BAKTERI CINTA KONOHA
Tadaima
"Matikan byakuganmu, Hinata!" Perintah tetua pertama.
"Apa pemuda itu lebih penting daripada kakekmu sendiri?" Tekan tetua pertama.
"Atau bahkan semua anggota klanmu?"
Raut kebimbangan mulai tergambar jelas di wajah cantik Hinata. Benar apa yang dikatakan oleh tetua pertama jika sebagai calon pemimpin klan seharusnya Hinata mengedapankan kepentingan klan di atas segalanya. Namun bagaimanapun juga Hinata tetap tak bisa mengabaikan keselamatan pemuda yang dicintainya sejak mereka sekolah di akademi ninja itu.
Hinata tanpa sadar menurunkan konsentrasinya, membiarkan tetua pertama hampir saja mendapatkan kesempatan melumpuhkan pergerakan Hinata dengan sebuah jyuuken pada dada kanan atas Hinata.
Mata semua orang yang menyadari gerakan tetua pertama membulat lebar. Pikiran buruk tentang keselamatan Hinata mulai menciptakan ketakutan di hati orang-orang yang menyayangi gadis indigo ini.
Neji tak bisa menahan diri lagi hanya melihat saja adik sepupu yang sangat disayanginya itu membahayakan nyawanya sendiri berhadapan dengan kakek mereka. Tanpa menunggu perintah ataupun izin dari Hyuuga Hiashi, Neji melompat penuh tekat.
"Jyuuken," Desis tetua pertama. Hinata terlalu terlambat untuk menghindar. Yang bisa dilakukan Hinata hanya berdiri diam terkunci oleh rasa terkejutnya.
Slap. Greeep.
Kurang sepersekian detik saja terlambat menghentikan gerakan tangan tetua pertama, mungkin saat ini Hinata sudah jatuh tersungkur atau minimal memuntahkan darah akibat jyuuken tetua pertama.
"Membentaknya saja kau tak ku izinkan. Apalagi untuk melukainya." Naruto menatap garang tetua pertama dengan mata yang sudah berubah warna menjadi kuning dengan lambang negative dan pada bagian samping kedua matanya terhiasi oleh warna merah, menandakan bahwa jinchuuriki kyuubi ini sedang berada dalam sage mode.
Tak seorangpun shinobi yang ada di dalam rumah kediaman Hiashi menyangka jika kediaman Naruto adalah untuk mengumpulkan cakra alam dan bukan karena pingsan akibat jyuuken tetua pertama, bahkan Hinata dan tetua pertama sendiri.
Tap.
Neji dengan mode byakugannya yang aktif mendarat di samping Naruto, ikut melindungi Hinata di balik tubuhnya.
"Naruto-kun."
"Neji Nii-san," Desis Hinata dibalik punggung kedua pemuda di depannya.
'Anata,' Panggil Tenten dalam hati.
Slap. Tap. Tap.
Tetua kedua dan tetua perempuan melepaskan hadangannya pada Sasuke dan Sai, memilih untuk membantu tetua pertama yang salah satu tangannya tergenggam erat oleh Naruto.
"Mundurlah." Perintah tetua pertama segera begitu tetua kedua dan tetua perempuan mendarat di samping kanan dan kirinya.
Tanpa menunggu perintah berikutnya, tetua kedua dan tetua perempuan mundur beberapa langkah.
"Naruto-kun, lepaskan tangan tetua," Pinta Hinata.
"Tidak, sampai dia mematikan byakugannya." Tolak Naruto.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Bujuk Hinata yang sudah menonaktifkan byakugannya karena merasa aman di bawah perlindungan Naruto dan Neji.
"Di mataku, kau tidak baik-baik saja, Hinata." Tolak Naruto kembali tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Naruto tak mau konsentrasinya teralihkan lagi untuk kedua kalinya. Naruto menyadari bahwa kekuatan tetua pertama tak bisa diremehkan setelah merasakan jyuukennya.
Neji tak ingin menyela perdebatan Hinata dan Naruto. Melakukan tugas utamanya untuk melindungi Hinata adalah prioritasnya saat ini.
Tetua pertama mengangkat satu tangannya, membentuk sebuah segel tangan domba yang tak sempurna. Entah apa yang kemudian digumamkannya, yang jelas Neji segera jatuh bersimpuh dan memegangi kepalanya erat-erat.
"Arggh!" Teriak Neji kesakitan.
Detik berikutnya, semua anggota bunke klan Hyuuga meringkuk kesakitan tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Neji. Tetua pertama sepertinya sedang menggumamkan mantra hukuman pada semua anggota bunke melalui segel kutukan di kepala mereka.
Mata Hinata dan anggota souke Hyuuga membulat kaget dengan langkah ekstrim yang diambil oleh tetua pertama.
"Neji!" Tenten tak dapat lagi menahan diri untuk tak melompat mendekat dan segera merangkul erat Neji yang mengerang kesakitan.
"Neji! Neji!" Panggilan khawatir Tenten tak mendapatkan tanggapan dari Neji yang berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ojii-sama! Aku mohon hentikan!" Pinta Hinata kalut.
Karena kelembutan hatinya walau Hinata juga bisa membaca mantra untuk menghukum anggota bunke yang melanggar peraturan atau melakukan hal-hal yang membahayakan kepentingan klan, tapi tak sekalipun Hinata pernah melakukannya pada anggota klannya.
"Tou-sama. Tidakkah waktunya kau melakukan sesuatu?" Tanya Hanabi ikut merasa panik melihat keadaan Neji dan semua anggota bunke yang mengerang kesakitan di sekitarnya dan Hiashi.
"Biarkan mereka, Hanabi." Putus Hiashi yang berusaha mati-matian menyembunyikan kekhawatirannya di balik wajah datarnya.
"Tetua akan melakukan apapun untuk kepentingan klan." Hanabi menatap Hiashi tak percaya.
"Sasuke. Haruskah kita melakukan sesuatu?" Tanya Sai pada Sasuke yang matanya sudah kembali menghitam seperti sediakala.
"Tidak. Ini masalah klan Hyuuga. Kita tidak punya hak ikut campur di dalamnya." Jawab Sasuke.
"Mundur, Sai!" Perintah Sasuke.
Segera setelah Sai mengangguk setuju, dua pemuda tampan itu melompat mundur kembali berada di dekat Sakura dan Ino yang wajahnya memucat, terjebak oleh atmosfer ketegangan.
"Sial! Kenapa jadinya seperti ini!" Umpat Kiba. Shino yang tak tahu harus menanggapi apa hanya diam tak bersuara.
"Tetua-sama, aku mohon hentikan!" Pekik Tenten kalut. Tetua pertama tak merespons.
Tetua kedua dan tetua perempuan saling memandang dalam diam. Tak menyangka jika tetua pertama sangat serius menanggapi masalah ini. Lagipula melibatkan segel kutukan anggota bunke untuk menekan Hinata itu sedikit keterlaluan.
"Aku mohon hentikan, Ojii-sama." Pinta Hinata yang merangsek maju, tak lagi bisa menahan kekhawatirannya pada seluruh anggota bunke klan Hyuuga yang mengerang kesakitan. Terlebih Neji yang sangat disayanginya.
"Aku akan menuruti apapun perintahmu!" Janji Hinata tanpa berfikir panjang.
Mata kuning Naruto membulat kaget. Kepala jabriknya refleks memutar ke samping, menatap Hinata tak percaya. Hinata sama sepertinya. Mengikuti jalan ninjanya. Itu berarti Hinata akan menepati janji yang sudah diucapkannya.
Mendengar janji Hinata, gerakan bibir tetua pertama terhenti. Semua anggota bunke klan Hyuuga jatuh lemas di tempat mereka masing-masing.
"Huhuhuhu, Neji…" Tenten segera memeluk Neji erat-erat. Air mata ketakutannya membasahi punggung Neji yang bersandar lemas pada tubuh mungilnya.
"Bahkan jika aku memintamu memutuskan hubunganmu dengan siapapun pemuda di luar klan kita?" Tanya tetua pertama penuh tekanan.
Tes. Tes. Tes.
Air mata yang tak mampu ditahan Hinata lagi mulai berjatuhan. Naruto tertegun, tak menyadari sejak kapan Hinata berusaha menahan tangis karena memang mata indigo Hinata sangat susah dilihat perubahannya kecuali dari ekspresi wajah yang digambarkan jelas oleh para pemilik byakugan ini.
"Ha-i," Hinata menangguk patuh.
Tetua pertama menyungging senyum kemenangan. Byakugan segera dinonaktifkannya.
"Kau bisa melepaskan tanganku sekarang." Perintah tetua pertama pada Naruto dengan nada datar.
Naruto tak punya pilihan lain kecuali melepaskan pelan-pelan tangan tetua pertama. Segera setelah tangannya terlepas, tetua pertama berbalik.
"Hinata! Hanabi! Ikut aku ke ruang pertemuan!" Titah ketua pertama yang berjalan dengan diikuti oleh tetua kedua dan tetua perempuan.
Hinata menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya. Dia tak boleh terlihat lemah di depan anggota klannya lagi. Hinata juga tak ingin mempermalukan Hiashi di depan ketiga tetua yang sudah meninggalkannya dan para anggota bunke yang masih mengumpulkan kekuatan untuk bangun dan mengikuti langkah tetua pertama menuju ruang pertemuan.
Sebelum mengikuti langkah tetua pertama menuju ruang pertemuan, Hiashi diam beberapa lama memandang Hinata yang sedang menghapus air mata dengan punggung tangannya, dan Naruto yang tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Hinata sekecil apapun gerakan yang dilakukan Hinata.
"Hinata!" Naruto menghentikan langkah Hinata dengan mengcengkram erat pergelangan tangan Hinata.
"Kau tak serius dengan kata-katamu, kan?" Tanya Naruto memastikan.
"Gomenasai, Naruto-kun." Hinata melepas paksa cengkraman tangan Naruto sedikit kasar dan segera meninggalkan Naruto yang menatap punggung Hinata tak percaya.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Hinata?!" Teriak Naruto.
Tanpa menjawab, Hinata mempercepat langkahnya. Jika tak seperti itu, Hinata takut akan kalah dengan perasaannya kemudian berbalik dan mengingkari janjinya pada tetua pertama.
"Grrr…" Bunyi gemerutuk gigi Naruto menahan kesal. Tanpa berfikir dua kali Naruto melompat dan menghadang jalan Hinata.
"Hah?!" Pekik Hinata kaget.
"Kau pasti lupa kita punya jalan ninja yang sama!" Naruto tak ingin terlalu banyak berbasa-basi.
"Kau pikir apa yang aku katakan pada tetua hanya gertakan saja?!" Mata Naruto menajam menantang mata amethyst Hinata, meluapkan semua kekesalannya entah pada siapa.
"Aku tak akan menculikmu untuk melindungi Neji dan anggota klanmu."
"Tapi aku tak akan melepaskanmu begitu saja, Hinata." Tekad Naruto.
Hinata lagi-lagi hanya bisa menahan haru mendengar kata-kata Naruto yang penuh keyakinan tanpa bisa berbuat banyak. Beberapa titik air mata yang terjatuh segera dihapusnya kasar. Hinata tak boleh gegabah dan salah mengambil langkah, lalu memancing kembali kemarahan tetua pertama. Tak apa jika Hinata yang menerima hukuman atau terluka, tapi melibatkan semua anggota bunke klan? Hinata akan segera kalah bahkan sebelum melawan.
"Aku tak akan mempersulit posisimu, Hinata." Urat ketegangan di wajah tan Naruto perlahan tapi pasti mulai berkurang.
"Karena itu biarkan aku ikut ke ruang pertemuan dan bicara sekali lagi pada ayah dan kakekmu."
Hinata tak segera menjawab permintaan Naruto. Perasaannya terasa sulit diuraikan oleh dirinya sendiri. Hinata merasakan perutnya mendadak geli, seperti ada berjuta kupu-kupu beterbangan di dalam sana.
"Kenapa?" Tanya Hinata dengan tatapan tak percaya.
"Apa?" Tanya Naruto balik. Tak begitu mengerti maksud dari pertanyaan Hinata yang terlalu singkat.
"Kenapa kau sekeras ini mempertahankanku, Naruto-kun?" Hinata memperjelas pertanyaannya.
Naruto menyungging seringai geli mendengar pertanyaan retoris Hinata. Seharusnya Hinata tahu satu-satunya alasan kuat bagi Naruto sampai melakukan hal sejauh ini adalah karena Naruto sudah memutuskan untuk memilih Hinata dalam hidupnya sejak lama.
"Tentu saja karena aku Uzumaki Naruto." Jawab Naruto tak nyambung.
Detik selanjutnya tanpa ingin memperpanjang perdebatan dengan Hinata, Naruto menggenggam tangan Hinata dan memimpin jalan menuju ruang pertemuan klan Hyuuga. Beberapa anggota bunke yang masih tersisa di dalam pintu depan ruang depan rumah utama karena belum dapat mengembalikan kekuatan mereka sepenuhnya, meringis tipis ikut merasakan kebahagiaan Hinata.
Ino dan Sakura saling menatap dengan berbagai ekspresi yang didalamnya.
"Sakura. Aku tak tahu Naruto bisa sekeren ini." Komentar Ino.
"Ya. Hampir saja aku jatuh cinta lagi padanya." Tanggap Sakura tanpa sadar. Sasuke refleks menoleh kaget mendengar gumaman Sakura.
"Kita pulang!" Perintah Sasuke. Terasa sekali nada kesal dalam suaranya.
"Eh?! Bagaimana dengan Naruto?" Tanya Sakura tak kalah terkejut dengan perintah tiba-tiba Sasuke.
"Aku yang akan menguburnya jika dia mati." Jawab Sasuke asal.
"Hey, Sasuke-kun! Kau tak boleh bicara sembarangan!" Protes Sakura dalam langkah cepat menyusul Uchiha Sasuke.
"Dia cemburu?" Tanya Ino pada Sai yang hanya dijawab oleh sebuah senyuman oleh ketua ANBU Konoha itu.
"Haah… Hari liburku yang berharga," Keluh Kiba pada dirinya sendiri.
Naruto dan Hinata, setelah keluar dari rumah utama kini mulai berjalan memutar menuju halaman belakang kediaman Hyuuga. Merasa jalan yang diambil oleh Naruto justru semakin menjauhi ruang pertemuan klan, Hinata memberanikan diri untuk bertanya.
"A-ano, Naruto-kun." Panggil Hinata pada Naruto yang sudah kembali ke wujud normalnya.
"Apa kau tahu dimana ruang pertemuan klan?" Tanya Hinata ragu.
Naruto berhenti sejenak dan menatap Hinata dengan wajah serius. Atau mungkin wajah seorang pemuda yang sedang berfikir keras.
"Tentu saja…" Jawab Naruto sok misterius.
"Aku tidak tahu, ttebayou!" Hinata hampir saja terjungkal ke belakang terlalu sweatdrop mendengar jawaban Naruto.
"Aku hanya mengikuti bau lezat makananan dari arah sini."
Kryuuuk…
Perut Naruto berbunyi sangat keras dan nyaring.
"Aku lapar sekali, Hinata!" Keluh Naruto dengan suara bergetar dan terbata-bata menahan lapar.
"Grrr… Baka!" Komentar Kurama yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan Hinata dan Naruto dalam posisi tidur santai di dalam kandang..
oOo oOo oOo
"Apa Naruto akan baik-baik saja?" Sakura terdengar benar-benar mengkhawatirkan Naruto.
"Hn." Jawab Sasuke tak bersemangat.
Sakura mendongakkan kepala meneliti raut wajah Uchiha Sasuke yang jika orang lain melihatnya, yang nampak hanyalah wajah tampan yang datar dengan bibir sedikit mengerucut.
"Sasuke-kun, kau cemburu?" Tebak Sakura begitu tepat sasaran.
"Sasuke! Sakura!" Teriakan seseorang menyelamatkan Sasuke dari pertanyaan Sakura. Sasuke dan Sakura refleks menghentikan langkah dan membalikkan tubuh.
"Oh, Shikamaru." Gumam Sakura.
"Darimana saja kalian?! Apa kalian tahu? Aku harus mengelilingi desa untuk menemukan kalian!" Gerutu Shikamaru.
"Ada apa?!" Tanya Sasuke segera.
"Rokudaime punya misi untuk Sakura dan Naruto." Jawab Shikamaru.
"Apa kalian tahu dimana si jabrik itu? Aku sudah menyerah mencarinya." Keluh Shikamaru kembali.
"Dia sedang meregang nyawa di rumah Hinata." Jawab Sasuke kembali asal. Sepertinya bungsu Uchiha ini diam-diam menaruh dendam pada sahabat kuningnya.
"Hah?" Shikamaru menganga bingung.
"Ittai!" Pekik kecil Sasuke saat Sakura mencubit perutnya gemas.
"Jangan dengarkan Sasuke-kun, Shikamaru."
"Naruto sedang melamar Hinata." Shikamaru menganga semakin lebar mendengar penjelasan Sakura.
"Karena itu sepertinya dia tak bisa menerima misi."
"Apa Sai boleh menggantikannya menjadi rekan misiku?" Tanya Sakura.
'Duke! Bahkan Naruto berani melamar Hinata!' Shikamaru tak menjawab pertanyaan Sakura karena terlalu sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.
"Shikamaru!" Panggilan Sakura membuyarkan lamunan Shikamaru.
"Aku tak tahu, Sakura." Jawab Shikamaru segera.
"Ini hari libur Sai. Lagipula minggu-minggu sebelumnya dia sangat sibuk sebagai kepala ANBU."
"Telingaku sampai panas mendengar rengekan Ino." Curhat Shikamaru.
"Ya, jika kau tak keberatan. Lee bisa menemanimu." Tawar Shikamaru.
"Tidak. Boleh." Tegas Sasuke.
"Eh? Kenapa?" Tanya Sakura berpura-pura tidak tahu alasan Sasuke melarangnya menjalankan misi bersama Lee.
"Tidak boleh ya tidak boleh!" Sasuke berbalik dan mulai melangkah pergi dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam kantong celananya.
"Lalu dengan siapa aku menjalankan misi?" Sakura berbalik dan segera berlari pelan menyusul Sasuke, meninggalkan Shikamaru berdiri diam di tempatnya.
"Aku akan memerintahkan Chouji untuk menggantikan Naruto." Jawab Sasuke, menundukkan kepala dan menatap tajam emerald Sakura yang berkilat cerah tanpa menghentikan langkah pendeknya.
"Aku tidak mau. Aku akan kelaparan nanti." Tolak Sakura.
"Kau lupa, Sasuke-kun? Makan Chouji banyak sekali."
"Baiklah, Kiba dan Akamaru saja." Sasuke memberi pilihan.
"Tidak mau. Kiba pasti lebih peduli dengan Akamaru daripada aku." Tolak Sakura.
"Shino."
"Shino tidak banyak bicara. Aku bisa mati bosan, Sasuke-kun."
"Kau! Menyebalkan!" Kesal Sasuke.
"Lalu siapa yang akan menjadi rekan misimu?!" Urat kesal Sasuke mulai mengeras.
Shikamaru tertegun memandang Sasuke dan Sakura yang berdebat begitu akrab. Tanpa sadar Shikamaru menyungging sebuah seringai tipis. Bersyukur karena kembalinya Sasuke ke desa nyatanya tak membawa dampak buruk atau penolakan keras dari warga Konoha seperti yang selama ini dia dan teman-temannya takutkan.
"Merepotkan." Shikamaru melompat-lompat di atas atap rumah warga, kembali menuju kantor Hokage.
oOo oOo oOo
"Apa yang kau harapkan dengan duduk disini, Naruto?" Tanya tetua pertama dengan tatapan mata putihnya yang bagi Naruto tak terasa menyeramkan seperti sebelumnya.
"Seperti yang kau dengar sebelumnya, Tetua. Aku ingin melamar Hinata." Jawab Naruto tanpa keraguan.
Hinata yang duduk di samping Hiashi menundukkan kepala birunya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalari pipinya.
"Lalu?" Tanya tetua pertama kembali.
"Ehm, ya. Tentu saja aku harap kau memberiku restu." Jawab Naruto sedikit malu-malu.
Kesan berbahaya dari tetua pertama entah kenapa terasa menguap begitu saja. Sialnya, justru sekarang Naruto mulai tersusupi perasaan gugup.
"Jadi setelah semua yang terjadi, kau masih belum menyerah dan ingin memaksakan kehendakmu?" Tanya tetua pertama. Hinata punya firasat buruk dengan pertanyaan tetua pertama.
Naruto bergeming, kali ini pemuda cepak ini tak tahu harus menjawab apa pertanyaan tetua pertama.
"Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan restumu, tetua?"
Tetua pertama tersenyum tipis penuh rahasia. Tak seorangpun yang tahu arti dibalik senyum tetua yang jarang terlihat itu. Bahkan oleh tetua perempuan.
"Pulanglah." Perintah tetua pertama. Mata langit Naruto membulat terkejut mendengar tetua pertama mengusirnya.
Hinata menggigit bibirnya, berusaha menahan keras rasa sedih yang menyergap perasaannya.
"Tetua, aku…"
"Pulanglah, Naruto. Kami sudah membuang terlalu banyak waktu." Perintah tetua sekali lagi.
"Tapi…"
"Naruto! Cukup." Sela Hiashi. Naruto memutar kepala kaku menatap Hiashi dengan pandangan tak mengerti.
"Biarkan kami melakukan pertemuan klan." Tegas Hiashi.
Jika saja tak mengingat janjinya pada Hinata untuk tak mempersulit posisi Hinata, Naruto akan bertahan apapun yang terjadi sampai berhasil mendapatkan restu tetua pertama. Naruto bangkit dengan gerakan kikuk. Berdiri dibelakang bantal duduknya.
"Baiklah. Aku permisi." Naruto menundukkan sedikit kepala kuning cepaknya untuk memberi penghormatan pada ketiga tetua klan dan Hiashi.
Naruto sekeras mungkin menahan keinginannya untuk menatap Hinata. Tak ingin wajah sedih Hinata terekam dalam ingatannya. Akhirnya dengan langkah berat dan dibawah pengawasan banyak mata putih, Naruto berjalan keluar dari ruang pertemuan klan.
.
..
"Naruto!" Jika Sai tak tiba-tiba memanggilnya, mungkin Naruto akan terus berjalan dalam keadaan tak sadar.
"Sai? Kau masih disini?" Tanya Naruto dengan tatapan heran.
"Dia tak mau pulang karena mengkhawatirkanmu, Naruto." Jawab Ino mewakili Sai.
Naruto tersenyum simpul mendengar jawaban Ino.
'Ah, cincin.' Tiba-tiba Naruto ingat cincin Sai yang membuat rumit keadaannya dan Hinata rumit lebih cepat ini.
Detik berikutnya Naruto merogoh kantong celana kanannya yang terasa lebih berat. Mengeluarkan sebuah kotak kecil hitam dengan dasaran merah dan sebuah cincin bermata sewarna mata laut Ino.
"Ini cincinmu, Sai!" Naruto melempar cincin Sai yang sedikit gelagapan ditangkap oleh Sai yang tak siap menerima lemparan apapun.
'Eh?' Ino terkejut mendengar kata-kata Naruto.
"Tunggu dulu, Naruto."
"Bukankah itu cincinmu untuk melamar Hinata?" Tanya Ino tak mengerti.
"Hahaha." Naruto tertawa renyah.
"Kau yang salah paham sendiri, Ino." Jawab Naruto.
"Cincin itu dibeli Sai untuk melamarmu."
Blush!
Wajah Ino dengan cepat berganti warna semerah buah tomat kesukaan Sasuke. Naruto mendengus geli saat melirik Sai yang jauh lebih merona daripada Ino. Salahkan kulit Sai yang seputih salju itu.
"Kalian seperti remaja belasan tahun saja, ttebayou." Komentar Naruto dalam langkahnya menjauhi pintu gerbang rumah utama klan Hyuuga, meninggalkan Sai dan Ino yang masing mencuri pandang dengan malu-malu satu sama lain.
Bukan berarti Naruto tak setia kawan meninggalkan Sai yang jelas-jelas menungguinya sampai keluar, Naruto hanya merasa sangat tak nyaman terlalu lama berada di kawasan perumahan klan Hyuuga. Apalagi rumah utama tempat gadis indigonya tinggal sampai usianya 23 tahun seperti sat ini. Sesak rasanya dada Naruto jika mengingat kembali bagaimana dia diusir tanpa pembelaan berarti dari sang gadis.
oOo oOo oOo
2 Bulan Kemudian
"Hoy, Naruto!"
Naruto menghentikan langkah panjangnya menuju kedai ramen Ichiraku dan memutar tubuh mencari keberadaan orang yang meneriakkan namanya dengan penuh semangat.
"Yo," Balas Naruto dengan mengangkat sebelah tangannya tidak terlalu tinggi, membalas sapaan Kiba.
"Kau mau kemana, Naruto-kun?" Tanya Lee yang berjalan berdampingan dengan Kiba dan Akamaru.
"Aku mau makan ramen. Kalian mau ikut?" Tawar Naruto.
"Tidak, Naruto-kun. Aku ada janji dengan Gai-sensei." Tolak Lee sopan.
"Aku juga tidak bisa menemanimu, Naruto." Ucap Kiba tanpa ditanya.
"Hari ini aku lelah sekali. Sasuke sialan itu selalu saja memerintahku melakukan banyak hal!" Keluh Kiba.
"Guk. Guk." Akamaru menyalak setuju.
"Ya, aku tak memaksa kalian berdua sih." Naruto menggaruk belakang kepala cepaknya kikuk. Sedikit kecewa sebenarnya tak mendapat teman makan.
"Ehm, Naruto. Apa kau tahu? Hinata sakit sekarang." Kiba berkata penuh keraguan karena sejak kejadian di rumah Hinata dua bulan lalu, Naruto tak sekalipun pernah menyinggung tentang Hinata di depan teman-temannya. Mereka juga tak pernah lagi terlihat bersama.
"Sakit apa?" Tanya Naruto juga penuh ketidaknyamanan dengan Hinata sebagai topik utama.
"Ehm, entahlah." Kiba mengendikkan bahunya.
"Neji hanya memberitahuku jika Hinata sedang sakit." Jelas Kiba.
"Lalu kapan kau menjenguknya?" Tanya Naruto setelah beberapa lama hanya diam mematung. Kiba menyeringai, memamerkan gigi taringnya mendengar pertanyaan Naruto.
"Mungkin besok sore jika Sasuke tak memperbudakku dan mengambil alih Akamaru dariku." Jawab Kiba panjang lebar.
"Sou ka?" Tanggap Naruto dengan suara berdesis.
"Baiklah, Naruto-kun. Kiba-kun. Akamaru. Aku harus pergi sekarang." Pamit Lee yang kemudian melompat mundur dan mendarat dengan posisi kepala berada dibawah.
"Sampaikan salamku pada Hinata-san jika kau menjenguknya besok, Kiba-kun." Pesan Lee.
"Jaa…" Kali ini Lee benar-benar pergi dengan berjalan terbalik seperti kebiasaannya.
"Apa Hinata terluka, Kiba?" Tanya Naruto.
"Entahlah. Neji tak bilang apapun tentang Hinata yang terluka." Jawab Kiba.
"Jika kau mengkhawatirkannya, kenapa kau tak ikut menjenguknya bersamaku?" Tawar Kiba.
"Kau bisa menyamar sebagai siapapun teman kita." Usul Kiba kemudian.
"Kau lupa? Byakugan bisa mengenali cakra."
"Lagipula aku sudah berjanji tak akan mempersulit keadaannya." Tolak Naruto.
"Seperti bukan kau saja mudah menyerah seperti ini, Naruto." Sindir Kiba.
"Memangnya kau tak merindukan Hinata?" Pancing Kiba kemudian.
Walau cukup lama menunggu jawaban Naruto. Tak satupun kata terucap oleh Naruto.
"Ya, semua terserah kalian." Kiba mengakhiri kesunyian diantara mereka.
"Aku harus pergi sekarang."
"Aku harus memberi Akamaru makan malam." Jelas Kiba sembari naik ke atas tubuh Akamaru.
"Oke." Jawab Naruto.
"Ayo, Akamaru!" Perintah Kiba. Akamaru segera berbalik dan berlari dengan penuh semangat.
"Jaa, Naruto…" Kiba mengabaikan satu tangannya dengan posisi memunggungi Naruto.
.
.
"Ini ramenmu, Naruto-kun!" Ayame meletakkan semangkok besar ramen kesukaan Naruto.
"Arigatou, Ayame-Nee," Naruto nyengir, mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya dari Ayame dan Paman Teuchi.
"Aku tak pernah melihat Hinata makan ramen denganmu lagi, Naruto-kun."
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Ayame penasaran.
"Hahahaha," Naruto tertawa sangat tidak tulus.
"Tidak, Nee-chan. Hinata hanya sedang sibuk berlatih dan melaksanakan misi."
"Lagipula dia bukan penggemar ramen sepertiku." Kilah Naruto.
"Tapi tak mungkin dia tak bisa meluangkan waktunya sebentar untukmu, kan?" Tanya Ayame kembali penuh rasa penasaran.
"Ayame! Pesanan!" Panggilan Paman Teuchi menyelamatkan Naruto.
"Ha'i…." Teriak Ayame membalas panggilan ayahnya.
"Maaf ya, Naruto-kun. Aku tak bisa menemanimu mengobrol." Pamit Ayame.
"Hm," Naruto mengangguk maklum.
Beberapa menit setelah kepergian Ayame, Naruto masih belum menyentuh ramennya. Pertanyaan Ayame membuat ingatannya tentang malam pertama kali dia makan ramen bersama Hinata berputar kembali tanpa izin.
Naruto menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat mencoba menghilangkan semua bayangan yang membuatnya terlihat melankolis. Naruto mengambil satu set sumpit, memisahkan dan menggosoknya beberapa kali dengan gerakan yang dibuat semangat.
"Itadakimasu!" Teriak Naruto keras-keras mencoba membuat suasana ceria untuk dirinya sendiri.
Sluuurp…
Naruto mulai makan ramennya dengan tawa lebar yang terasa janggal. Jika saja satu dari teman-teman rookie melihatnya, mereka akan segera tahu bagaimana Naruto berusaha keras tak terlihat sedih dan kecewa dihadapan orang banyak.
"Hinata? Apa yang kau lakukan disini?"
"Na-naruto-kun?"
"Hei, apa yang kau lakukan disini?"
"A-aku menunggumu."
"Menungguku?"
Percuma. Naruto tetap tak bisa menghentikan ulangan kenangannya bersama dengan Hinata.
"Siapa namamu gadis cantik?"
"Hyuuga Hinata desu."
"Jadi, kau seorang Hyuuga?"
"Ya, saya putri Hyuuga Hiashi."
"Wah, Naruto-kun pintar sekali mencari pacar."
"A-aigatou."
Rasa ramen Naruto entah kenapa terasa semakin hambar.
"Ehm, Naruto. Apa kau tahu? Hinata sakit sekarang."
"Sakit apa?"
"Ehm, entahlah."
"Neji hanya memberitahuku jika Hinata sedang sakit."
"Apa Hinata terluka, Kiba?"
"Entahlah. Neji tak bilang apapun tentang Hinata yang terluka."
"Jika kau mengkhawatirkannya, kenapa kau tak ikut menjenguknya bersamaku?"
Naruto menambahkan kecap dalam ramennya.
"Naruto-kun, kau terluka."
"Ittai."
"Gomenasai."
"Tidak apa, Hinata. Saat latihan aku berbuat ceroboh dan terkena kunai Sasuke. Karena Sakura-chan tak ada, aku tak bisa segera mengobatinya."
"Bolehkah aku mencoba mengobatinya, Naruto-kun?"
Naruto kembali menghentikan makannya, mencari sebutir telur rebus untuk dikupasnya. Bahkan walau banyak hal dilakukannya, ingatan tentang Hinata tak mau berhenti berkelibatan acak dalam pikirannya.
"Seperti bukan kau saja mudah menyerah seperti ini, Naruto."
"Memangnya kau tak merindukan, Hinata?"
Bruak.
Naruto sepertinya tak sadar sudah menggebrak meja dengan sangat keras. Beberapa orang sampai tersedak ramen yang dikunyahnya karena kaget.
'Kuso! Tentu saja aku sangat merindukannya!'
'Bahkan semua misi itu tak membantuku sama sekali mengobati sakitnya merindukan Hinata!'
"Ada apa, Naruto-kun?" Tanya Ayame yang segera berlari mendekat dengan wajah khawatir.
Mata langit Naruto membulat kaget baru menyadari kecerobohannya membiarkan emosi menguasai pikirannya.
'Sial!' Umpat Naruto dalam hati.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ayame memastikan.
"Gomen, Ayame-Nee."
"Tadi ada lalat yang menyebalkan terbang disekitar ramenku." Naruto mengarang cerita.
" Hampir saja aku berhasil membunuhnya yang sedang beristirahat terbang di meja."
"Hahahaha…" Naruto tertawa sangat keras.
"Dasar kau ini! Mengagetkan saja!" Ayame berpura-pura mempercayai kebohongan Naruto.
"Hehe. Gomen." Naruto beranjak dari kursinya.
"Ini uang ramennya, Nee-chan. Aku harus pergi. Ada misi yang harus aku kerjakan."
"Jaa…" Pamit Naruto, segera berlari meninggalkan Ayame tanpa menunggu barang sebentar jawaban Ayame.
Ayame memiringkan sedikit kepala coklatnya. Naruto memang terlihat ceria tapi mengenal bocah kuning itu sejak kecil membuat Ayame dengan mudah menyadari kejanggalan di balik tawa palsu Naruto.
"Aku akan mencaritahu dari Sakura apa yang terjadi dengan Naruto-kun jika dia makan ramen disini." Tekad Ayame.
oOo oOo oOo
"Hap!" Neji mengarahkan telapak tangannya yang penuh cakra ke dada Hinata.
"Hiat!" Hinata melompat mundur dengan cepat dan menangkis tangan Neji.
Detik berikutnya Hinata mengarahkan telapak tangannya yang juga terselimuti cakra ke bawah dagu Neji. Neji yang berhasil menangkis serangan Hinata menunduk dan mengarahkan tangannya ke perut Hinata.
"Jika aku kembali, maukah kau menikah denganku?" Tiba-tiba kenangan tentang Naruto yang memeluknya erat setelah mengakui perasaannya pada Hinata, sebelum Naruto berangkat berkelana selama 3 tahun, berputar tanpa izin dalam pikiran Hinata.
"Ngggh!" Hinata mengatupkan gigi rapat-rapat saat terpental ke belakang oleh jyuuken Neji.
Neji dan Hanabi membulatkan mata kaget. Serangan yang tak terlalu fatal dari Neji bagaimana bisa mengenai Hinata dengan mudah.
"Hinata-sama, kau tidak apa-apa?" Neji melompat di samping Hinata dan membantu Hinata bangun dengan tatapan khawatir. Pasalnya 1 bulan belakangan ini, Hinata terlihat semakin kurus dan pucat.
"A-aku baik-baik saja, Neji Nii-san." Hinata menerima bantuan Neji untuk berdiri walau harus bersandar sedikit pada tubuh tegap Neji.
"Ayo kita mulai latihan lagi." Ajak Hinata.
"Tidak. Latihan hari ini sudah cukup." Sela Hiashi dengan byakugannya yang masih aktif.
"Neji. Antar adikmu istirahat di kamarnya." Perintah Hyuuga Hiashi yang kemudian berdiri dan segera meninggalkan kedua anak gadisnya dan Neji di dalam ruang latihan.
"Gomenasai, Neji Nii-san." Sesal Hinata.
"Tidak ada yang harus dimaafkan, Hinata-sama." Balas Neji.
"Daijobou, Nee-sama?" Tanya Hanabi yang sudah mendekat pada Neji dan Hinata.
"Un" Hinata menyungging senyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Hanabi.
"Bagaimana mungkin kau tak menghindari seranganku, Hinata-sama?" Tanya Neji dengan tatapan bingung dan khawatir.
"Mu-mungkin karena aku lapar, Nii-san." Bohong Hinata.
Hinata tak ingin orang lain tahu yang membuatnya kehilangan konsentrasi adalah bayangan Naruto. Tak ingin pemuda yang dicintainya selama kurang lebih 15 tahun itu dijadikan alasan kelemahan Hinata oleh orang lain.
"Kalau begitu lebih baik kau segera makan, Hinata-sama." Neji berpura-pura percaya pada kebohongan Hinata.
"Aku akan meminta Tenten membawakan makananmu ke dalam kamar." Usul Neji.
"Iya, Nii-san." Hinata mengangguk setuju.
"Hanabi-sama, bisakah kau antar Hinata-sama kembali ke kamarnya?" Pinta Neji.
"Baik, Nii-san." Hanabi mengangguk patuh.
"Tidak perlu." Tolak Hinata.
"Aku baik-baik saja, Nii-san." Jelas Hinata.
"Aku bisa kembali ke kamarku sendiri."
Neji dan Hanabi membiarkan saja Hinata berjalan keluar meninggalkan mereka berdua untuk mengawasi punggung Hinata sampai gadis itu benar-benar menghilang dalam jarak pandang mata normal klan Hyuuga.
"Nii-san, aliran cakra Nee-sama terlihat semakin kacau." Adu Hanabi.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Hanabi, mendongakkan kepala menatap Neji dengan wajah menahan rasa khawatir.
"Kau tidak perlu khawatir, Hanabi-sama."
"Hinata-sama pasti hanya terlalu lelah berlatih." Neji tersenyum hangat untuk Hanabi. Seolah menenangkan perasaan Hanabi padahal justru hatinya yang tak tenang menyadari aliran cakra Hinata yang entah kenapa kembali kacau seperti 3 tahun silam.
.
..
Blum.
Hinata menutup pintu kamarnya. Berdiri sejenak di depan pintu yang tertutup karena tiba-tiba pandangannya mengabur. Setelah menunggu sedikit lama, Hinata kembali melangkahkan kakinya menuju ranjangnya. Hinata duduk tenang di pinggir ranjangnya.
'Naruto-kun,' Panggil Hinata dalam hati.
Hinata memutar kepala birunya, menatap gulungan besar bersampul jingga yang hampir setiap malam menjadi teman tidurnya. Sedikit ragu Hinata mengulurkan tangannya meraih gulungan favoritenya yang dikirim oleh Naruto 1 tahun setelah Naruto pergi berkelana itu.
Sedikit demi sedikit gulungan besar itu terbuka. Mata amethyst Hinata membaca lambat 3 baris kata yang berjajar tidak rapi dan membentuk sebuah kalimat "Aku merindukanmu, Hinata". Hinata tersenyum geli melihat tambahan gambar cengiran lebar yang sudah pasti hasil karya tangan Naruto sendiri karena memang gambarnya tidak sebagus gambar Sai. Hinata kembali menggulung surat Naruto dan meletakkannya rapi disamping fotonya bersama Naruto yang dibuat tepat di malam hari ulang tahun Naruto.
Di dalam foto, Naruto masih memakai pakaian ANBUnya merangkul bahu Hinata dan membuat tanda peace dengan sebuah tawa lebar yang menggambarkan jelas kebahagiaan jinchuuriki kyuubi ini. Hinata sendiri untuk pertama kalinya memakai rok pendek walau atas paksaan Sakura, Ino, dan Tenten. Rok berwarna hijau tua dengan atasan putih tanpa lengan. Bahkan di dalam foto Hinata tak mampu menyembunyi wajah tersipunya membuat foto berdua pertamanya sebagai kekasih Naruto.
"Kau cantik sekali, Hinata."
"Tapi jangan memakai pakaian seperti ini lagi dihadapan laki-laki lain."
"Hanya aku yang boleh melihatnya." Hinata menyungging sebuah senyum tipis mengingat kembali bagaimana wajah tersipu Naruto melayangkan protes atas kecantikan Hinata malam itu.
Hinata mengelus foto Naruto pada bagian tawa lebarnya.
"Hinata!"
"Kau tak serius dengan kata-katamu, kan?"
"Gomenasai, Naruto-kun."
"Kau yakin dengan keputusanmu, Hinata?!"
Jika mata Hinata adalah mata normal seperti manusia kebanyakan, mungkin akan dapat terlihat jelas bagaimana mata gadis ini berkaca-kaca menahan air mata.
"Kau pasti lupa kita punya jalan ninja yang sama"
"Kau pikir apa yang aku katakan pada tetua hanya gertakan saja?!"
"Aku tak akan menculikmu untuk melindungi Neji dan anggota klanmu."
"Tapi aku tak akan melepaskanmu begitu saja, Hinata."s
"Aku tak akan mempersulit posisimu, Hinata."
"Karena itu biarkan aku ikut ke ruang pertemuan dan bicara sekali lagi pada ayah dan kakekmu."
Tes. Tes. Tes.
Hinata menghapus titik air mata yang jatuh menimpa bingkai kaca fotonya dan Naruto.
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa kau sekeras ini mempertahankanku, Naruto-kun?"
"Tentu saja karena aku Uzumaki Naruto."
"Hiks. Hiks. Hiks. Naruto-kun…"
Hinata tak lagi bisa menahan rasa sesak di dadanya karena merindukan Naruto. Rasa rindu yang dirasakannya berkali-kali lipat lebih menyiksa karena sebenarnya Hinata bisa bertemu dengan Naruto kapan saja. Rasa sesak menyadari tak ada pilihan bagi Hinata untuk dapat menjadi istri Naruto seperti yang pernah dijanjikannya pada Naruto 3 tahun lalu.
"Hhhk, hhhk, hhhk," Suara sesegukan Hinata yang mengatupkan erat-erat giginya agar tangisannya tak terdengar keluar kamar. Walau tenggrokannya terasa perih karena harus menahan tangis, Hinata tak bisa menghentikan tangisannya.
Di ruang keluarga, Hiashi menonaktifkan byakugannya. Sudah cukup kesedihan Hinata yang diintipnya diam-diam.
"Haahh…" Hiashi menghela nafas berat.
"Maafkan ayah, Hinata." Gumam Hiashi.
Tanpa Hiashi ketahui, Neji, Hanabi, Ko, dan hampir semua orang yang tinggal di rumah utama ikut mengaktifkan byakugan mereka untuk mengintip Hinata.
Sejak sebulan yang lalu hampir semua anggota klan setiap hari diam-diam mengawasi Hinata jika gadis itu mengunci diri di dalam kamar, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan gadis berhati lembut itu karena aliran cakra Hinata yang entah mengapa kembali kacau secara tiba-tiba dan wajah Hinata yang terlihat semakin pucat yang melahirkan kekhawatiran seluruh anggota keluarga Hinata baik souke maupun bunke.
'Hinata-sama,' Ucapan sedih masing-masing orang dalam hati mereka.
oOo oOo oOo
3 Bulan Kemudian
Sraaak…
Uchiha Sasuke menggeser pintu kamar tamu. Di sudut kamar, kekasihnya, Haruno Sakura, tertidur di atas meja yang penuh dengan daun-daunan dan beraneka ragam tumbuhan yang tak Sasuke kenal. Dengan langkah berat Sasuke berjalan mendekati meja tempat Sakura tertidur.
"Sakura," Sasuke mengguncang bahu Sakura pelan.
"Ini sudah malam, kau tak pulang ke rumahmu?" Tanya Sasuke. Tentu saja Sakura tak akan menjawab karena gadis ini tertidur sangat pulas.
"Sakura." Panggil Sasuke sekali lagi dengan suara beratnya. Tak tega membiarkan Sakura tertidur dengan posisi yang tak nyaman selelah apapun gadis musim seminya itu.
Sasuke menghela nafas pelan. Tak ada pergerakan berarti dari Sakura.
"Baiklah, malam ini kau boleh tidur disini."
Sasuke perlahan mengangkat tubuh lemas Sakura dari atas meja, menyandarkan kepala Sakura pada bahunya sejenak karena Sasuke harus terlebih dahulu menyusupkan tangannya di sela kaki Sakura. Dengan sekali gerakan, Sakura sudah berpindah dalam gendongannya.
"Kau kurus sekali," Komentar Sasuke yang melangkah tanpa merasa terbebani oleh Sakura yang tertidur nyaman dengan menyandarkan kepala di dadanya.
Sasuke membawa Sakura masuk dalam kamar pribadinya. Menidurkan gadis itu pelan di atas ranjangnya. Membenarkan posisi tidur Sakura senyaman yang Sasuke rasakan sebelum meninggalkan Sakura untuk mandi dan mengganti pakaian joninnya.
oOo oOo oOo
Tak. Tak. Tak.
Mata Sasuke mulai bergerak sesekali.
Tak. Tak. Tak.
Tak. Tak. Tak.
Tak. Tak. Tak.
"Ngggh… Berisik sekali." Erang Sasuke pelan.
Begitu mata langitnya terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah lambang kipas Uchiha yang memenuhi langit-langit kamarnya.
Dengan gerakan lambat, Sasuke memutar kepala ravennya ke samping, tempat Sakura biasa tertidur jika menginap di rumahnya. Namun ternyata yang ditangkap oleh mata elangnya hanyalah bantal Sakura yang sudah bertumpuk rapi.
Sasuke menyibak selimut putihnya. Seingatnya semalam Sasuke tertidur tanpa selimut. Sepertinya Sakura terbangun dan menyelimuti mereka.
Sasuke bangkit dari ranjang dan berjalan dengan wajah menahan sedikit kantuk. Tentu saja menuju dapur. Sumber kebisingan yang membuatnya terbangun bahkan di hari liburnya sebagai kepala keamanan desa Konoha.
"Hoooam," Sasuke sengaja menguap lebar dan keras untuk memberitahukan kehadirannya pada Sakura yang terlihat begitu serius membuat sarapan pagi untuk mereka.
Sakura yang mendengar suara kuapan Sasuke, menghentikan segera kesibukannya mengiris wortel dan memutar tubuh dengan menyungging sebuah senyum sumringah.
"Ohayou, Sasuke-kun," Sapa Sakura dibalik senyum manisnya.
"Hn," Jawab Sasuke singkat dan berjalan mendekat di samping Sakura.
'Ah, tomat,' Sasuke refleks mengulurkan tangannya untuk mencomot sebutir tomat merah kecil yang terlihat begitu menggiurkan.
Plok.
Sakura menepuk pelan punggung tangan Sasuke yang terulur.
"Jangan makan sekarang! Nanti saja kalau Naruto sudah datang!" Omel Sakura.
Sasuke mengerucutkan bibirnya kesal. 2 bulan belakangan ini Sakura rasanya lebih memperhatikan Naruto daripada dia. Sakura bahkan beberapa kali mengantarkan makanan ke rumah Naruto karena pemuda kuning itu terlalu bersemangat mencari misi hampir setiap hari, seolah tak mengizinkan tubuhnya untuk beristirahat barang sebentar.
"Aku lapar." Rajuk Sasuke masih mempertahankan wajah kesalnya.
"Dikulkas ada roti isi. Aku sudah membelikanmu semalam, Sasuke-kun." Jawab Sakura.
Sasuke mengerucut semakin kesal. Bagaimana mungkin Uchiha tidak makan tomat di pagi hari.
"Apa rotinya isi tomat?" Tanya Sasuke asal, maksudnya ingin menyindir Sakura.
"Hahahahaha," Sakura tertawa lebar mendengar pertanyaan konyol Sasuke.
"Tentu saja tidak ada roti isi tomat kecuali jika klan Uchiha yang menjualnya." Sakura balik menyindir Sasuke.
"Aku benar-benar lapar, Sakura." Rajuk Sasuke. Sakura menghentikan tawanya, menatap wajah tampan Sasuke yang sedang merajuk.
Sakura melangkah maju sedekat mungkin dengan Uchiha Sasuke yang semakin dewasa bertambah semakin tinggi saja. Meninggalkannya jauh dibawah dagu Sasuke.
"Hey, menunduklah, Sasuke-kun." Pinta Sakura.
"Kau mau apa?" Tanya Sasuke berpura-pura tak tahu apa yang sedang Sakura usahakan.
Sakura berjinjit dengan menumpukan tangannya pada dada Sasuke. Sakura menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi berusaha meraih bibir Sasuke dengan bibirnya yang dikerucutkan lucu. Hampir saja Sasuke tak bisa menahan tawa geli melihat tingkah Sakura.
"Sasuke-kun… Aku tak bisa menciummu!" Rajuk Sakura ganti.
Sasuke mendengus geli. Bukannya menunduk, semakin meninggikan kepalanya agar tak mudah dijangkau oleh Sakura.
oOo oOo oOo
Mata onyx Sasuke tak sedetikpun lepas dari onigiri dan tomat yang sedari tadi diincarnya. Walau terlihat tenang, sebenarnya sedari tadi Sasuke menahan lapar yang sangat.
"Kenapa Naruto lama sekali ya, Sasuke-kun?" Tanya Sakura gusar. Akhirnya Sakura berhasil mencuri perhatian Sasuke.
"Mungkin dia tersesat di jalan kehidupan." Jawab Sasuke asal. Sakura mendengus kesal. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasuke suka bicara sembarangan.
Ting Tong. Ting Tong.
Mata emerald Sakura membulat cerah mendengar suara bel dari pintu depan rumah Sasuke.
"Jangan makan sebelum aku kembali!" Peringatan Sakura galak.
"Ha'i, Ha'i." Jawab Sasuke malas.
Sakura melangkah cepat ke pintu depan. Begitu sampai dan membuka pintu, seorang pemuda berambut kuning cepak dengan 3 baris kumis di masing-masing pipi tan-nya tertawa lebar padanya.
"Ohayou, Sakura-chan." Sapa Naruto ceria.
"Kenapa lama sekali?!" Sergah Sakura tanpa membalas sapaan Naruto.
"Haha. Maaf, aku tersesat di jalan kehidupan." Sakura memutar bola emeraldnya bosan. Bagaimana mungkin Sasuke dan Naruto mulai meniru alasan Hatake Kakashi jika mereka datang terlambat.
Kryuuuuk…
Perut Naruto berbunyi nyaring. Sakura tertegun sesaat menyadari jika Naruto tak memakai baju bebasnya.
"Kau mau berangkat misi lagi, Naruto?" Tanya Sakura memastikan.
"Ehm, Ya."
"Aku akan mengawal orang kaya dari desa padi melakukan transaksi ke Amegakure." Jawab Naruto.
"Bukankan baru semalam kau pulang dari Komugakure?" Sakura mencoba mengingatkan Naruto. Walau tahu tak mungkin Naruto lupa apa yang baru dikerjakannya kemarin.
"Bisakah kita makan sekarang, Sakura-chan?" Naruto mengalihkan bahasan yang paling tak disukainya.
"Aku hanya punya waktu kurang dari satu jam sebelum berangkat misi." Naruto berjalan masuk melewati Sakura yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Melepaskan sandal ninjanya dan meletakkannya rapi di tempat sandal. Naruto tak ingin sandalnya hangus lagi oleh amaterasu Sasuke karena Naruto meletakkan sandalnya sembarangan di lantai.
"Teeemeeee…." Teriak Naruto penuh semangat.
"Hahhh…" Sakura menghela nafas berat. Sasuke dan Naruto pasti akan memulai pertengkaran pagi mereka.
.
.
"Makanlah pelan-pelan." Nasehat Sakura lembut.
"Hahu harus sehera hergi, Hakura-han." (Aku harus segera pergi, Sakura-chan) Jawab Naruto dengan mulut penuh nasi dan kacang merah.
Sementara Naruto makan dengan sangat berantakan, Uchiha Sasuke makan dengan sangat tenang. Satu onigiri dilahapnya dalam beberapa kali gigitan. Entah kenapa melahap onogiri Sasuke jadi ingat ide konyol Sai tentang bakteri cinta dulu. Dimana para kunoichi begitu mudah percaya dan dengan polosnya mencoba menjebak para laki-laki melalui onigiri kepala buatan Hinata.
"Masakanmu semakin enak saja, Sakura-chan." Puji Naruto segera setelah nasi dan kacang merah yang dikunyahnya di telan habis.
"Hountou ka?" Tawa lebar berkembang di wajah Sakura, merasa tersanjung dengan pujian Naruto.
"Tentu saja, ttebayou!" Naruto tertawa renyah.
Sasuke yang baru saja melahap sebutir penuh tomat ukuran kecil, memutar bola matanya bosan melihat sikap Naruto dan Sakura yang masih saja berisik. Tak jauh berbeda dengan saat mereka semua masih genin dulu.
"Aku akan sering-sering membawakanmu masakanku, Naruto." Janji Sakura penuh semangat.
"Hahaha. Tak usah repot-repot, Sakura-chan." Naruto tertawa kikuk, sebenarnya rasa masakan Sakura masih tak banyak berkembang menurut selera Naruto. Naruto memuji hanya sebagai rasa terima kasihnya pada Sakura.
"Tak apa, Naruto. Aku tak merasa direpotkan." Sakura menggeleng semangat.
"Ehmm, ya. Kalau kau memaksa, Sakura-chan." Naruto masih tertawa kikuk. Sasuke mendengus geli menyadari kesulitan Naruto.
Slap. Tap.
Tiba-tiba seorang pemuda berkulit pucat mendarat di samping Naruto.
"Sai. Aku tak suka kau masuk rumahku sembarangan." Protes Sasuke.
"Gomen, Sasuke." Balas Sai sangat singkat.
Selanjutnya perhatian Sai tertuju sepenuhnya pada Naruto yang mendongakkan kepala menatapnya.
"Naruto! Hinata masuk rumah sakit!" Ucap Sai penuh tekanan. Mata langit Naruto membulat lebar mendengar informasi yang baru saja di dengarnya.
"Kau sungguh-sungguh, Sai?" Tanya Sakura mewakili Naruto yang masih terjebak dalam keterkejutannya.
"Rokudaime sendiri yang memintaku memberitahu Naruto. Misimu juga dibatalkan dan sudah digantikan oleh ANBU yang lain."
"Naruto, cepatlah ke Rumah Sakit Konoha. Hinata sekarat saat ini." Desak Sai.
"Wakatta." Naruto mengangguk mengerti.
Poft.
Hanya membutuhkan waktu seperduaratus detik bagi Naruto menghilang dari hadapan ketiga rekan timnya.
"Maaf mengganggu sarapan kalian," Sai memasang senyum tipis kegemarannya sebelum mengikuti langkah Naruto menghilang begitu saja dari hadapan Sakura dan Sasuke.
"Sial! Sudah aku bilang jangan keluar masuk rumahku seenaknya!" Gerutu Sasuke.
"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke segera begitu Sakura beranjak dari meja makan.
"Mengganti pakaianku." Jawab Sakura singkat sebelum berlari cepat menuju kamar tidur Sasuke.
"Hahh…" Sasuke menghela nafas berat.
Detik selanjutnya Sasuke berjalan menyusul Sakura untuk mengganti pakaiannya juga. Otaknya yang cerdas segera memahami maksud Sakura untuk ikut menjenguk Hinata di Rumah Sakit Konoha saat ini juga.
oOo To Be Continue oOo
Huuah!
Akhirnya update juga.
Langsung saja ya Cand membalas pesan ^^
Guest-san : "Iya, inspirasi penampilan terbaru Naruto dari movie 10 "
NN-san : "Haha, iya. Cand sendiri gak sadar kalo jadinya 10kata ^,^"
Napas-san : "Arigatou, Napas-san :"D"
Hq-san : "Iya, Cand tahu sih. Tapi penampilan mereka tak berubah banyak. Cuma bajunya saja, Hq-san. Dan karena Cand cewek akhirnya Cand jatuh cinta sama penampilan Naruto-kun saja. Hohoho :p"
Ai-san : "Arigatou, Ai-san. Ditunggu reviewnya selalu ya."
Diana-san : "Haha, nanti endingnya ada familynya NaruHina kok. Ups. Keceplosan :p"
Hitomi-san : "Hohoho, gak banget aja. Banget nget nget nget :p"
Yuan-san : "Hahaha, iya diusahakan, Yuan-san. Terima kasih doanya ^^"
Envy-san : "Hehe, arigatou gozaimasu, Envy-san :D"
Guest-san : "Wah apalagi Cand sebagai authornya. Hahaha. Entahlah waktu buat cerita lagi fall in love ama seseorang juga :p"
Zhane-san : "Eh, jangan mati dong. Tadaimanya belum selesai loh :p"
Durara-san : "Huuuuaaaa, Cand juga terharu baca reviewnya Rara-san ^^ Haha. Gomen ya, gara-gara Cand jadi kena marah bundanya."
Kojou-san : "Haha, jangan-jangan Narutonya ketiduran, Kojou-san ^^"
Author Note : Cand punya pertanyaan nih buat readers. Menurut reader kalo nanti NaruHina punya anak kembar dan mereka tentu saja akan menjadi bagian souke dan bunke klan Hyuuga, siapa yang lebih pantas jadi kakak? Anak laki-laki ataukah anak perempuan? Karena anak kakak akan menjadi souke Hyuuga seperti Hiashi ayah Hinata dan sang adik akan menjadi bunke Hyuuga seperti Hizashi ayah Neji.
