"Aku yang akan tidur dengan Naruto malam ini!"
"Tidak. Tentu aku yang akan tidur dengannya malam ini!"
"Aku yang berhak tidur dengannya!"
"Aku juga berhak! Aku suami dari Uchiha Naruto!"
"Apa katamu? Uchiha Naruto? Jangan bermimpi! Dia Hyuuga, bukan Uchiha. Hyuuga Naruto, istri dari Hyuuga Neji!"
"Selalu berkata omong kosong. Naruto adalah bagian dari Uchiha sekarang!"
Naruto memutar bola matanya jengah melihat tingkah laku kekanakan dari kedua suaminya—Neji dan Sasuke— yang sejak tadi bertengkar memperebutkan siapa yang akan tidur dengannya malam ini. Bahkan sejak awal pernikahan mereka, Neji dan Sasuke selalu bertengkar hanya untuk masalah sepele saja. Sungguh, menikah dengan dua orang sekaligus bukanlah ide yang bagus, pikir Naruto.
"Sudahlah kalian jangan—"
"Kau! Merusak malam pertamaku dengan Naruto, Uchiha!"
"Che. Kau berkacalah. Kau yang merusak malam pertama kami, Hyuuga."
Naruto menatap jengkel kedua pemuda yang kini berstatus sebagai suaminya. Niat menengahi, malah di acuhkan. Mereka terlalu sibuk 'bermesraan' hingga melupakan Naruto.
"Aku akan tidur sendiri." Putus Naruto sambil melangkahkan kakinya ke kamar pengantin yang telah di siapkan untuk mereka. Sasuke dan Neji langsung menatap Naruto dengan kaget.
"Oi, Dobe. Kau harus menentukan siapa yang tidur bersamamu!"
"Iya, Naruto. Lebih baik kau—"
BRAAAK!
Sasuke dan Neji menatap horor pintu kamar yang barusan di tutup kasar oleh Naruto. "Ini salahmu bodoh!" Sasuke menyalahkan Neji.
"Tentu saja ini salahmu, sialan!"
"Tidak! Kau yang—"
"DIAM KALIAN!"
.
.
.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pairing:
SASUNARUNEJI! XDD
SasuNaru & NejiNaru
WARNING!
Boys Love a.k.a Shonen-Ai! M-PREG, AU, OOC, typo(s), Gajeness, DDX
So if you don't like, Please Don't Read.
.
.
.
=Yukirin =
.
.
.
.
-oOo-
The Perfect Marriage
-oOo-
.
.
.
Sasuke membuka matanya dengan perlahan. Ia melihat di sebelahnya Neji yang masih tertidur pulas dengan rambut berantakan. Pemuda tampan bermata onyx itu mendecih. Karena tragedi semalam, akhirnya—terpaksa—Sasuke dan Neji harus tertidur di ruang tamu, lebih tepatnya di lantai ruang tamu. Untungnya lantai itu di alaskan karpet cukup tebal, setidaknya tidak membuat tubuhnya—terlalu—kedinginan.
Sasuke membangunkan tubuhnya, sedikit melakukan perenggangan pada tubuhnya yang terasa kaku. Tubuhnya terasa benar-benar sakit karena semalaman harus tidur di lantai. Ternyata Sasuke harus rela bahwa malam pertamanya harus di habiskan dengan tidur di lantai bersama saingan cintanya ini—Neji. Sasuke terkekeh mengingatnya.
Ia dengan santainya melangkahi tubuh Neji yang masih tertidur pulas. Kakinya melangkah menuju dapur untuk membuat kopi atau sekedar mengambil minuman. Apapun itu yang penting bisa menghilangkan dahaga.
Sesampainya di dapur Sasuke dikejutkan oleh Naruto yang berdiri mematung di hadapan meja makan. Ternyata Naruto telah lebih dahulu bangun sebelumnya.
"Dobe?"
Naruto menoleh kearah Sasuke yang kini tengah menghampirinya. Ia memperhatikan penampilan Sasuke yang baru bangun itu. Kacau, pikirnya. "Teme? Kau baru bangun?"
Sasuke mendengus, "Sudah tahu mengapa bertanya." Naruto cemberut mendengar ejekkan Sasuke. Sasuke tersenyum tipis. "Sedang apa kau memandangi meja makan begitu?"
"Tadi aku buatkan kalian kopi." Naruto menunjuk kearah meja makan. Mata Sasuke mengikuti arah tangan Naruto. Disana sudah tersedia dua cangkir kopi, dan satu gelas susu yang pastinya susu itu untuk Naruto. "Tapi aku bingung mau buatkan apa untuk kita sarapan. Aku kan tidak bisa masak."
Sasuke hampir saja melupakan bahwa istrinya ini tidak bisa memasak. Semua orang juga tahu, bahwa Naruto tidak handal dalam urusan dapur yang satu ini. Jika kalian bertanya bagaimana Sasuke atau orang lain bisa tahu tentang ketidak berdayaan Naruto dalam hal masak-memasak, salahkan saja Deidara dan mulut besarnya.
"Usuratonkachi." Ejek Sasuke. "Buatlah apa yang kau bisa." Sasuke mengambil secangkir kopi yang telah tersedia di meja. Pemuda bermata onyx itu menghirup aroma kopi sebelum ahirnya menyeruputnya.
"Tidak manis." Sasuke melirik ke arah Naruto yang sekarang terlihat sibuk mencari sesuatu di rak dapur.
"Tentu saja." Respon Naruto. "Kalian berdua kan tidak suka manis. Kalau kau mau manis, tambahkan saja gula sendiri ya. Aku takut malah tidak pas rasanya di lidahmu nanti."
"Sasuke menyeringai tipis. "Kau cukup mengetahui selera suamimu, Dobe."
Naruto merasakan pipinya memanas, "Setelah minum kopimu, bergegaslah mandi! Jangan lupa bangunkan Neji."
Baru saja dua langkah Sasuke hendak meninggalkan dapur, tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya hingga membuat langkahnya terarah ke Naruto yang masih setia berdiri di dapur.
"Hei, Dobe." Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. Kaget melihat suaminya ada di hadapannya kini.
"Teme? Aku kan menyuruhmu membangunkan Neji." Naruto menatap Sasuke bingung. Sedikit menjauhkan wajah ketika wajah Sasuke semakin mendekat.
"H—Hei—" tanpa membalas kata-kata Naruto, Sasuke menarik tengkuk Naruto, mempertemukan bibirnya dengan bibir plump milik Naruto. Menyesap bibir bawah sang istri sesaat sebelum akhirnya melepaskan tautan tersebut.
Sasuke terkekeh melihat Naruto yang masih memejamkan matanya. "Morning kiss, Dobe." Sasuke berbisik dengan suara baritone rendahnya tepat di telinga Naruto.
Naruto membuka matanya, jari-jari Naruto mengusap bibirnya yang terasa sedikit basah. Butuh lima detik bagi Naruto untuk sadar. "TEME!"
.
.
Sasuke nampak mengeringkan rambutnya dengan handuk. Manik onyx Sasuke menatap pemuda bersurai cokelat panjang yang masih terlelap. Sasuke mendengus.
"Oi, Neji." Kakinya mengguncang tubuh Neji dengan tidak sopannya. "Bangun bodoh. Sampai kapan kau mau tidur seperti sapi begitu."
Neji tampak terganggu. "Berisik." Neji yang masih nampkak lelah itu tidak beranjak dari tidurnya, mengacuhkan pemuda Uchiha yang menatapnya jengkel.
"Naruto telah membuatkan sarapan untuk kita." Pancing Sasuke.
Benar saja, Neji langsung membuka matanya, dan refleks mendudukan tubuhnya. Matanya menerawang senang. "Naruto memasak." Gumamnya.
"Hei, Sas. Kau tidak—" Neji shock melihat Sasuke yang berdiri di hadapannya. Memakai celana panjang, namun topless. Topless! Bertelanjang dada! "APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU UCHIHA?" Neji histeris.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya heran. Heran akan kebodohan Hyuuga yang satu ini. Ia mendengus, melipat tangannya di dada. "Apa yang kau pikirkan? Kau pikir aku memperkosamu?"
Neji menatap Sasuke menyelidik. "Kau, dasar pantat ayam mesum!" maki Neji. "Berani-beraninya kau menyentuh tubuhku! Naruto saja belum pernah melakukannya denganku."
Mendengar tuduhan Neji, Sasuke berdecih menatap pemuda Hyuuga yang kini menatapnya juga dengan pandangan menuduh. "Otakmu kau simpan di jari kaki?" Sasuke berbalik menjauhi Neji, sebelumnya ia berkata. "Menyentuhmu? Seperti aku sudi saja."
Neji menatap Sasuke yang semakin jauh melangkah dengan sangar. "SIALAN KAU UCHIHA!" Neji berteriak. "Rambut dan mulutnya sama-sama tajam, che."
.
.
Setelah perdebatan Sasuke dan Neji pagi ini, kini dua pemuda tampan ini menatap horor kearah meja makan. Naruto yang sudah duduk manis di kursi meja makan menatap kedua suaminya itu dengan pandangan kesal.
"Kenapa kalian hanya berdiri saja?" tanya Naruto sarkastik. Telunjuk Naruto menunjuk kearah Neji dan Sasuke, kemudian beralih ke kursi makan. "Duduk. Makan!" Sasuke dan Neji langsung menuruti perkataan—perintah—dari istri mereka itu. Dua pasang mata berbeda iris itu masih menatap meja makan dengan tatapan horor.
"Apa ini, Naruto?" tanya Neji sambil menatap piring yang kini terhidang di hadapannya. Sarapan buatan istrinya ini betul-betul membuatnya terpana.
Naruto tersenyum manis. "Tentu saja roti bakar!" ujarnya riang. "Untuk Neji selai strawberry, dan Sasuke, kau yang selai kacang itu."
Naruto menatap kedua suaminya yang masih belum menentuh sarapan mereka. Naruto mengernyit. "Kenapa tidak dimakan? Sasuke bilang buat saja sarapan yang aku bisa. Jadi kubuatkan kalian roti bakar."
Sontak manik lavender Neji langsung menatap Sasuke kesal. Sial kau, Uchiha. Lupakah dia Naruto tidak bisa masak? Harusnya dia yang masak! Pikir Neji sebal. Tunggu. Memang Sasuke bisa masak?
"Kenapa kau makan ramen?" tanya Neji melihat semangkuk ramen yang ada dihadapan Naruto. "Kami tidak di buatkan ramen?"
"Aku pikir Neji juga tidak suka ramen seperti si Teme." Jawab Naruto. "Sudah habiskan makanan kalian lalu berangkat kerja sana!"
Sasuke menghela nafas berat. "Hanya seorang Dobe yang bahkan memasak roti saja gosong begini." Hina Sasuke. "Kau benar-benar membakar rotinya."
Naruto mendelik kearah Sasuke. Memang betul sih ucapan Sasuke itu. Tapi menghinanya tidak perlu di hadapan orangnya juga kan. "Cerewet kalian! Makan saja!"
Neji dan Sasuke dengan—sangat—terpaksa memakan roti bakar buatan sang istri tercinta.
"Istrimu?" bisik Neji pada Sasuke.
Sasuke mengangkat bahu. "Hn. Kukira istrimu."
"Aku mendengar kalian! Makan dan pergi dari sini!"
.
.
Mikoto menatap menantu tercintanya yang sedang mencuci tomat di wastafel. Bibir pucat milik ibu dari Sasuke tak henti-hentinya tersenyum kala melihat menantunya yang tampak manis menggunakan apron berwarna baby blue tersebut.
Setelah tadi membuat makan siang untuk dirinya sendiri—Itachi dan Fugaku tidak makan siang dirumah, di karenakan mereka terlalu berkutat dengan urusan kantor mereka. Mikoto di kejutkan oleh Naruto yang menelfonnya meminta agar Ibu dari dua orang anak itu mengajarinya cara memasak.
Betapa senangnya Mikoto mendengar undangan dari Naruto untuk datang di kediaman anaknya dan Naruto—dan Neji juga—itu. Diantar oleh supir pribadi keluarga Uchiha, Mikoto sampai di kediaman menantunya.
"Kaasan, kita akan masak apa?" Mikoto tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari menantunya tercinta yang kini sedang memegang dua tomat di masing-masing tangannya.
"Sup tomat, Naru-chan."
"Hah? Sup tomat?" Naruto menganga. "Kenapa sup tomat?"
Mikoto menghampiri menantunya yang masih berdiri di depan wastafel. Tangan pucatnya mengambil buah bulat merah itu dari tangan Naruto. "Karena Sasu-chan suka sup tomat."
Naruto menatap manik onyx milik mertuanya tersebut, ternyata hanya Sasuke yang Kaasan pikirkan. Naruto menggigit bibir bawahnya, tapi betul juga, Sasuke kan anaknya. Tapi bagaimana Neji?
"Kaasan. Bagaimana dengan Neji?" tanya Naruto ragu, takut mertuanya ini tersinggung.
Mikoto mengusap pundak menantunya. "Tenang saja, Neji-chan juga pasti suka supnya." Naruto terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.
Mikoto tersenyum lebar kemudian menepuk telapak tangannya. "Kalau gitu ayo kita buat!" ucap Ibu dua orang anak itu dengan semangat. "Nah sekarang Naru-chan potong tomatnya ya."
Naruto dengan menurut memotong tomatnya dengan kikuk. Mikoto menatap takut-takut. "Hati-hati, ya, Naru-chan." Jika Naruto tergores sedikit saja Sasuke bisa ngamuk, Mikoto meringis.
.
.
Berbeda dengan Naruto yang sedang belajar memasak pada mertuanya, Sasuke dan Neji sibuk dengan urusan mencari nafkah. Entah bisa dikatakan sebagai mencari nafkah atau tidak, mereka memang sudah menekuni bisnis ini sebelum menikah dengan Naruto.
Sasuke sendiri sejak lulus dari S1 di bidang Hospitality Management dua tahun lalu, pria berusia dua puluh empat tahun tahun ini memutuskan untuk membuka Perusahaan Tour and Travel miliknya sendiri yang terbilang cukup maju saat ini.
Berbeda dengan , Sasuke, Neji melanjutkan Perusahaan milik Ayahnya yang berada di Jepang yang bergerak di bidang Economy and Buisness.
Baik Neji maupun Sasuke keduanya sama-sama sukses di usia muda.
Jika ingin di ceritakan hal yang telah lalu, Sasuke dan Neji merupakan rival di masa sekolah dulu. Sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas mereka benar-benar bersaing dalam hal prestasi.
Jika tidak Sasuke yang menjadi juara umum, pastilah Neji, seterusnya begitu. Bahkan ketika di Sekolah Menengah Atas, mereka sama-sama di calonkan sebagai President School. Namun ketidak tertarikan Sasuke dalam ber-organisasi yang melibatkannya harus bersosialisasi dengan banyak orang, maka ia putuskan ia menolak tawaran yang di ajukan Kepala Sekolah untuknya. Sehingga membuat Neji naik menjadi President School di High School mereka.
Masalah percintaan. Sama-sama tampan, menarik, pintar, memiliki tubuh proposional, dan bergelimang harta. Sasuke dan Neji memang memiliki banyak fans, tidak diragukan lagi untuk hal yang satu ini.
Neji yang tegas dan dewasa, juga memiliki sifat lembut di sisi lain bisa membuat orang jatuh cinta pada pribadi Neji. Tidak sedikit wanita yang berharap bisa jadi pendamping hidup Neji kelak.
Dalam hal ini Sasuke lebih unggul dari Neji. Sasuke dapat membius kaum Adam maupun Hawa dengan paras sempurnanya. Mata onyx tajam, dan surai raven yang kontras dengan kulit ablasternya.
Postur tubuh tegap dan dada yang bidang. Di iringi dengan sikapnya yang cenderung cool dan terlihat tertutup seperti karakter pria utama dalam sebuah Anime membuat banyak orang tergila-gila pada Uchiha Sasuke.
Namun baik Uchiha Sasuke maupun Hyuuga Neji sama-sama memiliki tipe pasangan yang sama, menyukai orang yang sama, Namikaze Naruto.
Neji secara terbuka menyatakan bahwa ia menyukai pemuda pirang yang kini menjadi istrinya. Berbalik dengan Sasuke yang lebih menunjukan ketertarikannya melalui tindakan.
Sayangnya Naruto itu kan orangnya bebal.
.
.
"Huatchi!" Naruto menggosok gosok hidungnya yang terasa gatal, pucuk hidungnya terlihat sedikit memerah.
"Kau baik-baik saja, Naru-chan?" Mikoto khawatir melihat menantunya yang tiba-tiba bersin itu.
Naruto tersenyum, lalu mengangguk. "Aku baik." Jawabnya. "Kaasan, sebetulnya ada yang ingin aku masak untuk sarapan besok."
"Hm? Apa itu, katakan saja pada Kaasan." Naruto menanggapi jawaban Mikoto dengan cengiran lebar.
"Pancake!" ujarnya riang. "Aku selalu ingin membuat ini, tapi Kaachan dulu melarangku memasak. Hingga sekarang aku hanya dapat membuat ramen." Naruto memberi jeda. "Ah, dan sup tomat yang Kaasan ajarkan."
Mikoto menaikan alisnya, "Pancake, ya?" Mikoto bergumam. "Tidak sulit, ini tidak akan serumit kita membuat sup tomat tadi." Mikoto tersenyum.
Naruto menatap Mikoto berbinar. "Aku benar-benar berterima kasih pada Kaasan." Naruto memeluk mertuanya itu sesaat. "Setidaknya Sasuke dan Neji bisa makan makanan layak setelah ini."
Mikoto tertawa, punggung tangan wanita yang akan menginjak kepala empat itu menutupi mulutnya. "Kenapa kau berkata seperti itu Naru-chan?"
"Tadi pagi aku membuat roti bakar gosong untuk mereka." Mikoto semakin terkikik. Naruto memanyunkan bibirnya. "Kaasan, berhenti tertawa."
Mikoto menahan tawanya, mencoba mengatur nafasnya. "Ehm, maaf Naru-chan." Wanita itu menepuk-nepuk pundak Naruto. "Apa Kushina tidak mengajarimu memasak Naruto?"
"Kaachan tidak mengijnkanku untuk memasak, katanya aku hanya akan mengacau." Curhatnya. "Maka dari itu aku minta tolong Mikoto-kaasan untuk membantuku."
Mikoto mengusap pipi Naruto. "Kalau begitu Kaasan akan mengajarimu memasak banyak makanan untuk Sasuke dan Neji."
Naruto tersenyum lebar. "Arigatou, Kaasan. Aku sayang Kaasan."
"Yosh, Naru-chan!" Mikoto mengepalkan tangannya ke atas. "Mari kita memasak."
.
.
Neji melangkah dengan gontai menuju pintu rumahnya. Rasanya tenaganya seperti terkuras habis, nyawanya seperti habis tersedot oleh Shinigami. Mata lavendernya melihat jam yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.
23:25
Hampir tengah malam Neji baru sampai di rumah indahnya ini. Neji menghela nafas berat. Ia membuka pintu rumahnya, melepas sepatunya.
Tidak di kunci? Pikir Neji Naruto dan Sasuke telah terlelap mengingat jam berapa saat ini. Ah, Sasuke pulang lebih cepat darinya, ia tahu, ia melihat mobil Sasuke terparkir manis di garasi rumah mereka. Sial, mungkin saja Uchiha itu kini sedang tidur di samping Naruto.
"Neji, kau baru pulang?"
Neji tersentak mendengar suara yang mengagetkannya. Matanya melebar melihat Naruto yang terbalut piyama tidur bewarna baby blue menyambutnya. "N—Naruto? Kenapa kau belum tidur?"
Naruto menggembungkan pipinya. "Tentu saja aku menunggu suamiku pulang." Naruto menghampiri Neji yang masih tak beranjak dalam posisinya. Pemuda pirang itu menarik tangan Neji sehinga membuat pemuda bermata lavender itu mengikuti langkahnya. Menuju dapur mereka.
"Kau duduk disini." Naruto mendudukkan Neji di kursi makan. "Dan makanlah. Aku akan menyiapkan air mandi untukmu."
Neji menahan tangan Naruto yang hendak meninggalkannya. "Kau sudah makan?" tanyanya yang di balas anggukan oleh Naruto. "Sasuke?"
"Sudah. Tadi setelah makan malam ia masuk ke ruang kerjanya dan belum keluar hingga sekarang." Neji mengangguk mendengar penjelasan Naruto, melepas pegangannya di pergelangan tangan sang istri.
"Makanlah yang banyak." Neji mengambil semangkuk sup makaroni yang tersedia di meja setelah Naruto tidak terlihat lagi di jarak pandangnya. Masih hangat, mungkin Naruto menghangatkannya.
Neji menghirup aroma yang menggugah selera itu, mengambil sendok dan menyuapkannya. Enak. Neji mengernyit. Naruto kah yang membuat ini? Tapi kan 'istri'nya itu tidak ahli memasak. Ia akan bertanya nanti pada Naruto.
Neji memakan supnya dengan lahap tampak seperti orang yang baru bertemu makanan setelah beberapa hari . "Ah, kenyangnya."
"Sudah selesai makannya?" Neji melongok ke arah Naruto yang berdiri di pintu dapur. "Cepat sekali." Pemuda manis bermanik biru itu menghampiri Neji, memegang pundaknya.
Neji tersenyum. "Yah, aku cukup lapar." Neji berdiri dari duduknya, menghadap Naruto. "Terimakasih makan malamnya." Dikecupnya pipi pasangan hidupnya itu, membuat pipi Naruto merona.
"Sudah." Naruto mencoba menjauhkan diri dari Neji, wajahnya merona malu. "Cepat mandi, aku akan bereskan ini setelah itu menyusul kalian di kamar."
Neji tersenyum mendengar kata kamar, itu artinya ia tidak harus tidur di ruang tamu atau kamar tamu. Di kecupnya pipi Naruto sekali lagi dengan cepat. "Aku mencintaimu." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Naruto untuk mandi.
Naruto mengusap pipinya yang terasa menghangat setelah di kecup Neji. Pemuda pirang itu tersenyum lalu membereskan sisa makan malam Neji.
.
.
Beberapa waktu tadi, Neji mandi dengan bersemangatnya ketika mengetahui bahwa malam ini dia akan tidur bersama istri tercintanya, Naruto. Bahkan Neji dua kali menggunakan sabun, di malam pertamanya—dalam artian tidur bersama—dengan Naruto, Neji bertekad membuat Naruto akan memilih tidur bersamanya dan melupakan si wajah tajam pantat ayam Uchiha Sasuke.
Senyumannya tidak lepas dari bibir pucatnya. Tetap tersenyum bahagia saat ia keluar kamar mandi kamarnya dengan Naruto—dan Uchiha Sasuke tentunya. Namun senyumnya memudar saat ia melihat sesosok mahluk yang sama sekali tidak ingin ia lihat duduk di kasur berukuran king size.
Senyumannya benar-benar hilang.
"Uchiha." Neji mendesis. "Apa yang kau lakukan disini?" Neji menatap kesal Sasuke yang duduk bersandar di ranjang membaca buku dengan kaca mata bacanya.
Sasuke memandang Neji sekilas lalu kembali membaca bukunya. "Apa aku tampak seperti orang yang sedang bungee jumping?" bukannya menjawab pertanyaan Neji, Sasuke malah seolah berbalik tanya pada Neji.
Uchiha ini. Neji menatap Sasuke sebal. Kenapa Uchiha ini mengganggu momen romantis yang akan aku lakukan dengan Naruto sih?
"Keluar dari sini." Neji menunjuk wajah Sasuke yang kini sedang menatapnya. "Kau akan mengganggu malamku dengan Naruto.
Sasuke menutup bukunya, melepas kaca mata bacanya dan menaruhnya di nakas. Pemuda raven itu menyeringai. "Sebaiknya," Sasuke menunjuk ke arah pintu kamar. "Kau yang keluar, Hyuuga. Naruto memintaku untuk tidur bersamanya." Sasuke membuat gerakan tangan mengusir.
Tidak suka dengan perlakuan rival cintanya, Neji menghampiri Sasuke dengan amarah yang memuncak. "Uchiha, beraninya kau—"
"Ah, kalian sudah siap tidur ternyata." Sepasang mata berbeda warna itu menatap seseorang yang memasuki kamar. Mengamati setiap langkah pemuda manis dengan balutan piyama baby blue itu dengan pandangan terpana.
"Kalian nampaknya sudah akrab." Naruto tersenyum senang. "Kalau begitu mari kita tidur."
Sasuke dan Neji tersadar dari pikiran mereka. Menatap Naruto dengan heran. "Kau akan tidur dengan siapa Naru?" tanya Neji.
Naruto mengernyit heran. "Apa maksudmu? Tentu saja dengan kalian!"
Kalian? Neji dan Sasuke saling berpandangan cengok kemudian saling melemparkan death glare andalan mereka.
Huh!
Lalu saling membuang muka.
Naruto yang tidak mengerti apa yang terjadi antara kedua suaminya itu menatap bingung. "Kalian kenapa? Tidak suka ya tidur bersamaku?"
Tidak ada jawaban.
Naruto menghela nafas. "Kalau kalian tidak mau aku tidur bersama kalian," Naruto menatap Neji dan Sasuke dengan pandangan sedih, Uke's power. "Aku akan tidur di kamar tamu saja."
Aku akan tidur di kamar tamu saja.
..di kamar tamu saja.
CTEK!
"TIDAK!" tersadar dari pikiran mereka, Neji dan Sasuke refleks berteriak berbarengan, melarang Naruto tidur di kamar tamu.
Naruto kembali terheran-heran. "Kalian kenapa sih?"
"Kau tidur disini, Dobe." Naruto mengangguk mendengar perkataan Sasuke. Naik ke ranjang yang tadinya hanya di tempati Sasuke. "Dan kau Hyuuga, pergi sana." Sasuke mengusir Neji.
Kalau dalam Anime, sekarang ini muncul empat sudut siku di dahi Neji. Kesal akan sikap Sasuke.
Neji menatap Neji yang masih berdiri, memang sedari tadi Neji hanyalah berdiri di pinggir kasur, lalu menatap Sasuke. "Kenapa Neji harus keluar?"
"Dia hanya menyempitkan ranjang kita saja, Dobe."
"Oi, Uchiha. Kau yang harusnya keluar." Neji membalas "Rambutmu itu membuat sempit ruangan." Ujarnya tidak nyambung sama sekali.
"Urusai! Rambut panjangmu membuat mataku sakit."
"Kau—" Neji berusaha mencari balasan tepat. "Kau dan rambut tajammu itu menyakitiku lahir dan batin."
Bukan hanya Sasuke yang cengok, Naruto juga ikutan cengok mendengar ucapan Neji.
"Ada yang salah?" tanya pemuda Hyuuga itu seakan tidak ada yang salah dalam ucapannya.
"Kau keluarlah, Hyuuga." Usir Sasuke. "Aku dan Naruto ingin tidur."
"Kau yang—"
"Cukup!" lerai Naruto. "Kalian tidak lihat jam hah? Ini jam satu lewat! Mau sampai kapan berdebat?" Naruto marah-marah lagi, tsundere.
"Neji naik ke kasur!" perintah Naruto layaknya seorang Ibu yang menyuruh anaknya tidur. Neji menurut.
Naruto tersenyum senang. "Ayo kita tidur sekarang."
Neji dan Sasuke lagi lagi berpandangan heran. Kasur king size ini di tempati tiga orang dewasa. Sasuke di samping kanan Naruto, Neji di samping kiri Naruto. "Adil kan?" Naruto menidurkan dirinya, menatap dua suaminya yang masih terduduk.
"Kenapa tidak mau tidur? Besok kalian kan masih harus bekerja." Dengan menurut Sasuke dan Neji menidurkan tubuh mereka, masih menatap Naruto. Naruto tersenyum lebar.
Pemuda pirang itu menghadap ke kanan, ke arah Sasuke. "Oyasumi, Sasuke." Naruto mengecup pipi Sasuke.
Naruto berbalik ke arah kirinya, Neji. "Oyasumi, Neji." Melakukan hal yang sama Naruto mengecup pipi Neji. Setelahnya ia kembali ke posisi awal, memejamkan mata dan tertidur.
Sasuke dan Neji menatap Naruto kaget. Kemudian pandangan mereka melembut dan tersenyum.
"Oyasumi, Naruto."
.
.
.
To be Continued
.
.
Haiaah, akhirnya bisa update juga yang ini ToT
Jangan tatap saya begitu Dx Saya tahu chap ini mengecewakan. Ya? Ya? Ya kan? DDX
Jujur aja saya juga bingung pas nulis chap ini. Ilhamnya ga dapet dapet :/
Dan lagi.. Ini tuh skip-skip gitu! DDX gomenasaaaaai *bow* di tambah lagi ini gariiiing Dx *peluk Sasuke*
Saya berusaha seadil mungkin pembagian jatah SasuNaru dan NejiNaru disini tapi kayaknya emang dasarnya saya cintanya cuma SasuNaru jadi ga adil Dx dan saya ini Sasuke fans *-*
Buat yang request nanti anaknya kembar, saya pertimbangkan dulu. Soalnya cerita ini sudah terkonsep dalam pikiran saya, tapi bisa saya utak atik kok
Dan lagi, yang request malam pertama lemon atau enceh (?) *blush* saya ga bisa kabulkan _ dan ini juga ga ada malam pertamaan :o maaf ya kalau kecewa
Saya juga ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada readers dan reviewers, terutama Neko Twins Kagamine ^^
Saya cukup kaget respon untuk fanfic ini ternyata bagus :')
Thanks to:
Kazekageashainuzukaasharoyani, Neko Twins Kagamine, , RisaSano, CA Mocchachino, miszshanty05, Ineedtohateyou, putrifibrianti96, sivanya anggarada, .562, Harpaairiry, funny bunny blaster, hanazawa kay, Typeacety95, The Servant of Lucifer, kirei, Misa, nejinaru lover, Blackk, pink, Estrella Es-teller, cherry, widi orihara, ukkychan, RaFa Llight S.N dan yang lainnya yang telah bersedia review :'D
Dan semua yang telah baca fanfic saya, saya berterimakasih banyak *bow*
Next chap, saya berusaha update secepat mungkin selang waktu dua minggu sekali kalau bisa :D
Maaf kalau banyak kesalahan kata (typos), mohon sarannya. Dan juga kalau mau request sesuatu silahkan bilang, saya pertimbangkan :3
Arigatou Gozaimasu *bow*
.
.
Review pleaseeee -/\-
