A Regret
Cast :
#Cho Kyuhyun
#Choi Siwon
WONKYU
And others ^^
.
.
Chapter 5 is up !
Fluff ^^
Happy reading
.
.
Hangat.
Ya satu kata itulah yang dapat mendeskripsikan perasaan yang dirasakan Siwon saat ini. Bagaimana tidak? Sudah beberapa jam belakangan, Kyuhyun memeluknya dengan sangat erat –dengan posisi mereka yang saling bersebelahan di atas ranjang tidur rumah sakit-. Ya karena kondisinya, Kyuhyun masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Kyu~" ucap Siwon lembut seraya menyisir halus surai kecoklatan milik Kyuhyun dengan menggunakan jemari panjangnya. Sesekali pria dengan senyum jokernya itu mencium lembut surai indah di sampingnya. Dan oh, jangan lupakan jantungnya yang berdegup kian kencang saat bibir tipisnya menyentuh surai kecoklatan tersebut. Harum. Ya, aroma yang begitu memabukkan. Aroma yang selama ini ia idamkan untuk selalu dihirup. Aroma yang selalu ia bayangkan.
Kyuhyun menggeliat pelan. Namun tak ada tanda sama sekali matanya akan terbuka. Ia malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh namja disebelahnya.
Siwon tidak tahu apa yang terjadi pada istri kesayangannya itu. Kyuhyun berubah. Bahkan cenderung aggressive pada dirinya. Siwon merasa seolah sedang berada di alam mimpi saat ini. Kyuhyun yang ia kenal tak pernah bermanja seperti ini. Kyuhyun yang ia tahu bahkan selalu menghindari kontak fisik dengannya. Jangankan kontak fisik, bahkan menatap Siwonpun Kyuhyun seolah enggan. Namun sekarang? Ya disinilah mereka. Di atas ranjang rumah sakit yang tak bisa dikatakan cukup luas. Berpelukan. Kyuhyun memeluk Siwon dengan sangat erat. Berulang kali Siwon memukul pelan wajahnya. Atau mencubit-cubit kecil permukaan tangannya –guna memastikan apakah semuanya benar-benar sebuah realita. Realita yang indah.
"Aw!"
Lenguhan kecil tersebut adalah jawaban.
Siwon menatap langit-langit kamar rumah sakit. Putih. Dominan warna putihpun kini menghiasi hatinya saat ini. Ia tersenyum kecil. Kedua obsidiannya berbinar. Menunjukkan rasa bahagia luar biasa. Bagaimana tidak? Dokter menyatakan ia telah sembuh total dari penyakitnya. Dokter hanya berkata bahwa ini semua adalah keajaiban. Begitupun dengan keadaannya saat ini. Mendapati Kyuhyun memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin lepas merupakan keajaiban luar biasa yang diberikan Tuhan kepadanya.
Berulang kali ia mengucap rasa syukurnya. Ia tak mau ambil pusing dengan memikirkan bagaimana ia bisa sembuh. Yang ia tahu, kebahagiannya baru saja dimulai. Ya, yang Siwon tahu.
Kyuhyun kembali menggerakkan tubuhnya. Ia mengangkat wajahnya. Mendapati Siwon yang tengah tersenyum lembut kearahnya. Kyuhyun membalas dengan senyum lemah. Kepalanya masih terasa berat. Siwon menggeser sedikit tubuhnya guna memberikan space bagi Kyuhyun untuk leluasa bergerak. Namun dengan cepat, Kyuhyun menghalau pergerakan tubuh Siwon dengan kembali memeluknya erat.
Siwon terdiam beberapa saat.
"Eum.. bagaimana keadaanmu Kyu?" Setelah berhasil menetralkan detak jantungnya, Siwon bertanya. Kyuhyun hanya menganggukkan pelan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa yang terjadi denganmu hm?"
Kyuhyun menggeleng lemah.
"Mengapa kau tak menjawab pertanyaanku, Kyunnie?" Siwon menautkan kedua alisnya. Merasa aneh pada Kyuhyun yang sama sekali belum membuka mulutnya untuk bersuara.
Kyuhyun terdiam. Hanya hembusan napasnya yang terdengar.
"Tidak apa-apa jika kau belum ingin bicara. Yang terpenting keadaanmu sudah mulai membaik."
Kyuhyunpun menyamankan posisinya memeluk tubuh Siwon –dengan posisi kepalanya yang berada tepat di atas dada Siwon.
Siwon kembali mengelus lembut pucuk kepala Kyuhyun. "Jika kau masih lelah, tidurlah." Yang hanya dijawab dengan gelengan pelan dari Kyuhyun.
Siwon menghembuskan napas berat. "Baiklah, kau mau aku melakukan apa?"
Kyuhyun mengangkat wajahnya. Menatap Siwon dengan tatapan yang tak dapat Siwon artikan.
"Hey, aku tak mengerti dengan tatapanmu! Jangan hanya menatapku seperti itu~ Jawab pertanyaanku! Bicaralah Kyunnie~" ucapnya lembut.
Aku ingin menjawabnya tapi aku tak bisa bodoh.
Kyuhyun tersenyum kemudian membuat sebuah sign dengan menggunakan tangannya.
Mana ponselmu
Siwon kembali menautkan kedua alisnya. Tak mengerti apa maksud dari sign yang diberikan Kyuhyun.
"Aku tak mengerti." Ucapnya polos. Kyuhyun menghembuskan napas kasar kemudian kembali membuat sign dengan tangannya. Ia membuat sign menelepon dengan tangan kanannya.
"Ah maksudmu ponsel?" Tanya Siwon yang langsung saja dibalas dengan anggukan cepat dari Kyuhyun.
"Ponsel siapa? Ponselmu atau ponselku? Kembali Siwon bertanya.
Kyuhyun menunjuk Siwon tepat di dadanya.
"Ah arraseo~"
Siwon membalikkan tubuhnya. Mengulurkan tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja nakas tepat di samping ranjang. Kemudian menyerahkannya pada Kyuhyun, "Ini~"
Kyuhyun mengambil ponsel tersebut kemudian memainkan jemarinya di atas layar sentuh. Mengetikkan sesuatu. Tak lama kemudian ia memberikan kembali ponsel tersebut pada Siwon –menyuruhnya untuk membaca pesan yang ia ketik.
"Tenggorokanku sakit, aku tak bisa mengeluarkan suara. Mianhae~"
Siwon menatap Kyuhyun dengan khawatir. "Tenggorokanmu sakit? Kau mau minum? Kau tunggu sebentar di sini aku mau meminta bantuan suster untuk mengambilkanmu minum" Siwon beranjak dari tempatnya namun lagi-lagi Kyuhyun menahannya. Ia tersenyum kemudian menggeleng lemah.
"Tapi tenggorokanmu sakit. Kau belum minum sejak siuman pertamamu bukan?"
Kyuhyun mengambil ponsel di tangan Siwon kemudian kembali mengetikkan sesuatu
"Tidak apa-apa aku tidak haus. Kau tetaplah disini! Temani aku!"
"Tentu saja aku akan selalu menemanimu Kyu~ tapi kau harus minum."
Kali ini Kyuhyun menggeleng kasar.
"Baiklah-baiklah jika kau benar-benar tak ingin minum." Kemudian kembali menyamankan posisinya. Kyuhyun dengan segera memeluk kembali tubuh Siwon.
"Hey~ ada apa heung? Kau tenang saja, aku tak akan meninggalkanmu." Siwon tertawa renyah. Kyuhyun benar-benar seperti seorang anak kecil yang sedang bermanja pada orang tuanya.
Kyuhyun kembali mengetik
"Jantungmu berdetak kencang, kau nervous?"
Semburat merah perlahan terlihat dikedua pipi tirus Siwon. "Ah, berdetak kencang? Benarkah?" kemudian menggigit kecil bibir bawahnya. Awkward. Ya jujur saja, Siwon sedikit merasa awkward dengan posisinya sekarang ini.
"Ya, aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dugeum dugeum. Seperti musik disko."
Kyuhyun tersenyum jahil seolah menggoda Siwon. Siwon menggaruk kepalanya yang bahkan tak gatal. Salah tingkah.
"Bagaimana keadaanmu?"
Siwon kembali membaca pesan yang diketik Kyuhyun. Kemudian tersenyum tipis. "Keadaanku luar biasa Kyu~. Aku merasa jauh lebih baik saat ini."
"Syukurlah."
"Kemarin dokter sudah memeriksamu dan dia bilang akan memberitahukan hasilnya hari ini."
Kyuhyun tampak kaget. Kedua orbs karamelnya terlihat membulat. Kemudian jemarinya mengetik cepat sebuah pesan.
"Sudah berapa lama aku disini?"
"Baru satu hari." Jawab Siwon. Kyuhyun menghembuskan napas lega.
7 hari, ya waktu yang aku miliki hanya 7 hari bersamanya dan aku sudah menyia-nyiakan 1 hari.
"Ada apa Kyu? Mengapa kau terlihat kaget seperti itu?"
Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya. Mengetik. "Tidak apa-apa."
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Ya. Lalu bagaimana aku bisa berada disini?"
"Aku tidak tahu secara detail, tapi Changmin mengatakan padaku setelah aku siuman, kau ditemukan pingsan dipelataran rumah sakit dan sedang mengalami penanganan di ruang ICU."
Kyuhyun kembali membulatkan matanya. Pingsan? Yang Kyuhyun ingat, ia pingsan di dalam kuil setelah membunyikan lonceng dan melakukan perjanjian. Mengapa dia bisa berada di pelataran rumah sakit? Kyuhyun tampak berpikir kemudian ucapan Siwon membuyarkan segalanya.
"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa pingsan?"
Kyuhyun tampak berpikir sejenak kemudian kembali mengetik, "Aku tidak tahu dan tidak ingat."
"Heum, baiklah, tak usah dipikirkan, yang terpenting untuk saat ini keadaanmu sudah membaik. Aku sangat khawatir padamu." Siwon kembali mengelus lembut surai Kyuhyun.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kau tak percaya denganku heung?" Siwon mencubit lembut hidung bangir Kyuhyun. Kyuhyun memegang hidungnya dan membuat ekspresi wajah seolah kesakitan.
"Hey, jangan mempoutkan bibirmu seperti itu! Kau terlhat jelek!"
Kemudian dibalas dengan cubitan kasar pada lengan Siwon. "Aw appo!" Siwon merintih. Kyuhyun tertawa renyah.
Keheningan sempat melanda keduanya beberapa saat. Sebelum pada akhirnya Siwon kembali bertanya, "Apa kau membaca semua surat yang aku tulis di sungai Han saat kita berkencan kemarin?" Kyuhyun terdiam. Pandangannya tertuju pada meja nakas di samping tempat tidur disebelah Siwon. Kosong. Ya, tatapannya terlihat kosong.
"Hey, ketiklah sesuatu. Jawab pertanyaanku Kyu~ mengapa melamun seperti itu?"
Kyuhyun sedikit berjengit kemudian tersenyum, "Aku belum sempat membacanya hingga akhir. Kau pingsan sebelum aku selesai membacanya."
"Benarkah? Kau sudah membaca sampai bagian mana?" Siwon kembali bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Setidaknya ia ingin tahu alasan mengapa Kyuhyun merubah sikapnya 180 derajat seperti ini. Apakah ia telah membaca pengorbanan yang dilakukan Siwon? Bukankah disitu tertulis bahwa Siwon akan menceraikannya? Apa Kyuhyun membaca hingga kalimat terakhir?
"Aku lupa, mian…~"
Bohong. Ya tentu saja Kyuhyun berbohong. Siwon mengacak lembut surai brunette Kyuhyun.
"Ah kau lupa? Tidak apa-apa. Lagipula surat itu tidak penting."
"Maaf." Kembali Kyuhyun meminta maaf.
"Hey, tak usah meminta maaf terus menerus. Tidak apa-apa, Kyu~."
Terdiam sejenak kemudian menjentikkan jarinya, "Ah iya, aku belum membaca suratmu. Apa kau masih menyimpannya?" Tanya Siwon seraya menatap lembut kedua orbs caramel milik Kyuhyun. Kyuhyun menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Hm, apa mungkin tertinggal di sungai Han ya?"
"Mungkin."
"Lalu apa kau masih ingat apa yang kau tulis di surat itu?"
"Untuk apa?" Kyuhyun mengerutkan dahinya.
"Hm, aku hanya sedikit penasaran!"
"Kau yakin hanya sedikit?" Kyuhyun menatap Siwon dengan tatapan menggodanya.
Siwon kembali menggaruk tengkuknya. "Kau mau aku jujur atau bohong?"
Kyuhyun menjentukkan jari telunjuk di dagunya. Terlihat imut. Kemudian mengetikkan sesuatu di ponsel milik Siwon "Bohong!"
"Hm, baiklah… Aku sama sekali tidak penasaran dengan surat yang kau tulis."
"Oke, kalau begitu kau tak perlu tahu!" kembali Kyuhyun menggoda Siwon.
Siwon mencubit lembut pipi chubby Kyuhyun. "Hey, barusan aku kan berbohong~ heung aku gemas padamu Kyu. Aku ingin memakanmu!"
"Kau akan menyesal jika memakanku!"
"Tidak, mana mungkin aku menyesal! Dagingmu kan banyak." Kini giliran Siwon yang balik menggoda Kyuhyun. Kyuhyun melipat kedua tangannya didada. Mengerucutkan bibirnya lucu. Imut. Sungguh sangat imut. Membuat Siwon tak tahan ingin meraup kedua bibir plum itu. Namun sebisa mungkin Siwon menahan hasratnya tersebut. Hey, Siwon jelas tak mau mengacaukan segalanya bukan? Ini baru permulaan. Menurutnya.
Siwon mengacak rambut Kyuhyun yang dibalas kembali dengan poutan bibirnya. "Mengapa kau senang sekali mengacak rambutku huh?"
"Karena aku mencintaimu."
DEG!
DEG!
Hening.
Siwon merutuki kebodohannya yang menurutnya mungkin telah mengacaukan segalanya. Namun ia salah. Kyuhyun mendekatkan kembali tubuhnya. Kemudian mendekap Siwon erat. Menenggelamkan wajahnya di atas dada Siwon.
"Maaf." Ucap Siwon. Merasa canggung dengan apa yang baru saja ia katakan. Kyuhyun tak menjawab. Ia menyamankan dirinya pada posisinya saat ini. Hangat. Ya kehangatan seperti inilah yang ingin ia rasakan. Hari ini dan 6 hari kemudian.
"Kau tidak marah padaku kan Kyu?" kembali Siwon bertanya. Kyuhyun mendecak. Walaupun tak terdengar sedikitpun suara decakannya. Kemudian kembali mengetik sesuatu pada ponsel Siwon yang masih ia genggam.
"Mengapa aku harus marah padamu, bodoh!"
Siwon tersenyum sumringah. "Jadi, kau tidak marah?"
Kyuhyun menggeleng lemah.
"Eum, jadi tidak apa-apa kalau aku mencintaimu?"
Sebelum Kyuhyun sempat mengetikkan jawabannya, derap langkah kaki terdengar dari pintu kamar.
"Ehem." Suara itu membuyarkan segalanya. Kyuhyun bangkit dari posisinya. Begitu pula Siwon. Mendapati seorang dokter dengan setelan jas berwarna putih tengah berdiri di samping ranjang tempat tidur. Tersemat di dadanya sebuah tanda pengenal. Lee Donghae. Ya, dokter tampan tersebut bernama Lee Donghae.
"Maaf jika kehadiran saya mengganggu kemesraan kalian. " ucapnya diiringi dengan senyum jahil. Membuat pipi kedua pasangan suami istri yang berada di atas ranjang tempat tidur rumah sakit itu bersemu merah.
"Ah, tidak apa-apa dok. Kami hanya sedang bercanda tadi. Ada perlu apa dok?" Tanya Siwon seraya menatap kedua obsidian milik dokter dengan surai kecoklatan tersebut. Tatapannya terlihat teduh dan menenangkan. Ya, cirri khas seorang dokter.
"Bisa saya berbicara dengan anda di ruangan saya Tuan Choi? Ada yang harus saya bicarakan mengenai kesehatan istri anda." Jawab Dokter Lee.
Siwon mengangguk, "Tentu saja."
Saat dirinya mulai beranjak dari tempat tidur, Kyuhyun menggenggam tangannya erat. Menatap Siwon dengan tatapan sayu. Setelah itu mengetikkan sesuatu, "Aku ikut!"
Siwon tersenyum. "Hey, kau masih terlihat lemah Kyu. Istirahatlah dulu. Aku tak akan lama, hanya sebentar, ne?"
"Tapi aku mau ikut!"
"Aku janji tak akan lama! Aku tak akan meninggalkanmu sendirian disini! Tenang saja."
"Tetap saja aku takut! Jangan tinggalkan aku" Kyuhyun menggerakkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh Siwon. Mengalungkan kedua tangannya pada leher Siwon. Possessive. Sangat possessive. Siwon benar-benar tak habis piker. Sebenarnya apa yang terjadi pada istri yang sangat dicintainya ini?
"Kyunnie baby, Siwonnie janji hanya sebentar, ne?" Siwon mengelus lembut punggung Kyuhyun yang terbalut baju rumah sakit.
Kyuhyun menggeleng keras.
"Aku janji sayang, hanya sebentar! Aku tak akan kemana-mana!" Siwon mencoba melepaskan pelukan Kyuhyun di lehernya. "Aku janji! Kau bisa pegang janjiku Kyu~ Arraseo?" kemudian menyentil pelan hidung bangir Kyuhyun. Kyuhyun menundukkan wajahnya. Kecewa.
"Hey, ayolah sayang, ruangan dokter Lee tidak jauh dari sini! Aku tidak akan pergi kemana-mana setelahnya. Pegang janjiku! Oke?" siwon menangkupkan kedua tangannya di pipi Kyuhyun. Kyuhyun menatap kedua obsidian Siwon dengan tatapan menyelidik. Ia mengedipkan matanya. Seolah berkata "Janji?"
Siwon mengertl lalu membalas. "Aku janji!" kemudian mencium bibir plum Kyuhyun sekilas. Kyuhyun terlihat membeku ditempatnya. Siwon mengacak lembut surai Kyuhyun. "Percayalah padaku."
Akhirnya Kyuhyunpun mengangguk lemah. Kemudian membiarkan Siwon meninggalkan kamarnya. Siwon tersenyum lembut. Kemudian menggigit kecil bibir bawahnya sembari berjalan menyusuri koridor bersama dokter Lee. "istrimu benar-benar sangat manja Tuan Choi." Ucap dokter Lee.
"Ya. Dan dia terlihat sangat lucu bukan?"
.
.
.
A Regret
Suara decitan pintu terdengar membuat Kyuhyun bangkit dari posisi tidurnya. Iapun tersenyum lebar. Belum sampai 5 menit dan Siwon sudah kembali. Pikirnya. Kedua obsidian karamelnya tampak berbinar. Terlihat bahagia. Jelas saja, sebelumnya ia merasa takut. Takut kehilangan Siwon untuk yang kedua kalinya. Takut Siwon akan meninggalkannya. Takut Siwon tak akan kembali lagi. Padahal Siwon hanya ke ruangan dokter Lee untuk membicarakan mengenai kesehatan dirinya. Namun entah mengapa, Kyuhyun merasa tak ingin Siwon berada jauh dari jangkauannya. Ia takut. Amat sangat takut.
Namun, senyuman itupun berubah. Ternyata orang yang datang bukanlah yang diharapkan sebelumnya. Kyuhyun terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia kembali tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu Kyu?" ucap namja tinggi dengan kemeja kotak-kotak tersebut lembut.
Changmin.
.
.
A Regret
"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada istri Anda Tuan Choi." Dokter Lee membuka percakapan sesaat setelah dirinya dan Siwon duduk di kursi yang terseda di ruangannya. Siwon mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu Dokter Lee?"
Dokter Lee terlihat membenarkan posisi duduknya. "Istri anda tak akan pernah bisa berbicara lagi seumur hidupnya Tuan."
Siwon membulatkan kedua matanya. "Mwo?"
Dokter Lee terdiam.
"Mengapa?" kembali Siwon bertanya.
"Saya tidak tahu jelas apa sebabnya. Tapi pita suara istri anda hilang!"
"Apa maksud anda Dok? Tidak Mungkin!"
"Saya juga masih memikirkannya hingga saat ini. Bagaimana bisa pita suaranya hilang begitu saja."
"Pasti ada penjelasan yang masuk akal Dok! Tidak mungkin pita suara dapat hilang begitu saja!"
"Ya saya juga tahu itu Tuan, tapi sampai sekarang kami belum menemukan apa penyebabnya."
"Selama ini dia tidak pernah merasakan sakit pada tenggorokannya Dok, mengapa bisa seperti ini?"
"Saya akan mencoba semaksimal mungkin untuk menemukan penyebabnya, Tuan Choi."
Siwon mengurut pelipisnya pelan, "Lalu, apakah dia bisa disembuhkan?"
Dokter Lee terdiam sejenak. "Pita suaranya hilang dan….."
Siwon mengerutkan dahi, "Dan?"
"Tidak mungkin dia dapat bersuara lagi."
"Apaaa?"
Siwon menyenderkan tubuhnya pada kursi. "Apakah benar-benar tidak ada cara lagi agar dia dapat bersuara?"
Dokter Lee menggeleng.
"Dengan transplatasi pita suara mungkin?" Ucap Siwon.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pengobatan dan mencari tahu penyebab pasti mengapa pita suara istri anda tiba-tiba menghilang."
"Saya mohon dok, sembuhkan istri saya. Suaranya sangat indah. Dia pasti sangat sedih jika tahu ia tak bisa bersuara lagi."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan Choi, tapi….."
"Tapi apa Dok?"
"Tapi kami tak bisa berjanji suara istri anda akan kembali."
.
.
.
A regret
.
.
Siwon melangkahkan kakinya dengan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Tangannya menggenggam amplop cokelat yang berisi hasil pemeriksaan istrinya. Perasaannya campur aduk saat ini. Ia kira ini adalah awal ataupun permulaan dari kebahagiannya. Namun, kenyataan pahit mengenai kesehatan istrinya membuatnya hancur. Ia sama sekali tak pernah menyangka Kyuhyun tak dapat bersuara lagi. Ia tak bisa membayangkan itu semua. Suara Kyuhyun indah. Merdu. Dan Siwon sudah sangat merindukan suara itu. Apa yang harus dikatakannya pada Kyuhyun nanti? Apa ia harus berbohong dan memberikan harapan palsu kepada Kyuhyun? Yang nantinya akan membuat Kyuhyun berharap dan terus berharap suaranya akan kembali? Atau dia harus berkata jujur dan memberitahu Kyuhyun kenyataan pahit bahwa ia tak akan pernah bisa bersuara selama-lamanya? Apa yang harus ia lakukan?
Tanpa ia sadari, saat ini ia sudah berada tepat di depan kamar Kyuhyun dirawat saat ini. Siwon terdiam sejenak. Mencoba berpikir keras. Apa yang harus ia lakukan? Kemudian menghembuskan napas kasar. Membuka perlahan kenop pintu kamar tersebut. Pintu itupun terbuka dan menghasilkan sebuah pemandangan yang terlihat jelas di kedua matanya. Pemandangan yang indah namun mengerikan. Pemandangan yang membuat hatinya kembali teriris. Kembali merasakan kesakitan luar biasa.
DEG!
Kedua pasangan itu. Ya, pasangan itu. Istrinya dengan seorang laki-laki yang bahkan telah ia lupa. Yang masih menyandang status sebagai kekasih istri yang amat sangat dicintainya. Changmin.
Terlihat berciuman di hadapannya.
Pluk!
Iapun menjatuhkan amplop coklat yang sedari tadi ia genggam. Perih, sakit, terluka. Semua rasa menjadi satu. Siwonpun perlahan melangkahkan kakinya mundur.
Kebahagiaan sesaat itu bahkan membuatku lupa bahwa kau masih miliknya…Kyu.
.
.
TBC!
A/n : Hahahaha.. annyeong ^^ gak lama kan? Cherry usaha keras gak mau ngecewain readers lagi dengan ninggalin ff ini begitu lama ^^ hihi. But so sorry, kalau banyak typo, kata aneh dan lain sebagainya. Cherry gak sempet baca ulang. Ini plot udah ada di otak dan langsung Cherry salurin. Gak sempet di baca lagi suer /pundung. Gimana chap ini? Puas lovey doveyannya wonkyu?
Mau yang lebih?
Lebih apa dulu? Lebih sakit apa lebih mesra? LOL ~
Kalo mau yang lebih, silahkan isi kotak reviewnya ya ^^ review kalian bikin Cherry semangat walaupun sepatah duapatah kata ^^ okey ^^
See u next chapter ^^
Gamsahamnida ^^
