Ada yang pernah mendengar jika cinta bisa mengalahkan segalanya?
Dulu Neji berpikir bahwa yang mempercayai kata-kata itu adalah orang yang bodoh. Kali ini, Neji menarik kata-katanya dulu, dia mempercayai kata-kata ini. Hyuuga Neji, tampan, jenius, Direktur sebuah perusahaan, bergelimang harta, tubuh ideal, dan masih banyak hal-hal positif yang melekat dalam dirinya. Idaman gadis-gadis cantik dengan tubuh seksi nan bohai yang menjadi modal daya tarik mereka untuk mendekati kaum adam.
Namun sayangnya, para gadis harus gigit jari dan mundur dengan teratur karena sang pujaan hati telah memilih pasangan hidupnya. Seorang pemuda pirang berisik dengan mata sapphire indahnya yang merupakan tersangka utama karena telah menyesatkan orientasi seksual para pria tampan ber-title-kan seme. Siapa lagi jika bukan uke super kita yang satu ini, Namikaze Naruto.
Oh, betapa Neji mencintai si pirang manis yang sedang hamil tiga bulan itu.
Sialnya, Neji tidak bisa menolak apapun yang si pirang yang sudah menjadi istrinya ini pinta.
Neji sadar—sangat malahan—dengan penuh kewarasan, Neji tahu jika dirinya termasuk pria—seme—tampan nan macho. Jika tidak, bagaimana mungkin gadis-gadis cantik dengan hormon tinggi menjerit-jerit cinta padanya?
Terakhir kali ia bercermin sehabis mandi kemarin malam, Neji masih melihat pantulan tubuhnya di cermin dengan dada bidang, dan otot bisep yang terbentuk sempurna—Neji juga sempat berpose a la binaragawan di depan cermin. Oh, dan jangan lupakan juga akan perutnya yang berbentuk kotak itu, sixpack. Sempurna kan?
Namun semuanya berubah saat negara api menyerang—husyah—saat istrinya tercinta, Hyuuga—yang ia klaim sendiri—Naruto meminta sesuatu yang menurutnya sudah melewati ambang batas kenormalan dan membuat Neji kolaps seketika mendengar perkataan sang kekasih hati.
Kalian masih tanya apa yang Naruto pinta? Bahkan Neji saja enggan mendengar kata-kata itu lagi. Seakan seperti ada tusukan mokuton dari bijuu berekor sepuluh alias juubi tepat mengenai jantungnya jika mendengar permintaan Naruto. Neji berpikir ia salah dengar, namun nasib sial memang—selalu—melekat padanya semenjak Naruto hamil, Neji harus menerima kenyataan bahwa—
"Aku ingin Neji ber-crossdressing." Nada memerintah terasa sangat jelas terdengar di telinga Neji. Namun wajah malaikat tak berdosa itu, mata biru besar yang berbinar itu, pandangan itu. Naruto, kau sungguh—Neji meneguk ludahnya sendiri.
Oh sayangku, betapa untaian kata yang terucap dari bibirmu yang diiringi dengan senyuman indah itu menohok batinku. Betapa inginnya Neji saat itu juga memanggil pengacaranya dan membuat surat wasiat. Dan mana bisa juga Neji menolak jika sang belahan jiwa menatapnya dengan mata biru penuh permohonan dan berbinar-binar, Uke's power. Dan sebagai tambahan, si Uchiha bungsu mengatakan hal yang membuat dirinya kaku seketika—
"Tolonglah Hyuuga. Kau tidak ingin kan anakku dan Naruto ileran?" Sasuke memohon lho ini. "Anakku dan Naruto adalah anakmu juga bukan?" Neji sudah hampir terharu—baca Neji hampir mewek. "Jika kau tidak mengabulkan permohonan Naruto aku bersumpah akan membakar rambutmu yang seperti Orochimaru itu! Camkan itu!"
Uchiha tetap saja Uchiha. Sudah terharu mendengar perkataan Sasuke, bahkan air mata menggenang di pelupuk matanya mendengar Sasuke meminta tolong. Namun ujung dari perkataannya tetap saja membuat Neji keki sendiri. Mau bagaimana juga watak sang Uchiha bungsu ini memang membuat Neji ingin menggantungnya di pohon mangga tetangga rumahnya. Namun apa boleh di kata? Neji tidak mungkin bisa melakukan hal itu.
Dengan helaan nafas—yang sangat amat—berat memantapkan hati untuk berkata, "Ya. Demi Naruto dan calon bayi—" helaan nafas panjang. "Aku akan ber-crosdresing."
.
.
.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pairing:
SASUNARUNEJI! XDD
SasuNaru & NejiNaru (Maaf kecewa, but there's no SasuNeji ToT)
WARNING!
Boys Love a.k.a Shonen-Ai! M-PREG, AU, OOC, bahasa yang—agak kurang—baku, typo(s), Gajeness Humor garing (Gomen ToT) DDX
So if you don't like, Please Don't Read.
.
.
.
=Yukirin =
.
.
.
.
-oOo-
The Perfect Marriage
-oOo-
.
.
.
Deidara, kakak dari Namikaze Naruto—sang peran utama—ini bingung ketika pagi-pagi sekali—tepatnya ketika ia masih bergulung dengan kasur dan selimutnya—adiknya yang manis itu menelfonnya dan memintanya untuk datang ke tempat sang adik tinggal.
Sejujurnya, si sulung Namikaze bersurai panjang ini sangat enggan bertemu dengan sang adik yang sangat disayanginya. Tepatnya semenjak kejadian sup miso super pedas waktu itu, Deidara sungguh kapok mengiyakan permintaan sang adik. Tapi mau bagaimana lagi, daripada keponakannya nanti ngeces alias ileran.
Dan gara-gara sup miso super pedas a la si imut bungsu Namikaze, Deidara, sang Ayah dan Ibunya menderita diare berkepanjangan—oke, ini cukup berlebihan, hanya diare sekitar dua atau tiga hari. Berimbas pada pekerjaan di kantornya dan sang Ayah.
Dan lagi, ia dengar dari Itachi kalau keluarga besan dari Namikaze—Uchiha—yang juga merupakan korban keganasan sup miso super pedas juga ikut terkena diare dadakan. Deidara jadi membayangkan sendiri keluarga Uchiha kena penyakit yang—cukup—memalukan ini, pasti lucu.
Sekarang, Naruto memintanya untuk menemui si pirang yang sedang hamil itu di kediaman sang adik. Lebih bingungnya lagi ketika Deidara mendengar permintaan dari adik semata wayangnya itu. Pokoknya Deidara sudah tidak tahu lagi jalan pikiran Naruto semenjak si bungsu Namikaze itu hamil—lebih tepatnya ngidam—dia jadi susah sekali di prediksi.
Deidara hanya berdoa, semoga kali ini dia tidak terkena imbas dari ngidamnya sang adik.
"Lho, Neji-un?" Deidara terheran-heran melihat salah satu adik iparnya sedang memeluk—lebih tepatnya nemplok—di pohon mangga tetangganya. "Kok kamu melukin pohon-un?
Yang di panggil menolehkan pandangannya kebawah, kearah kakak iparnya tercinta. "Hai, Dei-nii—ouch!" Neji merintih ketika tubuhnya sedikit merosot dari pohon mangga tetangganya yang susah-susah ia panjat. "Naruto ngidam mangga yang di petik langsung dari pohon mangga Kakuzu-san."
Deidara mengernyit. Kakuzu itu teman satu genknya dulu semasa High School—yah, sampai saat ini juga genknya masih ada, namanya Akatsuki. Semua orang tahu kalau cowok berwajah aneh yang mirip zombie butut dengan jahitan sana-sini bernama Kakuzu itu orangnya pelit. "Dia membiarkanmu mengambil mangganya-un?" Deidara menatap Neji penuh tanda tanya besar. "Gratis?"
"Tidak." Jawab Neji masih mempertahankan posisinya memeluk pohon mangga. "Dia bilang aku boleh mengambil mangganya sepuasku asalkan aku memberikan jam tangan milikku yang selalu aku pakai sebagai bayarannya—ugh!"
Tidak mempedulikan adik iparnya yang masih berjuang manjat pohon mangga, Deidara bengong untuk sesaat. Demi permintaan aneh adiknya yang menginginkan mangga langsung dari pohon Kakuzu, Neji rela menukarkannya dengan jam tangan yang selalu ia pakai seharga dua puluh tiga ribu yen?
Coba bayangkan, ini sama saja dengan membeli mangga seharga dua puluh tiga ribu yen! Mana ada mangga semahal itu?
Oh ada, mangga milik Kakuzu.
Deidara menatap Neji yang masih berusaha mengambil mangga dengan susah payah. Rambut panjangnya terikat dan terlihat kusut—ralat, bukan terlihat, memang sangat kusut. Melihat Neji sekarang ini mengingatkan Deidara pada Tarzan, si Raja Hutan.
Tarzan yang gak bisa manjat pohon buat ngambil mangga. Sukses Deidara tertawa sekeras-kerasnya. "Hahaha—Neji-un. Ganbatte!" Deidara menyemangati Neji disela tawanya—menghina secara halus. "Aku—hahaha—akan mengantarkan pesanan Naruto sekarang-un. Bye."
Neji merunduk menatap Deidara yang berjalan menjauhinya sambil tertawa terbahak sambil memegang perutnya sendiri. Neji membatin miris melihat kakak iparnya.
Bukan. Bukan karena Neji merasa terhina kakak iparnya mentertawai dirinya. Toh Neji juga tidak tahu sebenarnya Deidara itu sedang mentertawakan nasib Neji.
Aku harap tidak ada orang yang berniat membawa kakak iparku yang galak itu ke Rumah Sakit Jiwa.
.
.
Beda Neji, beda lagi Sasuke. Jika tadi Deidara mentertawakan nasib salah satu adik iparnya yang malang itu yang tidak lain adalah Neji. Kini, Deidara malah terheran-heran dengan Sasuke.
Beberapa waktu lalu saat Deidara telah sampai di kediaman adiknya tercinta, pemuda cantik itu sempat bingung dengan suasana rumah yang nampak sepi tanpa penghuni namun pintunya jelas-jelas terbuka lebar.
Mungkinkah kerampokan? Deidara menggeleng keras berusaha menghilangkan pikiran buruknya. Kalau rumah ini kerampokan dan penghuninya di bunuh, Deidara akan jadi pewaris tunggal keluarga Namikaze—eh, maksudnya dia akan menjadi saksi mata pembunuhan adik dan adik iparnya. TIDAK!
Deidara berlari dengan kalap memasuki rumah sang adik yang nampak sunyi. "NARUTO!" pemuda pirang sulung Namikaze itu berteriak, suaranya menggema di dalam rumah yang sepi. Deidara semakin panik dengan tidak adanya jawaban dari siapapun. "NARUTO! SASUKE! Jangan menakutiku-un."
Barulah ketika Deidara mendekati kamar mandi yang tak jauh dari dapur, Deidara mendengar suara-suara yang aneh. Suara yang membuat si pirang cantik ini mengernyit heran dan menempelkan telinganya pada daun pintu.
Mata birunya terbelalak, mulutnya ternganga. Dengan segera, Deidara membuka pintu kamar mandi dengan kasar. "Apa yang kalian berdua sedang lakukan-un?!"
Di depannya, Sasuke dan sang adik sedang berjongkok menghadap kloset—posisi siap muntah. Deidara mengernyit heran, Sasuke dan Naruto memperhatikannya dengan tatapan kaget. "Anichan?"
Deidara langsung melangkah mendekati dua orang yang sedang berjongkok itu, berkacak pinggang. "Kalian ini sedang apa-un?" Deidara memicingkan mata. "Mau cari apa kalian dalam kloset?"
Naruto menghela nafas, "Ceritanya rumit, Ani—"
"Hoekh.."
Ucapan Naruto terpotong. Deidara yang melihat dengan mata kepalanya sendiri langsung cengok seketika—mulutnya menganga lebar dengan pandangan tak percaya. Si sulung Namikaze ikut berjongkok mengikuti adiknya. "Lho, Sasuke-un?" Deidara meneliti baik-baik wajah Sasuke. "Kamu kena morning sick?"
"Hah?" Naruto menatap kakaknya heran. "Morning sick itu apa? Sasuke itu dari tadi pagi muntah-muntah terus. Sudah dua hari Sasuke begini." Jelas sang bungsu Namikaze. "Awalnya aku yang mual-mual, lalu kenapa Sasuke malah ikut mual lalu muntah? Setelah itu aku baik-baik saja."
Deidara menggelengkan kepalanya—heran. "Morning sick itu keadaan dimana saat seseorang merasa mual di pagi hari karena hamil-un." Jelas Deidara dengan gaya Dokter ahli kandungan. "Itu yang kau alami pertama, Naruto. Tapi kok, Sasuke-un?"
Namikaze-brother secara serempak memandang Sasuke yang sedang tersiksa dengan perut mualnya. "Sasuke hamil!" vonis keduanya.
Sang raven yang merasa dirinya telah difitnah oleh pirang bersaudara langsung menatap kedua Namikaze itu dengan pandangan tajam. "Bodoh!"
Ya bodoh, jelas-jelas disini Sasuke sebagai pihak yang menghamili, menanam benih. Lagipula siapa yang berani—sudi—menghamili Sasuke. Tubuhnya tegap-berisi-berotot, semua orang juga berpikir kalau Sasuke tipe dominant. Deidara bergidik ngeri sendiri.
"Terus kenapa Sasuke begini?" Naruto menunjuk Sasuke yang masih sibuk dengan acara mual-mualnya. Sang kakak mengangkat bahu sebagai jawaban ia tidak tahu.
"Ini semua salahmu, Dobe." Tuding Sasuke. "Karena kau hamil aku jadi kena imbasnya." Sasuke mengerang frustasi sambil memukul pinggiran kloset.
"Kenapa kau jadi menyalahkanku?" Naruto yang tidak menerima disalahkan oleh Sasuke balas menyerang balik. "Kau yang salah! Kau yang menanam kau yang menuai. Ini semua kan gara-gara kau yang menanamnya!" Naruto menunjuk perutnya sendiri. "Bayi ini sayang padaku, tidak padamu. Jadi dia tidak membiarkanku muntah, sebagai gantinya kau."
Deidara dan Sasuke sama-sama memutar bola mata mereka jengah mendengar omongan Naruto yang membingungkan dan lumayan vulgar itu. "Lagipula kau juga tidak keberatan saat aku membuatnya, Dobe." Sasuke menunjuk perut Naruto.
"T—Teme! Lancang sekali mulutmu," wajah Naruto memerah. "Ada Anichan tahu! Janga omongan mesummu itu." Mendengar perkataan Naruto, sang kakak menatapnya dengan pandangan plis-deh-Nar-kau-yang-memulai-percakapan-mesum di depan Deidara. Tidak tahu kah mereka kalau Deidara sirik—eh?
"Kenapa?" Sasuke memberi tatapan menggoda dengan seringaian seksi kearah Naruto. "Kau suka bukan ketika aku melakukan itu padamu? Kau mau membuatnya lagi denganku?"
Godaan si seksi Uchiha Sasuke. Deidara mendengus, Naruto wajahnya sudah berubah menjadi merah padam karena godaan dari sang suami. "Sudah, hentikan pembicaraan macam ini-un!" Deidara berucap sebelum Naruto membalas godaan Sasuke. "Mungkin saja Sasuke sedang masuk angin."
"Bagaimana kalau kita tanya pada Tsunade-baachan?" Naruto menatap kakaknya dan Sasuke bergantian. "Siapa tahu Sasuke juga hamil."
Naruto ini seakan tidak rela jika dia hamil sendiri. Lagian mana mungkin sih si super seme kita ini, Uchiha Sasuke hamil? Bisa-bisa malu Uchiha Madara sebagai kakek buyut keluarga Uchiha. "Dobe, idiot, bodoh, usuratonkachi! Aku ini yang memasuki!"
"Aku tidak mau tahu!" Naruto menggeleng kuat. "Anichan cepat telfon Baachan." Sang kakak menurut saja dengan perintah sang adik. Deidara bingung sendiri, kok dia mau-mau saja dengan segala perintah adiknya ini.
Si pirang dengan surai panjang itu mengambil ponselnya di saku, lalu mencari nama seseorang di kontak. "Si Nenek itu, lama sekali mengangkatnya-un." Deidara menggumam.
"Anichan, tolong loud speaker biar aku dan Sasuke juga bisa mendengar." Lagi-lagi, Deidara mengangguk mengikuti perintah sang adik. Mereka bertiga menunggu seseorang diseberang sana menjawab.
"Sebaiknya kau punya alasan kuat untuk menelfonku, bocah!"
Deidara tersenyum lebar. "Baachan-un!" jeda sejenak, "Aku ingin bertanya sesuatu. Penting." Di samping Deidara, Naruto dan Sasuke mendengarkan dengan seksama.
"Apa? Jika sampai hal ini hal konyol seperti terakhir kau menelfon, aku akan menelfon Minato untuk mengurungmu di gudang!"
Deidara memutar kedua bola matanya. Memang sih, terakhir kali ia menelfon Neneknya sekitar dua bulan yang lalu, pada dini hari, Deidara menelfon sang Nenek hanya untuk bertanya bagaimana cara alien melahirkan yang sontak membuat Tsunade mengamuk saat itu juga.
"Tidak kali ini penting sungguhan-un." Deidara bicara dengan nada serius. "Ini tentang Sasuke."
"Kenapa dengan si bocah emo itu?" dahi Sasuke berkedut. Aku bukan bocah emo, Nenek tua sial.
Deidara menatap Sasuke, "Naruto berpikir Sasuke sedang hamil."
"HAH?" Ketiga pemuda yang sedang berjongkok di kamar mandi itu sukses meringis mendengar teriakan kencang si Nenek super Tsunade. "Kau bercanda?"
"Naruto bilang Sasuke sudah dua pagi ini muntah muntah-un."
"Kau kira hanya karena muntah di pagi hari itu artinya hamil?!"
Deidara mengernyitkan dahi. Tuh kan, malah dia yang kena omel sang Nenek padahal sang Adik yang punya opini aneh. "Itu kan kata Naruto-un!" Deidara membela diri. Naruto mendengus sebal kakaknya sama sekali tak membela dirinya.
"Anichan tidak sayang padaku," ujarnya dengan nada pelan yang memelas. Deidara mendesis menyuruh Naruto untuk diam, dan sang suami—Sasuke, sebagai suami yang baik ia menenangkan sang istri dengan mengelus punggung Naruto.
"Lalu jika Sasuke tidak hamil kenapa dia begitu-un?"
Terdengar helaan nafas berat di seberang sana, mungkin sang Nenek sakit kepala menghadapi cucunya. "Mudahnya saja, paling Sasuke hanya masuk angin."
"Tidak mungkin!" elak Naruto. Si peran utama uke kita ini seakan tidak rela Sasuke tidak ikut seperti dirinya—hamil maksudnya. "Jawaban lain selain itu, Baachan! Sasuke hamil kan?" Naruto ngotot.
"Gah, gaki! Keras kepala sekali kau!" mereka bertiga mendengar debuman keras di seberang, mungkin sang Nenek berteriak sambil membanting meja kerjanya. "Kau memang pernah memasuki Sasuke?"
"Amit-amit! Tentu saja tidak pernah Nenek tua keriput!" kini Sasuke yang mencak-mencak. Sudah cukup dia dituduh hamil oleh istrinya. Semua orang juga tahu Sasuke ini super seme. "Aku. Tidak. Pernah. Dimasuki. Dan. Tidak. Akan. Pernah. Dimasuki! Dan aku tidak hamil!" ujar Sasuke penuh penekanan.
Melihat Sasuke yang jadi—agak—out of chara membuat Naruto dan Deidara ngeri sendiri. "Dengar ya, Nenek tua." Sasuke menggeram. "Aku adalah pihak yang memasuki! Dan aku memasuki Naruto sehingga istriku itu yang hamil, bukan aku!"
Deidara menatap Sasuke kesal. Kenapa sih adik iparnya yang tampannya gak ketolongan itu selalu bicara menjurus ke vulgar? Dei-Dei masih polos tahu—eh? "Ssh, Sas! Kau membuat adikku takut. Dasar unggas raksaksa-un!"
Sasuke tertohok. Unggas raksaksa? Memang aku monster dalam Ultraman! Sasuke terdiam. Kini dia beralih menenangkan istrinya yang ketakutan melihat ke-out chara-an Sasuke. "Maaf, Dobe." Sasuke merengkuh sang istri.
"Sudah ributnya?"
"Ah, maaf, Baachan-un." Deidara berdehem. "Lalu, Sasuke bagaimana-un?"
"Kalau kalian tidak rela dengan jawaban Sasuke masuk angin biasa," jeda, "Paling Sasuke terkena couvades syndrome."
"Hah?" tiga orang yang sedang berjongkok di kamar mandi itu memekik bingung. "Syndrom—apa?"
Helaan nafas lagi dari seberang sana, "Couvades syndrom." Penuh penekanan. "Dimana sang suami mengalami perubahan hormonal. Biasanya para calon Ayah mengalami peningkatan hormon prolaktin ya—"
"Cukup-un!" Deidara menghentikan penjelasan sang Nenek. "Singkatnya saja, Baachan!" Deidara tidak mau berlama-lama cengok mendengar penjelasan yang ia tidak mengerti.
"Haah. Singkatnya, Sasuke memiliki kontak batin dengan Naruto—yang kini sedang hamil, dan sang bayi. Sasuke merasa simpati dengan kondisi Naruto—mungkin karena tidak bisa melihat Naruto terus-terusan morning sick, jadi ia meniru Naruto yang sedang hamil—secara tidak sadar—untuk menyiapkan dirinya sebagai Ayah kelak."
Diam. Tidak ada yang berbicara setelah mendengar penjelasan Tsunade. Nenek dari Deidara dan Naruto itu menghela nafas—untuk kesekian kalinya di telfon. "Intinya, Sasuke itu saking cintanya dengan Naruto dan calon bayinya dia jadi memiliki kontak batin dengan keduanya."
Mata Sasuke berbinar, hilang sudah rutukannya terhadap rasa mualnya di pagi hari. Ternyata ini bentuk rasa cintanya pada Naruto dan calon anaknya—walau bagi Sasuke masih aneh sih. "Aku mencintaimu, Dobe." Sasuke mengecup pelipis Naruto.
Naruto bersemu, ingin membalas ledekan Sasuke—padahal itu kan bukan ledekan—tapi tidak bisa ketika melihat Sasuke berwajah aneh—sebetulnya ekspresi Sasuke sekarang sedang melembut menatap Naruto. Deidara memutar bola matanya bosan. Melihat adik dan adik iparnya mengingatkan Deidara pada telenovela jaman pas Televisi miliknya masih hitam putih yang dulu sering Ibunya tonton.
"Kalau begitu, terimakasih, Baachan-un."
"Ya," dengan nada agak kesal. "Jangan menggangguku lagi dengan pertanyaan aneh bocah." Dan setelah itu sambungan telfon mati.
"Sudah puas-un?" ujar Deidara sarkastik. "Jangan memikirkan hal macam-macam lagi, Naruto."
Naruto mengangguk lesu, "Maaf, Anichan." Ujarnya lirih. "Habis aku penasaran sih."
"Sudah, kita keluar dari sini-un" Deidara bangkit dari jongkoknya. Kakinya melemas karena sedari tadi ia ikut jongkok di depan kloset bersama sang adik dan adik ipar. "Aku membawakan pesananmu-un."
"Benarkah?" Naruto berbinar. Ia berdiri dibantu dengan Sasuke. "Ayo keluar—Sasuke gendong aku." Sasuke menghela nafas, kumat deh manjanya Naruto. Toh sebetulnya, Sasuke tidak keberatan sih, ia tetap menggendong Naruto dan membawanya keluar kamar mandi—sekalipun kakinya juga sakit karena kelamaan berjongkok tadi.
.
.
Wajah Sasuke pucat pasi ketika Deidara mengeluarkan isi dari paper back yang dibawanya—pesanan Naruto. Deidara berdoa dalam hati semoga bukan ia yang menjadi korban Naruto kali ini. Sementara, si pirang bungsu Namikaze mata bulat biru jernih miliknya berbinar-binar. "Yatta! Arigatou, Anichan." Naruto memeluk kakaknya.
Deidara tertawa canggung, "Apapun untukmu, Naruto-un." Sang kakak menepuk punggung adiknya. Dalam hati, Deidara berdoa semoga Naruto cepat sembuh dari ngidamnya—apalah ini.
"Tadaima." Suara lemah bin lesu ini membuat Naruto semakin berbinar. Neji memasuki rumah dengan penampilan yang sangat out of chara—pakaian kotor dan rambut awut-awutan—di tangannya ia membawa kantong pelastik berisikan mangga pesanan sang istri.
Demi sang istri yang sedang hamil tiga bulan, Neji rela berani tampil beda! Give him aplause.
"Okaeri, Neji." Neji tersenyum lebar ketika Naruto menyambutnya pulang dengan manisnya —tanpa tahu jika si pirang peran utama uke kita ini sedang merencanakan sesuatu. "Neji, Neji. Lihat ini."
Neji memucat, senyumannya hilang begitu saja ketika Naruto memperlihatkan sesuatu padanya. Itu adalah bencana terbesar untuk Neji! "Kau sudah berjanji padaku."
Neji mencelos, kantong berisikan mangga pesanan Naruto yang di pegangnya jatuh begitu saja. "Ya, aku akan pakai itu."
Naruto tersenyum lebar, "Pakai lalu habis itu keluar ya." Ini bukan Neji lagi yang menganga, tapi Deidara juga Sasuke ikut mengangakan mulut mereka—walaupun dalam hati mereka sedang berucap syukur karena kali ini bukan mereka korbannya.
"T—tapi ini mangganya." Neji berusaha mengalihkan pembicaraan, biar Naruto tidak menyuruhnya memakai pakaian laknat itu. "Ini mangga pesananmu, harum, sepertinya manis."
"Lupakan mangganya!" Naruto merajuk. "Aku tidak ingin mangga, siapa yang menyuruh kau mengambil mangga?" Neji tertohok, padahal kan ini keinginan Naruto sendiri. "Buang saja mangganya, aku ingin Neji pakai ini sekarang juga!"
Kalah. Bagaimanapun Neji tidak bisa menang melawan orang yang dicintainya dalam hal tawar-menawar dan bujuk-membujuk. Kalau tidak ingat Neji adalah seme, dia ingin menagis sambil berguling-guling meminta pada Naruto agar ia tidak memakai pakaian itu. "N—Naruto."
"Dei-nii, tolong dandani Neji ya?" Naruto menyerahkan pakaian dan paper bag itu pada kakaknya. "Di kamar. Yang cepat." Deidara secara cepat mengangguk. Semua sudah takluk dengan Naruto. Daripada ekor Naruto muncul—eh—lebih baik mereka menurut.
"Ayo, Neji-un." Walaupun tidak tega pada Neji, Deidara lebih sayang pada adiknya, jadi ia menyeret Neji yang masih enggan untuk beranjak dari sana.
"Tatsukete." Neji meraung sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Sasuke dan Naruto. Sasuke menatap Naruto takut-takut—takut jadi korban juga maksudnya.
"Tenang saja, kau disini temani aku. Aku kasihan denganmu yang ikut merasakan mual gara-gara aku." Suara dari surga—suara Naruto. Sasuke merasa mendapat hembusan angin sejuk ketika mendengar ucapan Naruto, setidaknya kali ini dia selamat dari permintaan absurd Naruto. Ya, kali ini. Tidak tahu deh jadinya kalau besok-besok.
"Kau mau aku kupaskan mangga, Dobe?" tawar Sasuke. Naruto terdiam sejenak, lalu mengangguk tanda setuju. "Tunggu disini, aku akan kembali."
Sasuke memungut kantong berisi mangga tadi yang dijatuhkan Neji, lalu membawa langkahnya ke dapur, membiarkan Naruto duduk sendiri di sofa.
Naruto menghela nafas merasakan keheningan. Tangannya mengambil bantal sofa, lalu memeluknya erat, bibirnya sedikit dimajukan—posisi uke imut siap tangkap. "Kalian jangan lama-lama!" teriak Naruto, entah Sasuke, Deidara ataupun Neji mendengar atau tidak Naruto tetap berteriak.
Merasa tak ada jawaban, Naruto mendengus kesal, melempar bantal yang di peluknya sembarangan arah. "Sasuke! Mangganya." Naruto kembali berteriak.
Menunggu beberapa saat, Sasuke kembali dengan membawa piring berisikan mangga yang telah Sasuke kupas dan potong. "Kau berisik, Dobe." Sasuke menaruh mangga di meja. "Ini."
Sasuke mengambil posisi duduk di sebelah Naruto yang masih merenggut kesal. Tanpa mempedulikan sang istri yang merajuk, Sasuke mengambil potongan mangga terlebih dahulu sebelum Naruto lalu memasukannya kedalam mulut.
Sebenarnya menawarkan Naruto mangga tadi hanyalah alibi Sasuke. Si pemuda raven ini memang tiba-tiba ingin memakan mangga yang tadi yang di bawa Neji. Karena gengsi, jadi ia menawarkan Naruto, ujung-ujungnya dia yang makan.
Naruto menepis tangan Sasuke yang hendak mengambil potongan mangga lagi. "Kenapa malah kau yang makan?" Naruto menggeram marah. Tanpa menghiraukan Naruto, Sasuke mengambil potongan mangga dengan tangan kirinya—tidak sopan.
Kunyah. Telan. "Sudah aku sediakan kau tidak mau," Sasuke mengambil potongan mangga kembali. "Jadi aku makan daripada sayang." Makan lagi—ini hanyalah alibi. Jelas-jelas Sasuke sedang ngidam.
"Teme! Kau benar-benar—" Naruto mengepalkan tangannya gemas menatap Sasuke yang masih santainya menghabiskan mangga. "Kau—uh.. Kau sudah tidak peduli padaku."
Berhenti. Sasuke menghentikan suapan mangga ke mulutnya, sehingga membuat posisi ingin menyuap namun tak jadi. Sasuke menghela nafas, menaruh mangga yang tidak jadi ia masukan ke dalam mulutnya kembali ke piring.
Kelereng onyx milik Sasuke menatap sang istri yang duduk disebelahnya. Naruto menatapnya, bibirnya sedikit di majukan, mata bulat sapphire yang indah dengan genangan air mata di sudut mata indahnya, ekspresi anak kucing yang menggemaskan—ralat rubah kecil yang menggemaskan. Dan, inilah jutsu andalan Naruto, Uke's power.
Kalau tidak ingat dia adalah Uchiha, Sasuke mungkin sekarang sudah menerjang Naruto, memeluknya dengan gemas sambil menggesek-gesekan pipinya dengan pipi gembul Naruto yang menggemaskan dan lembut itu. Sayangnya—atau malah syukurnya—Sasuke adalah seorang Uchiha. Jadi mari kita buat Sasuke memakai cara lain untuk menghadapi jutsu mematikan Naruto yang lebih mengerikan efeknya dibanding dengan Rasangen Shuriken.
Jemari Sasuke mengapit dagu Naruto, membawa wajah sang istri mendekat kearah wajahnya—posisi playboy sedang merayu mangsanya. Semakin dekat, hidung mereka bersentuhan. Naruto menelan ludah ketika merasakan nafas Sasuke menerpa wajahnya.
"Aku.. Mencintaimu. Sangat." Naruto merutuk dalam hati kenapa Sasuke bisa jadi seromantis peran utama pria yang ada di film-film itu. Dekat. Dekat. Semakin dekat jarak diantara kita—eh—bibir mereka hampir bersentuhan. Sedikit lagi—
"NARUTO-un, lihat hasil karya kakakmu i—" mengedip-ngedipkan matanya bingung, Deidara merasa ia telah merusak moment romantis rumah tangga adiknya. "—ni. Oops!"
"GYAAA!" Naruto mendorong wajah Sasuke lalu memundurkan tubuhnya menjauh dari Sasuke hingga membentur lengan sofa. Hampir saja kakaknya melihat adegan mesum—padahal romantis—yang Sasuke perbuat pada dirinya—padahal tadi Naruto tidak menolak.
"EHM!" Deheman ngebass Neji membuat semuanya melirik kearah pemuda beriris lavender yang merasa dari tadi di acuhkan—oke, semoga tidak ada diskriminasi terhadap peran seme disini.
"Oh." Naruto dan Sasuke sama-sama speechless sendiri melihat penampilan Neji kini. Dilema antara ingin tertawa atau ingin muntah ditempat—ini sih Sasuke. Kalau Naruto, dilema sendiri antara mau tertawa atau menyesal memilih kakaknya untuk mendadani sang suami. "N—Neji. Sugoii."
Wajah Neji memerah padam. Mau tahu penampilan Neji sekarang? Yah mau tahu atau tidak memang harus diberitahu sih. Kita mulai dari bagian atas dulu. Rambut cokelat panjang Neji kini diikat twin tail ditambah hiasan berupa pita menghiasi twin tailnya. Turun kebawah, kini Neji mengenakan seifuku berwarna putih merah dan motif kotak-kotak pada ujung lengan, dibalut dengan rompi berwarna hitam yang begitu banyak hiasan melekat disana dan jangan lupakan hiasan pita yang mempermanis penampilan—err, sesuatu sekali.
Turun ke bagian bawah, rok asimetris motif kotak-kotak berwarna merah dan hitam sekitar lima belas centi diatas lutut menutupi bagian bawah Neji—tidak sepenuhnya. Di permanis dengan long-sock yang dikenakan hingga mencapai batas atas lutut ditambah boots hitam yang panjangnya di bawah lutut. Sip, Neji serasa ingin mendaftarkan dirinya bergabung dengan Akihabara-Fourty-Eight dan menyanyikan lagu ngetop Heavy Rotation atau Iiwake Maybe. Sip!
Yang paling oke itu—"Anichan," Naruto memanggil kakaknya. "Kenapa wajah Neji begitu?" Naruto menunjuk wajah sang suami dengan pandangan oh-aku-tak-mau-kenal-siapa-kamu dan wajahmu-sesuatu-sekali.
"Ah, itu—" Deidara menganggukkan kepala. "Yah, kau tahu sendiri-un, aku bukan Orochimaru yang pandai mendandani orang jadi—uh, crossdresser?" Deidara mati-matian agar tidak bilang banci. "Jadi, kau terima saja-un. Gratis ini."
Naruto mengangguk-angguk dengan tampang bodohnya. Iya sih Deidara walau cantik tapi dia bukan orang yang pandai memermak orang. Tapi ya kira-kira dong. Bulu mata Neji—bulu mata palsu—itu lho, mengganggu sangat. "Bulu matanya?"
"Oh. Itu bulu manta anti halilintar-un." Neji sudah merunduk malu. Naruto dan Sasuke kehabisan kata-kata untuk mengomentari bulu mata Neji yang kata si sulung Namikaze itu bulu mata anti halilintar. Sesuatu sekali. "Bagus kan? Aku dapat ini dari Tobi-un."
Naruto langsung menatap Sasuke. Tobi—nama gaul dari Obito—adalah teman satu gank Deidara di Akatsuki, dan dia juga sepupu dari Sasuke. Otomatis Tobi itu adalah Uchiha dong. "Aku tidak tahu jika di keluargamu ada yang punya fetish aneh terhadap bulu mata palsu, Sasuke." Bisik Naruto. Dibalas cubitan di hidung oleh Sasuke.
"Jadi-un," Deidara memperhatikan Neji dengan seksama. "Kau ingin membawa Neji keluar? Yakin-un?" Dalam hatinya Deidara tertawa girang kalau salah satu adik iparnya bakal di permalukan di depan umum. Dasar evil.
Ini benar-benar diskriminasi terhadap Neji di fanfic ini namanya.
Naruto mengangguk. "Iya. Tapi—" Naruto menggigit bibir bawahnya. "Lepas bulu mata palsunya. Dan lagi, tolong jangan memakaikan blush-on terlalu tebal pada Neji. Mengganggu." Yap. Betul sekali. Deidara dengan teganya memoleskan blush-on sangat ketara di pipi Neji yang membuatnya tampak seperti suami yang di tampari istrinya.
Deidara merunduk. Sebenarnya ia malas sekali melakukan hal-hal seperti ini, tapi, "Baiklah." Helaan nafas terdengar. Dengan langkah berat Deidara kembali menarik Neji untuk memermak wajahnya.
"Dan kau—" kini Naruto menunjuk Sasuke. "Jangan harap hanya Neji saja yang di permalukan disini." Oh, berakhir sudah rasa bahagia Sasuke. Tadinya ia berpikir bahwa Naruto tidak akan menyiksa dirinya dengan acara ngidam aneh versi Naruto. Bukannya tadi Naruto bilang bahwa ia tidak akan melakukan hal aneh pada Sasuke? Ucapkan selamat tinggal pada kebahagiaan, Sasuke.
"Sayangku—" rayuan maut Sasuke. Modus biar ga disuruh hal yang aneh-aneh oleh sang istri. "Aku traktir ramen ya?" Naruto bingung sendiri. Sasuke benar-benar jadi out-of-chara begini.
"Maaf ya, tuan Uchiha," Naruto menatap Sasuke dengan ekspresi judes yang dibuat-buat. "Pokoknya tidak adil jika cuma Neji yang menderita. Nanti dikira aku pilih kasih. Bwee." Naruto menjulurkan lidahnya.
Usuratonkachi ini. Apa dayalah sekarang Sasuke. Berdoa sajalah biar tidak lebih parah dari rekan seperjuangannya.
.
.
"Minna, konnichiwa." Naruto menyapa kawan-kawannya dengan nada sing-a-song. Kali ini, teman-teman Sasuke, Naruto, dan Neji sedang berkumpul di halaman belakang rumah pasangan paling kontroversial. Siapa lagi kalau bukan Sasuke-Naruto-Neji.
"Narutooo!" Sakura menghampiri si blonde yang sedang hamil itu. Entah mengapa Sakura merasa Naruto tampak lebih menggemaskan. Mungkin efek dari hamil. "Kau mengundang kami hanya untuk membiarkan kami berpanas-panas di taman belakangmu yang luas ini ya?"
Naruto nyengir. Mata biru bulatnya menatap kawan-kawannya satu persatu. Sakura, Kiba, Shikamaru, Hinata, Shino, Chouji, Lee, Tenten, dan jangan lupakan Sai. Sip, semuanya telah berkumpul. "Aku mau menunjukkan sesuatu pada kalian."
Pernyataan tersebut sontak membuat tanda tanya besar tercipta di pikiran kawan-kawan satu angkatan Naruto. Kira-kira apa yang akan ditunjukan oleh sahabat pirang mereka yang penuh dengan kejutan itu. Tanpa mereka tahu, itu adalah hal yang bisa membuat mereka terkejut luar biasa.
"Maaf menunggu lama-un," Deidara datang dengan menyeret dua orang laki-laki bertubuh lebih besar darinya. Jangan salah, walau wajahnya androgini, tenaga Deidara setara dengan missing-nin kelas kakap. "Tadaaa."
"WOAAAAAGH!" Teriakan tujuh oktaf dengan ekspresi dan nada suara yang berlebihan itu membuat Neji dan Sasuke mengubur dirinya hidup-hidup.
"I—ITUUU—" ekspresi semuanya berubah horor tapi teriakan tetap nomor satu, harus tujuh oktaf. "—SASUKE DAN NEJI!" semuanya menunjuk dua peran utama seme disini.
"Sa—SASUKE-KUUUUN!" Kali ini dua—mantan—fangirl Sasuke yang berteriak dengan ekspresi shock berat. Ya gimana gak mau shock kalau disuguhkan pemandangan Sasuke yang berpenampilan langka. Sebetulnya lebih parah Neji sih.
Lee, yang kita ketahui adalah kekasih dari Sakura kini melangkahkan kakinya mendekat kearah Sasuke dan Neji. "Kau—" jemari Lee bergetar menunjuk seseorang. Seseorang yang pernah di klaim sebagai rival sepihak oleh Lee. "—Neji?"
Andai Neji bisa menggunakan jyuuken disini, suami dari Naruto ini pasti sudah men-jyuuken Rock Lee sekarang juga. Sayang beribu sayang, ini kan alternative universe. "APA?"
Demi Naruto, demi Naruto. Tahan Neji. Sebetulnya, sedari tadi Neji sudah gemas ingin buka baju depan umum, masa iya cowok ganteng macam Neji di pakaikan pakaian seperti ini. Sementara Sasuke, dia hanya begitu saja.
Mari kita lihat tampilan Sasuke. Si raven masih berpakaian normal kok. Wajahnya juga tidak di dandani seperti Neji. Hanya saja, lihat poni legendaris Uchiha Sasuke yang merupakan salah satu daya tariknya. Kini poni Sasuke harus teracung keatas—dikuncir—dan diberi hiasan pita berwarna pink besar—ini adalah mahakarya dari seorang seniman jenius Namikaze Naruto.
Dua pangeran incaran gadis-gadis ini cukup membuat semua orang shock. Shock berat maksudnya.
"S—sugoii," Kiba berdecak kagum. "Neji seperti anggota dari idol grup yang menyanyikan Heavy Rotation itu. Apalah namanya." Kiba tak henti-hentinya menatap kagum Neji. "Kau hebat, Neji."
Disini, Neji mendengus kesal sementara Deidara tersenyum senang. Siapa yang tidak kesal? Kata-kata Kiba barusan menurut Neji adalah singgungan halus. Neji berpikir Kiba menganggapnya baik dalam hal ber-crossdressing-ria.
Sementara Deidara, jelas senang. Jika ada yang memuji penampilan Neji itu adalah hasil kerja keras dari si sulung Namikaze dan tangan seninya. Ha-ha!
"Bagaimana?" Naruto menatap teman-temannya dengan senyum lebar. "Mereka cantik bukan? Iya, kan? Mereka sangat cantik kan?"
Kawan-kawan Naruto mendak dilanda kegalauan dan konspirasi hati mendadak. Ada dua pasang mata yang melihat mereka tajam seolah berkata jika mereka mengatakan 'iya' bahwa nanti akan terjadi perang dunia ninja yang keempat.
Kalau boleh jujur, mereka akan menjawab 'tidak'. Oke lah, pakaian yang di pakai Neji dan pita yang ada di poni legendaris Sasuke itu memang menunjang seseorang untuk menjadi lebih kawaii. Tapi, kalau yang pakai Neji dan Sasuke kok rasanya tidak ada manis-manisnya sama sekali. Apalagi Sasuke dan Neji itu wajahnya tampan, ditambah dengan tubuh atletis, tinggi dan tegap. Mereka bergidik ngeri.
Tapi disisi lain, Naruto, si uke manis kita yang satu ini sedang menatap penuh harap. Mata sapphire yang bulat itu memancarkan keingintahuan dan harapan, berbinar-binar. Mereka terkena jutsu andalan Naruto yang setara dengan Tsukuyomi—Uke's power.
"Aha—haha—ha! Tentu saja! Mereka manis sekali."
"I—iya! Tentu saja, mereka terlihat manis."
"O—oh, i—iya, iya! Ha-ha, mereka manis sekali."
"A—ya! Mereka benar-benar terlihat menggemaskan."
"Aku—aku sungguh tidak menyangka jika mereka bisa se—manis itu. Ha-ha-ha."
Semua hanyalah dusta. Jawaban-jawaban gugup dari kawan-kawan Naruto. Maaf ya, Sasuke, Neji, mereka lebih sayang pada Naruto daripada kalian. Pesona Namikaze Naruto tidak bisa dihindari oleh siapapun.
Naruto yang memang hidupnya lebih banyak berpikir polos dan mudah percaya pada orang, jadi si pirang bungsu Namikaze ini tersenyum semakin lebar, percaya akan jawaban sarat akan dusta teman-temannya itu. "Sudah aku kira kalian berpikir seperti itu!" ya, mereka menjawab begitu juga karenamu. "Aku jadi tambah bahagia memiliki mereka berdua."
Sasuke dan Neji yang tadinya badmood tingkat akut karena di dandani out-of-chara, kini wajahnya menjadi berseri. Apalagi ketika Naruto menarik mereka dan membawa mereka untuk berpelukan—sekilas mirip Teletubies. "Aku sayang kalian." Surgaaaa. Neji dan Sasuke makin bahagia mendengar ucapan Naruto.
"KYAAAAA!" jangan tanya lagi, yang lain juga tahu ini adalah teriakan para gadis yang disuguhi fanservice secara gratis. Namanya juga fujoshi, tidak kenal empat asal melihat moment boys-love juga pasti akan histeris.
Naruto melepaskan pelukannya pada kedua suaminya, tersenyum manis. "Kalau begitu, ayo kita adakan barbeque party!" ucapan Naruto dibalas teriakan semangat yang lain.
Yang lain melangkah dengan semangat, bersiap-siap untuk menyiapkan bahan dan alat untuk pesta barbeque mereka. Tanpa Neji sadar, bootsnya yang memang dihiasi tali panjang terlepas talinya, membuat Neji dengan tidak elitnya jatuh karena terjelit tali boots.
"Cho—" Grep. Sret. Brugh. "—tto!"
Oh, tidaaaak. Mati aku!
"KYAAAA HENTAI!" —jleb.
"CROSSDRESSER NEJI HENTAI!" —doublejleb
C—crossdresser.. Neji—hentai? Ini yang menohok hati. Tembak saja Neji dengan pistol air daripada dicap sebagai crossdresser, hentai pula.
Tapi masalah besarnya itu—
"GRAAAH!" Geraman ganas dari sang sulung Namikaze. "KAU-un! HYUUGA NEJI, MATI KAU!"
Mari kita hentikan diskriminasi terhadap Neji sampai sini. Sabar, ya, Neji.
.
.
.
To be Continued
.
.
Pertama-tama, ijinkan saya meminta maaf terlebih dahulu atas keterlamatan yang amat-sangat untuk update ke chap 4 ini *jleb*
Second, saya minta maaf atas diskriminasi chara Neji dan ke-out-of-chara Sasuke dan Neji *jlebjleb*
Ketiga saya minta maaf atas humor yang rasanya makin kesini makin garing *triplejleb*
Saya bingung sama fanfic ini. Kadang dapet ide, kadang macet di tengah jalan Dx Rasanya pengen saya udahin aja ini Dx tapi sayang )X
Lalu, saya merasa sangat terhormat sekali Takuchizuki-san sudah mau me-review fanfic saya. Secara ide fanfic ini bermula dari fanfic Takuchizuki-san yang berjudul WAY OUT. Terima kasih banyak senpai sudah mau review dan memberi ijin *bow*
Special thanks to:
RisaSano, hanazawa kay, Nayuya, Dewi15, .562, sivanya anggarada, Vianycka Hime, ukkychan, Arum Junnie, widi orihara, Typeacety95, mifta cinya, , Uzumaki Prince Dobe-Nii, , Neko Twins Kagamine, Ineedtohateyou, uzumakinamikazehaki, miszhanty05, funny bunny blaster, Himawari Wia, Inez Arimasen, Xiaooo, Haruko Akemi, Harpaairiry, , Namika Rahma, kazekageashainuzukaasharoyani, mute, Zee rasetsu, xxx, shiji ran, Kumin, tomo, JustMeh, Kirei, mei, Pure, Soul, stroiesdk, Mika, lay, Shiro, beast, Peach, butisyou, junior, Shiroi Fuyu, nurul, himekaruLI, Guest(1), Shinju, Kami, Takuchizuki, Guest(2), zaladevita, I-chan, Jasmine DaisynoYuki, shikakukouki777, onyxsapphiretomatjeruk, melan, Sabaku no Gaa-chan, limit, Guest(3), Hime, Miss R
Another Story : Special Sasuke's Confession
Namaku Uchiha Sasuke. Aku punya banyak hal yang tidak aku suka, dan yang aku suka tidak ada yang khusus. Dan lagi, aku tidak mempunyai mimpi, tapi aku memiliki ambisi—tunggu! Sepertinya aku salah dialogue.
Namaku Uchiha Sasuke, aku adalah putera bungsu dari pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Dan lagi, aku memiliki seorang kakak yang aneh bernama Uchiha Itachi. Selain kakakku aneh, teman-teman kakakku pun aneh. Kakakku tergabung dalam sebuah gank dengan anggota yang aneh bernama Akatsuki—kakak iparku Deidara juga tergabung dalam pasukan aneh berjubah hitam dengan corak awan merah itu. Makanya dia juga aneh.
Aku memiliki istri bernama Namikaze—Dobe—Naruto. Dia adalah sosok yang aku hindari awalnya, karena orang berisik seperti dia harus dijauhkan dalam kamus hidupku. Hingga pada akhirnya, ketika aku menginjak bangku menengah pertama, aku sadar jika aku jatuh cinta pada orang yang selalu kuejek Dobe tersebut.
Sialnya, aku harus bersaing dengan Hyuuga Neji yang rambutnya mirip Orochimaru itu untuk mendapatkan Naruto.
Sialnya lagi, Neji lah yang mendapatkan Naruto terlebih dahulu di banding aku!
Jadi, dengan segala akalku sebagai seorang Uchiha dan juga seluruh keegoisanku, akhirnya Naruto jatuh di ranjang bersamaku—maksudku jatuh ke tanganku. Dengan ketidak sengajaan yang sudah aku rencanakan sejak awal, Naruto bisa menjadi pasangan hidupku. Aku secara tidak sadar—tapi sebetulnya aku cukup sadar waktu itu—membuat Naruto hamil.
Yah, walau aku harus berbagi dengan si Hyuuga bintang iklan shampoo itu.
Bukannya aku membenci Neji, hanya saja aku merasa dia adalah rivalku untuk mendapatkan perhatian Naruto.
Tapi karena perbuatanku bercocok tanam dengan Naruto, aku—bukan hanya aku, yang lain juga harus terkena imbas dari hasil bertanamku dengan Naruto. Kami harus merasakan kesengsaraan karena ngidamnya Naruto.
Tapi tak apa, aku yakin penderitaan ini akan berakhir. Sekian.
-End-
.
Sampai ketemu di chap yang akan datang~ (entah kapan itu TToTT)
.
.
Review Please ^^;;
