A Regret
Cast :
Choi Siwon
Cho Kyuhyun
Shim Changmin
.
.
Ketika penyesalan itu datang menyergap kebekuan hati Cho Kyuhyun, akankah ia mampu menghadapi dan menentang garis takdir yang telah ditetapkan?
.
.
Previous chapter
Penyesalan kian menyergap dirinya saat maniknya menatap nanar tubuh tak berdaya di hadapannya. Ya, Kyuhyun mencintai Siwon. Rasa itu kian bertambah setelah ia membaca rentetan untaian kalimat yang dituliskan Siwon untuknya. Sebuah rahasia yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Bagaimana perasaanmu saat kau mengetahui orang yang paling kau benci merelakan nyawanya hanya untuk menyelamatkanmu?
Deru napas itu kian lemah. Kyuhyun menekan dada Siwon agar terus bernapas. Hingga pada akhirnya deru napas itu perlahan menghilang.
"Hyuuunnnnnnngggggg!"
.
.
CHAPTER 3 IS UP!
HAPPY READING!
Bulir keringat tampak mengalir deras dipelipis wajah seorang namja manis dengan surai brunette sedikit ikalnya. Semburat merah terlihat jelas diwajahnya. Deru napasnya terdengar kian tak teratur. Kedua tangannya terus saja menekan bagian dada seorang namja yang tampak terkulai lemah tak berdaya di atas hamparan rumput hijau di pinggir sungai Han. Tak ada kata. Tak ada suara. Hanya deru napas kasar yang terdengar.
Kyuhyun, namja dengan surai brunette itu terus saja melakukan aktivitasnya. Sesekali bulir air matanya jatuh membasahi wajah Siwon, sang namja yang tengah terbujur lemah di hadapannya. Tak ada yang mampu Kyuhyun lakukan selain terus menekan dada Siwon agar namja berpostur tinggi itu kembali bernapas. Otak Kyuhyun seolah kosong. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana membuat Siwon kembali membuka kedua matanya yang terkatup erat.
Kyuhyun terus saja menangis. Bahkan untuk meminta bantuan pada orang sekitarnyapun ia tak sanggup. Padahal bisa saja ia berteriak meminta pertolongan dan membawa Siwon ke Rumah Sakit sesegera mungkin. Namun ia tak bisa. Lidahnya seolah kelu. Ia hanya terus menekan dada Siwon. Lagi dan lagi. Selang beberapa menit kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Siwon. Meletakkan tangannya di kedua pipi Siwon. Kemudian menempelkan bibir ranumnya pada bibir joker pucat milik namja berdimple smile itu. Memberikan napas buatan.
Lembut dan penuh kasih sayang. Dengan air mata yang terus mengalir. Berulang kali ia memberikan napas buatan hingga pada akhirnya ia merasakan pergerakan pada dada Siwon. Dadanya bergerak, jantungnya kembali berdetak. Perlahan Kyuhyun menjauhkan wajahnya kemudian mengukir senyum tipis. "Hyung…" lirihnya pelan. Bahkan hampir tak terdengar. Suaranya parau penuh getaran.
Kyuhyun segera memeluk tubuh lemah di hadapannya. Meletakkan kepala Siwon di pangkuannya. Jantungnya berdetak kian kencang. Ia takut, sungguh amat takut. Kyuhyun menciumi kening Siwon secara bertubi-tubi. Tubuhnya bergetar hebat. Hal yang baru saja dialaminya sungguh membuatnya shocked dan tak mampu berbuat apa-apa. "Bertahanlah….." kembali ia ciumi kening Siwon. Tak hanya sampai disitu. Beranjak ke hidung, pipi hingga bibir joker sang namja.
Melihat cairan kental merah yang terus mengalir di hidung Siwon, Kyuhyun segera merobek ujung kaus berwarna biru yang dikenakannya dengan kasar. Kemudian mengelap lembut darah yang mengalir di hidung Siwon. Kyuhyun menyentuh pipi Siwon kemudian mengusapnya perlahan. Memandang wajah Siwon sekilas kemudian kembali menangis.
Ia mengangkat wajahnya. Memperhatikan lingkungan sekitar. Ada beberapa orang yang duduk tak jauh dari tempatnya. Sungguh ingin rasanya ia berteriak meminta pertolongan. Namun sesuatu seolah menahannya untuk berucap. Kyuhyun tak sanggup. Seolah ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.
'Tuhan aku mohon tolong aku' ucapnya dalam hati. Kembali ia tatap wajah Siwon, "bertahanlah." Lagi. Dan hanya kata itu yang mampu terucap. Terdengar lirih dengan suara parau pelan.
Drrrtt…. Drrrttt…
Bunyi getaran ponsel menginterupsi kegiatan Kyuhyun. Dengan segera ia merogoh kantung celananya. Masih dengan tangan yang bergetar. Changminnie, nama itu terpampang jelas di layar touchscreennya. Sedang melakukan panggilan masuk. Dengan tangan yang bergetar Kyuhyun menyentuh layar ponselnya.
"Yeobseyo… Kyuhyun kau dimana?" terdengar suara dari seberang saluran telepon. Tersirat dengan sangat jelas nada kekhawatiran dari suara itu.
"….." Kyuhyun menarik napasnya dalam. Seolah mengumpulkan kekuatan untuk sekedar berucap.
"Kyuhyun-ah~ ?"
"….."
"Kyuhyun-ah~ Jawab aku! Apa yang terjadi? Aku mengkhawatirkanmu!"
"To…..long…. aku…" jawab Kyuhyun lemah dengan suara parau yang amat sangat kentara.
"Ada apa? Kau dimana? Kau baik-baik saja kan?"
"…"
"Kyuhyun jawab aku! Kau dimana? Apa yang terjadi?" suara Changmin terdengar sangat cemas dengan deru napas yang tak menentu
"Sungai han… to…long aku…. Changmin-ah.."
"Apa yang terjadi? Ada apa?" Changmin masih saja memberikan pertanyaan bertubi pada Kyuhyun.
"Tolong aku…"
"Baiklah aku akan segera ke sana. Kau tunggulah di sana! Jangan pergi kemanapun!"
"Ambulance…." suara lemah itu terdengar semakin lemah. Lidah Kyuhyun kembali terasa kelu untuk sekedar berucap.
"Mwo? Ambulance? Untuk apa? Kau kenapa? Siapa yang sakit?"
"A-aku mohon cepatlah…."
TUUUK!
Dan ponsel itupun terjatuh. Dengan suara Changmin yang masih terdengar samar. Tangan Kyuhyun terasa lemas saat dilihatnya darah kembali mengalir dari hidung Siwon. Tanpa berpikir panjang Kyuhyun segera mendekatkan wajahnya pada wajah Siwon. Kemudian menghisap cairan kental berwarna merah itu dengan perlahan. Tanpa adanya rasa jijik sedikitpun. Sembari menggenggam tangan Siwon, ia terus menghisap darah yang keluar dari hidung namja yang telah dicintainya.
'Maafkan aku' ucapnya dalam hati.
.
.
A Regret
.
.
Beberapa orang dengan pakaian serba putih melangkahkan kakinya dengan tempo cepat ke arah lobby Rumah Sakit. Berjalan dengan tergesa ke arah ambulance yang terparkir tepat di depan lobby utama. Tampak beberapa orang keluar dari dalam ambulance. Kyuhyun dan Changmin, kedua namja tersebut juga nampak keluar dari dalam ambulance diiringi dengan petugas berbaju putih di belakang. Mereka segera mengeluarkan tubuh namja yang terkulai lemah tak berdaya yang tengah terbaring di atas ranjang dorong Rumah Sakit.
Kyuhyun, namja itu tampak pucat dengan peluh yang masih mengalir di pelipisnya. Kedua matanya terlihat memerah bengkak. Tampak dengan sangat jelas jika ia habis menangis. Kaos yang dikenakannya acak-acakan. Dengan bagian bawah yang tampak robek. Namun Kyuhyun sama sekali tak mempedulikan kondisi dirinya saat ini. Yang ada di benaknya hanyalah Siwon. Changmin, memegang pundak Kyuhyun lembut. Seolah menopang berat tubuh Kyuhyun yang mungkin bisa jatuh kapan saja. Kyuhyun melangkahkan kakinya pelan. Dengan sisa tenaga yang masih ia punya, ia berusaha menyamakan derap langkahnya dengan petugas rumah sakit berbaju serba putih yang tengah mendorong ranjang rumah sakit di hadapannya.
"Pelan-pelan saja Kyu~." Ucap Changmin sembari menekan pundak Kyuhyun.
"…." Tak ada jawaban. Kyuhyun tetap berjalan dengan tempo sama bahkan cenderung lebih cepat. Dengan Changmin yang juga berusaha mengimbangi langkahnya. Tatapan Kyuhyun tampak kosong. Kedua manik sayunya terus saja memperhatikan sesosok tubuh yang tengah terbaring di ranjang dorong di hadapannya.
"Kyuhyun-ah~" dan lagi, Changmin berusaha menyadarkan Kyuhyun. Hati Changmin berdenyut sakit. Saat dilihatnya kedua manik sayu Kyuhyun yang menatap Siwon dengan tatapan pilu. Entah apa yang dirasakannya, namun Changmin memiliki firasat buruk akan itu.
"Siwon." Satu nama, satu kata. Dan hanya itu yang mampu Kyuhyun ucapkan. Membuat seolah ribuan pedang tajam menghunus dada Changmin begitu cepat. Satu nama yang diucapkan Kyuhyun seolah menjadi jawaban akan firasatnya.
"Kyu….."
"….."
.
.
A Regret
.
.
"Kau makanlah dulu Kyu~ Aku membawakan beberapa makanan kesukaanmu!" ujar Changmin sembari menepuk pelan pundak Kyuhyun yang tengah duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. Tempat Siwon dirawat. Wajah Kyuhyun tampak kian pucat. Sudah 2 hari dia duduk di kursi itu tanpa beranjak sedikitpun. Bahkan untuk sekedar ke kamar kecilpun Kyuhyun seolah enggan. Tangannya terus menggenggam tangan Siwon yang masih terbaring koma di ranjang rumah sakit. Berbagai alat medis tersemat rapi di tubuh Siwon. Arah pandang matanya hanya tertuju pada wajah Siwon yang sama sekali tak menunjukan adanya perubahan.
Deru napas Siwon terdengar teratur dengan detak jantung yang mengiringi dari mesin elektrokardiograf yang mengalun teratur, namun cenderung pelan dan lemah. Dokter menyatakan Siwon telah berhasil melewati masa kritisnya. Namun bukan berarti Siwon dinyatakan baik-baik saja. Pembengkakan di otaknya semakin membesar. Dan Kyuhyun tahu bagaimana rasanya di posisi Siwon saat ini. Antara hidup dan mati. Sesekali bulir air mata itu jatuh membasahi pipi Kyuhyun saat memorinya mengingat betapa bodohnya seorang Choi Siwon yang merelakan hidupnya hanya untuk dirinya.
Dan betapa bodohnya seorang Cho Kyuhyun yang sama sekali tak pernah menghargai betapa kerasnya perjuangan Siwon mendapatkan cintanya selama ini. Sebenarnya logikanya sungguh belum bisa menerima ini semua. Ini mitos. Dan Kyuhyun sama sekali tak mempercayai mitos yang seperti ini. Hanya dengan membunyikan lonceng dan berdoa di kuil itu, harapanmu akan terkabul? Namun terkabulnya harapan itu tidak didapat dengan cuma-cuma. Kau harus membayarnya meski dengan mengorbankan dirimu sendiri. Berulang kali Kyuhyun berusaha menerima ini semua dengan nalarnya. Dengan logikanya. Namun, bukankah cinta tak mengenal logika? Bukankah cinta tak mengenal nalar?
Siwon mencintainya tanpa menggunakan logikanya. Siwon menyayanginya tanpa menggunakan nalarnya. Siwon merelakan hidupnya hanya untuk menyelamatkan dirinya yang bahkan sangat membencinya. Siwon mencintai Kyuhyun dengan tulus dan tanpa pamrih. Siwon tak pernah meminta Kyuhyun membalas cintanya meski ia memaksa Kyuhyun untuk menikah dengannya. Ia hanya ingin menjaga Kyuhyun di sisa-sisa akhir masa hidupnya. Hanya itu. Dan itu sudah cukup membuatnya bahagia. Karena bagi Siwon, Kyuhyun adalah kebahagiaannya. Dan memiliki Kyuhyun di sisa masa akhir hidupnya adalah kebahagiaan terbesar yang ia rasakan.
Kyuhyun menghela napas dalam. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Digenggamnya jemari tangan Siwon kuat. Berulang kali Kyuhyun merutuki kebodohannya. Ia menyesal. Amat sangat menyesal. Mengapa ia terlalu bodoh untuk menyadari ada seseorang yang selalu menunggunya? Mengapa ia begitu bodoh telah menyia-nyiakan seseorang yang amat sangat mencintainya? Dan penyesalan memang akan selalu datang belakangan, bukan?
"Kyuhyun-ah~" Kembali Changmin memanggil Kyuhyun lembut. Kyuhyun menolehkan wajahnya. menatap kedua obsidian Changmin yang memandangnya sendu. "Kau di sini?"
Changmin menarik kedua ujung bibir tipisnya. Tersenyum lembut. "Aku memang selalu disini." Ujarnya lembut. Kyuhyun membalas senyuman Changmin. Namun Changmin sadar, ada guratan kesedihan yang mendalam di wajah Kyuhyun, kekasih yang sangat dicintainya.
"Aku membawakan beberapa makanan kesukaanmu. Kau makanlah dulu. Dari kemarin kau belum makan. Aku takut kau sakit, Kyu~" ucap Changmin seraya mengelus lembut surai brunette Kyuhyun. Kyuhyun memandang sayu Changmin. "Aku memang sudah sakit Chwang." Jawabnya.
"Mau sampai kapan kau seperti ini?"
"Sampai Siwon bangun dan aku bisa meminta maaf."
"Kyu….Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Maafkan aku Chwang~"
"Maaf? Untuk apa?"
Kyuhyun menghela napas dalam, "Untuk segalanya."
Changmin mengernyitkan kedua alisnya, " Untuk segalanya? Apa maksudmu?" Semakin tidak mengerti arah pembicaraan Kyuhyun. Kyuhyun yang dikenalnya tak pernah seperti ini. Ini bukan Kyuhyun. Atau mungkin ini diri Kyuhyun yang sebenarnya? Yang tak pernah Changmin ketahui sebelumnya? Kyuhyun berubah. Drastis. Total. Bahkan selama ini Changmin tak pernah melihat Kyuhyun menangis. Meski seberat apapun hidup yang dijalaninya, ia tak pernah meneteskan air mata.
Namun sekarang? Kedua kelopak matanya bahkan terlihat bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Masih terekam jelas di ingatannya jika Kyuhyun sangat membenci Siwon. Untuk segala macam perbuatan yang Siwon lakukan. Bahkan tak jarang Kyuhyun mengumpat dengan kata kasar jika ia tengah kesal terhadap apa yang dilakukan Siwon. Bahkan wajahnya sering tampak kusut jika Siwon mengganggu ketenangan harinya.
Dan sekarang? Kyuhyun layaknya seorang slave yang menjaga majikannya. Bahkan ia tak mempedulikan dirinya sendiri. Ia terus saja menunggu Siwon hingga wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Tidak makan bahkan minumpun jarang. Hanya jika Changmin memaksanya untuk meminum air agar ia tak kehilangan cairan tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada kekasihnya itu?
"Untuk segala keegoisanku. Maafkan aku." Jawab Kyuhyun sembari menundukan wajahnya. Changmin mengepalkan kedua tangannya. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi pada kekasih tercintanya ini.
"Aku tidak mengerti."
"Maafkan aku Chwang~"
Changmin menggerakan tangannya. Menyentuh wajah Kyuhyun. Sedikit mengangkatnya. Kedua mata itu terlihat sayu penuh penyesalan. Menatap nanar kedua obsidian Changmin yang seolah tengah mencari jawaban akan pertanyaan yang dilontarkannya.
"Jelaskan padaku, apa yang terjadi?"
Kembali bulir itu mengalir pelan dari pelupuk mata Kyuhyun. Membasahi pipinya yang tampak tirus. "Aku telah melakukan kebodohan besar." Lirih Kyuhyun pelan.
"Kebodohan?"
"Siwon…Aku…..Dia…..Siwon mencintaiku. Dia…..berkorban banyak untukku…hikss… Changminnn…..Apa yang harus aku lakukan?" Kyuhyun menggerakkan kedua tangannya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha menahan isakannya.
"Jadi kau sudah tahu?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Changmin menghela napas dalam. "Kyu~….. maafkan aku."
"Mengapa kau tak pernah memberitahuku? Mengapa kau menyembunyikan ini semua dariku?"
"Kyu…"
"Sakit. Hatiku sakit mengetahui ini semua Changmin! Mengapa kau tak memberitahuku apa yang terjadi dengan Siwon, huh? Mengapa kau berpura-pura mencintaiku dan menjagaku untuknya? Mengapa Changmin? Mengapa?" Kyuhyun menatap Changmin dengan tatapan tajamnya. Berusaha mendapatkan jawaban akan pertanyaannya.
"Kyu…..Aku….." Kini giliran Changmin yang menundukkan wajahnya.
"Jawab aku! Mengapaaaaaa?" Kyuhyun menaikkan tingkat oktav suaranya. Membuat Changmin terhenyak. Ini kali pertama Kyuhyun berteriak di hadapannya.
"Aku.. Aku hanya melakukan apa yang dia minta. Karena dia telah banyak membantuku dan berjasa pada kehidupan keluargaku, jadi aku berhutang budi kepadanya. Dia sepupu yang sangat aku sayang. Aku menerima permintaannya untuk menjagamu, mencintaimu dan melindungimu. Bahkan ia memintaku untuk memberinya kabar tentang keadaanmu setiap harinya. Melaporkan apa yang sedang kau lakukan. Melaporkan semua kegiatan-kegiatnmu padanya."
Kyuhyun terdiam. Sebegitu cintanyakah Siwon terhadapnya?
"Tapi seiring waktu berjalan, aku benar-benar mencintaimu. Dan aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku memberitahunya tentang perasaanku yang sebenarnya. Dia hanya tersenyum dan berkata padaku, 'Aku menyerahkan Kyuhyun padamu. Jagalah ia baik-baik. Kau pasti sangat tahu jelas seberapa besar cintaku padanya. Jangan pernah sakiti dia. Karena sekali kau menyakitinya, aku tak akan pernah memaafkanmu.' Hanya itu yang ia ucapkan. Melepasmu untukku karena ia tahu dirinya tak mungkin bisa menjagamu selamanya."
Kyuhyun menangis sejadi-jadinya. Tuhan….cobaan apa lagi ini? Kemudian tangannya bergerak memegang dadanya yang berdenyut sakit. "Kau tahu? Kenyataan ini sungguh membuatku sakit. Jadi inilah alasan mengapa kau tak melarangku menikah dengannya?"
"Aku tak bisa berbuat apapun saat ia meminta padaku untuk mengambil alih tugasku menjagamu. Ia hanya meminta beberapa waktu sebelum ia benar-benar harus melepasmu."
Kyuhyun kembali terdiam. Ini begitu menyakitkan. Ia tak bisa membayangkan seberapa sakitnya hati Siwon kala itu. Ditambah lagi sikapnya yang selalu menolak niat baik Siwon terhadapnya. Kyuhyun tak mampu membayangkan bagaimana kerasnya perjuangan Siwon melawan penyakit yang menderanya dan seberapa sakit hatinya menerima penolakan dengan berbagai macam kata kasar dari Kyuhyun. Menyesal. Ya hanya satu kata itu yang mampu menggambarkan perasaannya kini.
"Maafkan aku Kyu…."
"Tidak, kau tidak bersalah. Aku yang salah. Aku manusia bodoh yang tidak punya perasaan. Aku bodoh Changmin-ah…..Aku bodoohh…."
"Kyu…"
"Bisakah kau meninggalkanku?"
"Kyu….tapi aku….."
"Aku mohoonn…"
Changmin terhenyak mendapati Kyuhyun berdiri, kemudian membungkukkan tubuhnya. Seolah benar-benar memohon padanya. "Baiklah…." Kemudian dengan berat hati Changmin melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar rumah sakit dengan nomor 407 itu.
.
.
A Regret
5 days past
.
.
"Siwonnie hyung~…. Bangunlaahh…." Suara itu terdengar lirih. Terdengar pilu. Bahkan tersirat keputus asaan yang dalam dari suara parau yang mengalun pelan itu. Tangan Kyuhyun menggenggam erat tangan kanan Siwon. Seolah ingin menarik Siwon agar kembali bangun dan tersenyum padanya.
"Hyung….hiks…" Kembali air matanya jatuh tanpa sedikitpun ia minta. Pandangannya tertuju pada mesin elektrokardiograf yang menggambarkan garis bergelombang tak putus dengan tempo pelan. Seolah menandakan detak jantung namja yang tengah terbaring itu sangat lemah. Lalu kembali menatap wajah Siwon yang masih tampak pucat.
"Hyung…. dapatkah kau mendengarku? Dengarkanlah aku hyung…."
"…."
"Mengapa kau melakukan ini semua? Mengapa hyung? Kau menyiksa dirimu sendiri. Mengapa kau tak pernah memberitahuku? Aku terus saja menganggapmu orang paling jahat sedunia. Aku terus saja membencimu tanpa tahu seberapa besar perjuangan dan pengorbanan yang kau lakukan untukku….hiksss…"
"Aku tak pernah memintamu mencintaiku. Aku tak pernah memintamu berkorban untukku. Tapi mengapa?"
"Sejak kapan? Sejak kapan perasaanmu itu muncul? Bahkan dulu aku kira kau benar-benar membenciku hingga kau terus mengerjaiku dan mempermalukanku di depan semua orang di sekolah. Kau bilang kau hanya ingin mendapatkan perhatianku. Mengapa caramu seperti itu? Mengapa kau membuatku membencimu?"
"Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu. Aku tak pernah tahu siapa dan bagaimana dirimu yang sebenarnya. Kebencian ini yang membutakan mataku. Menulikan pendengaranku. Hingga aku tak pernah menyadari betapa kau sangat mencintaiku. Meski kau sering menyebutkan kata-kata kasar terhadapku, namun kau tak pernah meninggikan suaramu. Meski kau marah padaku, kau tak pernah membentakku. Meski dulu kau sering mengerjaiku, namun kau tak pernah mengeraskan suaramu. Kau berkata dengan nada datar dan entah mengapa semua itu malah menambah kebencianku padamu."
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Mengapa kau sebodoh ini? Aku sama sekali tak menginginkan ini. Aku tak pernah memintamu memberikan hidupmu untukku hyung…. hiksss.."
"Aku mohon bangunlah. Ceritakan padaku semuanya. Marahi aku! Bentak aku! Buat aku merasakan rasa sakit yang kau rasakan. Bangunlaahhh…hiikksss"
"Mengapa kau membuatku menyesal seperti ini? Mengapa kau membuatku mencintaimu di saat seperti ini? aku mohon jawablah Hyung… Mengapa kau datang ke dalam kehidupanku tanpa menyapaku atau meminta ijin padaku? Kau bersembunyi. Kau mencintaiku dalam diammu. Lalu apa yang dapat aku lakukan?"
Tangisan Kyuhyun semakin keras. Kyuhyun mengeluarkan seluruh perasaannya. Seluruh pertanyaannya. Pertanyaan yang tak akan pernah mampu Siwon jawab.
.
.
A Regret
.
.
Derap langkah itu terdengar di tengah kesunyian rumah yang sudah seminggu lebih tak dihuni. Kyuhyun melangkahkan kakinya begitu pelan. Wajahnya tampak pucat dan langkahnya tampak tertatih. Sudah seminggu lebih ia tak kembali ke rumah –yang dihuninya bersama Siwon— karena sibuk menunggu Siwon di Rumah Sakit.
Namun hari ini ia terpaksa kembali menginjakkan kakinya di sana untuk mengambil beberapa pakaian dan barang-barang Siwon. Changmin memaksanya untuk mengambil beberapa barang Siwon dan sedikit beristirahat di rumah. Meski berulang kali Kyuhyun menolaknya, Changmin tetap kukuh memaksanya. Changmin berjanji akan menjaga Siwon selama Kyuhyun pulang ke rumah. Dan pada akhirnya, Kyuhyunpun mengalah dan menuruti permintaan Changmin.
CIIIITTT!
Kyuhyun membuka pintu kamar Siwon pelan. Debu. Ya itulah hal yang pertama kali menyapanya saat kakinya mulai melangkah menapaki lantai kamar Siwon. Kyuhyun terdiam saat kedua obsidiannya menatap dinding kamar Siwon. Ini pertama kalinya Kyuhyun masuk ke dalam kamar Siwon. Dan untuk pertama kalinya melihat hal yang membuatnya benar-benar terperanjat. Seluruh dinding kamar Siwon dipenuhi dengan fotonya. Layaknya sebuah museum yang memajang barang-barang antic dan berharga. Di setiap fotonya, tertulis tanggal dan beberapa catatan kecil di bawahnya.
Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekati foto dirinya yang terpajang indah di dinding kamar. Dimulai dari bagian pinggir dekat pintu. Foto dimana ia masih menggunakan seragam sekolah. Tampak asik dengan beberapa buku bacaan. Dengan kacamata yang membingkai matanya.
Tertulis : Kyuhyun yang sedang membaca buku terlihat sangat cantik di mataku. Lihatlah kacamata yang dipakainya! Itu kacamata yang aku berikan padanya. Ya walaupun aku memberikannya secara diam-diam tanpa mencantumkan namaku, namun aku senang. Bukankah itu berarti ia sangat mengharga pemberian orang lain? Tuhan,bagaimana ini? semakin lama aku semakin mencintainya.
Mata Kyuhyun tampak berkaca. Ia masih sangat ingat betul kapan foto itu di ambil. Saat ia masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah. Dan Siwon sudah memperhatikannya saat itu? Hati Kyuhyun seolah berdenyut. Kemudian kembali melangkahkan kakinya melihat foto berikutnya. Foto dimana ia menggunakan kaus biru kesayangannya tengah tertidur di bangku sebuah bus pariwisata. Memorinya berusaha mengingat masa itu. Masa dimana ia melakukan kunjungan study tour ke daerah Mokpo bersama teman-teman satu angkatannya. Dan karena begitu lelahnya, iapun tak mampu menahan kantuknya dan tertidur di dalam bus.
Tertulis : Kyuhyun yang sedang tidur. Bukankah ia sangat cantik? Meski dengan mulut yang terbuka ia begitu menawan. Aku rasa dia sangat lelah. Hhhh, ingin rasanya aku berada di sampingnya dan menjadi sandaran tidurnya.
Kyuhyun tersenyum tipis kemudian kembali melihat foto berikutnya. Foto dimana ia tengah berada di sebuah taman. Menangis. Hey, mengapa Siwon bisa mendapatkan foto itu? Apakah ia benar-benar stalker sejati? Kyuhyun masih ingat saat itu adalah hari pertama ia divonis mengidap penyakit pembengkakan otak dan dinyatakan tak akan mampu bertahan hidup skala panjang.
Tertulis : Kyuhyunku menangis. Di sebuah taman pusat kota. Sendirian. Apa yang terjadi padanya? Kyuhyun bukanlah orang yang mudah menangis. Kyuhyun anak yang tegar. Apa yang sedang dialaminya hingga ia menangis seperti itu? Tuhan, ingin rasanya aku menghampirinya. Memeluknya. Memberikan kehangatan padanya. Menenangkannya. Menjadi sandarannya. Kyuhyunnie, aku mencintaimu.
Kyuhyun menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Siwon, namja itu benar-benar sudah lama mencintainya. Mengapa Siwon seperti ini? Kyuhyun dapat merasakan betapa tulusnya untaiankata yang dtulis Siwon. Kembali Kyuhyun mengalihkan pandagannya pada foto di sebelahnya. Terlihat dirinya yang tengah terkulai tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan mata yang terkatup dan beberapa alat medis yang tersemat pada tubuhnya.
Tertulis : Tuhan, Kyuhyunku sakit. Ia tak berdaya. Kyuhyunku divonis terkena penyakit parah. Tuhan, aku mohon buatlah aku menggantikan posisinya T_T
Deg!
Entah mengapa hati Kyuhyun berdegup kian kencang. Sakit, ya hatinya seolah tertoreh perih. Apa yang ada di benak Siwon kala itu? Mengapa Siwon benar-benar berniat bahkan nekat untuk menggantikan posisinya? Kyuhyun menatap foto di sebelahnya. Dirinya yang menggunakan setelan jas berwarna abu tua. Saat promnite kelulusannya saat itu. saat dirinya dinyatakan sudah sembuh total dan kembali beraktivitas seperti semula.
Tertulis : Betapa bahagianya aku melihatnya kembali tersenyum seperti itu. Kyuhyunku sudah sembuh. Terimakasih Tuhan telah mengabulkan doaku menggantikan posisinya. Meski ini semua bukan sepenuhnya kehendakmu, namun aku masih bersyukur karena ia sudah kembali sehat dan beraktivitas seperti semula. Meski awal penderitaanku yang sebenarnya akan segera dimulai.
"Siwoonn….." Kyuhyun berucap lirih. Hatinya seolah tak sanggup menerima kenyataan yang seperti ini. Ia membenci orang yang sangat mencintainya. Dan itu adalah kebodohan paling besar yang pernah Kyuhyun lakukan. "Kau bodoh Choi Siwon….Kau bodoh!"
Kyuhyun kembali melanjutkan pandangannya pada foto berikutnya. Foto pernikahannya bersama Siwon di sebuah gereja kecil. Dengan pakaian serba putih di tengah altar tengah saling menatap satu sama lain.
Tertulis : Hari terindah dan teristimewa sepanjang hidupku. Terimakasih karena aku dapat menikah dengannya Tuhan. Aku berjanji akan selalu menjaganya dan akan selalu mencintainya. Aku berjanji tak akan pernah marah padanya, tak akan pernah membentaknya. Aku berjanji hanya ada dia di sisa akhir usiaku untuk aku cintai. Kyuhyun-ah…Aku sangat mencintaimu. Dan atas nama cinta, aku berjanji tak akan pernah menyia-nyiakannya.
Kembali bulir mata itu mengalir dengan begitu indah dari pelupuk matanya. Isakanpun terdengar lirih. Kyuhyun merutuki kebodohannya berulang kali. Andai waktu dapat diulang, Kyuhyun hanya ingin memperbaiki kesalahannya dan mencintai Siwon yang telah mencintainya begitu dalam. Ia melanjutkan kembali melihat beberapa foto yang terpajang rapi. Foto saat ia tengah tertidur di kamarnya, saat ia sedang makan, saat ia sedang bermain dengan game kesayangannya. Siwon mempunyai semua fotonya. Semua. Dan matanya terhenti pada sebuah foto terakhir, foto Siwon yang tengah duduk seorang diri di sofa ruang tengah dengan memamerkan senyuman indahnya.
Tertulis : Waktuku tak banyak lagi. Aku harus menyiapkan hatiku untuk melepaskannya. Ini konsekuensi yang harus aku terima. Meski hati ini berkata tidak. Meski hati ini menolak. Namun aku harus menerimanya. Mau tidak mau. Tugasku telah selesai menjaganya. Kyuhyunku akan hidup bahagia bersama orang yang mencintai dan dicintainya. Changmin. Dan aku telah memberikan seluruh asset perusahanku kepadanya. Kyuhyunnie~ aku akan selalu mencintaimu.
Drrrttt…. DRrrrttt
Ponsel Kyuhyun bergetar. Dengan segera Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan teleponnya.
"Yeobseo….?"
"…."
"Ne Chwangie, aku masih di rumah. Ada apa?"
"…"
DEEGG!
Tangan Kyuhyun tampak bergetar.
"Ti….tidak….tidak mungkin…"
"…"
Tuukk!
Dan ponsel itupun terjatuh menyapa lantai. Begitupun tubuh lemah Kyuhyun yang terjatuh dengan bertumpu pada kedua lututnya. Kedua pandangan matanya terlihat kosong. Dan bulir bening indah itu kembali membasahi wajahnya tanpa ia minta.
"Siwon…"
Ps : Cinta….. Semua orang memiliki harapan akan mendapatkan kebahagiaan dengan merasakan cinta, begitupun denganku. Namun, bukankah cinta itu datang…..untuk pergi? Namun aku tak pernah menyesal mencintaimu. Maafkan aku yang selalu menyakitimu,Cho Kyuhyun.
Kalimat yang tertulis tepat di dinding depan Kyuhyun. Posisinya yang bertumpu pada kedua lututnya dan menghadap dinding membuatnya tak sengaja membaca untaian kalimat yang ditulis Siwon. Membuat hatinya semakin tersayat.
"Tidak mungkin…"
.
.
Apa yang sebenarnya disampaikan oleh Changmin?
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Siwon pergi meninggalkannya? Atau kisah Orpheus dan Eurydice akan terulang kembali?
TBC
.
.
An : Hallo readers ! ^_^ ada yang kangen dengan cerita ini? Karena mempertimbangkan berbagai macam alasan ff ini kembali cherry lanjutkan. Sebenarnya cerita ini mau cherry discontinue karena suatu alasan, tapi karena ada beberapa readers yang meminta cherry melanjutkan cerita ini, hingga mengirimkan cherry PM *terharu* jadilah cherry lanjutkan kembali. Bagaimana chapter ini? Berikan komentar ya ^^.
Terimakasih untuk semua yang sudah memberikan reviewnya. Terimakasih pada temen-temen cherry yang udah nagih ff ini terus ^^ hihi~
The last, Mind to give me review? ^^
