Coba bikin first-person POV :)

Theme 2: Lie

Character: Eren

Setting: saat Eren berhasil mencapai distrik Shinganshina bersama Recon Corps.

Terinspirasi dari sebuah fan comic.


Daily Lives of Recon Corps

A Shingeki no Kyojin fanfic

SnK ©Isayama Hajime

Warning: Adult-ish (?)


"Eren, kau harus kembali ke rumahmu, di sana kau akan menemukan semuanya!" Grisha Yeager mengalungkan kunci itu pada anaknya, Eren yang masih setengah sadar. "Sampai saat itu, jaga ini baik-baik!"

Pria itu kemudian menghilang secepat dia datang. Yang diingat Eren darinya adalah rasa sakit akibat suntikan sang dokter dan rasa dingin dari kunci logam yang terkalung di dadanya...

...

Lima tahun sudah lewat sejak aku terakhir bertemu ayah. Selama itu, aku melanjutkan dan berusaha meraih cita-citaku bergabung dengan Recon Corps. Selain untuk membasmi para Titan, aku juga ingin tahu apa yang disimpan ayah di ruang bawah tanah rumah untukku. Mungkin, jika aku menemukannya, aku bisa membongkar rahasia para Titan.

Masalahnya, rumahku berada di Distrik Shinganshina, yang setelah 5 tahun rusaknya Tembok Maria jelas menjadi area kekuasaan Titan. Untungnya, kami dipimpin Erwin Smith yang ahli taktik jenius itu, sehingga lewat perencanaan matang, pada ekspedisi ke-59 ini kami berhasil mencapainya.

Ekspedisi yang benar-benar gila, karena kami harus berkelana di area kekuasaan Titan selama berbulan-bulan. Untungnya ada 4 orang yang bisa berubah menjadi Titan dalam pasukan ini, sehingga jatuhnya korban tidak terlalu besar. Selain aku dan Ymir yang bertarung dengan sukarela, duo ababil itu juga mau bekerjasama, dengan bayaran kebebasan mereka.

Sebenarnya sampai sekarang aku nggak bisa memaafkan pengkhianatan mereka. Aku masih ingin memasukkan 1-2 tinjuan (dalam bentuk Titan) atau pedang ke mulut mereka... tapi, Letnan Levi sudah mengajariku kalau aku tak boleh melibatkan perasaan personal dalam peperangan.

Jadi... sudahlah. Yang penting mereka bisa berguna.

Sore ini, akhirnya kami sampai di Distrik Shinganshina, yang kini menjadi kota hantu. Lebih tepatnya, kami berada di dalam rumahku yang lama, yang sudah nggak terlihat seperti tempat yang dulunya pernah dihuni keluarga kami. Setelah membongkar reruntuhan, pintu menuju ruang bawah tanah pun terlihat.

"Akhirnya... aku sampai di sini," aku menelan ludah karena gugup. Sepertinya teman-teman di belakangku juga merasakan hal yang sama... jadi aku menoleh dan berkata,"Siap, teman-teman? Ini adalah titik terakhir! Setelah membuka ini, kita akan mengetahui sejarah dan nggak bisa kembali pada kehidupan yang biasanya-"

Tapi Letnan Levi mengakhiri pidato kerenku itu dengan dingin.

"Cukup bacotnya dan cepat buka!"

Kemudian dia menendangku! Tendangan dia sebegitu kuatnya sampai aku terpental dan menghancurkan pintu ruang bawah tanah, mendarat dengan wajahku. Aku pun bangkit dalam kegelapan total., disusul Letnan Levi dan yang lain dengan beberapa obor.

Ruang bawah tanah, ya... aku nggak pernah masuk kemari, jadi pemandangan sekitar cukup mengagetkanku.

Lemari-lemari dengan tumpukan dokumen menyentuh atap, buku-buku tebal bertebaran, meja yang dipenuhi gelas kaca dengan bekas mencurigakan, peta daerah yang ditinggali manusia, dan beberapa peti di pojok ruangan. Singkatnya, sebuah laboratorium... kalau nggak salah itu istilahnya.

Ukh, tempat ini benar-benar kotor. Sepertinya beratku bertambah beberapa kilo hanya karena menyentuh jaring laba-laba di sekitar...

Tak ingin membuang waktu lagi, Letnan Levi meneriaki kami semua untuk berpencar mencari petunjuk dalam ruangan itu.

... apa aku berhalusinasi waktu melihat wajah Letnan amat pucat? Mungkin seorang maniak kebersihan sepertinya nggak tahan melihat semua kekacauan ini...

Tujuan pertamaku adalah peti-peti di pojok ruangan yang sepertinya nggak pernah disentuh, mencurigakan. Tutupnya nggak bisa dibuka, jadi aku menebasnya dengan pedangku.

Benar saja, aku langsung disambut kotak bertuliskan "Rahasia Ayah" di dalamnya.

"Oke, semuanya, ini dia!" Aku mengangkat kotak itu dan meletakkannya di meja eksperimen agar yang lain bisa melihatnya. Semua orang menelan ludah karena gugup, lalu kubuka kotak itu.

Di dalamnya...

"Girl Next Door."

"Titansutra."

"H Magazine ja Nai!"

...

"Majalah porno?!" Aku berteriak kencang di tengah kesunyian.

APA-APAAN INI, AYAH?!

Letnan Levi dan yang lain menatapku dengan pandangan kosong. Mikasa malah sudah menghunus pedangnya, sepertinya dia siap mencincang habis buku-buku itu...

Harga diri ayah pasti sudah lenyap karena ini. Salahnya!

Ah, aku pasti salah ambil.

"P-pasti aku salah ambil, sebentar!"

Kulangkahkan kakiku menuju peti-peti tadi, dan membongkarnya. Selama itu pula aku merasakan tatapan mata teman-teman menusuk punggungku... heh, biarlah. Setelah ini kalian akan memujiku, haha.

Setelah peti ketiga kubuka, aku melihatnya. Kotak bertuliskan "Milik Ayah Paling Rahasia." Yosh, nggak salah lagi. Pasti ini. Diletakkan di tempat paling tersembunyi, rahasia yang paling rahasia.

Aku membawanya ke meja, menyingkirkan benda-benda mesum tadi, dan membuka kotak kedua ini.

Di dalamnya...

"My Daughter Cannot Be This Cute!"

"Imouto Complex."

"Oh Mamamia!"

...

"Sekarang komik porno?!" Aku berteriak lagi.

AYAH BRENGSEK! SELAMA INI KAU MENIPUKU?!

Ingin rasanya aku berubah jadi Titan dan mengubur dalam-dalam tempat memalukan ini! Tapi, itu akan gawat buat teman-teman di sini...

Uh... teman-teman?

Aku menoleh ke belakang, dan melihat mata mereka semakin menyipit, sampai hanya terlihat garis. Kemudian aku merasakan aura pembunuh yang kental... oh, rupanya Mikasa menodongkan pedangnya ke leherku.

Eeeeh?!

"... ada kata-kata terakhir, Eren?"

Aku membanting kotak mesum nomor dua itu, lalu berteriak lantang ke dunia yang jahat ini.

"SELURUH HIDUPKU ADALAH KEBOHONGAN!"

-End-


A/N

So... yeah. Bayangkan reaksi Eren dan seluruh fans SnK kalau ini beneran terjadi.

... jayus? Oke...


- Omake -

Mengabaikan mayat Eren yang berusaha beregenerasi...

"... sebenarnya orang ini punya fetish macam apa? Daughter-complex, siscon, atau MILF?" komentar Levi sambil mengibaskan beberapa komik R-18 itu di depannya. Tak ada yang menyadari salah satunya tiba-tiba menghilang di balik rompinya...

"Sekarang aku tau alasan dia mengadopsi Mikasa. Dasar om-om mesum," sambung Jean.

"... !?" Wajah Mikasa seolah meledak setelah dia membuka-buka halaman 'Imouto Complex'. Hidungnya juga mimisan.

Hange mengintip dari pundaknya, lalu bersiul.

"Oi oi, apa ini legal dilakukan oleh kakak dan adik?!"

"M-Mikasa! Senior Hange! Jangan dibaca!" teriak Armin.

Hanji cuma menyeringai.

"Heh, jangan salah paham, Armin-kun. Aku sukanya BL."

Levi dan para cowok senior langsung melangkah jauh-jauh dari cewek berkacamata itu.

"BL...? Apa itu?"

Kacamata Hange berkilauan mendengar pertanyaan itu.

"Oi, anak baru! Jangan tanyakan itu padanya!" teriak Levi.

Tapi, terlambat... Hange sudah menyeret Armin ke pojok ruangan dengan senyuman iblis.

Levi dan para senior lain pun melakukan salut tentara dengan khidmat, turut berbelasungkawa atas kepolosan yang hilang.