambil memainkan telunjuk membentuk lingkaran imajiner di atas meja.
"Kupikir kau sudah paham." Sepertinya suaraku berhasil menarik atensinya hingga kini terpusat sepenuhnya kearahku. Aku menatap lekat-lekat pada sepasang emerald miliknya yang menatapku penuh tanya.
"Keraguan kita adalah pengkhianat dan–"
Aku menghentikan ucapanku saat melihat kepala Sakura terangkat dan manik emerald-nya membesar.
"–dan membuat kita kehilangan kebaikan yang mungkin kita menangkan dengan membuatnya takut mencoba."
Sakura menyelesaikan ucapanku dengan sebuah senyuman yang tersemat di wajahnya.
"Sasuke! Aku tak menduga kau juga membaca novel Hamlet." Ada nada antusias dalam suaranya. Emerald-nya terlihat semakin cerah dengan senyum yang semakin lebar. Menularkannya padaku untuk ikut menyunggingkan satu senyuman tipis.
"Hanya iseng saja. Jadi…"
"Ya. Kenapa aku harus ragu dan takut untuk mencoba. Aku pasti bisa melewatinya dengan baik."
Aku mengangguk dan menatap Sakura yang kini kembali mendapat keceriaannya.
"Di luar itu, kau ini umur berapa sih?"
Aku berujar dengan nada sedikit geli saat menangkap ada krim putih yang menempel di sudut bibirnya. Memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, ia bertanya dengan polosnya.
"20. Kenapa?"
"Kau makan seperti anak kecil saja. Makan kue sampai belepotan krim seperti ini," ujarku menahan geli.
Momen saat aku tahu kalau ibu jariku sudah menyapu sudut bibirnya yang lembut, momen saat ia menatapku dengan emerald-nya yang membulat terkejut, aku merasa panik. Aku tidak mudah membuat kontak tubuh dengan orang lain. Tapi kenapa aku bisa menggerakkan tanganku begitu alami di hadapan perempuan ini?
Menyadari itu, aku segera menarik kembali tanganku dan meraih cangkir kopi di hadapanku. Mungkin satu tegukan kopi dapat membuat pikiranku kembali jernih. Namun, kusadari tinggallah ampas hitam kopi yang mendiami dasar cangkir. Akhirnya, Kutaruh kembali cangkir putih itu di atas piringan kecil yang menjadi alasnya.
"Ma-makasih. Untuk mengingatkanku agar tidak takut menjalaninya. "
Suara kecil Sakura membuatku kembali menatapnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Telinganya memerah dan aku yakin wajah yang tersembunyi di balik poni panjang itu tidak kalah merah.
"Hn," ujarku singkat kemudian mengalihkan pandanganku ke jendela di samping kami. Langit senja menyirami bumi dengan cahaya keemasannya. Pun sinarnya yang menembus kaca bening di samping kami. Kuharap cukup untuk menyamarkan rona merah di wajahku yang menghangat.
Tiba-tiba, percakapan dengan Itachi kemarin malam kembali menggema di pikiranku.
"Cepatlah bertindak, karena waktu tidak akan menunggumu, ototou."
'Sekarangkah waktunya?' batinku bertanya.
Aku menolehkan kepalaku pada Sakura yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas. Novel yang beberapa saat lalu di atas meja kini sudah tersimpan di tas selempangnya. Satu pemikiran yang aku tangkap.
"Mau pulang sekarang?" tanyaku memastikan.
Sakura mengangguk.
"Ya. Aku ada janji dengan seseorang. Tak apakah jika aku tinggal?"
Aku tersenyum geli melihat raut wajahnya yang tampak enggan untuk meninggalkanku. "Tentu saja. Kau tidak berpikir aku masih bayi yang perlu ditemani kan?"
"Hahaha… mirip sih," gurau Sakura diakhiri juluran lidah dan sebuah tawa.
"Sakura."
"Ya?"
Mungkin tidak sekarang.
Aku tersenyum tipis padanya.
"Ganbatte!"
Sakura terdiam sejenak dan tersenyum manis. "Un. Arigatou. Kalau begitu aku duluan."
Aku mengangguk dan masih mengikuti gerak sosoknya yang perlahan menjauh. Saat ia membuka pintu café, berjalan menuju halte dan berhenti tepat di bawah pohon Sakura di samping halte. Aku mengernyit saat mendapati sebuah sepeda motor berhenti di depan Sakura. Seorang pemuda, dengan rambut merah bata terlihat akrab dengan Sakura.
Perasaan panas apa ini yang mengalir di hatiku?
Ada sesuatu yang mendidih rasanya. Pikiranku seperti akan meledak.
Bagaimana bisa pemuda itu dengan ringannya meletakkan tangannya pada puncak kepala Sakura? Dan Sakura, bagaimana bisa ia tersenyum bahagia dengan pemuda itu? Mengambil duduk di belakang pemuda itu dan melingkarkan lengannya pada lingkar pinggang pemuda itu. Bahkan, aku tidak pernah kontak badan dengan Sakura se-intens itu.
Tunggu! Satu pertanyaan serasa menghantamku kuat-kuat.
Memangnya siapa aku di mata Sakura?
Aku mendecih. Kenyataan bahwa aku bukanlah siapa-siapa untuknya, hanya sebatas teman ngobrol di waktu senggang tidak membuatku merasa lebih baik. Sebaliknya, rasanya sangat menyakitkan seperti seseorang meninjumu tepat di ulu hati. Api yang tidak di kenali pun mulai merambat di dalam dadaku. Tanganku mengepal erat menggenggam sesuatu yang dingin dalam saku jaketku.
Apa artinya ini?
.
F LO W
.
Saat ini duniaku sangat tenang. Tidak ada suara berisik ataupun keributan lainnya. Hanya aku dan secangkir kopi hitam.
Sunyi dan tenang.
Sebenarnya inilah yang aku suka.
Tidak, ini adalah apa yang sepertinya aku suka. Sama seperti tahun-tahun yang lalu. Bukankah dulu aku memilih tempat duduk di sudut dekat jendela sebagai spot favoritku karena ketenangan yang aku sukai?
Tapi kini, setiap aku mengunjungi café ini, aku merasa kosong. Kesendirian yang biasanya begitu akrab denganku kini menjadi asing.
Sejak kapan aku mulai merindukan tumpukan kue manis yang menemani secangkir kopi di mejaku? Merindukan sosok merah jambu yang mengisi kursi kosong di hadapanku dengan segala celotehannya.
Aku tidak dapat tenang. Menjadi sangat sensitif saat mendengar pintu terbuka. Mencari keberadaan sosoknya diantara orang-orang yang datang kemari. Tapi, ini selalu berakhir dengan tidak mendapat apa-apa.
Terhitung sudah tiga bulan berlalu sejak terakhir kali aku melihat Sakura. Mungkin ia tengah sibuk dengan koas-nya sehingga tidak sempat mampir barang sebentar untuk menikmati kue manis di Café ini setiap akhir pekan lagi. Atau, ia tengah asyik dengan pemuda berambut merah bata itu?
Memikirkannya, membuat satu pertanyaan terbersit di benakku.
Apa ini artinya aku dicampakan oleh Sakura?
"Hhhh…"
Aku menghela napas. Mengalihkan pandanganku pada pemandangan di luar sana. Namun tetap saja, pikiranku hanya terpusat pada satu orang. Satu perempuan. Perempuan yang memiliki rambut berwarna merah muda, yang selalu menatapku dengan iris emerald yang memukau. Perempuan yang tak kenal lelah untuk terus berceloteh jika bersamaku. Perempuan yang masuk ke dalam kehidupanku dengan tiba-tiba. Sosok yang berhasil menjeratku dalam pesonanya.
"Sakura..."
TUK!
Satu sentilah pada dahiku membuatku menoleh. Masih dengan setengah sadar aku menatap Itachi yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapanku. Ia menatapku lengkap dengan seringai dibibirnya yang kemudian berganti menjadi sebuah tawa yang kencang. Sial. Pasti wajahku sudah seperti orang bodoh sekarang sampai-sampai Itachi tertawa sebegitu kerasnya. Berdehem, aku buru-buru mengalihkan tatapanku pada cangkir yang masih tersimpan di meja. Secangkir kopi hitam yang belum kusentuh sejak pelayan meletakkannya di mejaku 30 menit yang lalu. Aku mengambil cangkir tersebut dan meneguk isinya. Satu tegukan dan aku kembali meletakkan cangkir tersebut ke atas meja dengan sedikit menggerutu.
Kopi di dalamnya sudah mendingin, dan aku tak suka itu.
Itachi sudah menghentikan tawanya dan sekarang memilih menjatuhkan tubuhnya pada sofa kosong di hadapanku. Padangannya masih lekat ke arahku.
"Kau kusut sekali, ototou. Dulu sudah pernah kubilang kan, kau harus bergerak cepat karena waktu tak akan menunggumu. Sekarang lihat, siapa yang tengah merindu, hm?"
"Urusai na, Aniki," ketusku sembari menatap tajam Itachi yang malah tersenyum. Senyum yang mengundang tanganku untuk mendarat di wajahnya. Menyebalkan sekali.
"Jika kau punya waktu utuk menertawaiku, sebaiknya kau gunakan waktumu itu untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna, baka-aniki," ucapku dengan nada jengkel yang tidak aku sembunyikan.
Alih-alih merasa tersinggung dengan ucapanku, Itachi kembali tertawa. Ya, aku sudah tahu kalau semua ucapan ketusku tak akan mempan pada Itachi. Meski begitu, hobinya yang suka mengangguku di saat yang tidak tepat benar-benar membuatku jengkel.
"Oke oke. Aku mengerti. Aku akan melakukan sesuatu yang lebih berguna," ujar Itachi sembari menahan tawa.
"Jadi, berhentilah mengirimkan tatapan membunuh seperti itu padaku," lanjutnya kemudian beranjak dari tempat duduk.
Aku mendecih, melirik sosok Itachi yang berjalan menjauh. Terserah Itachi mau kemana. Aku tidak peduli. Aku memilih untuk menyandarkan punggungku pada sofa dan menutup mataku. Alunan musik jazz classic yang sejak tadi mengalun lewat audio tiba-tiba berhenti. Sebagai gantinya, intro pelan sebuah lagu disusul lantunan nada yang dinyanyikan oleh seorang perempuan membuatku mengerutkan kening. Bukan karena suaranya yang sumbang atau apa. Tapi untaian lirik yang tertangkap oleh telingaku.
There are times in my life
When I feel so much love inside
Taking over my mind
Kenapa lagunya...
"Bagaimana?"
Suara Itachi yang terasa dekat denganku membuatku kembali membuka mata. Dihadapanku, dengan setengah membungkuk ke arahku, Itachi menatapku dengan cengiran lebarnya.
"Kau yang memutarnya?"
"Yep. Kau suka?"
"Tidak. " Jawabku tak acuh dan segera bangkit dari tempat dudukku. Namun, aku kalah cepat. Itachi lebih dulu berpindah ke sampingku, mengalungkan lengannya di sekitar bahuku.
"Hey hey.. jangan marah. Aku hanya melakukan saranmu untuk melakukan hal yang lebih berguna?"
"Dan menurutmu ini berguna?" tanyaku sarkastik, lengkap dengan tatapan dinginku pada Itachi.
"Tentu saja. Karena disini ada seseorang yang kesulitan mengungkapkan rasa rindunya. Jadi, aku membantunya lewat lagu ini."
"Sangat membantu," ketusku sembari menepis tangan Itachi yang masih bertengger nyaman di bahuku.
"Ups. Dingin sekali." Itachi terkekeh. Ia lantas memilih untuk menempati tempat duduknya tadi. Menyenderkan tubuhnya dengan santai dan bibirnya bergerak mengikuti alunan lagu tersebut.
And i really miss you so bad
And i really miss u so
"And you really miss her so bad, and you really miss her so," senandung Itachi. Iris yang senada dengan milikku itu berkilat jahil.
Aku mendengus. Meladeni Itachi yang seperti ini dan dalam kondisi begini hanya akan membuatku jengkel.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan Aniki," jawabku tak acuh dan Itachi kembali tertawa.
"Maaf deh kalau suasana hatimu semakin memburuk karena lagu ini."
Aku menahan langkahku sejenak untuk menatap Itachi dari sudut mataku. "Tidak ada hubungannya dengan lagu ini. Aku..."
And i really miss you so bad
And i really miss u so
Aku terdiam. Lagu ini seolah membungkamku. Membungkamku dengan lirik yang nyatanya memang sangat tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini.
Melihatku yang tidak jadi menyelesaikan perkataanku, Itachi tersenyum.
"Be honest with your feeling, Sas. You really miss her, right?"
Aku membuka mulutku untuk membalas ucapan Itachi. Akan tetapi, melihat tatapan Itachi yang ditujukan padaku membuatku sadar bahwa itulah yang kurasakan sekarang. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Sejujurnya, aku tidak marah pada Itachi. Aku tahu kalau ia hanya ingin memberikan dorongan padaku agar aku segera mengambil satu langkah maju. Perasaan kesal ini bukanlah untuk Itachi, ataupun lagu yang kini masih mengalun. Melainkan pada diriku sendiri yang tak bisa menghilangkan rasa gelisah yang menggerogoti hatiku.
"Dengar Sasuke. Jika kau memang suka pada Sakura, katakan suka. Jangan menyimpannya sendiri. Aku hanya tak ingin kau menyesal nantinya."
Menggelengkan kepalanya dan berdecak, Itachi kembali melanjutkan ucapannya, "Kau itu benar-benar ya, jangan sampai aku menyebutmu pengecut, ototou."
Aku mendengus.
'Kau sudah mengatakannya, baka aniki,' gerutuku dalam hati.
Memilih untuk tidak mengatakannya, aku kembali melangkah. Meninggalkan Coffee Area dilatari alunan lagu yang memasuki bait terakhir.
.
F LO W
.
Aku segera melesakkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku ketika hawa dingin menyambut sesaat setelah aku membuka pintu Café. Kulangkahkan kakiku dan berhenti tepat di depan pohon Sakura yang berdiri kokoh di depan Café ini. Aku mendongak ke atas saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah mengenai puncak kepalaku.
Ada putih yang menutupi puncak pohon ini. Putih yang sama dengan yang aku pijak.
Salju.
Aku memejamkan mataku. Alunan lagu tadi kembali terputar dalam otakku. Bersamaan dengan bayang wajah Sakura. Seperti ada ruang hampa dalam hatiku saat ia tidak disisiku. Aku merindukannya. Merindukan senyum manisnya, pribadinya yang menarik. Hanya dia satu-satunya yang mampu menghilangkan perasaan gelisah yang tengah kurasakan ini. Perasaan menyebalkan yang muncul karena kealfaan dirinya. Aku menginginkannya di sini. Aku merindukannya.
'I reallly miss you so bad,' lafalku dalam hati.
"SASUKE!"
Aku mengerjapkan mataku. Apa terlalu merindukannya membuat telingaku tak bisa bekerja dengan baik?
Aku lantas kembali memejamkan mataku. Menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Semoga saja dengan ini pikiranku kembali normal.
"SASUKEEE!"
Hey. Ini tidak bagus.
"OOII SASUKE!"
Teriakan nyaring di samping telingaku dan tepukan di bahu kananku sukses membuatku tersentak. Untung saja aku bisa mengontrol tubuhku untuk tidak melompat ataupun berteriak yang membuat image Uchiha yang melekat di nama depanku rusak. Begini-begini, aku harus selalu mejaga sikap sebagai seorang Uchiha dalam keadaan apapun dan di manapun. Setidaknya, itulah yang selalu Tou-san petuahkan sejak aku masih kecil.
Penasaran, aku membuka mata dan menoleh ke samping. Mendapati sebentuk wajah yang menatapku dongkol. Alis merah mudanya menukik turun dan bibirnya mengerucut dengan kedua tangannya berkacak pinggang.
"Sakura?" ujarku setengah sadar. Apakah sekarang mataku juga ikut bermasalah?
"Tentu saja. kau pikir hantu musim dingin?" gerutunya sembari memukul bahu kananku main-main. Membuatku semakin yakin jika ini bukanlah halusinasiku semata.
Aku membuang pandanganku ke samping kiri. Ke arah yang berlawanan dari wajah Sakura yang begitu dekat. Sangat dekat hingga aku bisa merasakan uap hangat yang menyapu kulit pipi kananku.
"Hn. Awalnya sih iya," gumamku singkat dan jujur. Sebisa mungkin menahan senyum senang yang tersembunyi di balik wajah datarku. Ini bahkan belum sampai satu jam sejak aku berpikir bahwa aku merindukannya, dan kini Sakura muncul di hadapanku.
"Mou, Sasuke masih saja nyebelin." Kaki yang terbalut sepatu boot coklat itu menghentak tumpukan salju di yang tengah dipijaknya.
Aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap. Apa yang harus aku katakan? Aku hanya merasa begitu senang saat melihatnya kembali. Jadi, aku hanya mengatakan apa pun yang terlintas di benakku saat ini.
"Hn. Jadi ada apa?"
Aku melirik Sakura yang sore ini tampak manis sekali dengan mantel merah dan jeans coklat. Tas berwarna putih dengan aksen bandul bunga sakura tersampir di bahunya. Rambutnya yang semakin panjang ia ikat membentuk ponytail dengan menyisakan poni sampingnya yang sedikit bergoyang dimainkan angin.
"Begitukah balasanmu padaku setelah tiga bulan tidak bertemu? Dingin sekali," dengusnya sembari menaruh kedua tangannya bersedekap di depan dada. Uap putih mengepul di depan wajahnya.
"Hn," jawabku sembari mengalihkan pandangan lurus ke depan. Pada sebuah taman di seberang jalan. Retinaku menangkap sepasang muda-mudi. Saling bergandengan tangan dan berbagi senyum di bawah sebuah payung merah yang melindungi mereka dari butiran-butiran salju yang melayang jatuh. Hal itu sedikit membuatku iri. Apakah rasanya akan sebahagia itu ketika kau bergandengan tangan dengan seseorang yang kau suka?
"Hhhh. Tersahlah. Lagian kamu ngapain sih melamun sendirian di depan Café. Merindukan pacarmu ya?"
"Mungkin," ujarku asal bunyi dalam suara rendah.
'Kalau kau yang menjadi pacarku,' tambahku dalam hati. Sebuah perasaan tak nyaman mengusikku saat teringat kembali sosok Sakura bersama pemuda yang menggandengnya tiga bulan lalu.
"Eh?" Sakura menatapku dengan kepala dimiringkan. Entah dia ingin mendapat keterangan lebih lanjut atau ingin aku mengulang perkataanku karena ia tidak mendengar. Tapi, karena aku tak mau memperpanjang hal ini, aku memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Kutatap sepasang emerald yang masih sama jernihnya dengan terakhir kali aku melihatnya.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
"O-Oh, aku baru saja kembali dari rumah sakit dan sekarang aku mau ke kampus. Karena halte terdekat ada di depan café ini, jadinya aku ke sini deh." Sakura berujar dalam suara ringan. Atau tidak? Karena meski samar, aku bisa merasakan nada suaranya yang sedikit bergetar. Mencoba mengabaikannya, aku kembali melempar tanya ke arah Sakura.
"Sudah tidak takut lagi?"
"Un. Ini semua berkat kata-kata Sasuke dulu. Aku jadi lebih percaya diri dan semangat," ujar Sakura dengan senyuman manis miliknya. Salah satu dari sekian hal yang aku rindukan dari sosok Sakura.
Membalasnya dengan satu senyuman tipis, aku kemudian menjatuhkan telapak tangan kananku pada puncak kepala Sakura yang sejajar dengan bahuku. "Syukurlah."
"Arigatou ne." Dari bawah tangan besar milikku yang masih bertengger di puncak kepala Sakura, sepasang emerald mengintip dengan rona merah samar-samar terlihat menghiasi wajah putihnya.
Aku mengangguk. Masih dengan senyuman tipis dan kembali menurunkan tanganku. Menyimpannya dalam ke dua saku jaketku.
"Hn. Jadi apa hadiah yang kudapatkan?"
"Eh?"
"Bukankah seharusnya kau memberikan hadiah padaku?"
"Umm…etto… aku bisa saja mentraktir Sasuke segelas kopi. Tapi aku harus buru-buru ke kampus."
"Jadi tidak ada hadiah untukku, hn?"
"Uhhh... mungkin aku bisa memberikan hadiah awal buat Sasuke." Cicit Sakura. Wajahnya menunduk. Tangannya memainkan tali mantel yang menjuntai di dadanya. Aku menatap Sakura dengan alis terangkat dan menahan geli melihatnya yang begitu serius menanggapi ucapanku.
"Jadi… apa hadiah awal yang akan kau berikan pada–"
CHUUUP
Ucapanku terhenti saat tiba-tiba Sakura berjinjit dan mendaratkan satu kecupan di pipi kananku dengan cepat. Sebelum aku sempat bereaksi, Sakura sudah lebih dulu berlari dengan wajah menunduk menuju bus yang baru saja berhenti di halte yang berada tepat di depan Aruta café.
Sakura… apa yang baru saja ia lakukan? Tidakkah ia sadar ini di tepi jalan yang ramai dengan kendaraan dan juga pejalan kaki yang berseliweran? Ck. Perempuan ini...
Aku menatap punggung kecilnya yang berlari. Ujung bibirku berkedut.
Walaupun begitu, aku merasa sangat senang. Ini pertama kalinya Sakura menciumku.
Meskipun orang-orang di sekitar kami banyak yang tertawa dan berbisik-bisik, juga wajahku yang sekarang sudah merah merona karena malu, namun perlahan-lahan hatiku merasa hangat.
Sepertinya memang sudah tak terelakkan lagi.
Aku memejamkan mataku. Menarik udara yang terasa dingin ke dalam paru-paruku.
"Sakura!" panggilku lantang diantara deru suara mesin bus.
Sakura yang baru menginjakkan sebelah kakinya di pintu masuk bus segera menoleh. Rona merah masih tampak jelas menghiasi wajahnya.
Aku mengunci bayang sosoknya dalam sepasang onyx milikku.
Meneguk ludahku dengan susah payah, perlahan aku membuka suara.
"Bisakah kau datang ke sini sabtu ini?"
"Itu..." -Ah, kenapa ini terasa sulit sekali.
Aku memalingkan wajahku ke samping, wajahku kembali terasa panas.
"Kalau kau tidak ada acara," tambahku dalam suara pelan. Ragu jika Sakura bisa mendengarnya.
"Mmm…Tentu."
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya yang kini tengah tersenyum. Senyuman yang menular.
Aku mengangguk dan balas tersenyum.
"Baiklah. Aku tunggu di rooftop pukul lima sore."
"Un." Sakura mengangguk dan segera masuk ke dalam bus.
Meninggalkanku yang masih berdiri dengan hangat yang terasa di kulit wajahku. Tangan kananku terangkat untuk kembali menyentuh tempat dimana bibir lembut Sakura menempel beberapa menit lalu.
Sial!
Aku benar-benar menyukainya.
.
F LO W
.
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum jam lima sore, waktu yang aku sepakati bersama Sakura untuk bertemu di Aruta Café.
Aku menurunkan pergelangan tanganku dan kembali menatap bayangan diriku dalam cermin dihadapanku. Hari ini aku memilih kaus putih dengan blazer hitam diatasnya dan celana jeans hitam. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kau memang tampan Sasuke," gumamku sedikit narsis dan segera kusesali saat retinaku menangkap bayangan Kaa-san dalam cermin.
"Kaa.. Kaa-san."
Aku berbalik menghadap Kaa-san yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu kamarku. Menatapku dengan senyum yang mengembang.
"Putra Kaa-san sudah tampan kok."
Aku mengalihkan pandanganku ke samping. Wajahku menghangat malu karena kepergok Kaa-san di saat tengah bernarsis-ria. Dengan cepat aku memutar otakku mencari pengalih pembicaraan.
"Ngomong-ngomong Kaa-san, aku tidak melihat Otou-san sejak siang tadi," ujarku pada akhirnya.
"Fuga-kun sedang meninjau tempat proyek. Kaa-san sudah menyarankannya untuk istirahat saja di rumah atau jika memang ingin pergi agar diantar sopir saja. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana sifat Tou-sanmu itu? Dia sangat keras kepala dan memilih berangkat sendirian," terang Kaa-san. Terdengar jelas nada kecemasan dalam ucapannya.
Mendengar itu aku terdiam. Tidak berkomentar karena aku sudah hapal betul watak Tou-san yang keras dan tidak suka dibantah. Padahal tiga hari yang lalu Tou-san baru saja collapse karena kelelahan.
Mungkin melihat kecemasanku, Kaa-san menyentuh lengan atasku dan tersenyum menenangkan.
"Tidak apa-apa. Fuga-kun pasti baik-baik saja. Dia bilang tidak akan lama. Mungkin sebentar lagi pulang."
Aku mengiyakan dalam diam.
Yah, semua akan baik-baik saja.
"Nah. Sekarang cepalah berangkat. Jangan buat seorang gadis menunggu, Sasuke-kun."
Aku mengangguk, mencium kedua pipi Kaa-san dan segera bergegas untuk berangkat.
"Itekimasu."
"Itterasshai"
.
F LO W
.
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah sampai di depan Aruta Cafe. Aku melangkah keluar dari mobil kemudian merapikan kerah blazerku yang sebenarnya sudah rapi. Salahkan rasa gugupku sehingga tanganku dengan spontan bergerak sendiri untuk merapikan entah itu blazer ataupun tatanan rambut tiap lima menit sekali.
Terakhir, aku mengecek kalung berliontin bunga sakura yang tersimpan rapi di balik saku blazerku. Aku mengangguk setelah memastikan semuanya siap. Menarik napas panjang dan mengembuskannya dalam satu helaan, aku mengambil satu langkah maju. Pada saat itu, ponsel milikku berdering.
"Halo, dengan Uchiha Sasuke di sini."
"..."
DEG!
Tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang keras memukul kepalaku. Apa yang kudengar dari ujung telepon membuatku tersentak. Aku menghentikan langkahku, terhuyung dan dengan tangan kiriku yang bebas aku menyentuh sisi mobilku. Mencari sandaran untuk menahan tubuhku yang mendadak kehilangan tenaga. Pikiranku kalut.
Yang ada dipikiranku sekarang hanya satu.
"Tou-san," lirihku.
Tanpa pikir panjang, aku melempar tubuhku kembali ke dalam mobil, menghidupkan mesin dan segera memutar balik menuju rumah sakit pusat.
Langkahku terasa berat, dadaku sesak, dan pikiranku kacau. Aku masih setengah sadar saat aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit menuju ruang ICU. Suara perawat yang meneleponku tadi terus bergaung dalam pikiranku.
"Uchiha-san, dengan berat hati kami memberitahukan bahwa Fugaku-san mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak bisa tertolong."
Aku menghentikan langkahku dan rasanya hatiku seolah diremas kuat-kuat. Sesak saat retinaku menangkap sosok Kaa-san yang duduk terdiam seorang diri di depan ruang ICU. Aku menghampiri Kaa-san dan berlutut di depannya yang tampak kacau.
"Kaa-san," bisikku pelan yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Kaa-san.
Kaa-san masih saja terdiam dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat dan pipinya basah dengan air mata.
"Kaa-san... ini aku, Sasuke."
Aku menjulurkan tanganku dan menggenggam tangan Kaa-san dengan lembut. Melihat Kaa-san yang tidak memberikan reaksi apapun semakin membuat dadaku semakin sesak. Aku lantas menumpukan kedua lututku dan menarik Kaa-san dalam pelukanku.
"Kaa-san, kumohon jangan seperti ini."
"Andai aku mencegahnya pergi, Fuga-kun... Fuga-kun..." Kaa-san mulai terisak dalam pelukanku. Dengan lembut kuusap bahu Kaa-san yang bergetar. Perlahan, kurasakan tubuh Kaa-san sedikit rileks.
"Ssshh... Kaa-san... meski Otou-san telah pergi, masih ada aku di sini. Ada Aniki juga. Kaa-san tidak sendirian. Kami tidak akan meninggalkan Kaa-san."
Kata-kata tersebut tidak datang dengan mudah, dan mengucapkannya, hatiku seolah teriris oleh pisau tajam. Aku juga merasakan hal yang sama. Hatiku sakit. Tapi aku tidak boleh terlihat lemah. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terpuruk di sini. Setidaknya tidak di depan Kaa-san yang memerlukan sandaran.
Berapa lama Kaa-san berada dalam pelukanku, aku sendiri tak tahu. Namun sekarang tangisan kesedihan Kaa-san telah hilang dan berganti menjadi deru napas tenang. Perlahan, Aku mengambil tempat duduk di samping Kaa-san dan membaringkan Kaa-san yang jatuh tertidur ke pangkuanku. Melepas blazerku dan kemudian menjadikannya selimut untuk Kaa-san.
Aku menutup mataku dan menggunakan jari-jariku untuk memijit pelipisku yang berdenyut.
"Kau nggak apa-apa, ototou? Istirahatlah sejenak. Kau pasti capek menemani Kaa-san sejak tadi."
Aku membuka mataku dan menemukan wajah lelah Itachi yang berdiri di hadapanku. Tangannya mengusap lengan Kaa-san yang tertutup blazer milikku.
"Hn. Aku tidak apa-apa, Aniki. Kaulah yang lebih lelah karena baru tiba dari Hokkaido dan langsung menuju kemari," ujarku begitu melihat penampilan Itachi saat ini yang masih mengenakan pakaian kantor. Meski yag terlihat kini sudah jauh dari kesan rapi. Simpul dasinya longgar, lengan kemeja digulung asal sebatas siku dan jas hitamnya ia sampirkan asal pada lengan kirinya. Penampilannya tampak sama kacaunya denganku.
"Hn. Aku tak apa-apa."
Kami terdiam. Meski kami sama-sama bilang tidak apa-apa, aku menyadari bahwa sebenarnya tidak ada satupun dari kami yang baik-baik saja saat ini. Tidak ada yang baik-baik saja saat kau kehilangan salah satu sosok yang kau sayangi, yang kau hormati.
"Sebaiknya kita bawa pulang Kaa-san sekarang."
Aku mengangguk menanggapi ajakan Itachi, dan perjalanan menuju rumah kami selanjutnya terasa sangat lama. Terasa begitu dingin. Masing-masing dari kami terlarut dalam duka. Tak ada percakapan hingga mobil yang dikendarai Itachi memasuki halaman rumah kami.
Itachi segera keluar dan menggendong Kaa-san. Sementara aku membetulkan letak blazer yang menyelimuti tubuh Kaa-san. Pada saat itulah, onyx-ku menangkap kilauan yang tergelincir jatuh dari blazerku. Setengah membungkuk, aku memungut benda yang ternyata adalah sebuah kalung dengan liontin bunga sakura.
Sakura.
Sakura.
Benar. Seharusnya hari ini aku bertemu dengan Sakura di Aruta Cafe, memberikan kalung ini padanya dan mengutarakan perasaanku terhadapnya. Seharusnya begitu. Aku mengangkat tangan kiriku guna melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 kurang lima menit.
Apakah Sakura masih menunggu? Atau ia sudah pulang?
Sekarang sudah enam jam lewat sejak waktu yang aku janjikan. Tidak mungkin dia masih menunggu. Lagipula, Cafe tentu saja sudah tutup sejak tadi. Pikirku.
Tapi, meski begitu, ada resah yang terus menyiksaku. Kupandangi kalung yang kini berada dalam genggamanku. Wajah Sakura membayang. Tawa cerianya, wajah memerahnya, celotehannya, juga kecupan tiba-tiba pada pipiku sore itu.
Bagaimana kalau Sakura masih bertahan di Aruta Cafe? Sendirian menungguku di depan Cafe? Di udara yang sedingin ini?
Hatiku semakin gelisah. Menggenggam erat kalung tersebut, aku berjalan cepat ke pintu kemudi.
"Sasuke! Kau mau kemana?"
Aku mendengar suara Itachi yang memanggilku, namun aku tak ada waktu untuk menjelaskan. Kecemasan telah menguasaiku.
"Maaf Aniki. Tolong jaga Kaa-san sebentar," teriakku dan segera melompat ke bangku kemudi. Menghidupkan mesin mobil kemudian segera memacu gas menuju Aruta Cafe.
'Kumohon Sakura, jangan bertindah ceroboh.'
.
F LO W
.
Cengkramanku pada roda kemudi menguat. Napasku memburu. Dalam hati aku terus berdoa agar Sakura tidak bertingkah ceroboh dengan memilih berdiri sepanjang malam di suhu sedingin ini. Semoga saja dia sudah berada di kamarnya yang hangat saat ini. Meski begitu, rasa gelisah bercampur cemas enggan pergi dari hatiku. Aku harus melihatnya sendiri.
Di kejauhan, sudah tampak bangunan minimalis yang temaran dikarenakan minimnya cahaya. Hanya lampu jalan satu-satunya sumber cahaya di sana. Aku memelankan laju mobilku dan memarkirkannya di depan halte bus. Aku segera melangkah keluar dan dengan setengah berlari menuju pelataran Aruta cafe.
Aku terengah. Uap putih mengepul dari celah bibirku. Kuedarkan pandanganku kesekeliling namun tak kudapati seorangpun di sini. Hanya kesunyian yang menyambutku. Aku merasa sangat lelah. Pikiranku keruh. Maka, kubiarkan tubuhku merosot dengan punggung yang bersandar pada pintu Cafe.
Suhu udara di sekitarku semakin turun. Namun, aku enggan untuk peduli. Aku mendongak dan langit malam yang semula hitam pekat mulai terhiasi oleh titik titik putih yang melayang jatuh.
Salju. Setiap butiran lembutnya menyentuh permukaan wajahku sebelum akhirnya lenyap. Menyisakan perasaan dingin yang menjalar hingga ke dasar hati.
Aku masih bertahan dalam posisiku. Duduk dengan menopangkan tangan kiriku pada kaki kiriku yang kutekuk di depan dada, sedangkan kaki kananku kubiarkan lurus memanjang. Aku sudah tak bisa merasakan dinginnya logam dari kalung yang tergenggam di tangan kananku. Aku mati rasa.
Perlahan aku menutup kedua mataku dan bayang wajah Sakura kembali hadir. wajah yang menampilkan gurat kekecewaan.
Sakura...
Berapa lama ia menungguku di sini. Satu jam? Dua jam? Tiga? Empat? Entahlah, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku telah membuatnya kecewa. Tanganku mengepal kuat. Aku memaki diriku sendiri yang dengan bodohnya tidak meminta alamat e-mail atau apapun yang dapat kugunakan untuk menghubunginya.
Dalam hati aku bertekad esok akan menemuinya dan meminta maaf pada Sakura. Aku tak peduli walau harus bersimpuh sekalipun, apapun akan kulakukan asalkan itu bisa menghapus gurat kecewa yang terpahat di wajah cantiknya.
Ya, aku tidak dibesarkan sebagai pengecut.
Drrt ... Drrt ...
From : Baka Aniki.
Kau di mana?
Aku mengerutkan kening, menatap rentetan tulisan yang terpajang di layar ponselku. Dengan cepat, aku pun membalasnya.
Tak lama, pesan balasan pun tiba.
From : Baka Aniki.
Aku baru saja mendapatkan kabar jika perusahaan kita di New York sedang dalam masalah. Pulanglah sekarang. Kita harus segera berkemas untuk pergi ke New York. Aku sudah memesankan tiket keberangkatan besok pagi.
Deg.
New York.
Apa yang harus aku lakukan?
Pikiranku lumpuh. Aku hanya berharap bahwa semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan besok, aku akan terbangun di tempat tidur. Sarapan bersama Kaa-san, Aniki dan Tou-san seperti biasanya. Setelah itu aku menunggu Sakura di Aruta cafe, meminta maaf padanya kemudian aku akan menghabiskan sisa soreku ditemani Sakura dan semua celotehannya.
Ya. Seperti itu.
Namun, kusadari bahwa hari-hari yang seperti itulah yang berubah menjadi mimpi.
Dan dalam dingin yang memeluk ragaku, kurasakan aliran hangat perlahan mengalir menuruni wajahku.
Kematian tou-san, membuat Sakura kecewa, dan kini perusahaan pun sedang dalam masalah di saat aku ingin meminta maaf pada Sakura.
Kami-sama, dosa apa yang telah kulakukan hingga Engkau enggan memberikanku kesempatan sekadar untuk meminta maaf padanya?
Sebenarnya, takdir apakah yang telah Engkau rancang untukku, Kami-sama?
.
~ To Be Continue~
.
I can't feel my senses, I just feel the cold
All colours seem to fade away
I can't reach my soul, I can feel your sorrow
You won't forgive me, but I know you'll be all right
It tears me apart that you will never know
But I have to let go
(Frozen – Within Temptation)
.
.
Yosha! Chapter 3 done! Seneng deh akhirnya bisa update cepat di sela-sela rutinitas kuliah yang makin padat. :D
Semoga kalian menikmati chapter 3 ini, ne. Oh ya, untuk lagu yang diputer pas di Cafe itu lagunya Ten 2 Five yang judulnya I Miss You. Bagi yang tengah merindukan seseorang, bolehlah dengerin lagu ini sambil menggalau ria. #ditimpukmasa. xD
Buat Imotou-chan, makasih banyak buat bantuannya~ #kecups xD
Yosh! Dengan begini, tinggal 1 chapter lagi yang tersisa dar W.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk sekedar membaca dan memberikan review pada cerita ini.
Kritik, saran, dan uneg-unegnya kami tunggu di kotak review. ^^
See you in the last chapter~ ^o^/
Oh ya, untuk balasan reviewnya, lewat PM ya... ^_^
Psst... jangan lupa mampir k © Nakazawa Miyuki.
Big thanks to:
Eysha CherryBlossom, Eagle Onyx 'Ele, Nona CherryTomato, ikalutfi97, and silent readers.
.
.
Yukio Valerie – Nakazawa Miyuki
22 Oktober 2014
