AkaKuro Diary; Kink
Pairing: AkaKuro
Genre: Romance, Humor
Theme: BDSM, Kink
Rated M
Warning!: Typo(s), Yaoi, BL, Mature contents, BDSM, OOC, Shonen-ai, bahasa ngaco alias tidak baku, Absurd ( banget ), etc
Requested by Evynichu
Author's note: gomenne, EvyniChu-san . author baru bisa publish sekarang. Awalnya sih author udah buat ceritanya, tapi karena menurut author ceritanya tidak menarik, author ubah semua deh.. dan beginilah ^^
Special thanks to: MiladyQ, sofi asat, Flow . L, No Name-san, dan yaoitakyuu
Pemuda bersurai baby blue itu menghela nafas. Matanya kembali beralih pada kertas yang dipegangnya. Berapa kalipun ia melihat juga pasti akan sama. Pemuda itu kembali menghela nafas lalu meletakkan kepalanya di atas meja.
"Oi, Kuroko."
Sapaan dari temannya itu membuatnya sadar dari lamunan dan ia mengangkat kepalanya. Pemuda yang dipanggil Kuroko itu menengok ke arah temannya. "Kagami-kun?"
"Kenapa? Dari tadi kau menghela nafas?"
"Hngg… tidak apa-apa.."
"Kenapa? Kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Kau sakit?!"
"Tidak, Kagami-kun."
"Eh?! Sa..sakit apa?!"
Kesabaran Kuroko habis. Dia mengambil sesuatu dari tasnya dan melemparkan benda itu ke arah Kagami.
Zyut! Jleb!
Kagami pun langsung diam membatu setelah tadi OOC ( bukan, budek iya ) . Kagami menengok ke arah belakang, tempat benda itu menancap setelah dilempar Kuroko. Gunting. Kagami lalu mengarahkan kepalanya kembali, menatap Kuroko.
"Gunting?!"
"Ya." Kuroko menjawab dengan wajah sedatar jalan raya #plakk
"Kenapa harus gunting?!"
"Hngg.. karena…"
"Karena?"
"Karena aku maunya pakai gunting." Jawab Kuroko serius.
Entah Kagami harus gimana. Marah atau gimana… itu muka apa talenan, datar banget? Jawabannya ngaco, mukanya serius. Minta dilempar granat apa? (jangan deng.. nanti Seijuuro nangis Tetsuya-nya dilempar granat)
"Kau ini mau menyamai mantan kapten mu yang merupakan reinkarnasi iblis itu?"
Tiba-tiba Kuroko menangis. Kagami langsung panik, ia berlari kesana kemari mencari sesuatu yang bisa membuat Kuroko berhenti menitikkan air mata. Akhirnya, setelah 5 menit 49 detik, Kagami berhasil membeli segelas vanilla milkshake jumbo kesukaan Kuroko. Kuroko pun langsung diam, sambil memasang wajah datarnya ia menyesap vanilla milkshake yang baru saja dibelikan oleh Kagami. Kagami pun hanya bisa sweat drop dan menahan diri supaya tidak melempar sahabatnya satu ini yang paling kawaii sedunia, ultimate uke yang paling unyu ke Pulau Galapagos. Memang kadang kelakuan sahabatnya satu ini menyebalkan ( pake banget ).
"Jadi, aku punya 2 pertanyaan untukmu."
"Kalau jawabanku benar aku dapat apa, Kagami-kun?"
"Piring cantik." Kagami ikut saja deh sama Kuroko, ntar tu anak nangis lagi.
Dengan wajah sedih, Kuroko menjawab, "Payung cantik saja bagaimana?"
Kagami gelundung-gelundungan di lantai kelas akibat jawaban Kuroko. Kuroko sih duduk diam manis di kursi, menyesap vanilla milkshake sambil menunggu Kagami selesai guling-gulingan.
.
.
.
5 menit kemudian
.
.
.
"Sudah selesai, Kagami-kun?"
"Sudah." Kagami berdiri di depan Kuroko, dengan seragam kotor dan acak-acakan serta surai merahnya berantakan.
Kuroko diam, ia menatap Kagami dengan intens. Kagami yang dari tadi dipandangi pun akhirnya merasa risih. "Ke..kenapa sih memandangi ku?"
Kuroko menatap wajah Kagami lalu menghela nafas ( dengan wajah mengejek ) "Bakagami-kun."
Ctak!
Urat kesabaran Kagami habis. "Kuroko."
"Ya, Kagami-kun?"
"Kau mau kulempar ke Galapagos atau ke Antartika?"
Kuroko berpikir sebentar. "Kyoto aja, Kagami-kun. Ada Sei-kun di sana. Lumayan, hemat uang." Jawab Kuroko dengan wajah datar.
Kagami tambah frustasi dengar jawaban Kuroko. Kagami mampir ke pojok kelas, dia duduk sambil melipat kedua lututnya di depan dada lalu ngomel-ngomel sendiri dengan gajenya.
"Kagami-kun?"
Masih sambil ngomel di pojok kelas, Kagami menjawab panggilan Kuroko. "Apa?"
"Jadi pertanyaannya apa?"
"Oya, hampir lupa."
Kuroko sweat drop.
Kagami berjalan, mendekati Kuroko yang sedang duduk di bangku sambil menyesap vanilla milkshake nya.
"Pertama, kenapa kau murung? Kedua, kenapa kau menangis tadi?"
Kuroko berpikir sebentar, ia mendongak ke atas.
5 menit… 10 menit.. 12 menit..
"Oi! Kuroko!"
Kuroko menengok ke arah Kagami. "Ah, aku harus menjawab pertanyaan ya, gomen Kagami-kun."
Kagami diam. Dia rasanya ingin sekali menjedukkan kepala ke tembok. "Cepat jawab."
"Nilai ulangan bahasa Inggrisku jelek. Lalu untuk aku menangis itu karena Kagami-kun mengejek Sei-kun."
"Hah? Sei.. oh, Akashi?"
"Nanti akan kuadukan pada Sei-kun!"
"Ja..jangan! Bisa mati aku!"
"Biar saja." Kuroko menjulurkan lidahnya.
"Nanti kutraktir vanilla milkshake Jumbo deh… selama seminggu penuh.."
"Oke, tidak jadi kulaporkan."
Kagami pun hanya bisa menangisi uang jajan bulanannya yang akan habis hanya untuk membeli vanilla milkshake buat Kuroko.
"Anou, Kagami-kun."
"Hm?"
"Sekolah sudah bubar dari tadi.. ya?"
Kagami menjedukkan kepalanya ke tembok terdekat. "Ya… begitulah.." jawab Kagami dengan lesu. 'Ni anak bener minta dilempar granat deh.. yah, minimal sepatu lah ..' batin Kagami
"Kalau begitu aku duluan. Jaa, Kagami-kun." Kuroko berdiri lalu ngacir, meninggalkan Kagami sendirian di kelas.
"Oi! Kenapa aku ditinggal sendirian?! Oi, Kuroko!" Kagami buru-buru mengambil tasnya dan berlari keluar, menyusul Kuroko.
.
.
.
Kuroko dan Kagami berjalan bersebelahan, mereka berdua mau mampir ke Maji Burger sebelum pulang ke rumah masing-masing. Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan dengan sebuah suara dari belakang mereka.
"Te~Tsu~Ya~"
Mereka berdua membalikkan badan. Dan, tara! Disitu berdiri Akashi Seijuuro, si iblis— err, kapten Rakuzan masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Sei-kun?!"
"Tetsuya~"
Kuroko berlari ke arah Akashi. Dengan efek-efek slow motion dan bunga-bunga moe. Kuroko dan Akashi lalu berpelukan. Okeh, para fujoshi dan fudanshi yang lewat pun langsung mengabadikan momen ini. Sedangkan Kagami hanya bisa sweat drop ria.
"Sei-kun kenapa disini?"
"Aku mau menculik Tetsuya."
'Mau menculik kok ngomong.' Batin Kagami sambil mengalihkan pandangan, enggan menatap pasangan lovey dovey di depannya.
"Terserah aku kan, Taiga?"
Kagami langsung kaget. 'Dia.. bisa baca pikiran ya?'
"Aku tidak bisa baca pikiran."
"Ya sudahlah. Terserah kau saja.." Kagami membalas lalu menghela nafas pasrah.
Akashi merasakan ada yang menarik ujung lengan bajunya. Ia menengok ke kanan, menatap Tetsuya-nya. "Ada apa, Tetsuya?"
"Culik aku, Sei-kun…"
Kagami sweat drop lagi. 'Masa iya ada orang yang minta diculik?! Hello?! Gimana deh?' ( Ada, tuh buktinya Kuroko )
Akashi langsung tersenyum dengan manis ( membuat orang-orang di jalan sekitar merinding ). "Baiklah. Ayo, Tetsuya.."
Akashi menjentikkan jarinya, lalu mobil limosin hitam milik Akashi pun langsung sampai ke situ. Akashi tiba-tiba menggendong Kuroko bridal style ke dalam mobil. Mereka berdua meninggalkan Kagami sendirian ( lagi ) di tengah jalan.
Kagami diam di pinggi jalan. Ia lalu menghela nafas. "Ya sudahlah, dua orang itu sama saja. Sebahagiamu sajalah." #Kagamirapopo . Kagami lalu melanjutkan perjalanannya yang tertunda ke Maji Burger. Tiba-tiba Kagami berhenti.
"Eh? Mereka pacaran?! Si iblis merah dan ultimate uke itu pacaran?!" (telat banget dah)
Oh, tadi rupanya Kagami lagi lama loadingnya, pantes aja..
Mobil limosin mewah berwarna hitam itu berhenti di sebuah mansion besar di kota Tokyo. Dua orang ( kekasih ) turun dari mobil itu.
"Sei-kun pulang ke Tokyo ada apa?"
"Hm? Tentu saja untuk ketemu Tetsuya.." jawab Akashi sambil tersenyum.
Wajah Kuroko pun merah padam. "Ah, Sei-kun."
"Ya?"
"Karena kebetulan Sei-kun di Tokyo aku boleh minta lontong, eh salah, tolong?"
Akashi sweat drop. "Boleh.. minta tolong apa?"
"Nilai ulangan bahasa Inggrisku jelek, bisa bantu aku belajar untuk ujian perbaikan?" Kuroko mengeluarkan jurus andalannya, puppy eyes. Oh, Kuroko… kamu ga pake puppy eyes Akashi juga bakal luluh dengan wajah kawaii mu itu..
"Tentu saja! Apa sih yang nggak buat Tetsuya sayang~" Akashi modus.
"Kalau begitu, sekarang kita belajar di kamar Sei-kun ya?"
"Ya, ayo.." Akashi lalu menggandeng Kuroko ke lantai atas.
.:Kuhaku:.
"Tetsuya, kau duduk saja dulu di sini. Aku akan membuatkan teh dulu." Akashi mempersilahkan Kuroko duduk di tempat tidurnya.
"Umn, Sei-kun.." Kuroko menjawab sambil mengangguk. Akashi lalu pergi ke dapur untuk membuat dua gelas teh ( maksudnya teh nya lho ya, bukan gelasnya.. kalau buat gelasnya sih lama… bisa berhari-hari #authordilemparsendal )
Setelah beberapa menit, Akashi kembali masuk ke kamarnya membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring biskuit untuk camilan mereka. ( :9 enak ). Hampir saja Akashi menjatuhkan nampan itu. Untung saja dia ingat sedang membawa nampan. Kenapa hampir jatuh? Bagaimana tidak, kekasihnya tersayang sedang membongkar koleksinya, koleksi pribadinya, koleksi yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh sang kekasih ataupun orang lain bahkan orang tuanya sekalipun.
"Ng.. Te..Tetsuya?"
Kuroko membalikkan badannya yang tadi membelakangi Akashi. Di tangannya ada salah satu benda koleksi Akashi yang diambil Kuroko dari kardus. "Ya, Sei-kun?"
"Kenapa.. membongkar…"
"Aku bosan, Sei-kun lama.."
"A…ha…. Lalu?"
"Menarik."
Akashi diam. Dia tidak salah dengar ucapan sang kekasih kan? Menarik? Sejak kapan kekasihnya yang polos ini suka dengan hal begini? ( thor, thor, daritadi apa sih koleksinya Akashi? ) Koleksi Akashi adalahh… *suara drum* sex toys ! Siapa sangka yang terhormat raja Akashi yang absolute itu mengoleksi sex toys? Dan lebih lagi Kuroko bilang menarik?!
"Tetsuya.. lebih baik kau.. kembalikan itu.." kata Akashi sambil menunjuk sebuah borgol yang dipegang oleh Kuroko.
"Eeeh? Kenapa? Memangnya tidak boleh?"
Akashi berdeham sedikit. "Katanya kau mau belajar ?"
"Ah, benar. Lupa." (santai banget yak?) Kuroko lalu meletakkan borgol yang ia ambil ke dalam kardus lalu menghampiri meja kecil di kamar Akashi. Ia duduk di lantai, di belakang meja kecil itu sambil mengeluarkan buku dan hasil ulangan bahasa Inggrisnya.
"Berapa nilaimu, Tetsuya?" Akashi menghampiri Kuroko setelah meletakkan nampan di atas meja kecil. Bukan jawaban yang diterima Akashi, malah Kuroko menyodorkan kertas hasil ulangannya. Akashi mengambil kertas itu lalu melihat hasilnya. Ia diam.
'Kami-sama.. serius ini? Serius?!' Akashi menjambak rambut merahnya, tanda frustasi level 99. Sedangkan Kuroko duduk, memandangi Akashi yang sedang marah-marah sendiri nggak jelas. Kuroko terus diam, menunggu Akashi selesai marah-marah. Beberapa menit kemudian Akashi selesai marah-marah. Dia duduk di samping Kuroko sambil menghela nafas.
"Kenapa nilaimu segini, Tetsuya?"
"Soalnya Sei-kun tidak membantuku mengerjakan."
Akashi diam. 'ya iyalah ga dibantu, orang dia di Kyoto, Kuroko di Tokyo. Memangnya mau pake telepati? (HP dilarang dibuka saat ulangan)'
"Sei-kun kenapa tidak membantuku?"
Akashi mulai tidak sabar. "Tetsuya."
"Ya?"
"Kau mau ku cium atau mau ku rape?" saking kesalnya, Akashi sampai mengeluarkan dua pilihan mautnya.
"Ng.. rape aja, boleh?"
Akashi diam. 'Seriusan ni anak?!' .Ia tiba-tiba menyeringai. "Hoo.. benar, ya? Jangan menyesal, Tetsuya.." Akashi berdiri sambil menarik tangan Kuroko sehingga Kuroko mau tidak mau ikut berdiri.
"Sei-kun?"
Tangan Akashi menarik dagu Kuroko ke arahnya, lalu tanpa peringatan Akashi mencium Kuroko.
"Nnmh.. ngmf.. Se-i.."
Ciuman panas itu berlanjut. Akashi memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Kuroko, menginvasi setiap sudutnya, mengajak lidah Kuroko ikut beradu dengan miliknya. Saliva lolos dari sudut bibir Kuroko. Kuroko mulai kehabisan nafas, ia memukul pelan dada Akashi tanda protes. Akashi pun dengan berat hati melepas ciuman mereka. Tanpa tunggu lebih lama, Akashi menggendong Kuroko yang masih mengatur nafasnya ke tempat tidur miliknya. Ia merebahkan Kuroko lalu naik ke atasnya dengan menumpukan berat tubuh pada kedua lutut dan telapak tangannya.
"Sei..kun.." Kuroko masih berusaha mengatur nafas.
Gulp! Akashi menelan ludahnya. Pemandangan di depannya ini oh sangat menggoda imannya. Wajah Kuroko merah padam, bibir mungilnya pink dan ada saliva lolos dari sudutnya, jangan lupa pandangan matanya yang sayu itu. Akashi melepaskan dasi yang terikat rapi di kerah kemejanya dengan begitu seduktif. Ia kemudian membuka seragam Kuroko dan entah membuangnya kemana.
"Se..Sei-kun?!" Kuroko tampaknya kaget dengan Akashi yang begitu tiba-tiba.
Dalam hitungan detik, Kuroko sudah telanjang bulat di hadapan Akashi. Akashi tersenyum puas melihat sang kekasih di bawahnya. Ia menjilat bibirnya, ingin cepat-cepat 'melahap' kekasihnya yang imut ini. Kuroko menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, wajahnya merah padam.
"Se..Sei-kun.."
"Tetsuya.."
Suara Akashi terdengar memohon bagi Kuroko. Kuroko mengangguk pelan, member tanda 'ya' pada kekasihnya. Akashi mulai dengan mencium dan menjilat perpotongan leher Kuroko yang putih. Kuroko mendesah sambil memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba ia merasa dingin. Ia membuka matanya. Kuroko mengambil posisi duduk.
"Sei-kun?"
Akashi beranjak dari tempat tidur menuju ke sebuah lemari kecil. Kemudian ia membalikka badan sambil menyembunyikan sesuatu di baliknya.
"Tetsuya, tutup matamu."
"Kenapa?"
"Tutup saja.."
"Ung.. baiklah.." Kuroko lalu menutup kedua matanya menunggu apa yang akan dilakukan Akashi.
"click"
"Eh?" Kuroko membuka matanya. "click" ? Apa..nya? Ia melihat Akashi didepannya dengan senyum yang mungkin sebenarnya inosen tapi, ia bisa melihat sesuatu dari senyuman itu. Kuroko menelan ludahnya. "Sei-kun.. apa yang.."
Akashi masih diam sambil tersenyum. Kuroko melihat kebelakangnya. Uh oh.. tangannya diborgol. Ia berusaha melepaskan borgol itu namun gagal. "Err.. ini.."
"Percuma, Tetsuya~ kau tidak bisa lari dariku~"
Akashi kembali naik ke atas Kuroko sambil menjelajahi tubuh kekasihnya dengan tangan kanannya. Kuroko hanya bisa menahan suara nya agar tidak mendesah.
.
.
.
"Aah..ahn.." Kuroko mengerang. Wajahnya merah, tubuhnya sudah dipenuhi peluh. Akashi menjilat bibirnya dengan seduktif, tergiur dengan pemandangan yang ada di depannya. Akashi terus melanjutkan kegiatan tangannya yang bermain dengan 'milik' kekasihnya. Akashi menaik turunkan tangannya yang sedari tadi menggenggam 'milik' kekasihnya.
"Ahn~ Sei-kun.."
Akashi memberikan ciuman untuk kekasihnya. Lidahnya menginvasi rongga mulut Kuroko, menjelajah setiap sudutnya. Mengajak lidah sang kekasih menari bersama. Saliva lolos dari sudut bibir Kuroko.
"Mmph..nn…"
Akashi melepas tautan bibir mereka begitu Kuroko mulai kehabisan oksigen. Akashi dan Kuroko berusaha mengembalikan nafasnya yang terengah-engah. Akashi lalu mulai menjilat kedua nipple Kuroko sambil terus menggerakkan tangannya, membuat Kuroko mendesah nikmat.
"Ahh.. Sei-kun..nn.."
Akashi lalu melepas borgol di pergelangan tangan kanan Kuroko. Akhirnya ia lepas juga, setidaknya begitulah yang ia pikir. Akashi kembali memborgol tangan Kuroko dengan tiang di tempat tidur milik Akashi. Lalu, Akashi mengikat pergelangan tangan kanan Kuroko dengan dasi seragamnya.
"Se..Sei-kun…"
"Hm? Kenapa? Enak, Tetsuya?" Akashi menggoda Kuroko.
Akashi mencium leher Kuroko, meninggalkan banyak kiss mark . Kemudian turun, melewati perut hingga sampai di 'milik' Kuroko.
"Aan.. augh.. ah..Sei-kun.."
Akashi menjilat 'milik' kekasihnya, mulai dari atas hingga ke bagian bawahnya. Akashi lalu memasukkan 'milik' Kuroko ke dalam mulutnya dan memberi blow job untuk sampai 5 menit, Kuroko menyemburkan cairan putih kental miliknya di dalam mulut Akashi yang dengan senang hati menelannya.
"AAgh! AAhn~"
Tanpa menunggu Kuroko mengembalikkan nafasnya ke asal, Akashi membuka sebuah botol, mengambil isinya lalu memasukkan jarinya itu ke dalam lubang Kuroko.
"Agh! Sei-kun.. ittai.."
"Tahan sedikit, Tetsuya.."
"Aghn.."
"Tetsuya.."
"Se..Sei-kun.. AGH!"
Akashi tersenyum puas begitu berhasil mendapatkan sweet spot kekasihnya tercinta itu. Ia kembali menjilat bibirnya lalu ia memposisikan 'milik'nya di depan lubang Kuroko.
"Tetsuya.. boleh?"
Kuroko mengangguk. "Uhm.."
Dengan sekali hantam, 'milik' Akashi sudah berada di dalam lubang Kuroko.
"Aghn!"
Akashi lalu mulai memaju mundurkan 'miliknya' yang berada di dalam lubang sempit milik Kuroko. Kuroko terus mendesah, merasakan 'milik' Akashi yang bergerak keluar dan masuk. Berkali-kali 'milik' Akashi menabrak sweet spot Kuroko, membuat dirinya mengerang keras. Saliva lolos dari sudut bibirnya. Tubuh Kuroko ikut maju dan mundur, rantai borgol bergerincing.
"Agh.. Sei..kun.. aku..mau..ke..luar..Ah!"
"Keluarlah, Tetsuya.."
Kuroko melengkungkan tubuhnya sambil mengepalkan tangannya yang terikat karena kenikmatan yang ia rasakan. Kuroko pun mengeluarkan cairan putih kental itu sambil mengerang keras.
"AAAHN~ Sei-kun!"
Akashi masih terus memaju mundurkan 'miliknya' hingga.. "Agh.. Tetsuya.." Akashi pun klimaks, cairan putih miliknya keluar di dalam Kuroko. Ia mengerang sambil menyembunyikan wajahnya di samping wajah Kuroko. Mereka berdua terengah-engah, Akashi jatuh ke pelukan Tetsuya-nya masih sambil menahan berat tubuhnya dengan kedua lutut. Mereka berdua berusaha mengatur nafas masing-masing. Akashi lalu berguling sedikit, tiduran di sebelah Kuroko setelah melepaskan ikatan dan borgol di pergelangan tangan Kuroko, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Akashi menengokkan kepalanya ke kiri, melihat ke arah Kuroko lalu tersenyum.
"Aishiteru yo.. Tetsuya.."
Kuroko membalas senyum Akashi. "Boku mo.. Sei-kun.. aishiteru.."
Mereka berdua pun tidur bersama sambil memeluk satu sama lain, berbagi kehangatan.
.
.
.
OWARI
