Theme: Imouto
Characters: Eren & Mikasa
Setting: High School AU
Summary: Mikasa Yeager, adik kandung Eren yang berselisih umur 11 bulan. Karena umur dan tingkat kelas mereka yang sama, banyak kejadian canggung yang terjadi...
Daily Lives of Recon Corps
A Shingeki no Kyojin fanfic
SnK ©Isayama Hajime
Theme 5
Imouto
"... nii-san."
Suara selembut malaikat mengganggu tidur nyenyak anak berambut hitam itu. Malaikat... mengganggu tidur. Suatu hal yang ironis, bukan? Si tukang tidur, Eren, mengabaikan pernyataan yang mengacau keseimbangan alam itu dan membalikkan badannya. Tadi dia menyelesaikan raid dungeon bersama teman-teman guild-nya sampai dini hari, jadi biarkanlah dia tidur!
"Nii-san, ini hari pertama sekolah. Kamu tidak mau Hange-sensei melakukan percobaan aneh padamu karena telat, kan?"
Mendengar nama guru fujoshi utusan neraka tingkat 66 itu, Eren langsung membuka matanya. Keringat dingin langsung mengucur deras dari sekujur tubuhnya... gila saja merelakan diri jadi korban percobaan!
"Urgh…! Nyaris saja," Eren menyeka dahinya.
"Nii-san baru boleh berkata seperti itu setelah sampai di sekolah," kata si pemilik suara yang membangunkannya itu.
"Cerewet, Mikasa-" Eren terpaksa menelan gerutunya lagi begitu melihat penampilan cewek di depannya, yang memakai seragam musim semi. Kemeja dengan rompi coklat tanah, rok dengan panjang sedikit di atas lutut dengan legging, menciptakan zettai ryouiki yang menyegarkan mata... tidak ada anak laki-laki SMU normal yang tidak bereaksi kalau melihat pemandangan seperti itu… meskipun, yang berpenampilan seperti itu adalah adik kandung sendiri.
Koreksi, karena itu adalah adik kandungnya.
Memiliki warna rambut hitam lembut warisan ayahnya, mata sayu dengan bibir mata lentik warisan ibunya, dan wajah oriental yang tidak jelas warisan siapa... Mikasa Yeager. Umur mereka berselisih 11 bulan, Eren lahir di Maret sedang Mikasa di April tahun berikutnya, membuat mereka menduduki tingkat kelas yang sama. Tidak perlu dibilang kalau mereka sama sekali tidak tampak seperti kakak-adik. Apalagi sejak masuk SMU, Eren semakin dibingungkan oleh batas persaudaraan yang semakin memudar...
Tapi cukup dengan ilusi gilanya, Eren kembali pada kenyataan. Di sana Mikasa memandang kakaknya itu dengan tatapan sejuk seperti arus sungai.
Walaupun mereka sudah hampir telat.
"Gyaaaahhh! Telat!" tanpa mengucapkan selamat pagi, Eren meloncat dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi. "Mikasa, kamu berangkat duluan saja! Kamu sudah siap kan?"
"... aku akan menunggu nii-san di bawah," jawab si adik sambil merapikan tempat tidur Eren.
"Sudahlah, duluan saja! Aku nggak mau kamu kena masalah!"
"Dan aku tidak mau nii-san kena masalah sendirian."
Bunyi Eren terpeleset dan jatuh terdengar dari dalam kamar mandi setelah Mikasa menjawab begitu. Tentu saja Mikasa segera menghampiri kamar mandi karena khawatir kakaknya terluka, tapi Eren keburu mengunci pintunya. Gila saja membiarkan seorang cewek masuk kamar mandi bersamanya!
"Aaah, terserahmulah!"
Mendengar jawaban itu, Mikasa tersenyum dan melanjutkan kegiatannya merapikan kamar Eren. Sementara, Eren mengumpat dalam hati.
Ya, inilah salah satu penyebab Eren mengkhawatirkan kaburnya batas-batas persaudaraan di antara mereka. Mikasa adalah seorang pengidap brocon (brother complex) kronis, sedangkan Eren semakin kesulitan mengalihkan perhatian dari imouto impian semua kakak cowok itu…
-XxXxX-
"Selamat!" teriak Eren sambil mendaratkan wajahnya di lapangan sekolah. Sebelumnya, dia melakukan manuver ajaib, meloloskan dirinya dari gerbang yang akan tertutup dengan overhead dive layaknya seorang penyerang mencetak gol sundulan. Rasa senangnya cukup menjadi anestesia selama beberapa detik, sampai wajahnya terasa terbakar.
"Nii-san, ini..." Mikasa memberinya sebuah sapu tangan yang segera digunakan Eren membersihkan wajahnya.
Saking asyiknya Eren membersihkan luka dengan sapu tangan Mikasa yang wangi itu, dia tidak menyadari langkah kaki sang iblis.
"Wah wah. Pertunjukan kasih sayang saudara yang amat mengharukan pagi-pagi begini," komentar seorang botak di belakang mereka. Keith Shardis, guru pendidikan jasmani SMU Isayama yang luar biasa sadis sesuai namanya. "Kalian terlambat 35 detik, Yeager bersaudara."
"Tigapuluh lima detik?! Sensei, apa itu nggak terlalu berlebihan?" Eren menyudahi pembersihan wajahnya, dan memprotes sang guru.
"Berlebihan? Kuberitahu kau apa yang namanya berlebihan... lima putaran keliling lapangan, sekarang!"
"Sensei nggak punya belas kasihan!"
"Oh, masih bisa teriak rupanya? Oke, tambah 2 putaran!"
"Aarrrgh!"
Salah satu pengetahuan umum di SMU Isayama, kau bebas menjuluki Shardis apapun. Sejelek apapun julukan yang dia terima, dia tidak akan bereaksi. Kecuali 1 kata, 'botak'. Seorang teman Eren pernah keceplosan mengatakan itu dan akibatnya, rambutnya tidak bisa tumbuh lagi selama setahun setelah Shardis selesai dengan teknik siksaan (baca: edukasi) terbarunya.
"... Shardis-sensei," tiba-tiba Mikasa berbicara, nada bicaranya amat sopan seperti biasa. "Hari ini adalah hari pertama masuk setelah liburan musim semi, di mana kami diharapkan segera masuk kelas masing-masing untuk bertemu wali kelas baru dan kemudian menuju aula untuk sambutan dari Pak Kepsek. Saya mohon pertimbangkan lagi hukuman yang akan kami terima."
Shardis memelototi Mikasa, tapi mimik gadis itu tetap tenang.
"Poin bagus, Yeager. Aku tunda hukuman kalian sampai waktu aku mengajar kelas kalian pendidikan jasmani. Tujuh putaran, ingat? Kalau kalian menambah atau mengurangi dengan alasan aku lupa-"
"Oke, oke, sensei! Sampai berjumpa saat itu!" Eren langsung berlari sambil menyeret sang adik yang masih sibuk membungkukkan badan.
Sesampainya di koridor dalam sekolah, suasana sudah cukup sepi. Sepertinya jam bimbingan wali kelas memang sudah dimulai. Eren melepaskan tangan Mikasa yang digenggamnya dan menarik nafas lega, tidak menyadari Mikasa yang tampak kecewa.
"Seperti biasa, kamu menyelamatkan nyawa kita," komentar Eren.
"Daripada itu, sebaiknya kita segera masuk kelas. Nii-san tidak akan tahu apa yang diperbuat wali kelas baru nii-san karena terlambat..." kata Mikasa.
"Ah, kau benar. Jadi... sampai nanti!" Eren langsung berlari ke arah lain.
Mikasa mengulurkan tangannya, seolah ingin menangkap sang kakak dan menyeret ke kelasnya. Tapi, dia mengurungkan niat dengan wajah sedih.
Bagaimanapun, kelas A tempatnya belajar tahun ini dan kelas C tempat Eren adalah 2 tempat yang amat berbeda...
...
"Yeager."
Sementara itu, di kelas 2C yang terletak di lantai 3, seorang guru cowok dengan pendek di bawah rata-rata memulai absen pagi itu dengan nada suara malas.
Tidak ada yang menjawab.
"Yeager...?"
Sepi.
"Sepertinya dia bunuh diri karena nggak tahan dengan tekanan saat naik ke kelas 2."
Saat itulah, pintu kelas terbuka dengan amat kasar, menampakkan Eren yang terengah-engah, sepertinya tadi berlari menuju kelas... hal yang tentunya akan membuat dia dapat hukuman (lagi).
"Jangan membunuh murid seenaknya, sensei!" teriakan itu menjadi jawaban absen Eren.
Sang guru terang-terangan berdecak kecewa, dan menandai nama sang murid dengan penanya. Karena Eren nomor absennya paling terakhir, dia segera menutup buku absen.
"Masih hidup rupanya... hhhh," dia menunjuk kursi di pojok belakang yang kosong. "Duduklah. Aku akan memulai jam bimbingan agar bisa keluar secepatnya dari lubang neraka bernama kelas ini."
Seisi kelas berpikir dengan kompak. "Itukah hal yang dikatakan seorang wali kelas?!"
Eren yang berpikiran sama dengan mereka, segera duduk di kursi yang ditentukan sang sensei.
"Oke, mungkin banyak yang sudah mengenalku dari klub kendo... tapi aku perkenalkan diri lagi. Aku Levi… ya, Levi saja. Wali kelas kelas 2C tahun ini."
Seisi kelas menghela napas panjang mendengar konfirmasi sang guru. Mereka curiga ini ulah Hange-sensei dan obat-obat anehnya untuk menjahili anak2 kelas C dengan ilusi sang guru. Kebanyakan mereka memang dulu adalah anak didik Hange, dan salah satu hobinya adalah mengerjai mereka.
Jadi, mendengar nada bicara sinis sang guru pendek, mereka akhirnya yakin.
Dalam hati mereka amat senang. Levi, di balik tatapan pembunuh dan obsesi tidak normalnya pada kebersihan, adalah guru yang cenderung santai (lebih tepatnya cuek). Artinya, dia adalah wali kelas yang amat sesuai untuk anak-anak tidak jelas seperti mereka. Coba Keith Shardis yang jadi wali kelas mereka... yah, mereka bisa mengucapkan selamat tinggal pada masa-masa indah SMU mereka.
"Oke. Aku sudah mengenal kalian semua dari daftar absen, jadi jam bimbingan kuakhiri. Persiapkan diri kalian untuk pidato pembukaan tahun ajaran baru dari Pak Kepsek, dan selamat pagi!"
Dengan itu, pak Levi berjalan keluar dari kelas dan membanting pintunya. Seisi kelas meneteskan keringat dingin karena tingkahnya itu...
Bersamaan dengan keluarnya Levi, Eren merobohkan kepala di atas mejanya. Dia dapat bangku kedua dari belakang, di pinggir jendela. Tempat yg sempurna untuk melamun! Ooh, dalam hatinya Eren sudah membayangkan kehidupan sekolahnya tahun ini akan sangat indah…
"Eren, sahabatku! Seperti biasa, kedatangan yang heboh!" cowok berbadan besar di depan bangku Eren menolehinya dan berkomentar dengan nyaring.
"Kami melihat aksimu di gerbang sekolah tadi... serius, apa saja yang kau lakukan selama liburan?" sambung seorang jangkung yang duduk di sampingnya.
"Reiner, Bert! Apa kabar?! Ah, tapi kita baru bertemu tadi malam di Eorzea, yah!" Eren menyapa balik mereka. Reiner Braun dan Bertholdt Hoover, alias si otot dan si jangkung. Dua teman baik Eren sejak mereka masuk SMU, baik di dunia nyata maupun online, entah kenapa mereka bisa langsung klop dengan Eren meskipun berasal dari luar kota. Satunya andalan klub atletik meskipun badannya berkesan tidak cepat karena penuh otot, sedangkan satunya tentu andalan klub basket dengan tingginya yang tidak wajar bagi seorang anak SMU.
"Haaah... sekelas lagi dengan idiot ini mengingatkanku bahwa semester kemarin aku kurang niat belajar," komentar cowok di depannya.
"Kirschtein, kau di kelas C juga? Ha! Katanya yakin akan ke kelas A? Ke mana keyakinanmu dulu?" Eren menanggapinya dengan penuh semangat, menyindir.
"Berisik, Yeager! Ini gara-gara Hange sialan itu memberi soal yang berbeda dengan yang kupelajari!" Jean Kirchstein berkoar. Berpotongan militer dengan mata tajam dan lidah yang tak kalah tajam, Jean menunjuk diri sebagai rivalnya Eren. Semua karena dia cemburu atas kedekatan Mikasa dengan Eren... walaupun mereka itu saudara kandung. Menurutnya, keakraban mereka itu sudah tidak normal, beresiko melanggar hukum (?).
"Pagi-pagi langsung ribut... ya, aku suka kelas ini," komentar Connie Springer. Si botak (tidak alami) ini adalah bek andalan klub sepakbola. Dia sering berkoar kalau kepala botaknya meningkatkan kemampuan sundulan... yang menurut Jean adalah bentuk sangkalannya bahwa rambutnya takkan tumbuh lagi melebihi 2 cm gara-gara teknik edukasi Keith Shardis.
"Diam, botak. Nggak ada yang mau dengar pendapatmu," Eren dan Jean membalas komentar anak itu dengan kompak, membuatnya langsung termenung di pojok ruangan.
"Oh, kalian di sini juga?" komentar seorang cewek dengan serpihan roti di pinggir bibirnya. Entah kenapa kotornya dia (dan ulahnya makan di kelas) luput dari pengamatan Levi. "Hahaha! Kupikir cuma aku yang nyasar kemari!"
"Sasha...? Ah, kau tampak seperti biasanya ya."
Sasha Blouse, anak yang pantas menyandang dosa besar Gluttony alias rakus. Duet ngaco dengan Connie dan teman dekat Mikasa ini, sesuai julukannya selalu makan di mana saja dan kapan saja. Herannya, bentuk badannya tetap bagus... terutama di bagian wanita tertentu.
Eren lalu melayangkan pandangannya ke seisi ruangan. Kebanyakan teman sekelasnya dari kelas 1B tahun lalu ada di kelas ini, kecuali beberapa orang. "Oh ya. Annie? Apa dia juga di sini?"
"Annie... di kelas B," jawab Bert dengan tatapan kesepian. "Bagus untuknya."
"Aah, begitu..."
Yang dicari Eren adalah guru teknik beladirinya, Annie Leonhardt sang andalan klub karate. Bertampang sangar dengan bentuk hidung yang khas, jangan biarkan postur tubuhnya yang kecil menipumu. Jangankan Eren, dia bisa dengan mudah membuat Reiner yang besar badannya 2 kali lipatnya terkapar dengan mudah! Dia berasal dari kota yang sama dengan Reiner dan Bert, jadi mereka sering terlihat bersama... walaupun tampaknya dia selalu menahan diri agar tidak menghajar 2 kawannya itu. Hanya Eren, dan kadang Armin (juga Mikasa, di hari yang baik) yang bisa berkomunikasi secara normal dengannya.
"Dari kelompok kita yang biasanya... Mikasa, Armin, dan Krista di kelas A. Annie dan Marco di kelas B... Ymir di kelas D, dan kita sisanya di kelas C. Yup yup! Sepertinya tahun ini akan menarik seperti tahun lalu!" kata Sasha sambil menelan sebuah roti lagi.
Armin Arlert adalah teman masa kecil Eren dan Mikasa, yang sampai sekarang tinggal di dekat mereka. Seorang yang cenderung pemalu, kekuatan utama Armin adalah otaknya yang encer. Tapi akhir-akhir ini dia dibuat bingung soal wajahnya yang cantik, favorit Hange-sensei. Bahkan ada yang bilang kalau dia adalah korban percobaan sang fujoshi, yang sukses mengubahnya menjadi manusia pemilik gender ketiga, "Armin".
Nah, kalau Armin adalah trap, maka Krista Lenz adalah cewek yang benar-benar cewek. Berwajah imut dengan proporsi yang juga imut, dilengkapi oleh kepribadian yang manis... Krista adalah idola semua cowok di angkatan mereka.
Lalu, Marco Bott, dia adalah teman dekat Jean. Bertampang biasa dengan bintik-bintik di pipinya, dia tidak terlalu menonjol dalam kegiatan klub maupun kelompok. Jean sering bercanda kalau Marco tidak cukup menerima cahaya... dan tampaknya itu benar karena keberadaannya cukup samar. Bert sering mengajaknya main di klub basket untuk menjadi "Phantom Sixth Man" sih.
Yang terakhir, Ymir. Sang ratu es kelompok kecil mereka yang sesuai namanya, Eren dan yang lain berhipotesis kalau dia lahir dari bongkahan es. Dia hanya membuka dirinya ke Krista, dan hanya Krista yang bisa mengontrol tendensi omongan kasarnya. Dia bisa ada di kelas D mungkin karena sifatnya yang pemalas, padahal menurut Krista (lagi), dia sepintar Mikasa.
"Heh. Dikelompokkan dalam 'sisanya' bersama anak ini... aaah, apa yang salah pada kehidupanku yang lalu?"
"Brengsek, Kirschtein, apa maksudmu!"
Di SMU Isayama, pada kenaikan ke kelas 2 dan 3, nilai ujian akhir akan dijadikan patokan pengelompokan kelas. Dari kelas paling busuk, E sampai kelas paling elit di antara yang elit, A. Masing-masing kelas berisikan 30 orang, kecuali kelas E yang 35 orang karena memang banyak idiot di sana. Sebagai kelas elit, kelas A dan B bisa menggunakan fasilitas sekolah yang lebih modern dan baru, sedang kelas sisanya dapat fasilitas yang kuno. Memang keras, tapi itu adalah salah satu bentuk dorongan para murid untuk terus belajar giat.
Keramaian di kelas 2C berakhir waktu seorang pria tegap memasuki ruangan.
"Selamat pagi, anak-anak. Silakan berbaris di koridor untuk menuju aula dan mendengarkan pidato pembukaan tahun ajaran baru dari Pak Kepsek, Dot Pixis."
Pak Erwin Smith. Orang berpenampilan tegap bagai tentara yang mengajar ilmu sosial. Di depannya tidak ada yang berani macam-macam karena aura militer yang dipancarkan orang itu...
-XxXxX-
Setelah 3 hari masa transisi tahun ajaran baru, kehidupan bersekolah di SMU Isayama pun kembali seperti biasa. Yang maksudnya 'biasa' adalah kehebohan saat jam makan siang.
Jam makan siang di SMU Isayama diwarnai oleh 2 hal. Satu, pertempuran besar di kantin sekolah memperebutkan roti yakisoba dan hotdog yang rasanya legendaris... dan dua, pertempuran besar di kelas masing-masing untuk mencari teman dan tempat makan.
Bagi anak-anak mantan kelas 1B, poin kedua ini tidak mereka khawatirkan karena di Isayama tidak ada yang tidak mengenal mereka. Mereka tergabung dalam kelompok kecil, yang kalau mau dipaksa diberi nama… Shingeki, nama yang diusulkan para anggota cowoknya yang gemar bermain game action. Makan siang bersama sudah jadi kebiasaan mereka. Awalnya hanya 3 serangkai Eren, Mikasa, dan Armin yang tiap hari makan siang bersama... lama-kelamaan hampir seisi kelas ikut mereka. Dimulai dari Sasha dengan tujuan menghabiskan sisa bento yang dibawa Mikasa. Lalu Jean dan Marco, dengan motif tersembunyi Jean mendekati Mikasa (menurut Marco). Connie sekadar ikut karena kesepian. Lalu Reiner dan Bert yang pindah ke Isayama pada pertengahan semester, diajak Eren ikutan. Krista, bidadari lokal yang sering bawa makanan berlebih kemudian menjadikan mereka sebagai kelinci percobaan masakan barunya... sambil mengajak Ymir. Terakhir, Annie yang dikenal Eren di klub karate. Juga beberapa anak lain dengan berbagai motif.
Sekarang, walau kelas mereka sudah terpisah sejak naik kelas 2, mereka berusaha tetap menjaga tradisi itu. Bahkan mereka yang biasanya tukang menyepi juga datang karena sudah kebiasaan. Bagi para cowok, kegiatan ini penting untuk menambah jatah makan siang mereka (jangan remehkan kapasitas perut anak cowok SMU!), dan para cewek bisa bergosip ria.
Seperti hari itu. Kehidupan SMU Isayama yg sudah kembali normal membuat acara makan siang Shingeki diteruskan kembali setelah liburan musim semi. Anggota dari kelas 2C sudah siap di halaman sekolah dengan makanan masing-masing di tangan. Kemunculan mereka membuat anak-anak lain menyingkir…
"Jadi, hari ini kita makan di mana?" tanya Jean.
"Aku melihat dengan mata kecilku... bawah pohon ek kosong," kata Connie, sok dramatis.
Mereka semua pun segera menuju lokasi itu. Pohon ek besar di halaman SMU Isayama memang terkenal sebagai tempat nongkrong yang nyaman. Pohon itu rimbun dan taman di sekitarnya nyaman juga bersih. Belum lagi kejutan buah ek di musimnya.
"Sekarang mari makan… huh?"
"Makan apa? Aku nggak bawa bekal," kata Reiner.
"Aku juga," sambung Bert dan Jean kompak.
"Terus kenapa kalian ikut kemari?" tanya Armin, dengan kotak bento di tangan. Benar, selain dia dan Krista, tidak ada yang membawa bekal. Mungkin karena ini hari pertama sekolah berjalan penuh?
"Eeh, aku cuma kangen suasana ngobrol bersama kalian saja…"
"Untung Sasha sudah memperkirakan ini," Armin meletakkan sumpitnya. Benar saja, di kejauhan tampak wujud Sasha dan Connie yang perlahan berjalan ke arah mereka… dengan tangan kosong. Jelas, penyebabnya adalah karena mereka terlambat 5 menit menuju kantin, jadi mereka kehabisan roti untuk makan siang.
"A-aku telat…" kata Sasha, matanya berkaca-kaca seolah dia tidak makan selama beberapa hari. Padahal, tadi pagi anak-anak kelasnya menghitung kalau dia menghabiskan 6 potong roti…
"Nggak apa-apa, yang penting kita bisa berkumpul lagi setelah sekian lama," kata Reiner. Tapi, kemudian dia memegangi perutnya. "… atau, itu yang ingin kukatakan. Aku kelaparan sampai nggak bisa bicara lebih banyak."
Semua orang tertawa kering, itu membuat Armin dan Krista, 2 orang yang membawa bekal jadi sungkan untuk makan.
Biasanya sih, di saat-saat seperti ini, ada dewa penyelamat dengan makan siang daruratnya…
"Ossu, teman-teman!"
Dia muncul, Eren Yeager bersama adiknya, Mikasa. Sejak pagi mereka tidak terlihat di kelas karena sudah mulai sibuk dengan urusan OSIS. Mereka memang diminta segera membantu OSIS begitu naik ke kelas 2.
Ngomong-ngomong, Eren-lah sang dewa yang selalu dinanti… walaupun, melihat ekspresinya, dia tidak sadar kalau kedatangannya sudah ditunggu teman-temannya. Anak itu memiringkan kepalanya, "Hmm? Kenapa?"
Teman-temannya pun langsung memasang wajah pasrah. Aaah, Eren juga tidak bawa bekal… hari ini mereka akan kelaparan seharian…
Melihat situasi putus asa itu, Mikasa menoleh ke belakang. Lalu, sambil menyembunyikan wajahnya di syal merah kesayangannya, dia berbicara dengan suara lembut. "Teman-teman, ini..."
Tampak ada 2 kotak bento berukuran cukup besar dipegangnya. Kontan semua orang di sana berteriak kagum.
"Oooooh?!"
Tanpa menunggu aba-aba dari si pemilik bento, Sasha langsung mengambil kedua kotak itu dan membukanya. Begitu melihat isinya, dia seolah ingin meledakkan tangisnya. Ada sosis berbentuk gurita, sandwich, ayam goreng, onigiri, tempura sayuran, katsu, dan salad kentang. Sungguh sebuah kombinasi makan siang yang amat mewah. Ini pasti bento ala Eren yang legendaris itu!
"T-terimakasih, Mikasa dan Eren! Ternyata kalian masih ingat!"
"Eh? Oh, iya," Eren yang dipanggil hanya bisa mengangguk dengan wajah bingung. Apa dia secara tidak sadar menyiapkan makanan untuk mereka? Kebiasaan anak itu memang unik…
"Oh, ini dari Eren? Kalau begitu aku nggak akan sungkan," kata Reiner.
"Eren, kau memang temanku!" komentar Connie.
"... sori, aku minta juga," sambung Bert.
"Untuk saat-saat seperti ini aku berpikir, kenal denganmu ada untungnya juga," gumam Jean, wajahnya tidak tampak sungkan sedikitpun. Dasar, kalau sudah berurusan dengan makanan dia jadi ramah…
Jika ada 1 hal yang dilakukan dengan benar oleh Eren, itu adalah memasak. Eren amat bangga dengan kemampuan memasak warisan sang ibu, yang berulangkali menggetarkan jiwa orang-orang yang memakannya. Berbekal reputasi seperti itu, tentunya teman-temannya tidak ragu untuk mengambil makanan yang disodorkan Mikasa. Beruntung benar, musim semi masih baru dimulai dan mereka sudah bisa merasakan masakan surgawi dari Eren!
Tapi entah kenapa Eren merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini…
"Selamat makan!"
Mengikuti teman-temannya, Eren mengambil sepotong sandwich... tapi saat dia akan menggigitnya, dia teringat sesuatu. Gara-gara urusan OSIS sejak pagi, tadi dia tidak sempat menyiapkan apapun... sarapan pun tidak sempat (karena dia kesiangan seperti biasa). Jadi, kalau ada bento yang dibawanya, itu adalah buatan... Mikasa.
Mata Eren melebar begitu menyadari ini. Dia pun segera berteriak memperingatkan untuk menghindari kejadian buruk… "J-jangan dimakaaaaan!"
Tapi dia terlambat, makanannya sudah meluncur ke dalam mulut pengicip masing-masing...
Nyam. Nom. Haup. Krauk.
"Tempura ini... krispi di luar dan lembut juga lengket di dalam. Rasanya juga sangat tajam ARGGGHHHHH!"
"Oi, Jean, kau terdengar seperti ayam yang akan disembelih... hmm. Ngomong-ngomong ayam, katsu ini renyah dan juicy, selain itu kekenyalan dagingnya GUAAAARGHHHH!"
"Connie, apa aku salah lihat atau aku melihat rambutmu semakin tipis? Yang jelas, sosis ini selain bentuknya bagus, tingkat kematangannya juga pas. Empuk dan hmm, ada tekstur misteriusnya juga! Ini nggak salah lagi BUAAARGGHHHH!"
Setelah kata-kata Reiner berakhir, dia langsung mencium tanah diikuti para cowok lain dan Sasha. Armin menelan ludahnya dengan wajah penuh teror, sepertinya dia pernah melihat ini. Dia pun meletakkan tempura yang tadi diambilnya dengan tangan bergetar.
"... eh, kenapa dengan mereka?" Krista sepertinya belum menyadari suasana kematian di sekitarnya. Pada sumpitnya masih terjepit sepotong katsu, dia sudah mengarahkannya ke dalam mulut sebelum Ymir memanggilnya.
"Krista, aaah-"
Tanpa berpikir apa-apa, dia menyodorkan sumpitnya pada Ymir yang melahap tempura itu dengan berani. Akibatnya, gadis berambut hitam itu langsung mengalami nasib yang sama.
"Ugh!" Ymir tumbang, tapi tidak sebelum tersenyum layaknya seorang yang berhasil meloloskan sahabatnya dari kematian di saat-saat terakhir.
"E-eh, Ymir?! Aku bisa melihat sesuatu berwarna putih keluar darimu!"
"Uh... Ymir melindungimu, tahu," komentar Eren, dingin. Dia lalu menepuk dahinya, dan dengan nada suara sangat menyesal, menjelaskan, "Maaf, teman-teman. Aku lupa. Yang membuat bento ini adalah... Mikasa."
Semua orang memandang Eren dengan wajah sangat terkejut. Roh Reiner dan yang lain, yang nyaris terlepas dari badan juga berhasil bertahan. Mereka tidak percaya atas apa yang mereka dengar... Mikasa yang itu, membuat makanan dengan efek fatal seperti ini?!
"Mikasa yang masak?"
"Nggak bisa kupercaya, Mikasa punya kelemahan…"
"Kelemahan fatal… buat mereka yang makan!"
Begitulah yang dipikirkan para korban.
Tapi, dia yang mereka sindir sepertinya tidak menyadarinya. Dia hanya memiringkan kepala dengan manis, wajahnya tampak kebingungan.
"Padahal aku menggunakan resep dari nii-san..."
Mendengar itu, semua orang langsung percaya. Resep dari Eren sudah dipercaya kelezatannya. Jadi, jika seseorang bisa merusaknya menjadi sesuatu seperti ini, berarti... Mikasa adalah seorang killer cook.
Sukar dipercaya memang. Mikasa sangat jenius dalam hal-hal akademik, memiliki kemampuan fisik yang bagus, dan biasa mengerjakan urusan rumah tangga seperti bersih-bersih. Tapi, masakan apapun yang dia buat, sesimpel apapun bahannya, semudah apapun caranya, hasilnya selalu amat sangat dahsyat di lidah... membuat mereka yang memakannya menyambangi sungai Sanzu.
Di keluarga Yeager, Eren dan Mikasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga bergantian. Tapi, hanya Eren yang berurusan dengan masakan dan dapur. Alasan awalnya sih, karena dia ingin memiliki keahlian tersendiri yang tak bisa dilampaui si adik. Setelah percobaan-percobaan di masa SD yang hasilnya naik-turun, waktu SMP Eren sudah lumayan jago memasak. Mikasa, sebagai adik yang baik awalnya berusaha tidak ikut campur hobi kakaknya itu… sampai suatu hari dia melihat dorama dengan cerita yang amat mirip dengan kondisi mereka.
Pada dorama itu, sang adik memasak untuk kakaknya agar bisa mengalihkan pandangannya dari cewek lain, jadi Mikasa ingin mencobanya. Tentu Eren menentangnya (tanpa tahu alasan Mikasa yang sebenarnya) dengan keras karena tidak ingin satu-satunya keahlian dia dilampaui Mikasa. Sialnya, sang ayah ikut campur. Jadilah tiap liburan, Eren mengajari Mikasa memasak.
Untungnya buat Eren, Mikasa sepertinya tidak cocok dengan kegiatan dapur. Masakannya tidak pernah berhasil, walaupun waktu itu masakannya masih terasa tidak enak saja. Eren senang, tapi dalam hati kecilnya sebagai seorang kakak, dia menyimpulkan kalau dia adalah guru yang buruk. Dia merasa Mikasa bisa gagal karena terus mengikuti langkahnya.
Jadi, pada liburan musim semi lalu, Eren melepas Mikasa agar berlatih sendiri… dan dia berhasil memasak makanan yang terlihat enak! Walaupun cuma menu dasar tumis daging dan kentang, tapi itu perlu dirayakan. Eren memanggil Armin untuk mencoba bersama, Dr. Grisha ayah mereka bahkan merelakan diri pulang dari rumah sakit untuk mencoba masakan pertama putrinya...
Saat menyuapkan sendok pertama ke mulut, mereka menyadari kalau Mikasa telah sukses berevolusi menjadi seorang killer cook.
Eren tumbang karena diare dan Armin langsung merengek pada kedua ortunya untuk kabur keluar kota demi menghindari masakan Mikasa. Dr. Grisha bahkan memutuskan untuk tinggal di RS sementara sampai anak gadisnya itu selesai bereksperimen.
Sekarang, teman-teman sekolahnya yang jadi korban. Yah, sebenarnya ini salah Eren juga karena melupakan hal penting seperti itu, tapi tetap saja…
"Mikasa... lihat perbuatanmu," Eren menghela napas, dan menatap sang adik dengan serius.
"Padahal aku sudah meniru resep nii-san sampai sehuruf-hurufnya-" jawab Mikasa, wajahnya tertunduk. Itu bukan Mikasa yg tangguh dan pemberani seperti biasanya. Di depan Eren yang kesal, Mikasa adalah seorang imouto yang loyal…
"Aku tahu perasaanmu, tapi kamu tahu sendiri kalau urusan dapur itu benar-benar nggak cocok buatmu 'kan?"
Mendengar itu, Mikasa semakin menunduk. Dia memain-mainkan ujung syalnya, tampak benar-benar kasihan. Hanya orang tak berhati yang bisa terus mengomelinya… jadi, Eren berhenti berbicara dan meringkasi masakan pembunuh itu.
"Padahal aku cuma ingin bisa memasak seperti nii-san..." kilahnya dengan suara yang semakin pelan.
Eren tercekat melihat Mikasa yang seperti itu. Diapun buru-buru memalingkan wajahnya yang bersemu merah, dengan tangan menutupi mulutnya.
"... nggak mungkin adik perempuanku seimut ini!" teriak Eren dalam hati.
- To be continued -
A/N
Nah, ini akan jadi beberapa bagian. AU di SMU Isayama di mana Mikasa seorang jenius dan killer cook; sedangkan Eren anak biasa-biasa saja dengan masakan ala dewa. Tentunya diisi brocon ala Mikasa dan Eren yang semakin khawatir atas sifat siscon-nya yang semakin kentara...
OOC? Karena di sini Eren dan yang lain hidup dalam suasana yang benar-benar damai, tanpa harus berusaha bertahan hidup setiap harinya... menurutku itulah sifat asli mereka.
Btw, yang bisa menyadari referensi Connie, silakan PM :p
Terakhir, aku sudah update profil! Silahkan mampir untuk mengecek proyek baru!
Note:
Eorzea: dunia setting FFXIV Online
