Kelopak mata di hiaskan bulu mata yang cukup lebat dan lentik itu terbuka, menampakan mata bulat ber-iriskan sapphire jernih yang membuat siapapun terpana menatap ke dalam mata itu.

Naruto mendudukkan dirinya di kasur. Matanya melihat kearah samping kiri dan kanannya. Sasuke dan Neji tidur dengan pulasnya, terdengar dengkuran halus dari bibir kedua pria tampan suami Naruto itu. Nyenyak sekali tidur mereka.

Naruto yang selalu tidur di tengah-tengah Neji dan Sasuke sejak malam pertama mereka melirik ke arah jam yang tertaruh indah di nakas.

02:15 a.m

Pantas saja. Naruto menghela nafas. Ya pantas saja kedua suaminya tertidur pulas. Ini memang saatnya orang-orang terbuai dalam dunia mimpi.

Naruto terdiam. Hanya terdengar suara nafas Sasuke dan Neji yang beraturan dan juga suara Air Conditioner yang menemani heningnya. Ia menatap Sasuke dan Neji bergantian. Sebetulnya Naruto tidak tega ingin membangunkan mereka jam segini. Namun, apa boleh buat, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.

Naruto menghela nafas, menepuk-nepuk pelan pipi Sasuke. "Sasuke, bangun." Sasuke hanya mengerang tak nyaman, namun tidak membuka matanya sama sekali. "Teme!"

Merasa tidak mendapat respon dari Sasuke, Naruto melirik kearah Neji yang masih tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Melakukan hal yang sama, Naruto menepuk pipi Neji pelan. "Neji, bangun!"

Nihil. Suami-suaminya yang ganteng ini kalau tidur macam kebo.

Merasa usahanya membangunkan dengan cara halus sia-sia, Naruto memasang ancang-ancang untuk menabok kedua suaminya. "Kalian bangun!" Naruto menaikkan nada suaranya, masing-masing tangannya memukul kepala Neji dan Sasuke bersamaan.

"Ugh." Naruto yang tadinya tersenyum lebar karena merasa berhasil membangunkan kedua suami tercintanya ini malah mengerutkan kening. Mereka hanya mengerang kesakitan sambil memegang kepala, lalu membelakangi Naruto tanpa membuka mata sedikitpun.

Dasar Hyuuga dan Uchiha sok keren, padahal kebo! Pikir Naruto sebal. Tidak tahu kah mereka kalau Naruto sudah tidak tahan?

Naruto berdiri di atas kasur, bibir kissable miliknya menyunggingkan seringaian keji menatap suaminya licik. Lihat saja kalian!

1, 2, 3!

BRUGHH!

BRUGHH!

"ARGH!"

"GAH! SAKIT!"

Naruto menyeringai puas melihat kedua suaminya yang telah terjatuh dari ranjang mereka karena tendangan mautnya. Naruto yang tanpa berke-pri-suamian menendang bokong Neji dan Sasuke hingga kedua suaminya langsung terjun bebas alias nyungsep dari kasur.

"Ohayou, Anata." Naruto berkata dengan riangnya. Si blonde yang di nikahi oleh dua pemuda tampan harapan gadis-gadis perawan ini nyengir dengan lebarnya dengan posisi masih berdiri di atas kasur.

Sasuke serta Neji sontak menatap nanar Naruto yang memasang wajah watados andalannya. Tangan mereka masing-masing mengelus bokong yang terasa sakit karena di tendang sang istri.

Untung saja Sasuke dan Neji itu cinta setengah mati, sepenuh hati, dan jiwa raga pada Naruto. Makanya mereka tidak marah dan—berusaha—ikhlas walaupun sang istri melakukan tindak KDRT begini pada mereka.

Sama-sama menghela nafas berat, Sasuke dan Neji berdiri, kemudian menaiki ranjang kingsize yang mereka bertiga tiduri, dan duduk di sisi ranjang. Naruto lantas ikut duduk di tengah Sasuke dan Neji.

"Ada apa Naruto?" Neji akhirnya bertanya pada Naruto melihat Sasuke yang nampak enggan bertanya alasan mengapa Naruto mengadakan acara menendang-bokong-suami pada waktu jam istirahat mereka.

"Sasuke," Naruto melirik Sasuke takut-takut. Mata birunya juga menatap Neji takut-takut. "Neji."

Sasuke dan Neji sama-sama memandang Naruto heran. Sepertinya blonde tercinta mereka ingin mengatakan sesuatu namun takut. Akan tetapi mereka tetap diam menunggu sang blonde bicara.

"Um, aku," Naruto meremas ujung piyama berwarna gading yang ia kenakan. "Kalian jangan marah ya?" Naruto menatap Sasuke dan Neji dengan pandangan memohon. Kedua pemuda tampan yang di tatap begitu oleh Naruto hanya mengangguk sambil menelan ludah.

"Katakan saja, sayang." Neji berusaha menenangkan Naruto yang masih terlihat gugup mengatakannya. Sasuke mendesis mendengar ucapan rivalnya. Si rambut panjang sial itu.

"Aku," Naruto memberi jeda sejenak. "Sudah tidak tahan. Aku tidak bisa menahan perasaan ini."

Hah?

Sasuke dan Neji cengok tidak paham akan perkataan sang istri. Pikiran-pikiran ngaco bin absurd mendadak berseliweran di otak jenius mereka. Membuat hidung kedua pemuda tampan ini kembang kempis di tambah menelan ludah mereka sendiri.

Naruto yang bingung akan kedua suaminya yang tak bergeming sedikitpun, menjentikan jarinya. Sukses membuat kedua suaminya tersadar akan pikiran mereka. "Maksudmu, Dobe?"

Naruto menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Sasuke. Pokoknya ia harus bilang! Keinginannya ini harus di penuhi atau perasaan aneh yang membuatnya penasaran dan tidak tahan ini tidak akan hilang.

Naruto menatap Sasuke dan Neji mantap, tidak ada keraguan lagi. Membuat Sasuke dan Neji jadi gugup sendiri. "Aku punya permintaan."

Sasuke dan Neji makin doki-doki. "K—katakan saja."

"Aku—" Sasuke dan Neji menahan nafas menunggu perkataan lanjutan dari Naruto tentang apa yang pemuda pirang itu inginkan. Pemikiran absurd yang menjurus kemana-mana tentang ini-itu kembali berseliweran di otak jenius mereka yang sekarang menjadi koslet.

Kau mau aku? Iya kan? Batin Sasuke dan Neji dengan pede-nya.

"Aku—" Ya! Ya! Kau menginginkanku! Neji dan Sasuke makin tidak sabar dengan Naruto yang tidak melanjutkan kata-katanya. Ayolah katakan!

"Aku—" Naruto menghela nafas. Oke, Naruto. Kau bisa! "Ingin melihat Minato-touchan dan Fugaku-tousan memasak."

Huh?

Serasa harapan mereka tertiup angin, Neji dan Sasuke melemas dengan efek garis-garis hitam di atas kepala mereka—pundung. Permintaan Naruto itu, tidak sesuai harapan mereka.

Tapi tunggu! Naruto minta apa tadi?

Sasuke dan Neji berpandangan heran sambil menganga lebar.

"HAH?!"

.

.

.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pairing:

SASUNARUNEJI! XDD

SasuNaru & NejiNaru (Maaf kecewa, but there's no SasuNeji ToT)

WARNING!

Boys Love a.k.a Shonen-Ai! M-PREG, AU, OOC, bahasa yang—agak kurang—baku, typo(s), Gajeness Humor garing (Gomen ToT) DDX

So if you don't like, Please Don't Read.

.

.

.

=Yukirin =

.

.

.

.

-oOo-

The Perfect Marriage

-oOo-

.

.

.

Sasuke dan Neji saling melemparkan pandangan kau-saja-menelfon sedari tadi. Permintaan Naruto yang absurdnya melebihi pikiran liar Sasuke dan Neji.

Bagaimana tidak absurd? Si pirang istri mereka tercinta itu ingin melihat Fugaku dan Minato memasak untuknya! Apakah dia tidak sadar kalau jam menunjukkan waktu dini hari di saat para manusia sedang terlelap buaian mimpi masing-masing?

"Tousan dan Minato-touchan mungkin saja bisa ngamuk jika kita menelfon jam segini dan tidak menggubris kita." Neji mengangguk setuju mendengar ucapan Sasuke. Siapa yang gak akan ngamuk coba ketika orang itu di bangunkan, dan suruh datang dini hari begini cuma buat melihat orang itu masak.

Orang gila mana juga yang bisa-bisanya membangunkan orang hanya karena keinginan absurdnya yang ingin melihat orang itu memasak?

Oh tentu saja si blonde manis bermatakan permata sapphire incaran pemuda menyimpang yang kini menyandang status sebagai istri dari Hyuuga Neji dan Uchiha Sasuke, anak bungsu Namikaze Minato, si pirang enerjik yang sedang hamil tiga bulan—Naruto.

Kedua pemuda tampan itu menghela nafas berat. Menatap nanar telfon yang masih belum mereka sentuh untuk menelfon kediaman utama Uchiha maupun Namikaze. Memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk membangunkan mereka.

"Ah!" Sasuke tersentak dari pikirannya ketika mendengar pekikan Neji. Pemuda bersurai cokelat itu seakan mendapatkan ilham dari pertapaannya itu menyeringai senang. "Aku ada ide bagus!"

Sasuke menatap Neji bertanya. Bukannya menjawabnya, Neji malah menyeringai puas. "Ini ide bagus dari seorang jenius Hyuuga." Sasuke rasanya mau muntah mendengar ucapan narsis Neji yang gak ketolongan itu.

Neji mengambil gagang telfon, menekan beberapa angka—menghubungi kediaman Namikaze.

Beberapa menit tidak ada jawaban dari seberang. Neji terus menggumamkan kata 'angkat' dan terus berharap agar yang di hubungi di seberang mengangkat telfon darinya.

"Ya, hallo?"

Neji hampir memekik kegirangan. "Tousan, ini aku Neji."

"Ya, ada apa menelfon pagi buta begini?"

Neji meneguk ludahnya. "Maafkan aku Tousan, tapi aku ingin membicarakan hal penting." Neji menghela nafas. "Ada sesuatu yang terjadi pada Naruto. Maaf—" aku berbohong, sesal Neji dalam hati.

"APA! ADA APA DENGAN NARUTO?"

"Tousan tenanglah. Maafkan aku, tapi Naruto meminta Tousan untuk datang melihatnya."

"BAIKLAH AKU DAN KUSHINA AKAN SEGERA KESANA! KAU JAGA NARUTO!"

Tut.. Tut..

Neji menaruh gagang telfon kembali, ia menyeringai puas.

"Kau gila!" Sasuke yang menguping sedari tadi akhirnya memberi komentar. "Bisa mati kita di tangan Ayah mertua!"

Neji mendengus. "Itu ide brilian, Uchiha! Ikuti saja permainannya atau Naruto ngamuk karena tidak mendapat apa yang ia inginkan." Balas Neji. "Sekarang telfon ke rumah keluargamu."

Sasuke menghela nafas kesekian kalinya. Ya, daripada Naruto pujaan hati tercintanya ngamuk, Sasuke dengan berat hati menurut saja. Pemuda raven itu mengambil gagang telfon, menekan beberapa angka.

"Halo?"

Tidak butuh lama, Sasuke langsung dapat jawaban di seberang. "Aniki? Kau belum tidur?"

"Hn. Aku baru saja ingin tidur. Kenapa? Kau merindukanku pasti, otouto."

Sasuke dalam hati berkomat-kamit amit-amit sambil ngetok-ngetok meja mendengar pernyataan Itachi yang seenak keriputnya. "Bukan. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Tousan, tolong kau sampaikan. Ini tentang Naruto."

"Ada apa?"

"Ada sesuatu yang terjadi pada Naruto." Sasuke menghela nafas. "Dan ia bilang, ia ingin melihat Tousan."

"Apa?" Sasuke mendengar suara kakaknya di seberang sana seperti orang yang terkaget. "Ada apa dengan Naruto?"

"Tolong, sampaikan pada Tousan. Naruto ingin melihat Tousan sekarang juga."

"Baiklah. Jaga baik-baik adik iparku yang manis itu, otouto."

Tut.. Tut..

Sasuke menaruh kembali gagang telfon ke tempatnya semula. "Ini salahmu jika mereka marah setelah ini."

Neji menyeringai. "Tidak akan."

.

.

Sasuke dan Neji mengintip dari jendela rumah mereka ketika mendengar suara klakson mobil di depan rumah mereka. Mercedes-Benz C220 berwarna hitam metalik dan satunya lagi Mercedes-Benz C-Clas dengan warna silver. Jelas sekali kedua pria tampan harapan gadis-gadis ini tahu mobil siapa yang kini terparkir indah di halaman mereka.

"Aku tidak bisa membayangkan apa yang setelah ini terjadi padaku." Neji menghela nafas berat sambil berucap. Sasuke melihat kearah rekan seperjuangannya ini, kemudian kembali mengintip di balik jendela.

"Ini semua demi Naruto. Pasti mereka mengerti. Semoga." Sasuke berusaha menenangkan dirinya sendiri dan Neji dengan pemikiran positifnya.

Dua pasang mata berbeda warna itu semakin menatap was-was ketika melihat orang-orang yang keluar dari dua mobil yang berbeda. C—chotto!

"KENAPA MEREKA DATANG SEKELUARGA?" pekik Sasuke dan Neji histeris. Mereka saling melemparkan pandangan horor. Yang mereka inginkan hanya Fugaku dan Minato yang datang kesini. Tapi kenapa sekeluarga malah datang? Memang ini reunian!

Neji menelan ludah takut. "Pe—perasaanku sungguh tidak enak, Uchiha."

Sasuke menghela nafas berat melihat keluarganya dan keluarga Naruto berlari mendekati pintu rumah. Disana ada sepasang suami-istri dari keluarga Namikaze. Dan lagi kenapa pula Itachi dan Deidara itu ikut? Yang jadi masalah itu si pirang sulung Namikaze. Bisa habis Sasuke dan Neji di hajar habis-habisan dengan tanah liat kalau kakak ipar mereka tahu mengapa Sasuke dan Neji meminta mereka kesini.

Tuhan, apapun yang terjadi, kami pasrah pada-Mu. Ini demi Naruto.

Sementara kita intip keadaan di luar.

"Lho? Fugaku, Mikoto, Itachi?" Minato menunjuk satu persatu besannya. "Kalian mau apa kemari pagi buta?"

Fugaku menaikkan sebelah alisnya. "Kau sendiri mau apa kemari?"

"Tentu saja aku ingin melihat anakku—" Minato diam sesaat. Sepertinya ia tersadar tujuannya datang kemari. "NARUTO! ANAKKU!"

Semua yang ada disana menghela nafas melihat kelakuan kepala keluarga Namikaze ini yang sekarang histeris berteriak nama anak bungsunya sambil menggedor pintu dengan brutal.

"NARUTO! KAU BAIK-BAIK SAJA, NAK?" Minato menggedor pintu semakin brutal. "NEJI! SASUKE! BUKA PINTUNYA, AKU INGIN MELIHAT ANAKKU!"

"Touchan." Deidara memegang pundak Ayahnya. "Jangan berteriak begitu. Kau hanya membuat orang kompleks sini terbangun."

Sang Ayah menghentikan aksinya, menatap Deidara sedih. "Naruto di dalam sana sedang kesusahan dan membutuhkan Touchan." Yang lainnya hanya bisa sweatdrop melihat tingkah Minato. Mulai lagi deh lebaynya.

"Kau tinggal menekan bel, tidak perlu merusak pintu begitu!" Kushina memukul kepala Minato. Sebal melihat tingkah suaminya yang terlalu berlebihan.

Melihat keluarga Namikaze yang malah jadi sibuk sendiri dan membuat keluarga Uchiha Fugaku ini menatap aneh kearah keluarga sang besan, akhirnya Mikoto berbisik pada sang suami. "Fugaku, sebaiknya kau pencet belnya."

"Hn." Fugaku menuruti sang istri. Mengabaikan Minato dan keluarga yang makin ngaco adegannya, Fugaku menekan bel.

"Hei, Fugaku. Aku yang harusnya menekan bel!"

"Terlalu lama bila menunggumu."

Kembali ke dalam.

Sasuke dan Neji sebenarnya sedari tadi mengintip apa yang di lakukan keluarga Uchiha dan Namikaze diluar rumah. Namun, mereka enggan membuka pintu apalagi melihat kebrutalan Minato menggedor pintu. Pintu saja bisa di pukuli, masa mereka tidak? Pikir Neji dan Sasuke ngaco.

Tapi sekarang, melihat Minato yang mencak-mencak gara-gara Fugaku yang menekan bel rumah, merka merasa harus membukakan pintu—karena merekalah yang menyebabkan kekacauan di pagi buta.

"Kau saja yang bukakan pintu." Neji menyikut Sasuke.

Sasuke yang tidak terima di perlakukan begitu, menjambak rambut Neji. "Kau yang buka!"

Baru Neji hendak protes kembali, namun ia urungkan niatnya melihat aura gelap dari Sasuke dan matanya yang menatap tajam mengancam. Neji kalah. Dengan—sangat—berat hati akhirnya Neji membukakan pintunya, membuat orang-orang yang ada di luar menoleh kearahnya.

"A—ah, kalian sudah datang." Neji tersenyum di paksakan. "Silahkan masuk." Neji memiringkan tubuhnya, mempersilahkan yang lain masuk ke dalam kediamannya.

"Jadi apa yang terjadi pada Naruto sehingga kami disuruh datang kemari pagi buta begini?" tanya Fugaku ketika mereka semua telah sampai ke ruang tamu kediaman Sasuke-Naruto-Neji. Neji meneguk ludahnya bingung bagaimana menjawabnya.

"Biar aku panggilkan Naruto." Neji menghela nafas lega ketika Sasuke yang berbicara. Pintar juga Uchiha itu. Jika Naruto kesini, biarlah Naruto yang menjelaskan pada semuanya jadi mereka berdua tidak perlu di hajar. Mereka tidak mungkin menghajar si pirang manis kecintaan semua orang kan?

Selang beberapa saat, Sasuke kembali dengan Naruto disampingnya yang nampak melompat-lompat kecil menuruni tangga kegirangan. Membuat Keluarga Uchiha dan Namikaze bingung karena Naruto tampak sehat-sehat aja.

"Touchan, Kaachan." Naruto langsung memeluk kedua orang tuanya dengan riang gembira. Membuat Minato dan Kushina makin heran. "Anichan." Naruto berbalik memeluk kakaknya yang sama herannya dengan sang Ayah dan Ibu.

Naruto melepaskan pelukannya dan menatap orang tua Sasuke dan Itachi. "Tousan, Kaasan." Kini Naruto berbalik memeluk mertuanya sebentar lalu melepasnya.

"Aku senang melihat kalian disini." Ujar Naruto dengan nada bahagianya, Naruto menatap Minato dan Fugaku berbinar-binar. Yang di tatap cengok, dan Neji serta Sasuke berdoa dalam hati semoga mereka baik-baik saja.

"Naruto tampak baik." Kata Fugaku curiga. "Lalu ada apa kami di panggil kemari?" Baik Sasuke dan Neji menelan ludah mereka sendiri—takut. Suara Fugaku begitu dingin dan mengancam keselamatan mereka.

Sasuke dan Neji melangkahkan kakinya, berlindung di balik tubuh Naruto. Dengan begini, tidak ada yang bisa memukuli mereka. Orang-orang itu tidak mungkin memukuli si pirang manis anak bungsu Namikaze Minato. Sasuke dan Neji terkikik dalam hati.

"A—ano—"

"Aku yang menyuruh Sasuke dan Neji untuk memanggil kalian." Naruto memotong. Di belakangnya, Neji dan Sasuke bernafas lega sang istri berbicara. "Maaf mengganggu kalian, tapi aku membutuhkan Touchan dan Fugaku-tousan."

Minato menghampiri anak bungsunya, memeluk sang anak. "Katakan pada Touchan apa yang Naru butuhkan."

Dasar mertua mesum mencari kesempatan dalam kesempitan. Batin Sasuke dan Neji kesal. Mereka memandang Minato cemburu, lalu menyingkirkan tangan sang mertua dari pinggang Naruto.

"Aku ingin minta sesuatu pada Touchan dan Fugaku-tousan. Bolehkah?" tanya Naruto. Mata bulat beriris sapphire itu membulat menatap penuh harap, bibir bawahnya yang di kulum, membuat siapapun tak dapat menolak. Lagi-lagi, Uke's power.

Punya pahala apa coba Minato dan Kushina bisa di karuniai anak manis macam Naruto.

"TENTU SAJA NARU-CHAN! KYAAAAA!" Malah Kushina dan Mikoto yang menjerit sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat Naruto yang sedang melancarkan aksinya.

Naruto tertawa senang menyadari bujuk-rayunya berhasil. "Kalau begitu aku ingin melihat Tousan dan Touchan memasak."

Hening.

Kalau ada di dalam komik mendadak angin berhembus dan burung gagak terbang di atas kepala mereka.

"Huh?"

Naruto cemberut, tangannya mengepal kesal merasa tidak di perhatikan. "Pokoknya aku mau Touchan dan Tousan memasak! Harus sekarang!"

Neji dan Sasuke berpandangan dan saling melempar senyum paksa. Mulai deh istri mereka egoisnya keluar.

"Aneh kan? Makanya jangan marah pada kami kalau cara kami memanggil kalian aneh." Neji seakan membela diri. "Permintaan Naru juga aneh."

"Naruto tadi membangunkan kami. Ia bilang ingin melihat Tousan dan Minato-touchan memasak. Jadi terpaksa kami memanggil kalian dengan cara itu." Jelas Sasuke. "Maaf. Kami tidak bisa menolak permintaan Naruto."

Minato kedip-kedip tidak paham. Fugaku masih berwajah datar. Itachi dan Deidara sibuk memakan kue kering yang tersedia di meja ruang tamu. Mikoto dan Kushina berpandangan seolah satu pemikiran. "Mungkinkah Naru-chan sedang ngidam?"

"HEH?!" Pekik Minato, Neji dan Sasuke. N—Naruto ngidam?

"Iya. Naru-chan apa yang kau rasakan?" tanya Mikoto. "Sesuatu mendorongmu untuk melihat Fugaku dan Minato memasak?"

Naruto berpikir sejenak. "Entahlah. Tiba-tiba saja aku terbangun, dan entah mengapa aku sangat ingin melihat Touchan dan Tousan memasak. Aku merasa aku harus melihat mereka memasak."

Kushina tertawa, menepuk punggung anak bungsunya. "Ah, sou ka. Anak Kaachan ngidam ternyata." Lalu memeluk anaknya dengan gemas.

"T—tapi kenapa ngidamnya harus jam segini?" tanya Minato memelas. Kenapa harus mengganggu kencannya dengan kasur?

Kushina menjitak suaminya. "Memang kau pikir ngidam ada jadwalnya!" Minato meringis kesakitan.

"Aku tidak bisa memasak." Ujar Fugaku. Membuat yang lain kembali terdiam. Naruto yang tadinya senang berpikir karena keinginannya melihat sang Ayah dan Ayah mertua memasak rusak terganti dengan rasa kecewa.

Itachi menghela nafas melihat kecanggungan yang tercipta akibat Ayahnya. "Tousan tahu? Jika ada orang ngidam dan keinginannya tidak terpenuhi nanti anaknya selamanya ngeces." Akhirnya Itachi kebagian dialog.

Sasuke yang mendengar ucapan Itachi hatinya seperi tertusuk panah susano'o. Anaknya ngeces? Ileran? Air liurnya kemana-mana hingga besar nanti? Apa jadinya! Ayah ganteng, Ibu manis, anak ngeces? Sasuke menggeleng ngeri.

Bukan hanya Sasuke, Fugaku juga shock. Masa iya nanti cucu pertama harapannya ileran kemana-mana? Mana ada dalam sejarahnya Uchiha ngiler? Fugaku mengerang dalam hati.

"Turuti saja, Touchan, Fugaku-san." Desak Deidara. Si pirang lucu ini juga ingi melihat bagaimana jadinya jika orang yang tampangnya flat macam Fugaku masak.

Dengan—amat—berat hati, Fugaku mengangguk. "Baiklah, aku akan masak." Mikoto dan Sasuke melongok. Masalahnya kepala keluarga Uchiha itu bukanlah orang yang mau menuruti permintaan orang dengan mudah, apalagi menyangkut hal yang tidak disukainya.

Mungkinkah ini perasaan seorang kakek pada cucunya? The power of cucu.

Naruto sendiri jingkrak-jingkrak kegirangan. Keinginannya melihat sang Ayah dan Ayah mertua masak tercapai juga. "Kalau gitu ayo sekarang masak!"

.

.

Fugaku benar-benar menyesal karena telah mengiyakan permintaan dari sang menantu. Kalau hanya masak sih tidak masalah. Tapi apa iya dia harus memakai apron dan di tatap seperti itu? Mendengar istrinya dan istri Minato yang berteriak-teriak bagai fujoshi yang di beri fanservice secara live. Ini yang paling mengganggunya.

Lagian apa Minato tidak sakit kuping apa. Kok diam saja dan memasak dengan tenangnya?

"Kyaaa, Mikoto! Suamimu lucu sekali ketika memakai apron!"

"Tidak, Kushina. Suamimu yang sangat manis ketika memakai apron. Kyaaaa, uke sekali suamimu!"

"Haha, kau benar, Miko-chan. Minato itu uke."

Nah, kali ini dahi Minato berkedut, kupingnya memanas. Istri macam apa kau Kushina mengatai suaminya sendiri uke! Minato mencak-mencak dalam hati sambil memotong daun bawang dengan ganas, sehingga menciptakan suara pisau yang beradu dengan talenan.

"Bagaimana cara memotong tahu, Mianto?" Fugaku sedari tadi memperhatikan tahu di gnggamannya. Selama hidupnya, Fugaku belum pernah memasak, jadi wajar ia bertanya.

Minato mengerang. "Kau hanya memperlambat kerjaku! Tinggal potong dan beres." Minato mencak-mencak sambil menambahkan bahan ini dan itu ke dalam sup miso yang di buatnya.

Sasuke dan Neji melongok melihat Fugaku dan Minato yang berkutat dengan urusan dapur sambil beradu mulut. Terlihat seperti pasangan pengantin baru. Mikoto dan Kushina berpelukan senang sambil berteriak kegirangan. Itachi dan Deidara santai-satai saja dan—tetap—membajak makanan dari kulkas rumah adik mereka.

Dan Naruto, cemberut kesal karena melihat sang Ayah dan Ayah mertua lama sekali masaknya. "Touchan lama!" keluh Naruto.

"Sabar Naru-chan." Balas Minato. Sedih juga kepala keluarga Namikaze itu melihat Naruto yang lama menunggu. "Sebentar lagi, ya?"

"Touchan jangan lupa tambahkan banyak bubuk cabai. Pokoknya harus pedas." Naruto berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya ke rak dapur mengambil botol yang berisikan bubuk cabai.

Pemuda pirang itu menghampiri sang ayah yang sedang mengaduk sup miso buatannya dan Fugaku. Dengan wajah polosnya dan menghiraukan tatapan orang lain disana, Naruto—dengan sengaja—menumpahkan setengah isi bubuk cabai ke dalam sup miso.

"E—EH?!" Pekik semua orang disana. Minato dengan segera mnahan tangan si bungsu Namikaze agar Naruto tidak memasukan lebih banyak bubuk cabai ke dalam sup.

Naruto mengernyit heran. Sang Ayah melotot horor. "Naru-chan, jangan masukan terlalu banyak bubuk cabai. Tidak baik untuk babymu!"

"Lho, kata siapa aku akan memakannya?" Naruto bertanya heran, yang lain ikut menatapnya heran. "Kalian yang akan makan semua ini."

"UHUK!" Itachi dan Deidara tersedak jeruk yang baru saja mereka masukan ke mulut. Sasuke dan Neji yang sedari tadi berkhayal akan di suapi oleh istri tercinta hilang angan-angannya. Mikoto dan Kushina yang tadinya berbinar-binar malah mematung.

Minato menjatuhkan centong yang di pegangnya. Fugaku, sang kepala keluarga Uchiha yang terkenal dengan tampangnya yang sebelas-duabelas sama teflon sekarang berekspresi berlibihan—terbelalak sambil menganga.

"HAH?!"

03:15 a.m

Seluruh keluarga Uchiha dan Namikaze beserta Neji harus rela memakan sup miso—super—pedas di waktu pagi buta, dan juga harus rela bahwa pagi mereka akan di habiskan di kamar mandi.

Yang lain menangis dalam hati sambil memakan sup miso buatan Minato dan Fugaku—dan juga jangan lupa campur tangan Naruto dalam menambahkan bubuk cabai ke dalam sup. Sementara Naruto tersenyum senang keinginannya tercapai, dan juga melihat wajah orang-orang yang memakan sup itu membuatnya senang—sadis.

Ini semua demi Naruto dan bayinya.

Semua—kecuali Naruto—menatap Sasuke dan Neji iba. "Yang sabar ya, kalian berdua."

.

.

Naruto Ngidam Part 1 End

.

.

To be Continued

.

.

.

.

Muehehehehe *ketawa nista*

Kalian minta Naru-chu ngidam? Saya kasih nih. Kurang baik apa coba saya? *chidoried*

Ini baru permulaan aja ngidamnya si Naru. Tadinya mau langsung di buat satu chap cuma kepanjangan dan ga asik nanti *alesan*

Pokoknya pada saat Naruto ngidam semua akan bernista ria kecuali saya :v

Dan saya dekralasikan disini gak ada SasuNeji. Sumpah walaupun Sasuke itu super seme, ganteng dan aura ke-seme-annya ga ketolongan, saya cuma mau Sasuke sama NaruNaru aja ToT

Disini pairnya SasuNaru dan NejiNaru. Dan mungkin akan Neji pada akhirnya bisa aja pisah sama Naruto karena cinta saya buat SasuNaru aja *nah loh* bisa aja akhirnya NejiGaa juga. Tapi please, jangan minta SasuNeji apalagi NejiSasu ToT Sasuke bagi saya itu SEME. Si Neji juga -_-

Special thanks to:

Kawaii Aozora, uzumakinamikazehaki, Hairpaairiry, widi orihara, Ineedtohateyou, miszshanty05, Neko Twins Kagamine, Uzumaki Prince Dobe-Nii, putrifibrianti96, Haruko Akemi, sivanya anggarada, RisaSano, hanazawa kay, Arum Junnie, Elis kuchiki, Typeacety95, Himawari Wia, kazekageashainuzukaasharoyani, , Zara Zahra, dokbealamo, , pink, Setsuna, nejinaru lover, Kuumi, Pink, Milanisti, Black Pearl, xxx, Guest(1), kawaii, Kami, sierrafujoshiakut, Hello, Mountoya sss, Guest(2), Red Thunder, Beautiful, Royale, Kurin, Paman gober, Tango,Mouty, zaladevita, Neurubi, Winny, Crepes, Purple yam, Mineral, Trade, Sakura, Mrs uchiha, Mrs noona, Rabbit, Bobo, Mutifa, himekaruLI, Dewi15, Han.

Buat para Readers dan yang sudah mau follow dan fav story ini dan saya :)

Kaget saya responnya sebaik ini dan sedih juga banyak yang minta SasuNeji ToT hati saya semacam di amaterasu TToTT

.

.

Another Story: Special Neji's Confession

Namaku Hyuuga Neji, namun semua orang biasa memanggilku Neji. Walaupun usiaku masih tergolong muda, namun kini aku telah menyandang status sebagai suami dari seorang Namikaze Naruto.

Namun status sebagai suami dari Namikaze Naruto harus rela aku bagi dengan pemuda bermuka datar dan mulut tajam—Uchiha Sasuke.

Dia dengan seenaknya menghamili Naruto sehingga ia memiliki alasan untuk menikah dengan Naruto. Kuso!

Aku dan Sasuke merupakan rival dari kecil. Aku sungguh tidak menyukai Uchiha Sasuke, bukan artinya aku membenci si Uchiha itu. Hanya saja sikapnya itu mengesalkan. Ditambah lagi kini kita bersaing mendapat perhatian dari istri kami, Naruto.

Namun ada yang paling aku tidak suka dari semuanya. Karena fanfic ini, banyak orang yang meminta aku di pasangkan dengan si pantat ayam bermuka teflon itu. Hatiku sungguh tertohok melihat mereka meminta SasuNeji. Aku hanya mencintai Naruto. Semua ini gara-gara Author fic ini!

Sampai kapanpun di fanfic ini aku tidak sudi di pasangkan dengan Uchiha—brengsek—Sasuke. Apalagi untuk menjadi uke. Setidaknya Author menilaiku sebagai seme, terimakasih Tuhan -/\-

Kami-sama, tolonglah aku melewati fanfic ini dengan kesabaran sampai ini berakhir. Semoga sang author tidak membuat aku ikut menjadi istri—hoeekh—dari Uchiha Sasuke. Amin -/\-

End.

.

.

Review pleaseee~ *bow*