Theme : O - Oblivion
Characters: Mikasa-centric
Setting: AU highschool
Summary: Mikasa Yeager. Seorang brocon tingkat akut... inilah kisah di balik "penyakitnya" itu. Lanjutan tema 5.
Kembali setelah hampir setahun hiatus... yey.
Daily Lives of Recon Corps
A Shingeki no Kyojin fanfic
SnK ©Isayama Hajime
Fairytale Yuki Kajiura & Kalafina
Theme 6: Oblivion
I remembered a dream
I chased while I was young
Singing sweetly and faintly
A sadness of bright green
My fairytale
.
Aku teringat suatu kisah...
Kisah yang sepertinya tidak pernah terjadi, tapi cukup nyata seolah-olah aku pernah berdiri di sana saat itu terjadi...
Sebuah kisah tentang masa lalu yang jauh.
Oniisama, Eren-niisama, di mana kamu?
Malam yang cerah di penghujung musim gugur. Saat itu, langit kota kecil kami dihiasi hujan meteor Orionids, sungguh indah.
Tapi aku tidak bisa menikmatinya. Karena aku baru kehilangan seorang yang amat penting bagiku.
Dua orang, jika aku tak bisa menemukan oniisama.
Di tengah upacara duka di rumah, oniisama tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang mencarinya karena semua orang sedang amat berduka. Jadi aku memutuskan untuk mencarinya.
Mengenakan baju hangat, aku berlari keluar rumah.
Aku berlari kecil menyusuri kota, mencari oniisama di tempat yang biasa. Kedai ramen tempatnya "belajar", game center, toko kue favoritnya, sekolah... tapi dia tidak ada di manapun.
Aku tidak panik, karena aku belum mencarinya di tempat itu... dan benar, aku menemukan oniisama yang sedang duduk di ujung dermaga.
Ia biasa menikmati pemandangan matahari terbenam dari sana sepulang sekolah bersamaku, walaupun itu membuat kami pulang kemalaman dan dimarahi ibu... tapi karena hari ini tidak ada yang memarahinya lagi, dia bisa duduk di sana selama mungkin, sepuas hatinya.
Aku berjalan pelan ke arahnya, dan tanpa mengatakan apapun, duduk di sebelahnya. oniisama tidak mengatakan apapun, bahkan sepertinya tidak menyadari kehadiranku... tapi itu tidak apa-apa.
Karena hari itu sudah malam, tidak ada pemandangan matahari terbenam yang bisa disaksikan. Sebagai gantinya, hujan meteor Orionids menghiasi langit malam bersama bulan penuh yang melayang rendah di atas horizon. Bunyi desiran ombak menjadi musik latar yang menenangkan... tidak ada yang berbicara di antara kami.
Waktu itu terasa seperti selamanya, sampai aku memberanikan diri bertanya.
"Oniisama, kenapa... kamu tidak menangis?"
-xXxXx-
"... mh."
Saat Mikasa Yeager membuka matanya, dia melihat langit-langit berwarna krem. Ia sudah kembali ke dunia nyata rupanya... setelah memimpikan hal itu lagi, mimpi yang familiar.
Perlahan ia bangun dan mengusap matanya sejenak untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tertinggal. Setelah itu dia meregangkan tubuh dan menoleh ke samping ranjangnya di mana sebuah jam beker terletak. Pukul 5.15, lima belas menit sebelum beker menyala.
Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Setelah lima belas kali push-up dan sit up, latihan paginya yang biasa, ia segera menuju ke kamar mandi.
Wajahnya pun terpantul di cermin, wajah oriental yang menurut banyak orang sangat cantik, wajah warisan ibunya. Proporsi tubuhnya pun bagus, dengan pinggang ramping dan dada yang bertumbuh. Mikasa sadar kalau dia ini cantik, tapi dia tidak suka memamerkannya. Dia menyalakan keran dan mencuci mukanya dengan air dingin, menyikat gigi, dan merapikan rambutnya. Dia tidak berlama-lama di kamar mandi karena dia tidak suka berdandan, tidak seperti anak gadis seusianya.
Kembali ke kamar, dia merapikan tempat tidur dan berganti baju setelahnya. Kemeja putih bersih, rompi coklat tanah, dan rok berwarna senada SMU Isayama pun dia kenakan. Setelah semua selesai, dia menepuk wajahnya.
Hari baru, semangat baru.
Senyuman kecil tersungging di bibir merah alaminya. Kalimat itu adalah motto kakaknya waktu SD, waktu dia sedang semangat-semangatnya bersekolah. Sekarang dia sudah tidak mengatakan itu lagi (karena dia sudah SMU), tapi semangatnya tetap ada.
Dia keluar dari kamar menuju lantai satu untuk mengerjakan urusan rumah. Membersihkan ruang keluarga, pikirnya, cukup untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat sekolah.
Begitu dia menjejakkan kaki di anak tangga, aroma harum menerpanya. Bau ini... makerel miso dan omelet manis. Sepertinya menu sarapan hari ini adalah masakan Jepang? Biasanya Eren hanya masak itu kalau ada tamu istimewa...
"Ah," menyadari itu, Mikasa mempercepat langkahnya. Sesampainya ruang makan, ia melihat seseorang yang tengah membaca koran.
"Selamat pagi," kata Mikasa. Bunyi geraman dua orang pria menyambut salamnya. Mikasa tersenyum dan memalingkan wajah ke arah koran itu. "Ayah, apa kabar?"
Grisha Yeager menurunkan koran yang menutupi wajahnya dan tertawa kecil, "'Apa kabar', katanya. Aku tidak pergi selama itu kan, Eren?"
"Dua minggu," jawab seorang pria dari dapur, lokasi yang tidak sepantasnya. Eren Yeager, anak sulung keluarga Yeager yang biasa berurusan dengan makanan. Ia melongokkan kepalanya dari atas meja bar yang menghubungkan dapur dan ruang makan, wajahnya tampak berseri-seri. Tidak tampak sama sekali kecapekan dari sana, walaupun Mikasa yakin sang kakak baru tidur pukul 4 pagi setelah bermain game online bersama kawan-kawannya. "Ayah nggak pulang selama dua minggu, tahu."
Grisha tertawa kencang mendengar itu. Pekerjaannya sebagai dokter spesialis bedah memang membuatnya jarang ada di rumah. Dia harus terus berada di rumah sakit untuk berjaga-jaga kalau ada pasien darurat. Untungnya kedua anaknya memaklumi itu.
Pantas Eren memasak menu tradisional, ia ingin menyambut sang ayah rupanya. Mikasa lalu menyadari ada 3 kotak bento di atas meja. "Ayah juga mau bawa bento?"
"Iya, selagi ingat."
"Awas saja kalau nggak dimakan. Kapan hari aku menemukan kotak bento yang sudah menjadi fosil di antara barang bawaanmu," suara jengkel Eren terdengar dari arah dapur. "Aku sampai harus membuang kotaknya. Itu barang mahal, tahu."
"Hahaha, maaf-maaf."
"Kau nggak terdengar menyesal."
Sementara kedua orang itu berbincang saling meyindir, Mikasa mengambil vacuum cleaner dari gudang dan mulai membersihkan ruang keluarga. Dia tersenyum sembari mengerjakan itu. Sungguh situasi yang langka, sarapan bersama kakak dan ayahnya... biasanya mereka sibuk sendiri-sendiri.
"Oh ya, Mikasa!"
Suara Eren terdengar semakin dekat, sepertinya ia keluar dari dapur dan menghampirinya. Mikasa mematikan vacuum cleaner dan berpaling menghadap sang kakak. Tampaklah sosok Eren yang mengenakan celemek pink berenda seolah itu sangat macho, herannya itu terlihat pantas. Ini pemandangan biasa sih, tapi Mikasa tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman sekolahnya kalau tahu tentang ini.
Eren di sekolah adalah cowok yang benar-benar seperti tokoh manga shonen, tapi di rumah dia bertingkah seperti suami rumah tangga.
Suami... wajah Mikasa tanpa terasa merona. "A-ada apa, oniisama?" mengabaikan pemikirannya tadi, Mikasa bertanya balik.
"Apa kamu ingin porsi dobel?"
Sang adik mengangkat alisnya, bingung. Porsi dobel... bento?
Itu dianggap Eren sebagai pertanyaan, 'apa maksudmu'. Sang kakak mengusap belakang lehernya dan berkata, "Kamu sering makan snack dari kantin setelah kegiatan pagi kan... itu nggak sehat. Makanya aku berpikir untuk menambah porsimu."
Dengan itu, wajah Mikasa memerah sepenuhnya.
"N-niisan! Kenapa-"
"Dari Levi," jawab Eren. Levi, wali kelasnya, juga bertindak sebagai penanggungjawab OSIS. Tentu saja dia hapal dengan tindakan Mikasa.
Mikasa bersumpah dalam hati untuk mengakhiri napas sang sensei secepatnya.
"Oi, oi, Eren!" terdengar suara sang ayah. "Bertanya seperti itu kepada seorang gadis... itu benar-benar tidak sopan."
"Oh. Ya, benar..." Eren menggaruk pipinya.
"Lalu, Mikasa? Hati-hati sama timbangan berat ya."
"A-ayah?!"
Grisha juga ikut menggodanya! Mikasa berteriak kesal. Wajahnya memerah dan pipinya menggembung, suatu imej yang sangat di luar karakter dari Mikasa yang kuudere kalau di sekolah. Eren senyum-senyum sendiri. Hanya dia yang tahu sisi lain adiknya yang manis...
"Y-yang jelas, oniisama. Siapkan porsi yang biasanya saja," jawab Mikasa kemudian.
"Eh? Oke," jawab Eren. Dengan itu, diapun kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya. Mikasa menghela napas dan melanjutkan bersih-bersih.
Tidak lama, dia selesai. Setelah meringkas vacuum cleaner, dia berjalan ke dapur. Tampak Eren tengah memberikan sentuhan terakhir pada masakannya.
"Oh, kamu sudah selesai?" tanya Eren tanpa menoleh. Pandangannya terfokus pada ikan di atas penggorengannya. "Tunggu sebentar, ya."
Mikasa tersenyum, dia juga ingin membantu.
"Oniisama dan ayah, ingin teh atau susu untuk menemani sarapan?" tanya Mikasa sambil berjalan pelan ke bar minuman.
"JANGAN!" Eren dan Grisha berteriak panik. Mikasa itu, bahkan membuat minuman instan akan menghasilkan sesuatu yang berbahaya. Bagaimana mungkin dia bisa membuat kopi instan dengan gula jadi terasa asin...
Mikasa hanya bisa cemberut dengan amat manis, lalu keluar dari dapur.
...
Sarapan hari itu sangat lezat seperti biasa. Nasi hangat, omelet manis, makerel miso, dan sup miso dengan tofu. Bahkan rasa dua menu miso-nya terasa amat berbeda.
Eren tertawa melihat genangan air mata di sudut mata sang ayah, sepertinya ia tersentuh. Siapapun tahu kalau masakan rumah sakit itu tidak enak. Dibandingkan itu, masakan rumahan terasa seperti makanan surgawi. Apalagi kalau yang masak Eren.
"Ahhh, hanya untuk inilah aku hidup..." komentar Grisha setelah meminum teh hangat untuk mengakhiri sarapannya.
"Nggak usah berlebihan begitu, haha," kata Eren dengan senyuman bangga menghiasi wajahnya. Yah, dibandingkan dengan Mikasa yang bisa segalanya, Eren hanya ahli di dapur. Tapi itu bisa dianggap jenius, karena menurut sang ayah, kemampuannya sudah mendekati chef ahli masakan Jepang.
Mengingat lingkup pergaulan sang ayah, sepertinya pujian itu bukan sekedar omongan.
"Ayah, sampai kapan akan di rumah?" tanya Mikasa sembari meringkas mangkuk dan piring bekas makan. Karena Eren yang masak, sudah jadi tugasnya untuk bersih-bersih.
"Hm... mungkin nanti sore aku harus kembali ke RS. Jadi setelah ini aku akan tidur sepuasnya."
"Ayah, tidur langsung setelah makan itu tidak baik... padahal ayah sendiri dokter."
"Hahaha, Mikasa. Tidak ada yang tidak baik kalau aku tidur setelah mengenyangkan diri dengan masakan luar biasa dari Eren," Grisha meraih ke seberang meja untuk mengacak-acak rambut Eren.
"Oi, hentikan!" sang sulung protes dengan senyuman besar di wajahnya. Grisha memang sangat jarang di rumah, jadi biarkan dia bertingkah seenaknya.
"Hm... ngomong-ngomong, kalian tidak berangkat sekolah?"
"Sekolah mulai jam setengah 9 pagi, ayah," jawab Mikasa dari arah dapur. "Ah, tapi kami harus sampai di sekolah sebelum jam 7, ada kegiatan pagi."
Mendengar itu secara otomatis mata Eren berpaling pada jam dinding. Sekarang pukul setengah 7 kurang, itu tidak bagus. "Bento-nya belum siap," ia bangkit dr kursinya dan kembali ke dapur.
Grisha mengangkat alisnya dan mengamati kotak-kotak bento di depannya. Nasi dengan umeboshi di tengahnya seperti bendera Jepang, dilengkapi dengan tumis sayuran dan beberapa jenis tempura sebagai lauk. Penataannya sangat indah dan semua terlihat enak. "Eeh, menurutku ini sudah sempurna?"
"Kurang sausnya, saus. Untuk tempura, saus adalah salah satu unsur terpenting!" jawab Eren. Tak lama, bunyi tumisan terdengar, disertai bau harum.
Melihat saus berwarna keemasan yang meletup-letup di atas penggorengan, tanpa terasa perut Mikasa protes. Padahal dia baru sarapan! Diapun bertanya untuk mengalihkan perhatian, "N-niisan, itu... saus almond?"
"Oh, Mikasa, kok kamu tahu? Apa kamu bosan?" tanya Eren. Tidak bagus, pikirnya. Kalau Mikasa yang buta samasekali soal masakan saja tahu ini saus apa, berarti dia sudah terlalu sering memasaknya. Ia mengusap lehernya, "Ah, apa boleh buat, kalau begitu biar aku simpan ini-"
Gawat, Eren salah paham. Mikasa pun bergerak cepat. Sang kakak hendak menyisihkan saus yang baru matang itu saat tangannya tertahan. Rupanya Mikasa memegangi lengan kemejanya, wajahnya memerah. "Bukan! Mana mungkin aku bisa bosan pada masakanmu-"
"Eren... kamu bertumbuh semakin dewasa waktu ayah tidak melihat," komentar sang ayah yang masih duduk di ruang makan merusak momen itu. Maksudnya soal saus dan tempura, perkataan Eren tadi benar-benar seperti chef profesional.
"Apa maksudmu?"
-xXxXx-
Pukul 7 kurang 5 menit, kakak-beradik itu sudah sampai di sekolah. SMU Isayama masih sangat sepi, seperti sekolah yang ditinggalkan. Tapi teriakan samar-samar yang terdengar dari arah gym menunjukkan kalau kegiatan pagi sudah dimulai.
"Gah, pagi amat anak-anak itu..." gumam Eren. Ia berbalik pada Mikasa yang berdiri di belakangnya dan berkata, "Jadi, aku duluan. Sampai jumpa nanti sore, Mikasa!"
Mereka harus berpencar di sana. Mikasa ke kantor OSIS dan Eren ke klub karate. Setelah itu mereka harus pergi ke kelas masing-masing, Mikasa di kelas 2-1 dan Eren di 2-3. Waktu istirahat makan siang pun mereka jarang sekali bertemu karena diseret kawan-kawan sekelas. Ini berbeda dengan saat mereka masih kelas 1. Mereka sekelas dan pastinya selalu makan siang bersama. Kadang-kadang kawan mereka seperti Armin, Sasha, atau yang lain juga ikutan sehingga acara makan jadi lebih ramai. Tapi sekarang mereka hanya bisa bertemu kembali sepulang sekolah.
Mikasa ingin melakukan sesuatu, dia tidak tahan berpisah dg Eren selama itu. Walaupun dia memiliki sang kakak sepenuhnya saat mereka berada di rumah... tapi tetap saja. Dunia luar terlalu kejam untuk hubungan mereka. Ada yang namanya 'saingan' di sana.
"T-tunggu, niisan."
Tapi terlambat, Eren sudah melesat. Sang adik mengerutkan dahi. Inilah salah satu penyebab dia diam-diam melakukan latihan pagi ekstra... untuk mengimbangi kemampuan fisik Eren. Mikasa yang pendiam tidak mengikuti klub, sedangkan Eren aktif di klub karate dan kadang ikut bermain di klub sepakbola.
Mikasa menghela napas, dan berlari. Dalam sekejap, dia sudah ada di samping Eren, menyamai kecepatannya, bahkan.
"Guh!" Eren terhenyak melihat Mikasa. Adiknya ini memang memiliki kemampuan fisik yang amat tinggi kalau dibanding cewek SMU pada umumnya. Dalam hati Eren bangga melihatnya... tapi di sisi hati terdalamnya ia merasa iri. Dia menggeleng-gelengkan perasaan itu. "A-ada apa, Mikasa?"
"... apa hari ini kita bisa makan siang bersama?"
"Hmmm..." Eren memegang dagunya, mereka masih dalam kondisi berlari kecil. "Entahlah. Kamu tahu kan betapa sibuknya aku belakangan ini. Connie memintaku bermain di turnamen sepakbola lagi, jadi aku harus ikut rapat. Belum lagi urusan OSIS-mu."
"Tidak bisa, ya..." Mikasa menundukkan kepalanya, lalu menatap Eren dengan pandangan yang mematikan. Teknik Mikasa-puppy-dog-eyes! Ia tampak seperti anak anjing yang tidak diajak bermain! Jantung Eren berhenti berdetak.
"Argh, memandangku seperti itu... curang banget," pikir Eren. Dia pun menghentikan langkahnya, yang segera diikuti sang adik. "B-baik, akan kuusahakan."
Wajah Mikasa langsung berseri-seri.
"Tapi, aku nggak janji, lho!"
"... aku tunggu," Mikasa tidak mendengarkan rupanya.
Eren menghela napas panjang, dan mengusap kepala sang adik. "Kamu ini..."
Kontan wajah Mikasa meledak.
"Nii-!"
Setelah itu, Eren melesat ke arah gym, di mana dia langsung menerima tendangan tanpa bayangan kawan-kawan klubnya (itu ucapan selamat pagi). Mikasa tersenyum. Hari ini mereka sudah berjanji untuk makan siang bersama, dia tidak sabar lagi. Eren bilangnya tidak yakin, tapi dia hapal sifat kakaknya. Sekali berjanji, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya.
"Sebegitu inginnya kah kau makan siang bersama bocah itu..."
"Umu."
Mikasa melonjak kaget kemudian. Seseorang yang muncul tiba-tiba bagaikan pembunuh, hanya ada 2 orang di sekolah ini. Pertama adalah Sasha waktu mengincar makanan sisa, dan yang kedua...
"Levi-sensei, sejak kapan kamu ada di sini?"
"'Selamat pagi, Levi-sensei', maksudmu," sang guru yang tidak diberkati dengan tinggi badan normal itu menyilangkan lengannya. "Yeager, kamu terlambat."
Mikasa menaikkan kedua alisnya, lalu mengecek arlojinya. Pukul 7 lebih 3 menit. Dia menghela napas... dasar orang perfeksionis.
"Ah, sudahlah. Ayo segera ke ruangan OSIS. Menjelang bunkasai, kita sibuk tahu, oi sekretaris OSIS," dengan itu, sang penanggungjawab OSIS pun beralih.
Mikasa pun mengikutinya. Karena kedua orang itu sama-sama pendiam, pembicaraan nyaris tidak pernah terjadi. Sembari mereka menyusuri koridor dalam sekolah yang masih lengang, ia bertanya, "Kenapa sensei tahu aku masih ada di lapangan bawah?"
"Aku melihatmu dari lantai atas," jawab Levi tanpa menoleh.
"O-oh," Mikasa mengangguk. Tunggu, melihat...?! Wajahnya memerah. "A-apa..."
"Ya, aku juga melihatmu bersama Yeager senior," kali ini Levi menoleh. Di wajahnya tersungging senyuman menyebalkan. "Merayu kakak kandung dengan wajah seperti itu... dasar brocon."
Mikasa kembali bersumpah dalam hati untuk mengakhiri napas guru itu sebelum dia lulus.
-xXxXx-
Musim panas 6 tahun lalu. Ibuku, ibu kami, meninggal.
Semua terjadi begitu cepat. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tiba-tiba ibu pingsan di dapur. Nyawa beliau tidak terselamatkan setelah 3 jam perawatan di RS. Kata para dokter waktu itu, serangan stroke dini. Saat itu, aku dan ayah sedang di luar kota karena aku menerima wawancara untuk beasiswa.
Eren-niisama lah yang menemukan ibu. Ia jugalah yang ada di sisi ibu pada saat-saat terakhirnya.
Tapi, oniisama tidak menangis. Dia terlihat amat sedih, tapi tidak setetespun air mata membasahi pipinya.
Dia terus memandang laut di depannya... nafasnya keluar dalam bentuk uap putih. Hari sudah semakin larut dan udara semakin dingin. tapi aku tidak merasa dingin. Tidak... karena ada oniisama di sampingku.
"Kenapa... oniisama tidak menangis?" aku bertanya.
Oniisama tidak menoleh, tapi ia menjawab singkat.
"... aku tidak bisa menangis."
"Apa karena Eren-oniisama adalah laki-laki, jadi tidak boleh menangis?"
"Bukan," ia menengadah. Wajahnya tampak amat tenang... cenderung dingin, malah. "Menurutku, menangis adalah suatu hal yang spesial."
Ia lalu menoleh kepadaku.
"Kalau aku yang lebih tua menangis, Mikasa, bagaimana denganmu?"
Air mataku akhirnya meleleh setelah mendengar itu.
Bukan karena ibuku. Aku yakin ibu akan bahagia di sana, beliau tidak perlu kutangisi.
Tapi karena oniisama, yang dengan sekuat tenaga menahan rasa sedihnya. Aku tahu, oniisama sangat dekat dengan ibu, dia pasti yang paling terpukul.
Tapi dia berusaha tegar. Ia tidak menangis karena aku yang lebih muda darinya tidak menangis. Seorang kakak harus lebih tegar dari adik, katanya.
Jadi aku menangis, menggantikannya yang tidak bisa menangis.
...
Mungkin... sejak itu aku jatuh cinta padanya.
Meskipun dia kakak kandungku.
Bukan.
Justru karena dia adalah kakak kandungku.
.
I fall in love with you
and eternity ends
The joy and pain
of living begins
In the light
- End -
A/N
Sedikit banyak terinspirasi lagu dari kalafina, "Fairytale".
Oblivion adalah ingatan yang hilang, ingatan yang tidak bisa kembali. Seperti ingatan saat kau masih bayi sampai balita.
Oh ya, di luar, Mikasa memanggil Eren sebagai 'niisan', panggilan normal untuk kakak. Tapi, dalam hati dan saat mereka di rumah, dia memanggilnya 'niisama', panggilan yang menunjukkan penghormatan dan rasa sayang teramat dalam.
Trivia:
Oniisama count: 24.
