A Regret
Cast :
# Cho Kyuhyun
# Choi Siwon
And others ^^
.
.
Ketika semuanya telah sampai di titik ujung nadir
Ketika semuanya terasa sudah terlambat
Masihkah ada seberkas harapan?
Masih adakah kesempatan kedua untuk membayar segala kesalahan?
Kesalahan terhadap orang yang selama ini ia sia-siakan
Cho Kyuhyun entah bagaimanapun caranya
Akan menebus semua kesalahannya
Kepada Choi Siwon, suaminya
.
.
A/n : Sebelumnya cher hanya ingin meminta maaf karena udah ninggalin ff ini begitu lama dan bahkan ninggalin dunia tulis hehe.. /bow
Oke, lets go !
Chapter 4 is Up!
.
.
Laki-laki dengan surai brunette sedikit ikalnya itu terlihat tengah fokus dengan jalanan lurus yang terbentang di hadapannya. Kaki kanannya menekan kuat pedal gas sehingga mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan di luar batas normal. Beruntung suasana jalanan saat ini terbilang sepi. Gumpalan awan hitam terlihat di atas langit. Seolah mengiringi mobil audi hitam yang tengah melaju kencang dengan seorang namja manis didalamnya.
Berulang kali ia terlihat menggigit-gigit kecil bibir plumnya yang tampak pucat. Bulir keringat perlahan mengalir di pelipisnya. Kedua obisidian yang memandang lurus ke arah jalanan di hadapannya itu terlihat sedikit bengkak. Menangis. Ya hanya itu yang dapat ia lakukan setelah menjawab panggilan telepon dari kekasihnya, Shim Changmin beberapa menit yang lalu.
"Jantung Siwon berhenti berdetak"
"Sekarang dia ada di Ruang ICU untuk mendapatkan penangan"
"Aku tidak tahu, dokter hanya bilang untuk banyak berdoa"
Kalimat yang diucapkan Changmin terus berputar layaknya sebuah kaset di dalam otaknya. Sekuat tenaga ia menahan bulir bening yang tampak telah bergumul kembali dipelupuk matanya. Namun ia tak sanggup. He was sobbing so hard.
Jantung Siwon berhenti berdetak
Kalimat itu layaknya sebuah petir yang menyambar saat cuaca cerah. Atau layaknya suara dentuman bom yang meledak ditengah kerumunan orang banyak yang tengah berpesta. Semakin Kyuhyun memikirkan kalimat tersebut semakin hatinya tertoreh perih. Sakit. Amat sakit.
"Jangan tinggalkan aku hyung…"
"Jebal"
"Ber…..bertahanlah…"
Kembali bulir air mata itu keluar tanpa ia minta. Merasa seolah tubuhnya ditusuk belati yang amat tajam. Jika ada sebuah kata di atas kata sakit, perih ataupun terluka maka kata itulah yang sangat pantas mendeskripsikan keadaannya saat ini. Tangannya menggengam kuat setir yang ada di hadapannya. Berulang kali ia menginjak pedal rem untuk menghindari mobil yang hampir saja ia tabrak. Suara klakson mobil pun terdengar memekakkan telinga. Namun Kyuhyun tak menghiraukan. Pandangannya tetap lurus ke depan.
"Kau sudah pulang Kyu? Aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi."
Namun tanpa berpikir panjang, Kyuhyun membuang air hangat yang telah disediakan Siwon dan menggantinya dengan air biasa. Lebih baik mati kedinginan daripada mandi dengan air hangat yang telah disediakan orang yang dibencinya, pikirnya saat itu.
"Kau sudah selesai mandi Kyu? Aku sudah menyiapkan makan malam, mari makan bersama"
Tanpa menghiraukan kalimat Siwon, Kyuhyun merapatkan selimutnya dan lebih memilih memulai mengarungi dunia mimpinya. Lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan buatan orang yang dibencinya, pikirnya saat itu.
Tak hanya terjadi sekali atau dua kali. Penolakan ini terjadi berulang kali. Namun Siwon tak pernah lelah. Ia terus menyiapkan makanan untuk Kyuhyun meski tak sedikitpun makanan tersebut disentuh oleh namja bersurai brunette itu. Dan pada akhirnya hanya Siwonlah yang makan dengan ditemani kesendirian.
Mengingat hal itu Kyuhyun semakin merutuki kebodohannya selama ini. Kebodohan dirinya yang tak bisa melihat ketulusan seorang Choi Siwon. Kebodohan dirinya yang sangat egois. Ia menyesal. Demi apapun itu ia sungguh amat menyesal. Telah menyia-nyiakan orang yang mencintainya dan merelakan apapun demi dirinya. Walau nyawa sekalipun.
"Aku mohon…"
.
.
Dan disinilah ia, di hadapan sebuah lonceng besar di dekat sebuah patung Budha besar yang terdapat di tengah sebuah kuil Sanghunsa. Kuil yang berada di tengah Nami Island. Tak perlu dijelaskan, seberapa besar perjuangan Kyuhyun untuk dapat sampai ke tempat ini. Kuil yang saat ini ia percayai dapat membantunya mengubah takdir. Takdir yang sebelumnya sempat diubah oleh suaminya, Choi Siwon.
Takdir yang telah dikodratkan.
Takdir yang telah digariskan.
Takdir yang menurut kebanyakan orang tak dapat diubah.
Takdir yang mengharuskan dirinya untuk merasakan penyakit dan mungkin…..takdir yang membuatnya tak dapat menghembuskan napasnya lagi.
Takdir yang mengharuskannya… mati.
Kyuhyun menarik napas dalam. Berusaha menetralisir perasaan yang tengah berkecamuk dibenaknya. Walaupun ia bukan termasuk kedalam kategori orang-orang yang percaya akan hal-hal mistis, namun ada sesuatu yang membuatnya harus mempercayai semua hal-hal diluar nalar ini. Sesuatu yang membuatnya harus membuktikan.
Meskipun logikanya berulang kali mengelak untuk mempercayainya. Namun perasaannya berkata lain. Ia harus membuktikan. Karena ini adalah satu-satunya harapan. Harapan dan mungkin kesempatan terakhirnya untuk membayar. Membayar segalanya. Membayar semua yang telah dilakukan suaminya, Choi Siwon. Apapun itu, ia akan berusaha menebus kesalahannya.
Dengan tangan yang tampak bergetar, Kyuhyun berusaha menggapai sebuah tali yang menjulur dari dalam lonceng tersebut. Beberapa kali ia berusaha mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Menelan ludahnya dengan sangat berat.
"Dengan apapun itu, aku harus membayar dan menebus semuanya" ucapnya sebelum pada akhirnya ia pun menarik tali tersebut. Menghasilkan sebuah suara lonceng yang terdengar begitu memekakkan. Bunyi lonceng terdengar menggema ke seluruh penjuru ruangan kuil. Disertai dengan suara sambaran petir yang begitu menggelegar. Layaknya alunan musik keras yang terdengar. Kyuhyun terperanjat kaget. Suara lonceng dan sambaran petir seolah menjadi satu kesatuan yang dapat menghancurkan gendang telinganya kapan saja.
Iapun jatuh tersungkur karena merasakan getaran dari bawah tanah. Kedua obsidiannya menyusuri penjuru ruangan kuil yang tampak bergetar. Setidaknya tampak bergetar dihadapannya. Tubuhnyapun turut bergetar. Bulir keringat mulai mengucur deras dari telapak tangan maupun pelipisnya. Samar-samar ia mendengar bunyi gemericik air yang menghantam tanah. Hujan. Ya petir disertai hujan deras serta kuil yang masih tampak bergetar. Takut. Tentu saja Kyuhyun tampak ketakutan. Namun tekadnya yang begitu kuat membuat dirinya dapat menghalau rasa takutnya. Meskipun sedikit.
Samar-samar ia mendengar gaungan sebuah suara yang begitu keras.
"Berani sekali kau membunyikan lonceng ini anak muda"
Suara yang entah darimana itu terdengar. Membuat Kyuhyun terjengit dan perlahan bangkit dari posisi terjatuhnya.
"Si….siapaa Kau?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Hahaha kau sudah membunyikan lonceng ini dan kau masih bertanya aku siapa?"
Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya. Hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Guna menenangkan dirinya yang tengah dilanda ketakutan luar biasa.
"Eumm….aku….." Kyuhyun terbata. Kedua obsidian indahnya tiada henti menyusuri seluruh ruangan kuil namun ia tak melihat ada sesuatu disekitarnya. Lalu darimanakah asal suara itu?
"Apa yang kau inginkan?"
Kyuhyun terdiam.
"Cepat katakan padaku apa permintaanmu!"
Kyuhyun berusaha berdiri tegak. Otaknya berusaha menyusun kalimat yang hendak diucapkannya.
"Ah kau ingin menukar nyawa suamimu dengan apa yang kau miliki bukan?"
"Ba—bagaimana kau bisa tahu?"
"Cih, aku rasa kau bukan orang yang pintar! Tentu saja aku tahu."
"A—aku…."
"Apa yang akan kau berikan kepadaku sebagai penggantinya?"
Kyuhyun terdiam. Apa yang akan ia berikan? Hal berharga apa yang ia punya untuk dapat dijadikan pengganti dari nyawa suaminya? Ia sama sekali belum memikirkan hal tersebut. Yang ia lakukan hanyalah berusaha mendapatkan kesempatan terakhirnya dengan mendatangi kuil ini.
"A—aku…."
"Kau belum memikirkan apa yang akan kau persembahkan kepadaku sebagai penggantinya?"
Kembali Kyuhyun terdiam.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan menentukan apa yang bisa kau berikan kepadaku sebagai penggantinya!"
Untuk beberapa saat Kyuhyun terdiam, sebelum pada akhirnya ia mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk berkata, "Sebenarnya kau ini apa? Mengapa aku tak bisa melihatmu?" Kyuhyun bertanya namun hanya hembusan angin dan suara gemericik air yang terdengar.
"Jawab aku!"
Drrrtttt drrrrttttt
Getaran ponselnya terdengar. Iapun segera merogoh kantung celananya. Mendapati sebuah panggilan masuk dari seseorang yang masih menyandang gelar sebagai kekasihnya, Sim Changmin.
Tangannya bergetar. Firasat buruk menyergapnya. Haruskah ia menjawab panggilan itu?
"Angkatlah! Pacarmu hanya ingin mengatakan bahwa suamimu telah meninggal!"
Kyuhyun terhentak. Meninggal?
Tidak mungkin.
"A—apa maksudmu?"
Namun tak ada jawaban. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut. Ya Kyuhyun sangat takut. Apa yang harus ia lakukan?
Tidak mungkin
TUK !
Ponsel itupun terjatuh tanpa sempat ia jawab panggilan masuk tersebut.
"A—aku mo—mo—mohoooonnnn" Kyuhyunpun terjatuh dengan bertumpu pada kedua lututnya. Wajahnya tertunduk. Air mata kian deras mengalir dikedua sisi pipinya. Seolah memohon kepada sesuatu yang berada dihadapannya. Sesuatu yang ia sendiripun tak dapat melihatnya.
"hahaha kalian ini manusia yang sangat lucu." Suara itu kembali terdengar. Terdengar mengejek dengan beberapa decakan yang turut menyertainya.
"A—apa maksudmu lucu?" tanya Kyuhyun dengan suara yang masih bergetar.
"Beberapa tahun yang lalu suamimu datang kesini dengan penuh percaya diri. Memintaku untuk menyelamatkanmu. Memintaku untuk menyembuhkanmu dari penyakitmu. Dan sebagai penggantinya ia menyerahkan dirinya. Menyerahkan dirinya agar merasakan apa yang kau rasakan."
Gotcha! Ucapan makhluk tak kasat mata itu serupa dengan apa yang dibacanya di surat yang sebelumnya dituliskan Siwon untuknya.
"la—lalu sekarang aku mohon tolonglah aku! A-aku bisa menyerahkan diriku kembali. Berikan penyakit itu kembali kepadaku. Aku mohooonn"
Hening. Tak ada jawaban
"Aku mohoon. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?"
"Ambillah semua yang ada pada diriku! Ambillah! Apapun itu!" ucapnya dengan penuh penekanan.
"Aku mohon...ja—jawab aku"
"Jawab aku….!"
"Apa kau yakin kau siap memberikan apapun yang kau punya sebagai pengganti nyawa suamimu?"
Suara itu kembali hadir. Membuat Kyuhyun tersentak dan langsung saja menganggukkan kepalanya.
"Aku yakin!"
"Apapun itu?"
"I—iya apapun itu! Ambillah! Asalkan kau menyelamatkannya!"
"Aku ingin suaramu!"
DEG !
Suara?
"A—apa? Suaraku?"
"Ya, Suaramu!"
Kyuhyun terdiam. Tampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya kembali.
"Ambillah! Apapun yang kau inginkan! Ambillah!"
"Kau tak akan pernah bisa mencabut kembali kalimat yang telah kau ucapkan anak muda! Aku akan mengambil pita suaramu dan kau tak akan pernah dapat mengeluarkan suara seumur hidupmu. Itu konsekuensi yang akan kau terima!"
"Apapun itu! Apapun itu aku sanggup menerimanya. Tapi aku mohon! Sembuhkan suamiku! Buang penyakitnya! Selamatkan dia!"
"Itu hal yang mudah! Dan satu lagi"
"Satu lagi?"
"Aku memberikanmu waktu 7 hari bersama suamimu! Gunakanlah waktu itu sebaik mungkin."
"Apa maksudmu? Kau bilang kau hanya akan mengambil suaraku."
"Kau bilang apapun bukan?"
Kyuhyun terdiam.
"Kau tak punya pilihan lain!"
"Ba—baiklah. Apa yang kau inginkan lagi?"
"Aku memberimu waktu 7 hari. Sebelum pada akhirnya aku akan membalikkan waktu."
"Maksudmu aku akan meninggal?"
"Sebelum pada akhirnya aku membalikkan waktu. Aku sama sekali tak berkata bahwa kau akan meninggal."
"…"
"Baiklah jika kau setuju dengan perjanjian ini, maka Tarik kembali tali lonceng tersebut! dan perjanjian ini pun akan sah. Suamimu akan sadar dan sembuh dari penyakitnya."
Tanpa berpikir panjang dan mencerna baik-baik apa maksud dari membalikkan waktu, Kyuhyunpun mengiyakan. Tak peduli seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan. Tak peduli jika nantinya ia tak bisa bersuara. Tak peduli apapun yang akan terjadi padanya kelak. Saat ini ia hanya ingin Choi Siwon selamat. Ia hanya ingin Choi Siwon sembuh.
Kyuhyun bangkit dari posisinya. Dengan tangan yang tampak sedikit bergetar ia mengambil tali lonceng tersebut kemudian menariknya.
Choi Siwon aku mencintaimu…
Suara dentingan loncengpun kembali terdengar disertai hantaran petir yang menggema. Tubuh Kyuhyun bergetar saat dirasakan kepalanya seolah dihantam sebuah batu keras. Iapun terjatuh. Lemas. Kedua obsidiannya bahkan tak mampu lagi melihat hal-hal aneh yang terjadi disekitarnya.
Apapun itu akan aku lakukan…
Demi menbus kesalahanku….
Choi Siwon aku mencintaimu…
Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Kyuhyun sebelum pada akhirnya ia kehilangan kesadarannya. Legenda Orpheus dan Eurydice pun kembali terulang.
Cinta….
Sebuah kata yang mempunyai banyak makna
Tanggung jawab
Pengorbanan
Adalah secuil arti dari kata cinta itu sendiri
.
.
"Kyu…."
Suara itu terdengar lembut mengalun tepat disamping telinganya. Dengan perlahan namja bersurai brunette itu membuka kedua obsidiannya yang sebelumnya tertutup rapat. Seberkas cahaya perlahan masuk menelusup retina matanya. Putih. Adalah warna dominan yang ia lihat saat kedua obsidiannya terbuka sempurna. Rumah sakit, ya saat ini pasti ia berada di rumah sakit. Mendengar suara mesin elektrokardiograf yang terletak di samping kirinya dan selang infus yang tersemat di punggung tangan kanannya.
Jantungnya berdegup kencang saat didapatinya seorang namja dengan bibir jokernya tengah tersenyum lebar di hadapannya sembari menggenggam erat tangannya.
"Kau sudah sadar Kyu… Syukurlah."
Kyuhyun tersenyum. Bahagia. Ya ia sangat bahagia. Melihat namja yang notabene adalah suaminya ini tersenyum di hadapannya. Bahagia karena permintaannya terkabul dengan begitu cepat. Bahagia karena Siwon telah sadar. Bahagia karena Siwon telah menemukan kembali hidupnya.
"Kyu mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Siwon sembari mengernyitkan kedua alisnya. Kyuhyun kembali tersenyum.
"Mengapa hanya tersenyum? Jawab aku! Kau membuatku khawatir!"
Siwon menggerakkan tangannya. Mengacak lembut surai brunette halus milik Kyuhyun.
Aku…
DEG!
Aku….
Kyuhyun mencoba membuka mulutnya. Mencoba bersuara. Namun yang ia lakukan hanya membuka mulut dan membentuk sebuah kata dari mulutnya tanpa ada sedikitpun suara yang keluar. Ia hanya mampu berbicara dalam hati.
Tanpa membutuhkan waktu lama Kyuhyun memaksakan diri bangkit dari tidurnya. Kemudian memeluk namja yang duduk di pinggir tempat tidurnya
Aku takut kehilanganmu
Aku mencintaimu Choi Siwon
Kyuhyun mengucapkan kalimat tersebut dengan menggunakan mulutnya. Namun lagi-lagi tak ada suara yang keluar.
"Kyu…"
Kyuhyunpun mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Siwon. Menghirup aroma alami milik suaminya.
7 hari. Ya waktu yang dimilikinya hanya 7 hari bersama suaminya. Sebelum makhluk yang entah apa itu membalikkan waktu. Ia masih belum mengerti apa maksud dari "membalikkan waktu" yang dimaksud makhluk astral tersebut. Yang jelas, ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.
Ia mencintai Choi Siwon begitupun sebaliknya.
Apapun itu akan aku lakukan. Aku mencintaimu Choi Siwon.
.
.
TBC
.
.
A/n : Hallo readers *gatau mash ada yang baca atau enggak* LOL. Kalaupun kalian baca mungkin kalian bakal baca ulang ff ini dari awal. Karena emang udah hampir 1 tahun. Ehem hampir 1 tahun cherry gak lanjutin ff ini. Mianhae /pundung dipojokan. Sebelum lanjutin ff ini pun Cherry baca ulang cerita ini karena udah lupa LOL *ditimpuk*. Beneran setahun ini Cherry hiatus dari dunia tulis menulis so sorry. Tapi akhir-akhir ini lagi semangat pengen nyelesein ff ini. Awalnya sempet desperate bgt g bisa ngepost ff ini di ffn ffn diblokir ga bisa buka dikompi dan baru sadar. Sebenernya ff ini udah selesa dari beberapa hari lalu tapi g bsa di upload /nangis. tapi thanks to google for helping me lah. LOL
Back to story, ada yg bisa nebak kedepannya gimana? ada yang tahu maksud dari suara aneh itu "membalikkan waktu?" hihi kalo ada yg punya ide, harap tulis di kotak review yaaa ~ cherry kangen review kalian… hihi
Akhir kata Cherry ucapin
Gamsahamnida ~
Mind to gimme review?
